Inikah yang kalian cari? (cerita kedua)


We never learn until we lose it

Duaarr!!

Bunyi letusan kembang api diangkasa. Aku duduk didekat taman kota yang dipenuhi bunga-bunga nan indah. Terang lampu taman membuat suasana menjadi sangat istimewa. Ya, ini malam yang berharga bagiku. Malam yang ditemani oleh suamiku yang telah lama hilang. Dia mengenggam tanganku dengan erat. Sangat erat dan hangat. Kulihat wajahnya yang bercahaya oleh kilauan kembang api dilangit yang saling bersahutan. Bahkan kelap-kelip bintang pun kalah oleh indahnya ciptaan manusia itu.

Suamiku melihat kearahku. Dia tersenyum manis padaku. Mata birunya sangat indah sekali. Pesona wajahnya terpancar dengan wah diusia yang sudah tidak muda. Kerut-kerut wajahnya terlihat jelas. Rambutnya semua putih seperti segumpalan salju dilembah gunung. Dia tersenyum lagi padaku. Senyum yang sangat-sangat manis sekali. Senyum yang telah lama hilang dan akhirnya kembali. Senyum yang telah kutunggu puluhan tahun dengan penuh luka dan penyesalan. Dan, malam itu akhirnya aku bisa melihatnya lagi.

Malam itu adalah malam tahun baru menjelang tahun 2011. Aku dan suamiku telah mempersiapkan hari special ini sejak berbulan-bulan. Kami hanya duduk berdua. Anak-anak kami semuanya telah dewasa dan tinggal terpisah. Dan memang malam itu kami sengaja mengatur agar bisa berdua. Kam ingin menghabiskan malam tahun lama, dan memulai tahun yang baru berdua juga. Walaupun dengan waktu yang singkat.

Awalnya anak-anak dan cucu kami sangat keberatan, karena mereka sengaja pulang memang ingin menghabiskan waktu bersama kami. Tapi, aku dan suamiku yang telah merencanakan semua itu dari awal tetap bertahan dengan rencana semula. Sebenarnya kamipun sangat ingin menghabiskan waktu bersama, tapi aku dan suamiku mempunyai rahasia yang tidak bisa diungkapkan pada mereka.

Anak-anak kami akhirnya dengan sangat terpaksa mengijinkan kami merayakan tahun baru berdua saja. Dan sebagai ucapan terimakasih atas pengertian mereka, aku meminta mereka menjemput kami ditaman kota setelah kembang api selesai memamerkan dirinya diangkasa. Tapi sebelum itu kularang mereka datang, karena kami ingin hanya berdua. Benar-benar berdua.

Suamiku melihat kearahku. Sekali lagi dia tersenyum. Sangat manis sekali. Lalu dia mengecup keningku. Kecupan yang telah puluhan tahun tidak kudapat. Ungkapan sayang yang puluhan tahun kuabaikan. Akhirnya aku mendapatkannya kembali. Akhirnya aku mengerti arti kecupan didahi. Penyesalan selama puluhan tahun akhirnya terobati hanya satu kecupan dari orang tercinta ini. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kupeluk suamiku dengan pelukan paling hangat yang pernah kulakukan. Aku menanggis dalam pelukkannya.

Melihatku menanggis dia hanya membelai rambutku. Dia menyeka air mataku dengan tangannya yang sudah renta. Kuelus jemarinya dan terasa kasar. Aku ingat sekali tangan inilah yang selalu memijit tangan dan kakiku disaat lelah. Tangan inilah yang selalu memasak bubur untukku dikala sakit tidak bisa bergerak. Tangan inilah yang memapahku disaat aku capek bekerja.

“Cindy sayang…”, katanya pelan padaku. Aku mengangkat kepalaku. Kulihat lagi senyum terpancar indah diwajahnya. Aku berani bersumpah bahwa tidak ada lagi senyum seindah pria yang disampingku ini. Dia menarik tubuhku lebih erat kepelukannya. “Apakah kamu kedinginan?”, tanyanya lembut. Bagaimana mungkin aku bisa kedinginan jika aku sedang dipeluk hangat oleh yang paling kucintai ini? Memang kuakui udaranya cukup dingin walaupun aku sudah memakai baju cukup tebal. Tapi semua itu tidak terasa disisinya. Satu kecupan hangat sudah melupakanku akan dingin malam itu.

“Tidak sayang, aku tidak kedinginan. Walaupun sekarang badai pun aku tetap tidak akan terasa dingin. Karena kau matahariku.”, jawabku mesra padanya. Suamiku tertawa kecil dan melihatku lagi. “Jika aku matahari kamu sudah meleleh dari tadi”, katanya tersenyum manis sekali. “Iya nih, aku sudah meleleh oleh senyum manismu. Kumohon senyum lagi padaku sayang”, balasku tersenyum manis padanya. “Akan kuberi senyuman sampai sebanyak kembang api dan bintang diangkasa malam ini”, jawabnya sambil mengecup keningku lagi.

Malam itu adalah malam yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidupku. Malam itu adalah hadiah yang paling indah yang pernah kuterima dari seumur hidupku. Aku yang dulu waktu muda hanya dengan menyentikkan jari saja bisa kudapat dan dengan harga yang tidak terbatas tidak pernah berpikir akan mendapatkan hadiah seindah malam ini. Dan yang lebih indah, dari seorang pria yang begitu setia menemaniku sampai dihari tua.

Bulan dan bintang-bintang adalah saksi kami disana. Kembang api adalah para penyoraknya. Taman kota adalah panggung cinta kami berdua. Malam itu kami menghabiskan malam penuh sukacita dan air mata. Bukan air mata karena duka, tapi air mata yang tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata. Jika seandainya datang malaikat yang menawarkanku untuk kembali muda menjadi cantik mempesona dan dikejar-kejar pria seperti dulu, maka akan kutolak dengan mentah-mentah. Justru akulah yang akan mengejar pria disampingku ini jika bisa mengulang waktu muda.

DIA yang bertahta disurga, ternyata mengajariku dengan penuh cinta. Hanya bedanya aku menyadarinya setelah sekian lama mengabaikannya. Aku sangat menyesal. Sangat sangat menyesal. Tapi ternyata DIA tidak pernah mengabaikan doaku selama puluhan tahun pada-Nya. Aku tidak perlu menanggis lagi tiap malam. Aku tidak perlu lagi menyalahkan diri tiap pagi. Terimakasih yang Allah, Kau mengijinkanku bersamanya kembali.

Kembang api masih bermain-main diangkasa. Bulan dan bintang pun menikmati pesonanya. Suamiku memeluk dengan erat. Aku juga sangat terhanyut oleh rasa cintanya yang begitu dalam. Entah sudah berapa kali dia mengecup kening dan pipiku. Dan tahukah kalian, satu kecupan dikeningku mungkin perlu berjuta-juta kembang api indah diangkasa menyamainya. Aku sangat mencintainya. Mungkin kalian ingin tahu kenapa aku begitu mencintainya sampai aku pun rela dijatuhkan keneraka asal dia bisa kesurga. Aku mengatakan ini bukan untuk dipuja, tapi aku benar-benar akan melakukannya.

Akan sangat indah jika kalian bisa menemukan pria seperti suamiku. Tapi aku yakin kalian pasti bisa menemukannya juga. Dan dengan ceritaku ini aku ingin berbagi pada kalian. Apa yang kusesali janganlah kau ulangi lagi. Apa yang kutanggisi janganlah kau tanggisi kembali. Aku mengenal pria ini lebih dari 50 tahun yang lalu. Aku yang membuangnya lebih puluhan tahun yang lalu. Tapi kini dia kembali kepadaku. Dan ini akan kuceritakan dengan bangga. Bagaimana pertemuanku dengannya disebuah café ternama dikota kami berdua…

“MIKEEEE…”.

Teriakku keras memanggil karyawanku dari sudut meja kantorku. Mike adalah bawahanku yang paling penurut. Dia adalah tipe pria yang paling tidak mau mencari masalah yang pernah kukenal. apapun diiyakannya. Memang kadang menyenangkan mendapatkan bawahan seperti itu. Kita mau marah, kita mau bentak, tak sedikitpun dia bergeming. Bahkan untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kerja pun dilakukannya atas perintah kita.

“Kemana aja sih, dipanggil tidak nyahut. Buatkan aku kopi”, kataku sambil membentak Mike. Sebenarnya aku hanya mengodanya. Aku hari ini merasa sangat senang karena akan bertemu dengan pacarku Andy yang akan pulang dari Amerika. Aku dan Andy kenalnya disebuah pesta mewah rekan bisnis ayahku. Dia adalah putra tuan George. Penampilanya menarik. Tinggi dan berisi. Matanya biru laut. Rambutnya pirang keemasan. Pokoknya tipe cowok idaman bagi wanita deh khususnya mereka yang mengicar fisik semata.

Aku dikenalkan ayahku dengan Andy. Tidak perlu lama kami saling tertarik dan jatuh cinta. Caranya memperlakukan wanita sungguh luar biasa. Kata-katanya yang mempesona bagaikan pujangga, sampai tingkah lakunya yang mem-ratukan aku disingasananya. Segala kebutuhan dan keinginan duniawi dipenuhinya tanpa kekurangan. Benar-benar aku salut dengan pria tampan ini. Sudah rupawan. Mapan. Romantis lagi.

“Mikeeee…, kopinya udah siap belum?”, tanyaku dengan suara kesal. “Udah Cindy, aku segera kesana”, jawab Mike dari seberang sana. Cindy? bukannya bu Cindy? Ya, kupaksa Mike memanggilku begitu. Awalnya hanya iseng-iseng saja karena dia lebih tua dariku. Mungkin sekitar 8-10 tahun perbedaan umur kami. Aku tidak tahu karena aku tidak menanyakannya dan juga tidak peduli. Hanya Mike yang kuijinkan memanggilku dengan nama Cindy saja.

Mike. Dia pria yang menurutku cukup tampan. Hidungnya mancung. Rambutnya hitam dan keubanan. Tapi justru uban itu membuatnya kelihatan berbeda. Bukan tua maksudku. Tapi kedewasaannya. Matanya coklat kehitaman. Tinggi dan atletis juga. Sebenarnya beberapa karyawatiku cukup menyukainya. Mike orangnya humoris, maka tidaklah heran semua suka padanya. Jam istirahat selalu menjadi ajang tawa dikantor. Mike pandai mencairkan suasana kantor yang kaku dengan cerita-cerita lucunya.

Harus kuakui, salah satu alasan aku menjadikan Mike bawahan kepercayaanku adalah karena aku tidak ingin wanita-wanita lain mendekatinya. Aku cemburu? Simpan pikiranmu yang seperti itu. Aku sengaja melakukan ini karena aku memiliki apa yang kuinginkan. Dan sejujurnya, kuanggap Mike sebagai bawahan atau sekedar pembantu saja. Tidak lebih.

“Ini kopinya Cindy, pelan-pelan minumnya, masih panas sedikit”, kata Mike sambil meletakkan kopinya diatas mejaku. Aku hanya memandang sinis padanya. Mengapa pria seperti dia bisa sangat tenang dan tersenyum manis saat aku memperlakukannya dengan keras? Ya sudahlah, buat apa kupusingkan. Lagian dia juga bukan siapa-siapa bagiku. Dan itulah yang menjadi tamparan hidupku.

Setelah jam pulang, kubereskan semua pekerjaanku. Aku segera berlari keluar untuk menemui Andy. Dia sekarang menungguku disebuat café ternama dipusat kota. Aku meminta Mike agar segera membereskan semua yang berantakan dimejaku. Mike hanya mengangguk sambil tersenyum. AKu pun langsung berlalu. Ku bawa mobil sportku ketempat Andy.

Sesampainya disana Andy sudah menungguku. Dia memesan makanan kesukaannya sambil membaca koran. Aku menyapanya. Dia melihatku sebentar kemudian mempersilakan aku duduk. Lalu kami pun ngobrol. Tapi sayang, malam itu bukan malam yang indah. Malam itu aku dan Andy berpisah.

“Kenapa?”, tanyaku dengan suara yang cukup lengking. Tamu-tamu dicafe itu semua memandangku. Aku tidak peduli lagi dengan semua itu, yang aku ingin tahu mengapa Andy ingin putus denganku. “Bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja?”, tanyaku kembali pada Andy yang masih terdiam memandangiku. Rasanya lama sekali waktu berjalan sambil menunggu Andy menjelaskan.

“Cindy, aku sebenarnya sayang sama kamu, tapi cobalah mengerti posisiku juga. Kita berhubungan karena adanya hubungan bisnis semata. Aku akui aku jatuh cinta padamu, tapi aku juga merasa hampa disebagian hatiku. Aku berusaha mengisi sebagian yang kosong itu dengan dirimu, tapi tetap tidak bisa. Dan sepertinya aku harus mengecewakanmu.”, jawab Andy pelan.

Belum sempat aku ingin mendebatnya, Andy berkata lagi padaku, “Kau wanita yang sangat cantik, menarik. Aku yakin akan banyak pria yang akan mengejarmu. Hanya saja pria itu bukan aku. Aku telah menemukan seseorang yang cocok denganku. Dan dia sekarang berada di Amerika. Kepulanganku sekarang hanya ingin menyampaikan ini padaku. Jangan mengira ini mudah bagiku”.

Malam itu aku duduk sendirian dicafe tersebut. Setelah Andy menyampaikan alasan kepulangannya, dia langsung berlalu bersama angin malam yang menusuk kulitku. Aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada air mata. Aku hanya merasa kecewa mengapa seorang pria yang awalnya begitu kubangga dengan mudah mengatakan hal itu didepan wanita. Apakah semua pria seperti itu? habis manis sepah dibuang. Ya, jawabku dalam hati.

Hampir sejam aku duduk disana. Jam dinding menunjukkan hampir jam 11 malam. Para tamu dicafe tersebut juga sudah pada berbubaran. Hanya tinggal beberapa orang yang masih duduk lesu. Aku tahu hari mereka juga buruk sepertiku. Aku mengambil mantelku lalu berlalu keluar. Saat kubuka pintu café, udara dingin semakin terasa. Sangat cocok dengan perasaanku. Membeku.

Kulangkahkan kakiku berjalan pulang. Mobil sportku kutinggalkan begitu saja. Aku sudah tidak peduli lagi dengan mobil itu. Aku hanya berjalan saja. Setiap sudut  kota terlihat masih ramai manusia. Ada yang tertawa, ada yang menanggis, ada yang muda, ada yang tua, semuanya berbaur jadi satu. Dalam lamunanku aku melihat seorang pria. Pria yang sangat kukenal perawakannya.

Ya, itu Mike. Aku heran dan bertanya pada diri sendiri, apa yang dilakukannya pada jam seperti ini? kucoba panggil dia, tapi tidak kedengaran oleh hiruk pikuk suara mobil dan bus kota. Aku ingin mengikutinya, tapi gengsiku mengalahkan semuanya. Memangnya aku wanita apa mengikuti seorang pria yang menjadi bawahanku semata. Aku urungkan niat itu. Aku berpikir besok aku bisa menanyakannya.

“Tit..tit…tit…”, bunyi alarmku membangunkan. Semalam dengan berat aku membawa mobilku pulang. Ternyata wanita seperti ku hanya berjalan beberapa meter saja sudah lelah. Aku memaksakan diriku bangun. Aku merasa sama sekali tidak bersemangat ingin berangkat kekantorku. Bukan karena masalah cintaku dengan Andy saja, tapi karena aku yang masih pusing karena menenggak minuman beralkohol untuk menghibur rasa.

Tapi, aku terpaksa pergi juga. Gara-gara ingin cepat-cepat menemui Andy kemarin, aku sampai menelantarkan pekerjaanku. Dengan mata yang berat, pikiran yang berat dan hati yang berat, aku membawa mobilku langsung kekantorku. Hari ini moodku sangatlah tidak baik. Semua karyawanku yang telah mengenal aku, tidak berani menyapaku. Aku juga tidak peduli. Biasa saat puncaknya Mike lah yang selalu jadi incaranku.

Saat kumasuki kantorku aku terkejut sekali. Ruangannya bersih. Semua tertata rapi. Seingatku saat aku meninggalkannya tidaklah serapi ini. Aku memang mengaji seorang pembantu khusus untuk membersihkan ruanganku, tapi tidak mungkin dia berani menyentuh dokumen dan semua yang ada dimeja kerjaku. Aku coba menghampiri meja kerjaku untuk memastikan kerjaanku sampai dimana. Aku lebih terkejut sekali.

Kulihat kerjaanku yang kemarin tertunda telah selesai semua. Padahal bagiku itu perlu beberapa hari lamanya. Memang tidaklah sulit, hanya meng-input data dan memastikan kecocokan data supplier saja. Tapi ini dalam satu malam telah selesai? apa aku masih bermimpi tanyaku? kuliha samping komputerku ada secangkir kopi hangat dan satu kartu ucapan. Ya, dari Mike.

Pagi itu Mike kumarah dengan luar biasa. Aku mencurahkan semua perasaan kesalku pada Mike. Dan kuakui semuanya berhubungan dengan Andy. Kuanggap Mike adalah Andy.  Aku marah dan kubentak sepuas-puasnya. Mengapa aku bisa semarah itu? karena Mike memberikan kartu ucapan selamat padaku karena aku bisa bertemu dengan pacarku Andy. Padahal dia tidak tahu, aku justru sakit hati. Aku marah karena memang ingin marah. Aku marah karena Mike mengingatkanku cerita kemarin yang ingin kulupa. Ya, aku tahu Mike tidaklah salah, tapi aku juga tidak mau mengalah.

“Mulai hari ini kamu tidak perlu berkerja lagi padaku. Ambil semua barangmu dan pergi. Gaji dan pesangonmu akan kuminta bagian keuangan menurusnya. Karena kamu sudah cukup lama diperusahaan ini, jangan bilang aku tidak berbaik hati. Bonus dan komisimu akan kuhitung setahun penuh. Sekarang bawa kepalamu dan senyum menjijikan itu dari hadapanku”. Terdengar keterlaluan? itulah aku yang dulu.

Mendengar hal itu Mike sama sekali tidak terkejut. Dia hanya meng-iyakan. Lalu dimengambil kartu ucapannya yang diberikan padaku dimeja. Dia merapikan kembali kertas-kertas yang jatuh karena amarahku yang suka membanting barang. Dia membersihkan pot-pot yang pecah karena lemaparanku. Aku tidak peduli dengan segala tingkahnya. Bagiku itu terlihat sangat menjijikan. Jika dia berharap dengan cara begini bisa meredam amarahku, maka dia perlu mencoba lebih keras lagi.

“Terimakasih atas segala kepercayaan bu Cindy kepadaku. Aku sungguh sangat beruntung bisa menjadi bawahan langsung seorang wanita yang cerdas. Aku juga sangat senang bisa menjadi pria yang dipercaya untuk mendengarkan beban dihati. Akhir kata, aku yang akan mengundurkan diri bu Cindy. Dengan begitu bu Cindy tidak perlu mengeluarkan biaya yang tidak berguna bagi perusahaan”.

“Jika ada yang bertanya padaku kenapa aku mengundurkan diri, maka aku akan menjawab bahwa aku telah melakukan kesalahan besar yang membuat rugi perusahaan. Aku tidak akan bercerita yang tidak perlu. Karena aku tahu itu memang tidak perlu diceritakan. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi pendengar bu Cindy lagi. Maafkan aku karena tidak bisa menyiapkan kopi lagi.”, jawab Mike penuh sopan sambil berlalu.

Sudah 6 bulan lamanya Mike telah keluar dari kantorku. Aku sampai hari ini juga belum menemukan yang baru. Memang beberapa ada yang sempat jadi bawahanku. Tapi semuanya tidak bertahan lebih dari seminggu. Sikapku makin jadi. Aku menjadi lebih emosional. Aku perlu seseorang untuk mendengar keluh kesahku. Aku ingin memarahi dan memaki seseorang. Tapi siapa? Mike? dia tidak ada lagi disini. Dan, aku kangen akan kesabarannya.

Sekarang setahun telah berlalu. Aku sudah melupakan Mike. Apalagi Andy. Aku menemukan seorang bawahan yang hampir seperti Mike. Bedanya dia seorang wanita. Dan dia muda dariku 5 tahun. Entah kenapa pada wanita ini aku tidak bisa membentak sesukaku. Mungkin karena dia seperti Mike? ataukah aku yang telah mulai berubah.

Karena perusahaanku yang berkembang sangat pesat. Aku tidak memikirkan yang namanya pria lagi. Aku hanya fokus pada pekerjaanku. Dan hasilnya, aku jatuh sakit dan tergeletak lemas di salah satu kamar VIP dirumah sakit. Orang tuaku adalah pengusaha sukses yang lintas negara. Ibuku juga ikut dengan ayahku sehingga tidak punya waktu buatku. Bahkan disaat aku terbaring lemas begini orang tuaku pun hanya bisa menjenguk barang sehari.

Yang paling setia untukku hanyalah bibiku. Dia sudah tua. Dan pada wanita inilah aku tidak pernah bisa marah. Sejak nenekku meninggal dunia pada waktu aku masih kecil, bibi ku telah menemaniku hampir 20 tahun lamanya. Aku selalu bermanja padanya. Aku selalu mencurahkan semua perasaanku padanya. Tapi semenjak aku mengenal dunia kerja dan mengejar harta. Aku jarang sekali pulang kerumah. Hanya bibiku yang disana. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku diapartemen mewahku bersama teman-temanku.

Malam ini, bibiku menemaniku sampai pagi. Karena sakitku yang cukup parah, aku dilarang dokter beraktivitas penuh selama sebulan penuh lamanya. Awalnya aku tidak bisa, tapi ayahku dan ibuku melarangnya dan berkata bahwa mereka telah meminta adikku satu-satunya yang di Eropa untuk meng-handle perusahaanku. Yang kuperlulkan hanyalah fokus untuk sembuh. Tahukah kenapa aku  mau? bukan karena orang tuaku, tapi karena bibiku juga meminta begitu.

Selama seminggu pertama bibiku menemaniku. Hanya malam saja dia pulang kerumah untuk beres-beres sebentar. Siangnya dia akan kembali menjengukku. Ternyata bersama bibiku aku mulai sedikit berubah. Dia sering menceritakan tentang cerita-cerita indah yang bagus moralnya. Aku selalu dinasehatinya tanpa memojokkan. Aku tidak pernah menyangka seorang wanita yang bahkan tidak berpendidikan bisa mengucapkan kata-kata peluruh sukma. Aku sangat kagum padanya. Kagum? jangan salah, aku kan sudah bilang aku mulai sedikit berubah.

Pagi ini kuterbangun dengan suasana yang ceria. Aku merasa sudah agak enakan. Tapi tubuh ini masih lemah. Kulihat dimejaku ada bubur hangat. Bubur ayam kesukaanku. Aku begitu terharu. Sudah lama sekali aku tidak makan bubur itu. Seingatku aku memakannya waktu aku mulai mendirikan perusahaan. Dan waktu itu aku sakit juga. Lalu entah siapa membuatkanku bubur ini. Yang kuingat hanya bibi yang mengantarkannya.

Bubur ayam itu kuhabiskan tanpa sisa. Sungguh enak sekali. Aku begitu senang tenyata bisa mengenang kenangan tentang bubur ayam ini. Aku berharap setiap hari bisa memakannya. Siang itu aku bertanya pada bibiku, apakah bubur ayam itu dia yang membuatnya. Bibiku tidak menjawab, tapi hanya tersenyum manis saja. Aku mengenal bibiku dari kecil. Itulah caranya dia meng-iyakan jawaban. Aku katakan padanya bahwa aku sangat senang jika bisa makan bubur ini setiap harinya, dan itupun diiyakan dengan senyuman bibiku yang manis sekali.

Tidak terasa hampir sebulan aku berada dirumah sakit. Anehnya, aku justru merasa betah. Aku tidak pernah menyangka aku akan bisa melupakan kerjaanku selama 2 minggu lamanya. Oya, setiap malam aku sering bermimpi sama. Mungkin inilah yang membuatku terasa betah. Mungkin aku takut kalau aku keluar dari kamar RS ini aku akan kehilangan mimpi itu. Aku bermimpi setiap malam dikunjungi seorang malaikat. Dia selalu membisikkanku kata-kata yang indah. Pernah aku mencoba untuk membelainya, tapi aku tidak bisa.

Mimpi itu terus menyemangatiku sampai akhirnya aku pulih total dari sakitku. Pas satu bulan penuh. Aku sedikit enggan saat dokter menghampiriku. Aku sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan dokter padaku. Paling-paling memintaku agar menjaga kesehatanku, dan, pasti memintaku agar segera pulang beristirahat. Sejujurnya aku masih mau disitu dan bermimpi ditemui malaikatku.

Akhirnya aku pulang. Tapi tidak ke apartemenku. Aku pulang kerumahku. Rumah itu begitu rapi dan bersih. Rumah itulah rumah lama penuh kenangan masa kecilku. Foto-foto lama masih tergantung disitu. Keluarga besarku. Aku mencoba menelusuri lorong-lorong rumah yang waktu kecil lari bersama. Aku begitu kangen akan suasana waktu itu. Aku heran kenapa aku bisa melupakan perasaan bahagia ini?

Aku menaiki lonteng rumahku. Ku lihat kearah kamar kecil dibagian kiri. Masih terlihat jelas tulisan ditengah pintu. INI KAMAR CINDY IMUT. Aku tertawa kecil membacanya. Ternyata saat masih kecilpun aku sudah centil. Tiba-tiba kurasakan ada tetean air hangat meraba diwajahku. Aku mecoba menyekanya. Ternyata itu air mata. Aku tidak tahu kenapa aku menanggis, tapi yang pasti bukan karena luka. Aku bahagia.

Atas saran dari bibiku, Aku mengambil cuti selama setahun. Aku menyerahkan semua bisnisku kepada adikku. Dan tanpa kuduga adikku malah sangat mendukungku. “Kakak harus tinggal dirumah selama setahun lamanya. Kakak harus kembali menjadi kakak yang dulu selalu kupuja. Jangan pusingkan hal selain kakak dan rumah. Disini aku bisa menanganinya dengan baik”, kata adikku padamu sambil memelukku.

Itu adalah pelukan paling hangat yang pernah kudapat. Aku telah lupa bagaimana rasanya, tapi yang sekarang tidak akan penah kulupa. Kulihat kantorku lebih ceria suasananya sejak terakhir aku melihatnya. Karyawan-I kantorku kelihatan lebih bahagia. Aku tidak tahu kenapa dan anehnya aku malah ikut bahagia. Seandainya aku yang dulu, sebulan yang lalu aku sudah pasti marah-marah. Tapi kenapa hanya dalam sebulan aku menjadi lebih lemah? Karena aku sakit yakinku.

Setelah mengambil cuti penuh. Aku menghabiskan waktu dengan membongkar semua kenangan masa kecilku. Bibiku dengan sangat senang sekali membantuku. Kukeluarkan semua album lama. Sambil mencicipi makanan kecil khas bibiku, kami sambil bercanda dan tertawa mengingat masa kecil kami. Bibiku selalu mengodaku dan memujiku bahwa aku kecil nakal sekali. Bahkan laki-laki pun aku tidak takut.

Dalam candaan aku membuka sebuah album lama. Kulihat aku berfoto dengan seorang anak laiki-laki. Dia lebih tua dariku. Seingatku aku tidak pernah berfoto ataupun punya teman yang beda usia cukup besar. “Itu kakak yang sangat kamu sayangi dulu”, kata bibiku memecah penasaranku. “Kalian tidak pernah terpisahkan waktu masih kecil. Kau selalu memujanya. Kau mengikutinya kemana saja. Kalian seperti anak anjing yang tidak ingin berpisah”, kata bibiku.

Ya, aku teringat kembali kenangan itu. Dialah yang selalu menemaniku disaat aku sedih. Dialah yang selalu membelai kepalaku saat aku menanggis. Dialah yang selalu membelaku jika ada anak laki-laki lain yang menyebalkan mendekatiku. Dan, dialah cinta pertamaku satu masih kelas satu. Tapi  sayang perbedaan umur kami membuat dia pergi. Bukan pergi meninggalkanku, tapi pergi melanjutkan sekolah.

“Kau mungkin lupa namanya Cindy sayang, tapi namamu selalu disebutnya”, Kata bibiku sambil tersenyum padaku. “Siapa namanya?”, tanyaku. “Namanya Zalaris”,  jawab bibiku pelan. Aku dalam hati berpikir, kok aneh benar namanya begitu? tapi aku tidak berpikir terlalu jauh. “Sekarang dia tinggal dimana?”, tanyaku lagi pada bibiku. Aku ingin berkunjung dan menemui cinta pertamaku.

“Dia sekarang tidak dikota ini, tapi nanti akhir tahun dia akan kembali.”, kata bibiku tersenyum penuh arti. “Masihkah kau ingin menemuinya? walaupun itu akan membuatmu pilu dan terluka?”, tanya bibiku membuatku penasaran. “Maksud bibi apa?”, tanyaku. “Maksud bibi kalau kalian dulu kan punya kenangan indah bersama, apakah kamu masih bisa menerimanya jika dia sudah berubah?”, jelas bibiku. Aku hanya mengangguk. Aku pikir kenapa harus pilu, kan cuma kenangan lama saja.

Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Tidak terasa 10 bulan telah berlalu. Aku juga sangat sehat dalam ukuran dokter dan orang pada umumnya. Aku membuka usaha kecil didekat rumahku. Aku melakukannya karena aku ingin menghabiskan waktu luangku dengan menggerakan badanku. Bibiku juga dengan senang hati membantuku. Jika kamu melihatku yang sekarang, mungkin kamu tidak akan percaya bahwa itu aku. AKu begitu murah senyum. Aku begitu ceria. Benar-benar beda dengan diriku yang dulu.

Sebenarnya bukan beda dengan dengan diriku yang dulu, lebih tepat kembali menjadi diriku yang sebenarnya. Aku sebenarnya pembawaannya ceria, energik dan penuh tawa. Tapi karena kesibukkan orang tuaku yang selalu tidak punya waktu untukku, aku mulai berubah. Aku bekerja ingin membuktikan pada orang tuaku bahwa aku bisa tanpa mereka. Aku mengira dengan banyaknya uang aku bisa mengubur perasaanku yang kesepian. Itulah kenapa aku selalu mencari pria kaya yang bisa memenuhi semua kebutuhanku.

Aku menjadi sering marah-marah karena aku selalu kesepian. Hanya bersama Andy dulu kesepianku sedikit terobati. Tapi dia juga pula yang membuatku kecewa. Mungkin satu-satunya yang menjadi obat pelupa beban hatiku hanya dia seorang. Ya, dia yang telah kumarah dan kuusir pergi. Dia yang dengan setia mendengar semua caci maki. Dia adalah Mike.

Penyesalanku yang teramat sangat adalah aku tidak mempunyai kesempatan meminta maaf pada Mike. Sudah10 bulan ini aku tiap malam berdoa agar diberi kesempatan untuk bertemu dengannya hanya ingin mengucapkan kata maaf. Tapi sampai detik ini pula Mike tidak muncul dihadapanku. Tapi aku tidak pernah putus doa. Walaupun Mike tidak tahu aku ingin meminta maaf, tapi aku tahu Tuhan akan menyampaikannya.

Akhirnya pergantian tahun tinggal beberapa hari saja. Toko kecilku cukup ramai. Aku membuka usaha kecil menjual bunga. Aku mempunyai 2 karyawan. Yang satu pria dan satunya wanita. Bibiku juga membantuku. Caraku memperlakukan karyawan-I ku tidaklah seperti dulu. Kini aku menganggap mereka sebagai keluarga. Kini semuanya dipenuhi canda dan tawa. Dan semua ini berkat bibiku yang mengingatkanku selalu dan memberikan nasehat yang sangat membantu. Aku menjadi diriku yang dulu.

Pada hari terakhir tahun ini, aku dan bibiku membereskan toko kami. Karywan-I ku juga membantu. Padahal sudah kuminta mereka pulang saja karena pasti ditunggu keluarga mereka. Tahukah apa yang dikatakan mereka, katanya, “Disini keluargaku sedang kewalahan, bagaimana kami bisa meninggalkannya?”, sambil tersenyum manis padaku. Yang wanita malah memelukku dengan hangat. Air mataku  tidak pernah bisa kutahan saat waktu itu.

Tiba-tiba datang seorang pria. Dia ingin membeli bunga. Karena bunga ditoko kami telah habis, maka dengan sangat terpaksa kami harus menolaknya. Tapi pria itu bersikeras ingin membeli bunga, dan katanya bunga itu masih ada setangkai. Karyawatiku bingung dan mencoba menjelaskannya. Aku yang dari jauh penasaran juga mendekatinya. Dan aku sangat terkejut dengan kehadiran pria ini.

Kuusap mataku. Kukira aku salah lihat. Kulihat bibiku sedang menarik tangannya dan mengajaknya masuk ketokoku. Karyawan-I ku mengerti apa maksud bibiku. Mereka lalu menghentikan pekerjaan mereka. Mereka meminta ijin pulang duluan. Aku bingung. Bingung sekali. Pria ini tersenyum padaku. Senyum yang sudah lama aku rindukan.

“Ini Lazaris”, kata bibiku menjelaskan padaku. Aku melihat kebibiku. Apakah bibiku yang salah orang ataukah aku yang salah lihat. “Apa kabar Cindy? sepertinya kamu sudah sehat sekali”, kata pria itu membuyarkan bingungku. Aku msih tidak bisa berkata apa-apa. “Ini bena Lazaris? tanyaku kepada bibiku untuk menyakinkan diriku lagi. “Iya sayang, dialah kakak yang selalu kamu puja waktu kecil. Dialah yang selalu mengingat dirimu. Dan, dia adalah putraku”.

Malam itu aku terkejut sekali. Rasanya jantungku hendak copot dari badanku. Kakak yang selalu kudamba waktu kecil. Pria yang selalu kumarah saat dewasa. Kakak yang selalu kupuja waktu muda. Pri yang kumaki saat ku terluka adalah pria yang sama? Tapi kenapa namanya berbeda? tapi kenapa dia bisa ada disini? dan yang paling mengejutkanku ternyata dia adalah putra bibiku.

Aku benar-benar sangat terkejut sekali. Belum habis kejutku, bibiku memegang jariku. Dia peluknya aku sambil berkata, “Sayang, aku tahu kamu pasti bingung sekarang, dan itu terlihat dari wajahmu yang tegang. Tapi dia akan menceritakan semuanya padamu. Malam ini, bibi mohon padamu, temanilah dia walau barang sebentar. Setelah malam ini bibi serahkan semua keputusan padamu”.

Dia yang dikenalkan bibiku sebagai putranya. Dia yang dikenalkan oleh bibiku bernama Lazaris benar-benar membuatku terpaku. Kami berjalan ketaman kota. Aku dan dia duduk bersebelahan. Tidak ada sepatah kata yang terucap dari mulut kami. Dia hanya duduk dan memandang langit. Taman kota itu telah dipenuhi orang-orang yang datang ingin menyaksikan parade kembang api malam.

“Sudah lama sekali ya kita tidak bersama-sama melihat kembang api seperti ini. Pertama kali kita melihatnya sama-sama saat kamu masih kecil kelas satu.”, kata pria ini membuka pembicaraan. YA, aku masih ingah kenangan itu. Waktu itu aku menanggis karena orang tuaku tidak mengijinkanku keluar melihatnya. Kata mereka nanti aku tersesat. Tapi datang seorang anak laki-laki datang yang memohon pada ayahku. Bahwa dia akan menjagaku. Bahkan selamanya kalau bisa. Waktu itu dia mengenggam tanganku.

Ayahku yang mendengar kata-kata itu malah tertawa terbahak-bahak, tapi karena itulah aku diijinkan pergi menikmati kembang api seperti malam ini. Aku waktu kecil tidak tahu apa-apa. Tapi yang kutahu aku sangat senang sekali bisa Melihatnya bersamanya. Kini semua itu menjadi kenangan. Kenangan yang kukira akan berakhir ceritanya. Tapi Tuhan mempunyai rencana-Nya.

Malam ini, setelah 50 tahun, aku  dan dia masih duduk ditempat yang sama. Dia yang kumaksud, dia yang kupuja saat masih kecil, kini telah menjadi pria yang penuh wibawa. Setelah malam kejadian itu. Pria ini menjelaskan semuanya. Ternyata saat masih kecil, bubur ayam yang pertama kunikmati adalah dari karya tanganya. Dia meminta ibunya (bibiku) mengajarinya. Katanya bubur ayam bisa membuat orang jadi ceria. Tapi karena malu, maka bibiku yang mengantarkan padaku.

Lalu saat aku sakit terbaring lemah dirumah sakit. Dialah yang selalu memasak untukku. Dialah yang pagi-pagi subuh bangun dan memasak buatku. Sehingga saat kubangun bubur ayam itu sudah tersedia dan masih hangat. Dan, ternyata selama dirumah sakit aku tidaklah bermimpi malaikat datang mengecupku dan membisikkan kata-kata indahnya, tapi itu adalah dia, dia yang waktu kecil selalu kupuja.

Malam itu aku juga tahu kenapa dia bernama Mike saat bekerja jadi bawahanku diperusahaanku. Aku bertanya mengapa dia menganti namanya? dia bilang itu nama aslinya. Namanya Mike Lazaris.  Dia memakai nama Mike dan bekerja diperusahaanku karena dia tidak ingin aku tahu bahwa itu dia.

Aku menanggis sejadi-jadinya malam itu. Aku meminta maaf atas semua kelakuanku. Puluhan tahun dia begitu setia disampingku, aku malah menyakitinya puluhan tahun karena gengsiku. Aku sangat menyesal sekali. Bahkan aku memeluknya sambil menanggis meraung-raung. Aku yang punya harga diri setinggi langit menanggis melebihi suara kembang api di angkasa. Aku bertanya mengapa dia tetap sabar ketika aku begitu padanya, dia hanya memandangku dan berkata, “Karena aku telah janji padamu bukan?”.

Ya, janjinya saat pertama kali akan menjagaku selamanya saat pertama kali membawaku melihat kembang api. Aku tidak tahu bahwa dia akan menepatinya. Saat semua pria telah melupakan yang lama dan mendapatkan yang baru seperti Andy, dia malah melindungi sekian lamanya. Dia bahkah rela kuhina, kumarah bahkan makian yang sangat membuat terluka. Kini aku sangat menyesal sekali.

Setahun kemudian sejak malam itu, aku menikahi pria ini. Aku menikahinya bukan karena rasa bersalah atapun rasa lainya. Tapi aku begitu mencintainya. Dengan berjuta-juta luka yang kuberikan padanya, dia masih setia, dimana kita bisa mencari pria seperti ini didunia? bahkan jika aku disuruh berebut dengan malaikat surga, akupun akan melakukannya.

Kini, malam  ini, aku duduk dipelukannya. 50 tahun kami mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Dengan cintanya kami dikarunia 2 anak. Dua-duanya pria. Kini mereka telah dewasa dan mereka menjadi seperti ayah mereka yang sangat sabar dan setia. Jam menunjukkan jam 23.55, 5 menit lagi kembang api akan bersahutan.

DUAR!! DUAR!! … DUAR!!

Itulah tandanaya tahun baru telah tiba. Indah sekali kembang api diangkasa. Dia memeluku lebih erat, sekali-kali tangannya hampir lepas. Aku sengaja mengenggam tangannya erat-erat. Aku tidak ingin sedetikpun lepas. Aku ingin dia disisiku selamanya. Bagiku 50 tahun bersamannya masih sangat tidak cukup. Aku ingin lebih lama lagi. Aku ingin dia tidak akan pergi. Aku terlalu mencintai.

Tapi Tuhan berkata lain, dia diagnosis terkena kanker otak. Sebenarnya suatu mujizat dia bisa bertahan  hingga malam ini. Padahal menurut dokter tubuhnya sudah akan lumpuh pada beberapa bulan yang lalu. Mungkin ilmu kedokteran manapun tidak bisa menjelaskan itu, tapi aku tahu kekuatan cintalah yang membuatnya bertahan hingga malam ini. Dia telah berjanji padaku akan menemaniku terakhir kalinya pada pesta kembang api malam ini.

Aku memandang wajahnya, dia tersenyum manis sekali. Senyuman yang akan hilang nanti. Aku tidak bisa menyembunyikan air mataku. Dia terlihat begitu lelah. Sangat lelah sekali. Tangannya mulai gemetaran karena berusaha sekuat tenaga memelukku. Aku membantunya dengan mendekapkan tubuhku padanya. Kembang api semakin terang diangkasa. Dia tersenyum lebar padaku. Senyuman manis paling agung didunia.

Dia memandang kearahku, dia membelai wajahku yang penuh air mata. Dia menyekanya dengan tangannya yang sudah sangat lemah dan tidak bertenaga. Dengan sangat sulitnya dia mengambil napas, lalu dia membisikkan kata padaku. Aku tidak kuat dengan semua itu. Aku menanggis bahagia. Sangat-sangat bahagia. Dia membisikkanku, “Terimakasih karena menemaniku selama ini sayang, terimakasih karena selalu tersenyum untukku. Kau adalah wanita yang paling kusayang bahkan hanya satu-satunya didunia, I LOVE YOU”.

Tangannya jatuh kepangkuanku. Matanya terpejam. Tapi senyumnya tetap tersirat indah diwajahnya. Dia masih memelukku. Ya, dia telah pergi setelah mengucapkan kata cintanya. Kini dia telah kembali kepadaNya. Kubalikkan tubuhku dan kupeluk sangat erat tubuhnya. Air mataku tak pernah bisa berhenti mengalir. Aku sangat sangat bahagia. Aku telah menemukan pria yang mencintaikuku selama hidupnya. Lalu anak-anaku datang menghampiriku. Mereka memeluku dan dia. Kami semua berurai air mata.

Sebenarnya sejak awal anak-anak dan menantuku ada didekat kami, hanya saja dia, suamiku, tidak menyadarinya. Karena kanker otak memorinya perlahan-lahan hilang. Cuma wajahku dan namaku yang paling diingatnya. Kini dia telah pergi. Pergi dengan senyum yang manis sekali. Aku tidak bisa mengambarkan betapa aku kehilangan dia, tapi aku sangat berbahagai sekali bisa bersamanya. Aku sangat mencintainya lebih dari semua harta dan tahta didunia. Semua bisnisku kujual demi dia, hanya toko bunga yang tetap kujaga hingga tua.

Aku yang sangat mencintainya, aku yang sangat bahagia bersamanya, berharap kamu semua mendapatkannya juga. Ingatlah kisahku ini. Ingatlah ceritaku ini. Dalam pelukanku, kubisiikan kata-kata hatiku, kata yang setiap hari kuucapkan padanya selama 50 tahun. Kata-kata yang membuat kami saling mengoda dan bercumbu rayu …

“Mike sayang, sejak awal aku telah jatuh cinta padamu, bahkan saat aku tidak tahu itu kamu. Aku sangat bahagia bersamamu. Aku sayang kamu. Tunggulah aku dipintu surga ya sayang”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s