Michelle dan Catherine


Michelle dan Catherine

Aku mendekap erat tubuhnya. Masih kurasakan kehangatan jemarinya digenggaman tanganku. “Sayang… aku tidur sebentar ya, aku ingin disampingmu sebentar lagi. Peluk aku sampai aku tertidur ya”, kata Michelle sambil mengecup pipiku. “Iya sayang, aku akan menemanimu sampai dirimu tertidur”, jawabku tak mampu menyembunyikan air mataku.

Michelle Angeline. Itulah nama yang aku Add sebagai temanku disalah satu situs pertemanan waktu aku mencari teman kuliahku yang bernama Michelle juga, namanya terpampang jelas dengan foto karakter kartun yang manis.

Awalnya aku ingin membiarkannya, tapi entah kenapa hatiku malah berkata lain. “Tidak ada salahnya menambah satu teman baru bukan?”, itulah yang kukatakan pada diriku sendiri. Setelah itu aku mengklik tombol Add dan menunggu.

Pertemanan anda diterima! Itulah pemberitahuan yang kuterima saat kubuka emailku. Entah kenapa aku malah merasa senang sekali. aku tidak mengenal dia, dan dia juga tidak mengenal aku. Yang aku tahu adalah aku dan dia berteman karena ketidaksengajaan. Mungkin juga kesengajaan Tuhan.

“Hai, terimakasih karena sudah menerima permintaan teman dariku ya”.

Itulah pesan yang kutulis dan kukirim pada emailnya. Aku hanya mencoba beramah-tamah saja. Dan sepertinya kata-kataku sangat biasa bukan.

Yup, aku seorang pria yang pemalu. Hanya dalam dunia mayalah aku bisa mengekspresikan diriku yang sebenarnya. Tapi saat lepas dari dunia maya, aku menjadi orang yang cukup tertutup. Walaupun begitu aku orangnya tidak menghindari pergaulan dan pertemanan baru.

“Senang berkenalan denganmu juga Mike (^_^)Y. Apa kabar? Tidak keluar malam minggu nih? (^_^)”

Itulah balasan email yang kuterima saat malam ku cek kembali emailku. Aku begitu senang bisa dapat teman. Padahal aku juga banyak teman disitus ini, tetapi entah kenapa Michelle inilah yang lebih menarik perhatianku.

“Kabarku baik-baik saja. Apa kabar Michelle?”. Iya nih, aku malas keluar malam, lebih enak ngobrol sama Michelle (^_^)”.

Balasku sedikit mengoda Michelle dengan diakhiri sebuah senyuman dan dan smiley “main mata”. Aku tahu aku sedikit genit. Iya deh, aku akui aku genit. Tapi kan tidak salah hanya sekedar mengoda dan bercanda ria bukan?

Ternyata email yang sedikit mengoda dan bercanda itu membuat aku dan Michelle menjadi teman baik. Teman dunia maya. Aku tidak keberatan tidak bisa menemuinya langsung, dan memang pada awalnya akupun tidak berkeinginan menemuinya juga. ukan karena aku tidak mau, tapi aku takut dia malah terkejut melihat aku yang “nyata”.

Yup, dengan kacamata agak tebal dan rambut acak-acakan adalah gayaku. Tinggiku sekitar 175cm. badan sedikit kurus dan tegap. Aku hobi berenang, jadi walaupun tubuhku agak kurus tapi masih dalam kategori “wajar”. Pakaian kaos oblong dipadukan celana jeans butut dengan “model” koyak disekitar lutut. Pokoknya jauh banget dari kata keren.

Yang paling kusukai adalah tentang computer dan computer. Tidak ada hal lain yang bisa membuatku tertarik lagi. Aku suka menggambar dan design terutama gambar-gambar kartun Jepang. Saking sukanya menggambar aku sering meng-upload ke situs pertemananku dengan warna dominan biru itu.

Bukannya sombong, walaupun aku mempunyai tampang hancur berantakan begini, aku mempunyai fan base yang cukup banyak. Mereka menyukai karyaku. Setiap kali  aku upload karyaku, pasti mendapatkan notification (pemberitahuan) paling sedikit 100 perhari. Terkejut? Jangan dulu. Komen yang kudapatkan bisa lebih dari 200 perhari. Tidak percaya? Terserah…

Daftar teman aku sekitar 4012. Dan dipastikan kalau kalian meng-add aku sebagai teman pasti akan ditolak. Kenapa? Bukan karena aku sombong, tapi batas pertemanan yang telah mencapai batasnya. Jangan salahkan aku juga, salahkan aturan situs pertemanan itu.

Kulihat ada pesan inbox masuk diemailku saat aku lagi asyik menggambar karakter kartun Jepang dikomputerku. Kulihat namanya disana. Michelle Angeline. Aku tersenyum lebar dan kutinggalkan sebentar gambarku. Kubuka inboxnya. Aku tertawa kecil membaca balasannya dari emailnya.

“Iiiih, Mike genit dech. Aku tidak mau ah… (^0^). Mike, kamu pandai sekali gambar ya, aku suka banget lho dengan gambarmu. Kawaii banget… aku boleh download dan save dikomputer aku kan (^_*)”.

Aku merasa senang sekali, padahal permintaan seperti itu sudah aku dengar sampai bosan dari teman-teman dunia maya lainnya. Tapi dari Michelle, aku merasa senang sekali. sepertinya wanita ini membuatku merasa special.

Malam itu kami saling mengirim email berjam-jam. Mungkin kalian bertanya kenapa kami tidak Chatting saja bukan?! Jawabanku sederhana saja. Aku lebih suka email karena aku bisa memikirkan apa yang harus aku ucapkan. Kalau Chatting aku akan dituntut menjawab langsung, dan aku bukan seorang pemberi jawaban langsung seperti kalian. Aku ini pemikir dan cenderung lambat.

“Mike, ibu dengar tetangga didepan rumah kita akan mengadakan jamuan kecil nanti malam. Apakah kamu bisa menemani ibu hadir disana?”, tanya ibuku saat aku sedang asyik menyelesaikan sarapan pagiku. Aku terdiam sebentar, berpikir. Sebenarnya aku malas mau keluar, tapi karena permintaan ibuku, aku iyakan saja.

Ibuku mengucapkan terimakasih dan berlalu meninggalkanku bekerja. Ya, aku hanya tinggal bersama ibuku. Ayahku telah pergi, tapi bukan pergi dalam artian pergi alam sana – walaupun aku kadang berharap begitu, tapi benar-benar pergi meninggalkan aku dan ibuku, dengan wanita lain. Dan itu terjadi dua tahun yang lalu.

Sebelumnya kami adalah keluarga kecil yang harmonis. Ayahku seorang manajer perusahaan dan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang cantik dan penuh perhatian. Setiap pagi keluarga kami dihiasi tawa dan canda. Aku malah sempat berpikir kelak akan menjadi seperti ayahku, penuh perhatian dan bertanggunjawab serta mendapatkan wanita seperti ibuku. Begitu setia dan sabar dalam mengurus kami berdua.

Tapi keinginan itu buyar saat ayahku pulang membawa seorang wanita muda cantik dengan perut yang buncit. Tanpa berkata banyak ayahku mengambil tas dan kopernya langsung meninggalkan kami dengan pintu terbuka. Satu-satunya yang ditinggalkan hanyalah selember cek dengan beberapa nol diatas meja. Kulihat ibu diam membisu dan terduduk lemas disofa.

Sejujurnya aku ingin mengejar ayahku dan ingin memukulinya beserta wanita itu. Tapi ibuku menghentikanku. Kulihat wajah cantiknya begitu terlihat sendu. Dia masih tersenyum padaku dan berkata bahwa ayahku pergi karena urusan kerja. Jika saat itu aku masih berumur 2 tahun mungkin iya, tapi aku saat itu berumur 20 tahun.

Kupeluk ibuku dengan erat. Aku ingin menghiburnya dengan segala yang kupunya. Aku berkata aku akan selalu disisinya sampai kapanpun. Aku tidak akan pernah sekalipun meninggalkannya. Ibuku hanya tersenyum padaku dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Lalu dia pamit kebelakang hendak menyiapkan makan malam. Tahukah apa yang kudapatkan didapur sana? Ibuku menanggis sambil meringkuk dibawah sudut meja.

Malamnya kutunggui ibuku terlelap dikamarnya. Rambut-rambut hitamnya mulai berubah warna. Kubelai wajah ibuku dengan lembut. Masih kulihat air mata disudut matanya. Kurasakan ada tonjolan kecil dibawa matanya. Ya, itu adalah bengkak karena menanggis yang tiada henti. Aku begitu sakit melihat ibu yang sangat kusayangi tergeletak hancur begitu.

Beberapa kali aku ingin mencari dan menemui ayahku. Tapi beberapa kali pula ibuku melarangku. Katanya padaku supaya jangan menganggu kebahagaian orang lain. Tapi bagaimana dengan ibuku? Benarkah kebahagiaan itu harus diberikan dengan mengorbankan kebahagiaan kita sendiri?

Kini dua tahun telah berlalu. Ibuku pun telah pulih dari sakit hatinya – walaupun tidak sepenuhnya. Setiap malam aku selalu menemani ibuku berbincang-bincang dan membuatnya tertawa. Sering ibuku menyuruhku keluar berteman dengan teman-teman sebayaku. Tapi kutolak dengan alasan banyak tugas dari dosen tempat aku kuliah.

Sepertinya kalian bisa menebak kenapa aku jadi pemalu dan lebih banyak dirumah bukan? Ya, salah satu sebabnya adalah aib ayahku. Dan yang paling terutama aku tidak ingin meninggalkan ibuku sendirian dirumah. Aku anak yang baik? Tentu saja tidak. Tapi yang aku tahu ibuku adalah wanita paling baik sedunia, dan aku bangga mempunyai ibu seperti dirinya.

Kulihat jam menunjukkan 07.00 malam. Aku memakai kemeja seadanya. Kukenakan sepatu kets ku yang sudah usang tapi masih terawat rapi. Aku berkaca sebentar. “Iya, ini sudah cukup rapi. Lagian aku kesana hanya menemami ibuku saja”, kataku sendiri. Lalu kudengar suara ibuku memanggilku dibawah.

“Selamat malam tuan Richard, selamat malam nyonya Richard, senang bisa bertemu dengan anda”, sapaku mencoba seramah mungkin dengan senyum lebar dibibirku. “Oh, terimakasih Mike”, jawab tuan Richard sambil memuji aku didepan ibuku. Setelah basa-basi sebentar aku memisahkan diri untuk mencari tempat duduk jauh dari keramaian.

Saat berjalan-jalan secara tidak sengaja aku melihat seorang gadis sedang duduk dengan kursi rodanya. Dari kejauhan aku bisa memastikan bahwa gadis ini kehilangan fungsi kakinya. Karena apa aku tidak tahu. Awalnya aku biarin saja sambil lewat begitu saja didepannya.

“Hai…”, sapanya dengan senyuman yang sangat manis. Aku berhenti sebentar didepannya. Aku melihat kekanan dan kekiri, lalu aku melihat kebelakang untuk memastikan bahwa aku yang dipanggilnya. Dia hanya tertawa kecil melihat tingkahku itu.

“Hai juga”, kataku membalasnya. Kudekati dia sambil duduk dibawah dengan alas rumput dan tanah. Ternyata perawakannya cukup kecil. Tingginya sekitar 158cm – menurutku. Dengan bola mata biru dan rambut pirang, dia terlihat sangat cantik. Gaun putih dengan renda disetiap sudutnya dibawah cahaya bulan menambah kecantikkannya. Benar-benar bak putri raja.

Anehnya aku dan dia cepat sekali akrab. Kuketahui dia bernama Catherine, putri tunggal tuan dan nyonya Richard tempat aku diundang. Catherine orangnya cukup humori dan pintar. Malam itu kuhabiskan waktuku hanya ngobrol dengannya. Benar-benar malam yang menyenangkan.

“Hai Mike, tadi malam kemana saja? Aku tunggu emailmu koq tidak ada. Sibuk ya?”

Tanya Michelle padaku dalam emailnya. Aku terdiam membaca email itu. Ya, aku lupa bahwa aku pernah bilang akan menemaninya email saat malam tiba. Aku benar-benar merasa tidak enak dengan Michelle. Kubalas emailku dengan perasaan menyesal telah melupakannya. Aku meminta maaf padanya dalam emailku.

“He5…, tidak apa-apa Mike. Tadi aku juga tidak sempat, aku diminta menemani ayahku diluar. Jadi, kita sama-sama lupa dan sibuk ya. (^0^)”

Perasaanku langsung tenang saat kuketahui bahwa Michelle tidaklah marah padaku. Aku melanjutkan mengirim email balasan pada Michelle, dan seperti malam-malam sebelumnya. Aku menutup percakapan kami dengan ucapan selamat malam, tapi kali ini kutambahi smiley dengan gambar “cium” dan sebuah kata, muach…

Aku deg-degan menunggu balasannya. Semenit rasanya terasa sejam. Aku takut Michelle justru marah padaku karena keisenganku – walaupun aku memang sedikit menaruh perhatian padanya. Lalu terdengar bunyi email masuk. Aku menarik napas panjang, lalu aku meng-klik tombol READ. Lalu kulihat ada satu smiley yang menarik perhatianku. Itu smiley yang sama dengan yang kukirimkan pada Michelle. “Muach…”. Aku tidur dengan senyum lebar diwajahku.

“Hai Mike, aku boleh masuk?”, tanya Catherine ketika kudengar bel pintu dan kubuka. Aku terdiam sejenak terpesona, kulihat wanita cantik ini dengan gaun putihnya. “Sepertinya aku datang pada waktu yang salah ya?”, tanya Catherine sambil tersenyum membetulkan kursi rodanya. “Ti..ti..dak, tidak…, maafkan aku Catherine”, aku cuma terkejut kalau kamu datang mengunjungiku. Silakan masuk, aku bantu ya”, kataku sambil membantu mendorong kursi rodanya. “Terimakasih Mike, panggil aku Katty saja”, jawabnya dengan senyuman sangat manis dihiasi dua lesung pipi yang gemesin.

Kami berdua berbincang-bincang akrab. Aku menanyainya angin apa yang membawanya datang menemuiku, dia hanya berkata bahwa dia bosan dirumah jadi dia sengaja datang mencariku sekedar mengusir sepi dan bosan. Aku dengan senang hati menemaniya. Seorang wanita yang cantik, menarik dan pintar. Kekurangannya tertutupi oleh semua kelebihannya.

Setelah mengantarnya pulang aku berjalan dengan perasaan yang melayang. Kaki-kakiku sepertinya tidak menyentuh tanah. Aku berpikir seandainya waktu lebih panjang pasti akan sangat menyenangkan. Katty atau Catherine sangat manis dan membuatku berbunga-bunga. Dengan langkah kaki seperti bermain kungfu aku memasuki kamarku. Kulihat monitorku ada sebuah pemberitahuan, aku melihat ada email masuk. Michelle Angeline.

Cepat-cepat kubuka email itu. Aku memang menunggu emailnya juga, tapi karena keasyikkan ngoborol dengan Katty aku lupa. Saat kubaca email itu aku terdiam kaku. Kugosok-gosokan mataku dan kubaca lagi. Michelle ingin bertemu denganku. Besok malam. Jam 7.00 tepat. Kalian pasti bisa bayangkan aku tertidur dengan wajah apa.

“Mike, bisakah kamu menemaniku besok malam sekitar jam 06.00 sampai 07.00? aku ingin jalan-jalan dipantai, ayahku dan ibuku tidak sempat karena ada urusan bisnis. Bisakan? please…”, tanya Katty dengan suara manja ditelpon. Aku terdiam lagi berpikir. Kenapa kebetulan sekali sama pertemuanku dengan Michelle?

Otakku bekerja keras, dan akhirnya aku menemukan solusi – walaupun bukan keputusan terbaik sih. Aku iyakan pada Katty dengan syarat sampai jam 07.00 malam, dan aku katakan padanya bahwa aku ada janji dengan teman pas jam 07.00 didekat café pantai itu. Katty tidak keberatan dan menerimanya dengan senang.

Hari yang dijanjikan telah tiba. Aku memakai setelan baju kebanggaanku – kaos oblong dan celana jeans. Aku membawa jaket lebih karena angin malam didekat pantai biasanya dingin. Lalu kujemput Katty didepan rumahku.

Katty memakai gaun putih kesukaannya. Polos dengan corak bunga ditepinya. Rambut pirangnya dibiarkan terurai dengan sedikit gelombang diujungnya. Diatas kepalanya terselip bando dengan bentuk mahkota putri raja. Sangat serasi dengan wajahnya yang cantik dan manis. Sejujurnya aku terkesima.

Aku mendorong kursi roda Katty ke pantai. Hanya perlu beberapa puluh menit untuk sampai kesana. Malam itu langit sangat cerah. Bulan bersinar terang dan bintang-bintang berkedip cemerlang. Kutemani Katty berjalan-jalan dengan kursi rodanya.

Lalu aku melihat pemandangan yang hampir tidak kupercaya. Katty berdiri. Aku begitu terkejut dan langsung memegangi dia. Katty hanya tertawa kecil dan tersenyum padaku. sungguh senyuman yang sangat indah dibawah sinar bulan malam itu.

“Tidak usah kuatir Mike, aku tidak apa-apa koq. Aku sebenarnya bukan lumpuh, Cuma aku mengalami kecelakaan dulu sehingga kakiku kurang mau menerima perintah otakku. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi kata dokter ini bukan penyakit dan ini bahkan sangat jarang terjadi. Aku hanya perlu membiasakan supaya kaki ini bergerak terus. Dan malam ini alasan aku memintamu menemaniku”, kata Katty dengan senyum yang manis.

Aku merasa sangat tidak enak, bukan karena aku menganggap dia lumpuh, tapi aku membatasi waktuku hanya sampai jam 07.00. padahal Katty sangat memerlukanku. Rasanya aku ingin membatalkan pertemuanku dengan Michelle, tapi belum sempat kuutarakan Katty telah membaca pikiranku.

“Jangan pernah berani kamu membatalkan janji yang telah kamu penuhi ya, aku tidak suka pria yang seperti itu”, kata Katty dengan pandangan tajam kearahku. “Aku tahu apa yang kamu pikirkan, dan aku mohon buang jauh-jauh pemikiran itu. Aku bukan wanita lemah yang tidak bisa mandiri”, lanjut Katty sambil mengecup pipiku. Ya, dia mengecupku. Mukaku langsung merona merah disertai tawa kecil Katty.

Kulihat jamku, akhirnya jam 07.00 tepat. aku pamitan pada Katty  dengan perasaan yang berat. Katty memintaku agar segera kesana. Dengan langkah berat aku meninggalkan Katty, berkali-kali aku menengok kebelakang untuk memastikan Katty baik-baik saja. Tapi aku yakin dia pasti baik-baik saja. kenapa? karena setiap aku menenggoknya kebelakang, sebuah kepalan tangan terangkat memintaku jangan kembali.

DiCafe tempat aku dan Michelle janjian, aku tidak menemukan Michelle. Kulihat jam tanganku kembali. Jam 07.10 malam. Aku terlambat 10 menit. Aku mengira Michelle sudah pulang, tapi aku juga berpikir mungkin dia belum datang. Aku coba bertanya pada pelayan disana apakah ada melihat seorang wanita yang datang dan kelihatan seperti menunggu seseorong. Mereka menjawab tidak melihatnya, mereka bahkan mengatakan belum ada wanita yang datang malam itu.

Michelle belum datang dan aku mencoba menunggu. Tapi setelah jam hampir menunjukkan jam 08.00 malam Michelle juga belum menampakkan hidungnya. Aku berpikir mungkin Michelle sedang sibuk atau dalam perjalanan  terkena macet dijalan. Aku mencoba menunggu lagi.

Jam 09.00 malam tepat aku membayar semua minumanku dan meninggalkan café itu. Aku merasa heran kenapa Michelle tidak muncul. Apakah dia lupa? Ataukah dia malah mempermainkanku. Banyak sekali pikiran yang mengangguku tentang Michelle. Aku berpikir positifnya saja.

Saat aku berjalan mengitari pantai sebelum pulang. Kudapati seorang wanita sedang duduk didekat pantai. Angin malam itu terasa sejuk. Kuhampiri wanita itu dan aku terkejut bukan main. Itukan Katty. Apa yang dia lakukan disini? Kukira dia telah pulang.

Aku berlari kearahnya sambil kulepaskan jaketku. Kupakaikan padanya. Dia hanya melihatku dengan tatapan kosong. Dan, aku terkejut sekali saat dia bertanya padaku. “Kamu siapa?”.

Jujur saja jantungku hampir berhenti mendengar perkataan itu. Aku kira aku salah yang orang, tapi aku masih ingat dengan jelas gaun apa yang dipakai Katty waktu kami keluar berdua. Dan jikapun aku salah, tak mungkin ada dua orang yang sama persis memakai kursi roda disampingnya itu.

“Ini aku, Mike. Apakah kamu sakit?’, tanyaku bingung. Kuperhatikan dengan seksama tidak ada tanda-tanda dia sakit. Kutawari mengantar dia pulang, tapi Katty menolak dengan alasan sedang menunggu seseorang. Pada jam begini siapakah yang dia tunggu pikirku dalam hati.

Aku menawarkan diri menemani dia menunggu – lebih tepatnya aku takut terjadi apa-apa dengannya. “Nama kamu Mike kan? Aku dari tadi tunggu seorang pria, tapi dia tidak datang-datang juga. apakah karena kakiku yang kelihatan lumpuh ini sehingga dia lari sebelum bertemu denganku ya?’, tanya Katty dengan air matanya yang mulai berjatuhan. “Temani aku sebentar ya”, lanjutnya dengan senyuman yang manis. Tapi kali ini senyuman manis yang penuh kesedihan.

Selama satu jam aku menemaninya disana. Setelah itu kutawari mengantarnya pulang. Saat kami hendak sampai dirumahnya, kuliaht orang tuaku dan orang tuanya berlari kearahku terlihat sangat cemas. Aku sendiri bingung dengan keadaan itu. Aku berkata pada mereka bahwa aku mengantar Katty berjalan-jalan kepantai, mendengar jawaban itu kedua orang tua Katty melihatku dengan tatapan yang tidak percaya.

Nyonya Richard, ibunya Katty mengantar Katty kekamarnya. Tuan Richard meminta kami masuk sebentar. Kulihat ibuku sebentar, dia menganggukan kepalanya agar kami menerima tawran itu. Tuan Richard mempersilakan kami masuk, dan saat itulah aku baru tahu bahwa Katty adalah Michelle itu sendiri.

“Putri kami, Catherine,  mengalami kecelakan dua tahun yang lalu. Kecelakaan itu terjadi ketika Katty dan pacarnya pulang dari pantai yang baru kalian berdua singgahi tadi. Kecelakaan itu sangat mendadak karena seorang supir truk dengan kecepatan tinggi dalam keadaan mabuk menabrak mereka”, tuan Richard membuka pembicaraan.

“Ajaibnya putri kami tidak mengalami luka apa-apa, hanya kepalanya yang terbentur keras. Sedangkan pacarnya mengalami luka yang parah. Kakinya patah oleh kerasnya tabrakan truk itu. Putri kami yang sempat siuman setelah kepalanya terbentur begitu histeris melihat pacarnya terluka dengan kaki yang berlumuran darah itu. Dia berteriak-teriak histeris seperti kehilangan akal sehatnya”.

“Karena melihat langsung kejadian itu, putri kami mengalami trauma pada psikologisnya. Kursi roda yang kalian lihat itu adalah bukti bahwa psikologisnya masih terluka. Dia selalu teringat oleh kekasihnya yang kakinya patah setiap kali dia ingin berjalan. Lama-kelamaan fungsi kakinya melemah. Karena kami tidak ingin dia terus mengingatnya, kami mengarang cerita bahwa itu dipengaruhi otaknya yang terbentur dulu”.

Kulihat nyonya Richard keluar sambil menyeduhkan teh panas buat aku dan ibuku. Nyonya Richard duduk disamping suaminya sambil mengeluarkan sebuah laptop. “Mike, pasti kamu bingung saat dipantai dia mengatakan bahwa dia tidak mengenalmu bukan”, tanya nyonya Richard padaku sekedar menebak dengan mata berkaca-kaca. Aku terkejut, bagaimana mereka bisa tahu?

“Jika Catherinne pergi kesana, dia selalu kehilangan ingatan apa yang dilakukan sebelumnya. Semua itu pengaruh memori otaknya yang terputus karena trauma. Tapi untunglah hanya sementara saja. Makanya saat kamu bertemu dengannya, dia tidak mengenalimu. Kami, orang tuanya pun tidak dikenalinya. Dia selalu mengatakan menunggu seorang pria, dan pria itu adalah kekasihnya yang dulu”.

Nyonya Richard tidak mampu menahan air matanya. Suaminya mendekapnya dengan penuh sayang mencoba menenangkannya. Kulihat ibuku juga tidak mampu menahan perasaannya mengetahui kenyataan itu. Sejujurnya, aku juga sangat tersentuh. Aku tersentuh oleh cinta Katty  yang begitu dalam yang sampai saat ini masih menjaga perasaannya itu.

“Mike, tahukah kenapa kami mengundangmu makan malam bersama ibumu beberapa bulan lalu?”, tanya tuan Richard padaku sambil membuka laptop yang diatas meja. Aku mengeleng tidak tahu. lalu tuan Richard membuka situs pertemanan yang biasa aku masuki. Betapa terkejutnya aku disana kulihat fotoku dan beberapa catatan kecil privasi di akun-nya.

“Bukankah itu Michelle Angeline?”, tanyaku sedikit teriak tertahan. Aku bingung sekali. Kulihat tuan dan nyonya Richard hanya tersenyum. Lalu dibukanya sebuah folder khusus yang bertulisan “Mike yang kusayang”.

Terihat rententan foto-fotoku dan karyaku disana. Ya, aku sering mengganti fotoku disitus pertemananku. Dan aku tidak menyangka semua fotoku disimpan oleh Katty. Aku semakin bingung dengan apa yang kualami malam itu.

“Mike, Michelle Angeline itu nama yang Catherine ciptakan sendiri dalam pikirannya saat berada “didunianya”. Dia sendiri bahkan tidak menyadarinya. Kami pernah membawanya menemui seorang ahli psikologis, dan dari keterangan mereka mengatakan bahwa Katty tidaklah gila, malah sangat pintar. Hanya saja, karena luka hatinya yang belum sembuh, dia menciptkan dunianya sendiri dengan “gambar” dirinya yang baru”.

“Mereka juga mengatakan Katty melakukannya karena dia tidak ingin dirinya yang sekarang mengkhianti kekasihnya yang telah meninggal. Sehingga untuk mendapatkan cinta yang baru dia menciptakan karakter baru bernama Michelle. Ini disebabkan karena rasa menyalahkan diri sendiri yang berlebihan, padahal kedua orang tua kekasihnya pun tidak menyalahkannya. Tapi sepertinya cintanya lebih terluka dengan kepergian kekasihnya yang sangat tragis”.

Tuan Richard menghentikan ceritanya. Kulihat nyonya Richard begitu sedih harus mengingat kembali  kejadiaan itu. Sudah dua tahun tapi luka Katty atau Michelle masih belum sembuh. Aku begitu terharu dengan kisah Katty itu sendiri. Sebenarnya aku menyukai Michelle, dan aku juga merasa sangat  menyenangkan saat bersama dengan Katty. Dan Katty atau Michelle adalah orang yang sama.

Malam itu aku terjaga semalaman memikirkan apa yang diceritakan oleh tuan dan nyonya Richard. Aku membuka kembali mail Michelle. Kubaca kembali semua emailnya. Michelle yang sebenarnya Katty dalam emailnya begitu lepas. Seperti orang yang berbeda dengan apa yang diceritakan oleh tuan dan nyonya Richard. Semakin kubaca emainya, semakin mataku berkaca-kaca. Michelle begitu menginginkan seseorang  untuk menutupi luka dan menemani sepinya, tapi Katty justru menghindari itu semua.

Malam itu mengambil keputusan. Aku berjanji akan membuka hatinya kembali. Aku bersumpah akan menutupi lukannya lagi. Aku tidak tahu apakah aku mampu, aku juga tidak tahu apakah aku bisa bertahan dengan kepribadian gandanya itu. Tapi, aku telah menyukai Michelle, dan aku sadari bahwa aku juga telah dicuri hatinya oleh Katty, dan mereka adalah satu.

Entah mengapa aku mempunyai perasaan lega setelah mengetahui mereka adalah satu. Mungkin karena awalnya aku mengira mereka adalah wanita yang berbeda, dan aku menyukai mereka berdua. Tapi ternyata mereka adalah orang yang sama. Kupejam mataku, kubayangkan kisah bahagiaku bersama Katty dan Michelle, Michelle dan Katty, keduanya, dan dalam bayanganku semua bersatu menjadi Katty saja.

Hari demi hari berlalu, bulan lewat mengejar tahun. Tidak terasa aku dan Katty telah melewati 2 tahun pacaran. Kami berdua melewati suka dan duka bersama, terutama dukanya. Walaupun Michelle masih “muncul”, tapi sudah sangat jarang sekali. Katty sudah bisa mengingatku dengan baik. Untuk membantu pemulihan dari lukanya, aku sengaja membeli Handycam untuk merekam kisah kami berdua. Dan hasilnya ternyata memuaskan.

Tahukah apa yang paling membahagiakanku? Katty sekarang sudah mampu berjalan lagi. Perlu setahun lebih untuk menyakinkan dia untuk berjalan dan menerima semuanya. Syukur kepada DIA yang selalu memberi kesabaran dan semangat pada kami berdua sehingga akhirnya Katty bisa bangkit kembali.

Katty masih tidak boleh terlalu lama berjalan, karena takut kondisi emosi psikologisnya kecapekkan. Walaupun begitu, dokter yang menangani Katty sangat terkejut dengan perkembangan kami. Dari dunia medis mungkin tidak ditemukan jawaban selain kata tidak masuk akal, tapi bagiku, secara sok tahu, semua bisa terjadi karena CINTA dan tentunya seijin DIA.

12 Oktober, Katty Branson berubah menjadi Katty Anderson. Kulingkarkan cincin berlian biru dijari wanita ini. Kami menikah digereja kecil dikota kami berdua. Kukecup kening wanita yang sangat kucintai ini. berbagai halangan telah kami berdua hadapi. Jutaan rintangan dan air mata telah kami tanggisi. Dan, Katty telah pulih sempurna.

Kulihat mata birunya yang indah. Kuseka air mata yang merembes turun dipipinya. Dia tersenyum padaku, manis sekali. Kubalas senyuman itu dengan sebuah kecupan lagi dikening. Aku tahu dia sangat berbahagia, dan aku lebih tahu aku lebih lebih sangat berbahagia.

Perkenalan secara tidak sengaja disitus pertemanan kini berakhir bahagia dialtar pernikahan. Ibuku menanggis bahagia melihat putra tunggalnya yang tiap hari mengunci diri di kamar bisa menjadi seseorang yang dibanggakan. Ya, aku sekarang berbisnis design yang kualihkan dari hobiku. Kattylah yang memberikan ide itu dan dia juga sangat bersemangat membantuku, suaminya, Mike Anderson.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, aku dan Katty duduk ditepi pantai kenangan. Awalnya aku tidak ingin membawanya karena takut lukanya terbuka lagi. Tapi dia menyakinku dengan senyuman manis dan sebuah kecupan yang hangat dipipiku.

Kami memandangi bulan dan bintang. Kudekap erat wanita disampingku ini. Entah sudah berapa ratus kali aku mengecup kening wanita paling cantik sedunia ini. rambut-rambut putihnya bagaikan senar perak dibawah sinar rembulan. Deburan ombak menambah suasana malam yang penuh keindahan.

“Aku sayang kamu Mike, aku sangat sayang ka..mu…”, kata wanita ini dengan suara yang semakin pelan. Aku mendekapnya makin kuat. Aku telah berusaha menyembunyikan air mataku, tapi semakin kusembunyikan semakin mereka mengalir lancar.

“Aku juga sangat sayang kamu malaikatku..”, kukecup kening wanita ini lagi. “Aku benar-benar bahagia bisa mengenalmu sayang, maafkan aku karena tidak…”, belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, kucium bibirnya mesra. Aku memintanya agar menikmati malam itu. Malam yang sangat membahagiakan itu.

Lalu kurasakan tangannya yang mengenggam erat tanganku mulai lepas. Aku menangkapnya dan kugenggam erat. Aku tidak ingin dia melepaskan tanganku. Kupeluk dia lebih erat lagi. Kurasakan air mataku membasahi pipiku dan wajah cantik wanita ini. wanita yang telah menemaniku selama 20 tahun. Wanita yang memberiku 2 putra. Wanita yang menjadi grandma dari 5 cucuku. Aku memanggil namanya beberapa kali, “Katty sayang, Kattyku…, malaikatku….”.

Ya, Karena kecelakaan dulu yang dialami Katty pada kepalanya, umurnya tidak akan bisa melewati umur 40. Tapi karena keajaiban dari DIA yang bertahta disurga, Katty menemaniku hingga malam ini dengan usia 55 tahun. Semua dokter tidak percaya dengan kenyataan yang terjadi. Tapi aku tahu, sebuah pemikiran yang sok tahu, CINTA kamilah yang membuat keajaiban itu.

Dalam dekapanku Katty berpulang pada-Nya. Dalam pelukanku Katty tersenyum indah dalam “tidur” selamanya. Kukecup berkali-kali keningnya. Kubisiki namanya. Aku begitu bahagia bisa memiliki wanita terindah ini dalam pelukanku. Aku begitu bersyukur dipertemukan dengannya dipantai ini. tidak ada rasa penyesalan dalam hatiku. Aku benar-benar berbahagia…

“Terimakasih Michelle karena kamulah aku mengenal Katty, dan terimakasih sayangku karena “Michellemu” telah mempertemukan kita.. Terimakasihku pada kalian “berdua”.

Aku sayang kamu Katty, dan aku sangat bahagia memilikimu….”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s