Diary laki-laki


Dear diary

Saat kau menemukan diariku, saat kau membaca diarku, aku tidak pernah malu. Aku tahu mungkin kau akan tertawa, bahkan mungkin aku dihina, tapi percayalah aku tidak akan pernah marah.

Aku tahu mungkin bagi sebagian wanita menulis diari adalah kesenangan semata. Aku tahu bagi gadis remaja menulis diari adalah curhatnya akan dunia sekolah. Tapi bagiku adalah ungkapan hatiku yang tidak pernah dimengerti dunia. Aku juga tidak menyalahkan dunia mengapa aku diperlakukan semena-mena, karena dunia juga mengeluh hal yang sama. Mengapa mereka yang mendiami aku malah selalu berkeluh kesah? sedangkan aku yang selalu mendengarmu tidak pernah berkeluh sepatah kata. Ya, itulah manusia. Dan, ya, aku ini seorang pria. Pria yang menulis diari untuk melegakan hati.

Saat aku masih remaja, aku mempunyai sahabat pena. Dia bernama Maria dan aku bernama Andika. Aku keturunan Cina dia campuran Amerika. Keakraban kami melebihi saudara. Kemana-mana kami selalu berdua, Makan dan minum apa saja kami selalu berbagi bersama. Aku juga menpunyai sahabat lainnya juga. Mereka adalah Andy dan Joseph.

Kami berempat dikenal sebagai mawar dan durinya. Maria menjadi mawarnya, kami menjadi durinya. Saat ada yang ingin memetik mawar, kami akan menusuk jarinya. Bagi kami Maria adalah segalanya. Dan bagi kami Maria adalah belahan jiwa. Ya, saat itu kami masih remaja. Makanya kami tidak mengerti cinta. Kami berkata karena apa adanya karena kami sering bersama.

Kini kami telah dewasa. Kami telah bekerja. Kami telah mengenal harta. Kami mulai mengenal cinta. Maria menjadi primadona di tempat kerjanya. Andy dan Joseph menjadi tuan atas bisnisnya. Aku? aku tidak lebih beruntung dibanding semua sahabatku. Aku menjadi karyawan disebuah kantor swasta. Tapi aku tidak pernah malu, aku malah bangga akan kerjaku, walaupun keringatku masih kalah banyak dengan rekening bank sahabatku.

Kami tetap sahabat pena. Walaupun aku tidak selevel dengan status sahabatku, mereka tidak pernah menganggap rendah diriku, apalagi sampai malu bersamaku. Aku sangat bahagia mendapatkan sahabat seperti mereka. Dan itu yang selalu ku doa kepada-Nya. Tapi, ternyata kami memang hanyalah manusia. Puluhan tahun persahabatan, hanya satu tahun untuk merubah semuanya.

Sejak pertemuan terakhir kami disebuah cafe. Kami sibuk dengan kerja kami. Maria masih menghubungiku, tapi tidak pernah berkumpul seperti dulu. Andy dan Joseph melebarkan bisnisnya sampai kepelosok daerah.

Disatu malam, Maria menelponku. Suaranya parau dan serak. Aku tahu dia sedang menanggis. Aku bertanya kenapa? dia hanya membisu. Aku mencoba mencoba menghiburnya tapi tidak dengan kata-kata. Aku hanya diam mencoba merasakan kesedihannya. Mungkin Maria tidak tahu, saat dia menelponku, aku sangat bahagia. Sejak dulu aku menyayanginya. Dulu sebagai sahabat pena, sekarang ingin kujadikan dia belahan jiwa.

Maria akhirnya berkata. Maria akhirnya bercerita. Semua keluh kesah dikeluarkannya. Dari yang berhubung kerja, sampai yang berhubung keluarga. Tapi aku tahu bukan karena itu dia menelponku. Aku telah mengenalnya dari remaja. Dan saat suaranya terhenti sebentar, dia menceritakan yg sebenarnya.

Dia mengatakan dia telah lama pacaran dengan Andy. Dan awalnya dia senang sekali. Mereka telah mengenal sejak dari kecil jadi Maria bisa menerimanya sepenuh hati. Oya aku lupa cerita. Andy adalah keturunan campuran Amerika juga. Matanya biru, tinggi, tampan sekali. Sedangkan Joseph asli orang inggris.

Maria bercerita sambil menanggis sendu, aku hanya bisa memendam rindu. Saat dia terisak, hatiku bagai dipukul pasak. Saat dia menyebut Andy, hatiku rasanya ingin lari. Tapi demi dia yang diseberang sana, ditusuk ribuan duri pun aku rela. Aku mencoba menghiburnya, padahal aku yang paling ingin dihiburnya.

Maria berkata dia dulu menyukai seorang pria sebelum Andy. Tapi dia takut dia akan menyakiti. Untuk menutupi perasaannya dia berpacaran dengan Andy. Andy orang yang baik, perhatian dan penyayang. Dan itu saat kami masih belum mengenal pekerjaan dan hebatnya uang. Maria bercerita saat kuliah dia dan Andy adalah pasangan yang serasi. Yang satu cantik yang satu tampan. Memang cocok sekali kataku dalam hati.

Tapi, sejak saat Andy mulai mengembangkan bisnisnya, Andy mulai berubah. Perhatian yang dulu diberikan dengan kecupan dan kasih sayang, kini diganti dengan perhiasan dan uang. Cinta yang dulu tulus dengan saling menemani, kini diganti cincin yang melingkar dijari. Maria kira awalnya itu hanyalah ungkapan cinta, tapi ternyata itu pengganti segalannya.

Semakin berhasil dalam bisnisnya, semakin Andy menjauh darinya. Maria sudah mencoba untuk menyesuaikannya, tapi apa mau dikata, kemakmuran telah menyita semuanya, termasuk dia. Saat ditanya kenapa? semua alasannya selalu berakhir air mata. Demi masa depan dia berkata. Demi anak-anak dia bekerja. Demi aku dia mencari semua. Tapi apakah dia tahu apa yang paling ingin kurindu?

Dalam sendunya Maria akhirnya berhenti bercerita. Dia mengatakan sebulan yang lalu dia telah menutup hatinya. Dan yang mengecewakannya Andy terlihat biasa saja. Bahkan kini Andy telah mendapatkan pengganti hatinya. Aku begitu teryayat pilu, mengapa sahabat penaku yang dulu menjadi begitu? tapi aku juga tidak berhak menyalahkan mereka. Mereka yang punya mata, mereka berhak memilih pesona dunia. Mereka yang punya telinga, mereka juga berhak mendengar apa yang memberi makna.

“Terima kasih karena selalu ada untukku”. Itulah kata terakhir Maria kepadaku. Setelah malam curahan pedih hatinya padaku, Maria jarang menghubungiku. Dia takut dia akan membuat pasanganku cemburu. Tapi dia tidak tahu bahwa aku hanya menyayangi dia. Tapi aku tidak pernah memberitahukannya. Karena aku pemalu dan jawabanku hanya, “Iya, sampai jumpa”.

….

Kini 3 tahun telah berlalu. Dan aku masih menulis diariku. Semua sahabat penaku telah menjadi cerita. Andy telah menikah dan pindah ke Amerika. Joseph kembali ke negaranya. Walaupun jauh kami masih saling berbagi kisah, tapi bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai kolega bisnis saja. Bagiku mereka tetap sahabatku. Bagiku kisah bersama tidak akan dikikis waktu. Dan foto persahabatan masa kecilku kutaruh dimeja kerjaku.

Mereka telah menjadi orang yang sukses dinegaranya, bahkan menguasai semua yang diidamkan manusia. Sebut saja semua merk mobil mewah, tunjuk saja kalangan elit istana, perlihatkan saja semua berlian dan permata, hanya dengan berucap satu kata mereka bisa memilikinya.

Ketenaran dan kepuasan dunia telah mereka dapatkan. Aku hanya sering bertanya apakah mereka pernah merasa bahagia? aku tahu miskin juga tidak menjamin bahagia. Tapi aku juga tidak menutup mata aku sering melihat yang kalangan menengah kebawah kok bisa tampak begitu muda diusia tuanya? Aku juga sering melihat mereka yang dihina bisa tertawa penuh pesona? Malah mereka mempunyai jiwa yang sangat mulia.

Andy sahabatku menikah 3 kali. Joseph pertunangannya gagal berkali-kali. Andy dikaruniakan 2 anak yang cantik-cantik pada pernikahan sebelumnya. Tapi yang kulihat yang menemani mereka bukan istri dan mama kedua anaknya, tapi seorang wanita yang kita gaji untuk menjaganya. Aku kadang berpikir, apa yang disebut papa dan mama itu jika melihat mereka. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi mereka. Karena mereka tetaplah sahabatku.

Kini aku telah mempunyai bisnis kecil yang biasa-biasa dan Aku juga telah berkeluarga. Terimakasih kepada-Nya karena telah mempertemukan aku dengan seorang wanita. Doaku hanyalah meminta wanita sederhana yang akan menemaniku disaat tua, tapi DIA memberikanku seorang malaikat yang dari surga.

Inilah diari yang ditulis oleh seorang laki-laki, laki-laki yang dulunya pemalu sekali. Aku tidaklah pandai merangkai kata tapi hanya pandai memanjatkan doa. Bagi wanita aku mungkin memalukan, tapi bagiku ini sangat menyenangkan. Bagi wanita mungkin aku terlalu pesimis, tapi bagiku, saat tuaku, aku hanya berharap menjadi kenangan manis.

Sahabat tidaklah bisa dinilai dengan harta dunia, bahkan sahabat tidak mempunyai harga. Tapi menyedihkannya, harta bisa membeli manusia, kaya bisa menghina sesama, permata menjadi syarat dipuja. Harta adalah benda. Dan benda itu adalah titipan-Nya. DIA memberimu lebih karena DIA mempercayakannya padamu. DIA memberimu lebih supaya kau bisa menggunakannya dengan hati. DIA memberimu lebih supaya kau mengerti arti memberi. Tapi, pujian setan lebih menjanjikan daripada larangan Tuhan.

Akhirnya, diari ini harus kuakhiri. Aku telah menemukan arti dari semua yang Tuhan beri. Doa dan syukur tidak akan berhenti. Semua titipan-Nya akan kujaga sampai aku dipanggilnya kembali. Kepada Malaikatku yang senantiasa menemaniku, terimakasih atas semua sentuhan kasih sayangmu. Tidak pernah aku meragukanmu, karena kamu pilihan Tuhan Allahku.

……

Saat kupulang kerja, kulihat seorang wanita yang cantik menungguku disofa. Matanya yang biru memancarkan keindahan surga. Rambutnya yang keperakkan karena usia, tidak sedikitpun mengurangi pesonanya. Senyumannya selalu tertata indah diwajahnya. Dia baru selesai membaca.

“Suamiku, kamu sudah pulang ya”, tanya istriku. “Iya sayang, aku kangen sama kamu”, Jawabku sambil mengecup keningnnya. “Kamu masih membaca diariku? apa tidak bosan? sudah puluhan tahun kamu membawanya bersamamu, nanti kamu jadi kutu buku”, godaku kepada istriku sambil duduk mendekapnya. “Tidak sedikitpun aku bosan, malah setiap kali kubaca aku menjadi dewasa setiap harinya, dan aku menjadi makin cinta”, jawab istriku penuh manja.

Kami telah berusia senja. Anak-anak kami semua telah berkeluarga. Sekarang aku bekerja hanya ingin merengangkan badan yang mulai renta. Malam ini aku pulang lebih awal karena anak-anak kami akan datang menjengkuk kami bersama cucu-cucu kami, malaikat kami. Tiba-tiba terdengar langkah kecil dari arah pintu. Ternyata malaikat-malaikat kecil itu yang berlari kearahku.

“Grandpa, grandma…cerita lagi dong kisah cinderella Cina, aku mau dengar lagi.”, manja Yenny padaku. “Ayo dong grandpa…”, sambung beberapa malaikat kecil lainnya kepadaku. Cinderella Cina? memang tidak ada kisah itu, itu kisahku yang kuceritakan kepada cucuku. “Iya..grandpa akan cerita, tapi sebelum itu, siapa nama cinderella dulu?”, tanyaku sambil melihat istriku. Istriku tersipu malu. Manis sekali.

“MARIA….”, jawab para malaikat kecil kami bersamaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s