Bintang kecilku


My Little Star

“Selamat malam bintang kecilku, apa kabarmu malam ini? pasti sedang bersemangat bukan? Karena yang kulihat kamu sedang mengodaku dengan kedap-kedipanmu dilangit, seandainya ada pria yang selalu menemaniku sepertimu pada setiap malamku”.

Yup. Itulah yang selalu kuucapkan setiap malam sebelum aku memanjakan diriku diatas kasur empukku. Dan itu sudah kulakukan sejak kecil sampai sekarang aku berusia 17 tahun. Aku memang mempunyai hubungan khusus dengan bintang kecil yang dilangit itu, karena pada dialah aku berkisah tentang cinta pertamaku.

“Jennifer sayang, tahukah kenapa bintang dilangit selalu berkedap-kedip?”, tanya ibuku sambil mencium keningku. “Hmm..”, aku yang masih kecil hanya bisa berpikir dengan tangan dilipat kedada. Ibuku tertawa kecil melihat tingkah putrinya yang mengemaskan itu. “Karena dia sedang mengabulkan permintaan putri-putri cantik seperti kamu”, lanjut ibuku sambil memberikan kecupan termanisnya pada pipiku. Waktu itu aku berumur 7 tahun. Dan aku mempercayainya hingga sekarang.

Terdengar kekanak-kanakan? Ya mungkin saja, tapi mau apalagi aku telah begitu mempercayainya dan sangat menikmatinya. Bahkan aku memberikan nama pada bintang kecilku itu Little Angel atau malaikat kecil.

“Klik…”, terdengar suara kamera. Aku mencoba memastikan bahwa foto yang barusan kuambil memakai HP ku sendiri terlihat bagus dan manis. Dan ya, hasilnya ternyata bagus. Dengan rambut dikepang pada bagian kiri dan kanan warna pirang, sebuah kacamata hiasan warna pink dan bola mata coklat muda, aku terlihat cukup menarik. Lalu aku upload ke salah satu messenger yang terkenal.

Aku sangat menyukai berfoto, terutama foto-foto yang bertema lucu dan manis. Kadang-kadang aku dan beberapa sahabat baikku sengaja berfoto narsis dan diupload kesitus pertemanan dan messenger kami. Tujuan kami hanyalah have fun saja dan ingin “memamerkan” persahabatan kami.

“Anda mendapatkan satu permintaan pertemanan”.

Itulah pesan yang kudapatkan ketika kubuka messengerku malam ini. Kulihat namanya, Mike. Lalu kucek biodatanya. “Ya ampun…, gak salah nih om-om koq add aku?’, kataku pada diriku sendiri waktu melihat tahun lahirnya. Umurnya selisih denganku hampir 15 tahun.

Sebenarnya aku ingin langsung menolak permintaan itu, tapi karena aku orangnya suka berteman jadi kuberi kesempatan sekali lagi pada diriku sendiri untuk membuka fotonya. Dan, wow… aku langsung meng-klik tombol DITERIMA.

Ya, aku sifatnya mungkin terdengar genit dan apa saja dech. Tapi pria yang kuketahui bernama Mike dimessengger ini tampan sekali. Kupandangi sekali lagi fotonya dan kucoba perbesar. Hidungnya mancung. Matanya besar dengan bola mata berwarna biru muda. Rambutnya pendek rapi dan tubuhnya terlihat atletis. Yang membuatku terpesona adalah senyumannya.

“Thank ya uda add aku jadi teman baru”, itulah yang kutulis pada PM – private message – dan kukirim padanya. Aku menunggu dengan perasaan berdebar-debar. Sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa aku merasakan perasaan berdebar-debar itu. Usia kami beda begitu jauh, dan dari biodatanya tempat tinggal kami bahkan sangat jauh. Tapi, ya begitulah apa yang kurasakan. Berdebar-debar.

Terdengar lagu Bruno Mars yang berjudul Just The Way You Are dari Hp ku. Aha, aku mendapatkan balasan dari Mike. “Seharusnya aku yang berterimakasih karena telah diberi kesempatan berteman denganmu”, aku tersenyum manis saat membaca kiriman PM itu. Selanjutnya aku dan pria ini chatting lebih dari 3 jam hingga rasa kantuk memisahkan kami.

“Hai bintang kecilku, malam ini aku sangat senang sekali. Kenapa ya? Padahal aku baru mengenalnya tidak lebih dari 3 jam, tapi aku merasa sangat tertarik dengannya saat chatting tadi. Aku akui aku menyukainya karena dari fotonya dia kelihantan tampan sekali. Apakah aku salah menyukai Mike bingtang kecilku? Karena usianya jauh berbeda denganku”.

“Hmmpphhh…”, aku bangun sambil merengangkan tangan dan kakiku. Lalu aku menoleh ke HP ku dan kubuka HP itu. Ada pesan dari Mike. “Selamat pagi Jennifer yang manis, jika kamu telah menerima dan membaca mailku, aku hanya ingin mengatakan terimakasih karena membuat pagiku ceria karena malammu”. Aku langsung melompat-lompat diatas kasurku.

“Yang benar? Masa dalam satu malam kamu bisa jatuh cinta sama seorang pria? Berbeda usia yang jauh lagi”, kata temanku Susan sambil mengernyitkan dahinya tidak percaya. “Iya wa susan… aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Namanya juga cinta kali”, jawabku asal-asalan sambil tersenyum manis.

“Jen..Jen.., bisa saja perasaanmu itu adalah perasaan suka atau sayang pada seorang figur ayah atau kakak. Jangan salah bedakan perasaanmu lho”, balas Susan dengan merapikan kepangan rambutku. Ya, mungkin saja. Tapi aku sendiri ragu itu perasaan suka kepada figur kakak atau ayah. Dan memang kuakui dalam keluargaku semuanya cewek. Aku punya dua kakak dan ayahku telah tiada sejak aku masih kecil.

Aku dan Susan adalah sahabat dari kecil. Ibunya adalah teman baik ibuku. Kami berteman sejak dari taman kanak-kanak hingga SMA kelas 3. Dan yang paling menyenangkan, kami sekelas terus dan duduk berdua. Banyak sahabat-sahabat lain  yang sering mengoda kami seandainya aku atau Susan yang dilahirkan jadi cowok, kami pasti menjadi pasangan yang paling serasi didunia. Yup, aku dan Susan setuju, karena kami kemana-mana selalu berdua. Sayang, kami berdua ini wanita.

“Boleh aku minta ID Mikemu? Aku ingin mengetahui seperti apa sih pria yang membuatmu menyukainya hanya dalam satu malam”, kata Susan padaku sambil mengeluarkan HPnya bersiap-siap mencatatnya. Awalnya aku enggan memberikannya, karena aku merasa ingin memilikinya sendiri. Tapi aku dan Susan sudah seperti saudari jadi kuberikan padanya dengan wanti-wanti agar jangan mengoda dia.

Setelah pulang sekolah aku langsung cepat-cepat membereskan pekerjaanku dan membantu ibuku menyelesaikannya pekerjaan yang memerlukan bantuanku. Ibuku sendiri heran dengan perubahanku hari itu. Saat ditanya mengapa aku terlihat berbeda dari biasanya, kukatakan bahwa aku ditraktir makan oleh teman dan lagi senang-senangnya, padahal aku tidak sabar lagi ingin chatting dengan Mike.

“Hai Mike, apa kabar? Lagi ngapain?”, tanyaku memulai percakapan. Setelah itu aku menunggu sambil mendengarkan lagu favoritku yang Bruno Mars sambil memandangi HPku detik demi detik.

Kupandangi jam dinding, jam 01.00 siang. Kulihat kembali HPku, tidak ada jawaban dari Mike. Sudah 5 menit berlalu tapi masih tidak ada jawaban. Aku merasa sedikit kesal. “Kok jadi cowok sombong banget sih? Mentang-mentang dia ganteng kali ya?”, kataku dalam hati. Ya, aku merasa kesal sekarang. Sudah untung aku yang cari dia duluan, biasanya justru cowok-cowok pada berebutan chatting denganku, padahal demi chatting dengan dia, aku sengaja kasih tanda ke messengerku bahwa aku sedang sibuk dan tidak mau diganggu.

Sorry, bukannya aku sombong dengan kata-kataku barusan. Dengan tinggi 162cm dan rutin aerobic selama seminggu minimal 3 kali dan telah kulakukan selama 3 tahunan, tanpa melihat wajahku sudah membuat para pria datang berkenalan denganku. Yup, tubuhku berlekuk gitar Spanyol dengan kulit putih mulus bersih.

Wajahku tidak secantik para artis dunia, tapi kata beberapa sahabatku baik yang wanita ataupun pria, aku mirip salah satu supermodel cantik Korea. Padahal warna rambutku dan bola mataku sangat berbeda. Dan, aku sekarang sedang kesal menanti balasan seorang pria.

“Just the way you are….”, HPku berbunyi. Secepat kilat aku membuka HP itu, dan ya, jawaban dari Mike.

“Maaf Jennifer, tadi aku sedang mengikuti rapat mingguan jadi aku tidak membawa HPku. Maaf jika aku membuatmu kesal ya”, bacaku dalam hati dan merasa enakan sedikit. “Oh gitu ya”, kataku singkat membalas Mike. Aku sebenarnya tidak kesal lagi, tapi begitulah kaum wanita, kami ingin selalu dipedulikan dan diperhatikan. Bagi pria mungkin akan pusing dengan sikap kami, tapi inilah kami yang ingin selalu dimengerti.

“Maaf Jennifer, aku tahu kamu pasti kesal, dan aku menyesal membuatmu merasa begitu. Apa ada yang bisa kulakukan supaya kamu bisa tersenyum manis lagi padaku?’, balas Mike dengan ditambahkan icon sedang menanggis. Aku tertawa kecil melihat balasannya. Hatiku seketika terasa mencair.

“Iya, kamu sekarang telepon aku. Kalau tidak aku tidak mau bicara lagi denganmu”.

Aku membalas Mike pura-pura masih kesal, dan mengapa aku memintanya menelponku? Aku ingin mendengar suaranya dan mengenalnya lebih jauh. Sejujurnya dia tidak menelponku pun tidak mengapa, karena aku tahu dia sedang bekerja dan terlalu egosi kalau memaksanya. Tapi kenapa tetap kulakukan? Karena aku berharap dan menginginkannya juga. Aku terdengar egois sekarang? Percayalah, inilah yang kami lakukan, kaum wanita, jika kami menyukai seorang pria.

Dan, “Kringggg….”, Mike menelponku.

“Susan, apakah kamu sudah chat dengan Mike? Orangnya gimana?”, tanyaku pada teman terbaikku Susan beberapa minggu kemudian. “Orangnya baik dan enak diajak bicara kan?”, kataku sedikit memuji Mike. Dan rasanya wajar seorang wanita memuji pria yang disukainya.  Susan melihat kearahku dengan wajah yang serius.

“Jen, sebaiknya kamu tidak terlalu dekat dengan Mike. Kamu belum pernah bertemu dengannya, yang kamu dan Mike lakukan hanyalah saling bertukar no HP dan chatting”, kata Susan sedikit memberiku nasihat kecil. Aku tidak tahu apa yang membuat Susan berkata begitu, serius lagi. Yang kutahu biasanya Susan selalu enerjik dan santai jika aku membicarakan tentang Mike.

“Aku sudah chatting dengan Mike Jen, dan aku malah mendapatkan no HPnya. Padahal aku tidak memintanya, tapi dia menawarkan no HPnya dan meminta no HPku. Ya, awalnya aku enggan memberikan padanya karena kamu menyukainya, tapi kupikir tidak ada salahnya menambah teman apalagi seorang pria yang disukai teman baikku”, Lanjut Susan sambil memainkan HPnya.

“Maaf ya Jen, bukannya aku menjelekkan Mike, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Aku cuma takut Mike itu seseorang yang memakai “topeng”, sekali lagi aku minta maaf Jen, perbedaan usianya dan usiamu cukup jauh, jangan-jangan dia sudah berkeluarga dan pura-pura bilang single untuk menarik perhatianmu”.

Aku memeluk Susan dengan sayang. Aku berterimakasih padanya karena begitu mempedulikanku. Itulah kenapa aku bisa begitu sayang dengannya juga. Kukatakan pada Susan bahwa aku akan mencoba mencari tahu lebih jauh dan menanyakannnya. Dan kalau memang seperti apa yang dikatakan Susan, aku akan segera memutuskan pertemanan kami, juga perasaanku padanya.

Malamnya aku mendapatkan panggilan masuk dari Mike. Awalnya aku merasa enggan untuk menerimanya, padahal sebelumnya aku begitu heboh dan menunggu-nunggu. Tapi setelah mendengar perkataan Susan, aku sedikit banyak disadarkan. Dengan suara berat dan perasaan masih deg-degan kuangkat telepon itu.

“Hai Jennifer, apa kabarnya malam ini? apakah aku menghubungimu pada waktu yang tepat? Karena aku ingin ngobrol denganmu”, kata Mike jauh nun disana sambil tersenyum. Kok aku bisa tahu dia tersenyum? Karena aku tahu saja. Mendengar suaranya, hatiku dan isi kepalaku langsung terisi oleh senyumannya. Apa yang dikatakan Susan tidak mampu membuatku menjauh darinya. Mungkin inilah yang sering dikatakan orang bahwa cinta itu buta.

Malam itu aku dan Mike bercanda penuh tawa. Tidak terasa berjam-jam telah lewat. Apa yang Susan katakana padaku kutanyakan semua pada Mike. Dan aku merasa Mike justru orang yang jujur banget. Kenapa? Apa yang tidak kutanyakan malah diceritakannya juga. Misalnya mengapa diusianya sekarang belum menikah – mendengar belum menikah aku hampir melompat – ternyata dia ditinggalkan kekasihnya karena alasan-alasan wanita umumnya.

Apa itu? Para wanita pasti tahu, sedangkan para pria mungkin menebak-nebak sambil membuka kamus besar wanita. Yang bisa kukatakan adalah mantan Mike meninggalkannya karena “melihat” dan mendapatkan yang “lebih baik”. Perhatikan kata MELIHAT dan LEBIH BAIK yang kutulis. Aku sengaja menekankan kata itu. Kenapa? Karena itulah yang membuat wanita secara umum memutar kemudi kapal perasaannya dan berlabuh.

Apakah mereka salah? Tentu saja tidak, mereka hanya ingin yang terbaik bagi dirinya dan masa depannya, bukankah pria juga sama selalu mencari yang “lebih cantik dan sexy”? Tapi,  jika mereka memutar kemudi itu hanya karena MENGINGINKAN LABEL-LABEL yang dimiliki pria itu, maka aku orang pertama yang akan memberikan ceramah dan mungkin caci-maki padanya. Bagiku itu wanita murahan. Bukan murahan maksudku seperti wanita penjaja tubuh, tapi benar “murahan” karena bisa DIBELI dengan MATERI.

Kuakui aku memang masih terlalu muda berbicara tentang materi dan bla bla bla. Tapi aku mempunyai 2 kakak perempuan yang selalu menekankan arti SETIA dan MENERIMA padaku. Kakak pertamaku berumur 28 tahun dan telah menikah serta dikarunia seorang putra yang tampan. Sedangkan kakak keduaku berumur 25 tahun dan telah bertunangan.

Suami dan tunangan kakakku bukanlah dari kalangan orang kaya. Malahan kalau mau jujur justru jauh dibawah kami yang hidup masih berkecukupan. Tapi kenapa kakakku begitu mencintai mereka? Tak lain karena kakakku telah mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang berharga jika memilih pasangan hidup hanya berdasarkan MATERI DAN FISIK SEMATA.

Penyesalan memang selalu datang terlambat, tapi aku sangat bersyukur kakak-kakakku mengalami hal itu. Bukan karena aku senang kakakku terluka, tapi karena luka itulah kakakku bisa menghargai apa yang SEBENARNYA disebut dengan CINTA. Karena luka itu juga, kakakku matanya terbuka. Dan indahnya, karena luka itulah mereka menemukan pria idamannya. Aku bisa mengatakan begitu karena suami dan tunangan kakakku begitu menyayangi orang tuanya dan orang tua kami.

Terimakasih kepada kakakku aku bisa menjadi seperti hari ini. Aku tahu aku masih labil, tapi dengan pengawasan kakakku dan ibuku, aku selama ini tidak lepas kendali. Dan aku juga mencari dan berharap akan menemukan pria seperti suami dan tunangan kakakku.

“Oya Mike, aku dengar dari Susan temanku mengatakan bahwa kamu memberinya no HP ya?”, tanyaku sedikit mengali informasi. “Iya Jennifer, beberapa hari yang lalu dia add aku, dan aku menerimanya. Aku dan dia ngobrol sebentar. Kemudian dia meminta no HPku katanya ingin curhat. Jadi kuberikan saja padanya”, jelas Mike.

“Memangnya dia curhat apaan?”, tanyaku sedikit penasaran. Seingatku Susan selalu curhat denganku jika ada masalah. Mana mungkin dia curhat sama seorang pria yang baru dia kenal dan pria itu Mike yang dia nasehati agar aku menjaga jarak.

“Katanya dia punya seorang saudara jauh yang suka sama seorang pria yang usianya lebih cocok jadi kakaknya. Dan yang jadi masalah adalah dia juga menyukai pria itu. Lalu dia bertanya padaku apa yang harus dilakukannya supaya bisa mendapatkan pria itu. Aku hanya memberi saran supaya dia tidak terlalu dekat dengan pria itu, karena saudaranya telah menyukainya”, jawab Mike polos tanpa mengetahui apa yang baru dikatakannya.

Aku, rasanya tidak percaya apa yang baru kudengar. Susan menyukai Mike? Tapi bukankah dia sendiri yang memintaku agar menjaga jarak dengan Mike. Seketika aku merasakan luapan emosiku meninggi. Karena tidak ingin membuat Mike merasa bersalah atau lainnya, aku pura-pura ngantuk dan menyudahi percakapan kami.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku merasa gelisah. Mengapa Susan membohongiku? Ataukah justru Mike yang sengaja mengarang cerita? Atau mungkin aku yang terlalu mengada-gada. Bisa jadi apa yang dikatakan Susan benar bukan? Dan Susan adalah teman terbaikku.

Selama berjam-jam aku memikirkan hal itu, tapi karena tidak bisa ditepis dari kepalaku, aku berlutut dijendelaku dan kulipat tanganku. Ya, aku curhat pada bintang kecilku yang diangkasa.

“Hai bintang kecilku. Aku lagi bingung nih, aku tahu mungkin saja aku salah, tapi sepertinya Susan teman terbaikku juga suka pada Mike. Padahal aku sudah menyukainya dulu. Apakah aku harus mengalah demi temanku ataukah aku harus memperebutkannya”.

“Tidak, aku tidak akan memperebutkan seorang pria dan menghancurkan persahabatan kami. Jika memang Susan menyukainya, aku akan bicaranya dengannya supaya semua jelas. Aku akan mengalah walaupun aku tahu aku akan menanggis setiap malamnya, karena Mike adalah cinta pertamaku. Maafkan kebodohanku bintang kecilku. Aku sangat menyayangi Mike, tapi juga menyayangi Susan”.

Malam itu untuk pertama kalinya aku meneteskan air mata demi seorang pria.

Susan duduk didepanku. Dia mengenggam tanganku tidak berkata apa-apa. kulihat matanya basah oleh air matanya. Kurasakan juga mataku basah. Ya, aku dan Susan sepakat bertemu untuk membicarakan masalah tentang Mike. Awalnya Susan tidak tahu rencanaku. Aku mengajaknya bertemu dengan alasan ingin curhat.

Kini kuketahui bahwa Susan ternyata menyukai Mike. Dari ceritanya, awalnya Susan hanya sekedar tertarik mendengar ceritaku tentang Mike. Aku selalu memuji-muji dia bagaikan seorang pangeran dari negeri para raja. Aku selalu menyebut namanya dengan pipi merona merah, padahal Susan tahu aku tipe wanita yang jarang memuji pria.

Karena penasaran itu, Susan meminta ID Mike padaku. Dan dari ceritanya juga Susan mengatakan beberapa hari pertama dia merasa Mike itu hanya pria seperti umumnya. Biasa saja, hanya fotonya yang diakui Susan memang tampan.  Setelah seminggu ngobrol dengan Mike, entah kenapa Susan merasa hatinya damai kalau berbicara dengan Mike. Tapi karena ingin menjaga perasaanku Susan sengaja menepis perasaan itu.

Cinta memang tidak memandang usia dan saudara. Mungkin itulah gambaran yang tepat bagi Susan. Karena selalu menepis perasaan itu, semakin ditepis semakin dalam perasaannya pada Mike. Perasaan itu lama-lama menjadi beban dan berubah dari sekedar mengagumi menjadi ingin memiliki. Rasa ingin memiliki itulah yang membutakan pikiran Susan dan mengarang nasehat-nasehat supaya aku menjaga jarak dan meninggalkan Mike. Kenapa? Supaya Susan bisa memilikinya.

Mendengar penjelasan Susan yang begitu jujur, aku tidak bisa memarahinya apalagi membencinya. Sejak awal aku sudah merasa ada yang berbeda dengan sikap Susan setelah aku memberikan ID Mike. Tapi aku tepis pemikiran jahat itu karena dia teman terbaikku. Ternyata, kata hatiku tidak pernah membohongiku.

Kuseka air mata diwajah Susan yang cantik. Rambut panjang kecoklatannya terlihat basah oleh air matanya yang mengalir deras sedari tadi. Entah sudah berapa ribuan kali dia meminta maaf padaku. lalu apa yang harus kumaafkan jika tidak ada yang membuatku harus memaafkan?

Kami saling berpelukan cukup lama dan menyudahi pembicaraan itu. Susan mengatakan padaku akan meminta maaf pada Mike tentang kebohongannya itu, tapi aku melarangnya karena aku tidak ingin Mike membencinya. Aku hanya katakan padanya anggap saja itu sebagai pengalaman kami berdua.

Aku merasa lega sekali setelah berbicara dengan Susan, dan aku yakin Susan pasti merasakan hal yang sama. Malamnya kuundang Susan menginap dirumah seperti waktu kami masih kecil. Susan dengan senang hati meng-iyakannya.

“Jen, kamu masih berdoa pada bintang kecilmu?”, tanya Susan saat melihatku berlutut dan melipat tanganku. “Iya, aku sangat suka ngobrol dengan bintang kecilku yang jauh disana. Tahukah kamu bagaimana aku bertemu Mike?”, tanyaku sambil tersenyum manis dengan melirik bintang kecilku yang dilangit. Susan tersenyum dan mendekatiku. “Aku juga ingin berdoa pada bintang kecilmu, bolehkan?”, tanyanya tersenyum manis sekali. Aku hanya mengangguk dan kucium pipinya.

Malam itu kami tertidur dengan senyuman paling indah yang pernah malaikat disurga lihat. Kami saling berpelukan seakan tidak akan bertemu lagi esok paginya. Malam itu adalah malam yang sangat menyenangkan bagi kami berdua. Didepan bintang kecilku, bintang kecil kami berdua kami berjanji akan saling jujur dan saling menyayangi lebih dari sebelumnya.

Kami juga berdoa bersama pada bintang kecil kami bahwa kami akan tetap menyayangi Mike apapun dan siapapun pilihannya. Ya, aku dan Susan akan bersaing dengan adil. Awalnya Susan tidak mau karena aku telah mengenalnya dan menyukainya lebih dulu. Tapi kukatakan pada Susan tidak penting siapa yang menyukai duluan, yang penting adalah siapa yang dipilih Mike. Bisa saja Aku, Susan bahkan tidak kami berdua.

Mendengar kata “tidak kami berdua”, aku dan Susan tertawa terbahak-bahak. Iya juga ya, siapa tahu kami hanya dianggap teman saja atau adik perempuan, lagian Mike sendiri belum atau tidak mengatakan suka pada kami berdua. Seketika saja kami sadar bahwa kami berharap terlalu banyak.

“Mike…”, jawab kami bersamaan saat ditanya siapakah cinta pertama kami saat ditanya teman-teman kuliah kami. Ya, setahun telah berlalu  sejak Susan menginap dirumahku dan berdoa pada bintang kecil kami. Aku dan Susan masuk universitas yang sama, bedanya sekarang kami mengambil jurusan yang berbeda.

“Ah, yang benar saja, masa kalian mempunyai cinta pertama yang sama? Dan kalian mengatakan bahwa kalian mengenalnya dimessenger? Beda usia yang jauh lagi?”, tanya teman-teman kami dengan kerutan didahi mereka. Aku dan Susan saling berpandangan dan tertawa kecil. Kami tahu apa yang dipikirannya karena kami sudah mengalami pengalaman itu, terutama Susan.

“Aku penasaran banget dech ama pria seperti itu, boleh aku minta ID nya?”, tanya teman kuliahku diiringin anggukan kepala lainya. Aku dan Susan mengangkat tangan kami, dan dengan jari telunjuk digoyangkan kami secara bersamaan mengatakan, “No Way…”.

Satu tahun lima bulan tepatnya aku dan Susan menikmati masa-masa universitas kami. Dan selama itu pula kami tidak pernah putus berhubungan dengan Mike. Kami bedua akrab dengan Mike. Kadang aku dan Susan Chatting bersama dengan Mike, dan Mike tidak pernah tahu itu.

Apakah kami sudah pernah bertemu dengannya? Tentu saja sudah. Itulah kenapa kami tidak mau memberikan ID Mike pada siapapun juga. Kami tidak siap menambah saingan lagi. Saat pertama kali melihatnya, kami dibuat membisu seribu bahasa. Benar-benar berbeda dengan bayangan kami dan fotonya.

Tubuhnya 175cm dengan dada bidang dan atletis. Rambut agak panjang rapi terawat. Matanya biru seperti warna favoritku. Dengan kemeja corak kotak dipadukan celana hitam panjang polos sangat mempesona. Dan tentu saja wajahnya tampan sekali melebihi fotonya.

Oya, tahukah apa yang membuat kami diam membisu? Bukan karena fisiknya, bukan karena tampannya juga. Kalau sekedar fisik dan wajah kami sudah menemukan ratusan pria seperti itu. Tapi yang membuat kami mematung adalah usianya yang sangat berbeda jauh dengan fisiknya. Jika kami tidak mengetahui usia sebenarnya, kami akan sama-sama berkata bahwa Mike paling jauh berusia 25 tahun.

Mike orangnya humoris. Tutur katanya sopan dan ramah. Perhatian dan penuh kasih sayang.  Jika ini yang kukatakan mungkin kalian tidak percaya. Tapi ibuku sendiri mengatakan Mike membuatnya merona merah seperti pertama kali ayahku melamar ibuku. Ibuku bahkan mengodaku akan merebut Mike jika aku tidak tertarik dan kuberi ibuku sebuah cubitan kecil.

Saat kutanya pada ibuku apakah ibuku tidak keberatan dengan usia kami yang berbeda jauh, ibuku mencium keningku dan dengan senyumannya paling manis yang pernah kulihat dan berkata, “Sayang, ibu lebih menyukai kucing tua yang masih berusaha menangkap tikus dengan kukunya yang tumpul, daripada kucing cantik yang hanya tahu bermalas-malasan disofa. Dan sekedar kamu ketahui saja, ayahmu 8 tahun lebih tua dari ibu, dan ibu sangat bahagia bisa memilikinya”.

Tidak perlu kata-kata untuk menjelaskan bagaimana perasaanku waktu itu. Dengan senyuman lebar diwajah, anak kecilpun tahu aku sedang berbahagia. Lalu bagaimana persainganku dan Susan? Siapakah yang dipilih oleh Mike?

Kalian mungkin akan sulit mencari jawabannya. Kenapa? Karena jari manis kami berdua dilingkari cincin tunangan yang sangat cantik sekali. Warnanya sama, bentuknya sama, motifnya yang berbeda hanyalah ukiran nama dibelakang cincinya.

Merasa bingung? Tentu saja kalian bingung dan tentu saja Mike tidak melingkari cincinya pada kami berdua. Lagian siapa yang mau dimadu dua. Sejak pertama kali kami bertemu Mike, kami juga dikenalkan dengan adiknya Mika, adik kembarnya.

Tahukah apa yang lebih mengejutkan lagi? mereka berdua benar-benar mirip sekali. Dari tingkah lakunya, dari cara bicaranya bahkan fisiknya. Yang membedakan hanyalah bekas luka dilengan kiri Mike yang diperolehnya saat masih kecil waktu menolong Mika adiknya jatuh kegot.

Awalnya aku dan Susan bingung membedakannya, tapi seperti pepatah bijak mengatakan juga, “Cinta sejati tidak mememerlukan mata, tapi cinta sejati memerlukan hati”.  Hanya dalam sehari aku bisa membedakan mana yang Mike dan mana yang Mika.

Selama seminggu aku, Susan, Mike dan Mika menikmati kebersamaan kami. Dan ternyata Mika sangat menyukai Susan. Kata Mike, adik kembarnya menyukai tipe wanita seperti Susan yang enerjik dan bersemangat, sedangkan aku tipenya lebih keibuan dan Mike menyukai aku yang keibuan. Indahnya, Susan ternyata mempunyai perasaan yang sama pada Mika.

Kini dialtar bunga ini, aku dan Susan berjalan masuk diiringi music yang romantic sekali. Kulihat dua pria tampan berdiri didepan altar itu. Keduanya memakai jas putih dengan setangkai bunga didadanya. Yang berdiri disebelah kiri dengan mawar merah mempesona, sedangkan yang berdiri disebelah kanan dengan mawar putih indah. Dan keduanya sangat tampan sekali.

Kami bedua tersenyum sangat manis sekali. Kami berdua sangat berbahagia sekali. Dan kami berdua menemukan pria idaman kami. Ya, aku dan Susan melangsungkan pernikahan ganda. Aku dan Mike, Susan dan Mika. Semuanya ini adalah ide kakakku dan kami semua sangat menyukai ide ini.

“Apakah kalian menerima Mike dan juga Mika sebagai suami kalian dalam suka dan duka hingga maut memisahkan kalian semua?” tanya pemimpin upacara pernikahan kami dengan sedikit bingung. Kami hanya tertawa kecil melihatnya. Wajar saja, suami kami kan kakak beradik kembar, jadi susah dibedakan. Tapi bagi aku dan Susan sangatlah mudah membedakannya.

“Kalian boleh memcium mempelai kalian”, kata pemimpin upacara dengan senyuman yang sangat manis. Mike memandangi aku, Mika memandangi Susan. Aku menutup mataku. Susan menutup matanya. Lalu Mike dan Mika secara tidak sengaja berkata bersamaan, “I love you my little star”. Dan,

“Cup…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s