Apa syarat untuk menjadi bahagia?


What is the condition to get happiness?

Sebelumnya, aku memohon ampun jika tulisan ini tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Karena aku menulis ini hanya dari versiku saja. Sebelumnya juga, aku telah menulis tentang apa itu bahagia dan itupun menurut versiku juga. Lalu apa alasan aku menulis tulisan ini dengan judul diatas? Karena aku mendapatkan inspirasi dari beberapa teman dan ingin berbagi kepada teman-teman juga.

Teman yang kumaksud disini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai mentor aku. Alasan yang pertama karena mereka memang lebih dewasa. Alasan kedua mereka memang telah melewati semua rintangan, halangan, keluhan, tanggisan yang pada umumnya kita takutkan. Dan, yang TERUTAMA mereka “paham” apa itu bahagia.

Tunggu dulu, kok aku menulis kata paham dengan petik dua (“)? Karena pengertian itu berbeda-beda bagi kita semua. Aku menandai dengan petik dua (“) supaya Anda tidak menjadikan tulisanku sebagai harga mati dalam pengertiaanya.

Sekali lagi, tulisan ini hanyalah sebatas tulisan saja. Tulisan menurut pendapat pribadi saja. Jika ada yang kurang mengena, aku meminta maaf sebesar-besarnya. Tapi pastikan Anda tersenyum ya, karena itu adalah awal sebuah hari yang cerah.

Karena aku memang hobi menulis dan mengarang cerita (walaupun berantakan dan kalang kabut (-_-!)…) maka aku menulis ini dalam versi cerita. Isinya hanyalah karangan semata. Kisahnya pun perintah kepala yang meminta tangan menari-nari merangkai kata. Tapi PESANNYA kudapatkan dari dunia nyata. Jadi, apa syarat untuk menjadi bahagia?

“Untuk menjadi bahagia, kamu harus mempunyai uang dulu”, kata Charles sambil menikmati kopi coklat kesukaannya. Kupandangi mata pria yang duduk didepanku ini. Seorang pria yang rupawan. Rambut disisir rapi kebelakang dengan kumis tipis menghias bibirnya. Pria ini seorang pengusaha yang cukup disegani dikotaku. Bisnisnya berkembang pesat beberapa tahun ini, bahkan dia mulai membuka cabang baru diluar kota.

“Memang uang tidak bisa memberi kebahagiaan, tapi dengan punya uang kita bisa merasa lebih bahagia”, lanjutnya sambil meletakkan kopinya diatas meja kami duduk berdua. Disandarkan tubuhnya kekursi tempat dia duduk. “Coba kamu lihat aku saat dulu. Tidak mempunyai apa-apa dan selalu mondar-mandir mencari pekerjaan hanya untuk memenuhi makan sehari.  Menurutmu manakah yang terlihat lebih bahagia? Aku yang dulu atau aku yang sekarang?”, tanyanya sambil memandang serius kearahku.

Ya, aku dan Charles telah berteman puluhan tahun. Dia yang dulu memang lebih kurus. Kulitnya gelap terbakar matahari karena berjuang mencari makan. Sekarang, tubuhnya berisi – lebih tepat gemuk. Kulitnya putih bersih karena ada kendaraan roda empat melindungi. Kupandangi kunci mobil dimeja, dari kuncinya kulihat logo kuda jantan yang sedang mengangkat kedua kakinya.

Harus kuakui bahwa Charles yang sekarang terlihat lebih santai dan lebih banyak tertawa. Lalu dia mencondongkan badannya. “Mike, uang memang bukan segala-galanya, tapi dengan uang kita bisa membeli apa yang membuat kita bahagia. Maksudku begini, saat kita lagi banyak beban pikiran apakah itu tentang pekerjaan, pasangan, keluarga atau lainnya, dengan uang kita bisa membeli tiket dan terbang ketempat yang kita inginkan. Kita bisa meninggalkan semua beban itu dan bersenang-senang. Kita bisa membayar semua kesenangan kita. Dan itu perlu uang”, katanya serius.

“Aku yang dulu tidak pernah mendapatkan kesempatan itu. Saat aku dirundung masalah, aku hanya bisa berkeluh kesah. Bahkan beberapa teman kita menjauhiku karena aku terbiasa mengeluh. Apakah aku harus menyalahkan mereka? Tentu tidak bisa bukan?”.

“Sekarang coba lihat pria yang ada didepan kita. Dia mempunyai mobil mewah, dan aku bisa pastikan dia juga mempunyai rumah indah. Lihatlah wanita yang disampingnya itu. Sangat cantik dan menarik bukan?”, kata Charles sambil memandangi pasangan muda  tersebut. Ya, yang pria sangat tampan dan siwanita sangat menawan.

“Aku tidak akan mengatakan dia beruntung bisa mendapatkan semua itu. Karena aku tidak tahu latar belakangnya. Mungkin dia memang mewarisi kekayaan orang tuanya, tapi aku lebih suka berpikir dia mendapatkan semua itu karena usahanya. Coba lihat wajah mereka. Tertawa dan bahagia bukan?”.

“Mike, temanku. Aku tidak perlu kamu setuju dengan pendapatku. Tapi aku yang sekarang merasa lebih bahagia karena mempunyai uang. Bukan karena uangnya. Tapi dengan uang kita merasa lebih bahagia walaupun itu tidak memberi jaminan seratus persen. Dan itu menurutku salah satu syarat pertama untuk menjadi bahagia. Selebihnya nomor dua dan tiga”.

Kami berpisah setelah sejam lebih bertukar cerita. Dalam perjalananku aku masih teringat dengan jelas apa yang dikatakan Charles. Uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi dengan uang kita bisa merasa lebih bahagia. Untuk beberapa point aku setuju dengan pendapatnya.

Karena hari itu aku mempunyai cukup banyak waktu untuk menulis, aku menyempatkan diri singgah disebuah café kecil langgananku. Kupesan jus Sirsak kesukaanku. Sambil mengutak-atik iPodku menulis, aku melihat sepasang pria dan wanita duduk didepanku. Kepala mereka telah memutih semua. Tapi anehnya aku lebih terkesan dengan senyuman diwajah mereka.

Aku membalas senyuman mereka. Dalam hati aku bertanya-tanya. Aku tidak mengenal mereka, tapi kenapa hanya dengan senyuman bisa membuatku berbunga-bunga. Kulihat sang pria membuka jaket istrinya dan meletakkan kekursi tempat mereka duduk bersama. Mereka sambil bercanda. Mataku masih menatap mereka.

Kupalingkan wajahku keatas. Tanganku kukibas-kibaskan seperti ada makhluk kecil yang terbang mengganggu santaiku. Ya, aku hanya berpura-pura saja. Aku merasa tidak enak ketahuan sedang memandangi pasangan tua tadi. Sejujurnya aku terkesima oleh IKATAN BENANG MERAH ditangan mereka.

“Tahu tidak, mereka telah bersama selama 70 tahun. Mereka telah menjadi langganan disini selama 30 tahun. Dan, mereka selalu tertawa dan bahagia seperti hari ini”, kata pemilik café ini padaku saat malaikat surga – maksudku pasangan tua –  itu berlalu. Aku dan pemilik café ini sudah cukup kenal lama.

“Bagaimana kamu tahu bahwa mereka selalu tertawa dan bahagia seperti hari ini?”, tanyaku penasaran. “Mike, aku pun dulu tidak percaya apa yang sekarang kukatakan padamu. Tapi aku mengenal mereka bukan barang sehari saja. Sejak ayahku membuka café ini, mereka telah menjadi langganan disini”, jawab temanku sambil tersenyum. Aku tahu dia sedang mengenang kisah dikepalanya.

“Apakah mereka dari keluarga kaya? Maksudku mereka punya bisnis yang menghasilkan sehingga mereka bisa selalu tersenyum dan bahagia seperti itu”, kataku mencoba mengali informasi lebih. Kalian pasti tahu kenapa aku bertanya begitu. Ya, aku bertanya karena Charles  temanku telah mempengaruhi pikiranku. Jika jawabannya YA, maka memang benar apa yang dikatakan Charles.

Pemilik café ini melihatku. Lalu dia mengajakku keluar. “Apakah kamu melihat motor itu?”, tanyanya sambil menunjuk kearah tempat parkir. Kulihat sebuah motor tua diantara mobil-mobil mewah. Bahkan sangat tua. “Ya, aku melihatnya. Memangnya kenapa?”, tanyaku sedikit bisa menebak.

“Motor itu adalah motor yang mereka berdua pakai yang kamu tanyakan apakah mereka kaya. Dan menurutmu orang kaya seperti apa yang masih memakai motor sepert itu?”, kata temanku pemilik café ini bertanya. Sebelum aku sempat menjawab dia melanjutkan.

“Aku tahu kamu pasti ingin mengatakan bahwa dia sengaja membawa motor tua itu bukan?”, lanjutnya. Aku terkejut temanku ini bisa menebak pikirannku. “Mike, itu motor mereka satu-satunya. Dan sekedar kamu tahu saja, mereka tidak berpura-pura memakai motor tua. Itu milik mereka satu-satunya. Dan itu juga “anak mereka”.

“Apa maksudmu “anak” mereka?”, tanyaku sedikit bingung. Temanku menghela napas panjang. Diajaknya aku masuk kembali kecafe. Lalu dia meminta salah satu karyawatinya membuatkan kopi untukknya. Diaduknya kopi itu dan minumnya sebentar.

“Mereka tidak mempunyai anak Mike. Makanya motor itu mereka anggap sebagai anak mereka”, kata temanku dengan mata yang sayu. Aku terkejut mendengar jawaban temanku itu. “Tadi kamu bertanya padaku apakah mereka kaya sehingga bisa tersenyum dan tertawa seperti itu bukan?”, tanya temanku sambil melihatku dengan pandangan yang ramah.

Sejujurnya, aku merasa malu dengan diriku sendiri. Bahkan aku sangat menyesal telah bertanya seperti itu pada temanku. Rasanya aku ingin menghilang dari hadapannya.

“Mike, aku tidak tahu bagaimana kamu mengaitkan atau menghubungkan SENYUMAN dan BAHAGIA itu dengan UANG atau tetek bengek lainnya. Aku juga tidak ingin mengetahuinya. Jika uang adalah SALAH SATU SYARAT untuk menjadi seperti mereka, maka seharusnya mereka menanggis sekarang. Kenapa? Karena mereka tidaklah kaya. Tapi mereka SANGAT SANGAT KAYA”.

Aku membayar minuman yang aku pesan. Lalu aku pamitan sama temanku yang pemilik café. Kali ini aku pulang dengan senyum lebar dimulutku. Aku sangat puas dengan apa yang kudengar. Aku sangat berterimakasih dengan apa yang kulihat. Belum pernah aku merasa “terbang” seperti hari itu.

“Mereka tidaklah kaya, tapi mereka SANGAT SANGAT KAYA.”

Itulah kata-kata yang selalu tergiang dikepala dan telingaku sekarang. Itulah kata-kata yang mungkin akan aku kenang selamanya. Pasangan tua yang secara tidak sengaja kutemui itu memang SANGAT KAYA. Tapi bukan kaya secara materi. Tapi KAYA AKAN BAHAGIA.

Saat bersama Charles, aku diberitahu bahwa salah satu syarat untuk menjadi bahagia adalah dengan memiliki uang. Dan secara pribadi, aku setuju. Hanya saja aku lebih setuju dengan kisah pasangan tua yang kutemui itu.

Mereka tidak memberiku kata-kata indah, nasehat-nasehat menjadi bahagi, apa yang harus kulakukan supaya bahagia, apalagi syarat-syaratnya. Mereka hanya memberiku SENYUMAN dan TAWA.

Memang aku akui, segala-galanya didunia ini memerlukan uang. Tanpa uang kita tidak bisa membayar biaya sekolah anak. Tanpa uang kita tidak bisa kemana-mana. Tanpa uang kita tidak bisa membeli baju. Tanpa uang kita tidak bisa membayar listrik, dan aku juga tidak bisa mengetik. Bahkan tanpa uang kita tidak bisa membeli beras untuk makan.

Lalu pertanyaanku pada diriku sendiri. Apakah uang bisa membeli kebahagiaan? Dan jawabanku adalah TIDAK BISA APAPUN ALASANNYA. Dan bagi kalian yang membaca, tidaklah perlu menjawabku dan setuju. Tersenyum sajalah. Jangan karena tulisanku ini harimu yang indah menjadi mendung dan badai menerpa.

Kenapa aku mengatakan tidak bisa? – sekali lagi ini pendapatku sendiri – jika pasangan tua itu ditawari uang 1 milliar untuk mereka apakah mereka mau mengambilnya? Jika kalian mengatakan tidak aku mengatakan kalian gila. Tapi, jika mereka ditawari 1 milliar untuk MEMBELI KEBAHAGIAN MEREKA apakah mereka mau mengambilnya? Aku tidak yakin dan juga tidak tahu. Merekalah yang tahu. Yang pasti aku percaya jawaban mereka mungkin tidak. Berapapun harganya.

Terlalu munafik? Jangan salahkan mereka, tapi salahkan aku. Mereka tidak melakukan kesalahan apapun, aku yang terlalu percaya dengan mereka. Dan karena mereka aku mendapat arti dan syarat bahagia itu sendiri. Dan karena mereka juga aku diberi SENYUMAN YANG PALING INDAH.

Jadi, jika kalian bertanya padaku apa syarat menjadi bahagia, maka jawabanku TIDAK ADA. Lho? Ambil napas dulu. Tenangkan hati dulu. Jika masih terasa dag dig dug didada karena tidak setuju denganku, palingkan wajahmu sebentar. nikmati minuman yang diatas mejamu.

Ya, untuk mendapatkan kebahagiaan, TIDAK PERLU SYARATNYA. Kenapa karena BAHAGIA itu bukanlah barang dan hanya dimiliki kita. Bahagia itu adalah KEADAAN yang kita ciptakan sendiri.

Saat kita mendapatkan Blackberry dari pacar kita, kita bahagia. Saat kita menang lotre atau undian, kita bahagia. Saat kita lulus ujian, kita bahagia. Saat kita dapat mobil keren, kita bahagia. Saat kita naik jabatan, kita bahagia. Saat putra-putri kita lahir, kita bahagia.

Sekarang mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Itu SENANG atau BAHAGIA?

Jika kita dapat BB baru dari pacar kita, dan kemudian teman kita dapat yang lebih canggih dari pacarnya, bagaimana bahagia itu? Jika kita menang lotre atau undian, lalu kemudian semua mulai berkurang bagaimana bahagia itu? Jika kita lulus ujian, lalu kemudian kita tidak berhasil masuk sekolah/universitas favorit kita, bagaimana bahagia itu? Jika kita naik jabatan, tapi banyak karyawan yang tidak senang, bagaimana bahagia itu? Dan jika kita mendapatkan malaikat-malaikat kecil kita, lalu mereka menjadi jauh dari harapan kita, bagaimana bahagia itu? Tidak perlu jawab padaku. Dan sekali lagi ini hanyalah menurut pendapatku.

BAHAGIA adalah saat kita menikmati itu BERSAMA. Bukan aku atau kamu saja. Dan, bahagia itu tidak ada syaratnya. Coba kita kenang kembali pasangan tua yang kutemui. Syarat apa yang akan kita temukan yang membuat mereka bahagia? Dari kacamataku TIDAK ADA.

Dan, jika memang harus ada syaratnya, syarat itu adalah MENERIMA, MENERIMA , MENERIMA dan MENSYUKURI SEMUA YANG DITERIMA.

Saat kita MENERIMA dan BENAR-BENAR MENERIMA, semua syarat – aku menyebutnya beban – yang kita gendong dipunggung kita setiap harinya akan berjatuhan semua. Mobil yang menjadi syarat, rumah yang menjadi syarat, tampan yang menjadi syarat, cantik yang menjadi syarat, sexy yang menjadi syarat, uang yang menjadi syarat sebenarnya itu JUSTRU SYARAT UNTUK MENJADI TIDAK BAHAGIA.

Lalu bagaimana dengan temanku Charles yang mengatakan dengan uang bisa menjadi lebih bahagia? Tentu saja itu benar. Dan menurutku, bukan karena dia sudah punya uang lalu menjadi lebih bahagia. Tapi karena dia MERASA LEBIH BAHAGIA, maka UANG ITU TERLIHAT INDAH.

Yup, inilah kisahku dalam tulisanku. Sekali aku memohon ampun jika tulisanku sangatlah tidak mengena dengan pendapat kalian. Aku pun tidak mengatakan aku benar. Ini hanya pendapat pribadiku saja. Dan tentunya dalam versiku juga. Karena aku menyukai hal-hal yang membuat tersenyum dan bahagia (semua juga pasti sama) aku ingin mengulang lagi kata-kataku sebelumnya.

Syarat untuk menjadi bahagia adalah TIDAK ADA. Dan jika harus ada syarat itu adalah MENERIMA dan MENSYUKURI SEMUA YANG DITERIMA. Juga, uang tidak mendatangkan kebahagiaan, tapi justru KEBAHAGIAAN MENDATANGKAN UANG.

Karena kita yang BAHAGIA, maka materi adalah bonusnya. Senyum adalah komisinya. Tawa adalah imbalannya. Dan kamu yang BAHAGIA adalah ANUGERAH-NYA YANG PALING INDAH.

3 thoughts on “Apa syarat untuk menjadi bahagia?

    1. Sebelumnya thx banget atas kunjungannya agan dan waktu berharga yang agan sisihkan untuk membaca tulisan kalang kabut ane yang seadanya ini :)
      Hanya kata terimakasih yg bisa ane ucapakan atas komennya agan yang memberi semangat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s