Karena Dia Miskin


Money, money and money...

“Sebagai wanita muda pada umumnya, aku juga mempunyai selera dalam mencari pasangan hidupku kelak. Aku ingin pria yang tampan. Aku ingin pria yang sudah dewasa. Aku ingin pria yang setia. Aku ingin pria yang bisa selalu hadir dan ada. Aku ingin pria yang benar-benar mencintai keluarga, dan yang terpenting, dia harus mencintai aku seadanya seperti dia mencintai ibunya dan saudara-saudarinya”.

Itulah jawaban yang selalu diberikan oleh wanita jika ku Tanya tipe pria yang kalian inginkan.

Mungkin kalian para wanita berkata, “Ya, aku juga yang ingin seperti itu. Aku malah sedang mencari yang seperti itu”. Masih mencari? Sadarlah kaum hawa, jika seperti itu yang kamu cari sampai kapanpun tidak akan kamu temui. Aku bukannya merendahkan kaum ku sendiri para pria, tapi kenyataannya memang sudah tidak ada yang seperti itu lagi. Termasuk aku. Jika yang kalian cari hanya sekedar 1, 2 point diatas, maka akan kubanggakan kalian pasti akan menemukannya. Tapi semua point harus terpenuhi sempurna? LUPAKAN.

Memang indah jika kita bertanya dan mendengar jawaban tentang impian para wanita dan juga pria. Mereka selalu mengatakan ingin mencari yang tampan atau cantik. Yang atletis atau sexy. Yang punya rumah atau mobil. Yang punya bisnis atau status tinggi. Yang orangnya setia atau selalu ada. Yang tidak pencemburu atau yang bebas. Yang punya itu atau ini. Dan segalanya. Tapi anehnya ujung-ujungnya paling akhir ditambahkan YANG PENTING HATINYA.

Oke. Mungkin aku terdengar skeptic atau terlalu mengada-gada ataupun terlalu pesimistis dan sebagainya. Tapi ketahuilah aku menulis ini karena aku peduli pada kalian kaum wanita. Dan tulisan ini memang ku tulis bagi mereka yang menghargai CINTA SEJATI, bukan hanya SEKEDAR CINTA. aku menulis ini juga sebagai nasehat bagi diriku sendiri dan kaum pria lainnya. Mungkin juga tulisan ini tidak pantas dibaca karena hanya pendapat pribadi saja, tapi ini memang pendapat pribadi dan pengalaman dari teman-teman pria, dan kebanyakan dari wanita yang sering curhat padaku.

Ini hanyalah tulisan semata. Bagi yang baca tidaklah perlu dibawa ataupun dihapal semua. Hanya jadikan renungan saja. Aku menulis ini karena aku ingin kita semua bisa mengambil hikmahnya. Dan latar belakang yang mendorongku menulis ini adalah seorang wanita yang memintaku dan kebetulan seorang sahabat pria mendukungku. Sebenarnya aku malas menulis, tapi karena kulihat sayu matanya membuatku menulis untuk mereka.

Kisah pertamaku tentang wanita. Dia seorang wanita yang baik. Berparas cantik dan mempunyai pribadi yang menyenangkan. Aku mengenalnya bertahun-tahun. Pada kesempatan yang indah kami bisa bersua setelah puluhan tahun lamanya. Kami berbasa-basi seadanya. Lalu dia bertanya apakah aku sudah berkeluarga dan sekarang bisnis apa, aku hanya menjawab seadanya sesuai dengan pertanyaannya. Lalu kutanyakan pertanyaan yang sama pada dia. Kulihat kepalanya agak menunduk. Matanya sayu dan aku baru sadar bahwa aku telah menanyakan hal yang paling ingin dilupakannya.

Dia berkata padaku bahwa dia sekarang mempunyai seorang pacar yang “dulu” pacaran sangatlah baik dan perhatian. Seorang pria yang mapan dan katanya sangat tampan. Dan dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi setelah setahun bersama, pria yang dia banggakan ini berubah. Sebenarnya insting detektifku ingin menguak misteri cerita dibalik semua itu. Tapi kututup rapat mulutku karena kulihat sayu dimatanya itu. Kami terdiam selama beberapa detik, tapi rasanya seperti bermenit-menit. Lalu dia melihat kearahku.

“Aku sebenarnya sedang diberi hukuman oleh Tuhan”, katanya pelan padaku. Aku terkejut, kenapa dia berkata seperti itu? Belum sempat aku bertanya dia melanjutkan ceritanya. Dari situ aku baru tahu ternyata dia sebelum berpacaran dengan pria yang sekarang yang katanya mapan dan sangat tampan, dia mempunyai seorang mantan yang telah menemaninya selama 8 tahun lebih. Dan dia mengatakan padaku bahwa dia merasa jenuh dengan hubungan mereka dan ingin mencari sesuatu yang BARU.

Sejujurnya, aku hanya mengangguk tanda mengerti. Tapi hatiku tahu, bahwa itu hanya alasan luarnya saja. Dan aku sangat yakin. Kenapa aku bisa seyakin itu? Percayalah, aku yakin karena aku MENGETAHUINYA dan MENGALAMINYA, bukan aku SEKEDAR TAHU dan MENERKA SEMATA. Jika kaum wanita merasa bingung kenapa aku tahu, aku akan mencoba menjelaskan dengan begini saja. Jika kami kaum pria telah melewati waktu yang lama bersamamu apalagi sampai 8 tahun lebih, perubahan sedikitpun dari dirimu kami sudah mengetahuinya.

Ingatlah ini kaum wanita. PRIA ADALAH MAHKLUK PALING SEDERHANA PEMIKIRANNYA dan PALING SUKA DENGAN TANTANGAN BARU. Dan, apabila ada seorang pria yang dengan RELA MENEMANIMU lebih dari bertahun-tahun maka percayalah DIA AKAN MENEMANIMU HINGGA AKHIR USIA. Sekali lagi aku tekankan, PRIA ADALAH MAHKLUK YANG SUKA TANTANGAN BARU, baik itu berupa barang, petualangan ataupun lainnya. Jika KAMI YANG SUKA TANTANGAN BARU bisa bersamamu SELAMA BERTAHUN-TAHUN, berarti pria itu telah memilihmu menjadi IBU BAGI ANAK-ANAKNYA.

Memang aku akui tidak semua pria seperti itu. Bahkan ada yang awalnya baik tapi setelahnya menjadi menyakitkan. Dan ini terjadi pada wanita ini. Temanku. Dia cerita semua kekesalannya padaku dengan pacarnya yang sekarang. Tak satupun yang terdengar dari mulutnya sebuah pujian tulus. Aku hanya mendengarkan dengan seksama. Karena keingintahuanku yang besar, aku bertanya padanya, “Lalu mengapa kamu masih bersamanya?”.

Tahukah apa jawabannya? Katanya, “Habis dia selalu membelikanku apa-apa yang kuminta. Dia punya bisnis sendiri. Ramai lagi. Tapi dia selalu menyakitiku, padahal aku sudah cukup bersabar. Kalau bukan karena aku menyayanginya aku sudah tinggalkan dia”. Terkesan dibuat-buat? Aku tidak tahu. Aku PRIA bukan WANITA. Dan dari pendapat pribadiku saja temanku ini telah “DIBUTAKAN” oleh harta. Maaf kepada kaum wanita yang membaca tulisanku ini. Kalian boleh memakiku sesuka hati. Aku hanya berpendapat sendiri saja kok.

Lalu dia mengatakan padaku juga, “Sebenarnya pacarku yang dulu sekarang sudah cukup berhasil, walaupun tidak seperti pacarku yang sekarang. Dia orangnya baik sekali. Bahkan sekarang pun hubungan kami masih baik-baik. Aku sering ingin curhat padanya. Tapi dia selalu menolakku dengan halus bahwa dia tidak ingin mengganggu hubungan kami. Kadang aku kangen banget sama dia dan ingin kembali padanya”. Matanya terlihat berkaca-kaca.

Sejujurnya aku sangat heran. Jika dia masih mencintai pacarnya yang lama kenapa tidak segera memutuskan pacarnya yang baru dan kembali pada pacar lamanya atau mantannya? Kenapa harus tersiksa batin dan bertahan hanya demi kata “CINTA” yang semu? Kenapa harus merindukannya jika dia sendiri yang pergi darinya? Mungkin kalian para wanita berseru, “Hei, kami tidak mungkin semudah itu berpindah hati, apalagi dia ini, apalagi dia itu dan bla..blaa.blaaaaa”. STOP IT GIRLS, kami ini SANGAT SEDERHANA. Jika kau memang pantas untuk dipertahankan, biarpun kau sudah MENGKHIANATI kami dengan ribuan bekas luka, kami pun akan menerimamu dengan lapang dada. Mungkin dengan sangat bahagia. Tentunya dengan syarat-syarat juga.

Aku akhirnya tidak sabar dan menanyakan yang “sesungguhnya” dia meninggalkan mantannya. Yang 8 tahun lebih menemaninya. Dan jawabannya adalah… kumohon para pria tidak membencinya dan wanita jangan memakinya. Dia menjawab, “Karena dia miskin”.

PLEASE! Jangan pernah menganggap rendah temanku ini. Dia tidaklah salah berpikiran begitu. Dia hanya ingin mencari yang lebih baik. Bedanya mungkin caranya yang sedikit unik dari kita. Aku benar-benar terkesan dengan kejujurannya. Seorang wanita yang rela dipandang rendah dan mengakui kesalahannya kepada seorang pria yang bahkan bukan siapa-siapa. Hanya teman biasa. Dan aku yakin dia menjawabanya dengan segenap keberaniannya. Aku hanya bisa tersenyum. Bukan senyum menghina. Tapi bangga. Kenapa? Dia mengakui kesalahannya.

“Jika mantanmu masih ingin menerimamu, maukah kamu kembali bersamanya”, tanyaku sangat hati-hati. Aku takut menyinggung perasaannya. Dia melihatku. Lalu kulihat lengkungan terbalik pelangi dibibirnya. Dia tersenyum dan sangat manis sekali. Dia tidak menjawab. Hanya menggangguk pasti. Aku hanya bisa tersenyum kembali padanya. Dengan segenap keberanian aku berbagi cerita dengannya. Tapi bukan cerita saling membanggakan kisah-kisah dulu yang menyakitkan, tapi berbagi nasehat yang saling menentramkan.

Kukatakan padanya agar mendengarkan kata kecilnya. Coba renungkan semua yang telah dia lewati selama setahun dengan pacar barunya. Dan kuminta dia renungkan kembali kisah bersama mantannya selama 8 tahun lebih lamanya. Dan jika dia ingin kembali pada mantannya, kukatakan tidaklah akan mudah. Karena dia perlu MEMULIHKAN kembali KEPERCAYAAN yang telah hilang, dan juga memperbaiki JEMBATAN ANTARA DIA DAN KELUARGANYA juga. Tapi aku yakin (walaupun maksimal 50%) mantannya akan menerimanya kembali jika dia BENAR-BENAR TULUS dan MAU BERUBAH demi masa depan mereka.

Aku tidak tahu sekarang dia masih bersama pacarnya yang baru atau tidak. Aku juga tidak tahu apakah dia kembali pada mantannya juga. Yang aku tahu sangat kami berpisah, dia terlihat sangat lega. Bukan karena nasehatku. Bukan karena telingaku. Juga bukan karena siapa-siapa. Tapi dia telah mengeluarkan beban hatinya. Sebenarnya aku berharap dia bisa melihat dengan hati kecilnya dan mendengarkan kata hatinya. Dalam hatinya yang terdalam, temanku ini masih sangat mencintainya mantannya. Tapi karena 8 tahun lebih yang masih belum “dewasa” pemikirannya, dia terpesona oleh “bisikan” dunia.

Doaku padanya hanyalah semoga dia bahagia. Sebenarnya aku bukanlah tipe pria yang suka mendengarkan keluh kesah selama berjam-jam. Tapi untunglah aku bisa menjadi pendengar yang baik. Mungkin ini pengalaman paling berharga yang kuperoleh dari waktu SMA, dimana aku selalu dijadikan ajang curhat para wanita. Jika dulu aku menyesalinya, sekarang aku sangat menghargainya. Dari mereka aku bisa tahu banyak bagaimana perasaan wanita. Walaupun hanya 0,001% saja.

Untuk mengerti pria sebenarnya tidaklah sesulit yang dibayangkan. Memang juga tidak semudah membalikkan tangan. Yang pasti kami berpikir dengan LOGIKA. Sedangkan kalian para wanita berpikir dengan PERASAAN. Itulah kenapa kadang saat terjadi MIS-KOMUNIKASI kita sering beradu kata sampai piring yang lagi asyik dilemari pun terbang menghias ruangan dimana-mana.

Sekali lagi ini hanyalah tulisan yang kutulis hanya sebagai renungan saja. Jika ada kata-kata yang membuat kalian terluka, aku memohon maaf sepenuhnya. Tidak ada maksud buruk apapun aku menulis ini. Aku juga tidak sedikitpun benci temanku. Aku malah bangga akan keberaniannya. Jika aku bertemu dia lagi, aku ingin tahu bagaimana kisah dan akan kutulis juga. Tentunya jika dia mengijinkan :)

Akhir kata semoga tulisan ini bisa menjadi pelajaran bagi kaum hawa dan menjadi bahan renungan bagi kaum pria. Bahwa, tidaklah semua wanita itu sama. Dan tidaklah semua pria berbuat semena-mena juga. Mungkin lain kali akan coba kutulis tentang BAGAIMANA CARA PRIA MENCINTAI WANITA. Aku tahu aku bukan ahlinya, tapi aku akan mencoba menulis dari sudut pandang pribadi dan tentunya dari buku-buku yang kubaca. Sekali lagi ini hanya tulisan biasa yang kutulis karena bangga pada temanku yang wanita. Semoga dia berbahagia. Dan kepada para pembaca tulisanku juga.

4 thoughts on “Karena Dia Miskin

    1. haha…mungkin saja bro. apalagi zaman sekarang ini yang serba menggagungkan materi. tapi walaupun begitu mungkin akan lebih baik kita sama-sama jangan menjadi yang seperti itu :)

      mereka berhak memilih yg lebih baik (walaupun dgn cara yg kurang tepat (-_-“). thx banget uda membaca n komen y :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s