Aku yang telah…


You still see color of me even i'm just black and white

Mataku berkaca-kaca ketika membaca sebuah surat yang ditulis oleh seorang wanita dan dipublikasikan pada sebuah buku yang terkenal. Aku tidak bisa menyebut namanya, dan jika kusebutkan belum tentu itu nama aslinya. Wanita ini menggambarkan dirinya sendiri sebagai wanita yang cantik – dari yang kubaca. Dengan rambut pirang keemasan dan bola mata biru muda.

Tulisan kali ini kutulis karena terinspirasi oleh surat wanita tersebut yang dipublikasikan kesebuah buku. Dan ini adalah kisah nyata. Lalu kenapa aku bisa yakin bahwa ini kisah nyata? Baiklah, mungkin aku yang terlalu berlebihan dan mudah percaya. Seingatku buku yang kubaca ini adalah sebuah buku yang mengumpulkan semua kisah nyata dari penulisnya, dan dari bab pendahuluannya, mereka – para penulis maupun penerbit – mengatakan mereka telah mengecek kebenarannya. Apakah benar seperti itu? Aku tidak tahu. Tapi aku mengambil sisi positifnya saja.

Sebenarnya surat wanita yang dipublikasikan ini kisahnya tidaklah panjang. Tapi inti yang dia sampaikan membuat mataku berkaca-kaca membacanya. Aku tidak tahu apakah aku yang terlalu perasa, ataukah karena ungkapan isi hatinya yang tersampaikan sempurna. Yang pasti aku menyukainya dan terinspirasi untuk menulis kisahnya dalam bentuk cerita sederhana.

Sekali lagi pembaca, cerita yang kutulis ini adalah rangkaian kata-kata dari isi kepala saja. Aku menulis karena terinspirasi dari surat wanita yang kubaca. Nama maupun kisahnya tidak ada hubungan dengan siwanita. Semua hanyalah karanganku semata, tapi INTI ceritanya sama.

Sebagai pribadi aku mengacungkan dua jempolku pada keberanian wanita ini. Dia rela merendahkan hatinya membagi kisahnya yang “indah” – mungkin bagi sebagian orang aib – kepada para pembaca dan dipublikasikan. Kisahnya yang awalnya membuat dia tidak bisa lagi mempercayai pria karena trauma yang dialaminya, ternyata justru membuatnya menemukan pria sejatinya. Cinta sejatinya.

Yup, aku benar-benar menyukai kisahnya dan sekarang aku ingin berbagi kisahnya tersebut dengan bentuk cerita pendek disini. Aku meminta maaf jika ceritaku tidaklah sebagus kisah nyata wanita ini, dan tentu saja tidak ada cerita seindah apapun yang bisa mengalahkan indahnya kisah nyata. Setidaknya jadikanlah cerita kita ini sebagai cerita yang nantinya bisa dikenang dan dibagikan.

“Maafkan aku yang telah lama menyembunyikan kenyataan ini darimu. Jika kamu mengambil keputusan berjalan keluar dari pintu itu, aku tidak akan pernah menyalahkanmu apalagi membencimu. Tapi sebelum kamu pergi, aku ingin kamu tahu perasaanku selama ini. Aku mencintaimu dengan setulus hatiku…”.

Itulah kata-kata terakhirku yang kuucapkan pada pria yang sangat kucintai ini. Sebelumnya aku telah berkencan dengan beberapa orang pria, dan jawaban mereka setelah mendengar pengakuanku adalah mengambil jaket mereka dan keluar dari pintu dimana aku mempersilakan mereka masuk. Beberapa dari mereka ada yang mengatakan untuk mempertimbangkannya, tapi setelah itu mereka menghilang tanpa jejak.

Sekarang, didepan pria ini, aku pun mengatakan hal yang sama pada pria-pria yang menyukaiku dulu. Bedanya, pria ini membuatku tergila-gila padanya dan aku tidak ingin kehilangan dia. Pria ini bukanlah pria yang selalu digambarkan oleh kisah-kisah klasik ataupun dongeng yang mempunyai wajah sangat tampan yang datang menunggangi kuda putihnya menjemput sang putri.

Pria yang duduk didepanku ini hanyalah seorang pria penjual bunga. Dengan tinggi sekitar 170 cm dan tubuh sedikit gemuk. Rambutnya dicukur pendek rapi dengan setelan kemeja motif abstrak. Seorang pria yang sederhana yang sebelumnya kupandang sebelah mata.

Lalu apa yang membuatku tergila-gila padanya? Fisiknya? Jangan buat aku menceritakannya dech, sama sekali bukan kategoriku. Wajahnya? Apalagi. Pekerjaannya? No comment. Lalu apa? aku sendiri tidak tahu dan tidak yakin. Yang aku tahu aku telah jatuh cinta. Terutama senyumannya. Sepertinya aku terlalu mudah ya? Mungkin juga. Tapi seandainya kalian diposisiku, mungkin kalian akan berpikir sama denganku.

Pertemuanku dengannya secara tidak sengaja saat aku pulang lembur dari kantorku. Saat itu hujan sangatlah lebat. Sialnya aku lupa membawa mobilku karena ada sedikit masalah dengan mesinnya yang dijelaskan oleh “ahli-ahli” tempat mobilku dititipkan. Jadi, inilah aku yang sedang menunggu taksi pesananku didepan gedung tempat aku bekerja.

“Maaf nona, apakah anda yang bernama nona Debbie?”, tanya seorang pria dengan kumis tebal diatas bibirnya. Kucoba lihat pria ini dengan sedikit memicingkan mataku. “Ya, itu aku. Ada yang bisa kubantu”, tanyaku sedikit was-was sambil menjaga jarak. Kumasukkan tanganku kedalam tas kecilku sambil pura-pura mencari barang, tapi sebenarnya aku sedang mencari “spray merica”.

“Maaf nona, namaku Robert. Aku sopir dari Angel Drive, dan aku mendapatkan informasi dari kantor pusat bahwa didaerah sini ada seorang wanita yang memesan taxi kami atas  nama nona Debbie. Apakah benar begitu?”, tanya pria ini memastikan.

“Ya, benar sekali. Aku yang memesan taxi itu”, sahutku agak lega. “Kalau begitu mari kuantar nona ketaxi”, jawab pria ini yang ternyata supir taxi pesananku sambil memberikan payungnya padaku. Ketika baru kututup pintu taxi, terdengar ketukan dari luar jendela taxi. Kucoba lihat keluar dan ternyata seorang pria sedang kehujanan mencoba meminta perhatianku.

“Apakah anda kenal pria itu nona Debbie?”, tanya sopir taxiku. “Tidak. Kita langsung jalan saja”, kataku ketus. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah pria ini tidak dapat melihat masih banyak taxi lainnya dijalan. Kenapa harus memperebutkan taxi ini denganku? Memang pria yang tidak tahu diri makiku dalam hati sambil berlalu meninggalkan pria itu kehujanan. Masih kulihat dia berlari mengejar taxiku dari kaca spion.

Kalian pasti berpikir kenapa aku begitu tega membiarkan pria itu bukan? Ya, aku memang orangnya seperti itu. Bagiku semua laki-laki itu sama. Mereka semua hanya menginginkan wanita untuk dirinya sendiri. Mulut mereka saja yang manis, tapi hatinya? tidak perlu kukatakan, karena jika kukatakan mungkin seluruh pria didunia ini akan menganggap aku iblis betina.

Aku juga bukan tanpa alasan mengatakan hal itu. Dulu, aku juga seperti wanita lain pada umumnya. Aku selalu mendambakan seorang pangeran dengan kuda putihnya menjemputku. Lalu kami akan saling mencintai selamanya. Tapi, kenyataan justru mengkhianati aku. Cerita masa kecilku yang selalu kukenang telah kubuang jauh-jauh. Pangeran yang selalu kupuja justru menjadi penyihir jahat yang memberikan apel kutukannya padaku. Pada tubuhku. Pada batinku.

“Selamat siang nona Debbie, sepertinya kiriman ini memang ditujukan padamu”, kata seorang petugas security kantorku. “Sepertinya?”, tanyaku padanya sambil meneruskan mencari catatanku yang hilang kemarin malam. “Aku sendiri ragu, tapi seorang pria mengatakan bahwa barang ini kepunyaan anda nona Debbie. Dia menggambarkan anda dengan sangat jelas, dan kami sudah pastikan bahwa barang ini bukanlah barang yang dicurigai”.

“Siapakah pengirimnya?”, tanyaku sambil mengambil kotak kecil itu dari tangan petugas security tersebut. “Katanya namanya Mike. Dan kami memintanya menunggu sebentar jika orang yang dimaksud bukan nona Debbie”, jelas petugas security ini. Kubuka kotak itu, dan alangkah terkejutnya aku. Inikan catatanku yang kemarin hilang dan sedang kucari-cari saat ini. Kuminta petugas security tersebut membawa pria yang bernama Mike ini padaku.

Sambil menunggu petugas security membawa orang yang kumaksud, aku membuka-buka catatanku kembali. Ini adalah catatanku yang sangat berharga. Bukan karena catatan ini berisi rumus-rumus rahasia perusahaan, tapi justru lebih dari itu. Ini catatan perjalanan hidupku. Catatan tentang unek-enekku yang kutuangkan pada buku. Termasuk kisah pangeran jahat yang paling kubenci.

Tiba-tiba aku tersadar, apakah pria yang bernama Mike ini ada membacanya? Jika iya maka aku harus membungkam mulutnya. Ini adalah aib bagi keluargaku. Dan ini juga bekas luka batinku. Entah kenapa aku merasa malu dan marah. Lalu terdengar suara pintu diketuk.

“Masuk”, kataku singkat. Kulihat seorang pria dengan penampilan sangat sederhana. Rambut dipotong pendek rapi. Kupersilakan dia duduk. Belum sempat aku bertanya pria ini mematahkan semua pertanyaan yang hendak kulempar padanya.

“Maafkan aku nona. Catatan itu agak basah karena kemarin malam aku kehujanan. Aku menemukan catatan ini terjatuh saat nona memanggil taxi tadi malam. Kulihat catatan itu terikat rapi dan aku merasakan bahwa catatan ini pasti sangat berharga bagi nona. Makanya aku segera mengambilnya dan berlari mengejar taxi anda. Sayangnya aku terlambat”.

“Tapi nona tidak perlu kuatir. Isi dari catatan itu tidak kubaca sehurufpun. Aku tahu catatan ini penting dan aku menghargai privasi itu. Lalu bagaimana aku bisa tahu nona ada disini? Mungkin nona tidak mengenal aku, tapi aku mengenal nona. Nona selalu pulang lewat didepan tempat aku jualan, dan bagaimana mungkin aku bisa melewatkan wanita secantik nona”, jelasnya panjang lebar sambil tersenyum ramah.

Kurasakan mukaku hangat oleh darah yang mengalir kewajah. Mukaku merah padam. Aku merasa malu sekali mendengar kejujurannya, dan kebaikannya. Semalam aku tak menghiraukannya, malah kumaki dia tidak tahu diri mau berebut taxi denganku. Tapi ternyata dia justru mau mengembalikan catatanku yang sangat berharga.

Dan yang membuatku semakin malu, dia tidak mengatakan bahwa aku pergi meninggalkannya. Dia hanya mengatakan dia “terlambat”. Aku rasanya ingin langsung menghilang dari sana. Tapi karena lukaku yang dulu dikarenakan oleh seorang pria, kata maaf dan terimakasih yang hendak kuucap malah yang terdengar justru sebaliknya. Aku kehilangan kepercayaan pada pria. Semua pria. Tak terkecuali pria baik ini yang duduk didepanku.

“Oke, kalau begitu berapa upah yang harus kukeluarkan untuk catatan ini? Tak mungkin kamu datang tanpa maksud bukan”, kataku sinis sambil mengambil tasku. Kuambil beberapa lembar uang  yang nilainya bisa membeli satu setelan baju dengan merk terkenal. Kuanggap itu sebagai uang perpisahan dan, end of the story.

Pria ini tersenyum padaku. Diambilnya uang itu lalu dirapikannya. Dalam hati aku merasa jijik dengan pria ini. Siapa sih yang tidak tertarik dengan uang sebanyak itu? Semua pria sama. Mulut mereka saja yang manis. Dan ini kubuktikan hari ini batinku. Aku tersenyum sinis melihat pria yang bernama Mike ini berdiri didepanku dengan senyum lebarnya.

Mike. Nama itu selalu tergiang dikepalaku. Sejak kejadian dikantorku itu, keras batu beku hatiku tentang pria menjadi sedikit retak. Tapi belum mencair. Uang yang kuberikan sebagai upah karena telah mengembalikan catatanku, dikembalikannya dengan ditambah satu lembar dengan nilai nominal yang sama.

“Nona, kedatanganku bukanlah untuk meminta upah. Jika nona memaksaku mengambil uang itu, maka aku menambahkan selembar lagi dan tolong berikan pada mereka yang benar-benar membutuhkanya. Aku meminta maaf tidak bisa menambah sebanyak yang nona punya. Tapi niatku tulus dengan selembar itu”, kata pria ini sambil berdiri dan berlalu sambil tersenyum. Kali ini senyumnya sangat manis.

“Oya nona. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan nona menjadi begitu tegas dan sepertinya menjaga jarak denganku. Semoga saja aku yang salah. Tapi janganlah karena karena duri setangkai mawar, kamu membenci seluruh bunga didunia”, katanya memberi nasehat dengan senyuman yang paling manis yang pernah kulihat. Aku terdiam beberapa saat melihatnya – ya, ya, kuakui aku terpesona. “Maaf, namamu siapa lagi?”, tanyaku dengan nada mencoba lembut. “Mike. Selamat siang”, katanya berlalu.

Sejujurnya aku sedikit menyesal karena tidak menanyakan alamatnya. Tapi hanya sedikit saja menyesalku. Tidak mungkin hanya kejadian itu bisa meluluhkan hatiku. Aku tetap “belum” bisa mempercayai pria. Ya, aku tahu kalian tersenyum. Aku memakai kata “belum”, padahal aku selalu mengatakan tidak bisa percaya pada pria. Tapi mau gimana lagi. Pria ini membuat retak keras batu hatiku walaupun aku sendiri tidak sadar.

Dua bulan telah berlalu, dan aku “masih” memikirkan Mike. Aku ingin bertemu dengannya lagi, tapi bukan karena merindukannya, aku hanya ingin mengundangnya makan malam sebagai tanda terimakasih karena telah mengembalikan catatanku. Dan, sebagai tanda minta maaf atas tindakan kasarku juga sih.

Ya, aku tahu kalian tersenyum lagi. Aku tahu apa yang kalian pikirkan juga. Aku akui aku memang selama dua bulan ini mencari pria ini. Tapi aku tidak tahu dia tinggal dimana. Yang aku tahu dia selalu melihatku saat aku pulang kerja, dan rute pulang kerjaku selalu sama. Parahnya, rute yang kulalui selama ini terdiri dari ratusan toko. Darimana aku harus mulai mencari?

Hampir putus asa aku memikirkannya, tapi saat aku hendak menghentikan pencarianku, senyumannya selalu hadir menyemangatiku. Sampai hari ini telah 30an toko telah kumasuki. Dan tak satupun pria yang kutemui itu pria yang kucari. Entah apa yang merasukiku, aku yang begitu benci pria malah mati-matian mencari seorang pria. Dan konyolnya lagi, pria itu bukanlah pangeran berkuda putih.

Lima bulan telah berlalu, aku pun menghentikan pencarianku. Aku berpikir percuma membuang waktu hanya mencari seorang pria yang aku sendiri tidak pernah tahu alamatnya. Lagian aku sendiri punya kesibukkan sendiri. Untuk sementara aku mulai melupakan pria itu dalam pikiranku hingga suatu malam aku berkunjung kesebuah toko. Toko bunga yang indah.

“Selamat malam, ada bisa kubantu?”, tanya seorang pelayan wanita yang cantik. Matanya yang hijau seperti permata indah. Dia memakai luaran dengan renda disisi lengan kanan dan kiri dipadukan dengan kaos dan celana jeans ketat. Manis sekali. Aku katakan padanya lagi mencari bunga hias. Pelayan wanita ini mempersilakanku melihat-lihat kumpulan bunga-bunga yang indah ditokonya.

“Adakah bunga yang cocok untuk menghias meja kerjaku? Tapi aku ingin yang mudah dirawat juga disela-sela kesibukkanku”, tanyaku pada pelayan wanita yang kuketahui bernama Melannie ini. “Ooh kalau untuk hal seperti itu akan lebih tepat bertanya pada kakakku. Tunggu sebentar ya, akan kupanggilkan kakakku”, katanya dengan senyuman yang manis sekali. Aku pun membalas senyum manis itu.

“Kak Mikeee… ada pelanggan yang ingin membeli bunga untuk hiasan meja kantornya, tapi yang mudah dirawat juga”, panggil Melannie pada kakaknya. “Iya, tunggu sebentar”, terdengar suara dari atas tangga. Mike? Kepalaku rasanya berputar. Jantungku berdetak cepat. Mike yang mengembalikan catatanku?

Tidak. Tidak. Kataku menenangkan diri. Didunia ini begitu banyak orang dengan nama seperti itu. Tidak mungkin Mike ini adalah Mike yang kumaksud. Aku mencoba membuang jauh-jauh pikiranku itu. Tapi semakin aku menepisnya, semakin cepat debar didadaku. Lalu kudengar suara langkah kaki turun dari atas tangga. Setiap langkah membuat jantungku berdetak satu kali cepatnya.

“Ada yang bisa kuban…”, pria ini terhenti kata-katanya. Aku hanya bisa memandangnya mematung. Kurasakan hangat menyelimuti mukaku. “Nona galak?”, lanjutnya tersenyum lebar. Mendengar sapaanya itu aku langsung tersadar. Nona galak?

“Angin apa yang membawamu ketoko kecil ini?”, tanyanya sambil merapikan bunga-bunga yang disampingku. Senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya. Sebenarnya aku ingin mengkomplain atas panggilannya yang “nona galak” itu, tapi entah kenapa aku malah senang mendengarnya. Apakah rasa bersalah? Ataukah aku yang mulai…

Malam perjumpaan yang tidak sengaja itu – mungkin disengajakan oleh Tuhan – membuat kami saling mengenal lebih dekat. Aku mendapati Mike tinggal berdua dengan adik perempuannya. Kedua orang tua mereka telah meninggal dalam sebuah kecelakaan sewaktu mereka masih kecil. Hanya Mike dan adiknya Melannie yang terselamatkan.

Melannie begitu menyayangi kakaknya begitu juga Mike. Kedekatan mereka telah menjawab semua itu. Malam yang semula kukira hanya sebatas kunjungan satu kali saja, menjadi kunjungan tetap tiap minggunya. Semakin aku mengenal Mike dan adiknya, semakin aku ingin memasuki dunianya. Anehnya, aku dan Melannie justru yang lebih akrab. Mungkin karena aku yang selalu menjaga jarak dengan pria, maka aku menjadi lebih terbuka pada wanita.

Aku sering mengajak Mike dan adiknya makan bersama, tapi karena toko yang tidak bisa ditinggalkan, Mike selalu mengalah dan mencari alasan untuk memberikan waktunya pada Melannie. Tapi karena dekatnya mereka berdua, satu tidak bisa, maka yang lainnya juga tidak mau. Beberapa kali kulihat Mike menasehati agar adiknya meluangkan waktunya sendiri dan mencari pacar, tapi selalu ditolak Melannie dengan alasan dia hanya perlu satu pria, dan itu Mike.

Beberapa kali kulihat Mike kewalahan menghadapi tingkah manja adiknya itu. Aku sering tertawa kecil melihat kedekatan mereka. Dan tanpa kusadari juga, aku mulai menikmati tawaku yang telah lama hilang saat bersama seorang pria. Keras batu beku hatiku beransur-ansur retak. Dan sekarang mulai sedikit pecah dan mencair. Hanya saja, aku masih mempunyai trauma pada batinku. Aku takut jatuh cinta lagi dan ditinggalkan lagi. Tapi kali ini, aku sepertinya jatuh cinta. Sepertinya.

Kunikmati setiap tetesan anggur yang dituangkan oleh pelayan restoran malam ini. Kulirik sebentar kekanan dan kekiri untuk melihat suasana restoran. Kulihat beberapa pria muda tampan mengangkat gelasnya padaku dari meja seberang mengajakku bersulang. Aku hanya tersenyum sinis dan membuang mukaku. Berlebihan? Itulah aku.

Kulihat jam tanganku. 6.40 pm. Aku merasa tidak sabaran. Ya, aku sedang menunggu seseorang, seorang pria tepatnya. Dan kami janjian akan bertemu disini  jam 7.00 malam tepat. Lalu kenapa justru aku yang duduk sendirian disini? Sebenarnya aku malu mengakuinya. Aku deg-degan dan tidak tahan ingin melihat senyuman pria yang kutunggu.

Bisa kudengar teriakan histeris wanita-wanita yang mengenalku. Aku menunggu seorang pria? Aku yang anti dan membenci pria sedang deg-degan? Mungkin aku perlu berkonsultasi pada dokter jantung katamu. Tapi, ya beginilah saat wanita jatuh cinta. Pria-pria tampan didepan mataku tidak kuhiraukan, tapi pria yang dijadikan bahan tertawaan wanita justru kubanggakan.

Masih 15 menit kataku dalam hati, tapi rasanya aku sudah menunggu seharian. Aku duduk tidak tenang. Semakin mendekati jam 07.00, semakin deg-degan hatiku. Kumainkan ujung rambutku. Lalu kukeluarkan riasan wajah dari tas merah disampingku. Kulihat apakah riasan mataku luntur tidak. Kupastikan polesan lipstick merah muda dibibirku tetap sexy. Aku berdiri sebentar memastikan gaun merahku dengan model punggung terbuka memamerkan mulusnya kulitku tetap rapi. Kulihat kembali jam tanganku. Jam 06.50 pm.

“Selamat malam nona cantik”, terdengar suara yang sudah tidak asing lagi ditelingaku. Kulirik arah datangnya suara itu dan, Mike dengan senyum manisnya berdiri didepanku. “Se..selamat malam Mike”, kataku sedikit gugup. “Maaf aku sedikit terlambat, karena tadi aku mempersiapkan bunga ini yang hendak kuberikan padamu”, kata Mike sambil menyodorkan sebuket bunga mawar warna putih dengan ditengah-tengahnya setangkai mawar merah.

“Waahhh, cantik sekali Mike, terimakasih..”, kataku malu-malu dengan wajah merona merah. Aku malu-malu? Jangan memulai denganku malam ini. Tersenyum sajalah. Kupanggil pelayan restoran datang untuk melayani pesanan Mike, tanganku tetap memegang bunga pemberian Mike. Kucium wangi bunga tersebut. Benar-benar tampan…maksudku wangi.

3 jam. Tepatnya 3 jam 22 menit aku menghabiskan waktu bersama Mike direstoran itu hingga Mike menawarkan mengantarku pulang. Sejujurnya aku merasa enggan mau berpisah dengannya. Ya, aku kedengarannya seperti manja, padahal aku bisa bertemu dia setiap minggunya ditoko bunga. Tapi, malam ini sangat special bagiku. Kenapa, karena hanya malam inilah Mike bisa menemaniku. Itupun setelah Melannie, adiknya, mempersiapkan waktu khusus ini untukku.

Sebelum malam yang indah ini, Melannie datang padaku dan merencanakan makan malam aku bersama Mike. Awalnya aku terkejut dengan ide Melannie. Tapi Melannie menyakinkan aku bahwa kakaknya pasti akan senang menemaniku dan aka nada surprise. Waktu kutanya apa yang dia sembunyikan, dia hanya tersenyum dan memberiku sebuah kecupan dipipi. Senyumnya sangat manis sekali.

Aku diantar pulang dengan mobil Mike yang sederhana. Usianya mungkin sudah seperti usia Melannie, bahkan mungkin lebih. Sebenarnya aku ada membawa mobilku sendiri dan kutitipkan pada pemilik restoran – kebetulan restoran ini adalah milik temanku. Aku berbohong bahwa aku diantar temanku datang. Padahal yang kuinginkan dia mengantarku pulang – lebih tepatnya ingin bersamanya lebih lama lagi.

Dalam perjalanan kami masih bercanda tawa. Mike kuketahui orangnya humoris. Kata-katanya selalu dirangkai sedemikian rupa sehingga kita yang mendengarnya seperti puisi saja. Dia tidak pernah bercerita tentang “kehebatannya” seperti pria pada umumnya untuk menarik perhatian wanita. Malah dia selalu memujiku dengan tulus apa yang dia sukai dariku. Aku benar-benar tersanjung dibuatnya.

“Plang..”, terdengar suara besi pintu mobil ditutup. Sekarang aku berdiri didepan pintu rumahku. Mike hanya tersenyum saja tanpa berkata apa-apa. Matanya memandangku dalam. Bisa kurasakan hangat jiwanya melalui mata indah itu. Jika aku yang dulu sudah kutarik dia masuk kerumah dan kucium dia. Tapi aku masih ragu dengan batinku. Maksudku, aku sudah sangat mencintainya, tapi aku takut kenangan buruk lama akan mengulang kisahnya.

“Mike, apakah kamu mau menemaniku sebentar lagi? ada yang ingin kubicarakan denganmu”, kataku dengan nada sedikit gemetar. Tanganku kukepalkan untuk menambah keberanianku. Mike hanya tersenyum, “Dengan senang hati malaikatku. Akan lebih baik kita masuk dulu, udaranya mulai dingin diluar”, katanya sambil melepaskan jaketnya dan memakaikan padaku.

Sekarang, inilah aku seperti awal cerita. Kuceritakan semua yang selama ini kusembunyikan. Kukatakan semua isi catatanku padanya. Semuanya. Kukatakan padanya dulu sebelum aku mengenalnya, aku mempunyai seorang pria yang sangat kupuja. Saking aku mencintainya aku rela memberikan semua yang diinginkannya.

Tapi aku bukanlah wanita murahan yang memberikan “semua” itu. Kehormatan sebagai wanita tetap kupertahankan. Hubungan kami sangatlah mesra hingga suatu malam pria yang kupuja ini mendatangiku dalam keadaan mabuk. Kutahu dari teman prianya yang mengantarnya bahwa sang pujaan hatiku ini mabuk karena tempatnya bekerja bangkrut. Otomatis sang pujaan hatiku ini kehilangan pekerjaannya. Dan untuk melupakan perasaan kecewa itu, dia meminum berlebihan.

Melihatnya yang hancur, hatiku pun hancur berkeping-keping. Dia begitu berantakkan.  Caci maki dari mulut yang kukenal sopan terdengar lantang. Aku menanggis sambil memeluknya. Bagiku tidak masalah jika dia harus kehilangan pekerjaannya, asal dia jangan kehilangan jati dirinya. Malam itu kupeluk dia sambil menanggis terluka.

Saat kita kehilangan mata hati kita, maka mata dikepala pun akan buta. Malam itu, saat menjelang subuh, pangeran berkuda putihku yang selalu kubangga tega menodai aku. Bukan dalam keadaan mabuk, tapi dalam kesadaran penuh. Entah sudah berapa banyak tamparan mendarat dipipiku karena pemberontakanku. Aku menanggis berteriak-teriak, tapi bagi telingannya justru membangkitkan nafsu binatangnya.

Rasa sakit yang kurasakan tidak sesakit hati yang dirajam ribuan jarum dan batu. Pangeran yang begitu kubangga menjadi iblis paling hina. Setelah puas dengan nafsu binatangnya aku ditinggalkan seperti kain bekas tak berharga dilantai dengan pakaian koyak berserakkan. Yang kudengar hanyalah suara bantingan pintu. Kuambil selimut yang jatuh dari kasurku dan kubalut tubuhku. Sakit ragaku. Tapi lebih sakit batinku.

Sejak kejadian itu, aku menjadi tidak percaya lagi pada pria. Semua pria. Sejak saat itu aku menutup diriku dengan kata cinta. Semua cinta terutama dari pria. Setiap malam aku menanggis, rasanya air mataku hampir berubah menjadi darah karena tidak ada air yang bisa mengalir lagi. orang tuaku yang mengetahuinya bukannya menghiburku, tapi malah mengusirku dengan alasan mencemarkan nama baik keluarga. Aku pun tidak bisa menyalahkan mereka, karena aku dari keluarga yang cukup terpandang.

Hanya sebuah pena dan catatan yang menjadi teman curhatku. Dan harus kuceritakan pada siapa kisah penuh aib ini? Mungkin hanya Tuhanlah yang masih mencintaiku sepenuh hati. Pangeran yang kupuja ini pun tidak pernah kelihatan batang hidungnya setelah menodai aku. Tiga tahun aku mencintainya, hanya perlu semalam untuk aku membencinya. Semua pria.

Kini, dihadapan Mike, telah kuceritakan aibku. Aku tidak berharap banyak Mike akan mendengarkan kisahku. Karena sebelumnya juga pria-pria yang mendekatiku setelah mendengar kisahku menghilang tanpa jejak. Aku pun tidak menaruh harapan tinggi pada Mike. Jika dia memilih meninggalkanku melalui pintu depan ketika dia masuk mengantarku, akupun tidak akan membencinya. Justru akan selalu mencintainya.

Kepalaku tertunduk kebawah. Air mataku jatuh membasahi tangan dan gaun merahku. Aku berdoa agar Tuhan menguatkan aku supaya tetap tegar dan mampu mengangkat kepalaku. Aku tidak berani melihat Mike. Aku begitu malu dengan pengakuanku, aku begitu takut akan kehilangan senyumnya. Lalu kudengar suara langkah kaki berjalan menjauh. Dan, terdengar suara pintu menutup.

Kuberanikan diriku untuk melihat. Mike tidak ada didepanku. Kucoba rasakan jaketnya yang dipakaikan padaku, ternyata masih ada. Pasti Mike sangat kecewa dan meninggalkanku. Aku memang pantas mendapatkannya. Aku telah berpacaran dengannya selama 6 bulan, tapi aku tidak pernah bercerita sedikitpun tentang aibku ini. Aku berusaha bangkit dan ingin mengejarnya.

Aku tidak merasakan sakit seperti ini saat  pria-pria dulu meninggalkanku, tapi pada pria inilah aku tidak ingin dia pergi. Tidak apa-apa jika dia ingin menikahi wanita lain, tapi setidaknya dia jangan meninggalkanku. Aku rela dimadu, aku rela diduakan, asal aku tidak kehilangan senyumannya.

Aku ingin mengejarnya, tapi kakiku beku. Aku ingin memanggil namanya, tapi suaraku kaku. Hanya air mata yang lancar mengalir diwajah. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Aku menanggis sejadi-jadinya. Aku memanggil namanya, “Mike, Mike, Mikeku….maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku…”.

Aku tidak peduli lagi bagaimana riasan wajahku. Aku tidak peduli lagi seberapa menariknya aku. Hanya untuk mendapatkan seorang pria yang benar-benar kucintai saja tidak mampu. Untuk pertama kalinya keras batu beku hati ini mencair. Bahkan diatas batu ini mekar bunga-bunga indah. Tapi kemudian bunga-bunga ini menjadi layu. Aku masih menanggis sambil memanggilnya namanya.

“Mengapa kamu menanggis?”, terdengar sebuah suara. Suara yang tidak asing lagi. suara Mike. Aku menurunkan tanganku dan melihat Mike didepanku. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. “Mike? Kamu kembali?”, tanyaku tidak percaya. Kulihat dia hanya tersenyum. Lalu dia mendekatiku sambil mengusap air mataku.

“Bagaimana mungkin aku kembali kalau dari sejak awal aku tidak pergi?”, tanyanya tersenyum. “Tapi, tapi kulihat kamu tidak ada disini, kukira kamu telah…”, belum habis kekalutanku Mike menempelkan jarinya kebibirku. Dia tersenyum lagi padaku. Sangat manis sekali.

“Debbie malaikatku, aku memang tadi keluar sebentar. Tapi bukan karena aku pergi. Aku hanya ingin mengambil kado kecil yang telah kupersiapkan untukmu. Keterlambatanku direstoran tadi juga karena aku mengambil kado kecil ini, dan sekarang aku ingin kamu memilikinya”, kata Mike sambil mengeluarkan satu kotak kecil merah. Lalu kemudian dia bersujud.

Rasanya dunia ini kiamat. Apakah pria yang bersujud didepanku ini tidak mendengar apa yang kuceritakan tadi? Aku telah dinodai. Kepalaku berputar dengan cepat. Pandanganku terasa kabur. Perasaanku bercampur aduk jadi satu.

“Mike, apakah kamu tidak mendengar apa yang kukatakan sebelumnya. Aku telah dinodai. Aku bukan wanita suci lagi. Aku ini kain bekas kotor!”, teriakku kecil dengan air mata berlinang. Mike tersenyum padaku. Diraihnya tanganku dan diciumnya tanganku.

“Apakah kamu masih ingat sebuket bunga yang tadi kuberikan padamu direstoran?”, tanya Mike padaku. Aku menganggukan kepala mengiyakan. “Dan tentunya kamu masih ingat ada setangkai mawar merah ditengahnya bukan?”, tanyanya mendapat anggukan kepalaku lagi. “Mawar merah itu adalah kamu”.

“Sebenarnya aku telah mengetahui kisahmu yang menyakitkan itu dari dulu. Sejak kapan aku mengetahuinya? Sejak aku mengantar catatanmu dikantor waktu itu. Aku terpesona denganmu dan aku mengambil keputusan untuk mencari tahu. Saat pertama kali mengetahuinya, aku cukup terkejut. Tapi anehnya, aku bukannya mengambil keputusan untuk melupakanmu, aku justru ingin memilikimu dan melindungimu”.

“Akhirnya kesempatan itu datang saat kamu berkunjung ketokoku”, kata Mike sambil berdiri dan mencium tanganku sekali lagi. “Sejak perjumpaan itu, aku bertekad untuk mengenalmu lebih dekat. Hanya saja aku orangnya agak pemalu. Melannie yang mengetahui aku menyukaimu selalu mengatur waktu aku dapat berdua denganmu. Tapi aku selalu menolak karena tidak percaya diri dengan berbagai alasan yang telah kamu dengar bulan-bulan yang lalu”.

“Lalu kenapa malam ini aku menemuimu? Karena aku mendapat ancaman dari adikku, jika aku tidak melamarmu malam ini dan menikahi wanita lain dia tidak akan bicara denganku lagi”, lanjut Mike sambil membelai pipiku yang masih basah oleh air mataku. Aku tertawa kecil mendengar penjelasan Mike. Lalu aku dituntunnya duduk. Dia duduk disampingku. Kami saling berhadapan.

“Jika kamu berpikir hanya karena kamu dinodai aku akan meninggalkanmu, maka kukatakan padamu bahwa kamu salah. Bunga yang mekar dengan indah memang enak dipandang mata, tapi bunga yang layu sebelum waktunya justru yang harus dijaga. Setangkai mawar merah yang kuberikan padamu diantara sebuket mawar putih adalah tanda cintaku padamu”.

“Kamu indah dari luarnya seperti mawar-mawar putih itu, tapi kamu layu sebagaimana mawar merah itu. Kamu takut jika layumu akan menyakitimu lagi, jadi kamu menjaganya dengan mawar-mawar putih disekelilingmu. Tapi tahukah kamu, justru setangkai mawar layu itulah yang paling menarik perhatianku. Karena aku tahu mawar itu hanya layu sebelum waktunya, dan mawar merah itulah yang harus kujaga”, kata Mike mencium keningku.

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaanku malam itu. Aku benar-benar sangat bahagia. Kerasnya batu hatiku, kini hancur berkeping-keping. Hati yang diselimuti ilalang berduri yang menyakitkan, kini tumbuh bunga-bunga yang menyegarkan. Pangeran berkuda putih yang telah kubuang jauh-jauh, malah kembali dengan kuda putih bersayap menjemputku. Aku putri tidur yang tertidur terlalu lama dan menunggu sebuah ciuman sang pangeran untuk membangunkanku, malah mendapatkan ribuan ciuman dan pelukkan.

Kupeluk Mike dengan linangan air mata, beban-bebanku sirna semua. Malam yang sejuk menjadi sangat hangat didadaku. Aku sangat bersyukur menemukan pria ini. Pria yang mengantarkan catatanku. Pria yang mengantar bunga padaku, juga pria yang mengantarkan diri jadi pacarku. Dimana lagi bisa kutemukan seperti pria ini?

Mike memintaku melepaskan pelukanku sebentar. Aku enggan melepaskannya. Tapi dia menyakinkanku bahwa jika aku terus memeluknya nanti dia bisa kehabisan napas. Aku melepaskannya walaupun dengan sangat terpaksa. Mike hanya tertawa kecil melihat tingkahku yang sedikit kekanakan dan manja. Lalu dia berdiri. Dia menurunkan tubuhnya didepanku. Dikeluarkannya lagi kotak merah itu. Dengan wajahnya yang tampan, senyumannya yang manis, dia bertanya, “Would you marry me?”.

“Angel, Angeline, jangan ganggu grandpa ama grandma ya. Mereka sedang beristirahat”, kataku pada putri kembarku yang sedang bermanja-manja pada ayah dan ibuku. Kulihat dua insan manusia sedang duduk diteras depan rumah kami. Rambut mereka telah memutih semua. Mereka duduk sambil berdampingan dengan tangan saling tergenggam erat.

Kulihat sekali-kali ibuku mengecup pipi ayahku, lalu disertai manja putri kembarku meminta dikecup juga. kedua putri kembarku memang sangat akrab dengan kedua orang tuaku. Mereka selalu merengek-rengek datang saat minggu tiba. Saat kutanya pada mereka apa yang membuat mereka begitu sayang pada ayah dan ibuku mereka hanya menjawab pangeran berkuda putih.

Suamiku biasanya kebingungan dengan jawaban putri kembar kami. Ya tentu saja suamiku tidak tahu kisah kedua orang tuaku. Kisah yang hanya aku dan adik laki-lakiku yang tahu. Sebuah kisah yang tidak akan ditemukan dibuku cerita apapun. Sebuah kisah sederhana tapi mengajarkan kami tentang makna cinta sesungguhnya.

Kudengar klakson mobil didepan rumah. Kulihat sebuah mobil merah mewah dengan gambar kuda putih disampingnya. Lalu keluar dari mobil itu seorang pria yang tampan dan seorang wanita cantik diikuti dua anak laki-laki kecil. Aku mengenali dua malaikat kecil yang berlarian kesini. Mereka adalah Mika dan Micky, anak adik laki-lakiku Mark.

Setelah memberi salam padaku aku mengajak Catherine, istri adikku, untuk membantu dibelakang membawa panggangan cemilan yang tadi kubuat. Setelah memastikan sudah masak, aku meminta Cahterine membawa sebagian keluar dulu. Aku menyusul belakangan kemudian.

Saat aku membawa makanan melewati sebuah koridor kecil diruang tamu. Aku berhenti sebentar didepan sebuah foto tua. Kulihat yang wanita sangat cantik dan sangat mesra sedang mengandeng seorang pria dengan rambut pendek rapi dan sedikit gemuk. Mereka terlihat sangat bahagia terutama sang wanita. Dibawahnya tertulis,

HAPPILY EVER AFTER. Debbie & Mike.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s