5 Bunga + 1


What flower are you?

5 Pertama
Kusebut dia pesolek. Wajahnya cantik. Sangat menarik. Setiap langkahnya membuat pria melirik. Setiap senyuman tersirat di parasnya yang ayu mempesona. Rambutnya bergelombang pirang. Ditelinga kiri dan kanannya tergantung untaian anting-anting berlian. Sangat cantik dan sesuai sekali dengan wajahnya yang wah.

Padamu yang pesolek. Kami sangat menyukaimu yang tampil penuh keindahan dunia itu. Kami bahkan rela berebutan untuk mendapatkanmu. Tidak peduli apakah kami jauh dari liga ataukah kami masuk kategori didepak. Yang pasti, kami pastikan kami berusaha. Dan itulah bunga pertama dari taman terindah didunia.

5 Kedua
Kusebut dia pengairah. Tubuhnya terawat wah. Lekuknya mengalahkan gitar dunia. Kulitnya mulus seputih salju Himalaya. Kakinya panjang mengundang rasa. Perutnya rata mengoda mata. Bajumu pas dan ketat mengimpit bagian dada. Jalanmu supermodel dunia. Kami semua menelan ludah.

Padamu yang pengairah. Kau membuat jantung kami melompat dari rongganya. Yang sakit jadi sembuh seketika. Yang sehat jadi mimisan melihatnya. Segala macam cara kami pergunakan untuk menarik perhatianmu pengairah. Apakah dengan cara yang biasa? Mungkin malah dengan cara yang sangat ekstrim yang pernah ada. Ya, itulah bunga kedua dari taman terindah didunia.

5 Ketiga
Kusebut dia pencerah. Tutur katanya mempesona. Kata-katanya dirangkai indah. Setiap kalimat disusun diakhiri senyuman indah. Matamu memandang lurus terarah. Sekali-kali kau mengusap bibirmu yang merah. Apapun kata yang kau ucapkan bagaikan puisi yang meluluhkan hati pujangga. Hanya dengan mendergar saja muka kami merona merah.

Padamu yang pencerah. Kau membuat mulut kami tergangga. Tutur katamu menyejukkan telinga dan dada. Ucap kata-katamu mengalahkan segala nasehat para tetua. Bahkan satu kata “iya” membuat kami hendak menculikmu dari semua pria. Nada-nadamu bagaikan music yang menyelamatkan jiwa. Ya, Kaulah bunga ketiga dari taman terindah didunia.

5 Keempat
Kusebut dia penceria. Tanpa perlu kata-kata, kau telah mencuri permata yang kujaga sepanjang usia. Kami yang pemurung. Kami yang pengeluh. Kami yang tidak pernah menampakkan gigi. Hanya dengan satu kata-katamu yang lucu, kami tidak segan tertawa sampai dimarahi tetangga. Bukan karena hanya kata-katamu yang membuatku tertawa, tapi caramu menyampaikannya dengan rasa yang penuhi jiwa.

Padamu yang penceria. Kaulah yang selalu kami puja. Setiap tingkah lakumu membuat kami selalu ingin dekat denganmu. Setiap hari hanya termenung tawamu. Setiap jam hanya ingin mendengar candamu. Setiap menit selalu ingin bersamamu. Setiap detik bahkan kubisik namamu. Ya, kaulah bunga keempat dari taman terindah didunia.

5 Kelima
Kusebut kau pemanja. Tingkahmu membuatku tertawa. Sentuhanmu membuatku selalu terjaga. Setiap kecupanmu membuatku melayang diangkasa. Pelukanmu menghangatkan dinginnya rasa. Kata-katamu membuatku ingin selalu disana. Bahkan setiap gayamu mengalahkan harga lukisan monalisa.

Padamu yang pemanja. Setiap tingkahmu selalu menjadi pelepas dahaga. Caramu berkata, caramu memeluk dan caramu mengecup, selalu membuat hari kami yang keras menjadi lega. Kata-kata yang kau mainkan dengan nada-nada, membuat amarah menjadi cinta. Ya, kaulah bunga kelima dari teman terindah didunia.

Kalian semua adalah bunga. Bunga dengan warna paling indah didunia. Setiap mekar dirimu, selalu diincar para pria. Tidak peduli dia dari golongan apa. Tidak masalah raga seperti apa. Kami, selaku para pria selalu mencari bunga yang selalu dipuja. Apakah kami pantas? Apakah kami bisa? Apakah kami telah berkeluarga? Itu selalu menjadi nomor dua. Nomor satunya, semua tentang dirimu wanita.

Hanya saja itulah kami pria yang masih muda. Kami yang selalu mengelukan fisik dan mengagungkan semua yang mempesona mata. Kami tidak tahu apakah itu namanya keluarga. Kami tidak mengerti namanya bahagia. Bahkan kami sedikit salah tentang arti cinta. Tapi apakah kami buta? Mungkin tidak, mungkin iya. Karena kami masih muda.

Saat uban telah tumbuh dikepala. Saat keriput mulai muncul diwajah. Saat kami mulai menanggis air mata. Kami sadar yang kami cari bukan itu semua. Ya, kami masih mencari seperti 5 bunga dari taman terindah dunia, hanya bedanya kami menulisnya dibuku rencana pada urutan no 2 dan seterusnya.

Saat kami mulai mengerti keluarga, saat kami mengerti air mata, kami mencari bunga ke 6 yang tidak tumbuh ditaman terindah. Kami juga tidak perlu berebutan dengan para yang masih muda. Kami tinggal mencarinya di sekitar ilalang yang basah. Dan disitulah ia tumbuh sempurna.

Bunga ke-6

Kusebut dia permata. Dia tidak pandai bersolek diri. Dia tidak mempunyai badan yang seksi. Dia tidak pandai berpuisi. Dia tidak pandai mencanda tawa. Bahkan dia tidak pandai bermanja. Semua dia bisa melakukannya, hanya tidaklah sepandai 5 bunga terindah.

Dia yang kusebut permata. Dia hanya pandai memasak buat keluarga. Dia hanya pandai melepaskan sepatu suaminya. Dia hanya pandai merebahkan kepalanya dipundak kekasihnya. Dia hanya pandai bertanya tentang hari-hari pujaan hatinya. Dia hanya pandai menghibur seadanya. Dia hanya pandai merawat putra-putrinya. Dia hanya pandai tersenyum saja. Dia hanya pandai memeluk sahabatnya saja. Dia hanya pandai mengerti arti duka bersama. Dan dia paling pandai berdoa. Tiap harinya.

Aku hanyalah pria. Pria yang mencari bunga. 5 bunga terindah dunia selalu kupuja. Tapi 5 bunga itu tidaklah pantas kupilih salah satunya. Mereka yang indah pantas mendapatkan yang indah. Mereka yang biasa juga berhak mendapatkan yang indah. Hanya saja, aku sedikit berbeda, mungkin bodoh aslinya. Aku hanya mencari bunga ke 6 di ilalang yang basah. Bunga yang biasa-biasa. Tidak pandai apa-apa. Hanya mengerti berdoa tiap harinya. Dan menomorsatukan DIA dan keluarga. Ya, itulah aku yang serba apa adanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s