Margarethku


My Margareth

“Plok..plok..plok…”, terdengar suara tepuk tangan dari arah belakangku saat kubaca puisi yang kutulis sendiri. Kubalikan tubuhku dan kulihat seorang malaikat cantik berdiri dihadapanku. Rambut pirangnya begitu mengoda dibawah siraman matahari pagi. Senyumnya yang manis mencerahkan warna bunga-bunga dipot aku berdiri. Aku tersenyum semanis mungkin untuk membuatnya terkesan.

“Seperti biasanya, puisimu selalu membuatku terbuai Mike”, kata wanita sambil berjalan pelan kearahku. Setiap langkah kakinya membuat keringat bercucuran diwajahku. “Puisi dengan judul apa yang kamu tulis pagi ini?”, tanya wanita ini sambil merebut kertas putih kusam dari tanganku. “Ten..tentang wanita yang..”, kataku terputus-putus gugup.

“Wah, tentang malaikat surga ya? Kata-katanya bagus sekali Mike. Boleh aku memilikinya”, lanjut wanita ini sambil melihat kearahku. Bola mata birunya semakin membuatku gugup. “Ka..kalau kamu su..ka, ambil saja”, jawabku semakin gugup dan berusaha menenangkan diri. “Thank You Mike…”, balasnya sambil mendekatiku dan, “Cup…”.

Ya, aku tahu kalian pasti sedang tersenyum membayangkan aku yang seperti cacing kepanasan dicium seorang wanita cantik. Dan, ya aku juga tahu kenapa aku menjadi gugup. Tebakan kalian semua benar. Wanita itu bernama Margareth. Dia seorang wanita yang sangat cantik – dan memang sangat cantik lho. Dia adalah teman sekelasku dalam mengambil kelas puisi.

Margareth adalah setangkai bunga paling indah warnanya dan paling wangi baunya “ditaman” kami. Tak satupun kumbang – pria – yang akan melewatkan bunga ini. Bahkan jika sikumbang kehilangan penglihatannya, wanginya tidak akan bisa dilupakan. Dan salah satu kumbang itu yang dipikat oleh pesonanya itu adalah aku.

Rambut dicukur pendek rapi. Tinggi 172cm. Mata besar dengan bola mata hitam pekat. Badan dengan dada bidang dan cukup berisi. Baju kaos putih dipadukan celana pendek santai dengan headset yang selalu mengantung dileher setiap waktu. Yup, itulah aku. Seorang pria dengan “nilai rapor” tanggung semua.

Margareth dan aku berteman cukup akrab. Aku mengaguminya yang selalu ceria, mudah bergaul dengan siapa saja, jadi pujaan para pria, dari kalangan serba ada, dan sebagainya. Tentu saja “nilai rapornya” sempurna. Aku terlalu berlebihan? Mungkin iya. Tapi begitulah dia dimataku, dikepalaku, dan dihatiku. Dan, ehem, jika kalian ingin mendekatinya sekedar mencari perhatiannya, lupakan teman. Dia telah menjadi milikku.

Aku bisa mendengar teriakan histeris dan kata-kata yang tidak pantas kuucapkan dari sini. Mungkin sebagian kalian bertanya-tanya bagaimana seorang pria yang nilainya tanggung mendapatkan seorang wanita bernilai sempurna? Ataukah aku yang menggunakan ilmu hitam mendapatkannya? Aku tidak tahu. Dan sejujurnya aku benar-benar tidak tahu.

Yang kuingat pertemuan pertama kami adalah kami sama-sama mengambil kelas puisi malam itu. Aku yang tipe pemalu tidak terlalu memusingkan siapa teman baruku. Yang kutahu aku suka menulis dan merangkai kata-kata dalam bentuk puisi. Saat aku lagi asyik-asyiknya mendengarkan lagu Korea yang berjudul NOBODY dari Wonder Girls, kami secara tidak sengaja berpapasan dan “Aduh..”, terdengar suara wanita jatuh.

Aku begitu terkejut melihat seorang wanita jatuh didepanku. Dengan secepat kilat kubantu dia berdiri dan meminta maaf. Saking merasa tidak enaknya aku menawarkan mengantar dia ke ruang kesehatan untuk memastikan dia baik-baik saja. “Tidak apa-apa, aku juga salah karena terlalu asyik membaca”, katanya sambil tersenyum kearahku. Cantik dan manis sekali. Tidak perlu panah dewa asmara untuk memanahku. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Selebihnya kami mulai saling menyapa. Lama-lama kami berbicara. Dan secara tidak sadar aku telah jadian dengannya. Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi bukan aku yang pertama kali menyatakan perasaanku lho. Tapi Margareth. Sepertinya tidak mungkin terjadi pada diriku kan? Aku bisa mendengar ketidak-percayaan dikepala kalian.

Lalu apa yang menarik dari diriku sehingga membuat wanita yang bernilai sempurna ini mau jadian denganku? Sejujurnya lagi, aku juga ragu. Yang kutahu sejak kami mulai akrab dalam berteman, dia selalu memintaku meminjamkan catatanku. Alasannya dia tidak bisa fokus saat dalam kelas karena dosen yang menjelaskan kurang pandai. Aku pun dengan senang hati meminjamkan. Tapi ternyata aku lupa aku selalu menulis puisiku tentang dia dibelakang buku catatanku.

Setiap kali dia mengembalikan buku catatanku, tebar-tebir senyum cantik menghias bibirnya. Awalnya aku kira dia menyukai catatanku yang memang banyak gambar dan tulisan. Hingga suatu hari aku berencana menulis puisiku pada sebuah buku yang baru dibeli disebuah toko buku. Aku berpikir akan lebih mudah bagiku membawa buku catatan dan buku khusus puisiku daripada harus digabung begitu. Dan seperti biasanya, Margareth pun meminjam catatanku.

“Mike, nih bukunya. Coba pinjam buku lainya”, kata Margareth padaku saat aku sedang menikmati makan siangku disebuah bangku. Aku hanya bingung. Buku yang lain? Kenapa tanyaku. “Maksudnya buku yang mana?”, tanyaku masih dalam penasaran. “Semua buku kamu dech”, jawabnya sambil mengambil buku-buku yang tersusun rapi disampingku.

Anehnya, saat Margareth mengambil bukuku, bukan halaman pertama yang dilihatnya. Tapi halaman terakhir. Aku makin bingung dengan tingkah laku Margareth. Semua bukuku dilemparkannya kebangku aku duduk. “Puisimu tentang aku dimana Mike?”, akhirnya aku tahu yang dia cari.

Seketika mukamu merah padam. Bagaimana dia bisa tahu tentang puisiku yang kutulis tentang dia? Jantungku berdetak sangat kencang. Mungkin Cheetah jika disuruh berlomba dengan jantungku pun akan menyerah. “Ayolah Mike, kamu taruh dimana puisiku. Aku tidak bisa tenang sebelum aku membacanya”, manjanya padaku. Puisiku katanya?.

Selanjutnya kalian bisa menebak. Sejak kejadian hari itu Margareth memintaku membuatkan puisi khusus buat dia setiap minggu. Dan dimintanya aku menyelipkan pada lembaran terakhir catatanku. Dan tidak sampai sebulan dia menerima puisi yang kutulis dengan sepenuh cinta dari hati, dia memintaku menjadi pacarnya. Jawabanku? Kalian tahulah.

Masih berdiri mematung aku memegang pipiku. Aku masih merasakan hangat kecupan itu. Cahaya mentari pagi hari menambah hangat hatiku. Bunga-bunga indah dipot bahkan tidak seindah bunga-bunga yang mekar didadaku. Jika kalian melihatku dari TV mungkin terlihat diatas kepalaku ada bentuk gambar hati berwarna merah bersayap sedang terbang sana-sini. Lalu disamping kanan dan kiriku ada malaikat setengah telanjang sedang meniup terompet kebahagiaan.

Pagi itu aku berjalan dengan muka masih merona merah. Dan seperti biasanya aku berjalan sambil mendengarka lagu dengan headset dikepalaku. Pagi itu lagu yang kupilih berjudul LOVE OF THE LIFE TIME. Kudendang kan dalam hati lagu itu. Lengkungan pelangi pun mungkin kalah dengan lengkungan senyuman dibibirku.

“Saat jatuh cinta, kita tidak bisa menutup mata pada malam harinya. Kenapa? Karena kita menyadari bahwa mimpi tidaklah seindah kenyataannya”.

Itulah kata-kata puitis dari seorang pujangga yang sangat kubangga. Ya, itulah yang kualami sedang jadian dengan Margareth. Aku begitu berbunga-bunga. Hijau daun pepohonan tidak sehijau ketika aku jatuh cinta. Merah mawar ditaman tidak semerah ketika aku menemukan belahan jiwa. Bahkan kicauan burung-burung didahan menjadi orkestra para maestro dunia.

“Hai matahariku, apakah aku bercahaya terlalu terik menyiramimu malam ini?’, telponku pada Margareth ketika malam tiba sekedar menyapanya. Tidak ada jawaban apapun darinya. Hanya suara cekikikan manja. “Bersediakah putri bulan malam ini menemani pangeran tampan dari negeri seberang tuk melepaskan kutukkan sayang?”, tanyaku meminta.

“Wahai pangeran, pantaskah aku ini menemanimu malam ini dan bagaimanakah aku bisa melepaskan kutukkan itu?, jawab Margareht sambil tertawa kecil. “Putri memang tidak pantas menemaniku karena putri terlampau indah, tapi dengan satu jawaban Iya aku sudah melayang keangkasa. Dan kutukanku akan hilang ketika putri mengucapkan satu kalimat ajaib”, balasku mencoba mengarang-ngarang.

“Apakah itu?”, tanya Margareth manja pura-pura tidak tahu. Lalu kubisikan padanya seperti malam-malam biasanya. Kami tertawa bersama dan malam itu terlewati juga indah seperti malam sebelumnya. 5 bulan aku telah bersamanya, ratusan puisi telah kutulis indah, ribuan kata cinta telah kurangkai penuh pesona dan semuanya kupersembahkan bagi dirinya.

Memasuki bulan keenam, tidak sedikitpun cintaku padam. Sambil berdendang mendengarkan lagu kesukaanku, aku membawa kakiku berlari kecil diperempatan jalan. Hari ini aku sedang senang, tapi bukan senang yang seperti biasa. Hari ini aku baru saja membeli sebuah kalung dengan liontin lumba-lumba, dan aku ingin memberi kado pada malaikatku.

Saat lampu merah berganti hijau, aku dengan cepat menarik tubuhku melewati keramaian orang didepan. Tapi anehnya waktu terasa sangat lambat, kulihat seorang wanita tua melambaikan tangannya kearahku, wajahnya terlihat cemas sekali. Beberapa pria terlihat berlarian kearahku, tapi gerakan mereka terlihat sangat lambat. Lalu kulihat lampu lalu lintas diatas kepalaku. Warnanya merah. Dan seketika pandanganku jadi putih semua dan “Tiiitiittttt…….BRUAKKK…..”. “Panggil ambulan, panggil ambulan…”.

Samar-samar kulihat seorang wajah wanita cantik sedang memandangku dengan linangan air mata. Tanganku digenggam dengan sangat erat sekali. samar-samar juga kulihat beberapa wanita berpakaian putih dengan topi kecil putih dikepalanya. Kulihat mereka semua berbisik-bisik pada seorang wanita yang sedari tadi mengenggam tanganku. Terlihat dari wajahnya ada rasa lega.

“Akhirnya anda bangun juga tuan”, katanya sambil mengenggam tanganku. Aku hanya mengangguk pelan. Aku masih terasa lemah hendak mengucapkan sepatah kata saja. “Untunglah…, aku keluar sebentar urus biaya-biaya administrasi rumah sakit dulu. Tuan tidak perlu memikirkan apa-apa. yang perlu tuan lakukan hanyalah beristrahat sampai sembuh total”, kata wanita ini tersenyum dan berlari kecil berlalu.

Aku tidak kenal wanita ini. Dan aku juga tidak terlalu ingat bagaimana aku ada disini terbaring lemah. Yang kutahu aku sedang berada dijalan sambil membawa kotak kado kecil. Ya, kotakku. Tiba-tiba aku tersadar. Kucoba memaksakan diri untuk bangun. Tapi sangat berat. Tubuhku tidak mau merespon kepalaku.

Aku memutar bola mataku mencoba mengingat kembali kejadian yang menyebabkan aku terbaring disini. Aku sangat ingat ketika aku masuk kesebuah toko aksesoris kecil didepan rumahku. Dengan semangat anak muda yang sedang jatuh cinta, aku membeli sebuah kalung dengan liontin lumba-lumba. Lalu kuingat aku ingin memberikan kalung ini pada seorang wanita. Wanita yang sangat special bagiku. Dan itu hari ini.

“Ya Tuhan, Margareth”, kataku dalam hati. Aku harus menyerahkan kado itu sebelum malam. Aku mencoba bangun lagi. Kali ini aku mulai bisa mengangkat tubuh bagian atasku dengan pelan-pelan. Belum sempat aku membetulkan dudukanku pada bantal aku terbaring, kulihat wanita tadi masuk dan menahanku.

“Maaf tuan, anda tidak boleh bergerak dulu. Kata dokter tuan masih perlu diperiksa lagi untuk memastikan tuan baik-baik saja”, kata wanita ini dengan wajah yang sendu. Aku tahu dia sedang mencemaskan keadaanku. Tapi aku lebih mencemaskan perasaan Margareth yang berulang tahun. Aku telah berjanji akan memberinya hadiah kecil malam ini. Dan aku juga telah menulis puisi untukknya.

“Aaah..aa..a…”, aku coba mengucapkan kata-kata. Tenggorokanku terasa sakit sekali. wajar saja, aku kan baru mengalami kejadian paling mengerikan dalam hidupku. Sekarang aku sadar 100%. Aku mengalami kecelakaan saat hendak menyeberang jalan.

“Tuan, anda tidak boleh berbicara banyak dulu. Dokter telah memastikan tuan tidak mengalami luka apa-apa pada tubuh anda. Setelah beberapa hari lagi dokter akan memeriksa organ dalam tuan untuk memastikan tidak ada hal yang perlu dikuatirkan, dan setelah itu tuan boleh pulang”, kata wanita ini menjelaskan. Tapi, sekali lagi, aku lebih mengkuatirkan Margareth.

“Mike…, kamu tidak apa-apa bukan?”, tanya Margareth disuatu pagi. Kukucek mataku memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Ya, itu Margareth, batinku. “Apa yang terjadi denganmu? Kemarin aku menunggumu semalam suntuk tidak ada kabar. Kutelpon dirimu dan yang kutahu kamu sudah terbaring disini”, lanjut Margareth dengan wajah cemas. Kubelai wajahnya untuk mengatakan padanya bahwa baik-baik saja. Dan kukatakan, “……..….”.

Suaraku tidak keluar. Tenggorokkanku terasa sakit sekali. Kupegang tenggorokanku dengan tanganku yang masih diperban. Apa ini? Tanyaku dalam hati. Kurasakan ada sebuah karet kecil menempel dileherku. Disekeliling leherku ada kalung agak besar seperti kalung anjing mengitari leherku.

“Itu untuk menjaga supaya leher dan tenggorokanmu tetap nyaman. Dalam beberapa bulan bisa dibuka. Tapi…”, kata seorang pria berkacamata didepan pintu masuk. Dia adalah dokter yang merawatku. “Tapi apa?”, tanya Margareth penasaran. Pria ini membetulkan kacamatanya sebentar. Lalu dia mengatakan hal yang membuatku terpukul sekali.

Dua bulan telah berlalu sejak kejadian itu. Semua hal yang melekat dileherku telah tiada. Semua kisahku yang awalnya indah telah menjadi sejarah. Terlihat garis tipis melintang dileherku. Sebuah luka yang membekas seperti luka yang membekas dihatiku.

Aku dan Margareth telah menjadi teman biasa – benar-benar teman. Kami memutuskan untuk berpisah sebulan yang lalu. Dia mengatakan padaku bahwa dia jatuh cinta padaku karena dulu aku selalu menulis puisi dan membacakannya. Tapi aku yang setelah kecelakaan itu tidak bisa lagi melakukannya.

Tidak ada kata-kata lain yang bisa menjelaskan perasaanku waktu itu selain kata hancur. Aku meminta Margareth agar memberiku kesempatan agar aku bisa melakukan lagi yang dia suka. Aku berjanji akan melakukan terapi agar cepat sembuh. Aku berjanji akan menulis sebanyak puisi yang dia mau. Tapi jawabannya padaku hanyalah air mata diwajahnya.

Sebenarnya aku juga telah tahu bahwa aku sudah tidak akan bisa lagi berbicara seperti dulu. Pita suaraku hancur sejak kecelakaan yang menimpaku. Ditenggorokanku ditemukan pecahan kaca yang melukai cukup fatal. Aku bisa menerima jika aku harus kehilangan suaraku. Aku bisa menerima aku tidak bisa berbicara lagi. Tapi Tuhan aku tidak bisa menerima harus kehilangan Margareth.

Malam itu aku bersujud memohon agar Margareth tidak meninggalkanku. Tapi dia tetap berjalan berlalu bersama serpihan-serpihan perasaanku. Didepan ratusan pasang mata aku mempermalukan diriku sendiri berusaha memanggil namanya. Tapi suara yang keluar justu adalah suara serak yang membuat pendengar meringgis dan tertawa.

Aku terus memanggilnya sampai mobil yang dikendarainya hilang bersama kegelapan jalan. Lalu lalang manusia disekitarku tidak kupedulikan. Mulutku masih berkata memanggil namanya. Tapi tidak bisa. Jangankan namanya, untuk mengucapkan satu huruf saja aku tidak mampu. Mataku terus menghiburku dengan genangan air mata dipipiku.

Malam yang dingin tidak kurasa lagi. Aku berjalan pelan menelusuri jalan yang mulai sepi. Kupandangi jam disebuah etalase toko. Pas 01.00. kulihat jarum detik berdetak berjalan meninggalkan jarum menit. Semakin kulihat semakin aku menanggis. Ya, seperti itulah aku. Detik itu adalah Margareth, dan aku adalah jarum menitnya.

Kurasakan beberapa tetesan air membasahi wajahku. Aku tahu itu air mataku, tapi kenapa aku merasakan juga sekujur tubuhku basah? Kupandangi langit malam itu. Bulan tidak menampakan hidungnya. Bintang-bintang pun tidak keliahatan kelipnya. Yang kulihat hanyalah ribuan tetesan air jatuh dari awan.

Malam yang dingin. Hujan yang menerpa, seakan ikut merasakan penderitaanku. Aku duduk berteduh disebuah lorong buntu disamping kotak penampungan sampah. Kakiku kulipat untuk menghangatkan tubuhku. Derasnya hujan malam itu mungkin hanya bisa diimbangi derasnya air mataku.

Aku begitu mencintainya. Aku begitu menyayanginya. Dan aku begitu mendambakannya. Tapi mengapa dia begitu tega meninggalkanku justru disaat aku paling membutuhkannya? Aku mencoba membuka mulutku dan mengeja namanya. “Mmmm…a…mm.mma….”, kutendang botol yang disampingku penuh emosi sambil berteriak menengadah.

Setelah sejam lebih, aku mengambil sebuah kapur bekas yang kutemukan. Kutulis nama Margareth disamping aku duduk. Namanya begitu indah. Namanya mengandung kenangan yang selalu kupuja. Kucoba mengeja namanya. Kali ini kotak sampah yang jadi pelampiasanku.

Berhari-hari aku terlarut dalam perasaanku. Aku menanggis dan menanggis seperti bayi yang mencari ibunya. Semua puisi dan catatan yang selalu menghias meja kubuang ketong sampah. Aku begitu marah, aku begitu kecewa. Dalam tanggisanku aku masih memanggil namanya. Margareth. Margareth. Begitu muda jika diucapkan, tapi kenapa tidak ada suara yang terucap?

Dalam kelelahan dan kebasahan, aku tertidur. Dalam mimpiku aku berdiri disebuah taman sedang membacakan puisi yang kutulis padanya. Dia tertawa, dia begitu indah, dia begitu mempesona. Tapi aku tahu itu hanyalah mimpi semata. Air mataku tidak mengalir lagi, karena air mata itu telah kering.

“Maaf tuan, aku tidak mengerti apa maksudmu”, kata wanita pelayan toko café didepanku. Aku berusaha menjelaskan apa yang kumau. Tapi pelayan itu tetap tidak mengerti. Aku hampir putus asa menjelaskannya. Sejak malam itu aku mencoba bangkit kembali. Aku tidak mau terhanyut dalam kesedihanku. Aku belajar bahasa isyarat. Biarlah Margareth meninggalkanku. Tapi hidupku harus tetap berlanjut dan akupun tidak pernah membencinya.

“Maksudnya dia pesan kopi tapi dengan sedikit gula”, terdengar suara seorang wanita dibelakangku. Aku membalikkan badanku untuk mengucapkan terimakasih padanya. Ternyata wajah wanita ini tidaklah asing. Dia tersenyum padaku. Cantik sekali.

“Selamat siang Mike”, sapanya ramah dengan disertai bahasa isyarat. Aku pun membalas dengan senyuman dan, bahasa isyarat juga. Kami duduk bersama didekat jendela. Kami bercanda dan tertawa. Ya, wanita ini adalah wanita yang menolongku waktu kecelakaan dulu. Dialah yang membawaku ke rumah sakit. Dan dialah yang membiayai semua perawatanku.

Aku benar-benar sangat berterimakasih pada wanita ini dan berjanji akan membayar semua biaya yang dia talangi. Tapi dia selalu bersikeras bahwa tidak perlu. Dia bersimpati padaku karena orang yang dulu menabrakku melarikan diri. Dan dari keterangan polisi serta warga setempat, aku juga bersalah. Aku menyeberang pas lampu belum sepenuhnya hijau, kebetulan ada mobil yang mengejar lampu hijau dengan cepat juga dan terjadilah kecelakaan itu.

Aku masih bercerita dengan wanita ini. Karena aku yang masih belum bisa sepenuhnya terbiasa dengan keadaanku yang sekarang ini, aku sering membawa catatan kecil dalam berkomunikasi. Kutulis pertanyaan yang ingin kutanyakan pada catatan kecil ini, lalu kuberikan pada wanita cantik ini didepanku.

“Aduh Mike, kamu telalu memujiku”, jawab wanita ini sambil tersenyum. Manis sekali. Pipinya merona merah. Kamipun melanjutkan bercerita. Tidak terasa sejam lebih kami telah bersama-sama. Wanita ini pun berpamit pulang. Aku berterimakasih padanya atas semua kebaikkannya. Hari itu aku memaksa bahwa aku yang membayar semua.

Sekedar informasi saja. Aku memang tidak bisa berbicara lagi, dan aku harus berbicara dengan orang lain dengan bahasa isyarat. Tapi untunglah aku masih bisa mendengar. Aku mengerti apa yang dikatakan orang seperti orang lain pada umumnya. Hanya saja aku harus menjawabnya dengan bahasa isyarat atau tulisan pada catatan kecilku.

Entah apa penyebabnya, pagi ini, minggu yang cerah ini aku langsung terbangun dan menulis puisi. Ditemani secangkir kopi coklat kesukaanku diatas meja tanganku menari-nari lancar menulis rangkaian kata-kata yang indah. Padahal sejak aku berpisah dengan Margareth aku telah melupakan hobi itu.

Saat kubaca kembali puisi yang kutulis akupun sendiri terkejut. Kata-katanya ringan tapi indah. Setiap rangkaian kata yang membentuk kalimat begitu mengoda. Aku sendiri tidak percaya bahwa aku yang menulisnya. Kurasakan mataku berkaca-kaca. Apakah aku terkenang kembali pada kisah dengan pujaan hatiku Margareth? Mungkin saja, tapi yang sekarang aku yakin bukan itu jawabannya.

Kumasukan puisi yang kutulis itu pada amplop putih diatas mejaku. Lalu kutuliskan alamat yang kutuju. HEAVENLY ROAD, NO. 77. Dengan sedikit berlari aku memasukan amplop itu pada kotak surat yang tidak jauh dari rumahku. Dalam hati aku berharap dia yang menerima akan tersenyum. Tentu saja aku saat itu juga tersenyum lebar.

Hari demi hari berlalu. Minggu berganti bulan. Semua luka lamaku telah kering dan hilang. Sebenarnya masih ada bekasnya sih. Aku tetap menulis puisiku dan kukirim pada dia. Kadang aku tertawa kecil membayangkan wajah bingungnya saat melihat setiap minggu selalu ada amplop dengan puisi didalamnya tanpa nama dan alamat pengirim.

“Mike. Kamu kan yang selalu mengirim amplop disertai puisi itu padaku ya?”, tanya wanita cantik ini padaku. Aku menggeleng kepalaku sambil meminum jus pesananku. “Yang benar?”, tanyanya dengan wajah serius. “Bukan”, jawabku dengan memberi isyarat menyilangkan tangan.

“Untung bukan kamu, jika aku tahu siapa itu, aku akan menghajarnya”, kata wanita cantik ini dengan muka merah padam. Aku menelan ludah mendengar kata-katanya. Jadi selama ini dia tidak suka dengan puisiku? Aku benar-benar merasa tidak enak, perutku mulas. Kurasakan keringat mengalir disekujur tubuhku.

Malamnya aku terbaring diatas tempat tidurku dengan gelisah. Aku bingung, haruskah aku tetap mengirimkan amplop berisi puisi itu?, ataukah aku harus menghentikannya. Hati kecilku berkata tetap mengiriminya, tapi kepalamu meminta berhenti saja. Disisi lain aku merasa sangat bersalah aku telah membohonginya.

“Aku harus jujur padanya apapun resikonya”, kataku dalam hati sambil merapikan bajuku. Ya, aku telah mengambil keputusan untuk jujur padanya. Wanita ini telah banyak menolongku. Dan aku malah membuatnya marah karena keisenganku. Aku tahu persahabatan kami mungkin akan putus. Tapi aku siap menerimanya. Dan harus kuakui, aku juga punya sedikit perasaan padanya – mungkin lebih tepat cinta.

Wanita ini begitu perhatian padaku. Wanita ini begitu banyak membantuku. Padahal dia tidak mengenal aku. Tapi karena perasaanku yang semakin hari semakin besar padanya, aku jadi besar kepala dan mengira dengan puisiku dia akan terhanyut dalam kata-kata indahku. Kenyataannya, malah dia ingin menghajar pria yang mengirim puisi itu. Dan pria itu aku.

“Ting tong…”, terdengar suara bel saat kupencet. Aku begitu gelisah, bukan karena ini kencan pertamaku dengannya saja, tapi aku harus mengakui kejujuranku padanya yang bisa menyebabkan kencan ini menjadi kencan paling mengerikan sedunia. Tapi nasi sudah jadi bubur, aku mau mundur juga sudah percuma.

Kulihat pintu terbuka, dan kulihat seorang wanita yang sangat cantik dengan gaun putihnya yang mempesona. Beberapa detik aku kehilangan kesadaranku melihat wanita ini. Kuberikan mawar merah yang memang tadi aku sengaja beli ditoko terdekat. Dia tersenyum manis sekali. lalu dia memintaku tunggu sebentar untuk menaruh bunga mawar itu. Setelahnya, kami berpacu dengan waktu menikmati malam.

“Mike, terimakasih banyak atas malam yang indah ini ya”, kata wanita ini sambil merebahkan kepalanya dipundakku. Kukeluarkan catatan kecilku, aku menuliskan kata terimakasih. dia membacanya dan tersenyum kembali padaku. Lalu kutulis lagi pada catatan kecilku. Kuberikan padanya dengan hati yang penuh was-was dan gelisah.

“Apakah kamu benar-benar membenci orang yang mengirimu amplop beserta puisi itu”, wanita ini berkata sambil membaca noteku. Dilihatnya padaku dengan mimik wajah serius. “Ya, aku sangat membencinya karena mengirimi aku dengan hal-hal seperti itu, tanpa nama dan alamat yang tertera lagi”, jawabnya sambil melihat kearahku.

Sejujurnya aku malam itu sudah putus aja. Aku bahkan berencana tidak ingin mengatakan bahwa orang itu adalah aku. Tapi aku telah mengambil keputusan akan memberitahunya. Jikapun dia pergi dan membenciku, aku akan terima apa adanya. Lagian aku telah pernah terluka sekali. Terluka lagi rasanya juga tidak mengapa.

Kuambil catatan kecilku. Dengan perasaan yang sangat berat aku menulisnya. Tanganku gemetaran. Lalu kuberikan pada wanita yang diam-diam kusayang ini. Aku menundukkan kepalaku. Aku tidak berani lagi memandang wajahnya. Kulipat tanganku berdoa agar dia tidak membenciku apalagi pergi meninggalkannku.

“Mike”, panggil wanita ini tegas. “Lihat mataku!”, katanya sekali lagi. Kuangkat wajahku. Kulihat wanita ini mukanya merah padam. “Ya Tuhan”, batinku. Dia masih melihatku dengan muka merah padam. “Sekarang tutup matamu”, lanjutnya. “Kamu pantas mendapatkan hukuman karena telah membohongiku selama ini”, katanya dengan mata berkaca-kaca.

Melihatnya yang seperti itu aku tak kuasa menahan perasaanku. Aku menyesal sekali telah membohonginya. Mataku langsung tertutup. Bukan karena perintahnya, tapi aku merasa air mataku hendak menerjang keluar. Tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang lembut menempel dibibirku. Lembut dan wangi. Kucoba membuka mataku.Aku terkejut sekali.

Dia, dia menciumku? Bukannya tadi dia marah dan ingin menghukumku?! Aku terdiam seribu bahasa. Pikiranku kosong. Ada apa ini? Tanyaku pada diriku sendiri. Wanita ini hanya tersenyum. Benar- beanr manis sekali. tanganku gerak sana-sini tidak karuan membuat isyarat mau bertanya. Tapi justru itu membuat wanita ini tertawa geli.

“Mike, tahukah berapa lama aku menunggumu mengakui hal itu?”, tanya wanita ini mengenggam tanganku. “Kamu mungkin bertanya kenapa aku menciummu, jawabannya karena aku mencintaimu dan aku telah mencintaimu sejak pertama kali bertemu”. Aku tambah bingung.

“Dari wajahmu aku sudah tahu kamu tambah bingung. Tapi dengarkan aku dulu ya. Kamu memang tidak mengenalku, tapi aku sangat mengenal dirimu. Kamu orangnya suka mendengarkan lagu dengan headset besar dikepalamu. Kamu orangnya suka menulis puisi dibawah pohon yang rindang didepan perpustakaan. Kamu orangnya suka diam-diam membantu tanpa diketahui siapapun. Dan tahukah kenapa aku tahu? mungkin kamu tidak ingat lagi padaku, tapi pertemuan dulu membuatku selalu ingin memilikimu”.

“Kamu mungkin sudah lupa, waktu dulu kamu pernah menolong seorang gadis yang terjatuh karena dia tidak cukup tinggi mengambil buku diperpustakaan bukan?”, tanyanya dengan mata berbinar-binar. Aku menyilangkan tanganku. Aku mencoba berpikir. Dan kutepukan tanganku. Ya, aku ingat. Waktu itu ada seorang gadis yang terjatuh karena mencoba mengambil buku dirak yang tinggi. Kebetulan aku lewat dan melihat lalu aku menawarkan bantuan. Aku juga mengendongnya ke ruang kesehatan karena kakinya luka.

Wanita ini tersenyum. “Ya, itu aku beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu aku jatuh cinta padamu. Tapi aku tidak serta merta mencintaimu. Setelah kamu pamit pulang aku menemukan beberapa lembaran keras tertinggal disampingku. Aku awalnya ingin mengembalikannya padamu, tapi kutangguhkan setelah membaca tulisan dikertas itu”.

Aku mengernyitkan dahiku tanda bingung. Wanita ini mencubitku dan tertawa kecil. Pipinya merona merah. Sekali lagi dia terlihat manis sekali. “Ternyata tulisan dikertas itu adalah puisi untuk seorang wanita. Dan dalam puisi itu perasaanmu tersampaikan padaku. Semakin aku membacanya semakin aku terharu. Semakin aku mencari tahu tentang dirimu, semakin aku jatuh cinta padamu”.

“Tapi saat kamu jadiaan dengan wanita pujaanmu itu, aku sempat kecewa dan menanggis. Aku bahkan mengatakan kamu selingkuh, tapi bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi karena kamu bahkan tidak mengenalku. Dan anehnya tanggisku jadi perasaan senang setelah membaca tulisan dikertas itu. Puisi dengan nama gadis pujaanmu. Dan tahukah apa nama depanku?”, tanyanya dengan air mata mulai berjatuhan. Aku sangat terkejut mendengar nama lengkapnya.

Ya, dulu aku pernah kehilangan puisiku yang kutulis sepenuh hati untuk Margareth. Ternyata puisi yang hilang itu berada pada wanita cantik yang duduk disampingku malam ini. Dalam puisi itu kusebut nama Margareth berkali-kali, dan wanita cantik yang dihadapanku ini juga bernama Margareth juga. Margareth Levianna. Tapi aku mengenalnya Levy saja.

Apakah sebuah kebetulan? Aku tidak tahu. Yang aku tahu air mataku membasahi pipiku. Malam itu aku dulu kehilangan Margarethku, malam ini Margarethku kembali padaku. Dulu aku kehilangan malaikat berhati manusia, sekarang aku malah mendapatkan manusia berhati malaikat surga.

Kupeluk erat dirinya. Mulutku kugerak-gerakan hendak berkata tapi tidak terdengar apa-apa. dia memelukku dengan sangat erat. Kami sama-sama saling mengagumi. Kami sama-sama saling mencintai. Tapi karena mata yang memilih, aku salah memilih. Pada malam ini, dan untuk kali ini, aku sangat yakin aku tidak salah memilih lagi.

Lalu mengapa dia membenci aku yang mengirim amplop berisi puisi itu? Ternyata bukan karena dia membencinya, tapi karena dia marah kenapa aku menyembunyikannya. Margareth selalu menunggu aku sendiri yang memberikannya. Makanya dia benci aku yang pura-pura tidak tahu dan tidak percaya diri itu. Padahal dia sedang menunggu aku sekian tahun lamanya.

Dan percayakah kalian tentang jodoh dan benang merah? Kalau aku percaya. Ternyata waktu kecelakaan itu terjadi, Tuhan sengaja mempertemukan kami berdua, walaupun dengan cara yang sangat berbeda pada tiap insan manusia. Penyesalanku karena cacat tidak bisa berbicara dan membaca puisi lagi, malam itu terobati dengan puisi hati.

Malam itu merupakan malam yang paling indah. Malam itu pula aku mendapatkan keajaiban dari surga. Bukan berupa barang-barang berharga. Bukan berupa pujaan para manusia, juga bukan berupa apa yang bisa dicari didunia. Keajaiban itu hanya aku dan Margareth yang tahu. Dan keajaiban itu hanya Margareth yang merasakannya. Margarethku. Margareth Levianna.

“Sayang, ayo kita berangkat kegereja”, kata Margareth sambil mengecup pipiku. Kulihat dia memakai gaun putihnya yang indah. Gaun kenangan kami berdua. Sedikit kulihat gaun itu sudah kesempitan. Tapi karena gaun itu adalah gaun kesayangannya yang berisi jutaan kenangan indah, Margareth meminta temannya yang seorang penjahit membetulkan ukurannya agar pas dengan tubuhnya.

Kuambil topi hitamku. Lalu Margareth mengambil jasku yang tergantung disamping pintu masuk. Kuberi tanda isyarat agar menungguku sebentar. Dia hanya tersenyum mengangguk. Aku sengaja meminta waktu untuk barang semenit mengitari koridor rumah dimana foto-foto mengantung. Didepan sebuah foto aku berhenti.

Dalam foto itu terlihat seorang pria bisu dengan senyumnya yang lebar dan seorang wanita yang sangat cantik dan sangat mempesona sedang bertukar ciuman. Kubelai foto itu dengan mata sedikit berkaca-kaca. Aku terkenang kembali kisah-kisah indah dengan malaikat cantikku ini. Lalu kulihat Margareth berdiri didepan koridor sambil tersenyum. Dia berbisik dari jauh padaku, “Siapakah nama wanita yang paling kamu cintai?”.

Aku tersenyum. Kubuka mulutku. Kali ini aku begitu percaya diri mengucapkannya. Kali ini aku tidak perlu bahasa isyarat dan catatan kecil untuk menjawabnya. Yang kulakukan hanyalah mengambil napas dalam-dalam dan berkata. Inilah keajaiban yang hanya Tuhan berikan padaku. Inilah keajaiban yang hanya aku dan Margareth yang tahu. Inilah keajaiban yang hanya diberikan Tuhan padaku yang tidak bisa bicara dan mengeja lagi.

Maa..Maarrr….Marrgggaaa…Marrgaaarett…Marrrggareethhh…ku…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s