Seminggu dinegeri ginseng Korea


One week with love in Korea

“Selamat pagi nyonya Kevin, apa kabarnya? Nyonya Kevin terlihat berbeda pagi ini”, kata seorang wanita muda dengan senyum manisnya. “Ah, kamu bisa saja. Apa yang berbeda denganku?”, balas wanita setengah baya dengan penampilan yang cukup menarik bernama nyonya Kevin.

“Hmm, nyonya memakai lipstick pink baru ya? Cocok banget lho dipadukan riasan nyonya Kevin”, puji wanita muda ini dengan sebuah senyuman yang manis lagi. “Iya, kamu memang mempunyai mata yang jeli. Apa benar aku cocok dengan lipstick pink ini? aku sempat ragu karena usiaku tidak muda lagi dan aku takut malah menambah nilai minus pula”, jawab nyonya Kevin sambil berkaca pada kotak diriasan ditangannya.

“Nyonya Kevin.., anda semenarik ini masih merasa ragu? Lalu bagaimana dengan aku yang tanpa riasan, rambut diikat ekor kuda dan baju seragam putih hijau begini?’, kata wanita muda ini sambil berputar memperlihatkan baju seragamnya dengan logo buah apel dibagian dadanya.

“Ah, bisa saja kamu. Mulut manismu itulah yang membuat toko ini ramai. Berikan aku 2kg apel merah itu”, kata nyonya Kevin sambil memgambil apel itu dan dimasukan ketrolinya. “Terimakasih nyonya Kevin yang cantik dan baik”, balas wanita muda ini sambil memeluk nyonya Kevin. Mereka saling tertawa kecil dan nyonya Kevin pun berlalu kekasir.

Nama wanita muda itu adalah Cynthia. Dengan tinggi sekitar 165cm dan bentuk tubuh padat berisi. Rambut pirangnya diikat model ekor kuda dengan poni depan terurai rapi. Usianya sekitar 26 tahun jalan. Serorang wanita yang ceria dan sedikit ceroboh. Ya, wanita itu adalah aku.

Aku adalah seorang pelayan yang menjaga stand  buah-buahan disebuah supermarket besar dikota aku tinggal. Kehidupanku sangatlah biasa, mulia bekerja jam kerja 09.00 pagi sampai 20.00 malam. Setelah itu pulang dan menghabiskan sisa waktu malam dengan melihat film-film Korea kesukaanku. Kalau rajin aku akan mengajak teman-temanku hang out bersama-sama dimall. Setelah itu pulang lagi dan tidur. Besoknya mengulang hari kemarin.

2 tahun sudah aku bekerja disupermarket ini. Dan harus kuakui aku merasa jenuh juga dengan rutinitas ini setiap hari. Apalagi aku orangnya tipe yang tidak bisa melakukan sesuatu berlama-lama alias cepat bosan. Lalu bagaimana aku bisa bertahan selama 2 tahun disini.

Tak lain dan tak bukan adalah karena bos tempat aku bekerja belum mengijinkan aku pergi. Bukannya sombong, stand yang aku jaga adalah stand yang paling ramai. Bukan karena aku pandai atau cantik atau menarik dan atau lainnya, tapi karena aku yang suka bergaul dengan siapa saja sehingga mengenal banyak pelanggan. Dan untunglah mereka ternyata sangat menyukaiku.

Aku mempunyai sebuah kebiasaan memuji orang dan ceplas-ceplos. Tapi aku paling benci orang yang memuji karena ada maksudnya. Aku selalu memuji orang kalau orang itu mempunyai sesuatu untuk dipuji dan memang pantas dipuji. Contohnya adalah nyonya Kevin. Dia sangat menarik dan cantik dengan polesan lipstick pink dibibirnya itu. Dia kelihatan sexy.

Ya, ya, ya. Aku tahu apa yang ada dikepala kalian. Kalian ingin mengetahui kehidupan asmaraku bukan? Dengan sejujur-jujurnya, aku baru ditinggalkan oleh pacarku setelah 4 tahun bersama dengan alasan yang sudah sangat umum. Ya, alasan orang tualah, alasan mengambil pendidikan lagilah, alasan bekerjalah dan bla bla bla. Dengan muka sedih pacarku – mantanku – mengatakan aku lebih pantas mendapatkan yang terbaik. Dan itu terjadinya hari rabu 6 bulan yang lalu.

Merasa simpati padaku? tidak perlulah, aku sudah melupakan hal itu – walaupun kadang malam masih menanggis mengingatnya. Aku mempunyai prinsip tidak akan terhanyut dalam kesedihanku. Dunia ini terus berputar dan dunia tidak menunggumu untuk mengasihi dirimu sendiri. Matahari tetap terbit dipagi hari dan bulan tetap mengoda bintang dikala malam.

“Cynthia, tadi aku membeli barang elektronik disebelah stand sana. Kebetulan ada promosi dan suamiku membeli TV LCD baru. Kami mendapatkan voucher undian satu lembar ini. Karena kami tidak memerlukannya, jadi kuberikan padamu saja”, Kata nyonya Richard sambil memberikan voucher undian itu. Aku terdiam memandangi wanita cantik ini didepanku.

“Tapi kenapa harus aku?”, tanyaku bingung sambil melihat voucher undian itu dengan angka besar berrtuliskan 701. “Karena disini yang kukenal hanya kamu, dan kamu telah banyak membantu aku beberapa hari yang lalu saat aku membawa banyak belanjaan sambil menunggu mobil jemputan suamiku”, kata nyonya Richard sambil tersenyum. Manis sekali.

Aku hanya tersenyum padanya dan mengucapkan terimakasih. Sejujurnya aku tidak pernah mengharapkan apa-apa dari pelangganku. Aku membantu mereka karena mereka memang perlu bantuan. Lalu voucher ini, aku pesimis aku bisa jadi pemenangnya walaupun untuk hadiah hiburan saja. Kubaca voucher itu dengan hadiah utama liburan selama seminggu di Korea dengan hotel berbintang lima ditanggung penuh. Undian diadakan pada jam 18.00. Cukup menarik.

Jam dinding menunjukkan jam 17.50. Kulihat keramaian telah berkumpul di stand elektronik itu. Ya, pemilik stand akan mengadakan undiannya. Kurogoh kembali kantongku. Kuambil dan kulihat voucher undian yang diberikan nyonya Richard. “701…”, gumamnku pelan.

“Apa itu Cynthia? Voucher belanja ya?”, tanya Mellisa sambil merebut voucher itu dari tanganku. Aku sedikit terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu. “Voucher undian? 701? Memangya kamu beli apa tadi?”, tanya Mellisa bingung sambil mengembalikan voucher undian itu. Yup, tentu saja dia bingung. Mellisa adalah sahabat baikku dan dia tahu banget bahwa aku ini paling buta soal teknologi dan elektronik.

“Bukan punya aku Lis, nyonya Richard yang memberikannya padaku. Ya aku terima saja, kan tidak enak menolak kebaikkan orang, lagian siapa tahu aku dapat hadiah utamanya”, kataku sambil bercanda disertai tawa Mellisa. Dan kudengar namaku disebut.

“Plok..plok…plok…”, terdengar suara gemuruh tepuk tangan yang meriah. “Selamat nona Cynthia, anda menjadi pemenang utama pada malam ini, dan anda berhak mendapatkan kesempatan untuk menikmati liburan di Korea selama seminggu dengan menginap dihotel bintang lima. Semua biaya ditanggung penuh oleh panitia”. Aku hanya bisa melonggo tanda tidak percaya.

Akhirnya setelah memohon dengan segala upaya, aku diberi ijin oleh bosku untuk mengambil cuti seminggu untuk menikmati liburanku ke Korea – lebih tepatnya liburan dari voucher undian berhadiah. Malam ini aku begitu senangnya sehingga lupa mandi dan makan hanya sekedar memilih baju yang akan dibawa besok pagi. Aku bahkan membeli 2 stelan baju baru untuk menemaniku liburan, ke Korea.

“Tittittt…tittiitt….”, alarmku berbunyi membangunkanku. Kumatikan alarm itu dan langsung menuju kamar kecil membersihkan diri dan sarapan. Padahal jika hari-hari biasanya, aku biasa membiarkan tubuhku tertidur sebentar lagi dengan alasan masih pagi dan malas meninggalkan kamarku. Tapi pagi ini beda, ada sesuatu yang bergairah membuatku ingin segera meninggalkan kamarku.

“Tolong antarkan aku kebandara A”, kataku pada sopir taxi yang sudah kupesan dari kemarin. Dengan sebuah pijakan gas kami langsung meluncur kebandara yang kukatakan. Dalam perjalanan kesana aku menelpon Mellisa. Aku tanya padanya dia ingin oleh-oleh apa saat aku pulang nanti. Dan Mellisa meminta tanda tangan artis sambil bercanda. Aku juga iyakan dan malah kukatakan aku akan membawa artis itu pulang sekalian.

Mataku terbelalak. Mulutku melonggo. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat. Bandara yang begitu luas. Taman yang begitu asri. Udara yang begitu segar, dan jalanan yang begitu bersih dan rapi. Aku memang sering melihatnya di film-film Korea kesukaanku. Tapi baru kali aku melihat langsung dengan mataku. Sungguh berbeda. Ya, aku telah tiba di Korea.

Dari kejauhan kulihat seorang pria berpakaian rapi mendatangiku. Cepat-cepat kuambil kamus dari tasku. Aku begitu kikuk jika harus berbicara bahasa Korea. Aku memang sedikit banyak bisa memahami bahasanya – karena keseringan nonton film Korea, tapi aku sama sekali buta cara mengucapkannya apalagi tulisannya.

“Apakah nona yang bernama Cynthia?”, tanya pria tampan ini berbicara bahasa Inggris. “Y..ya..”, jawabku sedikit terbata-bata. “Kalau begitu mari kuantar nona ke tempat penginapan yang telah dipesankan untuk nona”, katanya ramah sambil menawarkan diri membawa barang-barangku. Kuucapkan terima kasih sambil mengikutinya ke taxi mewah hotel tempat aku menginap.

“Hmmpphhh…”, kurebahkan diriku dikasur empuk hotel tempat aku menginap. Kuberjalan kearah jendela kamarku. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Dengan ketinggian seperti ini aku hampir bisa melihat seluruh kota. Kulihat gedung-gedung tinggi dengan model yang sangat futuristik. Disekelilingnya terdapat taman-taman yang sangat indah. Ya, Korea terkenal dengan slogannya yang Go Green!

Aku begitu kagum dengan pemandangan dari kamarku itu. Aku membalikkan tubuhku menikmati ruangan kamar yang aku tempati. Luas kamarnya saja sudah seluas apatermen kecilku. Kutelusuri kamar mandinya. Mewah sekali dengan sebuah bak mandi rendam, disetiap sudutnya dihiasi pahatan sempurna malaikat-malaikat kecil. Aku mencubit pipiku untuk memastikan bahwa aku sedang tidak bermimpi. Dan aduh, ternyata sakit. Seorang pelayan menempati hotel berbintang lima? Dari voucher undian lagi? aku tertawa sendiri mengingatnya.

Setelah menghabiskan makan malamku, aku langsung bergegas meninggalkan restoran hotel yang sangat indah itu. Aku sedang tidak ingin mengagumi restoranku. Aku ingin segera melihat keindahan kota Korea yang terkenal akan keindahannya pada malam hari. Kuambil tasku dan kupakaikan syalku pada leher agar tidak kedinginan.

Amazing! Hanya satu kata untuk menggambarkan taman tempat aku berdiri sekarang. Disekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon hijau nan rindang. Ditengah-tengah taman berdiri sebuah kolam dengan air pancur yang sangat indah. disetiap sudut kursi taman dihiasi bunga-bunga mawar berwarna-warni. Jika aku boleh menjelaskan dalam bahasaku, aku sedang berada disurga dunia.

Kulihat jam besar dengan model antik yang berada ditengah taman. Jam 22.00. Tidak terasa aku telah menghabiskan waktuku selama berjam-jam disana. Dengan perasaan puas dan senyuman lebar aku berjalan kembali kehotelku. Saat baru melewati air pancur ditengah taman, secara tidak sengaja aku ditabrak seorang pria yang sedang berlari.

“Aduhh”, keluhku sambil terjatuh. Aku mencoba bangun dan siap-siap untuk memarahi pria  yang menabrakku ini. Ketika aku berdiri kulihat pria ini memakai kacamata hitam dengan penutup mulut. Aku tidak habis pikir, malam begini masih ada orang yang memakai kacamata hitam? Dan bukan hanya kacamatanya yang hitam saja, jaket dan topinya juga hitam.

Tiba-tiba pria ini langsung menangkap tanganku. Dan, “PLAK..!!”, sebuah tamparan langsung kulayangkan pada wajahnya. Sejujurnya aku begitu takut dan terkejut dengan penampilan pria ini. Karena menurutku sangat mencurigakan. Tapi pria ini bukannya mundur, dia malah menangkap tanganku dan menutup mulutku dengan satu tangannya lagi. lalu aku diseretnya kesebuah pohon besar tidak jauh dari taman. Aku mencoba berontak tapi kalah tenaga.

“Ya Tuhan, mengapa ini terjadi padaku?”, batinku. Aku tetap berusaha berontak, tapi memang sial, tenaga pria ini lebih kuat. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku. Jauh-jauh dari negeri seberang lautan datang hanya untuk disekap disini? Kalau ini memang rencana-Nya yang diatas, walaupun menakutkan aku pasrah saja.

Dibawah pohon sebelah bangku taman itu aku disembunyikan. Kulihat keramaian orang sedang berlarian seperti mengejar sesuatu. Ya, aku baru sadar, pasti mereka ini sedang mengejar pria yang sedang menyekapku ini. Aku coba berontak lagi dan ingin berteriak agar mereka yang disana bisa mendengarku. Tapi mulutku disumbat dengan kain syal yang melingkar dileherku.

Setelah beberapa detik orang-orang itu pergi mengikuti insting mereka mengejar pria yang menyekapku ini. Tapi mereka salah arah. Pria yang mereka kejar justru disini. Aku benar-benar putus asa dan kurasakan air mataku menetes. Aku tidak takut mati, tapi dengan cara begini? Aku tidak terima.

“Biyane”, kata pria ini dalam bahasa Korea yang artinya “maafkan aku” sambil melepaskan tanganku. Bagaimana aku tahu? biasa, hobi nonton film Korea. Melihat ada peluang, aku langsung melepaskan diri dan mengepalkan tinjuku seolah-olah ahli beladiri. Pria ini membuka kacamatanya sambil menutupi bibirnya dengan telujuk tanda memintaku agar tenang dan diam, “Ssstttt….”.

Aku begitu terkejut melihat pria ini tanpa kacamata hitamnya. “Ya Tuhan, apakah aku tidak salah lihat”, kataku dalam hati. Diakan actor muda sekaligus supermodel ganteng yang sedang naik daun itu, dan dia memelukku – padahal tadi aku menyebutnya menyekap – dan aku menamparnya? Aku bingung, takut, senang semua bercampur jadi satu. Aku rasanya ingin melompat dan berteriak histeris saking senangnya. Tapi pria tampan ini sepertinya tahu jalan pikiranku, digenggamnya tanganku langsung mengajakku berlari. Kali ini aku senang hati mengikutinya.

Setelah berlarian puluhan menit akhirnya kami berhenti sebentar disebuah taman lain. Kulihat pria ini melihat sekelilingnya untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengejar kami lagi. Sekarang aku sadar siapa mereka yang mengejarnya waktu ditaman tadi ketika pria ini “memelukku” (kalau penjahat kusebut menyekap, sedangkan pria tampan ini…hehe, kalian tahulah).

Pria ini menatapku dalam-dalam dengan napas yang masih ngos-ngosan. Lalu dia membungkukkan badannya sambil berbicara bahasa Korea yang sama sekali aku tidak tahu. Yang kutahu adalah dia sedang meminta maaf dan aku juga sedang terpesona dengan ketampanannya. Sungguh berbeda saat melihatnya di dalam film dibandingkan dengan yang aslinya.

“No..no.. problem, iam fine-fine”, jawabku dalam bahasa  Inggris yang kalang kabut – itupun kalau bisa disebut bahasa Inggris. Aku berusaha menyakinkan dia bahwa aku tidak apa-apa dan aku juga meminta maaf karena telah menamparnya. “I’m sorry that i…i…”, sambil kujelaskan dengan bahasa tubuh seperti hendak menamparnya. Aku tidak tahu bagaimana lagi, hanya bahasa purba itu yang terpikir.

Pria tampan ini hanya tertawa melihat tingkahku yang konyol bahkan mungkin memalukan. Tampan sekali saat dia tertawa. Lalu dia membalasku dengan bahasa tubuh juga. Dari caranya menjelaskan dengan gerakan tangan dan ditambah dengan mimik wajah, sepertinya dia ingin mengajakku makan. Ya, dia mengajakku makan. Wahhh, aku hampir tidak percaya. Aku langsung mengangguk tanda setuju.

Pria ini membawaku kesebuah “rumah makan” kecil didekat taman. Mungkin lebih tepat disebut warung kalau dalam bahasaku. Bedanya “rumah makan” tersebut sangat bersih dan rapi. Suasananya juga sangat nyaman, sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan yang kubayangkan sebelumnya seperti dalam film-film Korea. Pria ini memberikan menunya padaku sambil tersenyum. Benar-benar tampan sekali dan, manis banget.

Aku diam membisu melihat menu makanan itu. Yang aku ngerti hanyalah kolom bagian kanan dengan angka-angka alias harga makanan. Lainnya, semua huruf Korea. Aku hanya tersenyum pada pria ini sambil sembarangan menunjuk menu makanan itu. Pria tampan ini tertawa kecil melihatku, lalu dia memperhatikan apa yang kutunjuk.

Saat melihat menu yang kutunjuk, pria tampan ini memandangiku dengan mengenyutkan dahinya. Lalu dia membuat gerakan tangan yang menjelaskan bahwa makanan yang kupesan itu adalah makanan yang sangat pedas. Aku tertawa melihat tingkahnya yang lucu. Bapak tua yang menjual makanan itu bingung melihat kami berdua. Pria tampan ini kemudian menjelaskan pada bapak tua bagaimana kisah singkat pertemuan kami dan mengapa kami memakai bahasa zaman purba. Sontak saja malam itu terisi oleh tawa kami semua.

Kulihat jam tanganku. Jam 23.30. Ya ampun, sudah hampir tengah malam dan aku harus kembali kehotelku. Kucoba ambil tasku. Tidak ada. Kulihat lagi dan kucari-cari. Tidak ada. Aku memegang kepalaku seperti baru teringat sesuatu. Tasku ketinggalan ditaman sebelumnya saat aku dibawa berlari mengikuti pria tampan ini.

Aku begitu kalut dan bingung. Pria tampan ini melihat gelagatku dan bertanya padaku ada apa – tentunya dengan bahasa tubuh. Aku menjelaskan secepat mungkin bahwa tasku ketinggalan ditaman, gerakan tanganku seperti mengusir nyamuk daripada bahasa tubuh. Kutarik tangan pria tampan ini agar dia mengikuti dan membawaku kembali ketaman tadi.

Aku benar-benar putus asa dan terduduk lemas saat kulihat taman yang kutinggali tadi kosong melompong. Tidak ada tas yang tertinggal. Tidak ada apapun. Aku bingung harus bagaimana nantinya. Aku memang tidak membawa banyak uang dalam tasku, tapi aku menaruh HP ku dan paspor serta surat-surat penting disana. Sekarang aku kehilangan semua itu.

Melihatku yang duduk lemas dan bingung, pria tampan ini menghampiriku dan duduk disampingku. Kulihat wajahnya sendu. “Iam..sorry…”, katanya singkat. Aku mencoba tersenyum padanya. Wajah tampannya tetap mempesonaku walaupun aku dalam kondisi down begini.

Dia lalu bertanya padaku, “Sleep?…”, sambil merapatkan kedua telapak tangannya dan didekatkan kekepala. Aku tahu maksudnya, dia bertanya padaku tidur dimana? Aku membalasnya sambil menunjuk kearah hotel yang tempat aku menginap. Pria tampan ini berdiri dan melihatnya sebentar. Lalu dia tersenyum padaku dan mengenggam tanganku. Aku tidak tahu apa maksudnya, aku hanya mengikutinya.

Tidak terasa 6 hari telah berlalu. Dan dalam 6 hari itu aku benar-benar menikmati liburanku. Tidak pernah wajahku tidak tersenyum. Setiap pagi aku selalu dibangunkan oleh HPku dengan suara pria tampan yang merdu mengucapkan, “joh-eun achim gongju jago” yang artinya “good morning sleeping princess”. Apakah tadi aku mengatakan HPku? Yup, pria tampan ini memberikanku HP baru.

Sebenarnya aku tidak meminta apa-apa dari pria tampan ini, walaupun kumintapun aku tidak tahu harus memulai dari apa. Ketika dia mengetahui aku kehilangan HP, paspor dan surat berharga lainnya, pria tampan ini menawarkan diri membantuku menyelesaikannya. Dia membawaku ke kantor polisi dan membuat laporan kehilangan. Dia membawaku mengurus surat-surat lainnya.

Pasti kalian bertanya kenapa pria tampan ini baik padaku? tentu saja bukan cuma karena dia baik saja, tapi karena dia merasa bertanggung jawab telah membuatku kehilangan tasku dan isinya. Pria tampan ini memberikanku HP baru, tas baru bahkan sebuah gaun baru. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kualami.

Tahukah apa yang lebih menyenangkan lagi? Pria tampan ini setiap malam memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu untukku ditaman dimana kami bertemu. Aku begitu menyukai lagunya dan suaranya. Sayang, aku tidak mengerti bahasa dan liriknya.

Dalam 6 hari itu aku benar-benar merasa sangat bahagia. Dan dalam 6 hari itu aku berusaha belajar bahasa Korea khususnya percakapan sehari-hari yang paling dasar dari buku yang kutinggalkan ditempat penginapanku.

Aku ingin berbicara lebih banyak lagi dengan pria tampan ini. kata-kata seperti “eotteohge dangsin i issseubnida (apa kabar)”,” gamsahabnida (terimakasih)”, dan beberapa kata-kata lainnya cukup kukuasai dengan baik. Pelan-pelan tapi pasti aku bisa mengikuti percakapan pria tampan ini.

Bunga yang mekar indah akan tiba waktunya layu juga. Setelah 6 hari yang membahagiakan, besok pagi  aku harus kembali darimana aku datang. Malam itu kuhabiskan waktuku mendengarkan pria tampan ini mendentingkan senar gitar ditaburi suara indahnya. Mata kami saling beradu. Tanpa kata-kata perasaanku kusampaikan padanya.

Ya, aku telah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Aku jatuh cinta padanya sejak pertemuan kami yang unik ditaman bunga. Mungkin lebih tepatnya aku telah jatuh cinta sebelum aku menapakkan kakiku di negeri ginseng ini, Korea.

Aku telah mengidolakan dia dalam film-film Koreaku. Keinginan terbesarku adalah bisa bertemu dengan dan minta tanda tangan saja. Tapi yang DIA yan bertahta disurga malah memberiku bonus berupa orangnya.

Dengan senyuman manisnya pria tampan ini mengakhiri lagunya. Dia bertanya padaku bagaimana menurutku dan kujawab dengan anggukkan kepala disertai senyum termanisku. Senyuman manis seorang wanita yang sedang jatuh cinta. Aku memintanya memainkan lagu itu kembali. Aku ingin mendengar suaranya lagi, karena besok pagi aku sudah tidak akan bisa mendengarnya lagi.

Tidak terasa jam menunjukkan jam 10 malam. Entah sudah berapa lagu yang telah dia nyanyikan untukku. Dia memandangku penuh senyuman. Matanya yang hitam pekat terlihat sangat indah dalam balutan cahaya bulan. Rambutnya yang panjang lurus diikat menambah pesona wajahnya. Aku benar-benar berterimakasih kepada DIA yang mengabulkan doaku lebih dari segalanya. Sayangnya, besok aku harus pulang. Dan, pria tampan ini tidak mengetahuinya.

“Take this..”, katanya sambil menyodorkan sebuah tiket dengan bahasa Inggrisnya yang sederhana. Kupandangi pria ini sebentar lalu kulihat tiket itu, itu tiket konsernya. VIP lagi. Aku hampir melompat memeluknya, tapi kepalaku mengingatkanku besok pagi aku harus pulang.

Pagi ini aku terbangun dengan kepala terasa berat. Sejujurnya semalaman aku tidak bisa tidur, bukan karena aku terlalu senang, tapi aku bingung berpikir bagaimana baiknya mengatakan pada pria tampan itu bahwa aku tidak bisa menghadiri konsernya. Saat aku memikirkan hal itu, tahu-tahu sudah subuh. Dan aku harus mengejar pesawatku jam 10.30 pagi.

Dengan perasaan berat aku mengepak barang-barangku. Kulihat kembali gaun putih polos dengan untaian bunga dibagian dada. Sangat cantik dan manis. Sayangnya aku belum sempat memakainya saat bersama pria tampan ini. kubuka HPku. Aku ingin memberitahu pria tampan ini bahwa aku akan pulang hari ini, tapi aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.

Kulihat jam tanganku, pukul 08.30 pagi. Kulihat kembali tiket konser itu, pukul 9 pagi. Kulihat kembali gaun putih itu. Lalu kusambar gaun itu. Aku bergegas menuju kekamar mandi. Kulepas semua pakaianku yang telah kupakai sebelumnya dan sengaja kuganti dengan gaun putih itu.  Aku ingin memperlihatkan gaun putih ini pada pria tampan itu sebelum aku berangkat. Apakah aku terlambat? Semoga saja tidak.

Setelah berpamitan dan berterimakasih atas semua pelayanan hotel yang ramah tempat aku menginap, kuminta sopir taxiku membawaku kealamat dimana pria tampan ini mengadakan konser. Sesampainya disana aku berlari kecil memasuki pintu masuk. Kuberikan tiket pada penjaganya dan aku langsung memasuki area konser itu. Sungguh pemandangan yang menakjubkan. Sudah penuh semua.

Dari kejauhan aku bisa melihat ada satu kursi warna merah dideretan bagian paling depan yang kosong. Dan bisa kulihat ditempat duduk itu ada sebuket  mawar merah. Ya, itu tempat dudukku. Aku sengaja tidak menduduki kursi yang telah disediakan untukku karena aku takut berat meninggalkannya. Aku memilih berdiri diatas tribun paling jauh, dan konserpun dimulai.

Teriakan histeris, musik yang beragam jenis, lagu-lagu yang romantis membuatku tidak dapat menahan tanggis. Ya, aku menanggis bukan karena sedih hendak berpisah dengan pria tampan ini, tapi aku menanggis karena aku begitu bahagia bisa bertemu pria tampan ini. Walapun Cuma 6 hari, tapi kisah ini akan kuingat sampai mati.

Lirik lagu yang dinyanyikan ternyata sangat indah, bagaimana aku tahu? bukankah aku tidak mengerti bahasa Korea? Aku tahu karena ditengah area konser  itu ada layar LCD raksasa dengan video serta terjemahannya dalam 4 bahasa. Dan salah satunya adalah bahasa dari negaraku.

Akhirnya jam menunjukkan jam 10.00 tepat. Akhir dari kisahku. Aku harus mengejar pesawatku. Aku mencoba membalikan tubuhku hendak berlalu. Lalu tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat keras dari arah panggung yang memanggil namaku, “Cynthia…”.

“Where is Cynthia…”, teriak pria tampan diatas panggung itu. Aku terkejut dan langsung berpaling kearah panggung. Kulihat dilayar LCD raksasa itu pria tampan ini sepertinya mencari seseorang, dan dia memanggil namaku, apakah orang yang dimaksud itu aku? Ternyata diarea konser itu banyak yang bernama Cynthia. semua berebutan ingin naik keatas panggung.

Aku tersenyum melihat semua itu. Kurasakan kembali air mataku pelan-pelan berlinang membasahi wajahku. “Kamu terlalu berharap”, kataku pada diriku sendiri. Ya, sejujurnya aku memang berharap bahwa pria tampan ini akan mengingatku dan memang memanggilku. Tapi ternyata aku yang kegeeran dengan semua itu.

“hansamida, sarangheyo…”, bisiku pada pria yang diatas panggung itu. Dengan perlahan aku menarik koperku dan mulai berlalu meninggalkan konser itu. Masih kudengar suaranya  yang merdu dari panggung nan jauh disana menyanyikan lagu yang sering dia nyanyikan untukku pada malam-malam sebelumnya. Aku membalikan tubuhku sekali lagi memandangi panggung itu. Aku ingin menjadikannya sebagai kenangan terindah. Lalu aku pun menaiki taxiku menuju bandara.

..

3 bulan telah berlalu sejak kepulanganku dari Korea. Hari-hariku kembali normal seperti biasanya. Kepada Mellisa aku meminta maaf tidak bisa membawa oleh-oleh untukknya, lalu kuceritakan semua kesialanku sampai pertemuanku dengan pria tampan itu pada Mellisa hingga tentang kisah cintaku seminggu disana.

Saat pertama kali mendengarnya Mellisa tertawa terbahak-bahak mengira aku bercanda dan mengarang cerita. Tapi kuyakinkan dia dengan mimik wajah yang serius. “Kamu serius?”, tanyanya masih tidak percaya. Ya, siapapun pasti tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan. Bagaimana mungkin seorang pelayan dengan status “rendah” bisa bertemu seorang supermodel atau aktor yang statusnya “super wah”.

Ya, begitulah aku. Saat ditanya teman-temanku tentang perjalananku ke Korea, kuceritakan seperti yang kuceritakan pada Mellisa. Hasilnya, sama seperti dengan reaksi Mellisa saat pertama kali mendengarnya. Aku pun hanya tersenyum dan ikut tertawa. Biarlah kisah nyata itu menjadi dongeng bagi yang mendengarnya. Yang penting mereka bisa tertawa.

Saat sedang ramai-ramainya supermarket tempat aku bekerja, kudengar sebuah lagu yang sudah tidak asing ditelingaku. Supermarket tempat aku bekerja memang selalu memutar lagu-lagu populer, dan lagu yang sedang diputar ini aku sangat tahu bagaimana menyanyikannya dan siapa penyanyinya.

“Kyaaa…, itukan lagu terbaru Lee Jun Min”, teriak beberap ABG didekatku. Ya, aku ingat, inikan lagu yang dinyanyikan pria tampan itu waktu aku masih diKorea. Dan namanya memang Lee Jum Min, aktor sekaligus supermodel tampan yang sedang naik daun. Tapi kenapa mereka menyebutnya lagu terbaru?

“Tahu tidak, kubaca dari internet bahwa lagu ini diciptakan untuk seorang wanita lho, katanya wanita itu adalah cinta pertama Lee Jun Min”, kata seorang ABG berpenampilan cantik pada seorang temannya. “Iya, aku juga tahu. Tapi kasihan ya, wanita itu malah meninggalkannya dan menghilang tanpa jejak”, sambung ABG satunya.

Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar, apakah wanita yang dimaksud itu aku? Ternyata aku masih bermimpi jika berpikir seperti itu. “Kudengar nama wanita itu 여자의 밤 (yeoja ui bam), dan judul lagu ini adalah nama wanita itu. Bodoh ya masa meninggalkan pria tampan seperti itu. Kalau aku sih tak akan kulepaskan walau sedetikpun”, kata ABG tadi sambil berlalu sembari menyadarkanku akan realita.

Aku baru menyadari bahwa lagu yang sering dia nyanyikan malam itu ternyata untuk seorang wanita. Dan wanita itu adalah wanita yang dicintainya. Tidaklah heran waktu menyanyikan lagu itu, wajah pria tampan ini terlihat begitu tampan dan manis. Ternyata dalam lagunya mengandung perasaannya yang romantis. Sungguh beruntung wanita yang pernah menjadi kekasihnya itu.

Saking asyiknya menikmati lagu Lee Jun Min yang diputar disupermarket ini, aku tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan histeris para ABG dan wanita lainnya. Spontan aku langsung membalikan tubuhku kearah datangnya suara itu.

Kulihat semua ABG dan wanita-wanita lain berteriak, beberapanya terlihat pingsan. Ada apa gerangan disana? Aku begitu penasaran. Tapi aku tidak bisa meninggalkan standku tempat aku berjaga. Tiba-tiba kulihat Mellisa berlari kearahku dengan napas ngos-ngosan.

“Cyn..Cynthia…, cepat kamu kesana, ada aktor Korea yang seperti ceritamu itu lho, dia datang kesupermarket kita. Itu Lee Jun Min…”, teriak Mellisa sambil melompat-lompat kecil mengandeng tanganku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Ad..ada apa dia kesupermarket sini?”, tanyaku masih kebingungan. Jantungku deg-degan.  Kurasakan darahku mengalir sangat cepat dalam tubuhku. Mukaku terasa panas. “Katanya dia ingin mempromosikan album terbarunya, dan dari yang kudengar gossip dia mencari seorang wanita, apakah wanita itu kamu Cyn?”, Tanya Mellisa menebak dengan mata berbinar-binar.

Sejujurnya aku kehilangan kata-kata. Apa benar? Dan kali ini apa aku tidak berlebihan jika berharap dan bermimpi seperti itu. Aku dan Mellisa meminta ijin sama supervisor ku dan diiyakan. Ternyata mereka juga fans berat sama Lee Jun Min. Dengan cepat kutarik tangan Mellisa dan berlari ketempat keramaian itu.

Saking ramainya wanita yang mengelilingi Lee Jum Min, aku dan Mellisa tidak berkesempatan untuk mendekatinya. Jika saja tidak ada pengawal yang menahannya, aku bisa pastikan pria tampan yang seorang aktor dan supermodel ini pasti sudah terbaring lemah dirumah sakit dengan bekas cakaran dan lipstick diseluruh tubuh.

“Mohon tenang semuanya, nanti kalian akan mendapatkan kesempatan mendapatkan tanda tangan”, terdengar suara seorang wanita yang ternyata penerjemah dari Lee Jun Min. Hanya terdengar suara histeris meng-iyakan sebagai jawaban.

“Mohon para penggemar Lee Jun Min memberi ruang sebentar, kedatangannya disini selain untuk mempromosikan album terbarunya, dia juga sedang mencari seseorang. Mari kita berikan kesempatan padanya untuk bertanya”, kata penerjemah tersebut sambil memberikan pengeras suara pada Lee Jun Min. Jantungku berdetak lebih cepat lagi.

Suasana supermarket yang hiruk pikuk oleh lalu lalang manusia seketika menjadi senyap. Bahkan lagu yang diputar pun terhenti. Semua mata memandang pria tampan ini tanpa bersuara. Semua penasaran. Semua saling memandang. Semua saling bertanya satu pertanyaan. Siapakah yang dicari pria super tampan ini?

“Where is Cynthia…?”, Tanya pria tampan ini. Sontak saja semua mata yang mengenalku langsung tertuju padaku diikuti mata-mata lainnya. Aku terdiam membisu. Kakiku kaku. Suaraku buntu. Kulihat pria tampan ini melihatku dan berjalan kemari dari kepungan kerumunan orang. Semua yang menghalangi  otomatis memberi jalan seperti laut yang terbelah airnya.

“Aku telah mencari kamu berbulan-bulan…”, katanya dalam bahasaku dengan nada yang kedengaran lucu. Saking terkejutnya aku tidak bisa berkata apa-apa. Yang bisa kulakukan hanyalah menggunakan bahasa purba lagi dengan menunjuk pada diriku sendiri. “A..a..ku?”, tanyaku terbata-bata.

Pria tampan ini  tersenyum sambil mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya. Dengan jarak sedekat ini dia terlihat lebih tampan dari biasanya. Padahal aku telah beberapa kali dekat dengannya sedekat ini, tapi yang sekarang benar-benar super tampan.

Pria tamppan ini mengambil napas lalu dia membaca kertas yang dikeluarkannya dalam bahasaku dengan nada yang kacau balau tapi mudah dimengerti.

“Cynthia, tahukah betapa aku merindukanmu? Aku tahu kamu pasti berpikir aku sedang bercanda, tapi percayalah, kehadiranku disini adalah bukti aku tidak sedang bercanda”, katanya sambil berhenti sebentar dan tersenyum padaku. Manis sekali senyumannya.

“Sejak pertemuan pertama kita ditaman bunga dulu, aku telah merasakan bahwa kamu adalah wanita yang berbeda. Memang kuakui awalnya aku hanya menganggapmu orang lain atau sekedar teman. Tapi 6 hari bersamamu cukup menyadarkanku bahwa kamu adalah lebih dari sekedar teman”.

“Kamu selalu mendengarkan laguku, dan kamu bahkan menemaniku sampai larut malam padahal waktu malammu dan waktu malamku adalah berbeda jamnya. Seringkali kulihat kamu kecapekan, tapi kamu selalu menemaniku dengan senyum yang tak pernah putus dari wajahmu. Tahukah kamu, justru senyumanmu itu adalah semangatku”.

“Dengan kesibukan disiang hari, beban yang semakin berlebih, kamu selalu ada dengan senyumanmu. Aku yang hanya bisa keluar malam menemukan dirimu menemani disetiap malam. Dan indahnya, kamu tidak pernah memberitahu bahwa aku ada ditaman itu kepada siapapun sehingga mereka yang mengejarku tidak tahu. Aku benar-benar berterimakasih padamu akan hal itu”.

Ya, aku memang tidak memberitahu siapapun bahwa aku bertemu actor super keren ditaman bunga dulu. Sebenarnya waktu aku masih liburan diKorea, hotel tempat aku menginap telah mendengar kabar angin bahwa ada seorang actor terkenal sering bermain ketaman disana. Saat kudengar hal itu, rasa banggaku memaksaku untuk menceritakannya. Tapi untunglah kuurungkan niatku atas dasar aku ingin itu menjadi rahasia kami berdua.

“Cynthia, masih ingatkah lagu yang sering kunyanyikan malam itu dan sedang diputar pada supermarket ini? Lagu itu adalah lagu yang sengaja kuciptakan dan kupersembahkan untukmu”, kata pria tampan ini diiringi teriakan histeris para wanita dengan wajah tidak percaya.

Aku saja tidak percaya apalagi mereka. Dan, lagu itukan judulnya dalam bahasa Korea serta itu nama wanita, sedangkan namaku Cynthia, tidak ada sedikitpun Korea. Belum habis ketidakpercayaanku,  pria tampan ini melanjutkan membaca kertas yang telah ditulisnya itu.

“Kamu pasti masih ingat saat aku memberimu tiket konser bukan? Aku sengaja memberimu tiket itu supaya kamu hadir dan menjadi semangatku, dan aku berencana disana ingin mengutarakan perasaanku, tapi ternyata kamu tidak hadir”. Kini supermarket itu seperti menjadi gedung lomba teriakan histeris wanita.

“Aku mencarimu kemana-mana tapi tidak kutemukan. Kutanya pada manajer hotel tempat kamu menginap katanya kamu telah pulang kenegaramu tadi pagi sambil menyerahkan HP yang kuberikan padamu. Dengan perasaan sedih aku tinggalkan hotel itu. Tapi akhirnya aku bisa menemukanmu disini”.

“Kamu pasti bingung bagaimana aku menemukanmu bukan? Sebenarnya sangat sederhana atau ini memang rencana dari DIA. Tas milikmu yang hilang itu ternyata ditemukan polisi tempat kita melapor dulu. Disana aku menemukan paspormu, surat-suratmu dan identisas dirimu berserta kartu nama dimana kamu bekerja. Dan hasilnya aku sekarang disini”, katanya sambil melihatku tersenyum manis.

Kali ini teriakan para wanita hampir memekakkan telinga. Semua yang hadir disana tidak percaya apa yang barusan mereka lihat dan dengar. Bahkan Mellisa yang sudah tahu dari apa yang kuceritakan dulu memandangiku dengan bola mata membesar seakan hendak jatuh keluar.

Aku hanya terdiam membisu, pipiku merona merah karena malu dan bahagia. Aku malu karena disaksikan oleh ribuan mata, aku bahagia karena aku tidak bermimpi sekarang juga. Kulihat sekelilingku, semuanya saling berbisik tidak percaya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan mereka. Dan aku juga tidak mau tahu.

Pria tampan bernama Lee Jun Min meraih tanganku. Dia memandangi mataku dengan tatapan yang sangat mesra. Aku dibuatnya merona merah seperti merah mawar ditaman bunga. Lalu aku teringat sesuatu, aku bertanya dengan bahasaku sepelan mungkin agar dia bisa mengerti, “Bukankah judul lagu itu nama wanita Korea? Sedangkan aku bernama Cynthia”.

Setelah mendengar pertanyaanku, pria tampan ini memanggil penerjemahnya. Kuketahui dia bertanya pada penerjemahnya apakah yang kutanyakan seperti apa yang dipikirkannya. Kulihat penerjemahnya tersenyum dan memberi tanda agar pria tampan ini menjawabanya sendiri.

Dia mengambil napas. Lalu dihembuskannya. Dipandangi mataku sekali lagi dengan tatapan yang mesra. Lalu dia mulai berkata, “Cnythia, 여자의 밤 (yeoja ui bam) adalah nama yang aku khusus berikan padamu. Dan artinya adalah PUTRI MALAM. Kenapa aku memberikanmu nama itu? Karena kita selalu bertemu pada malam hari, dan dihatiku kamu adalah putriku”.

Aku menutup telingaku. Bukan karena mendengar jawaban dari pria tampan ini, tapi kerasnya teriakan yang hampir meruntuhkan supermarket tempat aku bekerja. Banyak yang berteriak histeris tidak percaya, beberapa malah marah, dan lainnya sibuk mengeluarkan HPnya dan mengabadikan kejadian langka tersebut.

Pria tampan ini melihat padaku, lalu dia tersenyum sambil mengedipkan matanya. Aha, aku tahu apa maksud kedipan mata itu. Itu kedipan mata yang telah kupelajari selama 6 hari di Korea. Aku membalas kedipan mata itu, dan pria tampan ini menarikku berlari.

Teriakan demi teriakan mengiringi langkah kami berlari. Beberapa dari mereka ikut mengikuti kami, tapi semua ditahan oleh pengawal pria tampan ini. Aku tertawa bahagia mengikuti pria tampan ini membawaku pergi. Kurasakan genggaman tangan kami begitu hangat. Perasaan-perasaan hati kami saling tersampaikan.

Dalam keadaan berlari aku bertanya pada diriku sendiri. Aku yang hanya seorang pelayan supermarket bisa bergandengan tangan dengan seorang actor dan supermodel super wah? Aku yang seorang pelayan bisa menikmati penginapan hotel berbintang lima? Aku yang seorang pelayan bisa mendapatkan kebahagiaan yang seperti dongeng para raja? Entah bagaimana aku harus melukiskan perasaan bahagia yang kualami sekarang.

Sambil berlari kulihat pintu keluar ada seorang wanita yang sangat cantik sekali. Dan ya, aku mengenalinya, itu adalah nyonya Kevin yang memberikanku tiket voucher undian. Karena tiket itu aku bisa mengalami kebahagiaan hari ini.

Kulambaikan tanganku pada nyonya Kevin dan tersenyum manis padanya. Kulihat dia tersenyum kembali padaku. Dan aku melihat ada sepasang sayap dibelakang punggungnya. Apakah aku salah lihat? Kukedipkan mataku beberapa kali lalu kuarahkan kembali mataku kesana. Tapi nyonya Kevin telah pergi.

Saat memasuki mobil yang telah disiapkan oleh pria tampan ini, dengan aba-aba mobil itu meluncur pergi disertai teriakan dan tanggisan beberapa wanita dan penggemarnya. Setelah agak tenang pria tampan ini melihatku, “Siapakah yang tadi kamu lambaikan tangan? Setahuku aku tidak melihat siapapun disana”, tanyanya dengan nada yang lucu dan kata-kata yang cukup berantakan.

Kugandeng tangannya dan kuberi kecupan manis pada pipinya. Aku memberikan senyum termanisku pada pria tampan ini. Apakah aku dan dia memang direncanakan untuk bertemu diKorea? Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu apakah dia ini cinta sejatiku. Yang aku tahu DIA telah mengabulkan doaku beserta bonus dan komisinya.

Apakah pria tampan ini sungguh-sungguh mencintaiku? Aku juga tidak tahu. Yang kutahu dia sengaja belajar bahasaku selama bulanan dan datang mencariku dari negeri seberang. Seorang pria yang hanya menjentikkan jarinya bisa mendapatkan wanita mana saja, malah datang mencariku yang hanya seorang pelayan berstatus rendahan.  Apakah ini mimpi, dan aduh, aku merasakan sakit saat mencubit pipiku. Pria tampan ini tertawa kecil melihat tingkahku. “Lalu, siapakah yang kamu berikan lambaian tangan tadi?”, Tanya pria tampan ini sekali lagi. Aku tersenyum, lalu kujawab, “hanya seorang malaikat yang menjual tiket kebahagaian…”.

“Cup…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s