Kau mengajariku dengan cara luka


I knew it hurt, but i knew you love me too

Ini adalah kisah yang kutulis dan kupersembahkan pada seseorang yang telah kuanggap sebagai keluarga. Kisah ini mungkin berbeda makna bagi lainnya. Tapi aku memang menulis ini untuk dia. Dia yang telah kuanggap sebagai saudara, dia yang telah kuanggap sebagai keluarga, hanya berharap dia akan menemukan cinta sejatinya seperti dalam cerita. Aku tidak tahu kapan, aku tidak tahu siapa, yang pasti aku tahu dia akan menemukannya.

Bagi wanita lain yang membacanya, mohon tidak menertawakannya jika cerita ini tidak mungkin terjadi didunia nyata. Tapi sekedar senyum sajalah. Aku sebenarnya tidak pandai bercerita, bahkan beberapa mungkin cerita ini terlalu biasa dan telah terjadi berjuta-juta kali didunia. Tapi aku menulisnya dengan bangga karena aku yakin tidak ada yang mustahil dihadapan-Nya. Jika DIA berkehendak, maka apapun yang dikata mustahil oleh manusia, akan terjadi pada waktunya.

Sudah pasti kita suka memuja yang indah-indah, padahal tidak semua yang indah itu menyenangkan mata. Kadang kita perlu melihat yang menyakitkan mata supaya kita bisa mensyukuri hal-hal yang sudah cukup indah bahkan biasa. Janganlah kita mencari yang sempurna, karena semakin kita mencarinya semakin kita jauh darinya. Kesempurnaan hanyalah DIA, dan nilai sempurna hanya DIA pula yang memberinya. Kau mungkin saja bernilai dua dimata manusia, tapi saat DIA mempertemukanmu dengan  seseorang yang jadi pilihan-Nya, kau bernilai 10 sempurna dimata-Nya.

Akhir kata ini hanyalah cerita saja. Kisah wanita yang mencari cintanya. Kisah yang kubuat kepada seorang wanita. Kisah yang kupersempahkan kepada semua kaum hawa. Mengapa aku ingin menulisnya? Karena aku sangat kagum dengan ketulusan hati wanita. Kalian bisa memendam kisah cinta indah ribuan tahun lamanya tanpa ternoda oleh kisah-kisah duka lainya. Karenanya, Adam memberikan rusuknya kepada Hawa. 

ARE YOU SURE TO DELETE? Tampil sebuah kotak pesan di HP ku. Cukup lama aku mempertimbangkan ingin menghapus nama dan SMS itu. Aku ingin menghapusnya karena aku tidak ingin terkenang kenangan yang selama ini kujaga. Kenangan-kenangan indah yang mungkin tak kan kulupa. Walaupun ingin kulupakan pun tetap takkan bisa. Terlalu dalam aku mencintainya. Terlalu indah aku memujanya. Tapi kenapa selalu disaat terindah DIA juga selalu mempunyai rencana lainnya?

Kadang aku ingin marah, tapi kepada siapa? Kadang aku ingin curhat, tapi kepada siapa? Memang banyak sahabat-sahabatku yang siap mendengarkan rintihan hatiku, tapi apakah mereka benar-benar mengerti perasaanku? Sebagai wanita aku kadang tidak perlu seseorang memberiku nasehat apa-apa, aku juga kadang tidak perlu seseorang harus mendengarkan keluh kesahku, yang aku perlukan hanyalah sebuah pelukan hangat. Aku tahu aku egois, tapi aku hanya meminta waktu semenit untuk dipeluk dan menanggis bersamaku. Apakah itu berlebihan?

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Pada awalnya aku dan dia hanyalah berteman biasa, tapi karena sering keluar bersama dan bersama sahabat-sahabat lainnya, lama kelamaan dia juga memendam rasa. Aku sendiri? Aku Cuma mengganggapnya sebagai teman biasa. Tapi kata nenek kita dulu memang bijak, saat seseorang jatuh cinta, keburukannya dimata kita pun menjadi permata.

Ini yang kulihat dari pria yang sekaligus temanku yang jatuh cinta padaku. Sebut saja namaya George. Dimataku George cukup tampan. Baik dan energik. Itu saja. Tapi waktu kulihat dia jatuh cinta padaku, sikapnya mulai berubah. Dulu aku dan dia yang bisa tertawa bersama-sama tanpa merasa enggan dan lepas, kini dia lebih banyak mendengar ceritaku dan tertawa. Dirinya yang dulu kadang cuek, kini begitu perhatian. Bahkan sedikit dari diriku yang berubah, misalnya cat kuku ku pasti tak lepas dari matanya. Dulu yang pelit pujian sekarang seperti pujangga dunia.

Mengapa aku tahu dia jatuh hati padaku? Bagi wanita itu hal yang sangat mudah. Kami diciptakan oleh DIA dengan kelebihan berpikir dengan hati dan perasaan. Jadi saat seseorang jatuh cinta kepada kami, kami pasti tahu. Kenapa? Karena kau memakai perasaan. Dan itulah adalah area kekuasaan kami kaum Hawa. Dan George mungkin bisa mengelabui sahabat-sahabatku pria yang lain. Tapi tidak aku dan sahabat-sahabat wanitaku.

Kisah kami sangatlah sederhana. Kisah kami pun berlanjut menjadi cinta dua arah. Setelah beberapa waktu bersama, George menyatakan perasaannya padaku. Dan aku menerimanya. Pada awalnya aku menerimannya karena sekedar iya saja. Tapi ternyata aku tidak sadar, bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Aku tidak sadar bahwa aku selama ini juga mempunyai rasa yang sama terhadap dirinya. Apakah aku yang telah terbius oleh perhatiannya? Ataukah tutur katanya? Ataukah wajahnya? Aku tidak tahu. Yang aku tahu kami sudah jadian.

Bulan-bulan kami lalui penuh suka. Sebagai wanita yang sedang jatuh cinta, penampilanku selalu yang pertama buat dia. Oya, aku sebenarnya wanita yang cukup tomboy. Dengan tinggi 165cm. rambut panjang sebahu. Kata orang aku ini manis sekali dan penuh canda. Aku orangnya mudah bergaul dengan siapa saja yang cocok denganku. Mungkin karena itulah banyak yang menyukaiku.

Tidak terasa George akan berulang tahun. Dan itu tinggal beberapa minggu lagi. Aku pun mulai menabung dari hasil kerjaku hanya ingin memberikan dia hadiah yang paling diinginkannya. Aku rela tidak ngemil, padahal itu salah satu hobiku. Tapi jangan salah, walaupun aku hobi ngemil bentuk tubuhku tetap terawat indah. Tidak peduli malam akupun pergi kerja untuk menambah penghasilanku demi memberikannya hadiah. Yang aku tahu, semakin aku banyak menabung, semakin hadiah yang kubelikan padanya pasti lebih oke juga. Dan aku tahu itu harus mengorbankan kesehatanku.

Hari hari kulakui dengan sangat menyiksa. Beberapa kali aku ingin berhenti dan membelikannya hadiah yang biasa saja. Tapi aku tetap bertahan demi melihat tawanya. Aku tetap berjuang membayangkannya tersenyum indah saat menerima hadiah. Mungkin ada yang berkata aku ini hanyalah wanita bodoh dan lemah. Tidak apa-apa aku dicap seperti itu. Tapi inilah kami kaum wanita, saat jatuh cinta, semua yang kami selalu bangga menjadi nomor dua, dan si dia selalu yang menjadi pertama, bahkan melebihi keluarga.

Akhirnya hari H pun tiba. Pagi-pagi aku sudah bangun menyiapkan hadiahku dengan kado yang paling indah. Kurangkai pita-pita menjadi bentuk hati yang mempesona. Aku juga tidak lupa menyiapkan baju ku yang paling kubangga. Hari ini, malam ini, aku akan memperlihatkan dia apa yang dinamakan malaikat yang turun dari surga. Hari ini aku bahkan mandi lebih daripada porsi sehari-hariku. Dan semua itu hanya demi sidia dihari yang indah.

Tidak terasa jam dinding menunjukkan jam 8 malam. Aku pun berangkat ketempat yang telah kami tentukan bersama. Yaitu disebuah café dekat sungai tempat dia menyatakan cinta. Aku sengaja tidak mau dijemputnya supaya aku bisa membawa hadiah itu dan menjadikan surprise untukknya. Aku berangkat sendiri. Dalam perjalan hatiku dipenuhi bunga-bunga. Belum pernah aku merasa sebahagia itu pada mulanya. Aku akan bertemu kekasihku, ditempat dia menyatakan cinta padaku, dan dia akan menerima hadiah hasil kerja keras dan cintaku.

Aku tiba duluan. Hadiahnya kusembunyikan dengan jaketku dan kutaruh agak kebawah meja café. Sambil menunggunya aku deg-degan. Aku sedang membayangkan baju apa yang akan dikenakannya ya? Parfum apa yang akan pakainya ya? Setampan apa dia malam ini yang akan menerima hadiah? Pokoknya berbagai macam pikiran yang membuatku berbunga-bunga. Ya, mungkin aku bunga yang paling mekar indah dan penuh pesona didunia. Bagimu pria dan ketahuilah, inilah dunia wanita ketika dia jatuh cinta.

“Hai yanx…”, teriakku saat melihat dia melintas masuk kecafe. Aku tidak tahan lagi ingin segera menariknya padaku disisiku. Tapi itu kutahan. Aku kangen sekali sama dia. Satu menit lamanya bagi pria, 100 menit lamanya bagi wanita. “Hai cantik”, sapa George padaku. Wajahnya tampan sekali. Dan tahukah apa yang membuatku sangat bahagia? Dia memakai baju yang kubelikan. Dia memakai parfum yang ku sarankan dan dia memberiku senyum termanis didepan.

“Apa kabarmu sayangku? Apakah kamu capek?”, tanyanya agak cemas. Ya, dari matanya kelihatan dia cemas padaku. Bagaimana dia tidak cemas, pacarnya datang sendiri dan membawa kendaraan sendiri dari satu daerah ke daerah lain dan disaat malam hari lagi. Sejujurnya aku juga agak takut, tapi melihatnya yang penuh cemas begitu, aku malah jadi lupa akan semuanya. “Tidak kok yanx, inikan ultahmu, jangan kan dari rumahku, dari luar negeripun aku akan datang menemui”, kataku bercanda agar dia tidak cemas. Sejujurnya, jika aku tinggal jauh darinya, aku pasti akan menemuinya seperti kataku tadi. Apakah aku gila? Silakan berkata apa saja. Tapi inilah yang aku sebut cinta.

Aku dan George bercanda beberapa lamanya. Kupesan kue ulang tahun khusus untuknya. Kuucapkan selamat padanya dan kukecup pipinya. George terlihat sangat bahagia. Tawanya yang lepas, matanya yang berbinar-binar membuatku lupa akan segala kepenatanku saat bekerja demi dia. Bulan dan bintang menjadi saksi bagi kami berdua. Hembusan angin malam menjadi alunan musik bagi kami yang sedang dimabuk asmara. Dan akhirnya, kuberikan pada George hadiah yang telah kupersiapkan lama.

“Astaga…ini cantik sekali sayang, dan harganya pasti mahal sekali”, kata George terkejut saat membuka kado yang kuberikan. Matanya berkaca-kaca. Ya, George sangat senang sekali dengan hadiah itu. Itu adalah jam tangan yang sangat diidamkannya. Tapi karena mahal George terpaksa membuang keingingannya itu. “Bagaimana kamu tahu aku sangat menginginkan jam tangan ini? Aku kan tidak memberitahu padamu?”, Tanya George sedikit bingung. Lalu dia memelukku dan menciumku.

Ya, bagaimana aku mengetahuinya ya? Ini sebenarnya rahasia wanita. Tapi walaupun kami jelaskan, kalian pria pun tidak akan mengerti maksudnya. Ya, daripada kalian penasaran kami membuka kartunya, kami tahu dari matamu, kami tahu dari intonasi suaramu. Kok bisa? Karena kami menguasainya. Karena DIA menganugerahkan kami kelebihan itu pada kami wanita. Makanya janganlah terkejut mengapa saat seorang wanita telah menjadi mama bisa mengetahui malaikat kecilnya lapar atau tidak hanya dengan tanggisannya. Kalau pria? Mungkin sudah kalang kabut entah kemana.

Malam itu merupakan malam terindah untukku. Waktu pulang George menemaniku sampai kerumah. Dia mengantarku dengan disertai senyuman penuh bahagia. Aku sebenarnya enggan pulang. Aku masih ingin melihat tawanya. Aku masih ingin dipeluknya. Aku masih ingin dikecupnya. Tapi sayang waktu tidak menginjinkannya. Malam itu aku tertidur dengan senyuman diwajah. Bahkan aku berdoa agar memimpikannya. Tapi, senyuman yang indah itu, senyuman yang kudoakan itu, ternyata tidak akan pernah terulang lagi dihari tua.

Setelah hari penuh kenangan itu, kisah kami seperti kisah para putri jelita dalam film-film romantis dunia. George begitu perhatian padaku. Bahkan melebihi perkiraanku. Dia selalu menawarkan dirinya untuk menjemput dan mengantar aku pergi kerja. Tapi itu kutolak karena rumah kami yang jauh jaraknya. Aku juga tidak ingin merepotkannya. Memang kuakui aku sangat ingin diantar dan dijemputnya dengan dua alasan yang mungkin terdengar tidak biasa.

Yang pertama, aku ingin selalu didekatnya. Jadi saat dia mengantarku, aku bisa selalu didekatnya. Aku bisa mendekapnya. Aku bisa memeluk pinggangnya. Aku bisa mencium aroma parfumnya. Aku bisa membelai rambutnya. Aku bisa mendengar kisah-kisah harian kerjanya. Aku bisa memanggilnya dengan panggilan sayang didepannya. Aku bisa bermanja dengannya dan Aku bisa mengecup pipinya.

Yang kedua adalah aku ingin memamerkannya. Ya, aku ingin memperkenalkan pada temanku tempat dimana aku bekerja. Aku ingin temanku terpesona dengan ketampanan George. Aku ingin temanku memujiku bisa mendapatkan pria yang begitu peduli padaku. Aku ingin temanku iri padaku yang bisa menemukan pria yang begitu sayang padaku. Apakah aku berlebihan? Mungkin iya. Tapi sekali lagi kukatakan, inilah dunia wanita ketika jatuh cinta.

Sangat bahagia. Itulah yang kurasa. Saat bersama George, aku merasakan betapa indahnya dunia. Aku tidak pernah mengira bahwa akan seindah ini rasanya. Kami sering saling SMS hanya sekedar mengucapkan kata sayang. Pokoknya terlalu indah hendak kuceritakan. Tapi bukan berarti aku tidak pernah terluka. Bahkan beberapa kali. Misalnya George lebih memperhatikan wanita lain daripada aku. Atau George lebih mendengarkan nasehat orang lain daripada aku. Tapi aku anggap itu mimpi belaka saja. Sekedar tambahan buat para pria, jika seorang wanita tiba-tiba merubah sikapnya, walaupun hanya sedetik saja, ingatlah kami telah punya masalah dan kebanyakannya penyebabnya adalah kamu para pria.

Biarpun kami sering terlibat cekcok kecil, kami tidak sampai pernah saling melukai lebih dari itu. Karena kami percaya, menang atas percekcokan tapi membuat luka itu sama sekali tidak berguna. Maka itu kami lebih saling mengalah. Walaupun aku yang lebih banyak mengalah. Hanya untuk melihatnya tersenyum saja aku rela menyimpan air mata.

Suatu malam aku menerima SMS dari George. Waktu itu jam dinding menunjukkan jam 9 malam. Entah kenapa aku enggan membuka SMS itu. Aku merasa tidak enak saja. Tapi bukankah ini SMS dari kekasih kita? Aku lalu mengambil HP ku dan kubuka SMSnya. Saat kubaca SMS itu aku tidak bisa berkata apa-apa. Kata-katanya tidak pernah kuduga akan seperti itu. Aku rasanya tidak percaya. Kucoba lihat nama pengirimnya. George. Kubaca lagi isinya. Sekali lagi. Sekali lagi dan tetap tidak berubah. Aku merasa mataku berkaca-kaca. George mengajakku putus malam itu juga.

Aku tidak membalas SMSnya. Aku langsung menelponnya. Tapi tidak diangkat. Aku menelpon lagi. Hasilnya sama. Aku mencoba lagi. Kali ini HP George dimatikan. Aku bingung, kenapa? Apa yang salah denganku? Aku akui beberapa hari yang lalu kami salah paham. Tapi bukankah semua sudah dijelaskan dan sama-sama mengerti? Lalu kenpa malam ini George justru mengajak berpisah. Pikiranku kacau. Hatiku galau.

Aku SMS George dan bertanya lagi. Tapi tidak dibalas juga. Aku SMS lagi dan SMS lagi. Tapi tetap tidak dibalas. Karena aku sangat kacau aku SMS dia bahwa aku akan kerumahnya jika dia masih tidak mau menerima SMS ku atau teleponku. Tidak berselang semenit. George membalas SMS ku. Aku membukanya dengan sangat deg-degan. Aku sebenarnya ingin langsung menghapusnya karena takut saat membacanya aku akan menanggis. Tapi aku sudah terlanjut memintanya, maka akupun memberanikan diri membacanya.

Isi SMS George adalah dia ingin berpisah denganku karena dia merasa dia bukan yang terbaik untukku. Dia merasa banyak permasalahan saat bersamaku. Dia juga mengatakan bahwa selama ini dia merasa hampa saat bersamaku. Sambil membacanya aku merasakan ada air hangat mengalir dipipiku. Ya, itu air mataku. Walaupun pilu aku tetap membacanya. Setiap kata yang berkata ingin berpisah denganku, semakin banyak butiran air mataku. George mengatakan semoga aku menemukan cinta yang baru.

Malam itu aku menanggis sejadi-jadinya. Aku masuk kekamarku. Kukunci pintu kamarku. Kubuka lagu untuk menutupi suara tanggisku. Aku tidak tahu kenapa George memperlakukan begitu. Yang aku tahu George tidak ingin denganku. Apakah salahku? Kalau memang harus meminta maaf atas kesalahannku, akan kulakukan walaupun aku sendiripun tidak tahu. Aku meminta George menjelaskan semuanya. Tapi memang pada dasarnya pria, dia hanya menyalahkan dirinya atas semuanya yang terjadi padaku. Aku tidak perlu dia menyalahkan dirinya. Aku perlu dia tahu bahwa aku sangat mencintainya.

Dalam kelelahan menanggis, aku tertidur. Dalam mimpiku aku bermimpi George bercanda denganku. Dalam mimpiku George mengecup pipiku. Dalam mimpiku George memelukku. Aku sangat bahagia. Tapi tiba-tiba aku terbangun. Aku terbangun dari mimpiku. Dan aku tersadar bahwa tadi hanyalah mimpi belaka. Kuraih samping kasurku. Kucoba cari HP ku. Aku membaca SMS dari George lagi. Ternyata yang sekarang bukan mimpi. Dan, aku menanggis lagi.

Aku berharap kenyataan sekarang justru adalah mimpi. Kucubit pipiku dengan sekuat mungkin berharap tidak sakit. Dan ternyata sangat sakit. Aku pura-pura tidak sakit dan kucubit pipiku lagi. Aku berkata dan tertawa sendiri. Ini hanya mimpi, mimpi buruk yang akan berlalu nanti. Aku mencoba bernyanyi. Tapi semakin aku menyanyi air mata makin menjadi. Aku tidaklah bermimpi. Semuanya ini memang telah terjadi. Dan, aku menanggis lagi. Kali ini sangat pedih.

Paginya aku terbangun dengan mata yang bengkak. Tak sedikitpun kurasakan gairah untuk bangun. Kuhabiskan waktuku diatas tempat tidur. Aku terbayang kembali kenangan-kenangan indah bersama George. Bagaimana dia membelai rambutku. Bagaimana dia menyentuh tanganku. Hangat pelukannya didekatku. Indahnya senyumnya padaku. Dan, aku mulai menanggis lagi. Bedanya, aku tidak menanggis air mata. Karena air mata itu telah kering tak tersisa.

Setelah beberapa jam kemudian, aku mencoba bangun. Aku mencuci mukaku. Aku merebahkan diriku di kamar mandi. Kucurahkan air shower kemukaku. Dingin, dingin sekali pagi itu. Tapi tidak sedingin hatiku. Disana aku menanggis lagi. Aku tidak tahu kenapa aku begitu mudah meneteskan air mata. Padahal aku orangnya tomboy. Dalam kamusku, air mata itu hanya bagi wanita lemah. Dan ini terbukti, aku juga wanita. Wanita yang tegar diluarnya, tapi rapuh didalamnya.

Sejak SMS malam itu. Aku mengambil keputusan untuk melupakannya. George juga tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa dia ingin berpisah. Tapi aku juga tidak mau menggemis padanya. Aku berpikir poisitif saja. Mungkin dia bukan untukku. Dan aku juga bukan yang terbaik baginya. Aku tidak akan menanggis lagi untukknya. Biarlah air mata ini kering karena cinta, tapi aku tidak ingin hatiku kering karena dia. Cinta yang telah pergi janganlah dikejar lagi, apalagi mereka yang pergi tanpa permisi dan meninggalkan luka hati.

Aku masih mengenggam HPku. Aku masih melihat pilihan ARE YOU SURE TO DELETE? Sambil menarik napas panjang aku menekan pilihan YES. Semua SMS darinya, kata-kata cinta darinya, kata-kata sumpah setia darinya, kata-kata yang membuatku tertawa, kuhapus semua tanpa tersisa. Kontak namanya pun kuhapus. Aku tidak ingin sedikitpun kenangan darinya, walapun aku berkata begitu, aku tidak bisa menipu hatiku, karena aku masih menanggis lagi. Dan untuk terakhir kalinya.

Beberapa bulan telah berlalu sejak kejadian itu. Aku pun telah melupakan George. Lebih tepat hampir melupakannya. Aku terjun kesegala aktivitasku kembali. Kusibukkan dengan segala kerjaku. Awalnya memang sangat sulit, tapi lama-kelamaan akhirnya aku bisa sedikit demi sedikit melupakannya. Untunglah aku mempunyai banyak sahabat-sahabat yang mendukungku. Kami semua masih keluar bersama. Bedanya kalau aku bersama-sama, George tidak ada. Dan saat George bersama mereka, maka aku mencari alasan supaya tidak bersama.

Setahun tidak terasa dan tiga tahun akhirnya George bisa kulupa. Tapi DIA memang yang punya rencana. Saat aku keluar bersama sahabat-sahabatku jalan-jalan di Mall. Secara tidak sengaja kulihat pria yang seperti George. Dan aku yakin itu George. Kulihat dari jauh wajahnya sudah lebih tua walaupun masih tersisa ketampannya yang dulu selalu kupuja. Tawa nya masih mempesona, candanya masih terasa. Bedanya dia kelihatan lebih tua dari usianya. Aku tidak tahu apa yang membuatnya terlihat seperti itu. Aku hanya berpikir mungkin dia terlalu banyak kerja atau lainnya. Aku masih melihatnya. Tapi kali ini beda, aku melihatnya karena aku ingin mengingatnya, bukan ingatan tentang cinta, tapi ingatan tentang bagaimana dia sekarang yang disana.

Aku sebenarnya ingin berjalan kearah sana dan sekedar menyapa apa kabarnya, tapi langkahku dihentikan oleh larian anak-anak kearah George sambil memanggil ayah. Ternyata George telah menikah, dan ini lebih cepat dari dugaanku. Aku melihat seorang wanita melewatiku dari belakangku sambil berkata kepada anak-anak itu agar jangan lari. Aku mencoba melihat wanita itu. Wanita yang cantik sekali. Rambutnya pirang keemasan. Matanya hitam berlian. Aku tahu bahwa wanita itu adalah istri George.

Wanita itu melihatku, dia tersenyum. Manis sekali. Akupun tersenyum padanya. Lalu wanita itu mengandeng George sambil berlalu. George tidak tahu bahwa aku melihatnya dari jauh. Tapi aku juga tidak ingin dia melihatku dengan alasan wanita itu. Aku tidak ingin dia terkenang kembali masa-masa indah bersamaku. Aku juga tidak tahu apakah dia masih ingat akan hal itu. Aku juga tidak pernah membuang kenanganku bersamanya. Karena justru dialah aku mengenal arti sesungguhnya cinta, bahwa cinta tidaklah harus memiliki, tapi merelakan dia pergi agar lebih berbahagia.

Sebelum George hilang dari pandanganku dari lalu lalang manusia, aku mengucapkan kata-kata yang sendiri tidak pernah aku pikir hendak kuucapkan. Aku merasa lega setelah mengucapkan kata itu. Aku merasa beban-beban yang selama ini dipundak hilang bersama awan diangkasa. Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi yang aku tahu aku berterimakasih pada-Nya bisa melihatnya dan berkata, “Selamat tinggal George, semoga berbahagia selamanya…”

“Jen…Jenny…”, teriak sahabatku membuyarkan lamunan kisah lamaku. Aku menoleh kebelakang. Cecilia memanggilku sambil berlari kecil. “Kamu kemana sih, tadi kami cari-cari setengah mati. Kami kira kau pergi entah kemana.”, kata Cecilia sedikit kesal. “Maaf Lia, tadi aku melihat teman lama, jadi aku ingin menyapanya, makanya aku tidak tahu kalau kalian sudah jalan duluan”, jawabku sambil memeluk Cecilia. “Kamu kenapa sih hari ini, kok tiba-tiba jadi manja kayak gini?”, Tanya Cecilia bingung. Aku hanya tersenyum padanya.

“Oya, tadi dia mencarimu kemana-mana, apakah kamu ada melihatnya?”, Tanya Cecilia tersenyum. “Dia?”, tanyanku sedikit bingung. Celilia menunjuk kebelakangku. Aku masih bingung. Lalu aku mencoba menoleh kebelakang juga. Karena ramainya orang disana, aku harus menfokuskan siapa “dia” yang dimaksud Cecilia. Lalu kulihat seorang pria berdiri didepanku. Tidak jauh. Dia sedang tersenyum padaku.

Pria ini tampan sekali. Tingginya 175cm. Matanya biru langit. Tubuhnya atletis. Pria ini seorang pria yang sederhana. Dia memakai kaos kerah putih. Celan pendek krem putih. Ditangannya dia mengenggam jaket warna merah muda. Dan yang kutahu itu jaketku yang paling kusayang dan kubangga. Dia tersenyum padaku. Manis sekali.  Dia lalu berjalan menghampiriku.

“Aku cari kamu kemana-mana, hampir copot jantungku. Jika terjadi apa-apa padamu bisa berkurang separuh usiaku”, kata pria ini padaku. Aku hanya tersenyum manis. Senyuman paling manis yang pernah kuberikan pada pria. Dan pria ini adalah satu-satunya. “Ayo, kita masuk dulu, nanti filmnya segera tayang”, kataku manja sambil meraih tangannya yang kekar dan berisi. Pria ini melihatku. Tatapannya sangatlah lembut dan hangat. Aku tersipu malu dibuatnya.

Dia lalu tiba-tiba mengecupku. Aku terkejut sekali. Disana ramai sekali, tapi dia malah mengecupku. Dan mukaku merah padam, banyak pasangan muda dan tua yang kebetulan melihat mukaku. Aku benar-benar malu. Tapi bukan malu dipermalukan. Tapi malu karena bahagia. Pria ini tidak pernah bosan membuatku terkejut dengan perhatiannya yang romantis. Hanya saja aku tipe tomboy, jadi aku kadang-kadang malah pura-pura marah. Tapi kali ini aku tidak bisa marah. Semua yang melihatku tersenyum, beberapa pria malah meniru tingkah pria ini sambil mencium pasagannnya.

Aku yang masih tersipu malu, kucubit kecil perutnya. Dia hanya tertawa kecil. Cecilia juga tersenyum padaku. Akupun menarik tangannya sambil berjalan cepat. Aku ingin cepat-cepat  berlalu dari sana, aku tidak mampu menghadapi senyuman manis lainnya padaku. Pria ini adalah pria yang sangat kucintai. Bahkan lebih dari diriku sendiri.

“Mommy…mommy…mengapa kakak itu mukanya merah dicium? Padahal aku tiap hari dicium tidak pernah merah seperti itu.”, Tanya seorang anak kecil disampingku sambil menunjuk kearahku. Ibu anak itu melihatku sambil tersenyum. Senyum yang hangat. Lalu ibu anak itu berkata pada anaknya, “Sayang, mommy tidak bisa menjelaskan padamu sekarang, tapi kamu akan mengerti saat tiba waktunya. Itu bukan ciuman biasa, tapi ungkapan hati yang penuh cinta”.

Setelah berkenalan sebentar kami pun saling berpamitan. Ibu muda yang sangat cantik itu mengajak putrinya pulang. Manis sekali malaikat kecil itu. Rambutya kecoklatan. Matanya biru seperti pria yang disampingku. Dia melambaikan tangan kecilnya padaku. Akupun melambaikan tanganku padanya. Dari jauh masih kudengan malaikat kecil itu bertanya pada ibunya, “Mommy..mommy…, apa yang bersinar dijari kakak itu?”. Ibunya melihat kearahku sebentar. Aku pun melihatnya, kuperlihatkan cincin manisku pada malaikat kecil itu dari jauh. Ibunya berlutut dihadapannya, lalu berkata, “Itu tanda Tuhan telah mempersatukan dua malaikat surga…”.

Ya, itu adalah cincin kisah kasih mulia. Cincin janji sumpah setia. Cincin bukti kami dipersatukan dihadapan-Nya. Kurangkul pria disampingku dengan erat dan mesra. Kutatap matanya. Dia membelai pipiku. Lalu dia mencium keningku. Kali ini aku tidak malu lagi. Aku sangat bersyukur dan sangat berterima kasih atas ujian yang diberikan Tuhan padaku sehingga bisa bertemu pria ini. Kuajak dia segera berlalu karena film yang ingin kami nonton sudah mau mulai. Sambil berjalan, ku intip kembali cincin dijari manisku. Cincin yang sangat sederhana, tapi terkandung semua cinta dari dia. Kubaca kembali kata-kata yang tertera dicincin itu, dan tertulis…

Saat kau lepaskan cincin ini, aku memilih mati – MIKE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s