Ugly Princess (Putri yang jelek)


Am i really that ugly?

Disebuah kerajaan yang berada dinegeri entah-dimana, hiduplah seorang raja dan permaisurinya yang bijaksana. Mereka sangat disayang oleh para rakyatnya. Negerinya begitu indah dan rakyatnya makmur sejahtera. Diantara sekian banyak kerajaan dinegeri itu, kerajaan yang ditahtai oleh raja inilah yang selalu menjadi perbincangan para raja-raja disegala penjuru dunia dan para peri yang terkenal dengan pesonanya. Mengapa kerajaan ini sangat begitu dibanggakan, tak lain adalah karena raja inilah manusia pertama yang memperistri seorang wanita tercantik dari negeri para peri.

Kisah mereka telah menjadi legenda didunia manusia. Kisah mereka juga telah menjadi kisah abadi di dunia para peri jelita. Karena kisah cinta mereka, dunia manusia dan dunia peri akhirnya bisa berbaur dalam satu dunia. Kehidupan disana begitu penuh bahagia. semua saling menyayangi dan menghormati. Dan satu alasan lagi mengapa kerajaan itu sangat dibanggakan, tak lain adalah semua penghuni kerajaan itu baik pria maupun wanita tidak ada satupun yang jelek. Ya, tidak ada satupun.

Sekarang pada pagi yang cerah ini, terdengar tanggisan seorang bayi. Permaisuri baru melahirkan putrinya yang ketiga. Tapi anehnya tak terlihat raut bahagia diwajah sang raja dan permaisurinya. Biasanya mereka akan langsung menyuruh pelayanannya mengabarkan kabar bahagia itu keseluruh penjuru dunia. Tapi kali ini semua terlihat bermuram durja. Terlihat seorang pelayan memasuki ruangan sambil membawa bayi itu kepada sang raja.

“Ampun baginda, ini adalah putri anda yang ketiga. Dia lahir dengan kondisi sangat sehat. Matanya seperti permaisuri. Biru langit dan indah. Kulitnya putih bersih seperti salju yang…”, belum habis pelayan itu menjelaskan, sang raja telah memotong pembicaraanya sambil berkata, “Bagaimana dengan wajahnya?, apakah dia cantik seperti sebagaimana putri-putriku yang lain ataukah justru sebaliknya?”. Sang pelayan hanya terdiam. Terlihat begitu berat sang pelayan kemudian membuka penutup wajahnya. Raja begitu sedih melihatnya. Lalu dia membawa bayi itu dipelukannya. Kemudian raja pergi berlalu meninggalkan semuanya.

“Hey Aurora, cepat turun. Aku ingin bicara denganmu”, teriak seorang anak laki-laki pada seorang anak perempuan diatas pohon. “Kalau kamu ingin bicara denganku, kamu saja yang naik kesini”, goda sang anak perempuan itu pada anak laki-laki dibawahnya. “Oke, siapa takut. Aku akan ke atas sana”, balas anak laki-laki itu tertantang. Diambilnya langkah mundur beberapa langkah, lalu dengan secepat kilat dia berlari dan hop dia melompat. Tanganya langsung memegang dahan pohon terendah. “Hehehe…tunggu aku disana Aurora”, bangga anak laki-laki ini.

“Aduh…”, teriak anak laki-laki itu. “Hahahaha…baru saja satu dahan pohon sudah jatuh. Malu-maluin saja kamu jadi laki-laki”, ejek anak perempuan itu diatas pohon. “Justru kamu yang malu-maluin, masa anak perempuan pakai naik pohon dan seperti tomboy begitu”, balas anak laki-laki ini tidak mau kalah. Mendengar kata itu, anak perempuan yang diatas pohon langsung melompat turun. Ketinggiannya hampir setara satu tingkat rumah. Tapi sianak laki-laki tidak terkejut dengan yang dilakukan sianak perempuan.

“Hop..”, sahut sianak perempuan. Dia mendarat dengan sempurna. Bahkan boleh dibilang seperti melayang turun kebawah. “Sekarang apa yang ingin kamu bicarakan denganku, semoga yang bagus-bagus, kalau tidak akan kupukul kamu karena telah menganggu dan mengejekku”, kata sianak perempuan ini sedikit mengancam.  Matanya biru langit. Rambutnya panjang lurus keemasan diikat kebelakang. Tutur katanya tegas. Seorang anak perempuan yang sehat dan pemberani. Dan ya, namanya Aurora.

Anak laki-laki yang diajak bicara oleh Aurora adalah seorang anak yang tampan. Malah sangat tampan sekali diusianya yang masih anak-anak. Matanya berwarna hijau permata. Rambutnya sebahu keperakkan. Orangnya tenang dan sedikit urakan. Diusianya yang belia postur tubuhnya cukup tinggi. “Ayo dong Richard, ada apa sih kamu mencariku. Kalau tidak aku pukul nih”, kata Aurora tidak sabaran.

Anak laki-laki ini, Richard adalah teman sejak kecil Aurora. Richard lebih besar beberapa tahun. Tapi karena sifatnya yang lebih dewasa dari Aurora, Richard selalu mengalah. Padahal dari segi fisik dan kekuatan Richard lebih menguntungkan jika diajak beradu fisik. Tapi begitulah sifat Richard. Selalu mengalah dan baik pada semua orang, terutama pada Aurora yang sejak kecil sudah yatim piatu.

Aurora dibesarkan oleh keluarga Richard dan sudah dianggap anak sendiri. Richard mengetahui Aurora menjadi yatim piatu karena orang tuanya Aurora meninggal kecelakaan saat bekerja mengantar barang pesanan sang raja. Aurora telah dianggap sebagai adik sendiri oleh Richard. Walaupun mereka sering berdebat, mereka tidak pernah bermusuhan, tapi justru cara itulah mereka saling mengungkapkan kasih sayang. Memang unik hubungan mereka.

“Mama memintaku mengajakmu pulang. Katanya papa sudah pulang dan membawa oleh-oleh buat kita. Jadi jangan bilang aku tidak memberitahu kamu ya. Ayo kita..”, belum selesai bicara Aurora sudah berlari didepan Richard. “Ayo Richie, kita lihat siapa yang dapat duluan hadiah dari papa. Yang telat mendapat sisanya lho”, teriak Aurora sambil tertawa. Richard hanya bisa menghela napas panjang. Sambil tersenyum Richardpun mengejar Aurora dari belakang. Tawa mereka terdengar sepanjang jalan.

“Hai papa…”, teriak Aurora sambil melompat kepelukan ayahnya. Pria berkumis tebal ini langsung menangkap putrinya. “Hohoho…bagaimana kabar putriku yang cantik ini. Dari lompatannya papa pastikan kamu pasti sehat-sehat saja”, jawab ayah Aurora. “Aku kangen banget sama papa”, kata Aurora manja. “Jadi, oleh-oleh apakah yang papa bawakan padaku?”, Tanya Aurora sambil mencium pipi papanya.

“Maafkan papa sayang, papa tidak membawa sesuatu yang berharga. Papa hanya bisa membawakanmu sepasang liontin yang cantik buat kamu yang cantik dan buat kakakmu. Dimana kakakmu?”, Tanya pria berkumis ini sambil mencari putranya. “Aku disini papa”, balas Richard dengan suara ngos-ngosan. “Ya ampun, mengapa kamu sampai berkeringat begitu?”, terdengar suara seorang wanita sambil meletakkan makanan diatas meja. Aurora memandang Richard, kemudian tersenyum penuh arti. Lalu dia melihat kearah ayahnya. Mereka sama-sama tersenyum dan tertawa kecil.

“Hohoho…sepertinya kamu dikalahkan lagi oleh adikmu lagi ya?”, kata pria berkumis ini saat makan malam bersama. “Sayang, makan dulu baru bicara. Nanti makanannya bertaburan kemana-mana lho”, kata istri pria berkumis ini. Wajahnya sangat cantik. Matanya hijau permata seperti mata Richard. Rambutnya hitam mengkilat. Senyumanya sangat manis dan ramah. Tutur katanya lembut. Wanita cantik ini bernama Emerald dan seorang wanita yang sangat sayang keluarga.

Pria berkumis yang penuh canda dan tawa ini adalah kepala keluarga dirumah ini. Dia adalah suami dari Emerald dan ayah dari Richard dan Aurora. Seorang pria yang tampan. Berwibawa. Kuat dan penuh bijaksana. Aurora sejak kecil sangat dekat dengan pria ini. Maka tidaklah heran Aurora menjadi kuat dan sedikit mirip dengan ayahnya. Sedangnkan Richard lebih mewarisi kelembutan dari ibunya. Tapi walaupun begitu, Richard bukanlah anak laki-laki lemah, hanya saja Aurora yang lebih kuat dari anak laki-laki pada umumnya.

Malam itu merupakan malam yang sangat membahagiakan bagi keluarga sederhana itu. Mereka saling bercanda. Mereka tertawa. Mereka saling berbagi cerita. Mereka saling menjaga. Kebahagiaan yang selalu digambarkan oleh manusia pada umumnya bisa belajar dari keluarga tersebut. Mereka memang bukan dari kalangan para bangsawan. Tapi mereka tahu cara menjadi “bangsawan”. Mereka tidak mempunyai kekayaan berlimpah. Tapi mereka mempunyai “kekayaan” yang sebenarnya.

“Wahhh, cantik sekali liontin ini pa. Terimakasih banyak ya. Aku senang sekali bisa mendapatkannya dari papa”, kata Aurora sambil melompat kearah ayahnya. Diciumnya sang ayah penuh manja. “Hohoho..baguslah putriku yang cantik ini menyukainya. Jaga liontin ini baik-baik ya, karena liontin ini adalah liontin ajaib. Saat kamu sedih kamu boleh cerita keliontin ini. Dan apapun permintaanmu nanti akan dikabulkannya”, jelas ayahnya kepada Aurora.

“Apa benar begitu pa?, kalau begitu sekarang aku meminta sebuah boneka”, balas Aurora sambil memejamkan mata memegang liontinya memohon. “Hohoho..bukan begitu caranya sayang. Lointin ini hanya mengabulkan apa yang menjadi KEBUTUHANMU, bukan KEINGINANMU. Sekarang kamu mungkin belum mengerti. Tapi nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya”, kata ayahnya sambil mengecup kening putrinya. “Sekarang sudah malam, ayo tidur dulu. Papa bacakan cerita favoritmu ya”, lanjut ayah Aurora. “Hmmphh…”, peluk Aurora sambil tersenyum.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Aurora pun tumbuh dewasa. Kakaknya Ricard menjadi pemuda yang sangat tampan sekali. Saking tampannya semua kerajaan dinegeri tersebut ingin mempersuntingnya. Bahkan para gadis-gadis cantik  dari negeri peri datang hanya sekedar ingin menyaksikan ketampanannya. Tapi semua keinginan itu ditolaknya dengan halus bahwa dia sudah mempunyai pujaan hati. Dan saat ditanya siapa, jawabannya selalu dengan senyum manisnya. Dan dengan senyum itu saja, para gadis-gadis cantik baik dari dunia manusia ataupun peri sudah terdiam. Bukan karena mereka tidak bisa berkata apa-apa. Tapi mereka terhipnotis ketampanan Richard. Lalu bagaimana dengan Aurora, apakah dia tumbuh menjadi seindah kakaknya? Ternyata justru sebaliknya.

Aurora the Ugly Princess. Begitulah nama panggilan yang diberikan oleh anak-anak padanya. Lalu sejelek apakah Aurora sampai dijulukin demikian? Konon katanya anak-anak yang pernah melihat wajahnya akan langsung menanggis. Bahkan ada yang mengatakan pula hanya dengan memandang wajahnya saja seorang penjahat yang kejam pun akan lari ketakutan. Kok konon? Ya, sejak mulai beranjak remaja, Aurora telah lama menutup wajahnya dengan topeng yang dibuatnya. Sehingga sampai dia beranjak dewasa tak seorangpun yang benar-benar tahu bagaimana wajahnya.

Jangankan penduduk desa yang selalu dekat dengannya, bahkan keluarganya saja belum pernah melihat wajah Aurora yang beranjak dewasa. Walaupun dengan segala cara dan penuh cinta kasih ayah dan ibunya menyakinkan bahwa mereka tetap mencintainya, Aurora tidak bergeming dengan keputusannya memakai topeng diwajahnya. Richard yang paling dekat dengannya saja tidak bisa meluluhkan keputusannya. Walaupun dijuluki dengan kata-kata yang menyayat hati, Aurora tidak pernah tersinggung dan marah. Malah dia sangat ramah dan sering bermain mereka yang mengejeknya.

Sebagaimana wanita pada umumnya, Aurora juga mempunyai perasaan yang terpendam. Setiap matahari terbit, dia harus memakai topengnya. Dia harus bersikap ceria. Dia harus tertawa penuh bahagia. dia harus berpura-pura topengnya itulah wajahnya. Tapi saat bulan bersinar terang, Aurora selalu kesebuah danau didepan rumahnya. Disana dia selalu berdoa agar diberi kekuatan. Tiap malam air matanya membasahi danau dimana dia bercermin dan menanggis. Dan itu telah dia lakukan semenjak remaja. Dan tak seorangpun yang  tahu.

Malam ini adalah malam kesekian ribu Aurora mendatangi danau didepan rumahnya. Malam ini Aurora mencoba membuka topengnya. Dilihatnya wajahnya didanau. Terlihat dengan jelas matanya yang besar. Hidungnya yang pesek dan mulutnya yang lebar. Cahaya bulan bersinar begitu terang. Lalu air mata itupun mengalir seperti berlian-berlian indah jatuh keair. Aurora mulai menanggis. Hatinya begitu sedih. Ia ingin marah, tapi kepada siapa? Ia ingin bercerita, tapi kepada siapa? Hanya bulan dan bintang jadi saksi kesedihannya.

Malam itu Aurora melipat tangannya. Kepalanya ditundukkan. Untuk keseribu sekian kalinya Aurora berdoa. Kali ini Aurora mengenggam liontin pemberian ayahnya yang kata ayahnya adalah liontin ajaib. Satu diberikan pada kakaknya, satu diberikan padanya. Dalam linangan air matanya Aurora memohon permintaan kepada ibu peri.

“Wahai ibu peri penguasa keajaiban. Engkau yang terkenal bijak dan penuh keindahan pelangi, malam ini aku memohon padamu satu hal yang tidak pernah kumohon seumur hidupku. Besok baginda akan mengadakan pesta perjodohan putrinya, dan baginda mengundang rakyatnya kesana. Aku juga sangat ingin melihat kecantikkan putri raja yang terkenal akan kecantiknya. Aku ingin sekali saja melihat apa yang disebut kecantikkan sempurna yang selalu dibanggakan itu”.

“Aku tidak meminta supaya aku menjadi cantik, aku hanya meminta agar aku bisa melepas topengku sebentar saja. Aku juga tidak perlu meminta sehari penuh, hanya beberapa jam saja sudah cukup bagiku. Maka pada malam ini aku memohon padaku. Perkenankanlah aku menikmati apa yang dibanggakan para wanita, karena aku juga ingin mencoba merasakannya. Setelah itu aku rela melakukan apa saja untuk membayarnya”.

Setelah selesai berdoa. Tiba-tiba Aurora merasakan wajahnya dihembusi angin yang hangat. Pelan-pelan Aurora membuka matanya. Dan dia sangat terkejut. Ditengah danau dia selalu menanggis, airnya  bergejolak pelan. Lalu didepannya dia melihat cahaya-cahaya nan indah saling berpelukan. Samar-samar tapi pasti membentuk bayangan. Cahaya itu semakin terang. Tapi tidak menyilaukan mata yang melihat. Bayangan itu membentuk seorang manusia. Dengan sayap-sayap yang sangat indah. Seorang peri datang pada Aurora.

“Anakku, aku telah lama mendengar kisahmu. Dan malam ini aku begitu tersentuh dengan doamu. Aku akan mengabulkan permintaanm”, kata peri dengan suara yang sangat indah dan mempesona pada Aurora. Rambutnya bersinar keemasan. Matanya biru permata. Tatapannya begitu menentramkan. Sayapnya terbentuk dari cahaya-cahaya bintang. Siapa saja yang melihatnya dipastikan tidak akan melupakan wajahnya. Kecantikkannya tidak tersaingi oleh semua wanita didunia manusia. Dan ia adalah peri danau.

Aurora hanya terdiam. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia mencoba mencubit pipinya. Dan Auwww ternyata sakit. Ini bukanlah mimpi kata Aurora dalam hati. Dia mencoba mengucek matanya. “Jangan-jangan aku telalu banyak menanggis sehingga melihat hal-hal yang tidak mungkin”, bisik Aurora. Peri danau yang melihat tingkah Aurora hanya tertawa kecil. Ya, Aurora masih Aurora yang dulu. Sifatnya yang periang dan energik tidaklah berubah. Bagi Aurora jika sekedar melihat peri itu sudah biasa. Apalagi dengan ketampanannya kakaknya Richard, tiap hari dia pun bisa melihat para peri itu datang memuja kakaknya.

Lalu mengapa Aurora tidak percaya saat melihat peri yang dihadapannya? Karena itu adalah ibu peri yang menguasai air. Dan dalam dunia peri, ibu peri itu tidak pernah memperlihatkan dirinya pada manusia biasa. sekarang ibu peri yang begitu tinggi derajatnya hadir didepanya. Lalu menawarkan akan mengabulkan permintaanya, kalau ini bukan mimpi jadi apalagi?. Diantara percaya dan tidak, Aurora langsung mengambil sikap berlutut didepan ibu peri ini.

“Maafkan aku ibu peri. Aku merasa sangat tersanjung ibu peri datang kepadaku. Dan maafkan atas permohonanku. Aku hanya ingin bercerita pada bulan dan bintang beserta danau ini supaya perasaanku lebih lega, tapi tidak tahunya ibu peri malah datang kepadaku. Aku benar-benar tidak pantas didatangi ibu peri yang seindah ini, apalagi dengan wajahku yang…”, kata-kata Aurora terputus. Air matanya pun mengalir kembali. Ibu peri yang melihat tulusnya hati Aurora hanya tersenyum. Dan sangat manis sekali.

“Anakku…, angkat kepalamu dan lihatlah padaku”, kata ibu peri pada Aurora. Aurora pelan-pelan mengangkat kepalannya. Ibu peri tersenyum. “Kecantikkan wanita tidaklah terletak pada wajahnya, tapi apa yang ada didalam dada. Wajah dikepalamu boleh saja dijauhi manusia, tapi “wajah” dihatimu telah membuatku terpana. Kamu tidak perlu bercerita apa-apa aku juga telah mengetahuinya. Dan karena ini permintaanmu yang tulus, aku ingin memberimu hadiah kecil. Tapi sebelum kamu meng-iyakan apakah kamu yakin ingin menjadi cantik?”, Tanya ibu peri sambil tersenyum. Dan benar-benar cantik.

“Apakah yang dimaksud ibu peri?”, Tanya Aurora bingung. Dalam hatinya Aurora berpikir. Jika bisa menjadi cantik kenapa harus menyesal. malah dia yakin sekali dengan menjadi cantik pasti hidupnya akan lebih bahagia. dia tidak perlu memakai topeng lagi. Dia tidak perlu setiap malam menanggis lagi. Itu yang dipikirkannya. Sang ibu peri hanya tersenyum. “Setiap permohonan pasti perlu pengorbanan. Dan permohonanmu juga perlu pengorbanan. Tapi aku tidak meminta apa-apa darimu. Aku hanya berpesan, bisakah kamu menepati janji yang akan kuberikan padamu?”, Tanya ibu peri tersenyum manis.

“Ya, aku bisa. Apakah janji itu?”, sahut Aurora tidak sabaran. Ibu peri tersenyum manis. “Janganlah pernah kamu iri pada sesamamu dan menginginkan kecantikkan wanita lain selain yang kuberikan padamu. Dan jangan pernah kamu menjelekan sesamamu yang kurang daripadamu. Apakah kamu bisa menepati janji itu?’, Tanya ibu peri pada Aurora. Sekarang Aurora terlihat bahagia. dia yakin janji seperti itu akan mudah dipenuhinya. Kenapa? Karena dia tahu bagaimana rasanya menjadi jelek wajahnya.

“Maafkan aku ibu peri, apabila aku tidak dapat memenuhi janji itu, apakah hukuman yang akan engkau berikan?”, Tanya Aurora penasaran. “Aku tidak akan memberikan hukuman apa-apa, karena itu adalah permohonanmu karena tulus hatimu maka kukabulkan sebagai hadiah dariku. Itu hanyalah pesan dariku dan aku ingin kamu selalu menepatinya”, jawab ibu peri dengan senyuman yang sangat manis. Aurora begitu bahagia. air matanya berlinang dipipinya. “Ya ibu peri, aku akan selalu ingat pesanmu”.

Malam itu Aurora berlari pulang dengan sangat bahagia. dia sudah tidak sabar ingin melihat wajahnya dicermin dirumah. Saking senangnya Aurora tidak merasakan dinginnya udara malam itu. Senang hatinya mengalahkan segala bentuk dingin yang menusuk tubuh. Larinya semakin cepat dan cepat. Napasnya ngos-ngosan. Lalu dengan secepat kilat Aurora membuka pintu kamarnya. Dicarinya kaca yang disetiap sudut kamar. Dulu karena wajahnya yang buruk, semua kaca dipecahkannya dan dibuangnya.

Karena suara yang gaduh saat mencari kaca ataupun cermin, ayah dan ibunya terbangun. Dikirannya putri kesayangannya itu sedang bermasalah. Richard yang tiba duluan hanya berdiri diam didepan pintu. Ia sama sekali tidak bergeming melihat Aurora. Wajahnya terlihat sangat terkejut. Mulutnya terbuka mengangga. Ayahnya dan ibunya menjadi cemas. Ada apa gerangan yang dilihat Richard sehingga menjadi beku disitu. “Mama, papa… apakah ada cermin yang besar?”, kata Aurora sambil berlari kearah ayah dan ibunya. Dan, mereka begitu terkejut dengan apa yang dilihat mereka. “Sa..sayang…wa..wa..wajah kamu…”, kata ibunya terbata-bata. “Kenapa dengan wajahku?”, Tanya Aurora bingung.

Kenapa dengan wajahmu sayang?”, tanya ibunya Aurora dengan mimik wajah yang sangat terkejut. Ayahnya juga kelihatan sangat terkejut. Matanya lurus memandang kedepan. Tatapannya kosong. Bukan karena terkejut melihat sesuatu yang mengerikan, tapi terkejut melihat sesuatu yang sangat mempesona. “Au..Aurora…”, itulah kata yang bisa terucap dari mulut sang ayah. “Ada apa dengan wajahku ayah? Kok kalian begitu terkejut? Apa aku menjadi sangat jelek?”, tanya Aurora semakin penasaran dan cemas.

“Wajah kamu… kenapa selama ini kamu menyembunyikannya?”, tanya ibunya pelan-pelan menghampiri putrinya. Dibelai wajah putrinya dengan lembut. Aurora hanya bingung. Hatinya berdebar-debar tidak karuan. Antara percaya dan cemas. Matanya terus mencari cermin. “Mama, apakah mama ada cermin yang besar?”, tanya Aurora tergesa-gesa. Ibunya hanya tersenyum. Digenggam tangan putrinya lalu dibawanya keruangan keluarga.

“I..ini aku?’, tanya Aurora pada diri sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bola matanya biru langit indah. Hidungnya mancung. Bibirnya merah muda mawar merekah. Giginya tertata putih mempesona. Bayangan seorang bidadari tercermin dimana Aurora berdiri. Ibunya datang menghampiri dan memeluknya. “Sayang, jika kamu mempunyai wajah secantik ini? Kenapa kamu malah menyembunyikannya bertahun-tahun? Ataukah ada alasan lain yang tidak bisa kamu ceritakan?”, tanya ibunya penuh sayang.

“Mama, aku tidak pernah berbohong padamu. Dan malam inipun aku tidak ingin berbohong padamu juga. Setiap malam saat papa dan mama mulai tertidur, aku selalu keluar diam-diam dan berdoa didepan danau rumah kita. Aku telah melakukannya bertahun-tahun, dan malam ini aku berdoa dengan mengenggam liontin pemberian papa dan terjadilah mujizat. Ada ibu peri yang datang kepadaku dan mengabulkan permintaanku. Liontin papa benar-benar ajaib”, cerita Aurora sambil memeluk ibu dan ayahnya sambil berurai air mata bahagia.

“Maksudmu apa?”, tanya ayahnya bingung. “Waktu kecil papakan sering bercerita bahwa liontin yang papa berikan padaku dan kakak itu liontin ajaib. Dan malam itu keajaiban terjadi. Lihatlah wajahku. Dulu aku tidak berani memperlihatkannya, tapi sekarang aku menjadi cantik sekali bukan. Terimakasih banyak pa. Liontin papa benar-benar menyelamatkanku”, kata Aurora sambil memeluknya ayahnya. Sang ayah hanya tersenyum. Padahal ayahnya sendiri tidak tahu bahwa liontin itu ajaib atau tidak. Itu hanyalah hiburan buat putrinya yang masih kecil saja.

Malam itu keluarga sederhana ini dipenuhi sukacita. Bukan karena Aurora menjadi cantik luarb biasa dan mempesona, tapi bagi mereka tawa Aurora telah lama hilang semenjak mulai beranjak dewasa. Sebagai wanita pada umumnya, ibunya sangat mengerti bagaimana perasaan Aurora yang memiliki wajah yang disebut orang-orang jelek. Tapi sebagai ibu dari putrinya dan ibu seperti wanita lainnya, sejelek-jelek apapun buah hatinya, tidaklah pernah jelek kasih kasihnya.

“Sayang, mama sangat bahagia melihatmu bisa tertawa seperti ini lagi. Papa, mama dan juga kakakmu benar-benar kehilangan cahaya pesonamu semenjak wajahmu ditutupi dengan topeng itu. Kami semua menyayangimu apa adanya. Tidak peduli apakah wajahmu seperti apa, tidak peduli kamu seperti apa, bagi kamu tetaplah mutiara. Sekarang melihatmu yang bisa tertawa seperti ini, mengingatkan mama padamu yang masih kecil dan ceria. Jika ini benar-benar mujizat seperti yang kamu cerita, maka kita harus berterimakasih pada ibu peri yang telah membuatmu tertawa”.

“Iya ma, dia adalah ibu peri didepan danau kita. Mari aku bawa papa dan mama kesana”, ajak Aurora sambil mengandeng tangan ibu dan ayahnya. Mereka berjalan kedepan danau didepan rumah mereka. Richard kakaknya hanya mengikuti dari belakang saja. Terlihat senyuman yang sangat manis diwajah Richard. Dia begitu bahagia melihat adiknya yang selalu dijaga itu bisa tertawa lagi. Dilihatnya dari jauh Aurora bersama ayah dan ibunya berlalu. Dikeluarkannya liontin yang sama dari bajunya. Richard memandang liontin itu. Lalu berkata, “Terimakasih karena telah mendengar doaku”.

Keesokkan paginya matahari bersinar dengan cerah. Kicauan burung yang biasa menghiasi pagi tidak terdengar suarannya. Terdengar suara nyanyian yang sangat indah menemani langkah-langkah kecil menari. Itu adalah suara nyanyian terindah yang pernah ada. Semua yang mendengar terbuai suaranya. Semua mata yang melihat tak berkedip terpana. Wanita ini hanya tersenyum melihat mereka yang mematung terpesona. Tidaklah heran burung-burung kehilangan kicauanya, karena mereka juga hampir tidak percaya dengan keindahan ciptaan DIA.

Ya, wanita itu adalah Aurora. Wanita yang sangat cantik dalam semalam saja. Ketulusan hatinya telah mencairkan mereka yang mendengar doannya. Pagi itu Aurora pergi berbelanja dipasar bersama kakaknya. Sejak Aurora dulu memakai topeng untuk menutupi wajahnya, pasar inilah yang paling dihindari Aurora. Karena disinilah Aurora mempunyai kisah-kisahnya yang membuatnya meneteskan air mata setiap malamnya. Ya, disinilah anak-anak sering mengejeknya. Walaupun begitu Aurora tidak pernah membenci mereka.

“Hai anak-anak, nanti kita mau main kemana”, tanya Aurora pada sekelompok anak-anak yang manis. Mereka hanya terdiam. Mereka yang masih kecil yang belum mengenal apa itu cantik terpesona oleh kecantikkan Aurora. Mereka tidak percaya dengan apa yang lihatnya. “Kakak siapa?”, tanya seorang anak laki-laki yang tampan pada Aurora. Aurora tertawa kecil. Lalu dikeluarkan topengnya dari sakunya. Dipakainya topeng itu diwajah. Dan, seketika itu anak-anak berteriak bersamaan.

“Kakak Ugly Princess…”. Mereka begitu terkejut dan secara spontan mundur. Ada beberapa yang lari. Bahkan sebagian menanggis. Dibukanya kembali topeng itu dari wajahnya. “Kok malah jadi takut sih? Inikan kakak yang sering main dengan kalian”, kata Aurora sedikit cemberut. Dan, sangat cantik sekali. Seorang anak perempuan kecil mendekati Aurora. “Kakak masih tetap kakak yang dulu kan?”, tanyanya dengan wajah yang manis sekali. Anak perempuan itu dipeluknya. Lalu diangkatnya.

“Tentu saja ini kakak. Tapi bukan kakak yang jelek lagi, tapi kakak yang cantik”, kata Aurora sambil mencium anak perempuan kecil itu. Si anak perempuan itu melihatnya. Lalu mereka saling berpelukan. “Kakak jelek, kakak jelek… aku juga ingin digendong”, kata seorang anak laki-laki kecil sambil menarik gaunnya. Aurora meletakkan kembali anak perempuan yang digendongnya. Lalu dilipat tangannya. “Boleh, tapi dengan satu syarat. Kalian tidak boleh panggil kakak dengan kakak jelek lagi ya”. Semua anak saling memandang satu sama lain. Mereka mengangguk bersamaan. “Sekarang ayo kita main”, teriak Aurora disertai tawa dan canda anak-anak mengikutinya.

Hari itu menjadi hari yang bersejarah bagi desa tempat Aurora berada. Kakaknya hanya tersenyum melihat tingkah adiknya yang penuh ceria. Hari itu juga menjadi hari yang paling berbahagia dalam hidup Aurora. Keajaiban telah merubah dirinya. Richard hanya melihat adik yang sangat disayanginya itu berlalu. Dalam senyumnya Richard mengeluarkan liontinnya. Liontin itu terlihat sangat indah. Warnanya biru permata. Lalu diangkatnya liontin itu dan dilihatnya dibawah matahari pagi itu. Ternyata liontin indah itu terdapat sedikit retak. Richard hanya memandanginya. Entah apa yang dipikirkannya saat itu.

“Kakak, kakak… kapan kakak kepesta pernikahan sang putri raja?”, tanya Aurora saat malam bersama keluarganya. Ibunya tersenyum melihat tingkah putrinya yang semangat. Sang ayah juga tertawa. “Kamu ini, semenjak menjadi dirimu yang dulu selalu kakak yang direpotkan”, kata Richard mengoda adiknya. “Kan kakak adalah kakakku yang paling bisa diandalkan. Siapa sih yang tidak mengenal kakakku yang mempunyai ketampanan luar biasa ini”, balas Aurora sambil manja pada ibunya.

Richard hanya tertawa kecil. “Pestanya akan diadakan bulan depan. Jadi masih lama. Jika kamu ingin ikut kakak kesana boleh-boleh saja. Tapi kamu harus jaga sikap kamu ya. Diistana tidak bisa seperti sebebas ini. Ada peraturannya”, jelas sang kakak pada Aurora. Aurora hanya mengangguk. “Siap pangeran”, goda Aurora lagi. Seketika tawa memwarnai suasana malam itu. Ayah yang tampan dan penuh canda. Ibu yang baik, perhatian, cantik dan mempesona. Kakak yang begitu melindungi dan tampan luar biasa. Apa lagi yang kurang.

Kecantikkan Aurora ternyata menyebar kesegala penjuru dunia. Desa yang sebelumnya tenang dan jauh dari segala keramaian, kini menjadi ramai karena kunjungan. Banyak pangeran yang datang ingin membuktikan kabar burung tentang kecantikkan Aurora. Keramaian itu bahkan hampir sama dengan keramaian yang ditimbulkan kakaknya Richard yang sebelumnya terkenal dengan ketampanannya. Yang sekarang mungkin melebihi kepopuleran kakaknya. Hanya saja keramaian yang disebabkan kakaknya tidak berlangsung lama karena Richard mengaku sudah punya tambatan hati, dan itu membuat para pemujanya baik wanita dari dunia manusia maupun dunia peri patah hati.

Kini, kecantikkan Aurora bahkan mengundang penasaran raja dari kerajaan terbesar. Kerajaan yang terkenal dengan rakyatnya yang serba cantik dan tampan. Kerajaan yang terkenal dengan rajanya yang tampan dan permaisuri dari dunia peri. Kerajaan yang paling banyak dipuja dunia manusia dan dunia peri disana. Karena penasaran dengan kecantikkan Aurora, sang raja meminta putranya yang tunggal untuk memastikan kabar burung tersebut yang bahkan mengelitik telinga sang ratu yang terkenal tercantik diseluruh dunia.

Segala bekal perjalananan disiapkan. Sang pangeran dengan kuda putih kesayangannya mulai melakukan perjalanan. Rambutnya keemasan disirami cahaya matahari. Matanya kebiruan. Postur tubuh yang tegap dan berotot. Seorang pria yang sangat tampan. Seorang pangeran idaman.  Dengan satu hentakkan pangeran dari kerajaan ini langsung memacu kuda putihnya menuju desa dimana Aurora berada. Dalam hatinya pangeran ini masih tidak percaya bagaimana mungkin ada seorang wanita dari dunia manusia yang bisa mengalahkan ibundanya sang ratu yang paling cantik dari negeri peri. Pertanyaan itu akan terjawab seteleh aku bertemu dia kata pangeran tampan berkuda putih ini dalam hati. Dan, ternyata pertemuan pangeran ini dan Aurora mengubah hidup Aurora dan semuanya.

“Kyaaa…”, terdengar teriakan para gadis-gadis ketika pangeran berkuda putih ini melintasi desa mereka. Beberapa histeris sampai tak sadarkan diri. Memang mereka telah mendengar bahwa pangeran ini sangat tampan, tapi sampai saat ini mereka belum pernah bisa membuktikan ketampanan pangeran yang selalu mereka dengar dan puja. Kini orangnya sendiri datang mengunjungi desa mereka. Bermimpipun tidak pernah.

Dengan senyumannya yang ramah pangeran ini menyapa para penghuni desa tersebut. Tidak hanya wajahnya yang terkenal tampan dan mempesona, tapi tingkah laku sikapnya juga sesuai dengan parasnya. Lalu pangeran ini berhenti tepat ditengah para gadis-gadis berkerumunan. Dia turun dari kudanya. Disibak rambut pirang keemasannya. Para gadis-gadis terpana membisu sejuta kata. “Maafkan aku nona-nona manis, bolehkah aku bertanya satu pertanyaan padamu?”, kata pangeran ini bertanya pada seorang gadis yang manis sekali.

Wajahnya langsung memerah. Tak sepatah kata terucap dari mulutnya. Selang beberap detik gadis ini tersadar dari pesona sang pangeran. “I..iya..pang..pangeranku..”, katanya terbata-bata ditemani teriak histeris gadis-gadis lainnya. “Siapakah gerangan yang bernama Aurora?”, Tanya pangeran sambil tersenyum. “Kyaaaa….tampan sekali..”, teriak mereka sambil bersamaan. Tapi tidak  terdengar jawaban dari mereka. Mereka terlalu terhanyut oleh seorang pangeran. Pangeran yang selalu mereka impikan. Pangeran hanya tersenyum sabar menunggu jawaban.

“Aku orangnya. Ada yang bisa aku bantu?”, terdengar suara seorang wanita dibelakang pangeran berkuda putih ini berdiri. Pangeran ini membalikan badanya. Dan, mata sang pangeran itu terbuka lebar. Seorang wanita yang sangat cantik berdiri didepannya. Rambutnya yang bergerak gemulai tertiup angin menambah kecantikkannya. Sang pangeran hampir tidak percaya bahwa masih ada gadis secantik ini diluar dari kerajaan ayahnya. Bahkan dalam hatinya dia sendiri mengakui kecantikan gadis didepannya ini melebihi kecantikannya ibundanya.

“Kamu yang bernama Aurora?”, Tanya sang pangeran dengan nada masih takjub. “Iya, aku Aurora. Ada apa seorang pangeran mencari diriku?”, Tanya Aurora sambil tersenyum. Manis sekali. Cantik berkali-kali. Sang pangeran tersenyum. Aurora juga membalas senyumnya. Tidak ada satu kata yang perlu diucapkan. Mereka saling mengagumi. Mereka saling menyampaikan kekaguman melalui ikatan hati. Dan pertemuan itu mulai menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka.

Sudah hampir sebulan Aurora dan pangeran berkuda ini berteman. Mereka sering berkuda bersama. Sang pangeran juga sering bermain kerumah Aurora. Ayah dan ibunya begitu bahagia menyambut pangeran dirumah mereka. Richard juga terlihat bahagia. tapi saat itu Richard tidak bisa berbicara banyak dengannya karena lagi kurang enak badan. Padahal Richard terkenal dengan tubuhnya yang sehat. Aurora sebenarnya ingin merawat kakaknya yang sangat disayangi itu, tapi karena kakaknya bersikeras agar menemani sang pangeran, mau tidak mau Aurora terpaksa melakukannya.

Tinggal 7 hari lagi Raja akan mengadakan pesta pernikahan putrinya. Dan ternyata pangeran berkuda putih inilah yang hendak menjadi pendamping putri raja. Aurora bingung saat pangeran berkuda putih ini menjelaskannya. “Apa benar yang kamu katakana itu Charles?”, Tanya Aurora pada pangeran berkuda putih ini yang ternyata benama Charles. “Iya Aurora. Rajamu dan ayahku adalah sahabat baik. Rajamulah yang selalu membantu ayahku saat dulu sebelum menjadi kerajaan terbesar didunia ini. Tapi Rajamu tidak mau bersatu dengan kerajaan ayahku karena hal-hal tertentu yang aku sendiri juga tidak tahu”, jelas pangeran Charles pada Aurora.

“Tinggal beberapa hari lagi aku harus pulang kekerajaanku dan menyiapkan semua keperluan lamaran”, sambung pangeran Charles sambil terdiam sesaat. Dua anak manusia ini diam tak bisa berkata apa-apa. Ketampanan Charles telah meluluhkan hati Aurora. Kecantikkan Aurora telah mencuri hati Charles disampingnya. Mereka sebenarnya saling menyukai, tapi hanya sebatas suka saja. Mereka sama-sama menyadari posisi mereka sehingga mereka tidak berani terbawa oleh perasaannya. Mereka hanya duduk diam sambil menikmati hembusan angin sore ditaman bunga.

Malam itu Aurora berjalan pelan kedepan danau dia selalu berdoa. Sudah cukup lama Aurora tidak berdoa lagi. Kini, malam itu Aurora sambil membawa liontinnya datang memohon doa. Malam itu Aurora memohon agar diberi kesempatan untuk bersama orang yang disukainya. Dengan doanya yang sungguh-sungguh Aurora juga memohon agar jika mereka bisa bersama selamanya. Aurora memohon agar diberi kesempatan sekali lagi. Dan saat membuka mata, keajaiban terjadi sekali lagi.

Ibu peri sedang berdiri didepannya. Untuk kedua kalinya ibu peri memperlihat dirinya pada Aurora. Pesonanya, kecantikkannya, keindahannya masih membuat Aurora berdecak kagum. Tidak ada kata cukup untuk melihat kecantikan sang ibu peri didepannya. Ibu peri  tersenyum padanya. Manis sekali senyumannya. Didekatinya Aurora.

“Aku kini hadir didepanmu, dan aku telah mendengar permintaanmu. Aku juga tidak keberatan mengabulkan permintaanmu. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya padamu, apakah kamu yakin dengan doamu dan permohonanmu? Apakah kamu yakin akan bahagia dengan apa yang dilihat matamu? Apakah kamu yakin bahagia dengan apa yang didengar telingamu?”, Tanya ibu peri penuh keramahan dan bijaksana.

Aurora terdiam. Ya, dia sebenarnya sendiri juga ragu. Sekarang dia sudah sangat bahagia dengan keadaannya. Tapi karena keinginan hatinya ingin memiliki sang pujaan hati, Aurora mengangguk tanpa menjawab. Sang ibu peri tersenyum kembali. “Baiklah jika itu pilihanmu, aku akan mengabulkannya untukmu. Tapi ingatlah ini sekali lagi. Setiap permohonanmu selalu perlu pengorbanan lain. Kebahagiaanmu ditentukan oleh dirimu, bukan siapa-siapa. Dan ini adalah permintaan keduamu”, kata ibu peri sambil berlalu.

Aurora berlari sekencang mungkin kembali kerumah. Dia begitu bahagia karena permohonannya menjadi kenyataan. Dia sudah tidak sabar ingin segera pulang kerumah dan segera menunggu matahari terbit untuk bertemu dengan sang pujaan hatinya. Saat dia melangkahkan kakinya kerumah, terlihat ibunya menunggu dengan wajah yang cemas didepan rumah. Aurora bingung dan segera menghampiri ibunya.

“Mama, ada apa ma? Kok mama kelihatan sedih?”, Tanya Aurora deg-degan. “Kakakmu Richard kondisi tubuhnya mulai memburuk. Tadi siang dia masih baik-baik saja. Tapi sejak tadi dia mulai telihat sangat kelelahan. Coba kamu temani kakakmu sebentar ya. Mama dan papamu ingin mencari obat dulu”, jelas ibunya sambil memeluk Aurora. Kemudian ayahnya keluar menemani ibunya berlalu mencari obat di desa. Aurora langsung bergegas menemui kakaknya.

Rambutnya memutih semua. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Ketampanan yang selalu terpancar indah diwajahnya kini berganti garis-garis keriput menghias. Ya, kakaknya Richard menderita sakit dari sebulan lalu. Tapi anehnya tidak ada yang tahu apa penyakitnya. Sepertinya Richard menjadi semakin tua dari hari kehari. Sudah berbagai dokter dari penjuru desa mencobanya, tapi tidak satupun yang tahu penyebabnya.

“Aurora…”, kata Richard sambil memandang adiknya. “Iya kak, aku disini…”, jawab Aurora sambil mengenggam tangan kakaknya. Tangannya begitu lemah dan lemas. Aurora tidak kuasa menahan air matanya. “Jangan menanggis adiku, kakak baik-baik saja. Bagaimana hubunganmu dengan Charles? Pasti kamu sudah tahu siapa yang hendak raja kita buat pesta bukan?”, Tanya Charles sambil tersenyum. Sebuah senyum yang sangat ramah dan penuh kepedulian. Bahkan saat terlentang diatas tempat tidur, kakaknya Richard masih begitu peduli pada adikknya.

Aurora tidak menjawab, dia hanya menggangguk saja. Lalu Charles melanjutkan katanya, “Maafkan aku Aurora, aku mungkin tidak bisa menemanimu kepesta seperti yang dijanjikanku dulu. Aku terlalu lelah untuk berjalan jauh”. Charles lalu terdiam sebentar. Dia mengambil napas. Aurora tidak tahan lagi melihat kakaknya begitu tersiksa. Dimintanya kakaknya agar istirahat. Setelah terlelap Aurora langsung berlari keluar. Dia berlari kedanau dimana dia selalu berdoa. Sampai disana dengan linangan air mata dia meminta ibu peri agar datang padanya.

Dilipat tangannya. Digenggam liontinnya. Diucapkannya doa-doa. Lalu dibuka matanya. Tidak terlihat apapun didepannya. Hanya hamparan danau luas yang diterangi sang bulan malam. Ditutup matanya kembali. Diucapkan doa-doa permohonannya. Kali ini dengan suara yang keras. Lalu dibuka matanya kembali, juga tidak terlihat siapa-siapa. Aurora langsung tertunduk lesu. Air matanya mengalir dengan deras. Dia merasa sangat sakit dan sedih.

Dalam tanggisnya dia meminta agar ibu peri kembali padanya. Dia ingin membatalkan permohonan sebelumnya. Dia rela kehilangan pujaan hatinya daripada harus kehilangan kakaknya. Dia menanggis dan meraung-raung agar dikabulkan permohonannya. Tapi tidak ada siapapun yang hadir seperti malam-malam sebelumnya. Dia memohon lagi. Digenggamnya lebih erat liontinnya. Tapi tetap tidak ada yang berubah. Ia ingin marah. Tapi kepada siapa?

Setelah berjam-jam menanggis dan kelelahan, Aurora akhirnya tertidur dibawah pohon dia dan kakaknya selalu bermain bersama saat masih berusia belia. Dalam mimpinya Aurora bermimpi kembali kenangan bersama kakaknya. Mereka begitu bahagia. Mereka begitu bergembira. Mereka selalu saling menjaga. Bahkan dalam tidurnya Aurora pun masih meneteskan air mata.

Lalu dalam mimpinya, tiba-tiba dia melihat sebuah cahaya yang menghangatkan. Karena penasaran diikutinya cahaya itu. Awalnya cahaya itu sangat menyilaukan, lalu kemudian mulai memudar dan dia melihat seorang pria bersujud didepan danau. Awalnya dia mengira itu dirinya, tapi saat Aurora menghampirinya betapa terkejut dirinya. Itu adalah kakaknya Charles sedang berdoa. Dan tangannya sedang mengenggam liontin.

Aurora mencoba menyentuhnya, tapi tidak bisa. Dipanggil kakaknya, tapi tidak terdengar. Aurora menjadi bingung. Lalu terdengar suara yang tidak asing lagi bagi Aurora. “Dia tidak akan mendengarmu anakku, kau sekarang hanyalah roh dari tubuhmu”. Ya, ternyata ibu peri itulah yang memanggilnya. Aurora memandang kearah ibu peri. Dilihat sekujur tubuhnya. “Roh? Apakah aku sudah mati?”, Tanya Aurora semakin bingung. Ibu peri hanya tersenyum.

“Tidak anakku, aku hanya meminjam rohmu sebentar saja. Kau yang sekarang sedang tertidur kelelahan karena air matamu. Aku begitu tersentuh dengan ketulusannmu. Sekarang aku membawamu melihat kembali mengapa aku mengabulkan permintaamu”, jelas ibu peri. Aurora semakin bingung. Ibu peri mendekatinya. Lalu dibelai rambutnya Aurora.

“Aku akan membawamu kembali pada masa kecilmu. Dan aku berharap kamu akan mengetahui semuanya. Apa yang terjadi padamu bukan tanpa alasan. Jadi apakah kamu mau mengetahuinya? Mengapa kau diberi wajah yang jelek? Mengapa aku mengabulkan permohonanmu? Mengapa liontin itu mengabulkan doamu? Dan mengapa kakakmu bersujud doa didanau itu?”, Tanya ibu peri pada Aurora. Aurora mengambil napas panjang. “Ya aku siap, apapun itu kenyataannya”.

“Oee..oee..”, Terdengar tanggisan bayi membuyarkan lamunan Aurora. Dilihatnya seorang pria dewasa yang sangat tampan sedang menenangkan sang bayi. Pria ini matanya biru. Kumisnya yang tebal menyiratkan wibawa. Wajahnya terlihat sedih seakan ada beban yang sangat berat dihati. Tiba-tiba tampak butiran air mata jatuh pada wajah bayi yang digendongnya. Sayup-sayup  terdengar bisikkan suara parau dari pria ini, “Maafkan aku putriku, ayahmu ini bukan ayah yang baik bagimu. Ayahmu ini tidak bisa menjadi ayahmu disaat kamu paling membutuhkan kami disisimu. Janganlah kamu membenci ibumu, ayah yang harus kamu salahkan jika kelak kamu telah dewasa dan mengetahui semuanya. Maafkan ayah Aurora”.

Rasanya seakan dunia jatuh menimpanya. Bayi dalam gendongan yang dilihatnya ternyata adalah dia. Dan pria yang mengendongnya itu ayahnya. Bingung bercampur bahagia, tapi bukankah dia sudah mempunyai ayah? Bukankah ayahnya telah meninggal saat dia masia belia? Lalu kenapa pria itu menyebut dirinya ayah?  Rasanya ia ingin berlari dan memberikan ribuan pertanyaan pada pria itu. Tapi tidak bisa karena dia tidak disitu.

Belum selesai Aurora bermain dengan pertanyaan dikepalanya, terdengar suara derap kaki kuda menghampiri pria ini. Yang menghampirinya adalah seorang pria yang seusia. Pria ini turun dari kudanya. Dibukanya kerudung yang menutup kepalanya. Betapa terkejutnya Aurora melihat pria ini. Itu adalah ayahnya yang sekarang. Bedanya usianya lebih muda dan rupawan. “Michael, terimakasih kamu bersedia datang kemari. Aku tidak tahu kepada siapa lagi harus memohon. Hanya kamulah satu-satunya pria sekaligus sahabat yang bisa kupercaya”, kata pria yang mengendong bayi.

Ternyata pria yang berkuda barusan datang itu adalah ayah Aurora, dan yang lebih mengejutkan lagi ayah kandungnya bukanlah meninggal karena kecelakaan. Tapi kenapa ayahnya berbohong demikian? Pria berkuda ini menghampiri pria yang mengendong bayi. “Jonathan, apakah kamu yakin dengan semua keputusanmu? Biar bagaimanapun ini adalah putrimu”, tanya Michael sahabatnya. Pria yang bernama Jonathan ini hanya terdiam. Air matanya terus mengalir diwajahnya. Kesedihan yang tercermin diwajahnya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

“Maafkan aku sahabatku, aku tahu betapa marahnya dirimu menyerahkan putriku padamu. Bahkan aku tidak mengapa kamu harus mengutukku. Aku terpaksa melakukannya karena kamu tahu kerajaanku mempunyai aturan-aturan dari dunia…”, pria ini tak mampu menyelesaikan kata-katanya, lebih tepat tidak bisa mengatakannya. Michael yang melihat hal itu pun langsung mengambil bayi yang digendong Jonathan. Seorang raja yang bijaksana, seorang ayah yang penuh pesona, hanya demi peraturan yang fana rela membuang putrinya. Siapakah yang harus disalahkan? Hanya Aurora yang tahu.

Michael membuka kain pembungkus bayi tersebut. Dilihatnya bayi perempuan itu. Dia tertidur pulas. Secara fisik tubuhnya sangatlah sehat dan normal. Yang membedakannya hanyalah wajahnya yang kurang sempurna dan kurang indah bagi mereka yang terbiasa melihat hal-hal indah. Michael membelai wajah manis sang bayi yang sedang tertidur. Bayi itu dalam tidurnya tersenyum dan mengenggam jari Michael. Ikatan pertama terjadi diantara mereka berdua.

Michael membereskan dudukan kudanya. Kemudian dia menaiki kuda tersebut. Katanya kepada Jonathan, “Aku akan menjaga bayi ini selayaknya putriku. Dan akan kulindungi dengan segenap hatiku. Tapi sebelum aku berlalu, ingatlah ini sahabatku. Jika kamu membuang sesuatu yang tidak indah menurutmu, maka kamu juga akan menyesal oleh ketidakindahan itu. Jika kamu memuja karena keindahan itu, maka kamu juga akan menyesal akan keindahan itu juga”. Jonathan hanya terdiam. Diserahkan 2 buah liontin itu pada Michael. “Berikanlah liontin itu padanya dan pada seseorang yang menyayanginya. Karena liontin itulah yang akan saling menjaga mereka. Itu adalah liontin dari ibunya. Semoga liontin itu melindunginya”.

Setelah mengambil liontin itu, Michael pun memacu kudanya meninggalkan Jonathan diam membisu. Air matanya tak berhenti mengalir. Aurora yang menyaksikan kilas balik masa lalu dirinya sendiri pun tidak mampu menahan air mata. Dia merasa bingung tapi sekaligus bahagia, karena ayahnya masih ada. Aurora ingin menghampiri ayah kandungnya dan memeluknya, tapi tubuhnya semakin melayang jauh ditarik oleh kekuatan kewaktu berikutnya. Sambil menanggis Aurora hanya bisa berteriak, “Ayahhhh…”. Lalu cahaya yang sangat terang membungkus dirinya.

Saat membuka matanya, Aurora berdiri tepat dihadapan seorang pria. Dia sedang melipat tangannya dan berdoa. Ditangannya sedang mengenggam liontin yang sama dengan liontin yang dipakainya. Ya, dia adalah Richard. Kakak yang sangat disayanginya. Kakak lain darah yang selalu melindunginya. Aurora tidak tahu apa yang didoakan kakaknya. “Apakah kamu ingin tahu apa doa kakakmu?”, tanya ibu peri disampingnya. Aurora mengangguk. Ibu peri mengayunkan tangannya.  Lalu terdengarlah setiap kata-kata doa yang diucapkan kakaknya. Air matanya pun berlinang membasahi wajah cantiknya.

“Ibu peri yang penuh pesona, pada malam ini aku berdoa dan memohon padamu. Aku ingin saat adikku Aurora memohon dan berdoa padamu dengan liontin yang sama, kabulkanlah doanya. Sebagai pergobanan atas doanya, kuberikan apa yang selama ini yang dibanggakan dan selalu dipuja manusia. Kuberikan wajahku untuk wajahnya. Kuberikan tubuhku untuk tawanya. Kuberikan usiaku untuk kebahagiaannya. Aku melakukan karena aku mencintainya. Bukan hanya sebagai kakak yang menjaganya, tapi sebagi pria yang mencintainya”.

Seketika sadarlah Aurora. Rasanya penyesalan langsung menyeruak dari dadanya. Akhirnya dia sadar mengapa dia bisa menjadi cantik saat berdoa dengan liontinnya. Akhirnya dia sadar mengapa ibu peri bertanya tentang pengorbanan padanya. Akhirnya dia tahu siapa yang benar-benar menyayanginya.  Demi menjadi cantik, kakaknya rela kehilangan ketampanannya untuk diberikan padanya. Demi melihat dia tertawa, kakaknya rela menukar dengan tubuhnya. Demi melihat dia berbahagia, dia rela memberikan usianya.

Kini kakaknya telah terbaring lemah hanya demi kebahagiaan dirinya.  Akhirnya dia juga sadar mengapa semua itu terjadi, ternyata dia memohon dengan liontinnya. Dan liontin itulah penghubung jiwa mereka berdua. Aurora duduk bersujud didepan kakaknya. Air matanya tak henti-henti membasahi wajahnya. Tangannya mencoba membelai wajah kakaknya. Tapi sia-sia. Tangannya hanya menembus tak bisa menyentuh wajah. Dalam tanggisannya, Aurora merasakan kembali ada kekuatan yang menarik dirinya. Untuk pertama kalinya. Aurora menyadari perasaan yang sebenarnya. Untuk pertama kalinya Aurora tahu siapa yang selalu diinginkannya. Lalu Aurorapun pun berpindah pada waktu berikutnya.

Pada kesempatan ketiga ini, Aurora diperlihatkan pada dirinya sendiri. Saat itu malam hari dan dia tidak akan pernah melupakan malam itu. Dia bersujud didepan danau itu. Waktu itu dia membuka topengnya dan hendak berdoa. Dikeluarkannya liontin itu dari bajunya. Saat Aurora melihat dirinya yang malam itu hendak berdoa, Aurora yang berbentuk roh sekarang langsung mengejar hendak melarang dirinya. Walaupun dia tahu bahwa dia tidak akan bisa menyentuhnya, dia tetap melakukannya.

Aurora ingin membatalkan semua keinginannya. Dia telah melihat penyesalan karena kecantikkan diinginkannya. Dengan cepat Aurora merebut liontin itu dan melemparkannya kedanau. “Plung..”, terdengar benda jatuh keair. Aurora yang berbentuk roh terkejut. Mengapa bisa? Lalu dilihatnya Aurora yang malam itu. Tidak ada siapapun disitu. Kemana dirinya. Dia semakin bingung. Kenapa sebelumnya dia yang tidak bisa menyentuh siapa dan apa saja, sekarang malah bisa mengambil dan membuangnya? Lalu kemana dirinya yang malam itu? Berbagai pertanyaan menghinggapi kepalanya.

Tiba-tiba hadir ibu peri. Kali ini sang ibu peri terlihat tersenyum manis sekali. Sebuah senyum yang sangat berbeda. Sebuah senyuman yang puas dengan apa yang dilihatnya. Aurora ingin bertanya ribuan pertanyaan, tapi lagi-lagi ada kekuatan yang menarik dirinya. Mulutnya terkunci rapat tak bersuara. Rasa penasaran, bahagia, penyesalan bercampur jadi satu rasa. Dia ingin berontak tapi tidak bisa. Kekuatan itu membawanya kewaktu berikutnya. Waktu apakah itu? dia sendiri tidak tahu.

“Aurora…apa yang kamu lakukan disini?”, terdengar sebuah suara yang sangat dikenalnya. Sebuah suara yang selalu menjaganya sedari belia. Itu adalah suara Richard kakaknya. Aurora terbangun dan tidak percaya melihat kakaknya didepannya. Dia tidak sakit. Dia sangat tampan. Langsung dipeluk kakaknya. Tanggisannya lansung meluap. Richard terlihat bingung. “Ada apa sayang? Apakah ada yang menjahilimu? jika ada biar kakakmu yang menghukumnya”, hibur kakaknya. “Tidak ada kak, aku menanggis karena bahagia. Aku sangat bahagia. Ijinkan aku memelukmu sebentar saja”, kata Aurora. Dan, dia benar-benar bahagia.

Hari ini adalah hari yang paling ditunggu para rakyat didesa Aurora. Raja dari desa tersebut akan mengadakan pesta pernikahan putrinya. Pria yang akan menjadi suaminya adalah pangeran dari kerajaan terbesar dunia manusia. Kerajaan itu adalah kerajaan raja Jonathan, ayah kandungnya yang dilihatnya melalui kilas balik bersama ibu peri. Dan pangeran itu adalah pangeran Charles, tak lain adalah adik kandungnya.

Aurora masih mengingatnya dengan jelas seperti apa itu Charles. Tapi Charles tidak akan mengenalnya. Karena semua doanya telah dibatalkan oleh dirinya sehingga pertemuan sebelumnya hanya menjadi sebuah mimpi semata. Dia juga bukanlah gadis cantik yang dikenal keseluruh penjuru dunia. Dia kembali menjadi Ugly Princess. Bedanya sekarang dia menerima dengan bahagia. Tidak ada sedikitpun penyesalan dalam hatinya. Dan yang paling membuatnya bahagia, Richard sehat dan tampan seperti semula menemaninya.

Malam itu semua undangan hadir dipesta itu. Para undangan bukanlah undangan biasa. mereka adalah para raja dan permaisurinya. Pangeran dan putri-putri dari berbagai penjuru dunia. Lalu hadirlah Aurora dan kakaknya Richard. Ribuan mata memandang kearah mereka. Yang wanita berdecak kagum pada ketampanan sang pria, Richard. Yang pria terkesan dengan wibawanya Richard. Sedangkan Aurora hanya menerima pandangan sinis dari lainnya.

Dengan penuh kebanggaan Richard menemani Aurora. Tak terlihat sedikitpun Richard merasa malu dengan Aurora yang memakai topeng diwajahnya. Banyak dari tamu undangan yang berbisik-bisik kearah mereka. Tapi mereka tak mempedulikannya. Aurora juga terlihat biasa saja. Malah sangat menikmati malam itu dengan canda dan bisik kecil dengan kakaknya.

Pestapun dimulai dengan meriah. Semua tamu undangan terpuaskan penuh tawa. Bulan bersinar dengan indahnya, kelap-kelip bintang menjadi lampu hias diangkasa. Lalu hal yang paling ditunggu akhirnya datang. Raja Jonathan dan permaisurinya dari negeri peri tiba. Aurora yang telah tahu siapa raja Jonathan hanya terdiam saja. Haru dan pilu bercampur satu. Lalu sang permaisuri turun dari kereta tahtanya. Betapa terkejutnya Aurora. Wajah itu tidak pernah akan dilupakannya. Wajah yang menjawab semua doanya. Wajah yang selalu didamba semua wanita didua dunia. Ya, dia adalah ibu peri yang hadir dalam doanya. Dia adalah permaisuri raja. Dan itu artinya dia adalah ibunya. Ibu kandungnya.

Tubuhnya gemetar melihat dengan mata kepala sendiri wanita yang sekarang dihadapannya. Seorang peri tercantik dari negeri peri. Seorang permaisuri tercantik yang selalu dipuji . Seorang ibu yang melahirkanya sekaligus seorang ibu yang membuangnya. Marah, bahagia, tidak percaya melanda hatinya. Richard yang melihat perubahan sikap itu langsung mengenggam tangan Aurora. Richard tersenyum padanya. Aurora menjadi tenang seketika. Para undangan semua terpana dengan kecantikkan sang permaisuri raja. Tidak ada kata pujian yang lebih tepat disandingkan padanya selain kata sempurna. Suasana yang hiruk pikuk menjadi sunyi seketika. Kecantikkan sang permaisuri hanya bisa dikalahkan dewi disurga.

Saat sang raja dan permaisurinya duduk disinggasananya bersama raja-raja lainnya, sang permaisuri berdiri dan berkata, “Aku melihat seorang wanita memakai topeng pada wajahnya. Aku tidak tahu apa maksudnya. Tapi aku ingin dia membuka topengnya dihadapanku dan dihadapan semua. Jika dia tidak berkenan, maka dia harus meninggalkan pesta ini”. Seketika ribuan mata itu langsung melihat kearah Aurora.

Takut. Malu. Bimbang. Itulah yang dirasakan Aurora. Ribuan mata masih tertuju padanya. Ia ingin lari, tapi kakinya beku berdiri. Ia ingin menghilang, tapi ini harus menghadapi kenyataan. Tiba-tiba Richard berjalan kedepan dan bersujud didepan raja dan permaisurinya. “Maafkan aku yang mulia. Adikku hanyalah seorang  wanita yang pemalu, untuk itulah dia memakai topeng pada wajahnya. Dia hanyalah seorang wanita yang sederhana parasnya. Janganlah sampailah dia mempermalukan dirinya dan yang mulia pada pesta yang berbahagia ini”, jelas Richard membela Aurora.

“Oooh, Benarkah demikian? jika benar begitu aku malah ingin melihat kesederhanaan itu. Tentunya dia yang bertopeng tidak keberatan bukan?! dan ingatlah, kecantikkan tidaklah diukur dari parasnya, tapi diukur bagaimana dia menghargai dirinya”, kata sang permaisuri bijak. Entah apa yang ada dibenak sang permaisuri. Bukankah dia tahu bahwa Aurora mempunyai paras yang “tidak sempurna?”, lalu mengapa dia masih meminta Aurora membuka topengnya? Apakah dia ingin mempermalukannya? Apakah dia ingin mengajarkan sesuatu pada semua yang disana? Tidak ada yang tahu.

Aurora menghampiri Richard. “Kak, terimakasih karena telah menyayangiku selama ini. Biarlah kali ini aku yang menanggung sendiri. Aku sudah siap mene…”, belum habis Aurora berkata, Richard berdrii dan memeluknya dengan erat. “Aurora, sebelum kamu mengatakan semuanya. Ijinkan aku mengatakan perasaanku juga. Aku selama ini mencintaimu, bukan karena sebagai adikku, tapi sebagi pria yang jatuh cinta pada seorang wanita. Dan, apapun parasmu, aku tetap mencintaimu. Jika kamu ragu, aku akan menghancurkan wajahku supaya buruk untuk menemanimu. Dan kamu sebenarnyanya bukan…”, Aurora menempelkan jarinya pada mulut Richard. “Aku sudah tahu kak, dan aku juga menyayangimu”, balas Aurora memeluk kakaknya.

Seketika itu pula para undangan berteriak semua. Kakak adik saling jatuh cinta? Semua undangan mencemooh. Tapi anehnya sang raja dan permaisurinya malah tersenyum lebar. Senyum yang sangat puas.  “Itulah cinta dan kecantikkan sejati. Sekarang aku ingin melihat kecantikkan yang berada dibawah topengmu”, kata sang permaisuri tersenyum manis sekali. Aurora pun pelan-pelan membuka topengnya. Dia tidak peduli lagi bagaimana orang menilainya. Dia tidak peduli lagi bagaimana dia akan dihina, karena dia telah menemukan pangeran yang menerima dirinya apa adanya. Dan dia itu kakaknya. Kakak yang di sayang sedari belia. Kakak yang selalu menjaganya.

Topeng itu akhirnya terbuka. Aurora masih memejamkan mata. Ia menerima semua dengan pasrah dan berbesar jiwa. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang luar biasa. Semua tamu undangan tertahan suaranya. Mereka sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Richard mencoba mengenggam erat tangan Aurora. Lalu dia memandang kearah Aurora. Mulutnya mengangga terbuka lebar. Matanya tak berkedip. Tangannya yang mengenggam langsung terlepas. Aurora yang masih dalam memejamkan mata merasa aneh. Kenapa mereka semua terdiam. Dibukanya matanya pelan-pelan. Dilihatnya semua terdiam. Terpana. Dilihatnya Richard. Dia juga terdiam. “Au..Aurora..wajahmu…”, kata Richard terbata-bata.

Permaisuri berdiri. Lalu diperintahkan para pelayan agar membawa cermin kepada Aurora. Cermin besar diletakkan didepannya. Betapa terkejutnya Aurora, wajahnya sama sekali tidak jelek. Malahan sangat cantik sekali. Mungkin melebihi kecantikan sang permaisuri. Aurora menjadi bingung. Bukankah doa dan permohonannya telah dibatalkan? Bukankah semua kembali pada permulaan? Belum habis bingungnya Aurora, sang permaisuri berkata, “Dia sebenarnya adalah putriku yang hilang”. Maka hebohlah istana tempat pesta raja. Sang permaisuri melihat suaminya sang raja. Raja mengangguk.

“Aku dulu mempunyai seorang putri kecil yang sangat kusayang, Aku begitu mencintainya. Tapi karena aku dari dunia peri dan aku melahirkannya didunia manusia, aku melanggar hukum dunia peri. Dalam dunia peri,  kami harus disucikan sebelum melahirkan sehingga bayi-bayi itu bisa mendapatkan debu bintang pelindungnya, tapi aku tidak melakukan”, kata sang permaisuri tak tahan melanjutkan kata-katanya. Air matanya mengalir bagaikan butiran permata membasahi wajah cantiknya. Sang raja bangkit dan memeluknya.

“Aurora, semua ini bukan salah ibumu. Tapi ayahlah penyebab semuanya. Disini aku sebagai raja dan juga sebagai ayah, aku ingin menceritakan semuanya. Istriku yang dari dunia peri tidak bisa melahirkan di dunianya, karena kelahirannya lebih awal dari yang direncanakan. Saat itu kami melakukan perjalanan jauh dan istriku kelelahan. Sesampainya dikerajaan, istriku langsung melahrikan. Kami begitu mencintai putri kami. Sayangnya dia lahir didunia manusia sehingga bintang pelindungnya tidak ada dan diperkirakan usianya akan singkat jika terus bersama ibunya yang seorang peri. Karena takut kondisinya yang semakin memburuk, aku mengambil jalan terakhir menitipkan dia kepada temanku yang jauh dari dunia peri. Lalu kuberi sepasang liontin yang berisi debu bintang pelindung ibunya sehingga dia bisa terlindungi. Kami hanya berharap dia bisa berbahagia, tapi ternyata kami malah membuatnya menderita.”.

“Dan mengapa kami tidak menemuimu? Karena kami harus mematuhi hukum dunia peri yang tidak boleh menemui peri yang belum disucikan dengan debu bintang dari dunia peri. Makanya kami melindungimu dengan mengarang cerita bahwa kamu telah meninggal karena kecelakaan saat melakukan perjalanan bersama pelayan. Wajahmu yang tidak sempurna juga kami yang melakukannya. Semua demi melindungimu agar tidak berhubugan dengan dunia peri.”

Lalu mengapa malam ini kamu menjadi cantik sekali seperti itu? Sebenarnya kamu bukanlah menjadi cantik. Tapi itulah wajahmu yang sebenarnya. Aku bersama ibumu telah mengambil keputusan yang membuatmu menderita dan dihina. Kami takut jika kecantikkanmu yang  diturunkan langsung dari ibumu akan mengundang penasaran para manusia dan peri mencarimu. Dan itu membahayakan dirimu. Makanya kami menyegel kecantikkanmu. Tapi, segel itu sementara saat ada seorang pria yang mencintaimu seutuhnya dan apa adanya. Dan pria itu ada disampingmu”.

Aurora melihat kakaknya. Dia tersenyum manis padanya. Malam itu semua undangan terkesima. Sebuah kisah yang membuai sukma. “Lalu mengapa bunda menjadi ibu peri dan menemui saat itu? Tidakkah bunda takut menemuiku dengan cerita ayahanda tadi? Lalu mengapa bunda mengabulkan doaku?”, tanya Aurora penasaran. Tapi sekarang Aurora bisa menerimanya dengan senyumannya.

Sang permaisuri tersenyum. “Karena aku tidak bisa menemui secara langsung dan sebagai ibumu.  Saat kamu berdoa dengan liontinmu maka aku menemukanmu. Tahukah betapa aku begitu bahagia menemukanmu? Kau tumbuh sehat dan ceria. Aku mengabulkan doamu karena aku ingin kamu belajar arti cantik itu sebenarnya, dan kamu sudah mendapatkannya bukan?!”, jawab sang permaisuri sambil berjalan ketempatnya berdiri. Mereka saling bertatapan. Lalu Aurora berlari kearahnya.

“Bunda…”, teriaknya sambil memeluk erat sang permaisuri. Sekian tahun berpisah. Puluhan tahun menderita. Semua menjadi sirna pada akhirnya. Timbunan beban bertahun-tahun, sirna dalam pelukan cinta sang bunda. Aurora menanggis sejadi-jadinya menuangkan kerinduannya. Richardpun tidak mampu menahan air matanya. Raja dan para undangan terharu melihatnya. Aurora merasa sangat lega. “Sayang, bunda ingin kamu menemui seseorang juga, tanpa mereka kita tidak akan bertemu dan merasakan kebahagiaan sekarang. Mereka sedang menunggumu digerbang depan”, kata sang permaisuri sambil memcium kening Aurora.

Aurora membalikan tubuhnya. Dilihatnya berdiri disana seorang pria berkumis penuh canda. Kumis yang suka mengelitiknya disaat masih belia. Disampingnya berdiri seorang wanita yang mempesona. Wanita yang selalu memanjakannya. Wanita yang selalu mencintainya. Ya, mereka adalah Michael dan istrinya. Ayah dan ibu yang merawatnya. Aurora berlari memeluk sang ibu dan ayahnya. Tidak perlu kata-kata untuk menjelaskannya. Melihat air mata mereka kita telah tahu kisahnya. Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi kedua dunia. Baik dunia peri ataupun dunia manusia. Kisah mereka menjadi kisah abadi dalam tulisan tinta emas disetiap penjuru dunia. Kisah kecantikan sejati dan kasih seorang bunda. Kisah yang akan diceritakan sampai beribu-ribu generasi selanjutnya.

Dunia manusia, dunia peri, sama-sama mempunyai aturannya. Tapi cinta sejati tidak bisa diikat oleh siapa dan apa saja. Aurora akhirnya kembali kekerajaan ayahandanya. Disana mereka menikah dengan saksi semua kerajaan manusia. Dihadiri oleh ibu peri dan peri-peri lainnya. Richard menjadi manusia kedua yang memperistri  peri didunia manusia, tapi kesetiaan cintanya menjadi satu-satunya dikedua dunia. Kebahagiaan telah mereka raih. Kecantikkan abadi mereka ajari. Mereka juga menjadi raja dan ratu yang bijaksana. Tidak hanya dikerajaannya, tapi seluruh dunia. Tidak hanya didunia manusia, tapi didunia peri juga. Merekalah yang mempersatukan kedua dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s