Inikah yang Kalian cari?


Is this what you looking for?

Namaku Yeni dan ini adalah isi hatiku yang kutuangkan dalam tulisan. Ini adalah kisah yang ingin kubagikan kepada kaum kami wanita dan kepada pada pria. Kisah ini lebih ku khususkan kepada para kalian wanita terutama yang mencari pria dengan syarat-syarat atau embel-embel materi. Aku tidak mengatakan bahwa itu salah karena aku pun demikian. Siapa sih yang mau hidupnya atau mendapatkan suami yang pas-pasan, karyawan rendahan, penghasilan tidak tentu.

Itulah yang kupikirkan sejak awal sebelum berumah tangga dan akan kukatakan, AKU SALAH…materi memang diperlukan untuk hidup, tapi hidup tanpa kasih sayang dari seseorang yang kita cintai adalah sama halnya mati. Aku tidak bisa menceritakan semua yang kualami ini, tapi aku ingin berbagi melalui kisahku ini. Anda boleh menilai aku bodoh, gila, aneh dan kata-kata makian lagian. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kalian jangan mengikuti jejaku terutama kalian para wanita. Inilah kisahku… Aku adalah seorang wanita yang berparas cantik (itu yang dikatakan pria-pria yang dekat denganku).

Tinggiku 170cm dengan tubuh semapai dan singset (aku hobi aerobic). Aku berasal dari keluarga yang cukup berada, sejak kecil aku sudah biasa dimanja dengan materi yang ada, apapun yang kuinginkan selalu bisa kudapatkan. Maklum aku anak tunggal. Setiap weekend aku selalu hang out ama teman-temanku. Diantara mereka akulah paling cantik kata mereka, bukannya sombong tapi itu yang kurasakan juga. Sering saat kami kumpul di cafe-cafe atau jalan-jalan di mall banyak pria yang mencuri pandang dan bahkan sering pula mereka minta kenalan dan nomor HP. Jika aku tidak sreg dengan pria tersebut maka aku tidak akan memberikan, tapi jika sreg aku baru kasih.

Aku mempunyai teman baik yang selalu menemaniku, namanya Winnie. Kemana kami pergi pasti selalu berdua ditemani teman-teman lain juga. Winnie mempunyai perawakan yang manis, tingginya 160an, orangnya agak plegmatis tapi enak diajak gaul. Menurutku dia paling cantik, tentunya setelah aku. Disuatu hari saat jalan-jalan dimall sama Winnie, kami berkenalan dengan 2 orang pria. Tentunya mereka yang ngajak kenalan dulu dong. Pria yang pertama sesuai dengan tipeku namanay Alex. Tingginya sekitar 180cm, kulit bersih, ganteng lagi. Pria yang kedua agak biasa. Namanya aku lupa, Tingginya hampir seperti ku 170cm. Awal perkenalan itulah aku kisah aku yang sebenarnya.

Seperti awal dalam masa pacaran, aku begitu senang sms dengan dia, aku selalu menanti telponnya. Dia begitu romantis dan penuh perhatian dan yang lebih penting lagi dia anak orang kaya. Setiap aku pulang dari aerobic dia selalu menjemputku. Pokoknya aku sangat bahagia, bahkan saat ulang tahunku dia memberikan aku iPhone 3GS. Singkat cerita aku dan dia telah pacaran selama setahun lebih dan ternyata teman baiku Winnie juga pacaran sama pria kedua tersebut, dan aku baru tahu namanya ternyata bernama Adit. Pokoknya gitu dech, pasaran…

Pada bulan September adalah hari paling indah dalam hidupku. Aku menikah dengan Alex disebuah restoran mewah. Pesta pernikahanku begitu meriah, mungkin tidak kalah sama selebritis. Tamu yang hadir juga dari kalangan atas, bahkan beberapa direktur perusahaan terkemuka juga hadir didalamnya. Benar-benar impian yang jadi kenyataan. Tapi, aku salah… Selang setahun pernikahanku, teman baikku Winnie juga menikah dengan Adit. Aku diundang kesana bersama suamiku. Saat ke tempat resepsinya aku terkejut. Ternyata mereka menikah disebuah restoran kecil. Tempatnya masuk jalan kecil lagi. Dalam perjalanan kesana aku sempat ragu apa benar ini tempatnya. Setelah sampai disana aku baru yakin, temanku Winnie menyambutku dari jauh. Gaun pengantinnya kelihatan biasa bahkan ketinggalan model. Tapi Winnie saat itu kelihatan begitu cantik, manis sekali. Aku mengira aku salah lihat dan berpikir itu hanya pengaruh make up, tapi ternyata dia memang cantik dan manis sekali bahkan dengan make up seadanya. Malam itu kami bercanda dan melepas kangen setelah sekian lama tidak bertemu.

Pada tahun ketiga pernikahanku, aku merasa sangat bahagia karena suamiku bisnisnya berkembang pesat. Kami juga pindah kerumah yang lebih besar bahkan aku mendapatkan mobil baru dari suamiku saat ulang tahunku. Benar-benar lengkap hidupku. Suami yang tampan, perhatian dan mapan, kurang apalagi bukan? Diakhir weekend, aku dan teman baikku Winnie bersama teman-teman lain reuni. Kami memang selalu begitu tiap tahun untuk melepas kangen. Kami berkumpul disalah satu cafe langganan kami.

Seperti pada wanita umumnya kami saling bertukar cerita dan gosip. Teman-temanku menceritakan bagaimana suami atau pacar mereka. Dari yang kulihat mereka semua berpakaian glamour dan cantik hanya Winnie yang berpakaian sangat sederhana. Sebuah gaun putih dengan motif simple, tidak jelek malah cocok sekali dengan Winnie dan dia manis sekali. Saat teman-teman lainku berpisah hendak pulang, aku dan Winnie sama-sama menunggu jemputan suami kita. Saat itu aku bertanya mengapa dia mau menikah dengan Adit. Bukankah dia bisa mendapatkan yang lebih baik. Mendengar pertanyaanku Winnie hanya tersenyum dan berkata, “aku memang menginginkan yang lebih baik, tapi bukan itu yang kubutuhkan”.

Aku pertama kali mendengar jawaban itu bingung, apa maksudnya? Tak lama kemudian suamiku datang menjemput, dalam hati aku ingin memamerkan itu pada Winnie. Tak lama kemudian kulihat suami Winnie datang dan aku terkejut…hanya dengan sepeda motor biasa. Pada tahun kedua kami berkumpul lagi, dan seperti biasa kami gosip dan cerita-cerita saling membanggakan pasangan sendiri, lalu diakhiri dengan berpisah dijemput pasangan masing-masing. Saat itu aku tidak tahan lagi dengan penasaranku pada Winnie, mengapa wanita secantik dan semanis dia bisa memilih pria yang jelas-jelas hanya karyawan biasa. Dalam penasaranku sengaja kuajak bicara, “Win, saat pertama kali kamu sama Adit apa orang tuamu tidak melarang? Maksudku kamu kan dari kalangan menengah keatas?”, tanyaku penasaran.

Winnie melihat kearahku dan tersenyum dan entah kenapa senyumannya sangat manis bahkan dibanding pertama kami reuni. “Mamaku memang sempat bertanya apakah aku tidak menyesal memilih Adit, tapi aku menjawabnya tidak karena aku mencintainya”, jawab Winnie. “memang banyak teman-teman kita yang menentang hubunganku dengan Adit, bahkan beberapa kali aku pernah berpikir untuk berpisah dengannya”, sambung Winnie. “Tapi saat aku bimbang itu mamaku malah mengatakan hal yang tidak pernah kuduga”. “Apa itu?”, tanyaku penasaran. Winnie terdiam sebentar lalu menjawab mantap, “Jika kau mencintai seorang pria, jangan pernah kau melihat apa yang dikenakannya, apa yang dimilikinya atau apa yang dipakainya, tapi lihatlah lebih dalam kedalam hatinya karena itulah cinta sebenarnya”. Mendengar jawaban itu aku tertawa kecil. Aku menjawab ,”itu sih ucapan orang jaman dulu, sekarang apa-apa perlu uang Win, tanpa uang mana bisa bahagia”.

Mendengar hal itu Winnie hanya tersenyum, dan harus kuakui itulah senyum Winnie yang paling manis. Tidak terasa beberapa tahun telah lewat dan memasuki tahun ke 8, reuni kami masih berjalan seperti biasa. Cuma pada reuni kali ini bukan saling membanggakan yang kami ceritakan, tapi semua keluhan yang terdengar. Semua saling menceritakan keburukkan suami yang sudah tidak setia lagi, jarang pulang, kurang perhatian, banyak kerjaan, meeting sampai subuh dan sebagainya. Harus kuakui itupun yang kualami.

Aku dan semua temanku masih berpenampilan menarik, tapi itu hanya dilapisi make up yang tebal untuk usia yang bertambah. Pakaian yang wah untuk menutupi hati yang sepi, dan seperti biasa kami mengakhiri reuni kami dengan berpisah. Cuma sekarang pulang tidak dijemput suami lagi, tapi pulang sendiri-sendiri pakai mobil ataupun sopir. Seperti biasa aku dan Winnie menunggu jemputan. Dalam kesunyian aku memandang kearah Winnie. Dia berpakaian simpel, wajahnya make up minimalis tapi wajahnya begitu cantik, malah menurutku semakin cantik dan manis. Tidak terlihat tua diusianya yang sama denganku.

Tiba-tiba Wennie menyadarkan dengan suaranya. Ternyata suami sudah datang menjemput. Adit sekarang tidak memakai motor lagi tapi mobil keluarga biasa. Selama pernikahan mereka Adit tiap hari menjemput Winnie dengan senang hati, tanpa absen sekalipun. Saat dia turun dari mobil, Adit terlihat begitu mempesoan, beda sekali dengan pertama kami bertemu. Sekarang dia terlihat berwibawa, badannya tegap dan atletis, sedangkan suamiku Alex malah terlihat lebih tua dari usianya. Saat melambaikan tangan perpisahan, akhirnya aku mengerti kata-kata mama Winnie dulu. “Janganlah melihat pria dari apa yang dikenakannya, apa yang dimilikinya, tapi lihat lebih dalam kedalam hatinya” …..

Itulah kisahku para pembaca. Aku sekarang memang memiliki segalanya, rumah mewah, mobil mewah, perhiasan berlimpah, tapi aku kehilangan kasih sayang, perhatian, belaian. Memang aku masih keluar sama suamiku, masih komunikasi, tapi semua itu sangat berbeda dengan dulu. Saat keluar bukan aku yang dipikirkan oleh suamiku dikepalanya. Tapi bisnisnya. Dia memang masih perhatian sama aku tapi bukan dengan kasih sayangnya tapi dengan membelikan apapun yang kuinginkan. Aku tidak mengatakan kalian para wanita harus menikah dengan pria miskin atau lainnya karena banyak juga pria yang miskin malah miskin perhatian dan kasih sayang.

Aku tidak meminta tiap hari suamiku harus bersamaku, karena dia adalah kepala keluarga dan dia juga bekerja demi keluarga. Aku hanya meminta beberapa jam perhatiannya. Misalnya mengantar dan menjemputku pulang, mengucapkan kata sayang, membelaiku, bercanda denganku… Kadang aku sangat iri dengan teman baikku Winnie, mereka selalu menghabiskan waktu disaat minggu, pergi berbelanja berdua, bergandengan tangan, bercanda, saling menyayangi. Suaminya begitu perhatian, setiap hari mengirim sms. Memang itu hal yang mudah dan sepele, tapi hal seperti itulah yang selalu kurindukan.

Jika bisa mengulang waktu, mungkin aku akan memilih Adit. Walaupun pas-pasan tapi begitu berarti dan bahagia, karena kebahagiaan memang tidak bisa dinilai dengan materi. Inilah pesanku kepada para wanita, jangan pernah kau sia-siakan seorang pria. Jangan pula kau menilainya dari apa yang dimilikinya. Memang tidak salah kita memilih yang lebih mapan. Tapi jadikanlah itu nilai plus atau bonus. Kekayaan ataupun materi bisa dicari bersama, asal ada niat, tapi ingatlah semua itu bisa habis. Andaikan tidak bisa habis itupun semua fana, tapi kasih sayang tidak pernah sirna jika dipupuk setiap hari. Itulah kebahagiaan yang sebenarnya.

Jika sekarang kalian telah menemukan pria seperti itu, pertahankan. Jangan lepaskan. Penyesalan selalu datang terlambat. Aku memang tidak bisa membalikan waktu, tapi aku tidak mau kalian mengulang kisahku. Memang tidak semua seperti kisahku, tapi siapa yang tahu hari esok? Justru diawal-awal kita harus mencari dan mengalinya.. .

Dengarkanlah kata hatimu, jangan terpengaruh oleh teman-teman kalian yang berbicara berdasarkan pikirannya sendiri, atau perkataan orang tua yang sepihak. Aku tidak mengatakan kalian harus melawan orang tua kalian, mereka sangat peduli dengan kalian, mereka ingin kalian bahagia, tapi ingatlah ini, YANG MENIKAH ITU KALIAN, kebahagian tidak bisa ditentukan oleh siapapun, tapi kita sendiri dan keputusan itu ditangan kalian.

Inilah pesanku kepada para pria, jika kalian mencintai kami, cintailah setiap hari karena kami perlu itu setiap hari. Kami memang bahagia saat kau memberikan kami sesuatu, tapi bukan sesuatu itu yang membuat kami bahagia, tapi sesuatu itu dari kamu orang yang kami cintai. Kami perlu diyakinkan tiap hari oleh kalian, bilang kami cantik, katakan sayang setiap hari, bahkan hanya satu kata hai bisa membuat hari kami menjadi ceria.

Akhir kata, inilah kisahku sebagai wanita yang telah mengalaminya. Aku berharap kisahku ini bisa memberikan sedikit arti dalam hubungan kalian. Malah aku memaksa kalian agar selalu menjadikannya sebagai cambuk ingatan. Kisah ini memang mungkin terulang padamu sepertiku, tapi kisah ini bisa mencari celahnya sendiri sehingga membuat kisahmu tak jauh dari kisahku. Cintailah mereka yang mencintaimu, dan tutuplah matamu untuk hal-hal yang bersifat semetara dan semu. Hanya doaku kalian jangan sepertiku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s