Aku yang semakin sombong


Am i become arrogant?

Saat menulis judul diatas, aku sedang memandang sebuah motor warna biru didepanku. Apakah aku semakin sombong? Aku sendiri tidak yakin, tapi aku tahu aku memang menjadi “sombong” dalam arti lain. Lalu apa yang kusombongkan?

Mobil mewah? Kupandangi sekali lagi motor biru dengan merk Jepang didepanku. Kaca spionnya mengantung seperti bunga layu. Knalpotnya berlubang-lubang kecil seperti dijatuhi meteor. Body bagian belakang pecah dengan bolongan kecil. Usia motor tersebut hampir setara anak-anak kelas 2 SMP.

Rumah mewah? Rasanya lebih tepat disebut rumah tua. Umurnya saja sudah melewati usiaku. Aku tinggal dikompleks sederhana. Rumah sederhana dengan dua tingkat. Jika kuceritakan satu persatu mungkin tidak akan habis satu buku. Yang pasti jauh dari kata “mewah”.

Uang berlimpah? Aku mencoba mengingat kembali angka-angka dibuku rekeningku. Satu digit, dua, tiga, empat, lima…. Aku tidak mau mengingatnya. Biarkan nol itu bertambah dengan sendirinya saja dirumahnya – bank.

Walaupun begitu, aku sangat mensyukuri semua yang Tuhan berikan dan anugerahkan padaku. Aku memang tidak mempunyai semua yang kategori mewah, tapi aku mempunyai “mewah” yang diberi DIA. Aku memang tidak mempunyai uang berlimpah, tapi aku diberi “kekayaan” yang lebih membuat bahagia.

Kata orang, dengan menjadi kaya kita akan LEBIH BAHAGIA, dan aku setuju dengan pendapat umum – mungkin sudah menjadi “syarat”. Hanya saja pengertian BAHAGIAKU berbeda dengan umumnya, dan arti BAHAGIAKU telah kutuangkan dalam tulisan berbeda yang berjudul BAHAGIA?.

Lalu apa yang membuatku semakin sombong? Tak lain dan tak lebih adalah RASA SYUKUR.

Yup, aku tidak salah menulis kataku diatas. RASA SYUKURlah yang membuatku semakin sombong. Tapi ini bukan rasa syukur yang seperti biasanya, tapi rasa syukur YANG BERLEBIHAN. Aku tahu kalian pasti bingung dengan apa yang baru kukatakan. Maka dalam tulisan inilah aku mencoba berbagi.

Seperti biasanya, tulisan ini hanyalah dari sudut pandangku saja. Aku menulis ini karena aku ingin selalu diingatkan kembali apa itu arti BERSYUKUR, dan aku ingin selalu diingatkan juga supaya aku tidak MENSYUKURINYA SECARA BERLEBIHAN.

Aku, karena mempunyai hobi menulis dalam bentuk cerita, maka tulisan ini juga kubuat dalam cerita. Memang semua yang kukisahkan dalam bentuk cerita ini hanyalah bumbu membuat enak dibaca saja, tapi percakapan yang terjadi adalah benar adanya – walaupun tidak semuanya. Beberapa kata-kata kubumbui sedemikian rupa sehingga PESAN yang ingin disampaikan lebih mengena. Jadi, apa yang kumaksud aku menjadi semakin sombong?

“George, seingatku waktu kecil aku bermain kesini, tiang-tiang, meja dan perabotannya tetap sama. Hanya warna dinding dan teras atas yang berubah. Apakah ini hanya perasaanku?”, tanyaku pada George teman main kecilku saat aku bermain kerumahnya.

Aku dan George adalah teman baik. Sebenarnya masih ada beberapa teman lain, hanya saja kami tidak pernah bersua dan berhubungan lagi setelah lulus SMA. Sedangkan aku dan George kebetulan bertemu kembali setelah puluhan tahun disebuah café dekat kantorku bekerja.

George mempunyai perawakan yang cukup tinggi. Dengan kacamata tipis mengantung diwajahnya. Badannya agak kurus, tapi tidak kurus sekali. Semua yang kuingat dari George tidak ada perubahan yang berarti hingga usia kami bertambah tua.

Karena lama tidak bertemu, aku dan George janjian akan berkumpul kembali disela-sela kesibukkan kami. Dan George menyarankan agar aku bermain kerumahnya saja. Aku setuju dengan idenya. Aku berpikir dalam hati telah menjadi seperti apa temanku ini. Bagaimana rumahnya, apa mobilnya, dan segala tetek bengek yang dipuja manusia.

George tersenyum lebar mendengar pertanyaanku. Dituangkannya teh hangat pada cangkirku yang polos putih. “Mike, kamu lebih tahu aku orangnya seperti apa. Kita telah berteman sejak dari kecil sampai lulus SMP. Masa dalam puluhan tahun aku bisa berubah banyak”, katanya merendah.

Sejujurnya, aku kira aku akan dibawa George kesebuah rumah dengan luas minimal 20m dan panjang 30m. Bertingkat-tingkat dengan design model minimalis modern yang keren. Aku juga berpikir George akan membawaku dengan mobil logo segitiga ataupun kuda perkasa sedang berjingkrat. Tapi kenyataan justru berlawanan.

Kenapa aku berpikir seperti itu? Karena aku mengetahui dari pekerjaannya George sekarang pengusaha yang sukses dengan bawahan lebih dari 100 orang. Dan dia adalah pemiliknya. Sekarang pertanyaanku adalah apakah aku berlebihan mengimpikan hal seperti itu? Ya, mungkin saja berlebihan juga sih. Tapi intinya George orang yang super kaya dan sukses.

Tidak terasa kami telah sejam berbincang-bincang. Kami saling berbagi cerita saat kami tidak bertemu lagi dan aktivitas  apa yang masih kami lakukan. Kuketahui George telah berkeluarga setahun terakhir ini. Dia menjelaskan padaku bahwa istrinya itupun dikenal dari perjodohan. Aku hanya tertawa mendengarnya, tapi dalam hati aku tahu dia merendah.

Tiba-tiba terdengar sebuah deringan HP. George meminta ijin menerima panggilan itu. Sambil menyeduh teh yang diatas meja, mataku melirik kesana-sini tidak bisa diam. Dengan kualitas hidup George yang sekarang, untuk mendapatkan rumah yang kuangan-angankan dalam kepalaku tadi tidaklah susah. Tapi aku heran kenapa George tidak melakukannya.

“Maaf Mike pembicaraan kita terganggu. Tadi istriku menelpon memastikan apakah aku sudah pulang belum”, katanya sambil meletakkan sebuah HP dengan merk dari negeri gingseng yang sudah pantas dimuseumkan. Karena penasaran aku bertanya sambil mengoda Mike.

“George, HP museum mana yang kamu keluarkan itu?”, kataku sedikit tertawa kecil mengodanya. George terdiam sebentar. Dengan senyuman ramah dia berkata padaku, “Iya Mike, ini adalah HP yang sudah harus dipensiunkan. Sebenarnya aku tidak pantas mengatakan ini, aku memang diberi rejeki yang berlimpah dari Tuhan dan aku sangat mensyukuri itu. Aku memang bisa membeli HP tercanggih, tapi aku tidak melakukannya karena aku lebih menyukai sesuatu yang NYAMAN BAGIKU, bukan bagi orang lain”.

“Dan tahukah kamu, jika aku hendak memiliki sesuatu harus sesuai PENILAIAN ORANG LAIN, maka tempat yang kamu duduk, cangkir yang kamu seduh, rumah yang teduh tidak akan seperti sekarang. Aku yakin semuanya akan menjadi barang mahal dan mewah. Tapi sekali lagi, apakah itu YANG BENAR-BENAR KITA INGINKAN? Dan apakah semua itu membuat kita NYAMAN?”.

Setelah mengucapkan terimakasih kepada George yang telah mengantarku, aku tidak langsung pulang kerumah. Kuperintahkan tubuhku “mengajak” Yuki (iPod yang selalu kugunakan menulis cerita dan kunamakan dia Yuki) untuk duduk disebuah café kecil langgananku. Aku memesan jus kesukaanku Alpokat.

Sejujurnya aku merasa sangat malu dengan George. Saat aku berpikir dia akan menghabiskan uangnya untuk mendapatkan BARANG-BARANG MEWAH, dia malah memilih segala sesuatu yang SEDERHANA. Saat kita berlomba-lomba untuk mendapatkan sesuatu yang MENAWAN, dia malah dengan senang hati memilih yang NYAMAN.

Saat kita berbangga diri dengan semua PUJIAN, dia malah menghindari dengan sejuta senyuman. Masih sangat segar dalam ingatanku apa yang dikatakan George sebelum kami berpisah. Dan pesan dalam kata-kata itu kurangkai sedemikian rupa sehingga cocok denganku, dan kutuliskan pada dinding otakku.

“Jika kita hidup dengan berdasarkan PENILAIAN dan OMONGAN orang lain, maka kita sendiri MENJADI ORANG ITU JUGA“.

Ya, itulah kata-kata yang akan selalu kuingat. Kata-kata yang akan selalu mengingatkanku. Lalu apa hubungannya dengan aku yang menjadi lebih sombong? Aku yakin kalian sebenarnya sudah bisa menebaknya. Dan sekedar bertukar pikiran saja aku ingin membagikannya disini bersama kalian semua.

Tidak ada yang salah dalam mensyukuri rejeki yang kita dapat. Justru kita harus selalu bersyukur dan itulah yang selalu aku lakukan. Apakah syukur karena mendapat rejeki berupa tambahan nominal saldo direkening bank ataukah dapat “rejeki” jatuh dari tangga karena kelalain berjalan.

Lho? Kok jatuh dari tangga kita harus bersyukur? Memang kedengaran aneh. Tapi bagaimana seandainya saat kita tidak jatuh dari tangga dan sebagai gantinya malah diserempet mobil? Lebih parah bukan? Terdengar lebih aneh lagi? mungkin saja, tapi aku percaya semua yang terjadi pasti ada maksud dan  rencana-Nya.

Saat kita mendapat rejeki, yang sering kita lakukan adalah bersyukur bukan? Itu hal yang bagus dan memang harus kita lakukan. Lalu dengan rejeki itu kita “mengabulkan” keinginan kita yang sudah lama kita inginkan. Apakah itu berupa HP baru, motor baru, ataupun mobil dan rumah baru. Apakah itu salah? Tentu saja tidak.

Kita begitu bersyukur bisa mendapatkan apa yang dulu kita impikan. Saking bersyukurnya kita sering bercerita kepada teman-teman dan sahabat-sabahat kita. Dan  mereka ikut berbahagia dengan kita. Awalnya.

Karena kemurahan hati Tuhan, kita diberi rejeki lebih lagi dari-Nya. Kita begitu bersyukur, dan ceritanya berulang lagi. Semua barang yang kita inginkan sebelumnya telah kita miliki, tapi karena ada rejeki lebih dan kita ingin mensyukurinya, kita mengganti semua yang telah kita miliki dengan yang “lebih baik” lagi. Apakah itu salah? Tentu saja tidak.

Didepan teman-teman dan sahabat-sahabat kita, kita membagikan rasa syukur itu kepada mereka. Kita mentraktir mereka dengan makanan dan minuman yang serba enak dan mewah. Kali ini, mereka hanya tersenyum ikut berbahagia.

Kemudian kita mendapatkan rejeki lagi karena kasih Tuhan. Kali ini rasa bersyukur kita LEBIH BESAR lagi. Teman-teman yang “status” bersyukurnya sama dengan kita, memberikan “nasehat-nasehat bijak” cara untuk mensyukurinya. “Cara” syukur yang diajarkan teman kita adalah membeli mobil yang “lebih baik”, rumah yang lebih “cocok”, HP yang lebih “mendukung”, baju yang lebih “rapi”, dan lain sebagainya. Sekali lagi pertanyaanku, apakah itu salah? Tentu saja tidak.

Setelah semua syukur itu, kita mengajak teman-teman dan sahabat-sahabat kita merayakannya — lagi. Kita bercerita tentang betapa “bersyukurnya” kita bisa mendapatkan mobil mewah itu disertai harga belinya. Kita bercerita betapa  “bersyukurnya” kita bisa membeli rumah yang bagus disertai fotokopi cek dengan puluhan nol dibelakangnya. Kita sangat berbahagia. Dan mereka hanya tersenyum saja.

Tidak lama kemudian, kita tidak bersua dengan teman-teman atau sahabat-sahabat kita lagi. Kita mengatakan kita sibuk dan harus mengurus berbagai pekerjaan kita. Kita juga lebih sering berteman dengan teman-teman “baru” yang menurut kita mereka punya cara “mensyukuri” sesuatu dengan “indah”. Apakah ini… aku tidak perlu menanyakannya lagi.

Lalu apakah kita telah menjadi SOMBONG? Aku tidak tahu. Pertanyaan itu lebih tepat ditanyakan pada teman-teman dan sahabat-sahabat kita masing-masing. Secara pribadi, tanpa mengatakan siapa, aku telah menjadi sombong. Dan itulah yang aku sebut sebagai RASA SYUKUR YANG BERLEBIHAN.

Sombong adalah sebutan yang ditujukan pada orang yang memamerkan kekayaannya/kelebihannya. Dan itu bukan aku yang katakan tapi menurut definisi kamus besar. Sedangkan bagiku, secara pribadi lagi, aku lebih menyukai kata rasa syukur yang BERLEBIHAN. Tentu saja semua mempunyai pengertiannya sendiri, dan semua itu tidak ada yang salah.

Jika aku ingat kembali saat aku membeli HPku yang dulu, bukan karena rasa NYAMAN dan KEBUTUHAN yang kucari. Tapi aku IRI dengan mereka yang mempunyai HP yang canggih. Walaupun aku membelinya dengan kerja keras dan keringat sendiri, tapi niatku sudah ternodai.

Sebelumnya aku ingin tekankan disini. Mobil mewah, rumah megah, harta berlimpah, ataupun mewah-mewah lainnya bukanlah PENYEBAB SOMBONG atau RASA SYUKUR BERLEBIHAN itu. Semua itu hanyalah BENDA. Mereka tidak bisa berbicara. Mereka tidak mempengaruhi kita. Tapi anehnya, kebanyakkan dari kita justru menyalahkan dan mengkambing-hitamkan SEMUA itu. Yang harus disalahkan itu adalah KITA SENDIRI.

Ada yang mengatakan bahwa, “Uang adalah akar kejahatan”. Lalu ada yang mengatakan pula, “Justru karena kurangnya uang maka menjadi akar kejahatan”. Manakah yang betul atau salah? Aku tidak tahu. Tapi aku mempunyai pendapat sendiri. Dan pendapat itu adalah,

Akar kejahatan adalah kita yang selalu menjaga dan menyirami bunga TAMAN PIKIRAN kita dengan air IRI DENGKI dan disinari “panas” matahari TAK PUAS DIRI serta di beri pupuk MEMBANDINGKAN DIRI.

sedangkan,

Akar kebahagiaan adalah kita yang selalu menjaga dan menyirami bunga TAMAN PIKIRAN kita dengan air SYUKUR YANG BERKECUKUPAN dan disinari hangat matahari MENERIMA TULUS APA ADANYA serta diberi pupuk DALAM DOA.

Jadi, akar kejahatan itu bukanlah harta, tahta, raga, ataupun lainya, tapi PIKIRAN KITA – setidaknya ini menurut pendapat pribadiku. Jika kita memang mempunyai NIATNYA, apa yang kita lakukan akan menyesuaikan dengan PIKIRAN kita.

Mungkin contoh sederhananya adalah  sebuah pisau. Saat pisau ini berada ditangan koki handal, semua masakan lezat yang mengelitik lidah akan tercipta dari tangannya, wangi harum masakannya akan membuat kita mendekat padanya. Tapi, saat pisau itu diberikan pada seorang preman – setumpul apapun pisau itu dan preman ini sudah bertobat – kita akan memasang kuda-kuda dan menjauh melihatnya.

Apakah ada yang salah dengan pisau itu? Ataukah yang salah itu kokinya dan premannya? Tentu saja mereka tidak ada salah. Tapi pikiran kitalah yang mengirim pesan itu pada tubuh kita. Karena TINDAKAN SELALU MENYESUAIKAN DENGAN PIKIRAN.

Yup, itulah mengapa aku menyebut diriku semakin sombong. Karena ingin dibangga, karena ingin dipuji dunia, karena ingin menjadi pesona dunia, aku sering mensyukuri sesuatu secara BERLEBIHAN. Dan parahnya, aku bukanlah orang yang mempunyai uang berlimpah, mobil mewah, rumah megah, apalagi tatha yang membuat orang lain menundukkan kepala.

Aku menjadi sombong dengan pikiranku. Aku menjadi sombong dengan syukur yang berlebihanku. Tapi untunglah itu aku yang dulu. Apakah aku sekarang sudah tidak sombong? Justru kesombongan itu masih ada sehingga aku menulis tulisan ini untuk selalu mengingatkan diriku. Bedanya, aku yang sekarang sudah bisa mensyukuri sesuatu dengan TIDAK BERLEBIHAN, dan, aku yang sekarang merasa LEBIH NYAMAN.

Akhir kata, inilah tulisan yang ditulis dari pendapat pribadi saja. Kalau memang tidak mengena mohon janganlah marah, tersenyum saja karena itu lebih indah warna bunganya. Dan sekali lagi, apa yang membuat kita menjadi pribadi hari ini bukanlah uang, mobil, rumah, status, cantik, tampan, tinggi, sexy, dan istilah-istilah keren lainya. Yang membentuk kita adalah PIKIRAN KITA.

Apa yang kita pikirkan berulang-ulang, itu yang akan kita katakan.
Apa yang kita katakan berulang-ulang, itu akan menjadi kebenaran.
Kebenaran yang telah kita pertahanan itu akan menjadi kebiasaan.
Kebiasaan itulah yang diulang-ulang menjadi PIKIRAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s