Karena aku mencintainya


Because i love him

“Hai, nomornya cantik. Seperti orangnya”.

Itulah kisah awal perkenalanku dengan pria yang menjadi pendampingku. Pertemuan kami berawal disebuah konter HP didekat rumahku. Saat itu aku bersama teman baikku Cindy mengisi pulsa. Karena sudah datang aku pun mengisi pulsaku juga. Lalu datang seorang pria yang ingin mengisi pulsa juga. Orangnya cukup tinggi. Kira-kira 170an. Tampan sekali. Rambutnya dipotong pendek. Hidungnya mancung dengan bola mata biru langit. Warna favoritku. Sempat kulirik sebentar lalu aku mengisi pulsaku. Ternyata lirikankulah yang membuatnya ingin berkenalan denganku.

“Bolehkah aku tahu berteman denganmu? Namaku Mike”, kata pria didepanku ini. “Boleh, namaku Cindy”, sambut temanku sambil tersenyum kepadaku. Cindy memang orangnya tipe ceria. Kemana-mana pasti suasananya jadi cair dan tidak kaku. Cindy orangnya sangat cantik. Tinggi dan berisi. Wanita yang punya hobi olahraga terutama aerobik dan jogging. Rambutnya agak pendek sampai sekitar bahu. Matanya juga bermata biru. Cara termudah untuk menggambarkan Cindy adalah dia ini seperti supermodel. Sedangkan aku? Boleh dibilang beda langit dan bumi dengan Cindy.

Aku orangnya termasuk pendek. Tinggiku hanya sekitar 160cm. Pas tidak lebih. Rambutku panjang lurus. Bentuk tubuhku biasa-biasa saja walaupun aku sering ikut Cindy aerobic. Aku orangnya agak pemalu dan lebih pasif. Lebih tepatnya aku lebih suka mendengar orang bercerita daripada bercerita, terutama Cindy teman baikku. Aku dan Cindy sudah berteman lama. Orang tua kami adalah rekan bisnis. Dan luar biasanya ayah Cindy dan ayahku adalah teman baik sejak kecil. Bahkan mereka pernah saling berjanji jika yang anak-anak mereka yang lahir adalah cowok dan cewek, maka kami akan dijodohkan. Tapi jika sama-sama cowok atau cewek, maka jadi saudara.

Aku dan Cindy lebih tepat disebut sahabat pena daripada disebut saudari angkat. Karena kedekatan kami memang melebihi saudara. Dari kecil saat diganggu oleh atau digoda teman sekolah laki-laki, Cindylah yang menolongku. Karena dari kecil sudah suka olahraga, maka kekuatannya bisa sebanding dengan laki-laki seusianya. Kalau sekarang jangan kalian mencari gara-gara dengannya, karena selain hobi olahraga Cindy juga mengambil kelas beladiri. Dan yang mengejutkan, Cindy baru mencapai ban hitam dengan prestasi yang sangat baik.

Kami berdua sekarang sudah bekerja. Hanya saja bedanya kami tidak satu atap kerja. Cindy bekerja disebuah perusahaan yang besar dan bonafit. Dia memegang posisi sebagai manajer muda. Para bawahannya sangat menghormati dan menghargari Cindy. Bukan karena dia bisa karate. Bukan karena dia cantik. Bukan karena dia posisinya tinggi. Tapi karena dia memperlakukan bawahannya sama semua. Dia sangat jarang marah dan emosi. Dan tahukah kalian jika ada seorang wanita secantik Cindy, tinggi, baik, penyayang kira-kira sebanyak apakah pria yang mengejarnya?

Sering aku diajak Cindy kekantornya hanya sekedar makan siang. Dan kami berdua pernah sama-sama terkejut. Ruangan kantornya dihiasi ribuan mawar putih dan setumpuk kartu dengan rangkaian kata-kata indah mengagumi Cindy. Aku hanya bisa tertawa kecil karena Cindy terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa. Oya, sekedar rahasia kecil buat pembaca. Cindy walaupun kuat luarnya, sebenarnya hatinya tidak sekuat kelihatannya. Dan Cindy paling tidak bisa melawanku. Semua apa yang kukatakan di iyakannya. Aku juga tidak tahu kenapa. Aku pernah bertanya padanya, tapi dia hanya tersenyum dan berkata padaku, “Sayang, aku tidak bisa menjawabnya, tapi kamulah panutanku sejak aku mengenalmu dari kecil”. Sejujurnya aku bingung.

“Namamu siapa?”, Tanya pria didepan menyadarkanku dari lamunanku. “Namaku Michelle”, kataku sambil bersalaman dengannya. Dia tersenyum padaku. Lalu kami berbincang-bincang sebentar. Pria tampan ini, Mike, mengundang kami makan malam minggu depan. Cindy langsung meng-iyakan sedangkan aku hanya mengangguk saja. Kami berpisah dikonter HP tersebut. Dalam perjalanan pulang diantar oleh Cindy. Kami saling bercerita tentang pria tadi. Cindy mengatakan padaku pria itu sangat tampan dan ingin lebih mengenalnya lebih jauh. Aku hanya mendengar dan tersenyum saja. Aku sudah sangat senang melihat Cindy senang.

Minggu yang dijanjikan telah tiba. Aku telah selesai berdandan dan menunggu Cindy menjemputku. Aku berpakaian seadannya. Hanya setelan long dress putih. Wajahku kurias dengan minimalis. Dan memang pada dasarnya aku kurang suka berdandan yang wah. Aku hanya memakai sedikit bedak dan glip gloss warna putih bening basah. Lalu kudengar ada bunyi klakson diluar rumah. Aku mengambil tas kecilku lalu aku berlalu keluar. Cindy telah datang menjemputku.

Saat kumasuki mobilnya, aku benar-benar terkesima dengan penampilan Cindy. Sangat wah dan seksi. Dia memakai gaun merah. Rambutnya dikeriting kecil dibawahnya. Rambut pirangnya menambah pesona indahnya. Setiap lekuk tubuhnya telihat jelas. Benar-benar sempurna. Aku yang wanita saja mengaguminya apalagi pria yang melihatnya? Tapi jangan salah ya, walaupun aku mengatakan seksi bukan berarti Cindy cewek murahan. Dia seksi karena memang INNER BEAUTYnya. Dia tidak pernah memakai baju atau celana mini yang mengundang birahi. Pakaiannya selalu sopan.

Dalam perjalanan kami saling bercanda. Dari pakaian seperti apa yang akan dikenakan Mike, sampai dengan hal-hal lainnya. Kami saling menebak. Memang sudah menjadi kedekatanku dengan Cindy jika hendak bertemu seseorang kami selalu melakukan permainan kecil. Kami sering bertaruh kecupan dipipi jika yang kalah harus mengecup pipi dan tidak boleh dihapus selama 1 jam. Dan malam itu aku menebak Mike memakai jas warna hitam. Sedangkan Cindy menebak warna putih.

“Selamat malam nona-nona cantik, senang kalian menerima undanganku. Dan Wow, coba lihat, kamu hampir membuat jantungku lompat keluar dari dadaku. Seingatku yang kuundang seorang wanita cantik, tapi kenapa yang hadir seorang wanita dari surga?”, sapa Mike ramah pada kami. “Dan, coba lihat malaikat yang satunya lagi, putih bersih seindah pemilik gaunnya”, lanjut Mike memujiku dengan senyuman yang manis. Cindy tersenyum padaku. Matanya melirik padaku. Aku tahu apa maksudnya. Dan “cuppp…”.

“Hahaha… maafkan aku nona-nona cantik. Aku benar-benar terkesan dengan persahabatan kalian. Belum pernah kutemukan dua sahabat seperti kalian. Dan sejujurnya aku sangat iri. Aku memang mempunyai sahabat-sabahat baik, tapi kami tidak pernah sedekat dengan persahabatan kalian. Aku benar-benar tersanjung bisa mengenal dan belajar persahabatan kalian”, Kata Mike sambil melihat kearahku. Aku sebenarnya agak malu. Cindy memelukku dengan gemes. Dia memandangku dengan senyumannya yang sangat manis.

“Masih 10 menit lagi ya sayang. Kamu tidak boleh menghapusnya sebelum jam 8”, kata Cindy padaku. Aku memanjangkan bibirku. Aku pura-pura cemberut. “Hmmpphh… aku benar-benar sayang banget sama kamu Mimy”, peluk Cindy tiba-tiba. Mimy? Yup, itu panggilan sayang yang diberikan Cindy padaku. Kalau aku memanggilnya Cici. Itupun aku dipaksa memanggilnya begitu. Mike hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah kami. Malam itu kami habiskan waktu kami dengan dengan gembira.

Malam itu aku tahu bahwa Mike adalah seorang pemilik bisnis kecil yang bergerak dibidang teknologi khusunya computer. Mike baru beberapa tahun merintis bisnis komputernya. Dari ceritanya Mike adalah dari keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya hanyalah seorang karyawan rendah dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Dia mempunyai seorang adik perempuan. Karena kesederhaan itu adiknya pernah sakit dan hampir meninggal karena tidak punya uang untuk berobat. Karena sayangnya pada sang adik dan ibunya, Mike memilih berhenti sekolah dan bekerja. Indahnya, Tuhan melihat keuletannya sehingga sekarang Mike bisa menafkahi keluarganya dan memberikan pernikahan terbaik bagi adiknya.

“Umurku sekarang 29 tahun, karena lebih focus membahagiakan adikku dan ibuku, aku lupa bahwa tahun-tahun telah berlalu. Sekarang uban dikepalaku mungkin lebih banyak dari rambut hitamku”, cerita Mike pada kami. Kulihat wajahnya. Sejujurnya aku tidak percaya dia berumur begitu. Wajahnya begitu menarik dan tampan. Tidak tergambar bahwa dia berusia 29 tahun. Bahkan menurutku usianya paling tinggi 24 tahun. Kulihat juga rambutnya. Memang terlihat helaian-helaian putih dikepalanya, tapi malah bagiku terlihat bagaikan sinar-sinar perak kebijaksanaannya.

Malam itu kami saling berbagi cerita. Cindy bercerita tentang bagaimana kami bertemu. Bagaimana kami saling menyayangi dan bagaimana kami bisa sedekat ini. Aku lebih banyak mendengar dan ikut tertawa bersama. Aku sangat senang kami bisa mengenal Mike. Ternyata orangnya baik. Beberapa jam kami disana menghabiskan waktu bersama. Tidak terasa jam dinding menunjukkan hampir jam 10 malam. Aku dan Cindy hendak berpamitan pulang. Mike menawarkan mengantar kami sampai kearea parkir kami.

“Selamat malam nona-nona cantik, kiranya kita berpisah sampai disini. Semoga malam ini bukan menjadi malam terakhir pertemuan kita, tapi sebagai awal persahabatan kita. Senang sekali bisa mengenal kalian yang cantik-cantik dan mempesona”, kata Mike sambil tersenyum. Lalu dia pun berlalu. Aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Sejujurnya aku juga ingin mengenalnya lebih jauh. Sepertinya aku mulai jatuh cinta.

Kulihat kearah Cindy. Mata birunya terlihat indah sekali. Kulihat juga senyumnya yang sangat manis sekali. Dia memainkan ujung rambutnya. Matanya memandang Mike tanpa berkedip. Ternyata, Cindy juga berpikiran sama denganku. Ternyata Cindy mempunyai perasaan yang sama denganku. Dia jatuh cinta. Kami berdua jatuh cinta. Pada pria yang sama. Malam itu, Cupid sang malaikat cinta telah kelebihan memanah panahnya. Haruskah aku mengalah? Ataukah atau aku tetap mengejarnya? Sejujurnya aku bingung pembaca.

“Mi..mi…”, peluk Cindy padaku sambil bermanja. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dia hanya mengatakan padaku ingin bertemu padaku. Dan, sekarang dia disini sambil memelukku. “Aku ingin minta bantuanmu Mimi. Aku ingin kamu memberiku nasehat yang membantuku seperti selama ini kamu menasehatiku”, kata Cindy sambil melihat kearahku. Matanya indah sekali. Aku hanya bisa tersenyum dan mencoba menenangkannya. Seingatku Cindy tidak pernah manja padaku seperti ini, kecuali dulu saat pertama kali dia dikejar-kejar pria yang menginginkannya.

“Ada apa sayang?, kok kelihatannya bingung itu? Yang aku tahu Cindy yang kukenal baik selalu hebat dan tegar dalam menghadapi masalah apapun”, kataku mencoba menghibur Cindy. “Aku kuat karena kamu selalu didekatku memberikan nasehat-nasehat bijak yang menghiburku, saat ini akupun perlu nasehatmu Mimi. Aku tidak bisa menjadi seperti ini kalau aku tidak mendapatkan nasehatmu”, balas Cindy sambil memegang tanganku dengan erat.

Memang apa yang dikatakan Cindy ada benarnya. Tapi tidak semua itu karena aku juga. Aku sering memberinya masukan saat dia merasa bingung dan punya masalah. Aku bukanlah dewa yang tahu segalanya, tapi mungkin karena aku orangnya yang lebih tenang dan lebih sedikit sabar sehingga aku bisa melihat sebuah masalah dengan lebih jelas. Sedangkan Cindy orangnya memang penceria dan agak kurang sabaran. Walaupun begitu, aku tidak pernah memaksakan keinginanku padanya, semua keputusan kuserahkan padanya.

“Lalu apa yang membuat Cindyku jadi bingung begini?”, tanyaku sambil membelai rambutnya. Aku sangat menyayanginya, saat melihatnya bingung begini aku malah jadi merasa sedih. “Begini…”, kata Cindy sedikit agak ragu. “Kemarin aku dan Mike keluar jalan bersama. Dia mengajakku ketaman kota. Disana kami merasa sangat senang dan berbagi cerita. Tapi sejujurnya, selama 3 bulan lebih bersamanya aku merasakan Mike tidak sepenuhnya menginginkanku. Aku tahu mungkin aku yang berlebihan pikirnya. Tapi aku hanya takut Mike akan meninggalkanku”, lanjut Cindy.

3 bulan lebih? Ya, aku tahu maksud kalian. Cindy dan Mike sering keluar bersama sejak malam undangan itu. Mike sebenarnya juga sering mencariku dan mengajakku keluar berdua. Tapi aku sering mengajak Cindy ikut bersamaku. Mengapa? Mungkin kalian bertanya, karena aku tahu Cindy ingin mengenalnya lebih dekat. Karena aku tahu Cindy ingin menjadikannya sebagai kekasihnya. Karena aku tahu Cindy jatuh cinta padanya. Lalu bagaimana dengan perasaanku? Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Yang pasti aku rela melepaskanya asal melihat sahabat terbaikku bahagia.

“Sayang, sangatlah wajar kamu berpikiran begitu. Bukan karena Mike yang akan meninggalkanmu, dan aku yakin Mike bukan tipe pria yang akan meninggalkan seorang wanita. Mungkin selama ini kamu belum begitu mengenal karakternya, jadi kamu merasa ada sesuatu yang beda. Tapi, bukankah yang namanya cinta itu adalah SALING MELENGKAPI PERBEDAAN? Jika kita memilih seperti yang kita inginkan dan menuruti semua keinginan kita, bukankah kita berpacaran dengan robot?”, kataku pada Cindy.

Cindy terlihat diam. Dia mengangguk tanda mengerti. Kulihat bola matanya bergerak sana-sini. Ini memang khas Cindy saat lagi ”mencerna” dalam kepalanya. Lalu dia berkata padaku, “Maafkan aku sayang, tapi apakah menurutmu Mike memang belum mau terikat denganku? Tapi karena aku sering memaksanya sehingga dia pun meng-iyakan?”, Tanya Cindy padaku sambil berharap jawabanku. Aku hanya bisa tersenyum padanya.

“Sayang, aku tahu kamu sangat menyukainya, dan aku juga tahu Mike juga menyukaimu. Memang aku akui caramu untuk mendapatkan seorang pria agak unik. Tapi menurutku apa yang kamu lakukan bukanlah sebuah pemaksaan, lebih tepatnya kamu sangat bersemangat. Aku malah berharap bisa menjadi sepertimu. Mengejar apa yang kamu suka. Jujur pada perasaanmu sendiri. Bahkan kamu rela membuang harga dirimu demi seorang yang berarti bagimu”, kataku memuji dan bangga pada Cindy. Dan apa yang kukatakan memang benar dari hatiku.

“Ingatlah juga sayang, Mike itu seorang pengusaha. Dia pasti banyak masalah berhubungan bisnisnya. Dan kamu juga tahu bagaimana keluarganya dulu. Aku tahu tidaklah baik mencampur-adukan masalah bisnis dalam sebuah hubungan cinta, tapi aku juga yakin Mike tidak seperti itu. Mungkin karena dia capek mengurus bisnisnya sehingga secara tidak sadar dia memperlakukanmu sedikit lebih berbeda. Bukankah tugasmu sebagai kekasihnya justru mendampinginya?”, lanjut kata-kataku pada Cindy.

Cindy memandangku. Pandangannya sangat dalam. Dan aku tahu apa yang akan terjadi. “Hmmmppphhh….”, kata Cindy sambil melompat memelukku dengan sangat erat sekali. Rasanya jadi susah bernapas. Diciuminya pipiku dengan gemas. “Itulah kenapa aku sangat sayang sama Mimy. Mimy tidak pernah mengecewakanku, dan kata-kata Mimy selalu menyemangatiku. I Love You Mimy…”, lanjut Cindy sambil memelukku. Aku hanya bisa membelai rambut indahnya.

“Yup! Aku harus semangat. Aku akan menjadi wanita yang sempurna buat Mike. Jika dia lagi banyak masalah, aku akan menawarkan diriku untuk membantunya. Aku akan selalu ada untuknya. Aku berjanji sama Mimy akan membahagiakannya. Apapun alasannya itu”, kata Cindy sambil berapi-api penuh semangat. Melihatnya semangat begitu aku jadi bahagia. mungkin didunia ini satu-satunya orang yang bisa membahagiakanku adalah adik angkatku, sahabat terbaikku ini bahagia. lebih dari segalannya.

Malam itu Cindy mengajakku keluar untuk merayakan semangatnya kembali. Ya, sejak kecil Cindy memang selalu seperti itu. Jika ada masalah dia mencariku. Setelah dia semangat kembali dia pasti mengajakku. Padahal menurutku dia tidak perlu saran apapun dariku pun bisa kembali bersemangat. Kata-kataku hanyalah kata-kata yang siapapun bisa mengucapkannya.

Sejujurnya, kami masih sering keluar bersama-sama. Aku, Cindy dan Mike. Tapi aku sering pura-pura sibuk karena aku ingin memberikan kesempatan berdua buat Cindy dan Mike. Walaupun Cindy memaksaku ikut bersama seperti nonton bioskop, aku sering menolak dengan halus pas ada acara keluarga dan lainnya. Padalah Cindy tahu aku paling suka pergi nonton. Dan dulu sebelum mereka jadian, kami berdua tidak pernah absen nonton film terbaru dibioskop kota kami.

Aku tahu apa pemikiran kalian. Dan ya, aku juga tahu perasaanku sendiri. Aku sebenarnya masih menaruh perasaan pada Mike sejak malam diundangan itu. Tapi aku tidak ingin merebut kekasih sahabat terbaikku. Itulah kenapa aku sering menghindari ajakan mereka. Aku ingin mencoba melupakan dan melepaskan perasaan dihatiku. Jika sering bertemu dan bersama, aku takut justru benih-benih cinta yang telah lama pudar akan bersemi kembali. Dan jika benih itu bersemi, aku sendiri tidak akan bisa mencabut akarnya.

Kebersamaanku dan Cindy akhir-akhir ini memang semakin berkurang. Tapi aku sedikitpun merasa sedih dan kesepian. Memang aku akui kadang aku perlu Cindy sekali-kali menghabiskan waktu untukku. Hanya saja aku tidak ingin mengambil waktu luangnya hanya untuk menemaniku dan mendengarnya bercerita tentang harinya bersama Mike. Cindy memang kadang menawarkan waktunya untukku. Tapi aku sering mencari kesibukkan tambahan untuk menolaknya. Apakah aku wanita yang bodoh? Mungkin iya. Tapi demi sahabatku aku rela.

Suatu malam aku mendapat tugas dari tempat kerjaku untuk melakukan survey disebuah mall terkenal dikotaku. Aku bersama reka-rekan kerjaku diserahi tugas untuk mendata tingkat kepuasan pelanggan ditoko-toko mall itu. Karena besarnya mall yang ada, aku dan rekan kerjaku membagi tugas. Dan aku mendapat tugas men-survei toko-toko buku. Semuanya berjalan dengan lancar. Lalu secara tidak sengaja kulihat sepasang kekasih dipojok rak buku sana. Aku tertarik dan ingin meminta pendapat tentang kepuasan mereka tentang toko ini.

Tapi sebelum aku berjalan kearah sana, aku terkejut melihat pria dan wanita itu. Ternyata Mike dan Cindy. Aku secara refleks langsung bersembunyi. Lho? Kok aku bersembunyi? Itu yang kutanyakan dalam hatiku. Tapi entah kenapa malam itu aku sepertinya merasa tidak enak dan tidak tenang. Instingku mengatakan ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Tapi apa? Aku ingin langsung pergi, tapi penasaranku menahan kakiku. Hatiku berdetak dengan kencang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Lalu aku mengambil keputusan.

Kucoba intip mereka. Cindy terlihat bersila tangan. Aku tahu posisi itu adalah posisi Cindy sedang meminta jawaban. Kulihat Mike juga sedang menjelaskan sesuatu. Aku tidak tahu apa itu. Dan jantungku hampir jatuh saat kulihat Cindy melayangkan sebuah tamparan pada Mike. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Aku ingin segera berlari kesana untuk menengahi mereka. Tapi aku takut dicap diam-diam mengikuti mereka. Lagian jika aku kesana aku juga tidak tahu apa yang masalah mereka. Aku takut aku justru malah memperkeruh semuanya.

Lalu kulihat Cindy berjalan cepat kearahku. Aku mengambil sebuah buku dan menutupi mukaku. Langkah kakinya semakin cepat dan ya Tuhan jangan sampai dia melihatku. Aku pura-pura berjalan menjauh. Kulihat Cindy menghentikan langkahnya pas disebelahku. Aku menahan napasku. Aku berdoa agar dia tidak mengenaliku. Aku tidak ingin Cindy melihatku malam itu. Hanya malam itu saja. Kudengar dia menarik napas panjang. Dia terisak-isak. Ya Tuhan, Cindy menanggis.

Aku sebenarnya ingin langsung memeluk dan menghibur Cindy. Tapi tubuh dan otakku saling bertentangan. Selang beberapa detik kudengar langkah kaki Cindy menjauh. Aku mencoba membalikkan tubuhku. Rasanya sangat berat. Saat kupandangi sahabat terbaikku dari jauh, kulihat pundaknya begitu lemah. Kulihat dia berjalan menghilang dikerumunan orang-orang sambil menepis air matanya. Aku ingin berlari mengejarnya, tapi sekali lagi kakiku tidak mau mendengarkan perintah.

Malam itu aku menelpon Cindy. Aku minta ijin pulang sama rekan-rekan kerjaku bahwa aku ada urusan penting. Kuceritakan bahwa adikku mendapat masalah. Mungkin itu pertama kalinya aku berbohong pada rekan kerjaku. Dan itu kebohongan keduaku yang sangat aku pantang lakukan. Berkali-kali aku menelponnya tapi tak diangkatnya. Aku juga sudah coba kerumahnya, tapi kulihat tidak ada mobilnya. Aku begitu kalut dan cemas padanya.

Cindy bukanlah wanita yang begitu mudah jatuh seperti malam ini. Bahkan saat dikantornya dia digosipkan punya skandal dengan pimpinannya, dia masih bisa bertarung dengan semangatnnya. Tapi kenapa malam ini hanya pertengkaran sepasang kekasih Cindy menjadi seperti ini? Aku membuang semua pikiran negatifku. Malam itu aku benar-benar sangat kacau dan cemas sekali. Aku berdoa pada Tuhan agar sahabat terbaikku ini tidak melakukan hal-hal yang nekat.

Hampir 6 jam aku mencarinya. Sambil mencari aku tetap menelponnya. Kali telponnya dimatikan. Aku benar-benar cemas luar biasa. aku sangat menyesal kenapa saat dimall aku tidak langsung mengejarnya. Aku benar-benar menyesali keplin-plananku. Tapi aku tidak mau dipusingkan oleh penyesalanku dulu. Yang aku ingin tahu hanyalah dimana Cindy dan bagaimana keadaannya.

Jam menunjukkan hampir jam 4 subuh. Aku kembali berjalan lesu pulang kerumahku. Aku putus asa. Aku bahkan menanggis sambil berjalan pulang. Aku tidak peduli orang-orang melihatku dan peduli padaku. Aku hanya bisa menanggis. Saat sampai didepan rumahku. Aku begitu terkejut. Jantungku hampir copot. Kulihat seorang wanita tertidur didepanku. Ya, dia adalah Cindy. Aku langsung berlari kesana. Kulihat wajahnya basah oleh air mata. Aku langsung memeluknya. Tahukah bagaimana perasaanku saat itu?

Kubelai rambutnya yang acak-acakan. Aku menciuminya beberapa kali. Aku begitu lega. Aku begitu bahagia. Ternyata Cindy tidak apa-apa. Lalu dia membuka matanya. Terlihat sayu sekali. Dia melihatku dan langsung memelukku. Dia menanggis sejadi-jadinya. Aku tahu sekarang dia perlu seseorang untuk berbagi beban dan luka hatinya. Aku memeluknya juga. Aku mencium keningnya. Aku membelai menghiburnya. Tapi aku terkejut sekali dengan kata-katanya.

Dia membisikku dengan kata-kata yang membuatku bingung. Dia mengatakannya padaku bahwa dia sangat menyesal telah menyakitiku. Dia menanggis sambil memelukku. Aku memintanya tenang dulu, tapi dia tetap tak melepaskan ataupun melonggarkan pelukannya. Dia tetap menanggis. Dia memintaku untuk memaafkannya. Aku semakin bingung. Apa yang telah Cindy perbuat sampai aku harus memaafkannya? Tapi dia tetap menanggis terus. Kukatakan padanya aku pasti akan memaafkannya jika dia ada berbuat salah padaku. Aku yakinkan dia. Akhirnya dia mau melepaskan sebentar pelukannya. Kutawari dia masuk kerumahku dulu. Setelah tenang diapun bercerita, dan akupun harus mendengar dengan bercucuran air mata.

“Aku sangat menyesal telah menyakitimu Mimi, aku benar-benar tidak tahu bagaimana perasaanmu. Aku telah dibutakan oleh cinta. aku telah dibutakan oleh keinginan pribadiku semata sehingga orang yang paling kusayang harus menanggung luka. Maafkan aku ya, aku sangat sangat menyesal Mimi…”, kata Cindy sambil memelukku dengan erat. Aku masih bingung. Aku hanya membelai rambutnya. Aku tidak peduli apa yang membuatnya begitu menyesal. Aku tidak peduli seberapa sakit yang diberikan padaku, karena aku sangat menyayangi sahabatku. Dan sekarang dia dihadapanku dengan keadaaan tidak kurang apapun.

Aku memeluknya kembali. Aku berkata padanya semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak tahu kenapa dia menanggis seperti ini, tapi yang aku tahu dia dan Mike habis bertengkar. Kemungkinan besar akan berpisah. Aku secara tidak sengaja melihatnya disana, dan aku juga menyesal kenapa pada saat itu aku tidak langsung mengejarnya. Aku berpikir seandainya aku langsung mengejarnya, mungkin Cindy tidak akan sesedih ini. Memikirkan hal itu air mataku juga mengalir dipipiku. Tapi aku sangat bahagia tidak terjadi apa-apa pada Cindy sahabat terbaikku.

Malam itu kami menghabiskan waktu tanpa bercerita apa-apa. aku tahu dia masih terluka oleh kejadian waktu dimall itu. Aku juga tidak ingin menanyakan apa-apa. Aku hanya ingin menemaninya. Malam yang sejuk itu tidak kami rasakan. Yang ada hanyalah kehangatan. Cindy tertidur dipangkuanku. Wajahnya penuh air mata. Bahkan dalam tidurnya Cindy masih terisak sambil bergumam meminta maaf padaku. Rambut pirangnya yang indah terlihat berantakan.

Kupindahkan kepala Cindy dari pangkuanku kesofa tempat kami duduk. Kuambil selimut dikamarku dan kupakaikan pada Cindy. Aku lalu duduk disampingnya. Kugenggam tangannya. Kulihat wajahnya yang sangat cantik dan manis. Seorang wanita yang kuat, seorang wanita yang sukses dan seorang wanita yang dipuja oleh ribuan pria, hanya karena seorang pria yang bernama Mike menanggis seperti ini jadinya. Aku sebenarnya ingin mencari Mike kenapa dia tega memperlakukan sahabatku seperti ini. Tapi niat itu kuurungkan karena aku bukan tipe wanita yang menuduh sembarangan.

Kukeluarkan sisir dari tas kecilku. Aku mencoba merapikan rambut Cindy yang berantakan. Kusisir pelan-pelan agar tidak membangunkannya. Kubersihkan semua bekas riasannya yang luntur diwajahnya. Lalu kulihat liontin Cindy. Aku tersenyum. Liontin itu adalah tanda kami mengangkat saudara waktu kecil. Aku teringat bagaimana Cindy selalu menempel padaku kalau aku hendak kemana-mana. Dan mungkin kalian tidak percaya, Cindy yang dulu bukanlah Cindy yang seperti sekarang. Dulu Cindy sangat lemah karena kondisi tubuhnya. Akulah yang selalu menjaga dan menemaninya.

Pernah suatu waktu Cindy demam dan tidak sadar. Waktu itu Cindy berumur 6 tahun dan aku 7 tahun. Kami memang beda hanya setahun. Aku begitu kalang kabut dan menanggis takut Cindy meninggal. Tapi Mamanya menyakinkanku bahwa Cindy hanyalah tertidur karena capek saja. Aku tahu mamanya berbohong padaku agar aku tidak merasa bersalah. Aku sangat ingat Cindy menjadi seperti itu karena aku mengajaknya main kejar-kejaran hingga kelelahan.

Aku yang masih kecil menemaninya sepanjang malam. Aku menggenggam tangannya sambil berdoa. Aku menanggis menyesal karena membuatnya kelelahan dan terbaring lemah. Mamanya dan mamaku pun tidak mampu menyakinkanku untuk pulang. Aku ngotot tetap disampingnya sampai Cindy sembuh. Mama Cindy dan mamaku hanya bisa menghela napas panjang mengalah. Malam itu aku menemaninya. Bukan karena rasa bersalah, tapi karena aku begitu menyayanginya. Dan malam ini pun aku menemaninya. Bukan karena alasan yang sama, tapi aku benar-benar menyayanginya.

Pernah kami digoda oleh beberapa teman kami saat sekolah dulu. Karena keakraban kami, kami dikira saling mencintai sesame jenis. Tapi kami tidak peduli akan omongan seperti itu, karena kami tahu kami bukan seperti itu dan saksinya adalah DIA yang ada disurga. Kami tidak ingin persahabatan kami hancur oleh kata-kata yang bahkan mereka sendiri tidak tahu. Oya, dulu kami punya seorang teman laki-laki yang baik sekali. Namanya Andy. Dia beda dengan kami 5 tahun. Dialah yang selalu menjaga kami saat kami diiseingin oleh lainya. Tapi dia pindah setelah ayahnya mendapat tugas kekota lain.

“Mimi…”, Cindy memanggilku. “Iya sayang, tidur saja, aku disini kok. Istirahat dulu ya”, kataku sambil membelai rambutnya. Cindy hanya tersenyum. Manis sekali. lalu dia bangkit dan duduk disofa. Dia menarik tanganku kearahnya. Aku dimintanya duduk disebelahnya. Tanganku dirangkulnya. Aku tahu Cindy ingin bermanja padaku. Inilah cara dia pulih dari lukanya. Kubiarkan dia merebahkan sebentar kepalanya pada bahuku.

“Mimi, maafkan aku ya. Aku tidak tahu kalau kamu juga menyukai Mike”, kata Cindy sambil melihat kearahku. Aku bingung. Kenapa Cindy tiba-tiba berkata seperti itu padaku. “Aku juga minta maaf karena terlalu egois bertanya ini itu tentang Mike padamu. Aku yakin Mimi pasti menahan semua perasaan Mimi untuk mendengar ceritaku dan Mike. Aku jahat sekali bersenang-senang atas penderitaan Mimi, maafkan aku ya sayang”, lanjut Cindy dengan mata berkaca-kaca.

Sejujurnya aku tidak tahu harus berkata apa. Memang kuakui aku masih menyukai Mike. Tapi demi sahabat paling baikku ini aku rela mengalah dan membuang rasa didada. Tapi ternyata aku tidak bisa. Memang kuakui juga bahwa saat Cindy datang padaku dan meminta nasehatku, hatiku bagai dirajam batu berduri, tapi melihat sahabat terbaikku begitu bahagia aku rela hatiku dirajam lebih banyak batu lagi. Apakah aku bodoh? Mungkin saja, tapi bagiku SAHABAT TIDAK BISA DIGANTIKAN OLEH SIAPA DAN APA.

“Kenapa dulu Mimi tidak cerita padaku? Kalau kutahu Mimi menyukainya aku pasti merelakannya kok. Aku pasti akan…”, belum habis Cindy menyelesaikan kalimatnya ku tempelkan telunjukku dibibirnya agar berhenti. Kulihat wajah bingungnya. Aku tersenyum padanya. “Sayang, karena aku tahu kamu akan melakukan hal yang sama denganku, maka aku mengambil posisimu. Melihatmu yang cantik dan penuh tawa bahagia, apa aku rela menyakiti sahabatku sendiri hanya demi seorang pria?’, kataku.

“Aku sudah terbiasa melewati berbagai hal yang lebih berat dari ini, jadi jangan merasa bersalah atau apapun hanya karena kita bersahabat. Percayalah, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga”, lanjutku sambil memeluk Cindy. Aku tidak tahu kenapa aku masih sanggup menghiburnya. Padahal aku juga perlu seseorang mendengar dan menghiburku. Kami berpelukan cukup lama. Lalu Cindy melepaskan pelukkannya dan berkata padaku hal yang membuatku terkejut.

“Mimi harus jadian dengan Mike”. Aku terdiam kaget. Bagaimana mungkin aku jadian dengan seorang pria yang telah menyakiti sahabatku? Setampan-tampannya dia. Sekaya-kayanya dia. Sebaik-baiknya dia. Bahkan dia malaikat sekalipun aku tidak akan berpacaran dengannya. Karena dia telah menyakiti malaikatku. Sahabat terbaikku. Belum sempat aku menjawabnya, Cindy melanjutkan kata-katanya.

“Sebenarnya aku telah mengetahui Mike mempunyai perasaan lain pada wanita lain. Dan itu kuketahui beberapa bulan yang lalu. Hanya saja aku pura-pura tidak mengetahuinya. Itulah kenapa aku bertanya padamu bulan yang lalu. Karena nasehatmu aku bersemangat kembali. Tapi ternyata aku malah justru lebih menyakitimu”, kata Cindy sambil menundukkan kepalanya. Sekarang aku lebih bingung lagi.

“Hingga akhirnya aku tidak bisa menutupi perasaanku, aku mengajaknya bertemu dimall pada waktu malam itu”, lanjut Cindy lalu terdiam. Aku juga terdiam. Masih segar dalam kepalaku bagaiamana kejadian dimall ditoko buku itu. Cindy melihat kearahku. Matanya mulai basah oleh Kristal-kristal air matanya. “Mimi, Mike berkata padaku bahwa dia pacaran denganku karena diminta oleh wanita itu. Dan wanita itu mengaku bahwa dia sudah punya suami. Mike juga bercerita padaku bahwa Mike menyukai wanita ini, tapi mengetahui dia telah bersuami dia mengundurkan diri, kemudian kami pacaran”.

“Awalnya aku terkejut karena Mike pacaran denganku karena permintaan seorang wanita. Aku waktu itu marah sekali dan ingin mencari wanita itu. Tapi Mike meminta dan memohon padaku agar jangan mencarinya. Aku semakin marah karena dia membela wanita itu. Wanita yang telah bersuami. Aku bahkan menyumpahi wanita itu. tapi Mike malah marah padaku. Aku tidak habis pikir aku yang pacarnya malah dimarahinya bukannya menenangkanku”. Cindy terdiam sebentar. Aku menelan ludah. Aku berkeringat dingin. Aku berdoa semoga dia tidak melanjutkan kata-katanya.

“Tahukah Mimi siapa wanita itu?”, Tanya Cindy sambil melihat kearahku. Matanya telah basah oleh air mata. Tapi kulihat matanya tersirat ada kelegaan. “Wanita itu ternyata kamu”, lanjut Cindy sambil tersenyum. Tapi bukan senyum yang dipaksakan. Sebuah senyum yang penuh kelegaan. Dia langsung memelukku. Kudengar dia menanggis. “Mimi, mengapa kamu begitu bodoh membuang semuanya hanya demi aku. Aku mungkin tidak setegar dirimu, tapi aku juga punya perasaan. Waktu kudengar penjelasan Mike, amarahku memuncak dan menampar Mike. Karena dia telah menyakiti Mimi-ku”.

Malam itu, mungkin menjadi malam yang paling kukenang seumur hidupku. Kami menanggis bersama-sama. Aku yang demi sahabatku rela merelakan semuanya demi kebahagiannya, malah aku justru menyakitinya. Dan Cindy yang kuanggap telah bahagia bersamanya, malah justru menamparnya karena membelaku sahabatnya. Aku tidak tahu dimana bisa mencari sahabat seperti dirinya. Aku sangat bersyukur aku bisa bertemu dan bersahabat dengannya bahkan mengangkat saudara.

Memang seperti yang dikatakan Cindy, akulah yang meminta Mike agar berpacaran dengannya, dan aku juga berbohong aku telah bersuami juga. Semua kulakukan karena aku sangat menyayanginya dan aku ingin dia bahagia bersama pria yang disukainya. Tapi ternyata, kita tidak bisa menentukan kebahagiaan orang lain, KITALAH YANG HARUS MENCIPTAKANNYA. Dan ini kusadari benar malam ini setelah kejadian yang menimpa Cindy. Aku belajar dari pelajaran yang diberikan DIA melalui sahabat baikku. Kita boleh saja memberikan kebahagiaan padanya, tapi kebahagiaan dari orang lain itu hanyalah sementara. Justru kebahagiaan dari diri kita sendirilah yang disebut kebahagiaan sempurna.

Malam itu kuceritakan semua pada Cindy. Aku tidak ingin Cindy tersakiti lagi. Aku berkata padanya sebenarnya aku jatuh cinta padanya saat kami berdua diundang makan malam dulu. Dan karena kulihat Cindy juga jatuh cinta padanya, aku mengalah padanya. Aku juga menjelaskan kenapa aku berbohong pada Mike bahwa aku telah bersuami, semua itu kulakukan karena aku ingin dia tidak mempunyai kesempatan denganku. Sehingga Cindy punya kesempatan. Dan sekali lagi, aku yang berpikir akan membuat sahabatku bahagia malah menyakitinya.

“Mimi, percayalah padaku dan kabulkanlah permintaanku kali ini. Kamu harus mengejar Mike. Aku mengatakan ini bukan untuk sekedar menghiburmu, tapi Mike benar-benar pria yang baik. Hanya saja dia bukan untukku. Tapi dia adalah untukmu”, kata Cindy sambil tersenyum manis padaku. Kulihat dia begitu lega saat mengatakannya. Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku juga begitu lega telah menyampaikan semuanya padanya. “Bagaimana kamu bisa seyakin itu?”, tanyaku pada Cindy. Cindy tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya membelai wajahku. Diciumnya pipiku. Dan aku tahu maksudnya.

“Sayang, ada yang ingin kukatakan padamu. Waktu dimall itu sebenarnya aku…”, Cindy langsung memelukku. “Aku sudah tahu sayang, aku tahu. Bagaimana mungkin aku bisa tidak mengenali sahabatku. Dan aku tahu kamu pasti bingung apakah ingin mengejarku atau membiarkannku dulu. Dan aku sama sekali tidak membencimu sedikitpun. Karena melihatmu yang menanggis mencariku semalaman, aku sudah tahu bagaimana sayangmu padaku”, kata Cindy memelukku. Malam itu, air mataku benar-benar kering dibuatnya.

“Mimi….bagaimana cara pakai penutup kepala bunga ini sih”, manja Cindy padaku. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkahnya yang gemesin. Gaun putih pengantin yang dikenakannya sangat cantik dan indah. Sangat pas sekali dengan tubuhnya yang tinggi seperti model itu. Aku membantunya merapikan tatanan penutup kepala bunganya. Setelah selesai kutata kulihat dia tersenyum dan aku tahu apa maksudnya. “Sayang, ini hari bersejerah bagimu dan bagiku juga. Jangan kamu lompat kearahku dan memelukku. Nanti tatanan dan gaunmu berantakan”, tegasku padanya. Cindy hanya terdiam cemberut. Manis sekali.

Lonceng berbunyi 3x tanda pernikahan dimulai. Aku duduk didepan kursi yang telah disediakan. Kulihat sepasang malaikat kecil berjalan keluar membawa bunga ditangan mereka. Yang satu laki-laki dan satunya perempuan. Mereka terlihat manis dan sangat mengemeskan sekali. Usia mereka 3 tahun. Kulihat para undangan juga merasakan hal yang sama denganku. Bahkan beberapa tidak bisa menahan diri mau memeluk kedua malaikat kecil itu. Ya, mereka adalah putra putriku. Dan mereka kembar.

Sejak kejadian pada malam hari itu, aku dan Mike bertemu kembali. Awalnya aku merasa canggung. Tapi dengan bantuan Cindy suasana kaku itu bisa mencair. Cindy juga telah memaafkan Mike. Dan Cindy mengatakan padaku bahwa dia memang sedih harus berpisah dengan Mike. Tapi dia akan lebih sedih dan sangat menyesal jika harus mengkhianati dan menyakitiku. Mike juga meminta maaf pada Cindy dan padaku. Ternyata Mike juga tidak bisa melupakanku.

Oke, itu kisahku dengan Mike. Kami menikah setahun kemudian. Dan sekarang kami dikaruniai anak kembar yang tampan dan cantik sekali. Mereka menjadi pembawa bunga pada pernikahan Cindy. Tiba-tiba kudengar suara berdecak kagum dibelakangku. Ternyata pengantin wanitanya telah memasuki ruangan. Semua mata tidak berkedip memandang pengantin wanita yang super cantik ini. Aku juga sama. Kurasakan sebuah sentuhan hangat ditanganku. Ternyata Mike mengenggam tanganku. Mike menciumku. Aku dan Mike sangat berbahagia buat Cindy.

Didepan altar berdiri seorang pria. Pria yang juga tampan sekali. Dia adalah pria yang paling baik yang pernah kami kenal. Seorang pria yang mapan. Perhatian terhadap keluarga dan teman. Seorang pria yang kuat iman. Seorang pria yang penuh canda dan humoris. Dan yang paling penting, pria inilah yang selalu menjaga kami saat kecil. Sekarang, dia menjadi penjaga bagi malaikat pribadinya. Ya, kalian pasti bisa menebak siapa pria ini. Dia adalah Andy.

Pertemuan kembali Andy dan Cindy secara tidak sengaja saat aku dan suamiku Mike mengajak Cindy kecafe langganan kami. Waktu itu Mike mengatakan padaku bahwa dia punya seorang sahabat baik yang ingin dikenalkan pada Cindy. Awalnya aku melarang, karena Cindy tidak perlu dikenalkan pria karena dia sendiri magnet bagi pria. Tapi Mike agak memaksa dan Cindy juga menerima dengan senang hati. Katanya jika tidak cocok kan bisa jadi teman. Akupun mengalah saja. Dan ternyata pria yang ingin dikenalkan Mike itu Andy.

Awalnya kami begitu terkejut. Ternyata sejak kepindahan Andy kekota lain, dia dan Mike telah berteman baik sejak lama. Apakah ini permainan Mike? Tentu saja tidak. Bahkan Mike sendiri tidak menyangka. Kami yang telah lama berpisah, bertemu kembali karena Mike. Dan tentunya karena RENCANA DIA YANG DISURGA. Sejak kecil Cindy mengidolakan Mike. Dan kini, Andy tumbuh menjadi pria yang sangat tampan. Tidak perlu waktu lama bagi mereka berdua jatuh cinta.

“Apakah kamu bersedia menjalani suka dan duka bersama sampai maut memisahkan kalian berdua?”, tanya pastor kepada Cindy dan Andy. Burung-burung gereja menjadi saksi kisah mereka. Bunga-bunga menjadi ukiran cinta mereka. Mereka saling berpandangan mata. Mereka saling tersenyum penuh cinta. Mereka sama-sama menjawab penuh keyakinan. “Ya, aku bersedia”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s