ARIGATOU (Thank You)


Thank you for you love honey

Perkenalanku dengan pria yang menemaniku disamping tempat tidurku sekarang bermula ketika aku secara tidak sengaja mengotori pakaiannya. Aku bekerja sebagai pelayan biasa disebuah restoran mewah. Akulah yang membawakan makanan pesanannya pada waktu. Dan disaat yang bersamaan ada seorang anak kecil yang mainannya terjatuh pas dikakiku. Ya, kalian bisa menebak apa kejadian selanjutnya. Makanan yang kupegang langsung melayang ke pria yang memesan makanan ini.

Jas putihnya serta merta menjadi kotor oleh makanannya, makanan yang dipesan yang seharusnya dimakan, malah kuberikan pada jasnya. Waktu itu suasana lagi ramai. Aku tidak tahu bagaimana perasaan pria ini, yang pasti aku sangat malu sekali apalagi dia. Aku dalam hati berpikir mungkin ini akhir pekerjaanku. Sang manager restoran langsung datang menhampiriku. Dia meminta maaf atas kecerobohanku. Aku pun langsung meminta maaf sejadi-jadinya.

Pria yang kuberi “makan” ini hanya tersenyum. Katanya tidak apa-apa. Bagaimana mungkin bisa tidak apa-apa? Dia datang bersama seorang wanita yang cantik luar biasa. Dia juga seorang pengusaha. Aku berpikir mungkin aku akan dibunuhnya saat pulang kerja. Aku langsung mengambil lap tanganku dan kucoba bersihkan sisa makanan tumpahan hasil perbuatanku. Dan, alamak, makin jadi saja kotornya. Managerku langsung menarik tanganku, dan, entah hari apa hari itu, tanganku malah menyenggol cangkir anggur disebelah wanita cantik itu.

“Plak..”, suara tamparan yang keras. Para pengunjung disana menoleh kearahku. Ya, itu suara tamparan yang dilayangkan wanita cantik ini. Tapi aku tidak marah. Aku memang pantas mendapatkannya. Sebuah kencan malam (menurutku) hancur oleh kecerobohanku. Sang pria hanya duduk diam melihat teman wanitanya menamparku. Sang manager juga hanya bisa diam. Semua mata menoleh kearahku. Aku benar-benar malu sekali. Tapi mau gimana lagi. Semua ini salahku, jadi aku harus bertanggung jawab.

“Apakah kamu tidak mempunyai mata? Tahukah berapa harga gaun ini? Dengan gajimu setahunpun tidak akan mampu membayarnya.”, teriak wanita cantik ini. “Sekarang aku ingin kamu bertanggung jawab semua kejadian ini”, sambung wanita cantik ini. “Ma..af..maafkan aku, aku akan membawanya dan membersihkannya. Ijinkan aku membersihkan nodanya”, kataku gugup sambil mencoba membersihkan gaun indahnya. Dan, aku terpeleset pula. Tanganku secara tidak sengaja malah mendorong wanita cantik ini dan, dia, aku tidak bisa menceritakan lagi…

Aku terbangun pada jam 6 subuh. Aku tidak bisa tidur semalaman sejak kejadian direstoran tempatku bekerja kemarin. Kulihat pada kaca, gambar tangan masih membekas pada pipi kiri dan kananku. Hah? Kok ada didua belah pipiku? Mungkin kalian bertanya. Ya, aku menerima satu tamparan wanita cantik itu. Aku tidak ingin menceritakan akhirnya. Yang pasti aku sangat malu sekali plus hadiah pemecatanku. Aku memang wanita yang ceroboh. Untunglah aku orangnya ceria dan bukan pendendam.

Oya, namaku Michelle. Penampilanku sederhana dan biasa. Tinggiku hanya sekitar 162cm. Mataku biru langit. Bentuk tubuhku proporsional dan kencang. Ini bukan karena aku rajin olahraga, tapi karena kerja direstoran yang sealu mengandalkan fisik hingga secara tidak langsung membentuk tubuhku. Tidak ada apapun dari fisikku yang bisa kubanggakan, paling senyum manisku (kata teman-temanku) dan rambut panjang lurusku yang selalu kurawat dengan sempurna. Selain itu, jangan berharap lebih.

Dipanas terik matahari siang ini, aku mencoba melamar pekerjaan disebuah café yang cukup terkenal oleh temanku. Sudah berkali-kali aku melamar pekerjaan, tapi selalu ditolak. Aku tidak mengenyam pendidikan tinggi. Aku sempat masuk universitas, tapi aku tidak melanjutkan sampai selesai. Aku hanya sempat kuliah beberapa tahun. Dan aku harus berhenti karena ayahku jatuh sakit dan tidak bisa membiayaiku lagi. Aku anak tunggal jadi selalu dimanja. Tapi jangan salah, walaupun begitu aku bukan anak manja. Buktinya aku sekarang bekerja dan tinggal disebuah apartemen kecil hasil keringatku sendiri.

Ibuku selalu menabung sedikit-sedikit dan dikirimkan padaku. Tapi tidak sepersen pun aku pakai. Aku malah simpan supaya kelak saat mereka memerlukan uang, uang itu bisa kukembalikan berkali-kali lipat. Aku sangat sayang pada keluargaku. Kami dari keluarga sederhana dan penuh cinta. Aku yang sekarang adalah hasil didikan mereka. Ulet, rajin dan sedikit (mungkin banyak) ceroboh. Kalau sifat ini harus kuakui aku dapat dari ayahku yang ceroboh juga, hanya bedanya aku lebih “pandai” dari ayahku.

“Selamat siang, namaku Michelle. Kemarin aku menaruh lamaran ditempat ini dan sekarang aku disuruh datang untuk melakukan wawancara ”, kataku bertanya pada seorang karyawan dicafe tersebut sambil sedikit mempromosikan diri. “Oya, tunggu sebentar, aku panggil manager ku dulu”, kata pria yang kutanyai. Kulihat Name Tag-nya, tertulis Andy. Orangnya kelihatan ceria dan semangat.

“Silakan keruang manager”, kata Andy padaku. Lalu aku menelusuri café itu. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi designnya sangat istimewa. Disetiap sudut ruangan ditempati pohon-pohon kecil atau bunga-bunga penuh warna. Sangat indah dan adem. Pelayanannya juga sangat menyenangkan. Padahal ini pertama kali aku menapakkan kakiku kecafe itu, tapi rasanya sudah bertahun-tahun langganan disini. Kulihat para pengunjung terlihat senang dengan pelayanan dicafe ini. “Aku harus bisa bekerja disini”, kataku dalam hati.

“Silakan masuk”, terdengar suara dibalik pintu saat aku mengetuk. “Silakan duduk”, kata pria yang duduk didepanku. Dia seorang manager café itu. “Kami sudah melihat berkas-berkasmu yang kamu kirimkan sebelumnya dan kami sangat tertarik denganmu. Apalagi kamu sendiri direkomendasikan oleh pemilik kami pada café cabang dikota ini”, kata manager itu padaku sambil tersenyum. Pemiliknya merekomendasikanku? Aku jadi bingung sendiri.

“Maksud bapak pemilik café ini ya?”, tanyaku agak ragu. “Iya, katanya dia telah mengenal anda dan sangat tertarik dengan anda saat melihat foto anda. Belum pernah kulihat beliau begitu tertarik pada seseorang begitu loh. Pasti anda sangat istimewa”, jelas manager itu padaku. “Oya, itu foto beliau didinding itu”, tunjuk manager itu. Aku mencoba mendekat dan melihat siapakah gerangan yang dimaksud manager itu. Saat kulihat aku terkejut. Aku bahkan sama sekali tidak kenal orang ini, bagaimana mungkin dia bisa mengenalku?

Dalam hati aku bertanya. Mungkin inikah trik dari café ini supaya kami para karyawan-I baru mendapatkan semangat? Kalau memang begitu berarti ini trik psikologis yang luar biasa. dalam pikiranku bercampur aduk segala macam pertanyaan dan pernyataan buatanku sendiri. Tapi aku sudah tidak terlalu peduli. Yang pasti aku senang aku bisa diterima dicafe ini. Café yang sangat mengoda ini. “Terimakasih pak, kapan saya bisa bekerja?”, tanyaku. “Besok pagi kamu bisa mulai Michelle, dan panggil aku tuan John aja”, kata tuan John padaku. Akupun berpamitan pulang.

Hari-hari kulalui dengan ceria ditempat kerja baruku. Dan aku memang tidak salah memilih pekerjaan. Café disana benar-benar menyenangkan. Semua karyawan-I saling menghargai. Mereka bahkan tidak sungkan saling menggantikan teman mereka yang sibuk atau tidak masuk. Sungguh berbeda sekali dengan tempat kerjaku dulu bekerja dan perusahaan besar lainnya. Disaat tempat yang lain saling menjatuhkan, saling menjilat, hanya untuk mencari muka, disini semuanya begitu kompak dan saling membantu. Benar-benar pemandangan yang langka didunia yang serba materi ini.

“Michelle, nanti pulang ada waktu tidak? Kami mau pergi karaoke sama-sama, Gina hari ini ulang tahun dan dia ingin mentraktir kita”, sapa Andy padaku. “Ya, dengan senang hati”, jawabku sambil melihat kearah Gina. Gina hanya melambaikan tangannya. Orangnya manis sekali. Kulitnya hitam mengkilat. Rambutnya dicat agak kecoklatan dan orangnya agak pemalu. Gina tingginya hampir sama denganku. Bedanya dia lebih sering jadi pendengar daripada aku yang serba heboh. Aku dan Gina adalah teman kerja yang paling kompak.

Tidak terasa aku telah bekerja disana selama 6 bulan lamanya. Aku benar-benar senang sekali. Walaupun ceroboh masih sama, tapi perlakuan mereka padaku sangat berbeda. Misalnya saat aku salah mengantar minuman kepada salah satu pengunjung, aku bukannya dimarahi, tapi mereka saling mengatakan bahwa mereka yang salah. Andy mengatakan salah dengar jadi sehingga salah memberikan padaku. Gina mengatakan bahwa dia yang salah karena tidak memberitahu aku. Mereka datang meminta maaf pada pengunjung itu. Aku benar-benar terkejut. Bagaimana mungkin masih ada orang yang seperti ini didunia ini?

“Itulah kenapa aku tidak pernah ingin masuk kecafe lain selain café ini”, kata pengunjung itu pada kami. “Biarpun minuman yang kupesan salah diantar, tapi minuman ini tetap terasa enak sekali. Bukan karena minumannya, tapi karena sikap kalian yang jadi pemanis bagi minuman dan makanan disini”, kata wanita tua ini melanjutkan. Kami semua tersenyum dan saling melempar senyum. Wanita tua ini berdiri dan memelukku. “Jangan salahkan dirimu sayang, aku tidak apa-apa koq”, kata wanita tua ini. Aku hampir menanggis diperlakukan begitu.

Aku memang bisa menyembunyikan perasaan gugupku pada teman-temanku. Tapi pada wanita tua ini semua itu terlihat semua. Ya, aku masih trauma dengan kejadian direstoran dulu aku bekerja. Aku bukan trauma ditampar. Aku bukan trauma dipecat. Tapi aku trauma akan mengulang sejarah yang sama. Dan ternyata dengan sebuah pelukan itu aku telah sembuh dari traumaku. Memang tidak semuanya. Tapi terasa lebih baik dari sebelumnya.

bulan lewat aku berada disana. Aku tidak pernah merasa bosan sedetik pun. Saat ramai kami melakukan penuh senyuman. Saat sepi (walaupun jarang sekali) kami menghabiskan waktu saling berbagi cerita dan menghibur. Dari situ aku tahu bahwa Gina telah bertunangan dengan seorang pria yang baik. Dan mereka akan menikah tahun depan. Setelah itu Gina akan ikut suaminya keluar kota mencoba membuka café kecil. Gina terlihat sangat bahagia menemukan pria sebaik itu setelah beberapa kali jatuh bangun.

Andy kuketahui telah berkeluarga. Dia dikaruniai 2 orang putri yang cantik-cantik. Bagaimana aku tahu? Tidak perlu kutebak-tebak, karena baju seragamnya saja selalu ditempeli kedua malaikat kecilnya bersama istri tercinta. Andy adalah pria yang bijaksana. Dia tidak segan-segan menegur dan menasehati kami jika kami sedikit melenceng dari arah hidup kami. Misalnya aku dan Gina hendak menerima tawaran seorang pria tampan untuk ke dugem, Andy langsung menjewer kami dan menasehati kami. Anehnya, kami tidak pernah merasa kesal pada Andy. Mungkin yang dia lakukan benar-benar dari hati. Itulah kenapa aku dan Gina sangat menghormati dan menyayangi Andy seperti keluarga sendiri.

Bagaimana dengan aku? Jangan tanyakan itu dech. Aku memang pernah punya pacar yang baik. Tapi karena kebodohanku aku membuatnya meninggalkanku. Karena sering bersama aku merasa bosan dengannya. Dan tahukah kalian. Itulah kesalahan seorang wanita yang pertama. Aku mengakui aku sangat menyesal. Tapi dulu aku masih muda, belum tahu mana yang namanya cinta sejati dan cinta sekedar cinta saja. Dan kesalahan keduaku adalah, aku bahkan tidak mengejarnya kembali. Kini setelah dia berkeluarga, aku sangat menyesalinya. Dia menikah dengan sahabatku juga. Seandainya jika dia menikah wanita lain yang bukan sahabatku, aku akan meminta dia kembali. Apapun caranya. Dan itu terjadi 3 tahun yang lalu.

Kini, aku telah bisa menerimanya. Aku yang sekarang telah sadar seutuhnya. Dan aku tidak akan mengulang cerita yang sama. Untunglah, bersama teman-temanku disini terutama Gina dan Andy yang selalu memberi nasehat, aku mempunyai syarat-syarat dalam menentukan pasanganku kelak. Dan syarat itu adalah dia harus menerimaku apa adanya dan mencintai DIA lebih dariku. Yup, itulah syaratnya. Tidak ada embel-embel. Tidak perlu kaya. Tidak perlu tampan luar biasa. Yang biasa-biasa saja. Asalkan cintanya padaku melebihi segalanya.

Saat bercanda-ria, kulihat seorang tamu masuk kecafe kami. Pria yang sudah tidak asing lagi. Pria yang tidak akan pernah kulupa dalam kepalaku. Pria yang selalu terbayang dikepalaku. Pria yang tampan dihadapanku. Ya, pria ini adalah tamu yang kuberi “makan” pada jas putihnya. Pria yang ku buat “malu” karena kecerobohanku. Aku langsung jadi gugup. “Mengapa begitu banyak café yang bisa dimasuki dia malah memilih café ini?”, tanyaku dalam hati. Gina menyadari kegugupanku. Dia langsung menghampiri pria itu dan melayaninya. Aku hanya mematung. Aku bingung. Tapi bukankah itu sudah dulu sekali kejadianya? Dan kenapa jantungku berdebar-debar? Kenapa aku merasa wajahku memanas? Kenapa aku dag dig dug? Apakah aku ketakutan,? Ataukah aku sakit? Ataukah…

“Terimakasih”, kata pria ini saat hendak meninggalkan café tempat aku bekerja. “Sungguh pelayanan yang memuaskan”, sambungnya. Setelah itu pria ini pergi melalui pintu didepanku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya diam membisu. Hatiku masih deg-degan. Tiba-tiba aku tersadar. Aku lupa mengucapkan terimakasih pada pria ini. Sudah menjadi ciri khas café tempat aku bekerja bahwa setiap pelanggan yang sudah mencicipi hidangan kami dan hendak pergi, kami diharuskan mengucapkan terimakasih dan mengantar sampai kedepan pintu. Tapi sekarang aku lupa melakukannya.

Gina dan Andy menghampiriku. Mereka memang tidak tahu apa yang kupikirkan. Tapi perasaan mereka tersampaikan. Mereka simpati padaku. Setelah pulang kerja dan berganti shift dengan teman-teman jam kerja malam. Andy dan Gina mengajakku ketaman. Disana aku menceritakan semua pengalamanku. Aku mengatakan bahwa aku merasa sangat tidak enak dan menyesal sekali atas kejadian yang dulu. Dan sekarang pun saat melihat pria ini akupun merasa sangat tidak enak. Mungkin dia sudah tidak mengingatku lagi, tapi memory kepalaku sangat jelas mengingatnya.

Yang paling kutakutkan dan selalu menghantuiku adalah bagaimana dengan wanita itu yang dulu bersamanya? Apakah mereka masih jadian ataukah sudah putus? Jika putus karena aku, aku tak akan memaafkan diriku. Karena kecerobohanku aku harus memisahkan mereka. Malam itu kuceritakan semua pada kedua sahabatku ini. Dan tahukah kalian, malam itu aku menanggis. Ternyata berbulan-bulan lamanya aku memendamnya, tak bisa mengobati semua. Malam itu aku menanggis dan lega rasanya. Gina memelukku dengan hangat. Andy hanya membelai kepalaku. Aku sangat berterimakasih bisa mengenal mereka.

Keesokkan harinya, aku bangun dengan keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Aku merasa lebih segar. Mungkin karena beban yang selama ini kupendam telah hilang. Ya, perasaan yang sendiri aku tidak sadari. Perasaan yang kusimpan karena tidak ingin berbagi. Kini, semua menjadi lega. Aku berangkat kerja dengan semangat baru. Lalu bagaimana dengan perasaanku yang kemarin waktu melihatnya? Aku yakin itu perasaan deg-degan karena aku takut menemui pria itu. Aku berdebar-debar karena memoriku teringat hal yang seharusnya kulupakan. Ya, itu hanya perasaan takut. Apakah benar begitu?

Saat hendak sampai dicafe tempatku bekerja, kulihat Gina berdiri didepan pintu. Wajahnya terlihat agak tegang. Aku mempercepat jalanku. “Ada apa sayang? Kamu sakit ya?”, tanyaku agak cemas. Gina hanya menggeleng kepalanya. Lalu dia memberiku isyarat melihat kedalam café kami. Demi Tuhan, pria itu duduk didalam sambil menikmati secangkir kopi. Aku langsung berkeringat dingin. Mengapa pria ini datang lagi? Berbagai pikiran merasuki kepalaku. Sebenarnya aku tidak takut lagi pada pria ini. Tapi perasaanku sangat tidak enak jika harus melihat dan mengingat kenangan “makan” dulu.

“Selamat pagi Michelle”, sapa pria ini padaku saat kulewat didepannya. “Selamat pagi juga tuan”, kataku bersikap sesopan mungkin. Pria ini hanya tersenyum, kemudian dia mencicipi roti khas dan kopi café tempatku bekerja. Michelle? Aku baru sadar. Kok dia bisa tahu namaku. Padahal aku kan belum memakai name tag didadaku. Aku hanya bisa berpikir bahwa teman-teman kerjaku yang memberitahukan padanya. Ya sudahlah, asal dia tidak mengingat aku yang dulu itu sih tidak apa-apa.

Beberapa bulan telah berlalu. Pria ini menjadi langganan setia tempat café aku bekerja. Setiap hari dia datang, dan ajaibnya semua teman-temanku sangat menyukainya. Mereka berkata pria ini ramah sekali. Tampan. Penuh canda. Pemurah dan tahukah apakah bagian terbaiknya? Dia masih single. Semua karyawati disana tergila-gila padanya. Tapi aku malah berkeringat dingin makin jadi. Kenapa? Berarti dia putus dengan wanita cantik yang memberiku hadiah berkas dipipi?

Aku jadi serba tidak enak saat itu. Seandainya aku tidak mendengar hal itu aku mungkin masih bisa berpura-pura tidak tahu. Tapi telinga ini selalu ingin mencari tahu. Harus kuakui pria ini memang seperti yang dikatakan teman-temanku. Orangnya ramah dan baik. Tapi aku dan dia ada “kisah” dulu yang membuatku tidak berani mengangkat kepalaku didepannya. Bahkan sampai hari ini sejak dia menjadi langganan café ini, aku hanya sekali melayani pesanannya. Selebihnya hanya Gina atau Andy yang menggantikanku.

“Maukah nanti kau menemuiku ditaman didepan kota nanti sore?”, Tanya pria ini. Aku berdiri kaku. Mulutku mengangga. Mataku tak berkedip. “Mati aku”, kataku dalam hati. Tapi anehnya aku malah meng-iyakan padanya. Harus kuakui, aku terpesona pada senyumannya. Memalukan. “Kalau begitu aku tunggu kamu disana ya”, katanya sambil berlalu pergi. Gina dan Andy hanya terdiam. Mereka sama bingungnya denganku. Andy mengatakan padaku mungkin dia ingin lebih mengenalku.

5 menit lagi jam menunjukkan jam 5. Aku jalan sana-sini tak karuan. Aku ingin segera pulang. Tapi aku harus menemui pria ini. Lagian aku sudah janji. Setelah berpamitan pada Gina dan Andy, aku langsung meluncur ketaman kota. Ya, aku mengambil keputusan. Ini harus diselesaikan walaupun hasilnya mungkin akan terasa menyakitkan. “Aku sudah siap diceramahin habis-habisan”, kataku pada diriku sendiri. Aku juga harus bertanggung jawab jika dia dan wanita cantik itu berpisah. Karena aku yakin aku penyebabnya.

Sampai ditaman aku mencoba mencari pria ini. Kulihat seorang pria dewasa duduk dibangku dekat pohon yang rindang. Aku langsung tahu itu dia. Kulihat dia asyik membaca. Rambut pirangnya tertiup angin melambai kecil. Senyumnya sangat indah. Aku begitu terpesona. Walaupun untuk sesaat. “Selamat sore tuan”, sapaku pada pria ini. “Oh..selamat sore Michelle, aku tidak tahu bahwa kamu telah datang. Maafkan aku”, jawabnya sopan sambil tersenyum. Biru langit matanya membuatku luluh. Lalu aku dipersilakan duduk disampingnya.

Jam dinding menunjukkan jam 9 malam. Malam ini aku deg-degan tidak bisa tidur. Aku terlalu bahagia. lho? Kok? Ya, sore itu aku menghabiskan waktu bersama pria ini berbincang-bincang semuanya. Dari kerja, hobi, film favorit, makanan kesukaan dan sebagainya. Tapi tidak pernah dia menyinggung tentang kejadian yang dulu. Kami malah menjadi akrab. Untuk sementara aku melupakan semua kejadian dulu itu. Aku benar-benar bahagia malam ini. Hatiku berbunga-bunga. Inikah perasaan jatuh cinta? Ya, jawabku sendiri.

Kisah kami berlanjut menjadi status pacaran. Gina dan Andy memberiku selamat. Mereka bahkan hampir tidak percaya kalau aku bisa jadian sama pria ini. Kami bertiga malah merayakannya dicafe tempat kami bekerja. Aku juga hampir tidak percaya. Pria yang pada awalnya selalu ingin kuhindari, sekarang malah jadi pria yang paling sering kuceritakan dengan penuh bangga diri. Aku sangat bahagia bisa jadian dengannya. Sepertinya dunia hanya milikku seorang dan dia. Tapi kebahagian yang kurasakan ini ternyata hanyalah angan-anganku semata. Dan itu baru kusadari sejak dia mengajakku makan malam disebuah restoran mewah.

“Halo sayang, apakah kamu sudah siap?”, Tanya kekasihku disana saat menghubungi HP ku. “Iya sayang, aku sudah siap. Jemput aku dong”, jawabku manja. “Aku sudah didepan pintumu kok dari tadi”, balasnya ramah. Aku langsung berlari menuju pintu depan untuk membukakan pintu. “Wah…kamu cantik sekali sayang”, katanya padaku. “Dan aku punya hadiah untukku”, sambungnya. Dikeluarkannya sebuket mawar merah dari belakang tangannya.

“Waaa…cantik sekali, thank you sayang”, kataku sambil memeluknya. “Ups..hati-hati sayang, nanti mawar cintaku yang sedang mekar ini hancur berantakan loh”, katanya tersenyum padaku sambil mengecup pipiku. Ah, indahnya. Aku tidak peduli mawar itu hancur atau tidak. Yang aku peduli asal dia selalu disisiku. Aku terlalu jatuh kedalam pelukkan cintanya. Yang aku tahu aku tidak ingin berpisah dengannya. Bahkan dia mungkin tidak tahu betapa aku deg-degan menunggu kedatangannya.

Kupersilakan dia masuk. Lalu aku melanjutkan membereskan riasan mukaku. Aku jarang berdandan. Tapi demi pria ini aku berdandan secantik mungkin. Dan aku berdandan seseksi mungkin. Hanya untuk dia. Tapi tunggu dulu, bukan seksi yang mengumbar nafsu pria, tapi seksi dalam arti anggun. Biarpun aku mempunyai tubuh yang cukup kubanggakan, tapi bukan aku murahan mau memamerkan tubuh ini pada para pria hidung belang. Aku mungkin wanita kolot dizaman ini, tapi aku lebih memilih kolot tapi dihargai daripada seksi dinodai.

Kami akhirnya berangkat dengan mobil yang dikemudikan oleh kekasihku. Dalam perjalanan kami saling bercanda. Tidak jarang dia mencium tanganku. Aku sangat suka saat dia menciumku. Baik kening, pipi maupun tanganku. Karena kutahu itu cara dia mengungkapkan perasaannya padaku. Aku benar-benar bahagia malam itu. Tapi kebahagiaanku beransur-ansur memudar sejalan dengan mobil berhenti. Kami berhenti disebuah restoran.

Restoran ini mewah. Artistik. Dan restoran ini sangat kukenal baik. Baik penjaga pintunya. Baik tempat parkirnya. Baik pelayannya bahkan managernya. Ya, ini restoran tempat dulu aku bekerja. Restoran yang dulu kulakukan hal yang memalukan pada pria ini. Tapi kenapa dia membawaku kesini? Apakah dia tahu aku dulu bekerja disini? Rasanya tidak mungkin. Jika dia tahu kenapa dia membawaku kesini? Dan jika dia tahu dan membawaku kesini, apa maksudnya? Aku sangat deg-degan. Aku menebak-nebak. Tapi aku tidak tahu apa jawabannya. Pria ini mengajakku masuk. Aku terdiam sebentar. Tapi senyum ramahnya meluluhkanku. Demi dia aku rela melakukannya. Dan ternyata pilihanku kali salah…

“Selamat malam tuan, selamat malam nyonya”, sapa pelayan restoran mewah tempat aku dulu bekerja. Kulihat dia tersenyum padaku. Aku tidak tahu senyum apa itu. Apakah dia sedang kagum padaku yang dulu seorang pelayan sekarang menjadi se-elegan ini, ataukah senyum sinis karena seorang wanita yang hanya mengejar pria karena hartanya. Aku tidak tahu. Yang aku tahu jawaban kedualah yang paling sering dilontarkan orang jika melihatku malam ini.

“Kamu mau pesan apa sayang?”, Tanya kekasihku padaku. Aku tersenyum padanya. Aku berusaha setenang mungkin. Kuambil menu yang diberikan kekasihku. Aku sudah tahu apa daftar isi makanan dan minuman pada menu itu. Malah aku masih hapal. Kulirik kearah dapur restoran itu. Kulihat beberapa dari mereka sedang berbicara sambil menunjuk kearahku. Aku tahu apa yang mereka bicarakan. Dan aku tahu kalian pasti tahu maksudku. Seorang pelayan biasa direstoran bisa mendapatkan seorang pria tampan dan mapan? Whateverlah.

“Aku pesan yang ringan-ringan saja, sisanya minuman kamu yang pesan saja sayang”, kataku tersenyum manis pada kekasihku. Aku tidak mau tahu apa yang dipikirkannya. Bukankah masa lalu biarlah menjadi masa lalu? Yang penting sekarang pria ini, kekasihku sedang duduk dihadapanku. Dan seorang pria yang sangat baik. Aku mencoba mencari kesibukkan dalam pikirannku. Aku pura-pura baru pertama kali datang kerestoran ini. Tapi teryata tidak berhasil. Hampir semua pelayan disana aku kenal. Dan tentunya mereka juga kenal aku.

“Apakah tuan sudah memesan makanan kami?”, Tanya seorang pria muda disampingku. Usianya sekitar 30an. Orangnya tinggi. Berkumis. Matanya hitam legam. Tampangnya agak kaku. Rambutnya disisir kebelakang. Bahkan saking disisir dahinya terlihat lebar. Dia bernama Mr. Jacob. Bagaimana aku bisa tahu. Ya, dia mantan managerku. Dan aku tahu kenapa dia sendiri yang datang melayaniku. Dia pasti tidak percaya bahwa yang datang bersama pria ini adalah aku, aku yang dulu seorang pelayan biasa atau rendahan bisa mendapatkan pria setampan dimeja ini.

“Hmm…aku pesan makanan A direstoran ini. Dan dengan bahan terbaik”, kata kekasihku memulai memesan makanan. “Maafkan aku tuan, apakah tuan keberatan jika aku merekomendasikan makanan yang menjadi kebanggaan restoran kami disini?”, Tanya manager ini pada kekasihku. Jantungku berdegup kencang. Kata-kata inilah yang sering diajarkannya pada kami para pelayan saat ada tamu yang wah makan direstoran ini. Aku bukan takut apa yang akan ditawarkan manager ini. Tapi aku takut nama makanan yang dia akan sebut.

“Oh tentu saja aku tidak keberatan. Makanan apakah yang menjadi kebanggaan restoran ini?, Tanya kekasihku. Otakku berpikir keras. “Sayang, aku lebih suka salad dan anggur merah. Bagiku itu sebuah kombinasi yang baik. Lagian kamukan tahu bahwa aku suka menjaga pola makanku”, potongku sebelum kekasihku meng-iyakan makanan yang ditawarkan manager itu. Tanganku memegang erat jemari kekasihku. Aku berharap dia dapat mengerti maksudku.

“Iya juga ya, kamu kan paling tidak suka makan makanan berat saat sudah malam. Kalau begitu aku pesan seperti yang dipesan wanita cantik yang dihadapanku ini”, kata kekasihku tersenyum manis padaku. Aku agak lega dengarnya. “Maafkan aku lagi tuan, bagaimana tuan bisa tahu kalau makanan kebanggaan kami begitu kami banggakan jika tuan tidak memberi kesempatan pada diri tuan untuk mencicipinya? Bukankah tuan sudah datang dan alangkah indahnya jika tuan bisa mencicipi makanan kebanggaan kami disini dan saat ditanya teman-teman tuan, tuan akan dengan mudah menjelaskannya bukan?!”, kata manager ini.

Aku terkejut. Belum pernah aku mendengar mantan managerku ini begitu ngotot untuk merekomendasikan makanan kepada para tamu. Seingat aku dulu masih bekerja direstoran ini, malah dia selalu meminta kami agar jangan menawarkan makanan lain selain yang diminta para tamu. Tapi kenapa malam ini dia melakukan itu? Hatiku mulai kacau. Pikiranku mulai bermain dengan pertanyaan dan jawaban. Walaupun aku tidak ingin memikirkannya, tapi aku telah cukup lama mengenal mantan managerku. Dan aku tahu dia merencanakan sesuatu.

Aku tahu mungkin aku yang berpikir terlalu jauh. Apapun yang direncanakan manager ini pasti tidak mungkin sampai mempermalukan tamunya. Aku akui dulu aku memang sempat “mempermalukan” kekasihku ini saat aku masih pelayan restoran ini. Tapi aku melakukannya bukan dengan sengaja. Tapi manager ini? Aku tidak tahu. Aku hanya berusaha menepis semua pikiran negatifku. Hanya saja aku telah mengenal manager ini. Jika aku baru pertama kali kesini mungkin tidak akan terbesit pikiran ini.

“Baiklah aku pesan makanan yang kamu maksudkan itu satu untukku. Sedangkan untuk kekasihku berikan dia salad dan anggur merah terbaik”, kata kekasihku pada manager itu. “Dengan senang hati tuan”, kata manager restoran itu sambil tersenyum kepadaku. “Anda sungguh beruntung bisa mendapatkan wanita yang sangat cantik ini”, sambung manager itu pada kekasihku. “Terimakasih, dia memang wanita yang sangat cantik”, kata kekasihku sambil mengenggam tanganku dengan senyumnya yang termanis. Aku juga membalas senyumannya. Dengan senyum yang termanis. Tapi hatiku meringis.

Detik demi detik berlalu. Aku begitu tegang. Karena terbiasa harus memendam perasaanku, kekasihku tidak menyadari tingkahku yang mulai berubah. Aku berusaha menyembunyikannya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kami berbincang-bicang. Tapi aku sama sekali tidak bisa focus pada apa yang kami bicarakan. Pikiranku selalu mencari jawaban apa yang hendak akan dilakukan oleh manager itu. Dan mengapa dia melakukan itu?

Kulirik kearah dapur restoran. Kulihat belum ada yang keluar membawa makanan. Aku masih bisa bernapas lega sedikit. Setidaknya aku bisa menenangkan diriku sampai makanan yang dipesan itu diantarkan kemeja kami. Dalam hati aku berdoa kepada-Nya. Semoga apa yang kupikirkan tidak terjadi. Semoga Tuhan menghapuskan semua pikiran negatifku saat ini. Aku berdoa dengan sangat sepenuh hati malam itu. Padahal biasanya aku hanya berdoa kalau kerumah-Nya.

Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara seorang pria, “Permisi tuan dan nyonya, makanan anda telah siap”, kata pria ini. Aku tahu siapa dia. Dia Kenny. Pelayan pria yang paling tampan direstoran ini dan juga pria yang paling playboy yang pernah kukenal. “Ini adalah makanan kebanggaan kami direstoran ini. Saya jamin tuan dan nyonya tidak akan melupakan makanan ini setelah mencicipinya. Terutama nyonya”, kata Kenny sambil melihat kearahku. Aku tahu maksud Kenny “tidak akan melupakan”. Dan bagaimana aku bisa melupakan kejadian itu? Kami duduk dimeja yang sama. Kami disuguhkan makanan yang sama. Dan kami dilayani seorang pria yang dulu melayani kekasihku ini juga sama. Semua kejadian dulu yang hendak kuhapus lalu kembali dengan jelas dikepalaku.

“Hmm..aromanya sungguh nikmat. Aku rasa apa yang dikatakan pria itu benar”, kata kekasihku padaku. Pria ini, pria yang dulu kubuat “makan” dengan jasnya begitu menikmati hidangan dimejanya. Apakah benar dia telah melupakan kejadian memalukan dulu direstoran ini? Apakah benar dia sama sekali tidak mengingatku? Apakah hanya begini saja yang terjadi? Aku sejujurnya ragu dengan semua ini. Tapi seperti kataku tadi. Masa lalu biarlah jadi masa lalu. Aku pun mencoba menikmati malam kencan pertamaku dengan hati yang sangat tegang.

Yang paling kutakutkan adalah menu “special” yang belum keluar. Makanan “special” yang dulu kutumpahkan pada pria dihadapanku ini. Aku deg-degan. Apakah mereka akan sengaja menumpahkan itu padaku? Lalu aku tersadar. Jangan-jangan mereka ingin membalas apa yang kulakukan dulu. Dan akan dibalas padaku. Aku langsung jadi panik. Aku berusaha tenang agar kekasihku tidak curiga. Kulihat kiri dan kanan untu melihat apakah ada sesuatu yang akan membuat pelayan “tersandung” seperti dulu kualami. Dan ternyata tidak ada.

Kulihat seorang pelayan datang kearah wajah kami. Dia membawa makanan “special” itu. Aku semakin tegang. Aku meletakkan garpu dan sendokku. Aku bersiap-siap jika sipelayan “tersandung” dan menumpahkan makanan itu padaku. Dan saat hampir dimeja kami. Pelayan itu benar-benar tersandung. Keseimbangannya goyang. Makanan yang dibawanya langsung bergetar. Aku yang melihat hal itu tak bisa bergeming. Bukan karena aku takut, tapi aku terlalu tegang. Dan…

“Maafkan aku nyonya, apakah nyonya tidak apa-apa?”, Tanya pelayan itu padaku. Baki dan makanan itu berhenti tepat dimukaku. Aku hanya bisa melonggo melihat pelayan itu. “Untung ini tidak jatuh, kalau jatuh aku tidak akan memaafkan diriku”, sambung pelayan ini. Ternyata makanan itu tidak tumpah. Dia hanya kehilangan keseimbangan kecil saja dan ini sudah sangat biasa. hanya saja dimataku dia terlihat seperti berdiri dipinggiran kapal yang diterpa ombak. Tanganku gemetaran. “Tidak apa-apa”, jawabku pada pelayan itu. Kekasihku melihatku sambil tersenyum.

Malam itu kulahap saladku dengan puas. Aku begitu lega. Ternyata apa yang aku takutkan tidak terjadi. Mana mungkin mereka begitu picik hendak membalas aku yang dulu tidak sengaja melakukannya?. Aku merasa lega sekali. Kekasihku yang melihat perubahanku merasa aneh dan bertanya. Aku hanya menjawab bahwa aku sangat senang malam ini bisa kencan dengannya. Kupuja dia bagaikan malaikat yang turun dari surga. Benarkah aku benar-benar memujanya. Ya. Hanya bedannya aku lebih memujanya karena hatiku lega. Selama sejam lebih kami disana menikmati malam yang sangat indah.

Akhirnya jam menunjukkan jam 8 kurang 10 menit. Aku mengajak kekasihku pulang. Lagian direstoran itu sudah ramai. Dan seingatku jam beginilah jam yang paling ramai. Saat hendak bangun dari kursiku. Kulihat manager restoran ini datang kearah kami. Aku sudah tidak curiga lagi pada mantan managerku. Kusambut dia dengan senyuman. Mungkin senyuman paling manis yang pernah dia lihat dariku. Tapi tidak apa-apa. Kuberikan padanya gratis karena dia telah memperlakukan kami baik. Tentunya menurut versiku.

“Para hadirin yang terhormat, merupakan sebuah kebanggaan anda bisa hadir disini. Dan malam ini adalah yang sangat special, karena kami pihak restoran ini baru saja memilih pasangan termesra pada malam ini, dan pasangan itu adalah mereka”, kata manager ini sambil menunjuk kearah kami. Aku sangat terkejut. Ada apa ini? Semua tamu direstoran itu bertepuk tangan sambil melihat kearah kami. Aku tidak tahu maksudnya apa. Yang pasti aku senang bercampur bingung.

“Sebagai hadiahnya, kami akan menyuguhkan makanan terbaik restoran kami ini. Dengan kualitas terbaik. Dengan anggur terbaik. Dan pelayanan terbaik”, sambung manager ini sambil diikuti suara tepuk tangan bangga. Ya, restoran ini memang menyediakan makanan yang sangat special. Maksudku benar-benar makanan dan minuman kelas elite. Hanya beberapa orang yang mampu menikmatinya. Bukan karena harganya, tapi memang sengaja dibuat sedemikian rupa. Dan malam ini aku akan mencicipinya? Bermimpipun aku tidak menyangka.

Kekasihku melihat kearahku. Kami berdua tersenyum. Aku yang tadi bingung jadi senang sekali. Ada apa ini tanyaku? Saat pertama kali masuk aku malah curiga pada semua perlayanan mereka, sekarang aku malah sangat menikmantinya pula? Memang harus kuakui sepertinya aku telah terlalu menaruh curiga dan menjaga diri terlalu jauh. Buktinya tidak terjadi apa-apa. Malah kami mendapatkan perlakuan dan pelayanan kelas VIP. Hebat bukan. Sayangnya aku terlalu senang sehingga alarm hatiku yang mengingatkanku tak kugubris.

Kulihat seorang pelayan wanita berpakaian khusus datang mengantarkan makanan kami. Dibelakangnya diikuti seorang wanita muda membawa 2 botol anggur terbaik. Aku mengenggam tangan kekasihku. Aku begitu bersemangat. Kekasihku memeluk pundakku. Lalu dikecupnya keningku. Aku sangat bahagia. lalu mataku tiba-tiba melihat sebuah pemandangan yang sudah tidak asing lagi. Pelayan didepan yang membawa makanan VIP itu tersandung. Dia kehilangan keseimbangan. Apakah aku melihat ilusi lagi. Apakah aku terlalu memikirkannya lagi. Suara piring pecah dan suara orang jatuh menjelaskan semuanya.

PRRANGGG!! BRUUKK….

Kurasakan lelehan cairan kuah makanan yang mengalir diwajahku. Kurasakan juga gaun malamku basah oleh makanan itu. Pecahan piring pecah masih kudengar. Aku duduk kaku. Tidak bergeming sedikitpun dari tempat aku duduk. Kuambil lap meja lalu kubersihkan gaunku. Semua mata memandang kearahku. Semua diam. Hanya suara detak jantungku yang berdegup dengan keras. Dug dug dug. Aku mendengar sangat jelas pekikan jantungku. Bagaimana perasaanku? Aku rasa tidak perlu aku jelaskan.

Kuambil sapu tangan dari tasku. Lalu kulap mukaku. Seumur-umurku aku tidak pernah diperlakukan begitu. Separuh usiaku belum pernah aku dipermalukan seperti malam itu. Aku merasa sangat dan sangat malu. Aku rasanya ingin berlari. Ingin berteriak. Ingin memaki. Tapi entah kenapa mulutku terkunci. Detik-detik jam dinding terasa sangat lama. Kulihat kearah pelayan tadi yang menjatuhkan makanan itu padaku. Harus kuakui, aku malam itu sangat emosi.

Pelayan wanita itu langsung meminta maaf padaku. Kulihat matanya sampai berkaca-kaca hendak menanggis. Dia terus meminta maaf sambil membungkukan badannya. Aku tetap tidak bergeming. Lalu kulihat manager itu berlari kecil kearahku. Terlihat mukanya terkejut. Lalu dia meminta maaf juga padaku. Kemudian manager ini marah pada pelayan ini. Semua kata-kata yang tidak pantas diucapkan dikeluarkan dan ditujukan pada pelayan wanita ini.

Aku masih duduk tidak bergeming. Kekasihku juga duduk diam. Aku sudah tidak peduli apa yang akan dia lakukan padaku. Aku juga tidak tahu kenapa dia tidak marah pada pelayan itu ataupun menghiburku. Ataukah dia terlalu takut untuk melakukan itu? Ataukah dia bingung dengan kejadian itu? Aku tidak peduli lagi. Kulihat kembali wanita muda ini. Kulihat dia sekarang mulai menanggis. Lalu aku berdiri. Aku berjalan kedepannya. Tanganku kukepal dengan erat. Aku begitu malu dan marah.

Tanpa pikir panjang ku naikkan tanganku. Ku raih wanita muda ini. Kutarik dia kearahku. Samar-samar kuterbayang kembali kisahku dulu yang persis dengan wanita muda ini. Bedanya aku yang jadi pelaku. Wanita muda begitu takut saat kutarik. Lalu, kupeluk dia. “Ssttt….jangan nanggis lagi. Aku tidak apa-apa kok. Jangan nanggis lagi ya. Malu tu dilihat orang banyak”, hiburku pada wanita muda ini.

Lho? Mungkin kalian bertanya kenapa aku bisa bersikap begitu? Apakah aku tidak ingin melampiaskan kemarahanku? Apakah aku tidak ingin menuntut tanggung jawab pada pemilik restoran itu? Ya aku mau. Tapi entah kenapa tubuhku justru melakukan yang sebaliknya. Yang kutahu aku sudah memeluk pelayan ini dan aku menghiburnya. Padahal yang perlu dihibur itu aku. “Maafkan aku nyonya, maafkan aku… aku tidak sengaja. Tadi aku tersandung sesuatu. Aku benar-benar sangat menyesal”, kata pelayan muda ini.

“Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti kok. Aku juga tidak marah lagi, jadi hapus air matamu ya”, kataku sambil menghibur wanita ini. “Dan maafkan aku, bajumu kotor oleh gaunku”, lanjut aku sambil melepaskan pelukan pada wanita ini. Dia mulai kelihatan lebih tenang. Tapi managernya tetap memarahinya. Kuberi tanda pada manager itu bahwa aku tidak apa-apa. kuminta manager itu untuk tidak mempermalukannya didepan tamu lainnya. Kulihat wanita ini. Kulihat name tagnya. Tertulis nama Windy.

“Windy.. jangan menanggis lagi ya. Aku tidak apa-apa. Karena gaunku kotor, aku ingin segera pulang membersihkannya. Nanti kalau kelamaan nodanya bisa melekat. Maafkan aku karena tidak sempat mencicipi makanan yang kau bawa dengan susah payah tadi”, kataku pada Windy pelayan wanita muda ini. Kulihat dia masih sangat sedih. Wajar saja. Dia telah melakukan hal yang memalukan. Bagi dirinya sendiri dan juga tamunya, dan itu aku. Dan yang lebih memalukan lagi, kejadian ini terjadi disaat para tamu lainnya matanya sedang tertuju padaku.

“Maaf sayang, sepertinya aku harus pulang sekarang. Kamu tidak perlu menemaniku. Nikmati makan malam special yang disediakan oleh restoran ini. Aku tidak apa-apa. aku bisa naik taksi nanti”, kataku pada kekasihku sambil berusaha tersenyum. Lalu kuambil tasku dan berjalan kepintu keluar. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku saat berjalan langkah demi langkah kepintu itu. Semua mata memandangku dengan tatapan geli. Kudengar ada tawa-tawa cekikikan kecil saat aku berlalu. Bahkan beberapa tidak sungkan-sungkan memotretku.

Aku berharap kekasihku akan datang mengejarku. Tapi harapan itu sia-sia. Tak kudengar suara langkah kakinya datang mengejarku. Apapun yang terjadi malam itu aku benar-benar hancur. Dipermalukan. Direstoran yang sama. Bahkan kekasihku pun tidak mengejarku. Sudahlah, semua telah terjadi. Malam itu aku pulang dengan membawa malu dipundakku. Aku pun menerimannya dengan berbesar hati. Ya, ini mungkin karma yang harus kuterima. Hanya saja kenapa kekasihku juga termasuk didalamnya? Dulu wanita yang diajaknya kupermalukan. Sekarang aku juga mengalami hal yang sama dengan pria yang sama pula.

“Mau kemana nona?”, Tanya supir taxi padaku. Aku hanya diam. “Nona, anda mau kemana?”, Tanya sopir taxi itu lagi padaku. Kulihat padanya. “Bawa aku berkeliling ditaman selama satu jam. Setelah itu antar aku kealamat A”, kataku pada sopir itu. Ya, aku tidak ingin pulang dulu. Aku ingin menenangkan diriku dulu. Aku begitu capek dengan semua yang barusan terjadi. Pikiranku sangat kacau. Bau dan noda pada tubuhku aku sudah tidak peduli lagi. Aku bahkan tidak peduli apa yang dipikirkan supir ini. Yang aku tahu aku hanya ingin merehatkan pikiranku untuk sejenak. Satu jam sudah cukup.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku hanya menanggis diatas tempat tidurku. Aku sebenarnya bukan wanita yang mudah meneteskan air mata. Tapi malam itu mataku ternyata mempunyai perasaannya sendiri. Mereka menanggis untukku. Aku juga mematikan HP ku. Aku tidak ingin diganggu siapapun. Siapapun juga, termasuk kekasihku. Mungkin lebih tepat mantanku. Disaat aku paling memerlukan dia, dia malah sama sekali tidak menemaniku, bahkan tidak menggubrisku. Kenanganku langsung teringat pada mantanku dulu. Dia begitu peduli padaku. Jika dia masih ada, sekarang dia sudah disampingku sambil memgelus kepalaku. Sambil mengecup keningku. Bahkan mungkin ikut menanggis denganku.

Tapi kebodohankulah yang menyebabkan dia pergi. Aku yang meninggalkannya karena berbagai alasan duniawi. Kini, aku baru mengerti arti keberadaan orang yang paling dicintai. Aku rasanya ingin menelpon dia dan minta dia datang padaku. Tapi bagaimana mungkin? Dia sudah berkeluarga. Dan istrinya adalah sahabat baikku. Jika sahabatku mengijinkan, dia pun tidak mungkin datang sekarang. Karena jarak kami terpisah ratusan mil. Aku hanya menyesali semuanya. Dan aku berpikir kekasih yang ini meninggalkanku mungkin juga karena karmaku dulu. Aku memang pantas menerimanya.

Paginya kubangun dengan lingkaran hitam dimata. Semalaman aku tidak tidur dan hanya menanggis. Pagi itu bagiku merupakan pagi terberat dalam hidupku. Rasanya aku ingin meminta ijin untuk tidak masuk kerja. Tapi aku bukan tipe wanita seperti itu. Dengan sangat berat dan terpaksa. Ku raih baju seragamku lalu berangkat bekerja. Rambutku kurapikan seadanya saja. Aku tidak memikirkan lagi perutku yang kosong berbunyi minta diisi. Kulangkah kecafe aku bekerja dengan mendung dikepalaku.

Sambil berjalan ketempat kerjaku, aku berharap tidak ada yang menyadari perasaanku. Aku berusaha mencoba tersenyum semampuku. Tapi ternyata sangat susah. Sekarang dalam kepalaku adalah aku berharap pria yang kupuja, malam sebelumnya, kekasihku, agar tidak datang kecafe itu. Saat dihadapan pintu café, ku lirik kedalam, ternyata dia tidak ada. Aku sedikit lega. Lalu kuambil napas panjang. Kuhembuskan.

“Selamat pagi Gina, Selamat pagi Andy”, sapaku berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku tidak ingin mereka cemas akan keadaanku. “Selamat pagi sayang”, kata Gina sambil memelukku. “Sayang kenapa dengan matamu? Apakah…”. Aku tahu apa yang hendak Gina tanyakan lalu kupotong pertanyaanya. “Iya nih aku menanggis say, gara-gara aku nonton film A itu. Sedih banget. Aku tersentuh sekali. Aku malah masih menanggis jika mengingatnya”, kataku sembarangan. Gina hanya tersenyum melihatku. “Dasar, aku kira kau menanggis karena ada masalah dengan kekasihmu”, kata Gina. Yup. Tepat sekali.

Sebulan telah berlalu. Pria yang kupuja tidak pernah hadir lagi dicafe tempatku bekerja. Gina dan Andy juga heran. Awalnya aku bisa berkilah bahwa dia sedang dapat tugas kerja diluar kota. Tapi sebuah kebohongan yang dibuat dan dijaga sebagaimana rapipun pasti tercium juga. Dan dengan desakan dari Gina kuceritakan semuanya. Semuanya tanpa terkecuali. Dari kejadian direstoran sampai aku menanggis semalaman. Gina yang memang tipe wanita yang perasa, langsung memelukku sambil menanggis. Aku tidak perlu kata-kata apapun dari dia. Sebuah pelukannya telah sangat kunantikan. Dan, aku pun menanggis juga.

Malam itu, sehabis pulang kerja Gina membatalkan semua acaranya. Andy meminta maaf tidak bisa menemaniku karena telah berjanji kepada putrinya untuk jalan-jalan. Dan dia memintaku menghubunginnya jika perlu apa-apa. Aku meng-iyakan. Aku malah sangat berterimakasih padanya atas perhatiannya. Gina membawaku berjalan-jalan malam itu. Dia benar-benar menjadi sahabatku yang paling kusayang. Padahal malam itu Gina hendak kencan dengan pacarnya, tapi melihat aku yang masih sedih dia malah membatalkannya. Dan luar biasanya, pacarnya malah mendukungnya. Aku sangat bersyukur Gina menemukan pria yang baik.

Malam itu kami tertawa bersama-sama. Ternyata aku baru tahu bahwa Gina walaupun orangnya perasa, tapi supel juga. Temannya banyak sekali. Dari remaja, dewasa sampai mereka yang tua. Cara Gina memperlakukan orang lain sangat ramah. Aku kira dia lakukan selama ini ditempat kerja karena tuntutan semata, tapi mataku dibuka malam ini oleh sikapnya. Itu bukan dibuat-buat, tapi memang pribadi Gina yang sebenarnya.

Akhirnya aku mengerti mengapa Gina mendapatkan pria yang baik. Dia sebenarnya bukan mendapatkan pria yang baik, tapi dialah yang menarik pria baik itu. Sikapnya yang peduli terhadap sesama, menarik pria yang berpikiran dan berpribadi sama. Dia menghargai dirinya sendiri sehingga orang lainpun menghargai dirinya. Dia menerima orang lain tanpa syarat apapun, maka orang lainpun menerima dia tanpa syarat apapun. Akhirnya aku mengerti mengapa dulu aku meninggalkan pria yang sangat kucintai dulu, ternyata bukan karena aku yang meninggalkannya, tapi akulah yang membuatnya meninggalkanku.

Bertahun-tahun aku menyesali kepedihan hatiku. Tapi hanya dalam satu malam aku menyadari semua itu. Aku dulu selalu mencari pria yang sempurna untukku, tapi aku lupa justru semakin aku mencari yang sempurna semakin yang lain juga menilaiku apakah aku sempurna bagi mereka. Aku ingin mencari yang kaya, mereka pun berpikir apakah bersamaku mereka masih bisa kaya. Aku ingin yang mencari lebih baik, merekapun berpikir apakah aku ini baik. Aku selalu mencari yang sempurna dan aku menghindari yang tidak kuinginkan. Tapi justru aku menarik apa yang tidak kuinginkan. Maka aku diberikan yang tidak kuinginkan. Padahal DIA telah memberiku seseorang yang hendak dijadikan oleh-Nya sebagai belahan jiwa, tapi karena aku menolaknya DIA memberikan pada sahabatku yang menghargainya.

Malam ini aku sadar, sebenarnya jodoh kita kadang kita yang tentukan juga. Tapi tentu harus dengan ijin-Nya juga. Kadang kita telah menemukan jodoh kita, sayangnya kita sendiri pula yang menolaknya. Maka karena DIA melihat kita tidak menginginkannya, maka DIA memberikan pada yang lain menginginkannya. Sekarang aku mengerti juga, mengapa ada beberapa yang telah sekian tahun berkeluarga kenapa harus berpisah akhirnya, karena sebenarnya pria itu bukan jodohnya, tapi dipaksakan karena sering mendengar pujian dunia. Dan aku menyadarinya juga, jodoh itu bukan setelah kita menikah, tapi bisa tetap bersama hingga akhir usia.

Malam itu aku belajar banyak sekali. Aku berteman dengan anak-anak remaja. Aku bermain dengan teman-teman Gina dan aku juga berbagi cerita dengan para mereka yang tua. Dan disana aku mendapatkan sebuah nasehat yang akan kujaga seumur hidupku. Nasehat yang mungkin tidak terdengar indah bagi telinga lainnya. Tapi bagiku sangat menyentuh jiwa, katanya, “Kadang, kita sering beralasan bahwa dengan uang yang berlimpah, rumah mewah, mobil mewah kita pasti akan bahagia. Tapi ketahuilah kebahagiaan itu tidak diukur dengan semua benda. Apalagi yang bisa dibeli dan dicari dunia. Tapi kebahagiaan sebenarnya diukur dari batin kita. Itulah mengapa kadang kita melihat mereka yang tidak punya apa-apa kenapa bisa tertawa penuh pesona”.

Malam itu aku pulang dengan perasaan yang sangat lega. Aku berterimakasih pada Gina yang begitu peduli padaku. Aku sangat menyayanginya. Kami berpelukan erat sebelum berpisah. Malam itu, aku berdoa dengan sepenuh hatiku. Aku berdoa aku menyerahkan semua hidupku pada-Nya. Dan terjadilah sesuai kehendaknya. Tahukah kalian apa yang diberikan oleh DIA sebagai jawaban. Ternyata sangat indah.

Tidak terasa 6 bulan telah berlalu. Aku pun telah melupakan semua sedihku. Kulalui dengan penuh tawa. Kunikmati setiap waktu yang ada. Gina dan Andy juga berbahagia untukku. Mereka berkata aku sekarang terlihat lebih cantik dan manis sekali. Mungkin karena aku mengubah tatanan rambutku ataukah aku memang menjadi lebih cantik? Tentu saja tidak. Aku memang mengubah tatanan rambutku. Kuikat kebelakang dan kuatur poni depan rambutku. Yang membuatnya berbeda adalah aku mengubah suasana hatiku.

Ya, hanya sesederhana itu kok. Aku tidak melakukan ekstra atau tambahan dalam mempernak fisikku dan wajahku. Hanya hatiku yang diisi dengan lebih banyak ceria. Dan itu kusadari saat Gina menemaniku waktu malam itu. Bahkan sekarang dalam sebulan aku beberapa kali mengunjungi teman-teman lanjut usiaku hanya untk mendengar kisah mereka dan meminta nasehat yang bijak. Aku yang sekarang lebih menikmati hari. Aku yang sekarang lebih menghargai diri sendiri.

“Sayang, aku ingin mengenalkanmu pada seorang pria yang baik. Dan dia adalah cucuku satu-satunya. Aku yakin kalian pasti cocok”, kata Elisabeth padaku saat aku berkunjung kerumahnya. Aku hanya tersenyum sambil mengupas apel ditanganku. “Bagaimana? Apakah kamu keberatan?”, Tanya Elisabeth penasaran. Aku memberikan apel yang telah kukupas padanya. “Bagaimana aku bisa menolak semua yang kau tawarkan nyonya Elisabeth. Selama ini kau telah banyak membantuku dengan nasehat-nasehatmu”, kataku meng-iyakan.

“Tapi aku tidak bisa berjanji bahwa kami akan melanjutkan kejenjang berikutnya ya. Yang pasti aku berjanji akan berteman baik dengannya”, sambungku sambil memberikan kupasan apel lain padanya. Elisabeth hanya tersenyum. Manis sekali. Rambutnya yang putih seperti warna perak disiram sinar matahari. Bola matanya yang biru sangat mempesona. Kacatamanya yang tidak pernah lepas dari wajahnya menambah bijaksananya. Elisabeth adalah wanita yang masih sangat sehat diusia yang sudah lanjut. Matanya masih awas dan ingatannya luar biasa. Dan Elisabeth sangat menyukai apel.

“Dia akan mengunjungiku akhir bulan depan. Jadi aku harap kamu bisa datang pada saat itu”, kata Elisabeth sambil memegang tanganku. Aku tahu dia ingin aku memastikan bisa datang. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan mengangguk pelan. Aku sangat menyayangi wanita tua ini. Setiap permintaanya tidak bisa aku tolak. Tutur katanya sopan. Kata-kata penuh makna. Dan nasehat-nasehatnya selalu berdasarkan pengalamannya yang nyata.

Hari yang dijanjikan pun tiba. Aku berpakaian serapi mungkin. Rambutku kubiarkan terurai kebelakang. Aku memakai gaunku yang sederhana. Aku tidak ingin mempermalukan Elisabeth saat bertamu kerumahnya. Apalagi dia begitu mengharapkan kedatanganku dan tentunya mau memperkenalkan cucunya padaku. Sejujurnya aku masih belum kepikiran hendak untuk mencari pasangan dulu. Kalau bukan Elisabeth yang meminta, aku sudah tolak dengan halus pada awalnya. Kuambil syalku lalu aku pun melaju kerumah Elisabeth.

“Selamat malam nyonya Elisabeth. Apa kabarnya malam ini?”, sapaku sambil memeluknya. Dia sudah menungguku didepan teras rumahnya. “Kabarku sangat baik sayang. Maafkan aku ya sayang, aku disini menunggumu karena aku takut kamu berhalangan tidak datang. Tapi ternyata kamu malah datang lebih awal”, kata Elisabeth sambil tersenyum. Manis sekali senyumannya. “Bagaimana mungkin aku bisa tidak datang, halangan apapun kan kulewati untuk memastikan undanganmu”, kataku sambil bercanda. Kami sama-sama tertawa. Lalu Elisabeth mengundangku masuk kedalam.

Kami berbincang-bincang selama 30 menit lebih. Kami saling bercanda. Aku banyak mendengarkan kisahnya. Yang aku paling suka dengan kisah Elisabeth adalah kisah cinta waktu mudanya. Bagaimana dia bertemu pangerannya dan dikarunia anak-anak yang cantik dan tampan. Lalu bagaimana dia begitu sedih kehilangan pangerannya karena sakit yang dideritanya 2 tahun yang lalu. Tapi dari ceritanya aku bisa melihat bahwa Elisabeth mempunyai kehidupan yang sangat bahagia. dikaruniai putra-putri yang begitu peduli padanya dan cucu-cucu yang sangat menyayanginya.

Dari ceritanya aku menangkap bahwa Elisabeth sangat menyayangi cucunya yang hendak dia perkenalkan padaku. Semua dibanggakan olehnya. Aku ikut bahagia melihat Elisabeth yang begitu bahagia. Tawanya begitu lepas tidak dibuat-buat. Benar-benar tawa bahagia. lalu kudengar bel pintu depan berbunyi. “Itu pasti pangeran berkuda putih yang hendak kukenalkan padamu”, kata Elisabeth mengodaku. Aku hanya tertawa kecil. Kutawarkan diriku untuk membuka pintu.

“Ya, tunggu sebentar. Selamat ma…”, kata-kataku terhenti saat membuka pintu. Seorang pria berdiri didepanku. Orangnya tampan sekali. Matanya biru seperti Elisabeth. Ditangannya dipegangnya sebuket mawar merah. Dia tersenyum padaku. Senyum yang sangat indah. Aku terpaku. “Sayang, apakah pangeranmu sudah datang? Persilakan masuk dong, jangan terpesona seperti begitu ah”, kata Elisabeth padaku. Aku tetap membisu. Pria ini langsung masuk dan memeluk Elisabeth.

“Hai grandma, apa kabarnya. Makin cantik saja ni grandma”, kata pria ini mengoda Elisabeth. “Ho..ho..kamu tidak pernah berubah. Persis grandpa mu dulu”, balas Elisabeth sambil memeluk pria ini. Aku hanya melihat dari belakang sambil membisu. Dan bingung. “Oya, ini wanita yang ingin grandma perkenalkan. Namanya…”, belum selesai Elisabeth berbicara pria ini langsung menambahkan, “Michelle kan? Apa kabarnya”, Tanya pria ini padaku. Elisabeth sedikit terkejut.

“Kalian sudah saling kenal ya?”, Tanya Elisabeth tersenyum. “Iya, lebih dari kenal”, sambung pria ini. Aku bagaimana mungkin bisa melupakan pria ini? Dialah yang dulu mencuri hatiku. Dialah yang dulu selalu mengisi hariku. Dialah dulu yang selalu kuceritakan pada teman-temanku. Dialah yang juga dulu tidak mengubrisku saat aku dipermalukan direstoran itu. Dia adalah kekasihku dulu. Sekarang dia dihadapanku? Dan dia adalah cucu dari sahabatku? Aku benar-benar tidak bisa berkata apa.

Malam itu kami makan bersama. Kami bertiga saling bercerita. Pria ini sama sekali tidak menyinggung tentang restoran dulu. Dia menceritakan bahwa kami sempat berteman baik dulu. Aku berusaha mengimbangi pria ini. Aku masih kaku. Aku berusaha tenang agar malam Elisabeth tidak hancur oleh beribu-ribu pertanyaanku. Aku mencoba mengikuti irama obrolan mereka. Dan untunglah aku masih bisa menahan diri tidak melontarkan apapun pada pria ini malam itu.

Sekitar jam 10 malam, setelah aku membantu membereskan semua peralatan, aku berpamitan pulang. Elisabeth meminta cucunya untuk mengantarku. Aku awalnya menolak dengan beribu alasan, tapi aku tetap tidak bisa menolak permintaan Elisabeth. Akhirnya aku diantar pulang oleh pria ini. Kekasihku yang dulu. Kami berpelukan sebelum aku diantar kemobil pria ini. Aku mengucapkan terimakasih atas perhatian dan malam yang indah kepada Elisabeth. Lalu aku pun masuk kemobil pria ini.

Dalam perjalanan pulang, aku hanya terdiam. Banyak yang ingin kutanyakan. Mengapa dulu dia tidak mencariku. Mengapa dulu dia menghilang tanpa jejak, dan begitu banyak mengapa lainnya. Tiba-tiba pria ini berkata padaku, “Michelle, aku tahu banyak yang ingin kamu tanyakan padaku. Dan aku minta maaf karena aku tiba-tiba menghilang darimu sejak kejadian restoran itu. Tapi percayalah, aku bukan seperti yang kamu bayangkan”.

“Aku akan menjelaskan semuanya. Dan akan kujelaskan saat kita bertemu direstoran itu. Minggu depan. Malam jam 8. Dan aku akan menunggumu disana sampai kamu datang”, sambung pria ini padaku. Aku terkejut sekali. Apa-apan ini? Kenapa tidak dijelaskan sekarang saja? Kenapa harus minggu depan? Dan kenapa harus restoran itu pula? Aku rasanya ingin marah. Tidakkah dia sadar betapa aku malu akan kejadian itu? Dan tidakkah dia sadar, jika harus masuk kesebuah restoran, hanya restoran itu yang tidak ingin dimasuki. Apa dia pikir aku gila. Dan ternyata aku memang gila.

“Aku tahu kamu pasti sangat kacau pikiranmu saat ini. Tapi percayalah, untuk kali ini kamu akan mengerti semuanya. Tapi aku tidak bisa menceritakan sekarang. Direstoran itu kamu akan mengerti semua kenapa aku memintamu kesana. Dan aku mohon dengan sangat. Beri kesempatan padaku untuk membuktikannya”, kata pria ini sambil melihat padaku. Matanya terlihat sayu. Aku hanya diam tidak menjawab permintaanya. Karena aku sendiri juga bingung.

Seminggu itu hariku berlalu dengan tidak tenang. Kepalaku selalu mencari jawaban. Aku juga menceritakan ini pada Gina dan Andy. Mereka menasehatiku agar jangan kesana lagi karena mereka takut aku justru akan membuka luka lama. Awalnya aku setuju dengan mereka. Tapi kalau begitu bukankah aku akan selalu hidup dengan penasaran dengan semua yang terjadi bukan? Aku bingung. Bingung sekali. Seminggu itu terasa setahun lamanya.

Jam menunjukkan jam 7.20. Aku berdiri dikaca. Semua telah tertata rapi. Tapi hatiku masih berantakan tidak rapi. Aku ragu akankah aku pergi kerestoran itu? Apakah ini bukan pilihan yang salah? Apakah pria itu akan benar-benar menungguku? Apakah manager disana akan menertawaiku tidak malu? Apakah akan A? apakah akan B? apakah, apakah, apakah….Banyak sekali perkataan yang menghantui kepalaku. Ah, aku tidak ingin pusing dibuatnya. Aku yakinkan diriku pergi kerestoran itu. Apapun hasilnya aku harus tahu jawabannya.

“Nona, kita sudah sampai”, kata supir taxi padaku. Ya, aku juga tahu sudah sampai. Tapi kakiku gemetaran hendak turun dari taxi itu. Rasanya sangat berat hendak mengeluarkan kaki dari pintu taxi yang kunaiki. Dengan segala keberanian aku melangkahkan kakiku. Pintu utama restoran yang hanya 10 meter didepanku terlihat sejauh 1 km jauh. Aku berkeringat dingin. Apa yang akan dikatakan pelayan depan pintu nanti? Apa yang akan terjadi saat aku masuk restoran itu?

Lalu aku tiba-tiba membalikan badanku. Aku memutuskan pulang saja. Tapi setelah beberapa langkah kakiku terhenti. Aku sudah sampai sejauh ini. Bukankah lebih baik aku langsung masuk dan menyelesaikan semuanya lalu pulang. Setelah itu semuanya jelas bukan? Logikaku dan kata hatiku saling bertentangan. Lalu aku teringat kata-kata Elisabeth padaku. “Keberanian seseorang tidak dinilai bagaimana dia melakukan yang dia bisa, tapi bagaimana dia melawan ketakutan pada dirinya sendiri”. Akhirnya aku berjalan kepintu utama restoran.

“Selamat malam nona Michelle, aku sudah menunggu anda dari tadi. Mari saya antarkan nona ke meja anda”, kata pelayan depan pintu. Aku terdiam seribu bahasa. Bagaimana dia mengenalku? Dan yang lebih aku tidak mengenalnya. Aku berkeringat dingin. Jangan-jangan mereka mengenalku karena kejadian dulu itu? Ya Tuhan, cobaan apalagi ini yang Kau berikan, batinku dalam hati. Aku ikut pelayan ini dari belakang. Kulihat keseluruh ruangan. Tamu-tamu begitu banyaknya. Malah lebih banyak dari yang pernah kutahu.

Restoran itu terasa asing bagiku. Interior dalamnya berubah. Diatas sudut-sudut restoran ini terhias bunga-bunga nan cantik penuh pesona. Dan yang membuatku terkejut adalah, semua pelayan disana yang dulu kukenal tidak satupun wajahnya kukenal. Aku berpikir ada apa ini? Belum setahun kenapa restoran ini menjadi begitu berbeda? “Silakan duduk disini nona Michelle”, kata pelayan pria ini membuyarkan lamunanku. Kulihat meja yang disiapkan untukku. Meja yang sangat indah. Sangat berbeda dengan meja-meja lainnya. Dan yang lebih membuatku bingung, diatasnya ada LCD yang besar sekali. Untuk apa?

Aku dipersilakan duduk oleh pelayan restoran itu. Lalu aku diminta menunggu sebentar. Aku melihat kesekelilingku. Kucari pelayan restoran yang mungkin ada kukenal. Tapi tidak kutemukan seorangpun. Bagaimana dengan manajernya? Pasti tidak mungkin ganti bukan? Tanyaku pada diriku sendiri. Sayang, aku tetap tidak bisa menemukan manager yang kumaksud, dan jawaban atas pertanyaanku. Lalu kulihat seorang pria yang sudah tidak asing lagi menghampiriku.

“Selamat malam Michelle, kamu cantik sekali”, kata pria ini sambil duduk dihadapanku. “Terimakasih”, hanya itu yang bisa kukatakan. “Akan kujelaskan semuanya padamu malam ini. Tapi sebelum itu, ijinkan aku mengumumkan sesuatu pada tamu undangan dulu”, kata pria ini padaku. Aku menjadi tambah bingung. Tamu undangan? Bukannya disini semua tamu yang datang makan?

“Ting..ting..ting…”. Suara gelas kaca berbunyi. “Selamat malam tuan-tuan dan nyonya-nyonya, terimakasih atas waktu berharga kalian pada malam ini. Tentunya kalian bingung mengapa aku mengundang kalian semua pada malam ini. Dan percayalah, ini malam yang sangat special buatku dan wanita didepanku ini”, kata pria ini sambil memandang dan tersenyum padaku. Dia tampan sekali malam itu. Dan harus kuakui, aku masih mencintai pria ini dari lubuk hatiku paling dalam. Tapi tetap saja aku tidak mau mengakuinya sampai ada penjelasan memuaskan bagiku.

“Sebelum aku menjelaskan apa maksud undanganku, akan lebih menyenangkan kita melihat sebuah video dulu. Video ini telah kurekam dengan sangat hati-hati dan rahasia dan tidak seorangpun yang tahu. Aku tidak bermaksud untuk menjadi pengintai, karena percayalah aku melakukannya karena ada maksud tertentu dan maksud itu juga maksud yang baik”, lanjut pria ini. Aku semakin deg-degan. Instingku mengatakan lari. Tapi aku tidak ingin lari lagi. Aku ingin semuanya jelas. Dan harus malam ini.

Video itu pun diputar. Aku melihatnya juga. Dan, aku hampir menanggis. Itu video saat aku dan pria ini makan direstoran ini. Dan video itu tentang bagaimana aku dipermalukan. Dikepalaku, video itu sangat jelas, bahkan sepertinya video ini adalah keluaran dari kepalaku. Aku rasanya ingin ditelan bumi. Saat itu aku hendak berdiri dan berlari. Tapi tanganku digenggam oleh pria ini. Dia melihatku. Dari matanya aku terlihat kesedihan yang sangat mendalam. Aku tidak tahu apa maksudnya. Aku tetap ingin pergi. Tapi batinku malah memintaku menanti.

Gelak tawa dan ruah riuh menghiasi restoran malam itu. 20 menit lamanya video itu diputar, dan tawa-tawa tidak pernah berhenti. Hanya para wanita saja yang kebanyakkan tersenyum kecil. Aku tahu bagi mereka yang wanita pasti mengerti perasaanku. Tiba-tiba sebuah lampu menyorot kami. Lampu-lampu lainnya tidak dihidupkan kembali. Hanya lampu dimeja aku dan pria ini duduk yang dihidupkan. Aku sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Aku menerima semuanya. Aku pasrahkan semua pada DIA. Lalu pria ini berdiri.

“Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, dalam video itu terlihat seorang wanita yang sangat cantik dipermalukan bukan? Dan tahukah siapa wanita itu?”, Tanya pria ini pada para undangan. Aku tetap diam membisu. “Wanita ini ada didepanku”, lanjut pria ini. Jika aku seorang aktris terkenal, aku akan dengan bangga berdiri dan bersorak sorai. Tapi ini… Lalu pria ini menambahkan kalimatnya yang membuatku tidak percaya. “Sebenarnya akulah yang membuat pelayan ini tersandung. Dan aku memang sengaja”.

Kulihat kearah pria ini. Mataku melotot. Mulutku mengangga. Aku masih tidak percaya. Dia yang melakukannya? Belum selesai bingungku, pria ini lalu melanjutkan. “Mungkin bagi kalian aku terlihat sangatlah tidak berperasaan, tapi percayalah, aku melakukannya karena aku punya maksud tersendiri. Aku melakukan ini karena aku mengetes PRIBADI pendamping hidupku kelak. Dan ternyata aku tidak salah memilih”, katanya sambil melihat kearahku sambil tersenyum.

Para undangan saling bertatapan. Mereka saling berbisik. Mereka semua bingung. Apalagi aku. “Aku telah melewati beberapa hubungan dengan wanita yang sangat menarik. Dan semuanya sangat baik. Mereka cantik. Mereka berpenampilan menarik. Mereka sangat perhatian dan sebagainya. Mungkin bagi pria lain itu sudah cukup. Tapi tidak bagiku. Semua yang terlihat dimata selalu baik, tapi bagaimana yang tidak terlihat mata”, tanyanya pada para undangan.

“Dulu aku pernah mencintai seorang wanita. Dan wanita itu hendak kunikahi bulan depan. Lalu aku membawanya kerestoran ini dan aku mengetes dia. Tes yang sama pada wanita yang duduk didepanku Ini. Bedanya, pelaku dulu itu adalah wanita didepanku ini. Lalu tahukah apa tindakan wanita yang dulu yang hendak kunikahi itu? Makian dan amarah yang diterima pelayan waktu itu. Bahkan 2 tamparan diberikan pada wanita ini. Sejujurnya aku tidak menyangka wanita yang hendak kunikahi itu melayangkan tangannya pada wanita ini. Aku sangat menyesal atas kekerasan itu.”

“Lalu bagaimana kami berpisah? Bukan karena perbuatanya yang membuatku meninggalkan wanita itu, tapi “topeng” yang dikenakannya diwajah cantik itu. Setelah kuantar pulang wanita yang hendak kunikahi itu, aku bilang aku yang melakukannya dan kubilang bahwa aku mengetesnya, dia malah langsung bermanja padaku. Dan tahukah apa yang dikatakannya? Dia mengatakan padaku bahwa dia cuma emosi sesaat. Dan dia marah karena wanita ini mengotori pakaianku. Apakah aku sebuta itu?”.

“Banyak wanita mengejarku. Dan tahukah apa yang mereka suka dariku? Mungkin wajahku? Mungkin statusku? Tapi lebih banyak karena kekayaanku. Apakah mereka salah? Tentu saja tidak. Tapi aku juga tidaklah buta yang mencintai wanita karena hanya cantik fisiknya, karena cantik tutur katanya. Aku mencari yang benar-benar “cantik”. Dan malam ini aku menemukannya”.

“Sejak kejadian itu, aku juga tahu bagaimana para karyawanku menjalankan bisnis restoran ini. Semuanya ku berhentikan dan kuberikan pesangon secukupnya. Aku tidak memerlukan orang yang mencari muka didepan tamunya, yang aku perlukan adalah orang-orang yang bertanggung jawab pada pekerjaannya. Karena merasa bersalah atas kejadian itu, aku merekomendasikannya wanita ini bekerja disalah satu café favoritku. Lalu meminta managerku langsung memasukkanya. Aku yakin dia pasti bingung saat melihat foto direktur dikantor managerku. Foto itu bukanlah aku. Tapi ayahku”.

“Bagaimana dengan wanita yang hendak kunikahi? Ternyata aku salah memilih. Sejak berpisah denganku, dia menceritakan semua perlakuanku pada semua orang. Dia menjelek-jelekan aku. Tapi tidak apa-apa. Aku memang pantas mendapatkannya. Lalu bagaimana manager restoran ini dulu tidak mengenalku? Tentu saja mereka tidak akan mengenalku, karena aku tidak pernah menampakkan batang hidungku. Aku hanya mengontrol dari belakang layar. Dan pertanyaan yang paling penting adalah kenapa aku melakukan semua ini? Aku akan menjawab semuanya sesuai pertanyaan yang diberikan wanita ini”, katanya sambil melihat kearahku.

Semua mata memandang kepadaku. Pria ini memberikan mig-nya padaku. Aku masih bingung. Tapi aku juga merasa sedikit lega dengan penjelasannya. Aku menarik napas panjang, lalu aku bertanya. “Mengapa kamu memilihku?”, tanyaku singkat. “Lalu mengapa kamu menghilang sejak kejadian itu?, tanyaku dengan mata agak berkaca-kaca. Perasaanku luluh lantak mengenang waktu itu. Pria ini melihat padaku. Digenggamnya tanganku. Lalu diraihnya mig itu.

“Sayang, aku bukan MEMILIHmu. Tapi aku ingin MEMILIKI dirimu. Kamu tentu masih sangat ingat kejadian video itu. Ketahuilah aku telah berpikir berbulan-bulan lamanya untuk memperlakukanmu begitu. Dan aku sangat menyesalinya. Tapi aku terpaksa melakukannya. Aku ingin tahu apakah wanita ini juga memakai topeng yang sama. Dan ternyata harapanku tidaklah sia-sia. Kamu mempunyai hati yang baik. Kamu begitu peduli dengan orang lain daripada dirimu sendiri. Itulah yang membuatku ingin memilikimu”.

“Lalu mengapa aku tidak mengejarmu? Karena aku ingin melihat ketegaran dirimu. Sebenarnya aku hendak berlari memelukmu. Tapi aku menahan keinginan itu, karena saat kamu bisa melewati pintu itu, aku akan mengejarmu sampai kamu menerimaku. Tapi jika saat itu kamu terjatuh dan menanggis, aku akan langsung mengejarmu dan memelukku. Aku tahu caraku sangat menyakitkan. Tapi bagiku itu juga sangat menyayat hatiku. Dan sekali lagi, pilihanku tidak salah. Aku tahu pasti kamu sangat terpukul dengan sikapku. Kamu pasti sangat sakit atas sikapku. Kumohon maafkan aku. Aku melakukannya karena aku ingin memilikimu yang benar-benar mencintaiku, bukan karena embel-embel hartaku dan statusku”.

“Kau bertanya kenapa aku menghilang? Aku hanya bisa berkata aku pergi karena mempersiapkan semua ini. Mungkin kamu tidak tahu. Tapi aku tiap hari melihatmu dari jauh dari luar café itu. Aku begitu rindu padamu. Dan akhirnya sampai kita bertemu malam itu dirumah grandmaku. Apakah kamu tahu kenapa grandmaku begitu menyukaimu? Karena sejak pertama kali aku bersamamu, aku selalu menceritakan semua tentangmu. Grandmaku hanya berakting tidak mengenalmu. Dan aku meminta maaf atas semua itu. Disinilah aku merendahkan harga diriku untuk menebus perlakuanku padamu. Dihadapan para undangan tamu ini aku berlutut didepanmu memohon padamu”.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Ternyata selama ini adalah sandiwara dari pria ini, kekasihku. Aku yang hampir melupakannya ternyata dia terus merindukanku tiada tara. Dan malam itu aku baru tahu, café tempat aku bekerja, restoran yang mewah, Elisabeth yang sangat kupuja adalah bagian dari rencananya. Tidak, mungkin justru rencana-NYA. Dan aku juga menyadari, pria ini adalah seorang pengusaha muda yang luar bisa dikenal dikalangan para elit dunia. Aku kira dia hanyalah pria kaya biasa saja. Tapi aku keliru semua.

Perasaanku bercampur aduk. Bahagia, lega, marah dan lain sebagainya. Aku akui aku memang masih mencintai pria ini. Dialah yang mengajarkanku tentang cinta yang telah lama mati. Kulihat dia masih berlutut dihadapanku sambil mengenggam tanganku. Aku terkesima dengan ketulusannya. Seorang pengusaha muda berbakat dan luar biasa demi seorang wanita pelayan biasa ini rela membuang harga dirinya? Dan yang lebih lagi berlutut sambil memohon sambil dipandangi beratus pasang mata?

“Aku ada satu pertanyaan lagi. Apakah kamu dulu sudah tahu bahwa aku adalah wanita pelayan itu? Dan satu lagi, apa maksudmu mengundangku kembali malam ini?”, tanyaku dengan tegas. Sekarang aku yang memegang kendali. Aku sudah tenang dan berpikiran jernih. Aku sudah jelas. Dan aku hanya ingin mengetahui apa yang dipikirkannya waktu itu saat mengajakku makan direstoran ini dulu. Dia memandangi aku. Matanya indah kena sorotan lampu.

“Ya, aku tahu. Dan aku sengaja pura-pura melupakanmu. Itulah kenapa aku ingin memilikimu. Demi aku kamu bahkan rela menahan emosi dan perasaanmu masuk kerestoran ini. Tahukah kamu betapa aku jatuh cinta padamu saat itu. Dan malam ini kau bertanya apa maksudku mengundangmu kerestoran ini?”, jawab pria ini sambil berdiri. Diambilnya sebuah kotak dari kantong jasnya. Sebuah kotak kecil segiempat. Warna merah. Lalu dibukanya kotak itu. Ya, sebuah cincin. Cincin berlian yang sangat indah.

Pria ini lalu berlutut dihadapanku kembali. Disuguhkan cincin itu padaku. Dia melihat mataku dalam-dalam. Lalu dia menarik napas panjang. Katanya, “Would you marry me?”, Lamarnya. Sontak tepuk tangan dan teriakan para wanita memenuhi restoran itu. Aku melihat sekeliling restoran itu. Semua terlihat kagum dan terpesona oleh sandiwara nyata malam itu. Kali ini bukan dibuat-buat. Kulihat beberapa wanita muda menutup mulutnya karena terharu. Bagaimana perasaanku? Dilamar seorang pria yang sangat tampan dan mapan. Pria yang rela membuang harga dirinya demi seorang pelayan. Pria yang rela berlutut didepan wanita rumahan. Pria yang tersiksa rindu bulanan. Apakah aku menerimannya?

Aku masih memandangi pria yang disampingku ini. Diusia kami yang sudah senja, tidak pernah aku bosan memandangi wajahnya. Rambutnya yang memutih semua menambah bijaksananya. Benar-benar seperti grandmanya Elisabeth. Sudah menjadi salah satu kesukaanku saat bangun tidur selalu kuberi kecupan pada pria disampingku ini. Pria yang dulu mengetesku dengan cara yang sangat unik dan terkesan “jahat”. Pria yang melamarku dengan cara yang sangat romantis. Pria yang memiliki segalanya berlutut demi seorang wanita yang bisa ditemukan dicafe mana saja. Tapi aku yang dipilihnya.

Pria ini telah menemaniku selama 50 tahun lamanya. Kubelai wajah tampannya. Kerut-kerut wajahnya menambah ketampannya. Lalu kupeluk hangat pria disampingku ini. Kukecup keningnya sekali lagi. Dan lagi. Lalu pria ini terjaga dari tidurnya. Ku tunggu dia membuka matanya. Aku ingin dia melihatku saat pertama kali membuka mata. “Selamat pagi sayang”, kataku pada pria ini. “Selamat pagi juga malaikatku”, balas pria ini. “Bagaimana tidurmu?”, tanyanya padaku. Kupeluk dia. Kukecup dia. Kubisiki dia.

“Aku sangat nyenyak tidur disampingmu. Terimakasih atas semua cintamu. Terimakasih karena selalu bangun disisiku. Dan terimakasih telah memilikiku. Arigatou my Angel Mike…”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s