Aku tidak akan menikah


Its hurt, but i knew i need it

“Aku tidak akan menikah”, itulah yang kuucapkan saat mengakhiri doaku malam ini. Ya, aku tidak mengada-gada. Aku mengucapkan kata-kata itu juga bukan dalam keadaan sedih atau sedang patah hati. Memang kuakui juga aku beberapa minggu yang lalu putus dengan pacarku Andy yang seorang atlet berbakat. Dan pada malam ini kupastikan kepada kalian aku memang tidak akan menikah.

Aku bukan tanpa alasan mengatakan kata-kata itu bahkan dalam doaku. Cukup sudah aku diberi hadiah pecahan kepingan kaca hati yang berantakkan. Telah lelah aku merangkai kembali pecahan itu dengan perekat saling percaya dan setia. Puas sudah aku mendengar segala pujian dan kata-kata manis yang pada akhirnya menjadi ajang lomba saling menjatuhkan. Aku benar-benar kapok untuk mengenal kata cinta lagi. Biarlah keping-keping pecahan hati itu tergeletak sebagaimana adanya saja. Lelah aku menyusunnya kembali.

Andy Warkonsky, seorang atlet dengan ibu berdarah Asia dan ayah blasteran Rusia-Jerman. Aku mengenalnya saat mengunjungi rumah saudariku yang diluar kota. Perkenalan kami sangatlah biasa, berjabat tangan, saling mengatakan senang berkenalan denganmu dan, selesai.

Baiklah, harus kuakui Andy mempunyai perawakan yang bisa membuat wanita ingin selalu mengandeng tangannya. Kekar dan atletis. Matanya yang seperti zambrud itu sangat mengoda. Rambut dibiarkan pendek sedikit acak-acakan dengan kaos ketat menutupi tubuhnya yang nyaris sempurna.

Saat kami berkenalan aku baru menyadari betapa jangkungnya Andy. Padahal tinggiku sudah 170cm ditambah dengan high heelku 7cm, aku masih harus mengangkat kepalaku saat berbicara dengannya. Tapi y, perkenalan itu hanya sebatas perkenalan saja. Tanpa tawaran mengantar pulang sang putri oleh pangeran, tanpa no HP yang bisa dihubungi.

“Selamat malam Cindy, apakah aku menelpon pada waktu yang tepat”, tanya Andy suatu malam. Setelah beberapa minggu berlalu sejak perkenalan itu Andy menelponku. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan no HPku, yang pasti aku sudah bisa menebaknya.

“Waktunya tepat kok, aku juga baru selesai membersihkan diri”, kataku basa-basi seadanya saja. Aku sebenarnya juga tidak mempunyai kegiatan apa-apa. Jadi tidak ada salahnya jika ada seorang pria yang bisa menemaniku menghabiskan malam. Dan seandainya pembicaraan itu mulai membosankan, aku tinggal beralasan lelah dan menutup telpon.

Jam dinding menunjukkan jam 11 malam. Aku tidak menyangka bahwa aku akan berbicara selama 3 jam lebih dengan seorang pria yang kukenal tidak lebih dari 5 menit pada minggu-minggu sebelumnya. Andy ternyata oranganya cukup menyenangkan dan smart. Dia pandai membawa suasana. Dan sering kali dia membuatku tertawa.

Setelah mengucapkan selamat malam dan selamat tidur, aku menutup telponku dengan senyuman yang manis. “Cindy Benson, sepertinya pria ini tertarik padamu. Dan betapa beruntungnya kamu jika bisa berkencan dengannya. Seorang Atlet yang tampan dan mapan. Seorang pria yang diincar ribuan wanita, dan dia malah mengincarmu”, kataku dalam hati memuji diri sendiri. Yup, Andy memang tertarik padaku. Mengapa aku bisa begitu yakin? Karena saudariku sendiri yang mengatakannya.

“Hmm, sepertinya ini sudah cukup cantik dan menarik”, kataku memuji diri sendiri. Kulihat bayanganku dicermin. Dengan rambut pirang panjang dan bergelombang, aku terlihat bagaikan supermodel dunia. Dengan balutan gaum merah menyala menambah keseksianku. Kupasang lensa mata warna pink untuk menambah poin pada wajahku.

Ting tong. Kudengar bel pintu depan rumahku berbunyi. Setelah menambah polesan bibir aku langsung berlari kecil membukakan pintu. Dengan sebuket ditangannya, Andy terlihat sangat tampan dipadukan jas biru gelapnya. “Selamat malam nona Cindy, mohon terima bunga mawar ini sebagai pelengkap kecantikanmu, walaupun keindahan mawar ini jauh dari keindahanmu malam ini”, sapa Andy sambil tersenyum. Tampan sekali.

Andy menjemputku dan membawaku kesebuah restoran mewah disalah satu sudut kota. Rancangannya begitu indah dengan setiap sudut ruangan dipenuh replika patung-patung yang sangat memanjakan mata. setiap meja ditaburi bunga-bunga dengan warna yang menghibur jiwa. Sungguh luar biasa.

Kami menghabiskan makan malam pada malam itu dengan sangat romantis. Aku merasakan bagaikan seorang putri raja disebuah kerajaan yang indah ditemani seorang pangeran tampan yang menunggang kuda putihnya, lebih tetap mobil dengan logo kuda warna putih. sungguh malam yang tak akan kulupakan.

Seminggu telah berlalu sejak makan malam romantis direstoran mewah itu. Aku dan Andy semakin akrab dan sepertinya kami cocok satu sama lain. Andy yang memang seorang atlet mempunyai jam terbang yang cukup sibuk. Itu dikarenakan Andy harus selalu latihan untuk mempersiapkan pertandingan. Oya, Andy adalah atlet Football.

Hari-hariku sangat indah dilalui dengan pangeran tampan ini. Setiap kali dia menjemputmu untuk makan malam, tak pernah absen dengan bunga ditangannya. Saat kutanya alasannya, dia hanya menjawab bahwa bunga ini mewakili kecantikkanku disertai sebuah ciuman di kening. Aku merasa senang sekali mendapatkan pujian itu, dan tentunya sebuah kecupan juga. Selebihnya? Seperti malam-malam sebelumnya.

“Kak Cindy…, aku mau kamu menemaniku menemui seorang pria”, kata seorang wanita cantik sambil memeluku dari belakang. Tanpa perlu menoleh aku sudah tahu siapa wanita ini. Diana, sahabat terbaikku.”Ada gerangan apa sayang? Pria mana yang menaklukanmu sehingga perlu aku yang menemani juga?”, tanyaku kembali sambil merapikan rambutnya yang sedikit acsk-acakan.

Diana dan aku adalah teman sejak kecil. Persahabatan kami bahkan melebihi persaudaraan. Kami saling menyayangi dan saling mendukung. Diana lebih muda dariku beberapa tahun, dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.

“Dia seorang pria tampan dengan tubuh yang atletis, seperti pangeran kak Cindy yang selalu kakak ceritakan. Aku berkenalan dengannya tadi saat dia mampir ke cafe tempat aku bekerja. Dia memintaku menemuinya nanti malam, tapi aku malu dan secara tidak sadar aku mengatakan akan mengajak kak Cindy”, kata Diana dengan senyuman manisnya yang sa gat mengemaskan.

“Kamu ini…”, kataku sambil meremas hidungnya gemas. “Masa mengajak kakakmu pada kencan pertama, bagaimana seandainya kakak jatuh cinta sama pria itu, nanti kakak bawa pergi lho”, jawabku sambil mengoda Diana. “Iiihhh, kak Cindy genit, geeennniitt….”, balasny sambil mengeluarkan lidahnya. Sejujurnya, tingkah manjanya ini yang membuatku sangat menyayanginya.

Diana memintaku agar menemani hari sabtu malam, dan demi adik kesayanganku itu aku iyakan. Aku bahkan membatalkan janji denga Andy. Untunglah Andy begitu pengertian dan meng-iyakan. Andy mengatakan bahwa dia ada tambahan latihan sebelum pertandingan bulan depan. Aku begitu senang mendapatkan pria yang tampan, mapan dan pengertian. Benarkah demikian? Ternyata kenyataan sebenarnya justru lebih menyakitkan.

Dengan kaos tanpa lengan dipadukan celana jeans ketat warna biru, kutemani adik kesayanganku Diana menemui pria idamannya. Aku memakai pakaian yang santai, dan sekedar informasi saja, justru inilah aku yang sebenarnya. Simple dan seadanya. Kalau bersama Andy aku memakai gaun dan penampilan terbaik karena untuk membuatnya bangga dan memang permintaan Andy juga.

Diana menjemputku dengan mobil mininya. Dengan kaos dan celana jeans ketat biru juga. Aku dan dia saling berpandangan hampir tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Kami tidak janjian, tapi kami malah berpakaian kompak sama. Selang beberapa detik aku dan Diana saling tertawa dan berpelukan.

Dalam perjalanan kami saling bercerita dan membanggakan pria yang kami kencani. Ternyata pacarku Andy dan pria yang akan dikencani Diana mempunyai beberapa karakteristik yang sama. Jangkung dan atletis. Tampan dan mapan. Bedanya dari cerita Diana adalah Andy dan George – pria yang akan dikencani Diana – berkumis tipis.

Kuminta Diana memarkirkan mobilnya disebelah mobil box depan café. Lalu kamipun keluar dan memasuki café itu. Suasana malam yang cukup penggap membuatku ingin cepat-cepat menenggak minuman dingin untuk melegakan tenggorokanku. Kuminta Diana memesankan Lemeon tea untukku sambil berlalu ke kamar kecil untuk merapikan tatanan rias wajahku.

Saat kembali dari kamar kecil kulewati koridor café dan secara tidak sengaja kulihat sebuah mobil yang sudah tidak asing bagiku dari dalam café. Sebuah mobil putih dengan logo kuda berdiri memamerkan keperkasaannya. “Bukankah itu mobil Andy?”, tanyaku dalam hati. Tapi aku menepis pemikiran itu.

Tidak mungkin Andy ada disini. Tadi dalam telpon dia sudah memastikan bahwa dia diluar kota mengikuti latihan tambahan klub Footballnya. Dan lagian mobil itu bisa dimiliki siapa saja bukan? Kataku dalam hati sambil berjalan kembali ketempat dimana meja aku dan Diana duduk.  Disana duduk seorang pria sedang menemami Diana. Diana melihatku dan memanggilku bergabung. Pria ini menoleh kebelakang. Tampan, mapan, jangkung dan ateltis. Seorang atlet, klub Football dan berkumis tipis. Namanya George. Tapi, saat bersamaku namanya Andy. Ya, aku tidak salah lihat. Itu adalah Andy, dan juga George. Orang yang sama.

…..

“Sayang, sepertinya aku tidak enak badan, aku pulang duluan ya. Maaf banget karena tidak bisa menemanimu malam ini”, kataku mencoba mencari alasan. Sebelumnya kupanggil Diana agar menghampiriku. Diana menawarkan mengantarku pulang, tapi kutolak dengan tegas dengan alasan tidak sopan meninggalkan seseorang  yang sudah janji ketemuan.

Aku tidak tahu kenapa aku begitu tegar – mungkin terlalu bodoh – tidak mengatakan bahwa pria itu adalah Andy, pria yang selalu kubanggakan. Pria yang selalu kuceritakan. Pria yang menemaniku setiap malam. Dan pria itu adalah kekasihku.

Dengan linangan air mata aku berjalan menelusuri gelap malam. Sebelum jauh dari café itu, aku sempat mencuri pandang dari kejauhan Diana dan George yang sebenarnya Andy berbincang-bincang. Mereka terlihat begitu  mesra. Aku merasakan hatiku sesak. Sangat sesak dan sakit. Ingin rasanya aku marah dan mencaci maki setiap orang yang lewat dan melihatku.

Lalu bagaimana George atau Andy tidak melihatku? Karena saat dia menoleh padaku, aku entah mengapa spontan langsung menutupi wajahku dengan tasku seakan-akan pusing. Dan aku yakin George atau Andy tidak akan mengenaliku, karena dia tidak pernah melihatku memakai pakaian simple seperti malam ini. Kalau dia mengetahuiku pasti dia akan mengejarku dengan ribuan alasan pria.

“Cindy Benson, kamu adalah wanita terbodoh yang pernah ada”, itulah yang kukatakan pada diriku sendiri. Ya, aku mungkin sangatlah bodoh sebagai wanita. Sudah tahu kekasihnya didepan  mata sedang main hati dengan wanita lain, sahabatnya sendiri lagi, aku malah pergi membiarkan mereka. Aku tidak pantas untuk membela diri dengan alasan apapun, tapi, inilah aku yang begitu menyayangi Diana. Aku tidak tega melihatnya kecewa. Aku lebih memilih sakit yang luar biasa sakitnya asal Diana bisa tertawa.

Cukup! Kumohon cukup mengadiliku dan menjatuhkanku. Aku tahu kalian pasti berpikir betapa bodohnya aku, dan aku menyadari itu. Kumohon jangan menasehati apa-apa padaku lagi, aku hanya perlu waktu untuk diriku sendiri. Angin malam yang sejuk tidak kurasakan lagi. Rasa sakit hatiku telah memanaskan tubuhku yang mengigil kedinginan.

Prang…!! Suara piring pecah berantakan dilantai. Saking begitu kecewanya dan sakit hati ini, aku melampiaskan pada benda-benda yang mudah kupecahkan. Dapurku terlihat sangat berantakan oleh kepingan pecahan barang pecah belah itu. Benar-benar sangat mirip dengan kondisiku, hatiku. Tanganku terlihat bercak-bercak darah yang mulai mengering. Ya, aku hendak mengakhiri hidupku. Tapi aku tidak mempunyai keberanian untuk melakukan hal itu.

Kubuka lagu dari music playerku dengan suara yang cukup keras sehingga tetangga sebelahku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku benar-benar ingin menyendiri. Aku ingin melupakan kejadian yang kulihat dicafe tadi. Aku berdoa semoga ini hanya mimpi. Tapi sebagaimana aku menyangkal nya, semua yang terjadi itu kenyataan yang harus kuterima.

Aku tertidur karena kelehan. Lagu yang kuputar pun sudah mencapai track terakhirnya. Dengan tubuh melengkung kedinginan aku tergeletak lelah disofa ruang tamu. Aku masih menanggis dalam tidurku. Disekelilingku terlihat koyakan lembaran-lembaran foto kenanganku bersama dengan Andy. Suasana apartemenku tidak kalah dengan gempa kecil yang baru saja terjadi.

Dengan mata yang masih berat aku membuka mataku saat mentari pagi menyapa. Aku memaksakan diri untuk bangun, tapi aku merasa pusing dan kecapekan. Dalam kepalaku banyak sekali yang kupikirkan. Dari pria yang brengsek itu sampai keributan serta kerusakan yang aku timbulkan. Kucoba menelusuri melihat seisi ruanganku. Rapi. Tidak ada pecahan piring. Tidak ada lembaran foto yang terkoyak. Justru secangkir kopi susu hangat diatas meja. Dan aku baru menyadari, aku sedang memegang jaket dipundaku.

Aku mengucek mataku, aku kira aku masih setengah sadar. Kulihat jaket yang kupegang. Bukan jaketku. Lagian aku tidak punya jaket. Kulihat kembali dapurku. Bersih dan rapi. Apa yang terjadi? Apakah ada malaikat yang diutus DIA yang tersentuh dengan kesedihanku dan turun kedunia merapikannya untukku? Ataukah apa penyihir baik hati yang membereskannya dengan tongkat sihir? Tidak mungkin. Ini dunia nyata, bukan dongeng yang dibuat manusia.

Aku kembali keruang tamu untuk mencari misteri yang baru saja terjadi. Tidak kudapatkan apapun. Foto-foto yang telah kukoyak tersusun rapi diatas album fotoku. Tapi foto-foto itu tidak direkat kembali. Hanya tersusun rapi begitu saja. Lalu kulihat dibawah cangkir kopi susu hangat diatas meja terselip selembar kertas. Kuambil kertas itu dan kubaca.

“Selamat pagi nona, saat kamu membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi disana. Sebelumnya maafkan aku karena telah membuatmu bingung. Aku tahu kamu pasti bingung dengan apa yang kamu lihat setelah kamu bangun. Semua yang berantakan itu telah aku punggut dan bereskan, dan aku meminta maaf karena tidak meminta ijinmu dulu”.

“Semalam aku samar-samar mendengar suara pecahan barang dan teriakan seorang wanita. Kebetulan aku pulang dari bekerja dan penasaran. Lalu kucoba menunggu dan setelah lebih tenang kuintip kedalam apartemenmu dan aku begitu terkejut. Aku kira terjadi perampokan dan kucoba masuk pelan-pelan, lalu kudapati kamu telah terlelap dengan air mata yang membasahi bajumu”.

“Melihat lembaran foto-foto yang tergeletak dilantai dan terkoyak, aku bisa memastikan bukan perampokan yang terjadi, tapi hatimu yang terkoyak-koyak. Aku juga meminta maaf karena  foto-foto itu aku kumpulkan dan rapikan kembali karena aku takut kamu melakukannya karena pertengkaran biasa saja dan nantinya akan mengumpulkan kembali. Aku meminta maaf jika aku telah berani dan keterlaluan mencampuri urusan pribadimu”.

“Hanya sebuah kata-kata dari pria sederhana yang sok mencoba memberi nasehat bijak, pelangi terindah selalu muncul saat badai paling besar, dan sekarang kulihat kamu baru menghadapi badai yang besar. Itu terlihat dengan banyaknya pecahan piring dan barang lainnya. Tapi percayalah, pelangi itu akan muncul saat kamu telah melangkahkan hatimu keluar dari badai itu. Saat kamu membaca kertas ini, aku meminta maaf sekali lagi. Sekarang lupakan sebentar badai itu dan cicipi kopi susu ala kadar buatanku, semoga kopi susunya masih hangat”.

Entah kenapa aku merasa lega setelah membaca kertas ini. Aku tidak mengenal siapa pria ini. Yang aku tahu kata-katanya cukup menghiburku. Aku meletakkan kembali kertas itu. Kuambil dan kucium kopi susu itu. Harum dan masih hangat, sehangat mentari pagi itu. Aku mencicipinya dan hmmm, manis.

Sudah beberapa bulan sejak kejadian itu. Aku dan Andy pun tidak pernah pernah berjumpa lagi. Dan aku yakin Andy tidak akan berani lagi menjumpai aku. Sebelumnya Andy ada datang mencariku dengan muka tidak berdosa. Dia mengajakku keluar makan malam seperti biasanya, aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa mengiyakannya. Dan aku mempermalukannya direstoran favorit kami, dulu.

Sejujurnya itu bukan ideku, tapi ide Diana. Setelah malam yang menghancurkan hatiku itu, besoknya Diana langsung menemuiku. Awalnya kukira dia hanya sekedar menjengukku karena sebelumnya aku mengatakan bahwa tidak enak badan dan pulang. Ternyata Diana mengetahui bahwa George atau Andy adalah seorang playboy, dan dia adalah kekasihku.

Saat dicafe malam itu, George atau Andy tidak sengaja meninggalkan HP nya diatas meja dan kekamar kecil. Karena iseng Diana mengambil HP itu dan ingin bermain-main sebentar. Alangkah terkejutnya Diana karena wallpapernya ada foto aku bersama dia. Langsung saja Diana naik darah dan mengerti kenapa aku pulang dengan alasan tidak enak badan.

Karena begitu sayangnya Diana padaku, dia merencanakan ingin membalas pria ini berkali-kali lipat. Awalnya aku kurang setuju karena menurutku yang berlalu biarlah berlalu. Tapi memang Diana yang pada dasarnya agak keras kepala, dia mengatakan padaku akan melakukannya sendiri kalau aku menolak. Sejujurnya aku juga ingin membalas sakit hatiku, tapi aku juga masih menyimpan perasaan padanya.

Pada hari H yang ditentukan Diana, aku dijemput Andy kerestoran  mewah tempat favorit kami. Andy tidak tahu bahwa aku sedang berpura-pura mengikuti skenarionya, padahal kami juga merancang scenario kami.  Scenario pembalasan yang sangat memalukan. Aku tersenyum sangat manis memikirkan hal itu.

Kami memesan makanan favorit kami. kami memesan anggur kegemaran kami. Aku tersenyum manis padanya. Dia mengecup pipiku. Aku tersenyum lagi, bedanya senyumku malam itu adalah senyum jahat yang  mempesona mata pria brengsek dihadapanku ini.

“Kring…”, terdengar bunyi HP dengan nada dering suara telpon klasik. Kulihat Andy melihat HPnya dan langsung dimatikan. Kutanya siapa yang menelponnya, dia cuma mengatakan hanya seorang teman dan tidak penting. Kutanya mengapa tidak diangkat, dia mengatakan tidak ingin orang lain menganggu acara makan malam romantis kami. Aku tersenyum padanya. Aku tahu siapa yang menelepon kog kataku dalam hati.

“Kring…, Kring….”, HP Andy berbunyi lagi. Sekarang aku sedikit memaksanya agar mengangkat telpon itu. Aku sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana reaksinya jika rencana kami dijalankan.  Dengan enggan Andy mengangkat telpon itu, kulihat dia sedikit kikuk bicara didepanku. Lalu sesuai scenario kami, Andy meminta waktu untuk keluar sebentar dengan alasan kurang jelas suaranya. Aku cuma tersenyum saja.

Belum sempat dia membalikan badannya, Diana sudah menghalanginya. Andy terlihat begitu terkejut. Diana melihat kearahku dengan tatapan yang garang. Aku juga membalasnya. Lalu dengan wajah penuh kemarahan itu Diana mengambil gelas yang diisi anggur itu dan menuangkannya pada Andy. Sontak saja semua mata memandangi kami.

Andy berusaha menenangkan Diana, tetapi Diana membiarkannya dan berjalan menghampiriku. Andy terlihat kalang kabut mencoba menahan Diana. Andy takut kami bertengkar dan mempermalukan dirinya disana. Aku berdiri dari kursiku dan melihat Diana. Mata kami saling beradu tajam. Andy mencoba memisahkan kami. Kulihat para pelayan restoran dan para tamu yang hadir malam itu hanya diam menyaksikan film cinta segitiga skenario kami.

Andy dengan muka pucat meminta kami duduk bicara baik-baik, Diana menepis tangannya. Lalu dia mengajakku keluar untuk “menyelesaikan” kisah cinta segitiga itu. Aku mengiyakan sambil merapikan gaunku seakan-akan siap bertempur. Andy meminta pelayan restoran menahan kami berdua. Hanya dengan tatapan kami berdua yang tajam, pelayan restoran itu langsung mundur tanpa perlu diminta. Andy langsung meminta maaf dan memohon agar kami jangan bertengkar. Dia bertanya apa yang harus dia lakukan agar kami bisa memaafkannya. Aku dan Diana tersenyum padanya.

PLAK! PLAK! Dua kali tamparan mendarat diwajahnya. Satu kali kuberikan pada pipi kanannya, satu kali diberikan Diana dipipi kirinya. Lalu dengan tingkah manjanya Diana mengandeng tanganku. Andy terlihat bingung. Bukankah kami tadi hampir berperang? Dengan ciri khasnya kalau Diana sedang marah tangannya dikepalkan ditujukan pada Andy.

“Kamu mungkin bisa menipu wanita lain dengan segala kelebihan fisikmu, dan aku yakin cukup banyak wanita yang kamu taklukan dengan kelebihanmu itu. Tapi, aku bukanlah wanita yang buta akan KELEBIHAN FISIK PRIA dan MATERI YANG MENYERTAINYA. Saat kamu telah menyakiti sahabatku, walau seujung rambutnya, apapun KELEBIHANMU, seberapa KAYANYA dirimu, kamu telah MENJADI MINUS SERIBU dimata kaumku. Hanya mereka yang “buta” yang akan tetap mempertahankanmu”.

Aku dan Diana berlalu dengan perasaan bangga dan wah dari restoran mewah pada malam itu. Semua mata memandangi kami. Bukan pandangan meremehkan, tapi justru sebailiknya. Kulihat beberapa wanita tersenyum penuh arti pada kami, dan hanya kaum kami para wanita yang tahu apa arti senyuman itu. Kulihat juga beberapa pria memberi tepukan tangan kecil tak bersuara pada kami. Aku membalas mereka dengan senyuman termanisku. Aku sangat puas.

“Apakah kamu bersedia menerima pria ini sebagai suamimu dalam keadaan sehat dan sakit, suka dan duka sampai maut memisahkan kalian berdua?”, tanya Pastor yang memimpin upacara pernikahan kami. Kupandangi wajah pria tampan dihadapanku ini. Pria yang selalu menghiburku. Pria yang selalu ada untukku. Pria yang dengan sabar mendengar keluh kesahku. Pria yang menanggis untukku. Pria yang menyediakan kopi susu hangat dipagiku.  Pria yang merapikan “gempa kecil” diapartemenku. Dan pria ini adalah suamiku.

Yup, aku tahu kalian pasti terkejut mengapa aku menikah. Padahal aku telah berjanji tidak akan bernikah bukan?!. Sejujurnya aku sudah berusaha menepati janjiku dan melupakan cinta semua kaum laki-laki didunia ini. Mau supermodelkah, mau miliyunerkah, mau artiskah, mau pelayan restorankah, mau si A kah, mau si B kah, semuanya kutolak, apalagi yang atlet.

Lalu bagaimana ceritanya aku bisa menikah dengan pria tampan yang dihadapanku ini? Sejujurnya aku juga tidak tahu, tapi yang aku tahu bahwa DIA tidak menginjinkan aku untuk tidak menikah. Kok bisa begitu?

Sejak aku berpisah dan tersakiti berkali-kali oleh pria – dan oleh Andy yang kesekian kalinya, aku mencoba menawarkan diri menjadi  biarawati melalui surat yang dikirim pada sebuah rumah ibadah. Tapi anehnya aku justru mendapatkan sebuah surat yang menasehatiku agar mencari pendamping hidupku. Padahal dalam suratku aku tidak menulis  tentang apa penyebab aku ingin menjadi biarawati.

Dan, ini ternyata terjadi sampai 3 kali dari 3 surat yang kukirim pada alamat yang berbeda-beda. Awalnya aku sendiri sangat bingung kok bisa hampir sama jawabannya. Lalu surat itu kuperlihatkan pada Diana, hasilnya, aku kena semprot dengan linangan air mata adik kesayanganku itu selama berjam-jam.

Aku dimarahinya habis-habisan kenapa aku bisa menjadi selemah itu hanya karena seorang pria. Karena aku tidak tahan Diana yang begitu sedih dan menanggis, kupeluk dia dan kukatakan padanya aku tidak akan menjadi biarawati, tapi aku tidak berjanji bahwa aku membatalkan janjiku bahwa aku tidak akan menikah. Tentu saja Diana tidak tahu apa yang kupikirkan.

Lalu bagaimana kisahnya cincin cantik nan indah ini melingkar dijari manisku pada hari ini? sederhana sekali. Aku bertemu pria ini ternyata bukan sekali. Tapi berkali-kali. Pria tampan yang berdiri dihadapanku ini sebenarnya adalah tukang bersih-bersih diapartemen yang aku tinggali. Aku begitu mengenalnya – tapi secara luarnya saja.

Awalnya aku tidak tahu bahwa pria inilah yang merapikan apartemenku. Dia bahkan tidak pernah menyinggungnya sedikitpun. Dia hanya selalu tersenyum padaku saat berpapasan denganku. Lama kelamaan senyum itu membuatku luluh dan menanyai namannya. Lama kelamaan memanggil namanya membuatku mengundangnya. Lama kelamaan mengundangnya membuatku mengajaknya kencan. Dan lama kelamaan kencan dalam setahun itu dia melamarku dengan cincin hasil tabungannya. Terlalu sederhana? Aku tidak tahu. Yang aku tahu aku kini sudah menikah.

Tahukah kenapa aku bisa menerima lamarannya? Dan mungkin ada yang bertanya apakah aku tidak malu menikah dengan pria dengan status rendahan itu? Sebelum aku menjawabnya, ijinkan aku mengatakan ini, jika kalian menilai seseorang dari statusnya, maka aku akan jadi orang pertama yang menamparmu. Bukan karena aku membenci kalian, tapi aku justru ingin menyadarkan.

Sebelum pria ini melamarku, aku sempat terjatuh sakit karena kecapekkan bekerja dikantorku. Aku demam dan mengambil cuti kerja selama seminggu. Pria ini menjagaku setiap malam tanpa absen. Dan, tahukah apa yang kusadari waktu bangun pagi? Ya, secangkir kopi susu hangat sama seperti pertama kali dia membuatkanku saat hatiku hancur berkeping-keping. Sisa ceritanya, kalian bisa menebaknya.

Kupandangi kembali pria paling tampan ini. Rambut pendek, tubuh sedikit berisi. Tingginya hanya 168cm. Aku sengaja memakai sepatu dengan tapak rendah untuk mengimbanginya. Kupandangi dalam-dalam bola mata birunya yang seindah angkasa. Seorang tukang bersih-bersih, seorang pria yang membersihkan pecahan keping-keping piring pecah dan kepingan hatiku. Seorang pria yang membersihkan segala noda-noda kecewaku, sakit hati dan luka. Seorang pria yang dipandang rendah oleh wanita lainya karena status yang tidak bisa dibangga, tapi, justru hatinya adalah berlian bersinar paling indah.

Aku begitu bangga memiliki pria ini. Aku begitu bahagia dia melingkarkan cincin dijari manisku. Dan aku begitu terpesona oleh semua keindahannya. Akhirnya aku sadar, saat kita terluka karena dilukai ataupun dikhianati, hati kita memang pecah berkeping-keping. Dan seberapa rajinnya kita merekat kembali kepingan itu, perekat itu tidak akan bertahan lama. Kenapa? Karena kita yang merekatnya sendiri masih terluka.

Tapi, saat kita menemukan seseorang yang mencintai kita apa adanya, yang peduli karena benar-benar peduli pada kita, yang perhatian saat kita tertawa dan terluka, maka kepingan hati yang berantakan itu akan tersusun rapi dengan sendirinya. Dan perekatnya? Itu adalah cincin yang nantinya melingkar manis dijarimu.

Sebuah kecupan yang sangat mesra mendarat dikeningku. Mukaku merona merah setiap kali pria ini mencium keningku. Aku juga tidak tahu kenapa, padahal entah sudah keseribuan berapa kali dia mengecupku. Kupeluk erat pria yang telah menyadarkan aku betapa indahnya yang namanaya cinta itu. Semua luka masa lalu sirna menguap bersama angin sejuk yang menerpaku.

Lalu kudengar musik dimainkan. Semua tamu undangan berdiri dan memasuki area taman tengah. Aku berlari kecil ketengah taman itu juga. Kulihat Diana dijemput seorang pria tampan dari tempat duduknya. Dia tersenyum padaku. Aku tahu apa maksudnya. Lalu dari sana kulihat kekasihku, suamiku masih didepan altar pernikahan kami. Kulambaikan tanganku padanya.

“Sayang, sini dong, temani aku berdansa”, kataku manja dengan mengedipkan sebelah mataku padanya. Dia hanya tertawa kecil dan berlari kecil kearahku. Diciumnya tanganku selayaknya pangeran dalam dongeng-dongeng dunia. Dilingkarkan tanganya pinggulku dan kami mulai berdansa.

Ya, aku telah menemukan pangeranku. Pangeran dari negeri “jelata” yang dijauhi oleh putri-putri raja. Batu yang dibuang karena lumpur yang membungkusnya. Tapi, ternyata itu bukan batu biasa, melainkan berlian surga yang sengaja disimpan DIA untuk diriku saja. Kami menari dengan penuh canda tawa. Kami berdansa dibawah birunya angkasa. Kukecup pria tampan yang menemaniku berdansa ini.

Kupandangi altar pernikahan kami dari jauh dengan huruf-huruf besar bertuliskan “Mike Arc En Ciel & Cindy Benson”. Kupandangi angkasa yang biru cerah dengan pelangi diatasnya. Tidak ada badai, tapi pelangi terbentang indah bagaikan pintu gerbang surga. Aku tersenyum melihat pelangi itu. Aku teringat kembali apa yang ditulis oleh pria ini dikertas saat aku terluka dulu. Kukecup kembali pria yang menemaniku berdansa ini. Oya, tahukah kalian apa arti nama belakang Mike yang  “Arc En Ciel“ itu? Hehe.. kalian cari sendiri digoogle saja ya. Mike memandangiku dengan mesra, dan, “CUP….”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s