Bahagia?


Am i really happy? Why i feel lonely?

“Apakah bahagia itu? lalu bagaimana mendapatkannya?”

Itulah yang sering ditanyakan orang pada umumnya dan aku juga demikian. Saat kutanya pada teman-temanku yang boleh dikatakan cukup sukses (sudah mempunyai bisnis sendiri, sudah mempunyai keluarga sendiri dan sudah mempunyai penghasilan yang mencukupi) berkata, “Bahagia adalah saat kita bisa memberikan yang terbaik pada orang-orang yang kita sayangi”. Aku kagum mendengar kata-katanya. Lalu kutanya lagi, “Apa yang dimaksud memberikan yang terbaik itu?”.

“Ya, kita bisa memberikan rumah untuk berteduh. Kita bisa memberikan pakaian yang pantas. Kita bisa memberikan makanan yang layak. Pokoknya kita bisa memberikan apa yang terbaik bagi mereka”, jawab temanku mantap. Sebagai pendengar umum aku setuju. Sebagai pribadi? Sejujurnya aku ragu. Jika itu yang dikatakan “kebahagiaan” maka bagaimana dengan mereka yang hidupnya masih sangat sederhana? Aku hanya berterimakasih pada temanku. Lalu kami berbicara sebentar kemudian aku pamit berlalu.

Dalam perjalanan pulang aku menyempatkan diri sebentar duduk disebuah tempat rekreasi. Aku mencoba mencerna kata-kata temanku. Tapi sebagaimana betulnya kata-kata temanku, aku tetap masih ragu dengan pengertian “bahagia” itu. Dan ini hanyalah pendapat pribadiku. Bagi kalian yang baca tidak perlu setuju denganku. Kita masing-masing mempunyai pendapat apa bahagia itu.

Dalam lamunanku sambil menulis dengan iPodku, kulihat sebuah keluarga kecil nan sederhana memasuki tempat aku melegakan beban hati dan pikiran. Kulihat tawa dan canda pada keluarga kecil itu. Sang ayah begitu ramah senyumnya. Sang ibu begitu perhatian pada suami dan anak-anaknya. Kulihat sang ayah sekali-kali menciumi kedua putrinya. Mereka memesan makanan dan duduk persis didepan mejaku. Jauhnya hanya beberapa meja dari tempat aku duduk.

Putri mereka dalam pikiranku menerka sudah kelas SD dan SMP. Keduanya sangat manis. Yang kecil begitu ceria dan energik. Sedangkan yang besar begitu penuh sabar dan perhatian menjaga adiknya. Aku tidak berani melihat kearah mereka terus, karena aku takut dicap orang aneh atau gimana. Aku hanya sekali-kali mencuri pandang. Tak pernah kulihat canda dan tawa mereka lepasa dari wajahnya. Dalam hati aku bertanya, apakah ini yang disebut bahagia? ataukah hanya hari ini mereka tertawa.

Kucoba menepis semua gulat pikiran dikepalaku. Aku melihat mereka begitu bahagia. pakaian mereka yang sederhana. Model baju yang sederhana. Riasan wajah yang seadanya tapi sangat mempesona. Mereka datang hanya mengenakan motor yang sederhana, bahkan “usia” motor tersebut mungkin sudah setua putrinya yang besar. Tapi tidak kulihat mereka malu ataupun menjaga jarak dengan tamu lainnya yang mempunyai kendaraan roda empat.

Saat melihat mereka, aku tidak sadar ternyata mulutku membentuk bentuk pelangi terbalik dibibirku. Ya, aku secara tidak sadar TERSENYUM dan MERASA BAHAGIA. padahal waktu itu aku mempunyai banyak beban dan pikiran. Saat kutahu aku tersenyum dan merasa bahagia, aku mencoba mencari artinya. Kenapa aku yang bukan bagian dari mereka hanya dengan melihat mereka saja sudah ikut merasakannya? Ataukah aku yang telah lama lupa akan rasa itu sehingga sangat mengharapkan suasana seperti itu? Aku tidak tahu. Yang pasti aku sangat menikmati saat-saat itu.

Setelah beberapa jam, keluarga kecil itu pun pulang. Aku masih melihat mereka sempat saling menyeka sisa makanan pada sikecil dengan sapu tangan. Sang ayah dari sejak awal datang sampai saat pulang tawa dan senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya. Kulihat sikecil begitu akrab dengan ayahnya. Sedangkan putrinya yang besar selalu mengandeng tangan ibunya. Sungguh pemandangan yang sangat jarang ada lagi didunia.

Lalu kulihat sang ayah mengangkat putri kecilnya. Digendongnya dipelukannya. Lalu berkata padanya, “Sayang, hari ini papa telah berjanji akan membawamu kesini bersenang-senang. Dan apakah kamu senang? Maaf ya papa tidak bisa memberikanmu lebih dari yang sederhana ini”, sambil mencium kening putrinya. Putri kecilnya memeluk ayahnya. Lalu jawab malaikat kecil itu pada ayahnya, “Papa, aku tidak perlu apa-apa selain papa. Yang aku inginkan hanya ingin bersama papa dan mama. Aku sangat bahagia bisa seperti sekarang. Aku dan kakak juga membawa uang tabungan kami. Kami titip sama mama kalau tidak cukup boleh kok pakai uang kami”.

Hampir nanggis aku mendengar kata-kata itu. Dipeluknya malaikat kecil itu lalu mereka berlalu penuh KEBAHAGIAAN. Aku tidak tahu apakah setelah hari itu mereka masih tetap sebahagia itu ataukah telah melupakan momen penuh warna-warni indah pelangi. Yang pasti mereka memberikanku momen yang sangat indah dan berharga. Kusandarkan tubuhku pada kursi yang kududuk. Saat aku merasa kepala dan hati ini penuh beban yang berdesakan, DIA memperlihatkan padaku sebuah keluarga yang menentramkan.

Kepalaku pun mulai bekerja mencari arti kebahagiaan. Temanku mengatakan bahwa bahagia adalah memberikan yang terbaik pada orang-orang yang kita sayangi. Dan aku setuju. Bedanya aku menemukan pengertian kebahagiaanku sendiri. Dan ini versi kebahagiaanku, dan itu adalah saat kita MEMBERI DENGAN TULUS APA ADANYA. Bukan karena apa ISINYA, bukan karena berapa HARGANYA, bukan karena MERKNYA,  bukan juga atas nama CINTA. Kita bahagia karena KITA BENAR-BENAR INGIN MEMBUATNYA BAHAGIA.

Sederhananya adalah kebahagiaan itu tercipta karena NIAT TULUS DARI JIWA. Dan kita melakukannya karena BENAR-BENAR INGIN DIA BAHAGIA. Setangkai bunga liar jika kita dengan setulus hati memberikannya pada orang-orang yang kita sayangi, bunga yang liar dan besar dijalanan bahkan bisa mengalahkan bunga terindah didunia. Memang kenyataannya tidak seindah tulisanku ini. Dan aku akui itu. Jika kita sekarang ditanya, “Sayang, besok kamu kan ulang tahun dan aku ingin memberikanmu hadiah, kamu mau apa? Setangkai bunga rasa sayangku padamu ataukah sebuah Blackberry yang kau inginkan dari dulu?”. Jawabannya? Tidak perlu jawab padaku.

Sebuah pengalaman baru kudapat pada waktu itu. Dan entah dari mana semua jawaban langsung hadir dihadapanku. Aku mengerti arti bahagia itu dan tentunya dalam versiku. Lalu aku juga bertanya pada diriku sendiri, “Jika memang setulus hati kita berikan kenapa banyak yang menerima terlihat kurang bahagia? bukankah kita telah memberikan dengan niat yang tulus dan benar-benar ingin dia bahagia?”. Jika malam itu aku tidak berjumpa dengan keluarga kecil itu, aku sendiripun tidak tahu harus menjawab apa pada diriku yang penuh ego ini. Tapi, DIA begitu Mahabaik memberikan jawaban melalui keluarga kecil yang sederhana tapi sangat berbahagia. Dan ini jawabanku pada diriku sendiri.

“Karena kita yang menerima lebih mencintai yang DIBANGGA DUNIA dan TERLIHAT MEMPESONA DIMATA LAINNYA daripada sebuah PERASAAN TULUS YANG TIDAK TAMPAK OLEH MATA”.

Yup, itulah jawabanku pada diriku sendiri. Dan aku akui dulu bertahun-tahun yang lalu akupun seperti itu. Kini apakah aku menjadi suci dan penuh kebaikkan? Justru aku masih sama dan penuh keegoisan. Hanya saja aku tidak 100% seperti diriku yang dulu. Aku malah sangat malu dan menyesal dengan sikap dan pemikiranku yang dulu. Untunglah aku mempunyai sahabat-sahabat yang baik yang selalu menegurku sehingga aku menjadi lebih dan lebih baik dibanding dulu.

Mungkin ini terdengar klise dan dibuat-buat atau munafik. Saat aku masih bersama seorang wanita yang sangat kucintai dulu, aku tidak pernah mau dia membelikanku barang-barang berharga yang dipajang ditoko-toko yang tinggal dibungkus dan dipermak secantik mungkin saat ulang tahunku. Kukatakan padanya aku sangat menyukai buatan tangannya. Tidak peduli apakah itu makanan, jahitan, pakaian, atau lainnya. Yang pasti aku suka yang buatan tangan. Tidak perlu sempurna asal dia yang memberikannya.

Indahnya, dia pun setuju dan dengan senang hati melakukannya. Hadiah apakah yang dia belikan? Jika dinilai dengan mata uang dunia, mungkin SAMA SEKALI TIDAK BERHARGA. Tapi jika dinilai dengan PERASAAN TULUS YANG TERSAMPAIKAN, ditukar uang berapapun aku akan menolaknya. Terdengar munafik? Mungkin saja. Tapi itulah aku yang sebenarnya. Dan hadiah itu benar-benar merupakan rangkaian tangannya, hadiahnya berupa ANYAMAN TANGAN dan LIPATAN RATUSAN BINTANG KERTAS. Ya, kertas bintangnya ada ratusan. Sederhana bukan. Tapi kujaga dan kusimpan dengan sebaik-baiknya.

Memang kalian tidak perlu setuju dengan tulisanku tentang kebahagiaan ini. Karena aku juga bukan ahlinya. Lalu kenapa kutulis tulisan ini? Karena aku ingin berbagi dengan kalian yang penuh pesona. Mungkin dengan berbagi ini kita sama-sama bisa menemukan arti kebahagiaan untuk diri sendiri, dan bisa menjadi lebih bahagia. Sejujurnya saat kutulis tulisan ini, aku dirundung masalah yang sangat kompleks. Dan tidak mungkin kutuangkan isi hatiku disini. Tapi aku masih bisa tersenyum dan melaluinya dengan bangga walaupun malamnya kadang aku berurai air mata.

Kisah dalam tulisanku ini memang bukan kisah nyata, tapi aku menulis ini karena aku memang mendapatkan inspirasi dari sebuah keluarga kecil yang kutemui. Dan keluarga kecil itu nyata. Dan pertanyaanku yang kusampaikan pada awal cerita pada temanku juga benar adanya. Aku menulis ini karena aku sekedar ingin menulisnya. Jika tulisan ini tidak mengena, kumohon janganlah marah, tapi tersenyumlah karena itu merupakan symbol bahagia.

Sebenarnya aku mempunyai seorang teman yang boleh kukatakan super kaya. Mobilnya 5. Tanah puluhan hektar. Bisnis import barang keluar negeri. Sekarang dia juga sudah berkeluarga tapi tidak lama lagi hendak berpisah dengan istrinya. Apa masalah aku tidak tahu. Yang kutahu jika kebahagiaan itu dinilai dengan SEGALA SESUATU YANG BERLIMPAH, lalu kenapa mereka harus berpisah? Bukankah semua itu bisa diberikan bahkan dengan yang terbaik pula.

Banyak yang mengatakan bahwa hidup “sangat sederhana” tidak bisa bahagia. Lalu kenapa malam sebelumnya justru kulihat tawa dan canda penuh pesona menghias keluarga yang sederhana itu? Bukankah perbandingannya sangat jelas? Aku memang tidak bisa menjawab semua itu. Tapi versi kebahagianku adalah seperti yang telah kutuangkan dalam kalimat yang sederhana dan biasa sebelumnya. Karena aku suka sesuatu yang berakhir bahagia (dan semuanya pasti sama), aku ingin mengulang arti bahagiaan versi diriku. Dan bahagia itu adalah…

“Saat kita memberikan dengan TULUS APA ADANYA dan dengan NIAT BENAR-BENAR INGIN DIA BAHAGIA. Dan juga saat kita MENERIMA DENGAN TULUS APA ADANYA apa yang disampaikan oleh PERASAAN yang memberikannya”.

6 thoughts on “Bahagia?

  1. inspiring story! i’m in situation about feeling lonely and unhappy. i google “bahagia” and ur blog was one of it. thank you. u gave me some inspiration :)

    regards,
    Juwita

    1. i’m really glad to hear that :) i never taught my little story can give you inspiration. i wish the best for you and hope you find your own happiness.

      Thank you for coming Angel Juwita Wirawan :)
      Sorry for my bad english too ;p

  2. Kalo boleh nambah kayaknya dengan kita selalu berfikir positif dalam setiap keadaan pasti kita akan merasakan kebahagian dan ketenangan….ok gan kita tunggu artikel selanjutnya…

  3. sekali sangat mengesankan,saya baru sadar saja dengan bahagia ini..selama ini aku jarang mengerti bahagia itu dan deskripsinya.yg saya tahu bahagia adalah harta karena saya kurang beruntung dg harta.makasih aku bisa nangis dan tersenyum baca tulisan ini…salut….

    1. Terimakasih banyak headhy atas komentarnya, dan juga atas waktunya yang berharga mau mengunjungi blog sederhana ini dan membacanya.

      Ya, seringkali itu (harta) yang pada umumnya kita definisikan bahagia. Memang tidak salah, tetapi justru salah jika kita mengagungkan materi sebagai bahagia.

      Bahagia tidak dibeli, diminta maupun dicuri. Bahagia itu diciptakan dari hati. Apapun kondisimu, tuan bahagia tidak peduli. Yang dia peduli, kamu mau dan memilih bahagia, dan dia akan berkunjung padamu saat itu juga.

      :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s