Cindy-rellaku


Cindy-rella

Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan kebahagiaanku pada kalian pembaca. Yang pasti kubahagia sekali. Beribu-ribu liku yang kulalui sehingga bisa berdiri disini. Di altar pernikahan ini dengan seorang pria yang sangat kucintai. Aku adalah Cinderella dalam kehidupan nyata yang menemukan pangeranku. Aku yang menemukan batu kotor yang ternyata permata. Kini dia melingkarkan cincin janji ke jari manisku. “Bahkan cincin ini tidak semanis dirimu Cindyrellaku”, Kata pria yang dihadapanku. Air mataku tidak bisa berhenti mengalir…

Namaku adalah Cindy. Cindy McKindly lengkapnya. Aku merupakan putri tunggal dari seorang pengusaha ternama dikotaku. Ayahku bernama McKindly, pemilik restoran dan real estate yang sukses. Sedangkan ibuku adalah wanita yang sangat sederhana. Ayahku menikah dengan ibuku pada waktu mereka masih tidak seperti sekarang. Sangat miskin. Tapi berkat cinta mereka yang tulus dan demi masa depan anaknya, mereka berjuang dan berdoa sehingga mendapatkan apa yang bisa kunikmati sekarang.

Tapi jangan salah. Walaupun orang tuaku berkelimpahan harta, mereka sangat sederhana. Bahkan mereka sangat membenci orang yang memperlakukan sesamanya terutama yang menengah kebawah semena-mena. Kata-kata yang paling sering diucapkan padaku saat masih kecil adalah, “Jika kau mencari dengan mata, maka kau akan dibutakan olehnya. Jika kau mencari dengan telinga, maka kau akan ditulikan olehnya juga”. Ya, tentu saja aku tidak mengerti arti kata-kata itu. Waktu itu aku baru berumur 5 tahun. 

Karena aku anak tunggal, orang tuaku sangat memanjakan aku. Tapi tidak dengan manja oleh uang dan berbagai hadiah mahal lainnya. Mereka memanjakanku dengan waktu dan kebersamaan. Sebenarnya Ibuku ingin menginginkan seorang putra, tapi karena kondisi ibuku yang lemah tidak memungkinkan untuk mengandung lagi. Sejujurnya, aku juga ingin punya seorang adik atau kakak yang bisa menemaniku bermain juga. Tapi dengan orang tuaku saja aku juga sudah sangat bahagia.

Tahun-tahun dilalui dengan canda dan tawa. Memang ada saatnya duka juga seperti grandmaku yang meninggal. Kami bersemua sangat berduka. Grandma adalah orang yang sangat kucintai. Dia selalu menceritakan kisah-kisah putri yang menemukan pangerannya. Dan kisah yang paling kusuka adalah Cinderella dan sepatu kacanya.

Tidak terasa tahun-tahun telah berlalu. Aku kini tumbuh dewasa. Dan aku sangat bangga mengatakan bahwa aku dikaruniai oleh Tuhan wajah yang sangat cantik menawan. Kulitku putih bersih. Rambutku panjang dan pirang dan mataku berwarna biru langit. Tinggiku sekitar 170cm. Banyak yang mengira bahwa semua hasil itu diperoleh dari perawatan super mahal oleh orang tuaku. Bahkan ada yang menyebutku operasi plastik. Aku hanya bisa tertawa dalam hati. Apakah memang seperti itu penilaian kalian?

Saat  aku masuk universitas, aku mengenal seorang pria. Dia bernama Kevin. Orangnya tampan dan pintar. Atletis. Mapan. Baik dan perhatian. Dia adalah kumbang kelas di universitasku. Banyak wanita-wanita cantik yang ingin menjadikannya pacar, tapi ternyata dia malah jadian denganku. Karena kami sekelas, jadi sangatlah mudah untuk mendapatkan informasi tentand dia. Para kaum hawa akan dengan senang hati berbagi.

Kevin menyatakan cintanya dengan cara yang sangat elegan dan romantic. Dia menembakku didepan kelas saat hendak bubar. Aku dibuatnya tersipu oleh kelebihannya itu. Dan, tentu saja aku menerimanya dengan senang hati. Siapa sih yang sebodoh itu menolak pria yang diincar oleh sekumpulan mawar paling cantik diuniversitas bukan? Dan aku memang bodoh…

Tahun-tahunku bersama Kevin sangatlah indah. Kami bahkan dianugerahkan sebagai pasangan terbaik saat pesta dansa. Dan mungkin kalian tidak percaya. Dia bahkan memberikanku sebuah mobil Ferrari sport terbaru sebagai ulang tahunku. Aku waktu itu kehilangan kata-kataku. Aku bahkan bercerita kepada ibuku tentang semua itu. Ibuku hanya tersenyum dan mengecup keningku. Katanya, “semoga dia memang yang terbaik untukmu ya sayang”. Aku sangat senang mendengar restu ibuku. Tapi, waktu itu aku merasa agak sedikit berbeda dengan ibuku. Ah, mungkin hanya perasaan, dan akupun melupakannya.

Sudah 3 tahun aku dan Kevin pacaran. Tak sedikitpun perhatian Kevin luntur padaku. Disela-sela kesibukkannya mengurus bisnis keluarganya, Kevin selalu meluangkan waktu sebentar untuk menelponku walaupun hanya sekedar semenit saja. Bagiku itu sudah cukup. Kadang aku heran, mengapa Kevin begitu mengerti wanita ya? Padahal aku mengira dia itu hanya pria biasa yang hanya mencari muka awalnya.

“Kamu pasti Cindy”, Tanya seorang pria padaku. “Iya, kamu siapa”, tanyaku mencoba mengingat. Pria ini wajahnya cukup tampan. Tingginya sama denganku. Matanya juga berwarna biru langit. Tutur katanya sangat sopan. “Aku Mike temannya Kevin, sungguh suatu kebetulan yang sekali bisa bertemu denganmu dan Wow, kamu lebih dari penilaiank”, jawab Pria ini ramah yang disebut namanya Mike.

“Terimakasih, kamu terlalu memujiku”, balasku agak tersipu. “Aku sering mendengar ceritamu dari Kevin. Dia selalu memuja-muja kamu”, kata Mike. “Keberatankah aku mengundangmu minum secangkir kopi digubukku?”, pinta Mike padaku. Tahukah kalian, kata-katanya yang puitis dan sedikit berpantun itu membuatku terasa romantic. Caranya memperlakukan wanita sungguh mirip Kevin. Dan aku yakin wanita-wanita lain pasti akan berpikiran sama denganku.

“Dengan senang hati”, jawabku menerima tawaran Mike. Kami waktu itu menghabiskan waktu berjam-jam di Café seberang jalan. Aku tahu Mike dan Kevin adalah sahabat baik. Mike bekerja pada Kevin sebagai karyawan senior. Umurnya terpaut 8 tahun denganku. Tapi tampangnya terlihat sama seumurku. Kata-katanya terdengar bijaksana, dan tahukah kalian, dia pandai sekali mengambil hati wanita, dan ini harus jadi contoh buat pria lainnya. Dia pendengar yang baik. Dia sangat menaruh perhatian pada ceritaku.

“Terimakasih atas waktunya yang berharga Cindy, sungguh menceriakan hariku bisa bersua dengan mu dikala mendung diatasku. Tidaklah heran Kevin begitu memujamu”, puji Mike sebelum kami  berpisah. Sejujurnya, aku masih ingin mendengar pujiannya lagi. Tapi aku tahu itu tidaklah baik. Dan, aku juga bukan wanita yang begitu mudah jatuh cinta hanya sekedar kata-kata. “Sampai jumpa lagi”, balasku sambil mengantarnya berlalu bersama taksi.

Dalam lamunanku dikala malam, aku teringat Mike. Caranya bicara, caranya memperlakukan wanita begitu mirip. Bahkan aku merasa sangat mirip. Aku berpikir mungkin Mike sering bersama Kevin makanya Mike terpengaruhi oleh keromantisan Kevin. Karena membandingkan mereka berdua, aku jadi kangen sama Kevin. Aku pun menelponnya.

“Halo yang disana, apa kabarmu?”, Tanya Kevin padaku. “Apakah bungaku sekarang kangen pada kumbangnya?”, goda Kevin padaku. Ya, inilah yang kumaksud mirip. “Iya sayang, bungamu disini hampir mati dahaga, dia perlu siraman cahaya dari kumbangnya”, balasku tak mau kalah berpuisi. Kami pun melepas kangen malam itu. Bulan terlihat indah sekali, bintang-bintang terlihat manis berseri. Kisah kami berjalan indah, tapi dibalik kesempurnaan sebuah permata pasti ada yang ahli memolesnya.

Disuatu malam pada bulan Desember tahun ini, aku bertemu dengan teman lamaku. Dia bernama Gina. Gina adalah teman masa kecilku yang selalu ceria. Kami menghabiskan waktu berjam-jam hanya saling bercerita. “Kamu makin cantik aja Cin, apa sih resepmu”, goda Gina sambil mencolekku. “Kamu tahulah tidak ada resep apa-apa”, jawabku balas mencubitnya.

“Oya, bagaimana dengan pacarmu, siapa namanya itu?”, Tanya Gina padaku. Gina orangnya sangat periang, tapi kelemahannya adalah dia jarang bisa mengingat nama. Dari semua teman-temannya, Namakulah yang paling sering disebutnya. Kami sudah seperti keluarga. Gina lebih besar dariku 3 tahun. “Hubungan kami lancar-lancar saja”, jawabku santai. “Kapan-kapan kenalkan padaku ya, masa sudah 3 tahun lebih pacaran bertatap muka pun tidak pernah, aku bisa marah ni”, balas Gina pura-pura marah. Dia terlihat manis sekali.

Gina adalah putri dari partner bisnis ayahku. Mereka berdua adalah sahabat baik sejak kecil, sejak ayahku dan ayah Gina berpuluh-puluh tahun mendirikan bisnis bersama, ibu kami sering berkumpul sambil menghabiskan waktu. Dan kini putri-putrinya telah tumbuh besar dan mengulang cerita yang sama disini.

Gina adalah wanita yang sangat cantik, malah lebih cantik dari menurutku. Rambutnya hitam seperti wanita Mexico Latin. Kulitnya yang putih kecoklatan. Matanya hijau dedaunan. Gina sekarang sudah menikah dan dikaruniai seorang putra. Mereka adalah contoh bagiku keluarga yang bahagia. Pria yang dinikaihi Gina adalah teman kerjanya. Mereka telah berpacaran lebih dari 5 tahun hingga suaminya melamarnya disebuah café kecil. Selanjutnya menjadi cerita Cinderella.

Akhirnya hari yang dijanjikan tiba. Aku mengenalkan Kevin di pertemuan reuni kami. Semua teman-temanku hadir termasuk Gina. Aku memperkenalkan Kevin pada Gina, dan setelah bersapa sebentar, Kevin berlalu untuk menyambut tamu lainnya. Gina yang melihat Kevin menatapnya tak bergeming. Aku tertawa kecil melihat sahabat baikku terpesona begitu. Aku pun tidak merasa cemburu. Malah aku merasa bangga. Aku telah menceritakan semua tentang Kevin ke Gina malam itu. Mungkin pikirnya Kevin pria yang tampan, tapi tidak menyangka setampan dan sepuitis itu.

“Hei..mau lihat sampai kapan? Nanti matanya jatuh tu”, katamu mengoda Gina. Gina melihat kearahku dan berkata, “Itu benar pacarmu?”, tanyanya penasaran. “Iya sayang, masa aku mengenalkan pria lain padamu”, kataku sambil mencubitnya. Aku gemes karena dia masih terpesona. “Cin, aku ingin bicara denganmu sebentar dan ini sangat penting”, kata Gina sambil menatapku tajam. “Ada apa sih kok tiba-tiba serius begitu?”, tanyaku sedikit merasa aneh. “Ikut aku ke luar sebentar”, jawab Gina sambil menarik tanganku.

Malam itu bulan bersinar sangat terang. Tapi hatiku merasa tidak tenang. Kelap-kelip bintang menggambarkan debar-debar hatiku. Aku mencoba berpikir jernih  tapi keadaan seperti ini malah membuat pikiranku semakin lirih. Gina terlihat tegang. Dari matanya aku tahu bahwa dia ingin menyampaikan sesuatu yang penting. “Cin, aku ingin bertanya beberapa hal, apakah kamu berjanji akan jujur padaku?”, Tanya Gina serius. Aku hanya menelan ludah dan menggangguk.

“Benarkah dia pria yang kamu cintai ini selama 3 tahun lamanya?”, Tanya Gina sambil menatap mataku. Tatapannya terasa membekukan hatiku. “Iya, Gin..memangnya ada apa?”, tanyaku tegang. “Pernahkah dia mengajakmu kerumahnya? Setidaknya mengenalkan orang tuanya padamu?”, Tanya Gina lagi. “Aku belum pernah kerumahnya ataupun berkenalan dengan orang tuanya. Kevin bilang orang tuanya sibuk jadi tidak sempat mengenalkan mereka padaku”, kataku mencoba bersikap tenang.

“Cindy…kamu adalah sahabat terbaikku, dan kamu tahu aku ingin selalu yang terbaik bagimu. Tapi kumohon untuk kali ini dengarkan bisikan hatimu sebentar saja”, kata Gina padaku sambil mengenggam tanganku. Aku sangat bingung apa maksud Gina. Mengapa dia yang begitu ceria menjadi serius begini? Sebenarnya ada hubungan apa Kevin sama Gina? Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dihadapanku.

“Gina, sejujurnya aku bingung nih. Apa yang hendak kamu katakana padaku?”, tanyaku mulai kuatir. Gina melihatku, lalu memelukku penuh sayang. Sudah lama Gina tidak memelukku seperti ini sejak kecil. Pertama kali Gina memelukku adalah sejak sekolah dulu aku menanggis karena diejek teman-teman sekolahku karena aku dari keluarga kaya. Aku dikucilkan karena gossip-gosip yang tidak benar. Aku digosipkan bahwa ibuku seorang pelacur yang menipu ayahku demi harta. Tapi mereka tidak tahu bahwa waktu ibu dan ayahku menikah mereka bahkan dari kalangan yang serba kekurangan. Itulah pertama kalinya Gina memelukku dan membelaku.

Dalam pelukannya malam itu, aku merasa kehangatan yang tiada tara. Aku tidak tahu apa, tapi untuk pertama kalinya aku menitikan air mata. Ternyata aku tidak bisa menipu Gina. Gina melihatku dan menyeka air mataku. “Cindy sayang, tahukah kenapa aku selalu menelponmu dan memaksamu untuk berkenalan dengan pria yang selalu kamu banggakan itu? Karena aku terlalu menyayangimu. Hatimu yang baik selalu mengalahkan akal sehatmu. Aku tahu apa yang akan aku katakan ini akan membuatmu luka. Tapi, aku juga tidak tega melihatmu menyesal nantinya. Aku hanya berharap justru aku yang salah”, kata Gina sambil memelukku lagi.

Malam itu Gina tidak mengatakan apa-apa padaku. Dia berkata supaya aku lebih banyak mendengarkan bisikan hatiku daripada sekedar menerima semuanya.  Dan Gina meminta agar mencarinya lagi jika hatiku sudah siap dan tenang. Sebenarnya hubunganku dengan Kevin tidaklah seindah kisah cinta Romeo dan Juliet. Aku hanya menceritakannya seindah kisah Cinderella hanya untuk menutupi rasa kecewa. Tapi wajar bukan kita ingin mempunyai kisah Cinderella dikehidupan nyata kita?

Pembaca, apa yang kuceritakan pada awalnya memang tidaklah salah. Aku bahagia bersama Kevin. Aku senang sekali bisa bersama Kevin. Tapi seperti yang dikatakan sahabatku Gina, aku orangnya lebih memilih untuk memendam rasa daripada hati ini terluka. Banyak yang mengatakan aku terlalu baik. Banyak yang mengatakan aku terlalu menyayangi orang lain daripada diri sendiri. Tapi semua itu tidak salah juga bukan?

Kevin selama ini tidak pernah mengenalkan aku pada orang tuanya. Kevin selalu berkata orang tuanya sibuk, dan aku hanya percaya saja. Memang aku kadang merasa aneh, selama tiga tahun pacaran tak sekalipun aku kerumah Kevin. Aku juga beberapa kali mengajak Kevin kerumahku untuk dikenalkan pada orang tuaku. Tapi selalu ditolak dengan halus dan kata-katanya yang puitis sehingga membuatku tidak berkutik. Mungkin inilah yang dikatakan bahwa cinta itu buta.

Aku selama inilah yang selalu mengalah buat Kevin. Tapi jangan salah juga, Kevin tetap masih pria yang perhatian dan baik kok. Hanya saja dia tidak seperti pria umumnya saja. Dia selalu menelponku. Dia merayakan ultahku. Dia selalu memberikanku berbagai hadiah-hadiah mahal lainya untukku. Dia pria yang tampan. Mapan dan perhatian. Bukankah itu sudah cukup untuk membuktikan cintanya?

Kata-kata Gina masih tergiang dikepalaku. Semakin ingin kulupakan, semakin aku terkenang. Aku yakin Gina tidak mungkin mengatakan sesuatu yang membuatku tidak tenang. Setelah lewat beberapa minggu pesta reuni itu. Aku memberanikan diri menelpon Gina. Kucari nomor teleponnya dan kuhubungi dia.

“Halo sayang..apa kabar”, terdengar suara Gina. “Kabarku baik-baik saja, gimana kabarmu Gin?”, tanyaku kembali. Akhirnya kami menentukan akan bertemu di café lama tempat kami masih sering berkumpul. Gina mengatakan akan menjemputku sekitar jam 7 malam. Dan tahukah kalian, malam itu jam seakan berhenti berputar. 1 jam terasa sehari lamanya. Aku takut akan mendengar kebenaran tentang kisahku dan Kevin. Tapi, aku tetap harus tahu. Walaupun itu akan menyakitkan bagiku.

Jam dinding menunjukkan jam 6.40 malam. Kudengar bunyi klakson diluar. Gina telah datang. Aku memakai pakaian seadanya saja. Aku berlari kecil keluar. Kulihat Gina melambaikan tangannya padaku. Aku segera masuk dan kami pun melaju ketempat café kami dulu.

Sesampainya dicafe aku langsung memesan coklat panas kesukaanku. Cuaca yang dingin hampir membekukan kami berdua. Café malam itu cukup ramai walaupun diudara yang serba dingin ini. Kami berbincang-bincang ringan sebentar. Kami saling melepas kangen kami. Lalu Gina melihat kearahku. Matanya indah sekali. Dia memandangku penuh kasih. Lalu dia menggenggam tanganku.

“Cindy sayang, saat kita berdua duduk disini, aku yakinkan diriku bahwa kamu siap mendengar apa yang hendak aku katakan padamu bukan?”, Tanya Gina membuka percakapan. Aku hanya mengangguk. Sejujurnya aku belum siap, malah aku tidak mau tahu semua kebenaran yang hendak disampaikan Gina sahabatku. Tapi aku harus mendengarnya. Sejak pelukkan perpisahan dipesta waktu itu, otakku selalu berseru dan ingin mencari tahu. “Iya..aku siap,” jawabku pelan.

“Cindy sayang, pertama-tama yang ingin kukatakan adalah Kevin adalah pria yang baik. Aku bisa mengatakan itu karena aku telah mengenalnya telah lama. Tapi aku yakin kamu tidak mengenalnya secara penuh”, kata Gina terdiam sebentar. Detik detik bisu yang kami lalui terasa sangat panjang. “Aku tahu kamu sangat mencintainya, itu terbukti kamu selalu memujanya saat kita saling berhubungan dalam telpon. Tapi aku juga ingin kamu tahu yang sesungguhnya Kevin”, sambung Gina dengan suara agak berat.

Aku rasanya hendak menanggis. Tapi aku tahan luapan hatiku. Aku tahu bahwa apa yang akan dikatakan Gina pastilah sesuatu yang akan membuatku luka. Tapi kini aku sudah siap sepenuhnya. “Aku mengenal Kevin saat diuniversitas dulu. Dia juniorku seperti dirimu. Dan aku pernah mendengar kabar bahwa Kevin menyukai seorang wanita cantik di sekelas dengannya. Aku hanya berpikir wanita itulah yang jatuh cinta padanya. Dan sejujurnya aku berpikir wanita itu telah masuk perangkapnya.

Yang kutahu Kevin adalah playboy tampan yang kaya yang memanfaatkan kekayaan orang tuanya untuk menggaet wanita”, kata Gina dengan mata berkaca-kata. “Dan maafkan aku sayang, aku saat itu tidak peduli karena kukira wanita itu wanita yang silau akan harta sehingga matanya buta oleh rupa dan harta pria, tapi aku tidak menyangka bahwa wanita itu ternyata dirimu. Maafkan aku sayang”, sambung Gina dengan air mata bercucuran.

Kali ini mataku tidak dapat diajak komproni lagi. Aku merasakan ada sesuatu yang membasahi pipiku. Aku tahu itu air mata, tapi kenapa sekarang harus kurasakan lagi? Kenapa harus dihadapan Gina lagi? Kenapa harus Gina yang memberitahuku lagi? Aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku teringat kembali 3 tahun yang lalu bagaimana Kevin menembakku. Aku tekenang kembali bagaimana Kevin begitu romantis menyatakan cintanya padaku. Apakah aku bermimpi selama ini.

Gina masih melihatku. Aku tahu masih ada yang ingin disampaikannya. Aku mencoba tenang. “Apakah masih ada yang belum kamu katakan padaku”, tanyaku dengan suara yang sangat berat. Gina hanya melihatku. Aku tahu Gina tidak tega ingin mengatakan lagi padaku. Aku mengangguk memberinya tanda. Aku telah mendengar awalnya, maka aku akan mendengar pula akhirnya walaupun kisahnya sepatu kaca Cinderella harus retak dan pecah.

“Sebenarnya Kevin sudah berkeluarga. Itulah kenapa dia tidak mau kamu kerumahnya. Itulah kenapa dia tidak mau mengenalkan kamu pada keluarganya. Dan yang lebih lagi, keromantisan Kevin itu bukan karena dirinya, tapi dia meminta saran dan bantuan dari seorang temannya. Tapi aku tidak tahu siapa temannya itu. Aku tahu semua ini karena sejak pesta malam itu, aku mencari semua informasi tentang dia. Maafkan aku ya sayang. Kamu harus terluka oleh ku, maafkan aku ya…”, jawab Gina sambil memelukku.

Malam itu aku menanggis sejadi-jadinya. Gina tidak perlu menceritakan semua. Karena kisah Cinderellaku itu yang kualami sendiri. Aku selalu terbuai kisah masa kecil tentang pangeran berkuda putih yang akan mencariku dan membawaku. Dan aku kira aku telah menemukannya. Dia memang pangeran tampan yang mencairkan hatiku, tapi aku juga begitu mudah meninggalkan sepatu kacaku di kerajaannya. Malam itu aku terlelap karena lelah tanggisku. Aku terlelap dalam pelukan sahabatku. Aku malam itu berharap seandainya saja Gina itu pangeranku, mungkin aku sekarang terlelap karena bahagia, bukan luka yang sangat menyiksa.

3 tahun aku mencintainya, 3 tahun kutitipkan sepatu kacaku padanya, 3 tahun pula di mengoresnya hingga pecah. Aku hanya menyesal bukan karena perpisahan, tapi pertemuan yang selalu kubanggakan. Aku berjanji akan melupakan Kevin. Aku bersumpah akan menjauhinya. Aku tidak ingin keluarganya hancur oleh keegoisannya dan keegoisanku juga. Biarlah sepatu kaca itu pecah.

Setelah malam itu, beberapa bulan telah lewat. Aku sudah tidak pernah bertemu Kevin lagi. Tapi kami berpisahnya baik-baik. Awalnya Kevin selalu menghubungiku. Dia selalu mengirim sms padaku. Dia tidak tahu bahwa aku telah mengetahui semuanya. Akhirnya dia menungguku dirumahku, dan dia meminta waktu untuk menjelaskan semuanya.

Dia mengatakan semuanya seperti yang dikatakan Gina padaku. Tapi setelah setahun bersamaku Kevin bilang dia benar-benar mencintaiku. Dia bahkan rela menceraikan istrinya hanya demi membuktikan cintanya. Jika kalian para wanita diposisiku, akankah kalian menerima pria seperti ini tapi dengan menghancurkan sebuah keluarga yang sudah terbina indah?

Pasti jawabannya tentu tidak bukan. Dan itu juga jawabanku pada Kevin. Semua pemberian Kevin kukembalikan semua. Dari Ferrari, cincin, semuanya yang pernah ada menyimpan kenangan indah. Aku dengan tegas menolak semua ajakan rujuk Kevin. Tapi aku mau memaafkannya. Sejujurnya hatiku juga hancur melihatnya menanggis dihadapanku. Tapi aku lebih hancur kalau mengingat seorang wanita yang setiap malam setia menanti suaminya pulang, seorang wanita yang dengan setia menemani dan percaya suaminya bekerja demi keluarga tiba-tiba pulang mengajukan surat cerai hanya demi wanita lainnya. Dan aku tidak ingin jadi wanita itu yang menyebabkannya.

Sejak berpisah dengan Kevin. Kehidupanku sedikit berbeda dengan yang dulu. Aku tidak pernah mempercayai kisah Cinderella dan sepatu kacanya lagi. Bahkan aku mulai menghindari kisah-kisah romantis dalam cerita-cerita happy ending lagi. Aku bukan membencinya, tapi aku sudah mulai tidak mempercayainya.

Tapi DIA memang DIA, DIA mempunyai rencana yang indah bagi kita semua. Disaat aku mulai tidak mempercayai semua cerita itu lagi, dia malah mempertemukan aku dengan seseorang yang sangat mempercayai kisah indah Cinderella dan sepatu kaca. DIA menyadarkan aku bahwa Cinderella tidaklah harus punya cerita yang sama. DIA menyadarkan aku bahwa dalam cerita Cinderella pun ada kisah yang membuatnya hampir putus asa.

Pria inilah yang membuatku bisa tertawa ceria lagi. Dia pria yang sederhana. Dia pria yang bahkan bisa dibilang tidak punya apa-apa. Tapi hatinya, tawanya, senyumnya membuatku terlihat sangat miskin dihadapannya. Pria ini selalu menemaniku disaat duka, pria ini selalu mendengarkan curhatku disaat luka.

Dihari ulang tahunku dia tidak memberiku mobil Ferrari maupun barang berharga lainnya, tapi dia memberiku sebuah sisir sederhana dan jepitan rambut bunga. Dalam pesanya dia menulis, “Sisir ini memang hanyalah sisir biasa, tapi aku ingin kamu memakainya setiap hari menyisir rambutmu yang indah, setelah itu tolong jepitkan rambutmu dengan jepitan bungaku sehingga aku bisa tiap hari melihat wajahmu yang penuh pesona itu tanpa terhalang sehelai rambutmu”.

Tahukah kalian, seperti wanita pada umumnya, aku pun menceritakan ini pada ibuku seperti saat pertama kali aku menceritakan tentang Kevin. Dan tahukah kalian apa jawaban ibuku? Ia mengatakan begini, “akhirnya kau menemukannya juga ya sayang”, sambil dicium mesra keningku. Aku sedikit bingung dan bertanya, “maksud mama?”. Ibuku memelukku penuh sayang. Sangat erat dan penuh kehangatan.

“Pasti selama beberapa tahun ini kamu terluka, dan mama pun sangat tahu perasaanmu bagaimana. Tahukah kenapa dulu mama berkata semoga kau menemukan yang terbaik bagimu? Sedangkan sekarang mama mengatakan akhirnya kau menemukannya?”, Tanya ibuku dengan pandangan yang penuh arti. Senyumnya manis sekali. Bahkan melebihi senyuman malaikat kali. Kulihat ibuku melihat sangat mesra kearah ayahku yang sedang asyik menikmati sarapannya dimeja. Akupun tersenyum manis.

Jika kalian yang wanita pasti mengerti apa arti kata-kata ibuku. Ya, itulah yang kita sebut cinta. Aku tidak perlu penjelasan apa-apa lagi dari ibuku. Saat wanita memikirkan seseorang dan dia tersenyum, maka itu bukanlah cinta, tapi kagum padanya. Saat wanita memikirkan seseorang dan dia menanggis luka, maka itu bukan juga cinta tapi suka. Tapi, saat wanita masih bisa tersenyum walaupun dikala duka hanya dengan memikirkan seseorang, maka itulah yang selalu kita sebut cinta.

Kini diminggu yang cerah, aku sedang memandangi pria yang paling mempesona.  Setelah aku berpacaran dengan pria ini selama setahun lamanya, akhirnya dia melamarku disebuah café tempat aku dan Gina selalu berbagi bersama. Dan luar biasanya, dia mengundang Gina menjadi saksi cinta. Aku belum pernah merasakan suasana romantis seperti itu. Yang dia lakukan hanya bersujud didepanku, sambil membawa sebuket mawar, dan sepasang cincin biasa. Café itu menjadi resepsiku, dan tamu-tamu disana menjadi undangan pertamaku.

Sekarang aku memasuki altar pernikahan. Aku mengandeng tangan ayahku. Kulihat Gina menanggis bahagia didepanku. Kulihat hadir juga suami Gina dan putranya. Para undangan yang hadir tidak begitu banyak karena ini keinginanku ingin melangsungkannya dengan sederhana. Hanya sahabat-sahabat baiku dan beberapa teman bisnis ayah dan ibu yang hadir. Altar pernikahan kami sangatlah sederhana. Terdiri dari tiang yang saling menyangga dipenuhi bunga-bunga mawar putih dan merah.

“Para undangan dipersilakan duduk”, kata Gina yang menjadi pembicara sekaligus first lady pernikahanku. “Hari ini, hari yang sangat cerah ini, dan mungkin hari yang paling membahagiakan melebihi pernikahanku sendiri. Sahabat terbaikku, sekaligus wanitay yang kuanggap adik sendiri  yang paling kusayangi akhirnya menemukan pangerannya. Untuk itu aku ingin sang pangeran membacakan janjinya pada para undangan raja dan permaisuri dikerajaan bunga ini”, puisi sederhana dari Gina yang disambut gelak tawa. Pria disampingku berdiri. Dia melihatku. Manis sekali. Lalu dia berpuisi …

Cinderella

Pertemuan mereka diawali sepatu kaca

Pertemuan kita diawali penuh luka

Saat tengah malam Cinderella harus menghilang

Saat tengah malam wajahmu selalu terkenang

Kadang aku bertanya, apakah hari ini hanyalah mimpi

Jika ini mimpi maka jangan pernah bangunkan aku lagi

Aku ingin kau selalu disisi, Walaupun Cuma untuk sehari

Setiap malam kuberdoa pada-Nya

Aku berdoa meminta melihat senyummu saja

Aku berdoa meminta memimpikanmu saja

Tapi DIA malah memberikanku dirimu seutuhnya

Kadang aku bertanya, pantaskah aku yang rakyat jelata dengan Cinderella?

Karena aku sudah puas hanya membasuh sepatu kacamu saja

Tapi kau malah memilihku yang batu diantara tumpukan permata

Sambil menanggis berurai air mata dan bahagia

Kini dialtar kerajaan kita kerajaan bunga

Dihadiri para raja dan permasurinya

Aku telah menemukan Cinderellalku dan sepatu kacanya

Dia bernama… Cindyrella

Malam ini sangat cerah. Bulan bersinar terang dan bintang-bintang berkelip indah. Kulihat pria yang kunikahi selama 50 tahun itu sedang menemani cucu kami diperkarangan rumah. Canda dan tawa tidak pernah hilang dari mukanya selama 50 tahun kami berumah tangga. Aku keluar menyapa pria penuh pesona itu. “Grandma..sini..sini, Jonathan menemukan kelinci yang lucu”, teriak cucu kami dari jauh. “Iya, grandma ambil cookies dulu ya.”, jawabhku mesra. “Horee…ada cookies”, teriak cucu kami bersamaan.

Aku berjalan masuk kedapur. Kulihat putri sulungku sedang bersama suaminya sedang membawa cookies keluar. Aku menyuruh mereka kesana duluan. Aku hendak mengambil cookies kesukaan pria yang kucintai itu. Saat melewati ruang keluarga. Kusempatkan membersihkan sepatu kaca yang masih terjaga rapi diatas tungku perapian kami. Disisinya masih tersimpan kartu ucapan pengirimannya. Aku membaca sebentar dan air mataku membasahi pipiku. Pemberi hadiah inilah yang menyakinkanku bahwa kisah Cinderella itu ada dan nyata. Pemberi hadiah inilah yang menemaniku selama 50 tahun lamanya.

“Grandma, ayo cepat sini…, nanti kelincinya lari ahh”, pinta cucuku yang paling kecil sambil menarik tanganku. “Iya, iya, grandma segera kesana, grandma Cuma ambil cookies kesukaan grandpa”, kataku tersenyum manis. “Apa itu grandma? Sepatu kaca Cinderella ya? Aku mau lihat..mau..mau..lihat…”, pinta dengan gemasnya cucuku. “Iya, nih grandma kasih lihat”, katamu sambil menciumnya.

“Grandma, grandma… apa ini?”, Tanya cucuku sambil menunjuk kesurat kecil disamping itu. “Coba kamu baca, katanya kan sudah bisa baca”, godaku sambil menciumnya penuh gemas. “Aku baca ya…”, jawabnya. “Fo..r.., ci..nd..y..re.ll..a….fr..om..M…ik..e…”, bacanya terpatah-patah.  Aku tertawa mendengarnya, lalu aku gendong malaikat kecilku itu keluar berkumpul bersama anak-anakku dan cucu-cucuku yang lucu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s