Saat kau katakan…


When you say that you love me

Malam ini aku berjalan sendirian dimall. Bukan karena aku senang sendirian, tapi aku lagi mengenang kenangan indah. Saat kulihat para pasangan muda berjalan berduan, saling mengenggam tangan, saling bercanda sayang, rasanya air mata hendak melompat keluar. Aku bukanlah putus cinta, tapi aku baru saja lulus ujian apa yang disebut cinta sebenarnya.

Namaku Angela. Aku seorang pebisnis. Jika kalian bertanya tentang paras dan fisiku, hanya satu kata yang bisa kugambarkan. Aku sering digambarkan sebagai artis Korea. Namanya aku lupa siapa. Memang aku cukup bangga dengan anugerah yang  Tuhan berikan padaku. Tinggiku saja 168cm. Rambutku panjang sebahu, lurus dan pirang. Mataku agak kebiruan tidak seperti orang asia umumnya.

Dulu aku mengenal seorang pria. Saat itu usiaku baru 20 tahun. Dan dia 26 tahun. Namanya Mike. Dia juga seorang pebisnis. Dia memiliki toko sendiri yang menjual aksesoris yang cukup sukses. Tapi sebelum itu, dia hanyalah karyawan biasa disebuah perusahaan besar. Kami kenalan saat secara tidak langsung berpapasan dimall. Temanku adalah teman dari adiknya. Dari situlah kami saling berkenalan.

Sejujurnya, aku mempunyai syarat yang cukup tinggi untuk mendapatkan seorang pasangan. Seperti kaum hawa lainnya, aku mencari seorang pria yang pintar, tampan, tinggi, atletis dan kaya. Dan, aku rasa ini tidak salah. Aku kan ingin mendapatkan kehidupan yang layak juga. Aku juga tidak mengatakan bahwa yang kelas menengah dan kelas kebawah tidak boleh menjadi pasanganku, tapi syaratku ya itu. Dan Mike sama sekali bukan tipeku.

Mike orangnya tinggi, kira-kira 170cm. Orangnya ramah, malah sangat ramah. Dia juga pandai menyanyi dan suaranya cukup merdu, yang paling membuatku tidak bisa lepas dari pandangannya caranya membawakan cerita kepada anak-anak. Dia sangat humoris dan harus kuakui, aku berkali-kali terpesona oleh guyonannya. Tapi, ya kembali kesyaratku. Dia tidak masuk tipeku.

Hampir 7 bulan kami kenalan. Mike selalu mengirim pesan padaku. Biasanya aku paling cuek kalau mendapatkan sms yang bukan tipeku. Inbox ku setiap hari minimal ada 30an sms dan itu dari pria semua dengan nama berbeda. Jika ada yang masuk persyaratanku, aku biasa membalasnya sekali-kali saja. Kalau aku ada mood, aku keluar makan malam bersamanya. Tapi untuk Mike beda. SMS nya tidak pernah Tanya apa kabarku, tapi selalu puisi yang indah. Mungkin inilah yang membuatku penasaran dengannya. Disaat para pria berlomba-lomba mengejarku, dia malah adem-adem dekat dan jauh.

“Cin, menurutmu bagaimana Mike”, tanyaku kepada Cindy teman adiknya Mike. “Tumben kamu Tanya aku tentang pria yang bukan tipemu”, goda Cindy. “Eits..jangan salah dulu, aku Tanya begitu karena aku penasaran pria seperti apa dia, gak mungkin aku mau cowok kayak gitu, karyawan biasa lagi,” jawabku menjaga gensi. “Jangan memandang rendah seseorang lho, nanti kualat”, sahut Cindy dengan muka serius.

“Apa yang ingin kamu ketahui ama dia? Nanti aku cari tahu dech”, Kata Cindy. “Setahu aku sih dia belum punya pacar, dan tipenya wanita sederhana dan penyayang. Mungkin kamu bukan tipenya kali”, sambung Cindy sambil bercanda. Terus terang, aku tertantang oleh kata Cindy. Aku yang dinilai 10 oleh parah pria tampan masa tidak mampu mendapatkan pria yang kunilai 5?

“Ok, aku terima tantanganmu”, kataku semangat. “Tantangan apa?”, Tanya Cindy bingung. “Ya tantangan untuk menaklukan Mike, Jika aku bisa menaklukannya sebelum tahun baru, kamu tak perlu memberiku apa-apa, tapi jika aku kalah, aku akan mentraktir kamu apa aja”, kataku mantap dan percaya diri. “Gak perlu sampai gitu aah Gel, tadi kan aku Cuma bercanda”, jawab Cindy. Tapi karena aku sudah mengambil keputusan maka kupaksa Cindy menerimannya. Dan, Cindy meng-iyakannya.

Tahun baru tinggal 5 bulan lagi. Aku pun mulai melakukan strategi. Aku cari tahu semua tentang Mike. Dari hobinya, kerjanya, waktu luang kemana, teman-temannya, bahkan orang tuanya. Yang pasti harus kubuktikan bahwa tak ada satupun pria yang tidak bisa kutaklukan. Dan dari semua yang kudapatkan ternyata kata Cindy benar, yang dia cari adalah pacar yang sederhana yang bisa menerima dia apa adanya, dan ternyata lagi dulu dia pernah dikecewain oleh pacarnya yang meninggalkannya demi pria lain yang lebih kaya.

Saat mengetahui pasangan yang dicarinya aku sedikit gentar juga. Pantesan selama ini dia tidak mengejarku seperti pria lainya, ternyata ada kisah kelam dibalik semuanya. Mungkin dia trauma dan masih kecewa. Tapi ini makin membuatku semakin semangat. Masa ada pria yang tidak tertarik dengan wanita cantik sepertiku.  Malamnya kulancarkan serangan pertamaku.

“Hai Mike, apa kabar, aku ganggu kamu gak?”, tanyaku saat menelpon hp nya. “Tumben kamu telepon aku Gel, angin apa yang membawa pesonamu padaku? Sampai putri bulan memanggil belalang dari balik awan”, jawab Mike sambil berpuisi. Tahukah kalian, inilah yang selalu membuatku terpesona, tapi tetap bukan tipeku.

“Aku lagi suntuk, bolehkan aku ngoborl denganmu? Kalau ganggu aku tutup aja ya”, kataku sedikit bemanja. “Tidak ganggu kok, aku lagi santai juga”, jawab Mike terdengar senang. Dalam hati kupikir, ternyata dasarnya dia juga pria. “Aku tadi dikejar ama cowok nih, padahal aku gak suka ama dia, tapi tiap hari telepon aku, aku kan jadi bête. Ada cara gak biar dia ga usah kejar aku lagi”, tanyaku pura-pura kesal.

Mike hanya tertawa kecil. “Kok malah tertawa sih, nanti aku tambah kesal kamu harus tanggung jawab ya”, kataku pura-pura semakin kesal. “Jangan marah Gel, aku tadi hanya terkejut aja. Begitu banyak bunga didunia yang berharap dikagumi mata, tapi kini beribu mata mengagumimu kau malah menutup kuncupmu?”, goda Mike. Puisi itu membuatku terpesona, tapi tetap bukan tipeku.

“Iiihhh..sapa bilang aku bunga, aku hanyalah rumput liar”, jawabku mencoba berpuisi juga. Tapi memalukan ya, tidak nyambung. Mike tertawa lagi disana. “Jika kamu rumput liar, berarti kamu rumput liar yang membuat bulan dan bintang enggan bersinar terang. Mengapa? Karena mereka terpesona dengan keindahanmu, bahkan malaikat memberimu  nama seperti nama mereka, nama itu Angela”.

Malam itu aku dan Mike berbicara lebih dari 1 jam. Saat kututup telepon, aku berpikir pria ini pasti akan kutaklukan tidak lebih dari sebulan. Mengapa aku begitu yakin? Karena belum semenit ku tutup teleponku, dia men-sms aku. Isinya, “Aku bukanlah permata yang dipuja manusia, aku bahkan hanyalah batu biasa. Tapi kau melihatku sebagai permata, walaupun itu hanya satu jam saja. Terimakasih atas waktunya, selamat malam dan mimpi indah”.

Akhirnya strategi pertamaku membuahkan hasil. Aku tertidur dengan semangat dan puas. Puas dan yakin Mike akan kutaklukan. Puas Cindy akan mengakui kehebatanku. Puas karena semua pria akan bertekuk dihadapanku. Dan, ternyata aku memang menaklukannya. Tetapi bukan dengan kecantikkanku, Melainkan  dengan  ribuan air mataku.

“Yanx, jemput aku dong”, kataku manja saat menelepon Mike. Ya, aku dan Mike akhirnya jadian. Tapi aku kalah taruhan sama Cindy. Aku berjanji akan menaklukan Mike sebelum tahun baru, tapi ternyata kami jadian malah lewat 2 bulan setelah tahun baru. Jujur saja, aku dan Mike jadian bukan aku yang mengatakannya, tapi Mike yang memintaku. Bagaimanapun dia tetap pria, yang tidak mungkin menolak kecantikkan wanita. Saat aku ingin mentraktir Cindy karena kekalahanku, Cindy berkata, “Gak perlu gitu Gel, sekarang kamu belum mengerti, nanti kamu akan menyesali”. Aku bingung kok Cindy jadi gitu. Ya udah, dia tidak mau malah aku untung.

Mike datang menjemputku pakai motor lamanya. Karena gengsi aku memintanya parkir digarasi rumahku. Lalu keluar dengannya membawa mobil pribadiku. Karena dia tidak bisa bawa mobil, maka aku yang menjadi sopirnya. Tiap kali aku menjadi sopirnya, aku selalu berkeluh kesah. Walaupun mungkin hanya beberapa kali setahun dan itupun hanya pergi undangan saja. Aku tetap gengsi.

Tidak terasa aku menjalin hubungan dengan Mike lebih dari 2 tahun. Sekarang umurku 22 tahun. Dalam 2 tahun ini, aku memang merasa bahagia. Tapi aku juga merasa tidak leluasa. Masa seorang pria penghasilannya kurang dariku? Sudah begitu banyak teman-teman yang mengodaku, kenapa aku masih mempertahankannya. Aku hanya menjawab bahwa kasihan dia kalau aku tinggalkan. Bahkan aku pun berbohong dulu pernah aku mau meninggalkannya, tapi dia mengancam bunuh diri. Teman-temanku malah percaya. Untunglah.

Selama siang aku selalu mengurus bisnisku. Masih banyak pria yang mengejarku, beberapa sudah tahu aku pacaran. Tapi saat ditanya apakah aku sudah punya pacar aku selalu membuat mereka menebak. Sebenarnya aku malu mengakuinya, tapi aku masih ingin dipuja dan dikejar pria. Dan keinginan itu ternyata membuatku semakin gila.

Sejak pergi undangan bersama terakhir dengan Mike. Aku lebih sering menjaga jarak. Aku pura-pura sibuk dengan segala bisnisku. Saat Mike mengajakku pergi, aku beralasan tidak sempat. Dan Mike iyakan dan mengerti kondisiku. Tapi dia tidak tahu bahwa aku selalu bersama teman-temanku berpergian bersama. Akhirnya tidak terasa setahun telah berlalu. Kami tidak pernah keluar bersama lagi, dan Mike pun masih sabar menanti. Jujur aja, aku malah hampir melupakannya.

Akhirnya, hal yang paling tidak diinginkan terjadi. Mike mengajakku keluar bersama dan hanya bilang akan bicara hal yang penting. Aku awalnya menolak, tapi dia berjanji hanya minta satu jam saja. Aku dengan enggan dan terpaksa meng-iyakan. Dia datang menjemputku dengan motor bututnya.

“Mau makan apa Gel?”, Tanya Mike ramah. “Aku belum lapar. Oya, apa yang mau kamu bicarakan”, tanyaku to the point. “Begini…kamu kan selama ini sibuk terus. Aku tahu kamu memang sibuk. Jadi ini seandainya saja, jika kamu memang lagi perlu waktu buat sendiri ataupun ingin yang lebih baik, aku siap kok kita kembali menjadi sendiri-sendiri”, jawab Mike penuh ramah. Mendengar kata-katanya aku tahu dia ingin putus denganku. Dan malam itu aku yang memutuskannya. Aku tidak sudi diputusin pria. “Ya, aku tahu kamu pasti akan berkata seperti itu, kayaknya aku bukan yang terbaik bagimu. Mungkin sudah saatnya kamu memilih wanita lain”, jawabku tenang.

“Aku sampai hari ini belum pernah membawa wanita lain diatas motorku selain dirimu, mungkin ini yang terbaik baikmu”, jawab Mike pendek sambil tersenyum ramah. Kulihat matanya berkaca-kaca. “Iya, semoga kau menemukan yang terbaik bagimu juga”, jawabku pelan. Malam itu ku diantar pulang oleh Mike. Dalam perjalanan kami tidak berkata sepatah kata. Hanya desiran angin malam yang membawa ku pulang.

Sejak kami putus, Mike tidak pernah mencariku lagi. Dan aku juga tidak mencarinya. Dalam 4 bulan aku mendapatkan pacar baru. Namanya George. Seorang pebisnis ulung. Mobilnya kelas atas dan tampan. Banyak wanita yang mengejarnya. Tapi ternyata dia memilihku. Keseharianku dilalui canda dan tawa dengan George. Apapun yang kuinginkan selalu dia berikan. Saat pergi makan malam atau undangan, dia yang menyopiriku. Bukan sebaliknya seperti aku dan Mike dulu.

George selalu menemaniku kemana saja. Dalam hati aku berkata aku telah menemukan pasanganku kelak. Orang tuaku juga menyukai George.  Memang harus kuakui juga, orang tuaku juga menyukai Mike. Tapi bedanya George datang selalu membawa hadiah untuk keluargaku, sedangkan Mike tidak pernah. Yang dia lakukan hanya ngobrol dengan orang tuaku sambil bersenda gurau.

Teman-temanku semua mendukungku, bahkan beberapa iri denganku. Kok aku bisa dapatin cowok sekeren dan sekaya George. Mereka mengucapkan selamat padaku dan berkata bahwa aku pasti bahagia menikah dengan pria seperti itu. Ya, aku pun berpikiran sama. Coba kalian bayangkan, Pria yang tampan, kaya, perhatian, mempesona, wanita mana yang bisa menolaknya?

Tidak terasa 10 tahun juga berlalu. Kini aku telah berkeluarga, dan aku sangat bahagia. Aku dikaruniai putra putri yang sangat cantik dan tampan. Kuberi nama putriku Angelina dan putraku Michael. Ya, kalian bisa menebaknya mengapa kuberi nama putraku Michael, karena untuk mengingatkan cintaku kepada Mike.

Malam ini aku sendiri di mall. Bukan karena aku sendirian, tapi aku menunggu seseorang. Saat kulihat pasangan muda bergandengan tangan, aku sangat terharu dan terkenang  kenangan. Semua telah berlalu, dan semua mengajarkan kebahagiaan melalui pilu. Dari kejauhan kulihat George. Bersama 2 malaikat kecil. “Hai, apa kabar?”, sapaku pada George. “Baik-baik saja”, jawab George. George kelihatan lebih tua dari umurnya. Wajahnya yang tampan masih tersisa.  Tubuhnya yang atletis sekarang tinggal kenangan saja.

“Mana nyonya George?”, tanyaku. “Ooo..dia lagi belanja dengan ibunya. Tidak lama lagi kesini kok”, jawab George santai. “Yang ini pasti namanya Ruby kan?”, kataku sambil mencoba mengendong putrinya George. “Apa kabar sayang?”, kataku sambil mencium pipi si Ruby. Ruby adalah putri sulung George. Sedangkan yang paling kecil bernama Lily. Mereka adalah putra-putri George dan Virginia, istri George.

Lalu bagaimana kisahku bisa berpisah dengan George? Sebenarnya sangatlah biasa dan sederhana. Kami berpisah karena George sibuk dengan kesibukkannya sendiri, dan aku juga sibuk dengan kesibukkanku juga. Kami semakin hari semakin jarang bertemu. Dan puncaknya George jatuh hati pada wanita lain, yaitu Virginia yang menjadi istrinya sekarang. Sebelumnya kami memang sering bertengkar karena sama-sama tidak mau kalah. Perhatian yang dia berikan pada awal-awal pacaran beransur-ansur hilang. Sehingga kami putus setelah setahun pacaran.

“Aku permisi dulu yang Gel, Virginia telah menungguku di parkiran”, Kata George kepadaku. “Iya, hati-hati dijalan dan sampaikan salamku pada Virginia ya”, jawabku ramah. Ramah? Tentu kalian bertanya bukan? Iya, setelah menikah dengan suamiku, aku berubah 180 derajat. Aku telah mengerti apa yang disebut cinta sebenarnya. Aku disadarkan mengapa hanya bermodalkan tampan, kaya dan mewah tidak bisa bahagia. Dan aku belajar itu dengan air mata.

Dari kejauhan kulihat putra dan putriku berlari kearahku. Langkah-langkah kecil mereka membuatku sangat gemas. “Mommy..mommy…daddy belikan aku robot”, kata Michael padaku manja. “Wow..bagus sekali, kalau Angelina dapat apa?”, tanyaku mesra. “Daddy belikan aku Barbie”, jawab Angelica manja sekali. Tawa kedua malaikat kecilku sangat membuat ku bahagia. Mungkin wanita paling bahagia didunia.

Saat bermanja-manja dengan anak-anakku, HP ku berbunyi. Kulihat siapa yang menelepon. Ternyata Mike, mantanku. Dalam hati aku bertanya kenapa dia meneleponku? Sudah lama dia tidak pernah meneleponku. Aku mengangkat penuh deg-degan.

“Halo…”, kataku agak kaku. “Hai putri bulan apa kabar”, jawab Mike. Suaranya yang ramah dan kata-kata puisinya selalu saja mempesonaku. “Kabarku sangat baik”. Jawabku pelan. “Tumben kamu telepon aku disaat sekarang?”, tanyaku sedikit manja. “Ya, aku sudah lama tidak mendengar suaramu dari HP. Keberatankah bunga mawar jika kupu-kupu berpuisi sebentar?”, Tanya Mike. Aku tersenyum, pipiku merona merah. “Silakan kupu-kupu”, jawabku mesra.

Aku bukanlah matahari  yang selalu memberimu terang

Aku bukanlah bulan yang selalu bisa menemanimu berdendang

Aku hanyalah batu yang mengadu pada karang

Sambil memandang awan berharap hujan

Kau memungutku saat kau melewatiku

Padahal kau hampir jatuh karena tersandung diriku

Kukira kau akan melemparku

Tapi ternyata kau malah membawaku

Aku bersyukur ku pernah dijaga

Walaupun pernah sekali dilupa

Tapi tak pernah ku berpikir marah

Karena aku terlalu bahagia

Kini semula telah berlalu

Kau kembali kepada diriku

Walaupun kau tahu aku hanyalah batu

Kau memeluk dan mencium aku

Mungkin ini hanyalah puisi

Tapi semuanya dari hati

Sebelum berakhir kisahku ini

Ku ingin kau tahu kau selalu dihati

Kata orang semakin semakin kita cinta pada belahan jiwa, semakin kita mirip dengannya. Dan memang begitu kenyataannya. Aku sekarang lebih ramah, menghargai sesama, suka tertawa. Dan yang paling mengejutkan adalah bahwa aku juga jadi pandai berpuisi cinta.

Setelah mendengar puisi Mike yang begitu mempesona, akupun tidak mau kalah. Dulu aku hanya sebagai penerima, sekarang saatnya kubalas dengan puisi asmara. Puisi yang kubuat hanya untuk dia. Puisi dan pantun yang kuhaturkan dari jiwa. Sambil tersenyum aku berkata,

Aku dulu putri raja, putri yang angkuh dan penuh pesona

Aku mencari pangeran untuk  pajangan semata,

Sehingga semua mata melihat dan semua memuja

Tapi aku malah jatuh cinta pada rakyat jelata

Awalnya aku sengaja, lalu aku melepaskannya

Dan percayalah, aku sangat menyesalinya

Kini dia kembali membawakanku pelangi

Setelah aku memohon ribuan kali

Bahkan ku rela berjalan diatas duri

Asal mendengarmu berpantun puisi

Kini aku wanita biasa, yang tinggal disebuah istana

Duduk disampingku raja yang bertahta

Aku menanggis penuh air mata

Bukan karena duka tapi karena bahagia

Jika kini kau beri aku permata, kan ku buang mereka ke lautan

Jika kini kau beri aku berlian, kan ku buang semua ke daratan

Karena telah kutemukan batu jalanan

Yang bernilai lebih miliyaran berlian

Yang bermakna tertinggi dimata Tuhan

Dan itu kamu yang berdiri didepan

Ya, Mike adalah mantanku. Lebih tepat mantan pacarku. Kini dia telah menjadi suamiku lebih dari bertahun-tahun. Sejak berpisah dengan George aku mencari pelarian ke Mike. Aku curhat semua padanya. Walaupun aku telah menyakitinya, dia tetap menerimaku apa adanya. Dan paling membuat tersentuh, ternyata Mike sudah tahu bahwa aku bersamanya pacaran karena taruhan. Saat kutanya kenapa dia masih mau menerimaku, dia berkata ini padaku, “kau hanyalah malaikat yang kelebihan beberapa sayap saja, saat kau menerima bahwa kau cukup dua sayap, maka kau telah menjadi sempurna”.

Kisahku untuk menjadikan Mike suamiku hanyalah wanita yang tahu bagaimana itu. Dan semua itu kulakukan dengan bercucuran air mata. Janganlah mengira Mike menerimaku hanya aku berubah dan menanggis air mata, tapi penuh derita aku mengakui semuanya. Dihadapannya aku mengungkapkan semua gundah, dihadapannya aku meraung-raung seperti waktu kecil kehilangan boneka. Tapi tidak sepatah kata dia ucapkan padaku, hanya sebuah pelukan hangat penuh cinta.

Saat itu lah aku mengerti apa arti yang manusia sebut cinta, saat itulah aku mengerti kenapa saat pacaran jangan mencari banyaknya harta, jangan mencari indahnya rupa, juga jangan mencari singkatnya bahagia, tapi carilah apa warna dari jiwanya. Jika kita menemukan yang indah jiwanya ditambah berkelimpahan harta dunia, maka anggaplah itu titipan-Nya. Tapi tanyakanlah seberapa banyak yang bisa kita dapatkan yang seperti kisah Cinderella. Mungkin beberapa saja, bahkan mungin tidak ada.

Kita tidak bisa hidup hanya bermodalkan dengan cinta, kita perlu bekerja, kita perlu makan dan semua perlu uang, tapi ingatlah bahkan hanya bermodalkan cinta saja, kita mampu menahan air mata. Bahkan hanya dengan bermodalkan cinta seekor merpati rela menahan lapar demi memberi makan pasangannya. Mereka sama sekali tidak mengerti harta, tapi mereka sangat mengerti apa itu cinta.

Kini aku telah bahagia. Akupun tidak tahu sampai kapan ini akan menjadi cerita. Tapi kisahku ini telah kulalui dengan air mata. Ternyata cinta itu mengajarkan bahagia dengan cara menderita. Pria yang dulu kurendahkan, sekarang menjadi malaikat di kerajaanku. Pria yang kuanggap sebelah mata, malah memperlihatkan bahwa aku selama ini buta. Pria yang bukan tipeku, malah kukejar sampai kubuang harga diriku.

Mike berjalan pelan kearahku. Anak-anak kami sedang bermain di tempat permainan. Saat didepanku dia berkata 3 kata padaku. Kata-kata itu adalah rahasia surga. Kata-kata yang mempersatukan beribu-ribu umat manusia. Kata-kata yang malah gratis diberikan Tuhan kepada kita. Dan kata-kata itu dikatakannya padaku. Hanya untukku. Dan kata itu adalah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s