Perbedaanlah yang membuat sempurna itu ada


Perfect is about how we difference

“Mommy tidak setuju kamu berhubungan dengan pria itu lagi”, terdengar teriakan seorang wanita. “Tapi kenapa mom? Apakah ada yang salah dengan hubungan kami? Bukankah aku telah menemukan pria yang sayang padaku dan taat beribadah, lalu apa lagi yang membuat mommy menentang?”, balas teriakan seorang wanita muda tidak mau kalah. “Karena kalian berbeda kepercayaannya”.

Kisah yang kutulis kali ini memang bukanlah kisah nyata. Tapi kisahnya sendiri juga telah sering kita lihat pada zaman sekarang serba materi ini. Bahkan beberapa dari kita mungkin pernah mengalami dan malah menjadi tokoh utamanya.

Aku menulis little story kali ini bukan untuk mengurui ataupun niat lainnya. Dan seperti biasanya aku hanya berbagi. Jadikanlah little story ini sebagai renungan saja.  Kalian tidak perlu setuju dengan pendapatku dalam cerita yang kutulis secara seadanya ini.

Little story kali ini merupakan inspirasi dari salah satu little angels yang cantik, dan kebetulan ada sahabatku yang mengalami seperti dalam ceritaku. Walaupun berbeda kepercayaannya, mereka sangat harmonis dalam berkeluarga.  Hanya saja aku tidak bisa menyebut siapa orangnya, dan cerita inipun terinspirasi dari mereka juga.

Perbedaan. Itulah yang selalu jadi alasan. Apakah itu perbedaan status, perbedaan angka rekening dibank maupun perbedaan pendidikan dan tampang. Seandainya DIA yang disurga menciptakan semua itu sama, lalu manakah KESEMPURNAAN itu akan tercipta?

Oke, mungkin banyak dari kalian akan protes dengan kata SEMPURNA yang baru aku katakan. Tapi sebelum itu aku mohon senyum dahulu. Memang tidak ada yang sempurna dalam dunia ini selain DIA, dan pengertian sempurna kita juga sudah pasti berbeda. Dalam pengertianku sempurna adalah..

Ketika kelebihanmu menutupi kekurangannya, dan kekuranganmu dilengkapi oleh kelebihannya

Yup, itulah arti SEMPURNA bagiku. Tapi bukan berarti yang kaya bersatu dengan yang “sederhana”, atau yang cantik bersanding dengan yang tidak menarik, atau juga yang gemuk bertemu sikurus. Bukan sempurna dalam arti itu. Tapi sempurna dengan arti yang lebih indah. Kalian pasti tahu maksudku.

Yup, sekali lagi, tidaklah perlu memaksakan diri untuk setuju denganku, karena inilah hanya pendapat pribadiku. Seperti biasanya, aku menulis dalam sebuah cerita. Semoga kisahnya bisa menjadi renungan bagi kita, karena bagiku ini sangat bermakna.

Sebut saja namaku Winda, aku seorang wanita sederhana yang kebetulan dikaruniai wajah yang sering membuat kaum hawa berbisik dimana-mana. Aku yang sederhana dikaruniai bentuk tubuh tinggi berisi yang membuat kaun adam menelan ludah. Ya, bukannya sombong. Aku diberi anugerah dengan nilai hampir sempurna – tentunya dari mata manusia.

Tinggiku sekitar 170cm. Dengan rambut hitam panjang menjulang indah. Kata teman-temanku, aku lahir pada keluarga yang salah, seharusnya aku lahir pada keluarga supermodel diluar sana. Aku hanya bisa tertawa senang mendengar pujian itu.

Aku bukanlah wanita yang sombong sehingga menjaga jarak dengan siapa saja, aku juga bukan wanita murahan yang “menikmati” anugerah Tuhan dengan para pria hidung belang. Aku hanyalah wanita dari kalangan sederhana dengan nilai-nilai kepercayaan yang tertanam kuat dalam kepala terutama hatiku.

Aku tidak mengapa dicap sombong oleh para pria yang tidak mengenalku, karena aku juga tahu mereka mendekatiku karena alasan tertentu. Saat seorang menyukaimu karena kelebihanmu, maka dia akan meninggalkanmu dengan alasan yang sama pula.

Diusiaku yang 20an aku cukup membanggakan kedua orang tuaku. Mereka bekerja keras demi memberikan pendidikan terbaik bagiku, dan aku sekarang tidak menyia-yiakan harapan mereka. Aku seorang senior manager disebuah perusahaan ternama dikotaku lahir. Perusahaan tempat aku bekerja bergerak dibidang eksport import.

Sejujurnya bagiku untuk membahagiakan keluarga kita tidak harus dengan pekerjaan dan harta berlimpah, cukup dengan jadi anak yang berbakti dan jauh dari hal-hal yang bisa membuatnya sedih sudah cukup. Dan itu yang kulakukan hingga sekarang ini.

Kehidupanku sangatlah monoton dan biasa saja sampai seorang karyawan baru melamar bekerja di perusahaan tempat aku menghabiskan waktu. Pria ini hanyalah pria biasa dengan rambut pendek tercukur rapi. Tingginya sama sepertiku. Matanya biru muda seindah samudera. Namanya Mike.

Tidak ada yang special dengan Mike dimataku. Kami hanyalah sebatas atasan dan bawahan saja. Hanya saja aku begitu kagum dengan pria bernama Mike ini. Bukan karena parasnya, bukan karena fisiknya, tapi aku kagum padanya karena kepribadian dan ibadahnya.

Ya, aku menyebut kata ibadah. Seringkali sengaja kulirik dia saat hendak makan dan selalu kulihat dia sebelum makan selalu berdoa dulu. Tidak peduli apakah itu dikantor, maupun dikantin. Tidak peduli didepan keramaian ataukah sendirian.

Pernah kusengaja bertanya pada Mike, mengapa saat berdoa dia lebih suka memisahkan diri sebentar, dan tahukah apakah jawabannya, “Aku bukannya sembunyi, tapi aku lebih suka doa ku didengar Tuhan saja daripada aku didepan lainnya. Aku takut aku dicap sekedar cari muka dan aku tidak ingin mereka menilaiku begitu. Doa terbaik adalah doa yang hanya diketahui oleh-Nya”, katanya sambil tersenyum.

Entah bagaimana ceritanya aku dan Mike menjadi cukup akrab. Aku dan Mike sering menghabiskan waktu berdua terutama saat makan siang. Aku mengagumi kepribadiaanya yang rendah hati dan sopan. Kami sering bertukar pikiran tentang apa yang kami percayai dan apa yang kami imani. Dan luar biasanya walaupun berbeda kami saling menghargai dan menerima perbedaan kami.

Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Dan kata ini sangat cocok ditujukan padaku. Kebersamaan bersama Mike menumbuhkan bibit bunga cinta ditaman hatiku. Aku menyukainya apa adanya terutama kepribadiannya yang menomorsatukan DIA yang bertahta disurga. Semakin aku mengenalnya, semakin aku menginginkannya.

Banyak halangan yang berdatangan saat aku dan Mike menjadi sepasang kekasih. Banyak yang mercerna bahwa aku tidak malu mengambil Mike sebagai pacarku. Mereka begitu “ahli” dengan nasehat-nasehat mereka yang mengatakan bahwa perbedaan status kami yang jauh. Seorang manajer berpacaran dengan karyawannya sendiri? Seorang karyawan rendahan lagi.

Entah berapa banyak gunjingan yang telah aku dan Mike terima. Pernah aku mendengar bahwa Mike mendekatiku karena ingin memperalat diriku demi kariernya. Awalnya aku tidak mengubris kabar angin itu, tapi lama-lama aku terpengaruh juga. Karena penasaran aku meminta Mike menemuiku dan bertanya dengan sangat hati-hati takut melukai perasaanya. Tahukah apa yang dia katakan padaku?

“Maafkan aku sayang karena telah begitu banyak menambah beban dihatimu. Tapi ketahuilah aku menyayangimu bukan karena apa yang kamu dapatkan, tapi apa yang kamu miliki. Bukan yang terlihat oleh mata, tapi apa yang kamu imani dalam hati. Dan, aku siap mengundurkan diri demi meringankan beban hatimu, bukan karena aku ingin menjauhi tapi karena aku mencintaimu. Aku memilih mengambil beban dipundakmu daripada melihatmu tersiksa”, katanya sambil tersenyum manis.

Hanya dengan jawaban sederhana itu, aku sudah yakin dengan pilihanku. Aku tidak peduli lagi bahasa apa, gosip apa ataupun gunjingan lainnya yang menjatuhkan kami berdua. Apakah aku terlalu naif? Mungkin saja, tapi aku yakin DIA yang Mahatahu akan menjadi hakimnya.

Tidak terasa aku dan Mike telah 6 bulan pacaran. Gosip dan kabar angin yang selalu menerpa pun beransur-ansur reda. Bahkan anehnya, mereka yang paling menentang justru menjadi pendukung pertama. Aku hanya tersenyum manis dan aku juga tidak bisa membenci mereka. Kami sekarang malah menjadi teman baik.

Apakah semuanya berjalan baik-baik saja setelah aku dan Mike saling mendukung? Iya. Hanya saja aku tidak tahu, badai dirumah lebih besar daripada badai yang diluar sana.

Saat pertama kali kuperkenalkan Mike pada kedua orang tuaku, mereka menerima dengan senang hati. Mike begitu sopan dan santun saat berkumpul dengan orang tuaku. Mike yang humoris begitu cepat akrab dan mencairkan suasana. Aku begitu bangga padanya dan merasa sangat bahagia. Semua terasa indah sampai akhirnya Mike kuundang makan malam dirumah.

Sebuah polesan tipis kuberikan pada bibirku. Rambutku kutata dengan sedikit keriting diujungnya. Aku memakai gaun panjang putih dengan corak bunga. Malam ini kuundang kekasihku makan malam. Hatiku deg-degan berpikir bagaimana reaksinya jika melihatku yang tampil bak malaikat malam ini.

“Ting tong…”, kudengar bunyi bel pintu depan. Aku berlari kecil menuruni tangga. Kurapikan sebentar rambut dan gaunku lalu kubuka pintu. Aku terdiam melihat seorang pria tampan berdiri didepanku. Matanya biru. Rambutnya pirang dan tertata indah. Aku terpesona melihatnya.

“Selamat malam nona, namaku Andy. Kamu pasti Winda yang sangat terkenal kecantikkanya itu bukan?”, tanya pria ini membuyarkan lamunanku. Kupersilakan dia masuk dan disambut dengan hangat oleh kedua orang tuaku. Aku bertanya-tanya dalam hati, siapakah pria tampan itu? Dan sepertinya aku cukup mengenalnya. Lalu aku tersadar dalam galauan kepalaku. Mike kok belum datang?

Selang beberapa menit kudengar bel pintu berdenting lagi. Kali ini aku yakin Mike. Saat kubuka pintuku aku terkejut melihat Mike. Wajah dan tubuhnya basah oleh keringat. Aku bertanya apa yang terjadi dan dia mengatakan bahwa motor tuanya mogok sehingga terlambat datang. Aku begitu lega melihat dia tidak terjadi apa-apa. Kemudian dia memberikanku setangkai mawar merah. Cantik sekali, dan kuberi dia sebuah hadiah kecil. “Cup…”.

Suasana malam itu begitu ceria. Kulihat orang tuaku dan Mike akrab seperti biasanya. dan Andy, baru kuketahui adalah teman mainku waktu kecil. Kami tidaklah akrab dan Andy pindah mengikuti orang tuanya keluar negeri. Sekarang dia kembali kesini karena hendak mengurus bisnisnya sendiri. Kulihat Mike dan Andy juga bisa menjadi teman.

“Sebelum kita menikmati hidangan malam diatas meja ini, marilah kita berdoa bersama. Untuk itu aku ingin memberikan kesempatan pada Mike memimpin doa”, kata ayahku sambil tersenyum. Aku begitu bangga ayahku memberikan kepercayaan itu pada Mike. Aku merasa sangat senang sekali. Tapi ternyata justru makan malam itu adalah awal badai.

Setelah mendengar jawaban ibuku yang tidak menyetujui hubungan kami, aku berlari sambil menanggis kembali kekamarku. Aku tidak pernah menyangka bahwa mereka akan menentang seperti itu. Bahkan ayahku tidak ingin berbicara denganku jika aku masih berhubungan dengan Mike.

Yang menghancurkan hatiku adalah ternyata orang tuaku malah menjodohkan aku dan Andy. Mereka memuji Andy begitu tampan dan sudah mapan sehingga bisa membahagiakan aku. Sopan juga berpendidikan tinggi. Dan, tentunya yang paling membanggakan bagi mereka adalah Andy dan aku seiman. Mereka juga beralasan bahwa Mike bukanlah yang terbaik buatku.

Sejujurnya aku tidak pernah menyangka akan berakhir seperti ini hubunganku dengan Mike. Yang paling kusesali adalah mereka melarangku untuk berhubungan dengan Mike lagi, termasuk menelpon dan bertemu ditempat kerja. Aku tidak habis pikir dengan “yang terbaik” menurut orang tuaku. Bagaimana mereka bisa tahu Mike bukan yang terbaik jika mereka hanya mengenalnya secara luarnya dan hanya bertemu beberapa kali saja?

Aku menanggis sejadi-jadinya malam itu. Belum pernah aku menanggis seperti itu sejak aku masih kecil. Aku begitu merindukan Mike, tapi aku tak bisa menghubunginya. HP ku diambil paksa oleh ayahku. Dalam tanggisku aku hanya menyebut namanya sambil memegang fotonya di tanganku. Aku begitu rindu dengannya, aku ingin dia hadir dan mengelus kepalaku dan mengecup keningku sebagaimana dia mengiburku.

Semalaman aku tidak bisa tertidur. Kulihat jam dinding menunjukkan 03.00 subuh. Aku terbangun dan kucoba keluar dari kamarku. Dengan langkah kaki yang berat aku berjalan melewati koridor rumah. Secara tidak sengaja aku melihat foto tua yang tergantung didepan dinding. Kulihat aku waktu itu masih kecil dalam pangkuan ibuku. Ayahku memeluk kami berdua dengan senyumannya yang khas. Aku masih ingat betapa bahagianya kami pada waktu itu. Tidak terasa aku meneteskan air mata lagi. Aku teringat betapa mereka bekerja keras demi aku putri satu-satunya hingga bisa seperti sekarang ini. Aku menanggis sambil berlutut sambil memegangi foto itu.

Dalam pikiranku, mungkin ini satu-satunya jalan untuk membahagiakan kedua orang tua walaupun aku harus merelakan kebahagiaanku sendiri. Aku tahu Mike pasti sangat bersedih dengan keputusanku ini. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Biarlah aku menderita asal orang tuaku bahagia. Biarlah Mike membenciku, tapi yang pasti aku sangat mencintainya, bahkan lebih dari diriku sendiri.

Ibuku memelukku dengan air mata berlinang. Ayahku hanya tersenyum puas. Ya, aku telah memutuskan untuk meninggalkan Mike dan mencoba menjalin hubungan dengan Andy. Aku katakan akan menjauhi Mike dan tidak akan menghubunginya lagi. Aku bahkan menyakinkan mereka bahwa aku akan memberhentikan Mike. Mendengar hal itu orang tuaku sangat bahagia. Aku? Hatiku pecah berkeping-keping menusuk diri.

Saat berangkat bekerja aku begitu kacau hendak bertemu Mike. Apa yang harus kukatakan padanya? Sejujurnya aku bahagia akan bertemu dengannya, tapi aku juga takut dengan kenyataan yang akan kusampaikan padanya. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berdoa semoga diberi bimbingan dari-Nya.

“Apa?”, tanyaku sedikit berteriak. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. “Mike telah mengundurkan diri?”, tanyaku lagi menyakinkan. “Iya bu Winda, sejak sabtu kemarin dia sudah memintaku menyerahkan surat pengunduran ini. Katanya dia sudah meminta ijin pada ibu Winda dan disetujui”, jawab sekretarisku.

Rasanya ingin kutampar dan kuberhentikan wanita ini. Emosiku tiba-tiba memuncak. Apakah aku gila akan memberhentikan pria yang sangat kucintai ini? Memang aku akui aku mengatakan hal itu pada orang tuaku, tapi itu karena aku hanya ingin membuat mereka tenang saja. Lalu kenapa kenyataannya berbicara duluan?

Kutanya pada sekretarisku apakah tahu kemana dia akan pindah ataupun kemana. Aku tidak ingin pria yang sangat kucintai ini menghilang tanpa jejak dan tanpa alasan. Tapi yang kudapat hanyalah jawaban tidak dan gelengan kepala dari lainnya. Aku mencoba mencari kembali alamat Mike dan setelah kudapatkan kuarahkan mobilku kesana. Hanya kekecewaan yang kudapat karena pemilik tempat sewa mengatakan Mike telah pergi sejak tadi malam.

Aku begitu kacau. Aku begitu bingung. Mengapa dia tiba-tiba menghilang? Bahkan dalam satu hari saja? Rasanya aku hendak meledak memikirkannya. “Maaf nona, apakah anda bernama nona Winda?”, tanya pemilik tempat sewa tersebut. “Iy..Iya”, kataku sedikit terkejut. “Ini ada sebuah surat titipan penyewa sebelumnya. Dia mengatakan padaku memberikan surat ini padamu jika ada seorang wanita bernama Winda mencarinya”, jawab pemilik tempat sewa ini sambil tersenyum.

Air mataku tidak bisa berhenti saat kubaca surat Mike. Hari itu aku mengambil cuti dengan alasan sakit. Padahal yang sebenarnya kulakukan hanyalah membaca surat Mike dan menanggis ditaman tengah kota. Aku tidak menyangka kami harus berpisah seperti ini. Dan, ternyata Mike telah tahu semuanya. Bagaimana dia tahu? Andylah yang memberitahunya.

Dalam suratnya Mike mengatakan bahwa sebelum makan malam itu, dia telah dihubungi Andy. tepatnya seminggu yang lalu. Andy mengatakan bahwa orang tua mereka telah menjodohkan mereka sejak kecil dan aku sendiri tidak tahu. Tapi karena aku telah jatuh cinta pada seorang pria lainnya, mereka meminta agar aku dan Andy cepat dipertemukan.

Mike yang mendengar hal itu  sangatlah terkejut, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan aku. Dalam suratnya dia malah meminta maaf padaku karena telah berani mengambil wanita dari pria lain. Mike juga meminta maaf telah menyakitiku dengan cara berpisah tanpa tatap muka ini. Alasan dia melakukannya karena dia tidak ingin aku melihat mata bengkaknya karena air mata.

Mike juga mengetahui bahwa orang tuaku menjunjung tinggi ibadah dan hanya menerima yang sama kepercayaannya. Semua itu diketahui dari Andy. Lalu kenapa Mike tidak menyembunyikannya sampai orang tuaku bisa menerimanya? Dari suratnya Mike mengatakan bahwa dia lebih takut kepada DIA daripada manusia. Dan Mike tidak ingin menyangkal DIA.

Mike juga mengatakan dia sangat menghargai keputusan keluargaku dan menerima dengan ikhlas keputusan itu. Mike pura-pura tidak tahu karena ingin memberikan malam terbaik bagiku. Kenangan terindah bagi dirinya. Dan, Mike telah mendapatkan itu semua.

Aku begitu terharu membaca surat Mike. Demi aku dia rela berkorban begitu banyak. Demi aku dia memilih menderita. Tapi, apakah dia tahu aku juga sangat menderita merindukannya? Aku berharap setidaknya dia memberiku sebuah ucapan perpisahan. Kupeluk surat Mike, kudekap seerat-eratnya seakan-akan surat itu adalah dia. Mata airku tidak bisa berhenti.

“Aku pulang…”, kataku sambil  menutup pintu rumah. Sudah sebulan aku dan Mike berpisah. Hari-hariku seperti biasanya. Hari-hariku normal. Hari-hariku indah. hari-hariku bahagia. Itulah kata-kata yang selalu kukatakan pada diriku sendiri. Tapi nyatanya justru yang terjadi adalah sebaliknya.

Aku mencoba melupakan Mike dengan lebih mengenal Andy, seorang pria yang sebelumnya ingin dijodohkan orang tuaku. Andy adalah pria yang baik. Perhatian. Tampan dan sudah mapan. Andy juga seorang pria yang rajin ibadahnya. Dia selalu membuatku tertawa. Dia selalu menyayangiku apa adanya, dan aku berterimakasih padanya atas semua cintanya. Hanya saja, pintu hatiku telah tertutup selain Mike.

Didepan orang tuaku aku selalu berpura-pura bercerita tentang betapa baiknya Mike, maksudku Andy. Ayahku begitu bahagia dengan apa yang kuceritakan. Ibuku hanya tersenyum mendengarnya. Entah harus sampai kapan sandiwara ini harus kulakukan. Asal mereka bahagia, aku rela.

Setiap malam tiba, aku akan mencuri mengambil keluar diariku. Kutuangkan semua perasaan hatiku pada diari itu. “Mike sayang, apa kabarnya. Malam ini aku sangat merindukanmu. Maaf ya aku selalu rindu padamu, habis aku kangen banget sama belaian sayang dikepalaku. Aku disini sehat-sehat saja, jadi jangan cemaskan aku ya. Salam kangen dari malaikatmu, Winda”. Itulah yang kutulis didiariku malam ini.

Hari berganti hari, tidak terasa sebulan lagi. Dan, aku juga belum bisa melupakan Mike. Jika aku harus jujur dengan perasaanku, aku justru semakin mencintainya. Setiap malam aku berdoa supaya dipersatukan oleh-Nya. Setiap malam aku merindukan dirinya. Setiap malam aku menulis dan menyebut namanya. Apakah aku yang terlalu berharap? Iya, dan ternyata harapanku tidaklah sia-sia.

Suatu malam aku pulang kerja dengan senyuman – yang dipaksakan – sambil memasuki rumah. Kulihat ibuku duduk diruang tamu seperti menunggu seseorang. Aku tidak tahu siapa yang ditunggunya. Setelah berganti baju dan semuanya, aku menemani ibuku didapur sambil bercerita tentang Andy. kupuji Andy orangnya baik dan perhatian. Pokoknya semua tentang Andy.

Lalu ibuku memintaku duduk diatas meja makan. Dipandanginya wajahku dengan mata lembutnya. Kulihat helaian uban mulai bersemi diatas kepalanya. Malam itu ibuku terlihat begitu lembut dan hangat. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya begitu. Dengan senyumannya yang sangat manis dia mengenggam tanganku, kemudian dikeluarkannya sebuah buku agak tebal warna merah muda dan diberikan padaku.

Betapa terkejutnya aku melihat buku itu. Itu adalah diariku. Bagaimana ibuku bisa menemukannya? Yang paling kutakuti adalah bahwa ibuku telah membaca semuanya. Ya, ibuku pasti telah mengetahui aku bersandiwara tentang “kebahagiaan” yang kurasakan dengan Andy.  Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menundukkan kepalaku saja. Kurasakan butiran-butiran mutiara mata mulai jatuh dikedua tanganku.

“Sayang, maafkan mommy yang telah membaca diarimu ya. Mommy sebelumnya tidak tahu ini diarimu, dan setelah membacanya mommy baru mengetahui perasaanmu yang sebenarnya”, kata ibuku sambil membelai wajahku dengan tangannya yang mulai keriput.

“Maafkan aku mom…, aku.. aku tidak bermaksud…”, belum habis kuselesaikan kata-kataku tangan ibuku memintaku berhenti. “Justru mommy yang harus meminta maaf padamu. Mommy telah memaksakan kehendak mommy padamu. Mommy kira kamu pasti bahagia dengan pria pilihan mommy dan daddy mu, tapi ternyata malah justru membuatmu menderita”.

“Sejujurnya, mommy sama sekali tidak membenci Mike, malah mommy dan daddymu sangat menyukainya. Tapi karena kepercayaan kita yang berbeda, mommy entah bagaimana menjadi begitu buta. Mommy takut kamu akan meninggalkan semua kultur dan kepercayaan yang telah keluarga kita tanamkan sejak dulu. Maafkan mommy yang telah membentakmu waktu itu”.

“Mommy benar-benar menyesal sayang, padahal dalam kepercayaan kita, kita selalu diajarkan agar menghormati kepercayaan orang lain. Harus saling rukun dan menyayangi, tapi mommymu justru melakukan hal yang membuatmu sangat menderita. Ma..maafkan mommy ya sayang”, kata ibuku terisak-isak. Kupeluk lembut ibuku. Belum pernah aku melihat ibuku begitu sejak aku dilahirkan.

Karena sandiwara yang kulakukan, malah menjadi boomerang pada diriku, dan ibuku. Aku juga menyesal membuat ibuku menitikkan air matanya. Tapi disisi lain kami begitu bahagia karena bisa saling mengerti perasaan masing-masing. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan ibuku menjadi sangat bijaksana pada malam itu. Yang pasti aku sangat lega mendengarnya. Aku bahagia walaupun Mike pun entah sudah dimana.

“Winda sayang, maukan kamu maafkan mommy?”, tanya ibuku sambil memandangi wajahku. Wajahnya begitu cantik malam itu. Senyumnya sangat menghangatkan hatiku. Aku mengecup pipinya. Aku peluk erat dirinya. “Mommy, justru aku yang harus meminta maaf karena Winda pura-pura menikmati sama Andy, tapi aku tidak pernah membenci mommy dan daddy malah Winda sangat dan sangat sayang mommy dan daddy”, kataku sambil bersujud didengan ibuku sambil manja dipangkuannya.

Malam itu aku begitu bahagia dengan “kecantikkan” hati ibuku. Belum pernah aku begitu lega dan merasa bahagia. Ibuku yang sangat kusayang, demi dia aku rela melakukan semuanya. Tapi anehnya, insting seorang ibu tidak bisa ditipu. Dari cerita ibuku, beliau mengetahui aku selama ini berpura-pura dan bersandiwara. Tapi karena tidak ingin terlalu memikirkannya, ibuku menepis semua pikiran itu.

Pada suatu malam beberapa hari yang lalu, ibuku mendengar ada tanggisan kecil saat melewati kamarku. Ibuku penasaran dan mencoba mencari tahu masuk kekamarku. Disana ibuku mendapati aku tertidur sambil menanggis dengan memeluk diariku. Kasur dan bajuku basah oleh air mata. Dan dalam mimpiku aku terus memanggil nama Mike. Ibuku malam itu begitu sedih melihatku hancur berkeping-keping itu.

Tapi aku sangat berterimakasih pada DIA yang mengajari kami tentang PERBEDAAN itu. Karena pengalaman itulah aku dan ibuku bisa saling memahami perasaan masing-masing dan menerima PERBEDAAN itu. Ibuku menyakinkanku untuk menemui Mike. Tapi kukatakan padanya bahwa Mike sudah hilang entah kemana. Ibuku hanya tersenyum. Lalu dikeluarkannya sebuah catatan kecil.

“Coba kamu telepon nomor ini”, pinta ibuku sambil mengelus kepalaku. “Ini nomor siapa mommy?”, tanyaku sedikit menerka. Ibuku mengecup keningku sambil tersenyum. Senyum yang sangat cantik dan manis sekali. “Mike ya..”, kataku sedikit berteriak senang. “Tapi kenapa mommy bisa punya…”, aku bingung tak selesaikan pertanyaanku.

“Sayang, Mike selalu menelpon mommy sekedar menyapa. Belum pernah kutemui pria yang sesopan dia. Awalnya mommy akui mommy enggan bicara dengannya. Tapi semakin mommy membencinya, mommy semakin menyayanginya. Batu karang jika terus ditetesi air tetap akan hancur juga. Tapi Mike mu ini bukanlah tetesan air saja. Tapi air yang melegakan karang itu juga”.

“Mommy menyesal telah memisahkan kalian berdua hanya karena ALASAN YANG MENGATAS-NAMAKAN PERBEDAAN, tapi mommy juga sadar bahwa PERBEDAAN ITULAH YANG MEMBUAT SEMPURNA. Sekarang coba telepon malaikatmu itu”, lanjut ibuku sambil mengecup keningku lagi. Aku rasanya ingin melompat kepelukan ibuku seperti saat kecil. Tapi aku sekarang sudah bukan anak-anak lagi. Aku hanya memeluk ibuku dengan sangat erat dan penuh sayang.

“Ha..ha..halo… Mike?”, tanyaku gugup. “Ya Winda sayang, ini aku. Apa kabarnya”, terdengar suara seorang pria yang sudah sangat kurindukan. Kututupi mulutku dengan sebelah tanganku agar pria yang diseberang sana tidak mendengar aku menanggis. Aku begitu bahagia bisa mendengar suaranya. Pria yang selalu kujaga. Pria yang selalu kusebut namanya. Kini dia disana memanggil namaku juga.

“Coba kamu kedepan sebentar”, pinta pria yang paling kusayang itu ditelepon. Aku langsung berlari kecil menuju pintu. Dan saat kubuka kulihat seorang pria dengan setangkai mawar merah ditangannya. Kuletakkan teleponku dan langsung kuberlari memeluknya. Aku tidak perlu kata-kata seindah apa untuk menggambarkan perasaanku malam itu. Aku BAHAGIA.

“Mom, mom… bagaimana riasanku? tidak luntur kan?”, tanyaku pada ibuku yang lagi sibuk merapikankan baju pengantinku. Ibuku melihat sebentar lalu tersenyum manis. “Kamu sangat cantik sayang, mommy malah takut kamu dibawa lari pria lain”, goda ibuku sambil mencubit hidungku. “Aaahh…mommy”, manjaku sambil melompat-lompat kecil seperti anak kecil.

Yup, aku dan Mike menikah setelah 8 bulan sejak malam pertemuan kembali itu. Mike dengan senang hati mengikuti budaya dan kepercayaanku. Orang tua Mike juga tidak keberatan. Bagi mereka kebahagiaan kami berdua lebih penting daripada KEINGINAN mereka. Mereka mendukung kami berdua. Aku sangat bangga dengan calon mertuaku itu. Tepatnya ayah dan ibu mertuaku.

Kulihat Mike sedang merapikan pakaiannya. Aku tertawa kecil melihatnya bingung dan kerepotan. Wajar saja, Mike baru pertama kali mengenal budaya kami. Aku hampiri pria paling tampan yang sangat kucintai ini. Kubantu dia merapikan pakaiannya dan kukecup dia dengan mesra. Aku dan dia yang berbeda, baik itu status maupun kepercayaan melangsungkan upacara suci penyatuan perbedaan itu. Aku sangat bahagia bisa memikinya.

Buktinya? Aku menjadi mama bagi kedua malaikat cantikku serta satu malaikat tampanku dan nenek dengan sepuluh cucu diusia senja kami berdua. Bagaiamana dengan kepercayaan keluarga besar kami? Itu tidaklah penting, karena yang terpenting adalah PERBEDAANLAH YANG MEMBUAT SEMPURNA ITU ADA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s