Dia bukan yang terbaik, tapi…


May be she not the best, but she is perfect

Aku mengenal wanita ini disebuah cafe kecil tempat aku biasa nongkrong dengan teman-temanku. Secara tidak sengaja aku berpapasan dengannya. Dia bernampilan sangat seherhana. Rambutnya dibiarkan terurai bebas kebawah. Panjang rambutnya sebahu dan hitam kilau menggoda. Matanya biru muda. Kucoba melirik kearahnya. Mata kami saling beradu. Dia tersenyum padaku, aku pun membalas senyumannya. Setelah itu dia berlalu. Aku kembali ngobrol sama teman-temanku. Apakah hanya seperti itu saja? Ternyata tidak. Justru pertemuan pertama itu mempertemukan kami kembali dan mengikat jari manis kami berdua.

Sebut saja namaku Mike. Seorang tipikal pria biasa. Mata hitam dan agak besar. Rambut pendek tercukur rapi. Bibir agak tebal seperti Angelina Jolie. Tak ada yang bisa kubanggakan kecuali hidungku yang katanya mancung. Bukannya aku meninggikan diriku sendiri ataupun sombong, tapi beberapa temanku terutama wanita memuji aku rupawan. Apakah benar seperti itu aku tidak tahu. Bagiku cantik maupun tampan itu relatif penilaiannya.

Aku mempunyai tinggi badan pas 170cm. Bentuk tubuh sedikit berisi dan berotot. Aku kebetulan menyukai hobi sepakbola dan berenang, mungkin itulah yang membuat tubuhku agak atletis. Aku membuka toko kecil dikota kami. Dan maksudku kecil adalah benar-benar kecil. Tapi cukup untuk membiayai keluargaku. Secara sederhananya aku hanyalah tipikal pria biasa-biasa dengan nilai pas 6 tanpa koma.

“Hai Mike, nanti malam ngumpul di mall yok”, ajak sahabat baikku diseberang telpon. “Aku tidak bisa janji dulu George, ini lagi ada sedikit bon yang harus aku selesaikan,” jawabku sambil bermain kalkulator ditangan kananku. George seumuran denganku. Usia kami hampir mendekati 30. Bedanya George sudah berkeluarga, sedangkan aku masih lajang disibukkan dengan urusan kerja.

Sebenarnya dulu aku pernah berpacaran dengan seorang wanita yang menarik. Hanya sayang kami harus putus ditengah jalan dengan alasan materi semata. Padahal aku begitu menyayanginya. Dia wanita yang baik dan aku yakin dia akan menemukan pria yang baik juga. “Ayolah bro, aku kebetulan bisa keluar nih, istriku main kerumah ibunya, daripada aku bingung dirumah dan suntuk makanya aku ajak kamu menemaniku menghabiskan waktu. Lagian ini malam sabtu, siapa tahu kamu menemukan seseorang yang special bagimu”.

Yup, setelah beberapa kali digoda dan memohon, aku pun mengiyakan. Lagian aku juga sudah capek bermain dengan angka dan tagihan dikepala. Aku juga perlu menenangkan otakku. Kami berjanjian bertemu dicafe favorit kami tempat kami selalu berkumpul. Kutelepon beberapa sahabat baikku dan mereka semua setuju.

Tak sampai sejam kami akhirnya tiba di mall. George berpenampilan cukup wah. Dengan kemeja putihnya dipadukan celana hitam kain yang mengoda. Kevin dengan gaya casualnya. Sederhana tapi sangat menarik. Mata hijau Emeraldnya merupakan magnet utama bagi wanita yang melihatnya.

Kevin adalah sahabatku yang paling tampan sekaligus paling berhasil usahanya. Sedangkan sahabatku yang paling heboh bernama Johan. Tingginya sekitar 160cm. Penampilannya sangat mudah dikenali. Rompi dan kaos putih oblong membalut tubuhnya. Kalung leher putih menambah daya tariknya. Diantara kami dialah yang paling pandai mencairkan suasana. Dan mereka adalah sahabat-sahabat terbaiku.

“Mike, bagaimana bisnis kamu? Pasti lancar-lancar bukan?”, tanya Johan membuka pembicaraan. “Lancar saja John, thanks. Lalu bagaimana denganmu? Masih dikantor yang sama?”, tanyaku sambil menikmati jus Sirsak kesukaanku. “Ya begitulah jadi karyawan senior. Mau berhenti sudah tanggung. Anak istri perlu makan. Apalagi aku punya banyak anak”, jawab Johan sambil memainkan bola matanya. Kami seketika tertawa. Johan masih belum berkeluarga. Tapi dia sudah mempunyai seorang pacar yang sangat cantik dan perhatian. Dan menurutku mereka adalah pasangan yang sangat serasi.

Diantara kami hanya aku dan Kevin yang belum mempunyai pasangan. Tunggu, aku tadi mengatakan Kevin ya? Jangan heran pembaca, aku tidak salah mengatakannya. Kevin memang seperti model. Tampan dan rupawan. Penyayang dan perhatian. Mapan dan peduli teman. Lalu kenapa dia masih sendiri? Karena dia masih mencari seorang wanita yang benar-benar mencintainya bukan karena wajahnya juga bukan karena apa yang dimilikinya.

Kevin sebenarnya beberapa kali telah menjalin hubungan dengan wanita yang sangat menarik, hanya saja semuanya berakhir singkat. Dari curhat Kevin, kebanyakkan mendekatinya karena wajah dan apa yang dimilikinya. Menurut pendapat Kevin bahwa tidaklah salah seorang wanita mencari pria yang tampan dan mapan, tapi bukan berarti yang kurang tampan dan tidak mapan boleh dihina semata memandang. Dan menurut  cerita Kevin lagi, dia pernah menyukai seorang wanita. Dia sudah merasa cocok dengannya, tapi lama kelamaan wajah aslinya muncul juga. Dia selalu melarang Kevin untuk menjauhi teman-temannya yaitu kami. Alasannya adalah nanti kami akan membuatnya kelihatan “tidak keren”.

Bagaimana reaksi Kevin? Mungkin bagi sebagian pria dia akan dicap bodoh dan apalah. Kevin sangat marah dan mengusir wanita itu. Kevin memutuskan wanita itu pada saat itu juga. Reaksi kami? Sejujurnya kami bingung dan terkejut sekali. Kami menjelaskan pada Kevin bahwa kami tidak apa-apa diperlakukan begitu. Tapi Kevin menjawab, “Aku bukanlah seorang pria yang memutuskan tali persahabatan puluhan tahun hanya karena ada tali cinta yang tak sampai setahun. Wanita bisa dicari kapan saja, tapi sahabat seperti kalian, mungkin aku dilahirkan ribuan kali pun tidak akan ketemu”. Kami semua terharu. Dan aku hampir menanggis dibuatnya.

“Permisi tuan-tuan. Ini salad yang tuan pesan. Ada yang lain yang bisa saya bantu?”, tanya seorang wanita muda. Wajahnya manis. Rambutnya diikat model ekor kuda. Tutur katanya sopan dan ramah. “Terimakasih nona”, kataku sambil melirik kearahnya. Kulihat wajahnya. Lalu kuberpaling. Lalu kulihat lagi. Wajahnya sepertinya tidak asing bagiku. Sebelum otakku menemukan jawabannya, wanita muda itu telah berlalu mengantar pesanan tamu lainnya. Aku masih berpikir. Siapakah dia? Rasanya aku pernah bertemu dengannya. Dalam lamunanku aku dikejutkan oleh suara George.

“Bukankah itu wanita yang kita lihat malam sebelumnya saat kita nongkrong bersama?”. Ya, wanita itu. “Benar bro, aku dari tadi berpikir keras siapakah dia, ternyata dia adalah wanita yang malam itu”, kataku bersemangat sambil menepuk tanganku. Kevin terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba itu. “Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi”, tambahku tersenyum sambil melihat mencari wanita itu. Dan aku tidak menyangka juga pertemuan itu merubah hidupku.

“Namanya Angelica dan dia bekerja disini”, kata Kevin padaku. Karena desakan sahabat-sahabatku agar menemui dan berkenalan dengannya, aku mau acuh tak acuh mengiyakan. Tapi karena aku orangnya agak pemalu aku sedikit enggan menghampirinya. Kevin yang tahu sifatku mengambil langkah pertama membantuku. Dia menemui wanita itu. Dan kami ketahui dia adalah pelayan disitu. Dia mendapat shift giliran malam. Dari cerita Kevin kami juga tahu bahwa dia tinggal tidak jauh dari tempat tinggalku. Hanya beberapa menit dari sini untuk sampai kesana.

“Dia bilang sekitar jam 9 lebih pulang. Dan kebetulan aku juga menawarkan  tumpangan padanya dan diiyakan. Kita akan mengantarnya pulang bersama satu temannya”, kata Kevin melanjutkan sambil melihat kearahku. Aku hanya bisa terdiam dan meminum jus sirsakku. Aku mengangguk tanda setuju. Sedangkan sahabat-sahabatku yang lain memilih memakai taxi dengan alasan ada janji, padahal aku tahu mereka sengaja memberiku kesempatan bersama wanita itu. Sahabat yang baik? Yup. Itulah kenapa kami bersahabat puluhan tahun lamanya.

“Hai, namaku Cindy dan ini Angelica”, sapa seorang wanita muda yang sangat menarik. Senyumnya sangat mempesona. Rambutnya dicat merah muda. Sangat cocok dengan kulitnya yang putih mulus. “Namaku Mike”, jawabku agak gugup. “Senang berkenalan denganmu”, lanjutku mencoba bersikap ramah. “Ayo ladies, sekarang kuantar kalian pulang. Oya, nona Cindy, keberatankah kalau kamu duduk didepan bersamaku? Mike, sahabatku tidak terbiasa duduk didepan”, kata Kevin mengarang cerita. Aku tahu maksudnya. “Angelica saja yang duduk didepan, aku ingin ngobrol-ngobrol dengan Mike. Sepertinya dia pria yang menarik”, jawab Cindy terus terang. Aku dan Kevin hanya bisa saling memandang.

Dalam perjalanan pulang aku mengetahui bahwa Cindy dan Angelica adalah sepupu. Mereka sudah seperti saudara. Mereka dari kecil selalu bersama-sama. Dari sekolah hingga bekerja. Tidak perlu waktu lama kami semua menjadi akrab. Cindy yang ceria dengan cepat membuat kami terkesan. Angelica lebih banyak diam dan menikmati setiap suasana. Malam itu merupakan malam yang menyenangkan bagi kami semua.

“Hai Mike, apa kabar? Apakah nanti siang kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu makan siang”, telpon Cindy beberapa hari kemudian. Karena aku juga tidak ada kesibukkan, aku pun menerima tawaran itu. Cindy dan aku lebih dekat. Mungkin karena aku dan dia banyak kesamaannya. Walaupun begitu kami lebih sering keluar bertiga. Ya, kalian bisa menebak siapa orang yang ketiga yang kumaksud.

“Wow, apa aku tidak salah lihat? Padahal aku janjian sama 2 wanita, tapi yang hadir malah malaikat surga”, kataku memuji wanita yang dihadapanku. Aku bukan sekedar mengoda mereka, tapi benar-benar memujinya. Penampilan mereka begitu menarik. Rambut tertata rapi. Sedikit riasan wajah menambah kecantikkan mereka. Aku mempersilakan mereka duduk. Lalu kami memesan makanan yang sama.

“Oya Mike, Kevin kok tidak sama-sama datang? Bukannya dia selalu punya waktu?”, tanya Cindy padaku. “Dia sih memang selalu ada waktu, hanya saja beberapa hari yang lalu dia keluar kota urus bisnisnya disana”, jawabku sambil menikmati makananku. “Memangnya ada apa Cin? ada peluang bisnis ya? Atau…”, aku tidak menyelesaikan kata-kataku sambil melirik Angelica. Angelica hanya tersenyum. Manis sekali.

“Tidak ada apa-apa kok, tidak bolehkah aku bertanya kabar seorang teman”, balas Cindy sedikit cemberut. Mukanya merah padam. Aku dan Angelica hanya tertawa kecil saling berpadangan. Tidak terasa sejam berlalu. Kami akhirnya saling berpamitan berpisah. Tiba-tiba Angelica datang padaku. “Mike, no Kevin berapa?”, tanyanya padaku.

Awalnya kukira Cindy yang meminta Angelica bertanya padaku. Maka kuberikan nomor Mike. Tapi ternyata Angelica sendiri yang mau. Seandainya kutahu dia yang mau mungkin tidak akan kuberikan, itu yang kupikirkan. Tapi aku bukan tipe pria seperti itu. Aku tetap memberikannya walaupun aku merasa enggan dan berat.

Tidak terasa sebulan telah berlalu sejak Angelica meminta nomor Kevin padaku. Hubungan mereka semakin akrab. Walaupun Angelica masih sering menghubungiku, tapi aku  sering menjaga jarak dengannya. Aku berpikir tidak baik terlalu dekat dengan Angelica karena dia menyukai Kevin. Apakah benar begitu? Aku tidak tahu. Yang aku tahu mereka sering keluar bersama. Dan seandainya mereka jadian aku pun ikut berbahagia dengannya.

Memang kuakui aku juga menyukai Angelica. Aku sudah sangat senang bisa mengenalnya dan bisa menghabiskan waktu bersamanya walaupun hanya untuk waktu yang singkat. Tapi kini ada Kevin dihatinya jadi aku menyembunyikan perasaanku padanya. Aku hanya berharap mereka bisa menjadi pasangan yang berbahagia hingga usia tua.

“Mike, bisakah kita bertemu nanti malam? Ada yang ingin kubicarakan denganmu”, tanya Angelica padaku suatu malam saat aku lagi asyik menghabiskan waktuku ditempat dia bekerja. Karena memang waktuku yang lagi luang dan tidak kemana-mana, kuiyakan saja. Aku mengatakan padanya menunggu dia pulang jadi lebih enak bicaranya.

Malam itu udara terasa dingin sekali. Jaket yang kupakai belum cukup untuk menghangatkan tubuhku. Kulihat Angelica keluar sambil memakai syal hitam. Angelica terlihat cantik sekali dalam kesederhanaannya. Aku menemaninya pulang. Dalam perjalanan kami hanya melakukan pembicaraan ringan. Kami tertawa bersama dan saling bercerita tentang hari yang telah kami lewati.

“Menurutmu Kevin itu orangnya gimana?”, tanya Angelica dengan mimik muka agak serius. Aku terdiam sebentar. Kukatakan padanya aku pikir dulu. Padahal yang kupikirkan adalah mengapa dia bertanya tentang Kevin. “Aku mengenal Kevin sudah puluhan tahun lamanya, dan aku bisa dengan bangga mengatakan bahwa Kevin adalah sosok pria yang menyenangkan. Sangat peduli teman. Wanita manapun yang bisa mengambil hatinya adalah wanita yang sangat berbahagia”, kataku memuji Kevin. Dan memang itulah Kevin.

“Dan aku rasa kamu cukup akrab denganny dan cocok lho”, kataku menambahkan. WHAT! kataku dalam hati. Apa yang telah aku katakan?! Kenapa aku bisa mengatakan hal itu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan diriku sendiri. “Ahh Mike, Kevin mana mau wanita seperti aku. Wajah pas-pasan. Tubuhku gemuk. Bagian mana yang bisa menarik dimata Kevin”, jawabnya sambil tertawa kecil.

“Maaf Angelica, justru menurutku kamu mempunyai paras yang membuat pria ingin memilikimu. Kamu mengatakan tubuhmu gemuk? Coba tanyakan pada pria-pria yang sedang berjalan diluar apakah kamu bisa disebut gemuk. Aku rasa mereka akan bingung semua”, kataku memuji Angelica. Ya, wajah Angelica memang bukan yang tercantik, tapi murah senyumnya itulah daya tarik. Tubuhnya gemuk? Kalau seorang wanita yang bertahun-tahun menjaga tubuhnya dengan aerobik dan singset disebut gemuk, maka bolehlah Angelica disebut demikian. Hanya saja Angelica tidak pernah aerobik. Tubuhnya terbentuk alami.

Kulihat dia memandangku sambil tersenyum. Sungguh manis sekali. Lalu dia memalingkan wajahnya yang merah padam. Benar-benar manis sekali. Tak lama kemudian kuhentikan kendaraanku. Kuantar Angelica sampai dipintu. “Terimakasih atas tumpangannya Mike, aku sangat senang sekali malam ini kamu bisa menemaniku. Dan terimakasih juga karena telah memberitahu aku bagaimana Kevin itu. Besok aku akan menemuinya”, kata Angelica sambil mencium pipiku. Aku berharap seandainya bulan malam itu tidak berlalu.

Yup. Itu hanyalah ciuman terimakasih. Tidak ada yang special. Memang kuakui sangat special bagiku. Sejak malam itu aku dan Angelica tidak pernah bertemu lagi. Kami masih saling menghubungi dan seperti biasanya Angelica sering bertanya padaku tentang Kevin. Awalnya aku biasa-biasa saja. Tapi lama kelamaan aku merasa ada satu perasaan yang mengganjal didalam dada. Aku tidak tahu perasaan apakah itu. Hanya saja rasanya sesak dan hendak marah.

Setiap perasaan itu datang aku selalu abaikan. Tapi semakin kuabaikan semakin kuat itu perasaan. Hingga suatu malam Angelica mengajakku makan bersama. Dia memintaku mengajak Kevin juga. Dan dia mengatakan dia akan datang bersama Cindy. Malam itu aku sedang dipuncak perasaanku. Walaupun begitu tetap kuiyakan demi Angelica dan Kevin.

“Selamat malam ladies, kalian sangat cantik sekali malam ini”, kata Kevin saat menyambut  Angelica dan Cindy. Ya, mereka sangat cantik sekali. Mereka memakai gaun yang sama. Warna merah. Bedanya Cindy modelnya lebih bergairah. Tapi keduanya membuat pria-pria disekitarnya mencuri pandang kearah mereka.

Seperti biasanya, kami begitu menikmati malam itu. Kevin terlihat sangat mempesona. Kata-katanya lancar bercerita. Kulirik Angelica, dia seperti terhipnotis oleh kata-kata Kevin. Matanya terus menatapnya. Tapi saat dia melihat kearahku dia selalu berpaling dariku. Sejujurnya aku sangat iri dengan Kevin. Tampan. Mapan. Dan disukai wanita.

“Mike temani aku sebentar kebalkon, aku ingin bertanya sesuatu denganmu”, kata Angelica padaku. Aku sedikit terkejut oleh ajaknya. Lalu dia menarik tanganku. Kevin tersenyum manis padanya. Angelica mencubitnya manja. Jujur saja, aku sudah tidak bisa menahan lagi perasaanku. Perasaan yang selalu ingin kuabaikan, kini bermunculan.

“Mike, apakah menurutmu ini waktu yang tepat bagiku mengatakan pada Kevin bahwa…”, belum selesai Angelica bertanya kukatakan padanya, “Katakan langsung padanya kenapa sih? Kenapa selalu harus bertanya padaku. Kamu kan sering bersamanya, jadi kamu tahu waktunya tepat atau tidak. Aku bosan dengar ceritamu terus tentang dia”.

Ya. Itulah yang kukatakan pada Angelica. Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa mengatakan hal sekasar itu pada wanita yang kucinta. “Maafkan aku Mike, aku tidak tahu kalau aku selama ini menyusahkanmu. Padahal hanya sama kamu aku bisa lebih terbuka. Sekali lagi aku mohon maaf. Aku janji tidak akan mencarimu dan menyusahkanmu lagi”, kata Angelica padaku dengan mata berkaca-kaca.

Aku tidak mengejarnya. Aku berdiri kaku. Kulihat dari jauh Angelica mengambil tasnya dan langsung pulang. Kulihat Cindy juga terlihat bingung dengan apa yang barusan terjadi. Kevin berdiri dan melihat kearahku. Lalu di berjalan dengan kecepatan yang cepat kearahku. Dia bertanya padaku apa yang terjadi. Kuceritakan semuanya. Benar-benar semuanya. Dan, “Plakkk”,  tamparan Kevin mendarat diwajahku.

Penyesalan selalu datang terlambat. Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kondisiku. Bagaimana tidak, sejak kemarin malam aku membentak Angelica dan membuatnya pergi dengan deraian air mata, ditambah sebuah tamparan dari sahabatku Kevin membuatku menyesali semuanya.

“Kamu benar-benar pria yang berpikiran pendek Mike. Kamu menilai semua berdasarkan mata dan kepalamu. Inikah Mike yang kukenal selama ini yang selalu memberiku nasehat-nasehat yang menyemangatiku disaat sahabatnya jatuh? Kamu benar-benar membuatku kecewa Mike”, Kata Kevin padaku.

Aku hanya bisa terdiam membisu. Apalagi yang harus kukatakan? Semuanya sudah kujelaskan padanya. Ya, aku akui aku memang sedikit keterlaluan – lebih tepatnya sangat keterlaluan – telah menilai seorang berdasarkan apa yang kulihat. Aku terlalu terbawa perasaanku sehingga aku mengabaikan kata hatiku. Aku juga tidak akan membenarkan diriku sendiri. Melihat seorang wanita yang kita sukai dekat dengan pria lain, sahabat kita sendiri, pikiran apalagi yang akan mengusik kepala kita?

“Tahukah kamu betapa aku iri padamu Mike?”, lanjut Kevin sambil bertanya padaku. “Kamu bisa begitu sabar dan memberikan nasehat-nasehat yang baik bagi kami. Karena kamulah aku bisa menjadi seperti hari ini. Tentunya kamu masih ingat bagaimana aku dulu memperlakukan wanita karena aku merasa memiliki segalanya. Wajah yang tampan. Kehidupan yang mapan. Tapi kamu juga tahu apa yang kudapatkan bukan?”.

“Aku mendekati wanita karena aku hanya sekedar ingin bersenang-senang. Dan wanita mendekatiku karena aku mempunyai yang mereka inginkan. Aku bisa membeli apa yang kuinginkan dengan uang, tapi aku tetap tak bisa membeli cinta itu sendiri. Jika aku tidak bertemu denganmu puluhan tahun yang lalu, aku mungkin masih seperti dulu bahkan mungkin sudah terkapar dijalan menjadi korban pelampiasan wanita-wanita yang telah kusakiti”.

“Aku begitu mengagumimu karena karaktermu yang kuat. Sabar dan dewasa. Kamu tidak pernah membedakan kawan atau lawan. Bagimu semua itu sama. Bagimu semua mempunyai kesempatan kedua. Dan aku telah menjadi bukti semuanya. Tapi, malam ini Mike yang kukenal dan kukagumi itu kemana?”, lanjut Kevin menghela napas panjang.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Ya, apa yang dikatakan Kevin itu ada benarnya. Dulu Kevin adalah seorang playboy kelas kakap. Tak satupun wanita dimuka bumi ini yang tidak bisa ditaklukannya. Kami bertemu disebuah café yang sekarang menjadi tempat favorit kami bertandang. Kevin waktu itu sedang terhanyut dalam lamunannya. Awalnya kami tidak saling kenal. Tapi karena sering bertemu dicafe yang sama, akhirnya aku menyapanya. Sekedar ramah tamah saja.

Tidak tahu bagaimana ceritanya kami tiba-tiba sudah akrab. Dan Kevin ternyata orangnya terbuka. Dia bercerita panjang lebar tentang semuanya. Benar-benar semuanya. Dan untuk pertama kalinya aku memberikan dia masukan dan nasehat. Padahal aku orangnya bukan yang perhatian pada seseorang yang baru dikenal. Tapi berkat malam itulah kami bisa menjadi sahabat baik hingga sekarang.

“Mike, aku bukannya ingin menggurui kamu. Tapi kamulah yang jadi telingaku saat aku sering tersesat dengan bisikan setan. Kamulah yang jadi mataku saat aku buta menilai seseorang. Kini, aku akan menjadi mata dan telingamu. Dan sekali kukatakan padamu, aku benar-benar iri padamu”, kata Kevin sambil merangkul bahuku. Kami sama-sama duduk dimeja yang sebelumnya diisi canda dan tawa. Lalu diapun menjelaskan semua padaku. Aku sampai tidak menyadari kalau air mataku menetes membasahi bajuku.

Malam itu kuhubungi Angelica. Tidak ada jawaban. Kuhubungi lagi. Kali ini terdengar suara, “Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau diluar jangkauan. Cobalah bebera…”, langsung kumatikan HP ku. Aku berlari mencari café-café ataupun tempat persinggahan terdekat. Aku menelepon Cindy. Tapi tidak diangkatnya. Entah berapa kilometer jalan telah aku tapaki. Aku masih terus berlari, berharap menemukan Angelica.

Setiap pejalan kaki malam itu kutanyai dengan harapan ada yang melihat ciri-ciri wanita yang kusebutkan seperti Angelica. Tapi tidak mendapat jawaban ya. Lalu aku teringat kenapa aku tidak mencari kerumahnya? Mengapa aku bisa sebodoh itu? Tanyaku dalam hati. Secepat kilat aku berlari kejalan mencari tumpangan ataupun taxi. Belum pernah aku segelisah dan sesenang malam itu. Ternyata Angelica juga menyukaiku.

Masih teringat sangat jelas dikepalaku apa yang dikatakan Kevin tadi. “Tahukah kenapa aku iri denganmu Mike? Angelica meminta nomorku karena ingin mencari tahu tentang kamu dariku. Dia memang selalu keluar denganku, tapi yang dia ceritakan justru selalu tentang kamu. Dia bertanya padaku semua tentangmu. Hobimu, warna kesukaanmu, film favoritmu sampai-sampai memintaku membantunya menyakinkanmu”.

“Awalnya aku merasa biasa saja dengan sikapnya itu. Tapi aku juga pria Mike, melihat seorang wanita yang lagi jatuh cinta, dengan pipinya merona merah menceritakan pangeran yang mencuri hatinya membuatku ingin memilikinya. Memang kuakui aku sempat beberapa kali mencoba menarik perhatiannya. Tapi tahukah apa yang dia katakan padaku?”.

“Kevin, kamu adalah pria yang sangat menarik. Kamu mempunyai semua yang diinginkan wanita. Aku percaya kamu bisa mendapatkan wanita manapun yang kamu suka, dan aku percaya tak ada wanita yang akan mampu menolaknya. Tapi sayangnya aku ini wanita yang bodoh. Mungkin wanita yang paling bodoh yang pernah kamu kenal. Kenapa? Karena aku memilih seorang pria yang sederhana. Wajahnya yang biasa-biasa dan penghasilan yang menengah saja. Tapi hatiku telah dipikatnya sejak awal bertemu dengannya”.

Ya, itulah yang dikatakan Angelica pada Kevin. Dan aku begitu bahagia mendengarnya. Aku kira dia menyukai Kevin karena meminta nomornya, ternyata aku salah. Aku mengira Angelica menyukai Kevin karena sering keluar bersamanya, ternyata aku salah. Aku mengira Angelica mengidolakan Kevin karena selalu terpesona dengan kata-katanya, ternyata aku salah.

Lalu bagaimana dengan makan malam tadi dimana Angelica memandang dan mengagumi Kevin seperti terbuai asmara? Ternyata akulah yang berpikiran salah. Angelica memang menyukai Kevin, karena Kevin sering bercerita dan Angelica memang suka mendengar cerita. Dan lalu mengapa saat Angelica melihat kearahku lalu berpaling. Ternyata Angelica malu padaku. Dia mengatakan pada Kevin bahwa saat mata kami beradu hatinya selalu berdebar-debar, rasanya hendak melompat dari dadanya. Dan itu membuat wajahnya merona merah.

“Tahukah betapa beruntungnya dirimu bisa mendapatkan wanita seperti Angelica? Aku yang paling susah  jatuh cinta dan  ahli mengambil hati wanita, dihadapannya justru aku yang jatuh cinta dan dicuri hatinya. jikapun aku dan kamu tidak bersahabat, aku yakin aku juga tidak akan mampu mengambil hatinya. dimatanya hanya kamu. Kata-kata yang terucap hanya namaku. Dan dihatinya hanya wajahmu”.

Aku saat itu terdiam tidak bisa bicara. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Dengan napas ngos-ngosan akhirnya aku tiba dirumah Angelica. Kuketuk pintunya tapi tidak ada jawaban. Kuintip kedalam jendelanya tidak terlihat tanda-tanda Angelica. Aku berpikir mungkin Angelica belum pulang. Kusandarkan tubuhku pada dinding pintu. “Akan kutunggu dia sampai pulang baru aku beranjak dari sini”, kataku memantapkan niatku.

Malam itu sangat dingin. Aku yang tadi duduk didepan pintu bergeser kedepan kursi beranda didepan. Aku menekuk tubuhku untuk melawan dingin malam itu. Mataku terasa sangat berat, tapi kupaksakan tetap terbuka karena tidak ingin melewatkan saat-saat Angelica pulang. Tanganku kugosok-gosok supaya mendapatkan hangat.

Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu. Tidak terasa sudah jam 3 subuh. Tapi Angelica belum juga pulang. Aku rasanya ingin pulang kerumah dan menikmati kasur hangatku yang empuk. Tapi aku tepis dan buang godaan  itu. Jika wanita ini yang bernama Angelica tidak kutemui malam ini – atau subuh ini –  aku tidak akan pulang. Aku sadar bisa saja ini jadi penantian yang sia-sia. Bisa saja dia tidak pulang. Lapar dan lelah telah hampir mengalahkanku. Tapi cintaku padanya yang tetap membuatku bertahan.

Kurasakan hangat matahari menyelimuti wajahku. Pelan-pelan kucoba mataku. Dan aku langsung melompat. “Ya Tuhan, aku tertidur”, kataku sambil bangun dan berlari kearah pintu. Kucoba periksa ganggang pintu tersebut. Ternyata tidak terkunci. Bukankah tadi malam aku buka tidak bisa. “Ya Tuhan, jangan-jangan…”, batinku langsung berlari masuk kerumah Angelica.

Aku melihat kesana-sini. Kulari keatas kamarnya. Padahal aku belum pernah masuk kerumahnya, tapi instingku menuntunku. Aku tidak peduli apakah aku akan dicap pencuri atau apalah. Yang pasti aku ingin mendapatkan wanita ini, atau aku akan menyesal selamanya. Saat didepan sebuah kamar tepat disebelah tangga yang kunaiki, aku memberanikan diri mengetuk pintu itu. Tenggorokkanku terasa kering. Mataku berkunang-kunang karena kelelahan.

“Tok tok tok”, kuketuk tiga kali. Tapi tidak ada jawaban. “Tok tok tok”, tetap tidak ada jawaban. Lalu kuberanikan diri membuka pintu itu. Kamar itu tertata rapi sekali. tidak ada seorangpun disana. Kulihat lemari-lemari baju terbuka. Kosong. Tidak ada satu helai bajupun disana. Ku hampiri kasur yang terbentang di depanku. Kulihat ada bekas kotak besar diatas spreinya. Ya, itu adalah bekas  koper diatas kasur itu.

Kakiku langsung lemas bergetar. Aku terduduk berlutut diatas kasur itu. Kubenamkan kepalaku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Aku menanggis. Penyesalan yang sangat dan sangat kurasakan. Mengapa aku mengatakan hal itu semalam. Mengapa aku begitu cemburu sehingga salam paham. Aku berharap bahwa semalam hanyalah mimpi semata. Tapi aku juga tahu bahwa malam itu nyata.

Lalu aku terdengar suara pintu terbuka dibawah. Aku mencoba bangun dan berlari ketangga. Tapi karena aku yang telah kelelahan, pandanganku dan tubuhku tidak mau bekerjasama. Aku terhuyung-huyung jalannya. Dengan bantuan tanganku menopang tubuh pada dinding yang ada, ku berjuang melawan lelahku ketangga. Saat aku didepan sana kulihat seorang wanita dibawah. Dia memakai gaun merah.

AKu ingin memanggilnya, tapi suaraku tak bisa keluar. Ternyata aku dari semalam tidak makan dan minum. Tenggorokkan kering. Bibirku pecah-pecah. Aku mencoba menuruni tangga itu. Aku begitu bahagia melihat warna merah itu. Dan warna merah itulah yang kelak menjadi warna favoritku. Aku memaksakan menarik kakiku. Lalu wanita bergaun merah dibawah itu melihat kearahku. Mata kami beradu. Tapi kali ini wanita itu tidak berpaling. Kami bertatapan cukup lama. Lalu kurasakan mataku berat. Samar-samar kulihat wanita itu berlari kearahku. Mataku gelap semua. Hanya teriakkan wanita itu yang terdengar. “Mikeeee……”, dan “Brakkkk…”, suara orang terjatuh.

“Uugghh…”, keluhku saat kubuka mataku. Aku mencoba bangun dari tempat tidurku. Kepalaku terasa pusing dan berat. Pelan-pelan kusandarkan tubuhku kebantal yang kutiduri. Ruangan itu putih semua. Terdapat beberapa selang dibadanku. Aku coba memastikan diriku aku ada dimana. Kulihat seorang anak perempuan berdiri tepat didepanku. Ditangannya memegang sebuah boneka. Lalu dia berlari keluar dan berteriak , “Mommy… daddy bangun…”.

“Ayah?”, pikirku bingung dengan panggilan itu. Dalam kebingungan  kudengar derap lari langkah kaki memasuki kamar tempat aku berbaring. Tunggu. Apakah aku dirumah sakit? Seingatku semalam aku masih disebuah rumah. Kucoba melihat sekelilingku. Lalu kudengar suara pintu terbuka. Kulihat beberapa wanita memakai seragam putih dan seorang pria berkacamata memakai setelan jas putih panjang.

Diperiksanya mataku dengan senter kecil. Sedangkan wanita yang berseragam putih memastikan selang yang terhubung kehidungku dan badanku baik-baik saja. “Buka saja selang dibadannya. Sepertinya pasien kita sudah sadar sepenuhnya”, kata pria berkacamata itu. “Baik dok”, jawab wanita berseragam putih bersamaan.

“Pasien kita baru terbangun dan masih lelah. Jangan terlalu banyak berkomunikasi dengan dulunya. Biarkan istirahat sebentar”, pesan pria berkacamata ini yang ternyata seorang dokter. “Baik dok, terimakasih atas waktunya selama ini”, jawab seorang wanita didepan pintu keluar. Aku memicingkan mataku. Siapa wanita itu? Kok aku tidak mengenalinya?

“Hai Mike..apa kabar”, tanya wanita itu. Dia tersenyum. Manis sekali. kulihat matanya berkaca-kaca. Kulihat juga garis-garis tipis menghias wajahnya. Dia mengenggam tanganku. Tangannya terasa hangat dan mendamaikanku. Tapi aku tetap tidak bisa ingat siapa wanita ini. “Maaf, tapi siapakah anda?”, tanyaku penasaran.

Wanita ini hanya tersenyum. Diangkatnya tanganku dan dibelaikan kewajahnya. Kulihat air matanya mengalir pelan diwajah cantiknya. Aku tidak mengenal wanita ini, tapi kenapa hatiku begitu tentram? Aku baru pertama kali melihat wajah wanita ini, tapi kenapa aku merasa begitu mengenalnya puluhan tahun? Lalu kulihat juga tiga pria memasuki kamarku sedang berbaring. Dan ketiga ini tidak asing bagiku.

“Mike..?”, kata seorang pria yang sangat tampan. Kulihat wajahnya begitu kaget, begitu juga kedua pria disampingnya. Mereka terlihat sangat dewasa. Pria yang paling tampan itu memakai jas dan setelan biru tua yang sangat bagus. Dengan posturnya yang tinggi dia terlihat sangat berwibawa. Sedangkan kedua temannya juga terlihat tidak asing. Yang satunya memakai pakaian casual, dan satunya kemeja putih yang bercorak garis-garis.

“Akhirnya kamu sadar Mike, Ini aku Kevin. Dan ini George dan Johan. Sahabat baikmu”, kata pria paling tampan itu yang mengaku namanya Kevin. Aku masih melihat mereka dalam keadaan seperti setengah sadar. “Kevin?”, tanyaku secara spontan. “Kamu Kevin Kent pengusaha itu?”, tanyaku mencoba mengingat. “Iya..iya..itu aku”, terdengar jawaban Kevin dengan mata berkaca-kaca. “Dan…ini George kan? Sedangkan kamu Johan yang pacarnya Elisabeth sipirang”, kataku sambil menunjuk kearah kedua pria tersebut.

Mereka tidak menjawab apa-apa. mereka hanya mengganggukan kepala. Kulihat wajah mereka begitu bahagia. Aku masih tidak percaya kalau mereka itu semua sahabatku. Tapi kenapa mereka kelihatan lebih dewasa dari usia mereka? Padahal beberapa hari yang lalu mereka masih muda. “Kok kalian bertambah tua dalam waktu beberapa hari saja? Atau mataku yang bermasalah?”, tanyaku penasaran.

Kulihat Kevin, George dan Johan hanya tersenyum saja. Mereka hanya menepuk tanganku. Lalu Kevin bertanya padaku, “Mike, sebelumnya apa yang kamu ingat sebelum kamu terbangun dan mendapatkan dirimu terbaring disini?”. Aku terdiam sebentar. Lalu kupandangi sekelilingku sekali lagi. Wanita yang duduk disampingku terus menatapku dengan air mata. Lalu aku memejamkan mataku sebentar.

“Yang aku ingat tadi malam aku menunggu seorang wanita pulang. Aku menunggunya semalaman dan tidur diatas kursi diberanda. Tapi aku tertidur karena lelah dan kelaparan. Paginya kudapatkan diriku tertidur dan aku langsung lari kerumah wanita itu. Aku mencari-carinya tapi tidak ada, dan aku menanggis di sebuah kamar”.

“Aku tidak terlalu ingat apa yang kutanggisi, tapi sepertinya aku sangat menyesal pada malam itu. Lalu kemudian aku mendengar suara pintu dibawah. Aku berjalan sempoyongan kesana dan melihat seorang wanita. Dia pakai baju merah. Dan wanita itu…”, kata-kataku terhenti. “Namanya…”, kataku mencoba mengingat. “Namanya….”.

“Mike..kami permisi dulu ya. Kami keluar sebentar. Kami janji kami pasti kembali lagi”, Kata pria agak tambun sahabatku bernama George. Kulihat mereka tersenyum padaku dan pada wanita yang duduk disampingku. Lalu ketiga sahabatku berjalan keluar. Pintunya ditutup kembali. Sekarang tinggal aku dan wanita yang duduk disampingku sambil memegang tanganku.

“Maaf nona, sekali lagi kamu siapa ya?” ,tanyaku pada wanita disampingku itu. Dia hanya tersenyum padaku. Lalu dia berdiri dan mencium keningku. “Aku adalah seorang pelayan yang bekerja disebuah café kecil. Aku juga seorang wanita yang menumpang pulang dengan mobil sahabatmu Kevin saat pertama kita berkenalan”.

“Aku adalah wanita yang kamu antar pulang saat kamu menawarkankan diri untuk mengantarku karena langit sudah malam. Aku adalah wanita yang mengajakmu makan siang. Dan aku adalah wanita yang selalu bercerita tentang Kevin denganmu”, kata wanita ini sambil mengupas buah apel disampingku.

Aku terus mendengar apa yang dikatakanya. Rasanya tidak asing ditelingaku apa yang dikatakannya. Memang kuakui wajahnya sepertinya tidak asing, tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya. Suaranya begitu kurindukan. Hanya dengan dia bersamaku aku merasa tenang. Apakah ini pengaruh obat dari selang yang masih melekat ditangan? Aku tidak tahu.

“Aku adalah wanita yang memakai gaun merah saat makan malam pada malam itu. Aku jugalah wanita yang pergi darimu pada malam itu”, lanjut wanita  ini dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. Aku entah kenapa pada saat itu merasa dadaku sangat sesak. Aku juga merasakan mataku mulai basah. Lalu wanita ini memberikan satu irisan kecil apel padaku.

“Dan… akulah wanita yang berdiri dibawah tangga itu”, katanya sambil melihat kepadaku. Dia tersenyum sangat manis. Benar-benar manis sekali. Lalu air mataku mulai berjatuhan dari mataku sampai membasahi baju tangan dan bajuku. Wanita inilah yang begitu kurindu. Wanita inilah yang selalu kutunggu. Kini aku tahu siapa dia. Kini aku sadar siapa dia. Dialah belahan jiwa yang selalu kupuja. “Angelica..?”.

Dia bangkit dan memelukku. “Iya Mike..ini aku..Angelica. Akhirnya kamu sadar juga. Aku begitu takut kehilanganmu. Maafkan aku membuatmu terbaring selama ini”, kata Angelica dengan pelukan hangatnya. Aku berusaha mengangkat tanganku dan memeluknya. Aku begitu bahagia. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Setahuku mulutku hanya mengatakan, “Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku…”.

“Grandpa, tiup lilinya donk…”, teriak seorang malaikat kecil cantik dengan mata birunya memandangiku sambil tersenyum. “Iya sabar ya, grandpa tiup sekarang..”, jawabmu sambil tersenyum dengannya. Ya, aku sekarang berulang tahun ke 65. Kami mengadakan pesta kecil dirumah kami. Yang meghadiri adalah sahabat-sabahat dekatku. Mereka adalah Kevin dan istrinya beserta putra putrinya. George bersama putranya dan Johan datang sendiri saja. Dan tentunya juga cucu-cucu mereka meramaikan suasana pesta.

George datang bersama putranya. Sedangkan putrinya tidak bisa hadir karena harus mengurus bisnis travelnya. Istri George beberapa tahun telah meninggal karena menderita gagal jantung dan meninggal dalam tidurnya sambil tersenyum. Johan hadir sendiri diantar sopirnya. Istrinya dan anak-anaknya tidak bisa hadir karena sedang liburan bersama cucunya.

Kevin? Dia menjadi seorang pengusaha yang sangat sukses. Seorang pria yang namanya dikenal karena amal dan kepeduliannya. Istrinya juga seorang wanita yang sangat berdedikasi membantu Kevin dalam mengurus kerajaan bisnisnya. Kevin dikarunia dua anak. Seorang putra yang mewarisi ketampanan seperti ayahnya, dan seorang putri yang mewarisi kecantikkan dan kasih ibunya. Dan istri Kevin? Kalian sudah bisa menebaknya. Cindy sicantik.

“Cup…”, sebuah kecupan mendarat dipipiku. Wanita ini tersenyum padaku. Kepalanya telah memutih semua. Tapi senyumannya tidak pernah memudar seperti masih muda. Dia memakai syal merah dilehernya. Aku juga memakai syal yang sama. Dan warna itu adalah warna merah favorit kami berdua. “Ayo sayang, ucapkan permintaanmu”, katanya sambil memegang tanganku. Kupejamkan mataku.

Samar-samar kulihat ada cahaya didepanku. Kuteringat kembali bagaimana wanita ini yang telah menjadi belahan jiwaku begitu sabar menemaniku. Bahkan menungguku. Sejak aku tersadar dari komaku, Angelica selalu disamping menemani pemulihanku. Saat itu aku kira aku hanya terbaring selama beberapa hari saja, tapi ternyata aku koma selama 10 tahun lamanya.

Sejak aku terjatuh dari tangga pada malam itu, aku tidak sadarkan diri. Dari cerita sahabat-sahabatku kepalaku terbentur benda keras sehingga mengalami trauma pada otak. Memang tidak memberikan efek apa-apa pada tubuhku. Tapi justru memberikan efek pada kepalaku. Selama 10 tahun aku terbaring koma, selama 10 tahun Angelica menemaiku pula.

Kudengar juga dari Kevin bahwa Angelica tidak pernah melepaskan tangannya dari tanganku saat aku koma. Dia menemaniku setiap hari. Dia menjagaku setiap malam. Dia dengan sabar dan penuh cinta bercerita tentang harinya walaupun dia tahu bahwa aku mungkin saja tidak bisa mendengarnya. Memang kuakui aku tidak tahu apa yang dia ceritakan padaku saat aku koma, tapi perasaannya tersampaikan penuh melalui genggamannya. Dan yang membuat aku sangat terharu dan semakin mencintainya, ternyata selama 10 tahun ini dia tidak pernah menikah. Dia masih menungguku. Menungguku tersadar dari tidur panjangku.

Lalu siapakah anak perempuan kecil yang memanggilnya Mommy? Itu adalah putrinya Angelica, anak itu anak adopsi. Angelica mengadopsi seorang putri karena dia ingin ada seseorang yang menemani sepinya. Setiap hari diajaknya kerumah sakit dimana aku terbaring lemah. Setiap hari Angelica bercerita tentang diriku padanya. Dan dia mengatakan padanya aku ini ayahnya.

Kami menikah setelah satu tahun aku keluar dari rumah sakit dan pulih kembali. Dan ajaibnya aku sembuh total. Awalnya aku begitu bingung bagaimana harus membayar tagihan rumah sakit tempat aku berbaring, tapi sekali lagi aku dibuat terharu oleh Angelica dan sahabat-sahabatku, mereka semua patungan membayar tagihan itu. Padahal Kevin telah mengatakan akan menanggung semuanya, tapi mereka hanya tersenyum dan meminta patungan saja.

Yang lebih mengejutkanku, bisnis kecilku kini berkembang menjadi bisnis yang mempunyai cabang dimana-mana. Mereka yang terus menjaganya dengan harapan aku pasti sadar kembali. Mereka begitu percaya aku akan berkumpul bersama selayaknya dulu kami melakukannya. Kali ini, aku tak kuasa menahan air mata.

Kubuka kembali mataku. Kulihat wajah istriku yang masih tersenyum didepanku. Sangat manis sekali. Kupandangi sahabat-sahabatku. Kulihat cucu-cucuku bermain dengan gembira dan penuh tawa. Kulihat kue tart ku dengan angka 65 diatasnya. 10 tahun dia menungguku. 25 tahun dia menemaniku. Dalam suka terutama dalam duka. Aku tidak pernah sebahagia ini mendapatkannya. Bahkan jika harus dilahirkan kembali, pada wanita inilah aku ingin menjadi suaminya. Hanya dia saja.

“Sayang, apa yang kamu minta?”, tanya istriku Angelica mendekatkan wajahnya padaku. Dia tersenyum sangat manis sekali. kusuruh dia mendekatkan telinganya padaku. Kubisiki permintaanku padanya. Lalu dia memalingkan wajahnya dariku sambil mencubit tanganku. Wajahnya merona merah. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya. Ya, dia memang bukan wanita yang paling cantik. Dia juga bukan wanita yang paling menarik. Dia juga bukan wanita yang terbaik, tapi dia adalah wanita yang PALING SEMPURNA…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s