Dia yang buta dan dia yg “buta”


“Tiiiittttt….Teetttttttt…..Tiittttttt….”

Bunyi klakson mobil saling bersahutan dijalanan. Pagi yang sibuk. Terlihat kerumunan manusia saling mendahului. Tidak jarang terdengar keluh kesah mereka yang merasa dunia ini tidak memperlakukan mereka dengan adil. Caci maki dan tumpahan amarah sudah menjadi makanan sehari-hari dikota besar sebesar ini. Ya, itulah manusia. Manusia ciptaan DIA yang maha sempurna, tapi kenyataanya kita justru yang lebih banyak menyakiti DIA.

“Hei..apa kamu tidak bisa lihat”, teriak seorang laki-laki kepada seorang wanita tua. “Maaf tuan, saya tidak melihat anda”, jawaba wanita tua ini agak gemetaran. “Dasar buta!”, balas pria ini marah sambil mengomel pergi. Wanita tua ini hanya bisa mengangguk kepala sambil meminta maaf berkali-kali. Apakah pria ini kasar? mungkin iya, tapi selamat datang didunia kita.

Dalam perjalanan pulangnya, wanita tua ini menyempatkan dirinya duduk disebuah bangku kosong dekat taman. Hari itu langit sangat cerah. Wanita ini memandang ke angkasa sambil berucap syukur, “Ya Tuhan, engkaulah penguasa segalanya. Ciptaanmu sungguh sangat indah. Aku bersyukur aku bisa merasakan semua karunia. Maafkan pria yang tadi berpapasan denganku. Dia terlalu sibuk dengan masalahnya jadi aku menabraknya. Lindungilah dia dan keluarganya”.

Hampir sejam wanita tua ini menikmati kesendiriannya di taman itu. Dibuka bungkusan yang dibawanya. Lalu dia mengambil roti Sandwich yang telah disiapkan dari rumahnya. “Hmm..sungguh enak Sandwich ini”. Saat hendak mencicipi Sandwichnya, datang seorang wanita muda menghampirinya. Wanita ini sangat cantik. Matanya agak kehijauan. Rambutnya panjang sebahu. Agak bergelombang. Bibir tipisnya sangat sensual dengan balutan lipstick Pink.

“Maaf bu, bolehkah saya menemani ibu duduk disini?”, tanya wanita muda ini. “Oh, silakan. Dengan senang hati saya ditemani wanita secantik anda”, jawab wanita tua ini. “Ahh ibu bisa saja. Namaku Cindy. Tadi aku melihat ibu begitu menikmati pemandangan disini, jadi aku tertarik juga sehingga ingin bersama ibu menikmati bersama. Ibu tidak keberatan bukan?”, kata wanita cantik ini yang bernama Cindy sopan. “Sayang, apa hakku melarangmu menikmati indahnya pemberian DIA ini? Aku malah bersyukur sekali masih ada yang sepertimu mau menemani wanita tua ini sepertiku”.

“Namaku Mrs. Wennie. Tapi panggil aku Wennie saja”, kata wanita tua ini sopan. Diusianya yang sudah bukan mudah lagi. Wennie terlihat sangat manis. Malah manis sekali. Garis-garis yang menghiasi sekitar mata dan bibirnya tidak mengurangi kemanisannya. Uban-uban dikepalanya bagaikan penjepit rambut permata. Tertata rapi. Matanya biru sebiru biru angkasa. Rambutnya ditata kebelakang. Setiap tutur katanya indah.

“Wennie, kamu sedang menunggu seseorang ya?”, tanya Cindy sopan. “Iya, aku lagi menunggu suamiku. Dia sekarang masih bekerja”, jawab Wennie sambil tersenyum manis kearah Cindy. “Dan kamu sedang menunggu siapa? maafkan aku sayang, tapi dari postur bahumu sepertinya kamu baru mengalami hari yang berat ya?”, tanya Wennie menebak. Mungkin lebih tepat bukan menebak, tapi mengetahuinya.

“Sejujurnya Wennie, aku memang mengalami hari yang buruk. Itulah mengapa saat aku lewat disini kulihat kamu duduk sangat menikmati. Aku berpikir bagaimana mungkin kamu bisa menikmati ini semua, padahal tadi aku lihat kamu baru dimarahi seorang pria”, kata Cindy. Wanita tua ini melihat kearah Cindy. Lalu dengan tenaga tuanya Wennie mencoba mengenggam tangan Cindy. “Sayang, pria yang tadi tidaklah salah. Mungkin dia ada masalah sehingga dia buru-buru. Akulah yang menghambat pria itu”, jawab Wennie tersenyum lagi. Manis sekali.

Cindy, yang lebih muda, yang lebih bersemangat, dalam hati mengakui kekalahannya. Bukan secara fisik, tapi secara nurani. Wennie yang sudah berumur, masih bisa melihat dengan sesuatu dengan kacamata yang berbeda. Sabarnya mungkin mengalahkan para ahli pengasah permata. Cindy yang tangannya digenggam oleh Wennie, merasakan sedikit kelegaan. Hari-harinya yang menurutnya buruk, sedikit banyak terobati sudah.

“Sayang, jika ada masalah janganlah dipendam. Aku disini punya cukup waktu untuk meminjamkan telinga tuaku ini. Mungkin aku tidak bisa memberimu nasehat seperti para tetua, tapi DIA yang diatas selalu memberi jawaban untukkmu”, kata Wennie. Cindy terdiam sejenak. Dia memang telah mengalami hari yang buruk. Dan dia memang mencari seseorang yang bisa berbagi sedikit himpitan beban dihatinya. Tapi Cindy tidak enak jika wanita sebaik Wennie harus mendengar kesahnya, apalagi baru kenal belum setengah hari juga.

“Maaf Wennie, aku tidak bisa. Kamu begitu baik padaku, genggaman tanganmu sudah cukup menjadi curhatku”, jawab Cindy sambil tersenyum kearah Wennie. Cantik sekali. “Dengar ya sayang, Aku ini wanita. Dulu aku juga secantik dirimu, mungkin lebih cantik dari Miss Universe”, canda Wennie mencoba menghibur Cindy. Cindy tertawa kecil mendengarnya. “Tuh kan, kalau kamu tertawa, lepaskan semua beban didada, kamu cantik sekali. Malah sekarang tawa kecilmu itu telah mengalahkanku yang diwaktu muda”. Mereka tertawa bersama.

“Sayang, jika kau tidak ingin aku mendengar kisah harimu, aku tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengannmu? apakah itu akan berlalu hanya dengan dipendam? Aku telah melewati 50 tahun pernikahanku, jadi menambah sedikit mendengar beban-beban hidup tidaklah masalah bagiku. Siapa tahu dengan uban-uban dikepalaku ini, ada beberapa helai yang bisa menceritakan pengalamanku yang mungkin berharga bagimu juga. Jadi, telinga ini sedang menanti kisahmu sayang”, Kata Wennie dengan kedua tangannya mengenggam tangan Cindy.

Cindy tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Kecuali oleh ibunya waktu dia masih kecil dan remaja. Sekarang saat dewasa, mulai bekerja, segalanya telah berubah. Tuntutan dunia membuatnya jarang pulang kerumahnya. Hanya melalui telepon dan surat mereka saling bertukar sapa. Apa yang selalu dicarinya bisa didapatkannya. Tapi untuk yang kali ini, dia telah lama kehilangannya.

“Wennie, kamu benar-benar baik padaku. Sejujurnya aku baru berpisah dengan pacarku. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi aku benar-benar buntu pikirannku”, kata Cindy dengan mata berkaca-kaca. Wennie membelai wajahnya dengan lembut. “Dia selalu memintaku agar selalu mengerti dirinya. Dia selalu mengatakan bahwa hubungan kami baik-baik saja. Tapi jika baik-baik saja mengapa justru kami harus sering bertengkar dan berpisah? Tapi saat aku hendak berpisah dengannya, dia malah datang padaku dan memohon. Kini dia malah pergi tanpa berkata apa-apa”. Kini Cindy tak bisa menahan air matanya.

“Aku dan dia telah berpacaran lebih dari setahun. Aku mengenalnya setahun yang lalu tempat kami bekerja. Dia seorang karyawan senior diperusahaan itu. Saat aku mulai bekerja disana, dia yang menjadi mentorku. Dia selalu membimbingku. Awalnya hanyalah sebuah tugas saja. Tapi lama kelamaan karena sering bersama, hati kami sama-sama tumbuh benih cinta. Aku tertarik oleh sikapnya yang tegas dan penuh rencana. Sedangkan dia tertarik padaku karena aku tipe yang semangat dan penuh canda tawa”.

“Setelah 6 bulan lebih bersama, dia dipromosikan jadi manager ditempat kami bekerja. Aku sangat bangga padanya waktu itu. Kami merayakannya berdua. Kami menghabiskan malam bersama. Pokokya itu adalah hari-hari indah. Tapi…”, Cindy terdiam sebentar. Wennie membelai kepalanya. Wennie tidak mengatakan apapun karena dia tahu Cindy terlalu mengali perasaannya keluar sehingga perasaan yang sebelumnnya dipendam bulanan, mungkin tahunan, kini harus meluap.

“Seteleh beberapa bulan sejak dipromosikan, dia dipindah kekota seberang. Awalnya aku agak keberatan. Tapi demi kariernya aku rela. Aku bahkan mengantarnya dengan senyum termanisku. Dia hanya mengecup keningku dan memelukku saat hendak berpisah bekerja. Aku melambaikan tanganku dengan berat, tapi aku bisa bertahan karena dia mengatakan padaku akan melamarku setelah dia telah berhasil disana. Namun, justru bukan lamaran yang kuterima, tapi kata-kata perpisahanlah yang dia lontar”.

Sekarang air mata Cindy mulai membanjiri wajah cantiknya. Make-up nya mulai luntur oleh butiran permata dari jiwanya. Wennie yang merasakan luka hatinya hanya bisa memeluknya. Dicium kening Cindy. Dalam pelukan itu Cindy memeluk Wennie dengan erat. Dia mencurahkan semua beban hatinya pada pelukan wanita tua yang baru dikenalnya. Seorang wanita yang sebaya ibunya. Seorang wanita yang penuh kasih sayang dan cinta.

Setelah beberapa saat. Cindy merasakan agak lega. Dilihatnya Wennie. Wennie membalas tatapan Cindy. “Apakah kamu sekarang sudah merasa lebih baikkan”, tanya Wennie tersenyum manis sambil mengelus kepala Cindya. “Iya, Ijinkan aku sebentar lagi ya, bolehkan?”, tanya Cindy sambil memeluk Wennie. “Dengan senang hati sayang”.

Hari itu, cerah sore itu, akan menjadi kenangan yang paling manis bagi mereka berdua. Wennie bahagia bisa berbagi harinya dengan seorang wanita muda yang penuh cinta tapi terluka hatinya. Sedangkan Cindy begitu bahagia bisa karena ada seseorang yang bisa berbagi ceritanya. Mungkin dunia akan memisahkan mereka karena umur yang berbeda. Tapi catatan disurga mereka telah menjadi sahabat selamanya.

“Sayang, kamu telah mengalami semuanya. Tapi jangan jadikan itu sebagai luka abadi, jadikanlah itu catatan hati. Karena kita mengenal cinta bukan dengan cara-cara seperti para kisah yang dibuat pujangga. Cinta itu indah, bedanya kita kadang yang membuatnya jadi tidak indah. Belum pernah kulihat seorangpun yang kapok jatuh cinta karena dia terluka oleh yang namanya cinta. Malah mereka lebih mengejarnya lagi. Kenapa? karena mereka tahu bahwa cinta itu indah dan mereka telah merasakannya”. Kata Wennie bijak.

“Aku, juga punya pengalaman sepertimu. Aku mengenal seorang pria yang baik. Dia seorang pengusaha. Wajahnya tampan. Mapan. Dan menjadi incaran para wanita. Aku beruntung mendapatkannya. Ceritaku juga hampir sama dengan ceritamu. Aku bersamanya lebih dari 3 tahun. Kisah kami seperti kisah dongeng yang happy ending, bedanya ending kami tidaklah happy. Aku juga menanggis sepertimu saat ini, Tapi aku menanggis sendirian disebuah kamar yang gelap. Semua gelap”.

“Dan tahukah kamu sayang, apa yang paling menyakitkanku? Saat aku kecelakaan, justru dia meninggalkanku pada saat-saat aku paling membutuhkan kehadirannya disisiku. Aku bahkan sempat berpikir hendak mengakhiri hidup. Semua bagiku hanya gelap. Mataku gelap dan hatiku pun jadi gelap. Untunglah saat itu ada seorang pria yang datang dan mencegahku. Dia memelukku seperti kamu memelukku saat ini. Dia menghiburku, tiap hari, tiap jam”, sambung Wennie.

“Aku tidak mengenal mengenal pria ini. Dia hanya menemaniku setiap hari. Setiap malam menceritakan aku kisah-kisah indah. Setiap hari bermain dengan jari-jariku. Setiap hari menyisir rambutku. Setiap hari bercanda denganku. Dan tahukah kamu, Hanya dalam beberapa bulan bersamanya, aku merasa telah tahunan aku mengenalnya. Tawaku yang kukira akan terbenam bersama perasaanku, ternyata malah terbit lebih indah”.

Wennie tersenyum manis sekali mengenang kisahnya. Cindy pun tersenyum manis melihat sahabat barunya ini begitu bahagia. Seperti bisa membaca pikiran Cindy, Wennie berkata, “Kamu pasti mengira aku menemukan pria baik dan hidup sampai sekarang bukan?”. Cindy tertegun. “Bukankah memang begitu?”, tanyanya. Wennie hanya tertawa kecil. Tawa yang penuh hangat. Cindy agak bingung, tapi dia ikut berbahagia dengan sahabatnya Wennie.

“Aku memang telah menemukan permataku sayang, tapi untuk menemukan permata itu aku harus kehilangan permataku. Tahukah kamu bagaimana rasanya menukar permata yang telah lama kita bangga dan bersama hampir seumur hidup kita? pantaskah itu kita lakukan? itulah yang awalnya kutanyakan”, kata Wennie sambil memegang tangan Cindy.

Cindy masih sedikit bingung. “Pantaskah? dan permata apa yang kamu tukarkan?”, tanya Cindy penasaran. “Itu akan kamu ketahui nanti. Tapi ceritaku belum selesai. Saat aku kehilangan permata itu. Aku sangat terpukul. Aku memaki dunia yang mengapa begitu kejam padaku. Aku menyalahkan semua orang atas kondisiku. Aku bahkan meminta tanggung jawab pria yang baru kukenal yang selalu menemaniku itu. Aku tahu aku keterlaluan, tapi saat itu aku benar-benar tidak bisa berpilkir jernih”, cerita Wennie sambil tersenyum.

“Tahukah kamu sayang, pria ini malah bukannya lari meninggalkanku seperti pria yang kupuja sebelumnya. Dia malah meng-iyakan. Waktu mendengar dia mengatakan itu, aku malah lebih marah lagi. Aku tidak ingin dikasihani olehnya. Aku justru berharap dia akan pergi meninggalkanku, jadi aku punya alasan untuk menyalahkan diriku sendiri dan dunia, dan mungkin DIA”.

“Tapi, ternyata dia memang tidak melihatku dengan mata. Dia tahu justru kalau dia pergi, aku akan lebih jatuh kedalam kubangan penyesalan. Hari-hari dilalui dengan penuh air mata. Pria ini terus menemaniku. Dia terus datang membacakan cerita-kisah indah. Dia terus menyisir rambutku. Dia selalu dan selalu ada untukku. Tapi, perlakukanku padanya tetap sama. Aku menyalahkannya. Aku meminta bertanggung jawab atas semua yang kualami setelah kecelakaan itu”.

“Tidak terasa beberapa bulan berlalu. Dan pria ini masih setia menemaniku. Aku, yang selalu marah mulai capek memarahinya. Aku, walaupun pelan-pelan, telah membuka hatiku. Berbagai kisah yang dia ceritakan padaku, malamnya menjadi renungan bagiku. Aku mulai bangkit dari keterpurukkanku. Aku mulai bisa sedkit-sedikit tertawa kembali. Dan pria ini terus menemaniku. Aku berpikir, aku akan melanjutkan hidupku. Dan begitu juga dengan dirinya. Dia sudah bertanggung jawab atas semuanya dan aku pun sudah cukup menyakitinya”.

“Pada hari Sabtu, seperti hari ini. Setelah keluar dari rumah sakit, aku duduk sendiri disini. Aku mencoba merasakan kembali apa yang dulu selalu kurasa. Dan, datang seorang pria, seperti tadi kamu datang padaku. Dia tidak berbicara padaku. Dan aku pun tidak menyapanya. Aku terlalu terhanyut dengan perasaanku. Tapi, tahukah kamu apa yang dilakukannya padaku?”, tanya Wennie.

Cindy hanya mengeleng kepalanya. Wennie tersenyum. Dilepaskannya tangan Cindy. Lalu dia memperlihatkan jari manisnya pada Cindy. Sebuah lingkaran emas komitmen. Ya, sebuah cincin. Cindy terpana. Cindy menutup mulutnya dengan tangannya sambil berurai air mata. “Dia melamarmu ya?”, tanya Cindy penasaran.

Wennie hanya tersenyum. Senyum yang manis sekali. “Iya sayang dia melamarku. Dan tahukah pria mana yang melamarku?”, tanya Wennie. Cindy hanya mengangguk dan langsung melompat memeluk Wenni, “Wennie…aku sangat berbahagia untukmu. Aku tidak tahu itu kisah berapa puluh tahun lalu, tapi kisahmu mencerahkan perasaanku. Terimakasih ya”, kecup Cindy dipipi Wennie. Dalam usianya yang sudah bukan muda lagi, wajah Wennie merona merah. Cantik sekali.

“Oya Wennie, tadi kisahmu kan kamu kecelakaan, bagaimana keadaanmu sekarang? maksud aku tidak lah berefek pada tubuhmu diusia begini?”, tanya Cindy agak cemas. “Jangan takut sayang, aku baik-baik saja”, jawab Wennie sambil membelai pipi Cindy.Tiba-tiba terdengar suara seorang pria. Dia memakai topi santainya. Posturnya tegak dan berwibawa. Kumisnya menambah wibawanya. Pria ini berumur sekitar 60an.

“Honey, sepertinya kamu menemukan sahabat baru ya?”, tanya pria ini. Wennie melihat kearah pria ini. Dia tersenyum. “Iya sayang, ini sahabat baruku. Namanya Cindy”, jawab Wennie. Pria ini berkenalan dengan Cindy, setelah sedikit bersapa ria, Wennie dan pria ini berpamit pulang. Sebelum pulang Wennie meminta pria ini menunggunnya didepan.

“Sayang, kamu pasti siapa pria itu bukan? sebelum aku pergi aku ingin mengatakan padamu. Pria ini bukanlah pria yang menyebabkan aku kecelakaan. Tapi pria ini adalah seorang pemilik toko bunga kecil di depan tempat aku bekerja dulu. Dia ternyata selama ini mencintaiku diam-diam. Saat terjadi kecelakaan, dialah yang menolongku. Penabrakku melarikan diri. Dialah yang membiayai semua biaya RS ku. Dialah yang menemanku setiap hari. Dialah yang menyisir rambutku. Dan dia juga yang melingkarkan cincin ini dijari manisku. Dan bangku itu adalah bangku ini”.

Akhirnya Cindy sadar. Kenapa Wennie diusiannya seperti ini masih terlihat sangat cantik. Ternyata dia tidak pernah lupa akan kenangannya. Dia selalu kembali kesini tiap hari dan telah menjadi bagian dari hidupnya. Cindy sangat menyukai Wennie. Lalu dikeluarkan kartu namanya dan diberikan pada Wennie. “Wennie, jika kamu perlu apa-apa, langsung hubungi aku ya. Aku sangat berterimakasih atas semua yang telah kamu berikan hari ini. Aku tidak akan melupakannya”, kata Cindy langsung memeluk erat Wennie sambil berurai air mata. Kali ini air mata bahagia.

“Sayang aku tidak bisa menerimanya. Kalau kau mau menemuiku tiap sore aku ada disini kok. Lagian aku tidak bisa membaca”, kata Winnie pada Cindy. Cindy bingung dan merasa tidak enak. Wennie yang tahu perasaan Cindy hanya tersenyum. ‘”Aku bukannya tidak bisa membaca sayang, tapi aku sudah tidak bisa baca lagi. Bukan juga karena usiaku, tapi aku telah menukarkan permata itu dengan permata yang telah menunggu disana dengan setia”, kata Wennie sambil memandang kearah pria yang sedang menunnggunya didepan toko bunga.

Cindy tidak bisa berkata apa-apa. Hanya air mata yang mengalir diwajahnya. Sambil melihat wanita tua ini berjalan pelan kearah pria itu, Cindy sangat terharu dan sangat terpesona. Cinta yang begitu tulus. Cinta yang tidak dimakan waktu dan usia. Cinta yang dipuja setiap wanita. Cinta yang dicari begitu susahnya, ternyata ada didepan kantornya. Dan telah menjadi kisah abadi puluhan tahun lamanya.

Hari itu. sore itu. Cindy mengerti arti kata “permata”. Permata yang “ditukarkan” oleh Wennie sahabatnya. Cindy menyadari selama ini dia “buta” karena selalu mencari dengan mata yang diwajah. Sedangkan Wennie mencari dengan “mata” yang ada dihatinya. Ironisnya, kita justru lebih “buta” untuk hal-hal yang indah dan bersifat sementara. Tapi, Hari itu. Sore itu. Cindy telah mengerti semuanya. Sambil berlari kecil Cindy mengejar Wennie. Digenggamnya dengan erat tangan Wennie. Wennie tersenyum. Cindy juga tersenyum. Senyum yang sangat cantik dan sangat manis sekali. Bunga-bunga bermekaran indah ditaman, tidak seindah senyuman malaikat kedua anak manusia…

2 thoughts on “Dia yang buta dan dia yg “buta”

  1. Ide: Biar post-nya tambah rame, kasih minimal satu gambar per post. Gambar yang sedikit banyak mewakili isi cerita. Ini bikin orang seenggaknya lebih tertarik untuk membaca :D.

    Terus nge-blog, ok!
    Hidup nge-blog!!!
    ^0^

    1. Sebuah masukan yang bagus. Memang awalnya mau kasih foto, cuma inet aku lelet (-_-!) malah kadang Ga bisa masuk. Thx banget uda membaca cerita sederhana ini ya. Padahal hanya hobi menulis yang dituangkan dalam blogs tapi malah mendapat respon yang begitu indah (^.^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s