Kamu memang cantik, tapi tidak “Cantik”


You are indeed beautiful, but you not "pretty"

“Apakah aku cantik?”, tanya Hesky padaku.

Kulihat wajah wanita yang bediri didepanku ini. Rambut panjang lurus terurai kebawah. Baju ketat membalut tubuhnya. Lekuk-lekuk gitar Spanyol mengoda pria yang melihatnya. Dengan tinggi 170cm dipadukan sepatu high heel warna merah menyala temanku ini terlihat sangat cantik dan menarik.

“Bagaimana? Aku cantik kan dengan penampilan seperti ini?”, tanyanya sedikit manja. Aku hanya tersenyum dan kukatakan padanya, “Ya, kamu sangat cantik dengan paduan baju dan segala aksesoris yang melekat ditubuhmu. Sebenarnya tidak perlu aku yang mengatakannya, coba lihat para kaum Adam yang lewat dan kamu juga akan tahu jawabannya”, kataku memuji temanku ini.

Itulah adalah percakapan kami beberapa bulan yang lalu. Sekarang aku teringat kembali saat aku jalan-jalan kemall mencari buku dan inspirasi untuk menulis dan mem-postkan ke blog kita ini. Aku teringat temanku saat melihat para SPG cantik dengan centilnya menawarkan produk standnya.

Lalu kenapa aku menulis kisah ini atau lebih tepatnya kisah renungan ini? Tak lain karena aku ingin mengingatkan diriku dan sekedar sok tahu mengingatkan pada pembaca khusunya wanita yang dianugerahi kecantikkan yang membuat iri mata dunia.

Sebelum kalian membaca lebih jauh, ketahuilah ini adalah pengalaman nyataku dengan temanku. Aku tidak bermaksud menjelekan siapapun pada tulisanku ini. Aku hanya ingin berbagi dari sudut pandangku saja. Mungkin saja aku sangat salah dan terlalu egois dalam menilai somebody, tapi ketahuilah aku mengenal temanku ini bukan sehari sebulan saja, tapi bertahun-tahun lamanya. Dan, aku berharap aku salah besar menilainya.

Jadikanlah tulisanku ini sebagai cermin bagi kita sendiri. Benar atau salah hanya kalian yang bisa menilainya. Dan sebagaimana hobiku dalam menulis dengan berkisah, aku menulis pengalamanku ini dalam bentuk kisah pendek saja. Sebelum kita membaca bersama, ijinkan aku mengatakan kata-kata sok tahu ini.

“Tidak ada yang salah untuk menjadikan diri menjadi lebih cantik, tapi sangatlah salah menjadikan dirimu cantik dengan memperjelek “kecantikkanmu” itu sendiri”.

Hesky adalah teman sekaligus pacar dari temanku juga, George. Mereka berkenalan disebuah cafe kecil saat George bersama teman kerjanya menghabiskan waktu dicafe tersebut. Waktu itu Hesky bekerja sebagai trainer sebuah produk makanan dan secara kebetulan pula memesan makan siang dicafe itu.

Secara tidak langsung Hesky dan George berpapasan. Mata mereka saling bertemu. Senyum simpul saling terbentuk. Dan sebuah salaman hangat mendekatkan mereka yang awalnyai sekedar perkenalan menjadi pasangan.

George adalah seorang karyawan biasa. Walaupun begitu George sangatlah dewasa dan seorang pekerja ulet. Dengan rambut agak acakkan dan hidung mancung, George termasuk pria yang tampan yang menjadi incaran wanita. Tubuhnya putih bersih tegap berisi. Tutur katanya halus dan sabar. Memang kadang-kadang George cukup keras, tapi itu serta merta karena dia perhatian. Dan memang kuakui juga sifatnya itu kadang berlebihan.

Hesky justru kebalikkan dari sifat George. Hesky orangnya periang, gaul dan lebih suka bercerita daripada mendengarkan cerita. Hesky orangnya cepat bosanan dan selalu ingin mencari tantangan baru. Mengapa aku bisa mengetahuinya? Karena Hesky dan aku mempunyai sifat yang sama, kami berdua yang oleh bahasa kerennya disebut Sanguinis.

Mungkin yang membedakan aku dan Hesky adalah aku sedikit bisa mengontrol sifat Sangunisku. Aku bisa melakukannya karena aku memang membaca buku yang berjudul Personality Plus karangan Florence Litteur Bahwa sifat Sanguinis yang berlebihan sangatlah tidak baik. Dan untunglah aku bisa mengeremnya sesuai petunjuk buku itu dan menjadi aku yang sekarang sedikit lebih baik.

Awal jadian aku melihat Hesky dan George sangatlah serasi. Mereka sama-sama tinggi. Mereka sama-sama tampan dan cantik. Mereka sama-sama saling mencintai. Yang satu pencerita, yang satu pendengar. Yang satu menerima, yang lainnya memberi. Bukankah ini yang kita sebut perbedaanlah yang membuat sempurna? (aku sebelumnya juga ada menulis kisah tentang perbedaan juga. Klik judul PERBEDAANLAH YANG MEMBUAT SEMPURNA ITU ADA)

Kisah mereka selayaknya kisah anak manusia yang saling jatuh cinta pada umumnya. Mereka keluar bersama, mereka menghabiskan malam bersama, mereka saling  menjaga. Tawa-tawa menghias hari-hari mereka. Mereka bahkan saling memuja bahwa mereka adalah belahan jiwa. Ya, awalnya aku pun berharap semua itu menjadi nyata hingga mereka memasuki tahun ketiga.

Manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukannya. Begitulah kata-kata bijak yang selalu kita dengar. Memasuki tahun ketiga, aku melihat Hesky mulai jarang keluar bersama George. Awalnya aku mengira itu karena kesibukan mereka berdua. Ternyata kadang kita harus mempercayai insting kita daripada mata kita.

“Tahukah kamu, aku sering digosipkan bahwa aku adalah wanita yang hanya mengejar materi pria, padahal mereka tidak mengenal aku. Kalau aku benar-benar hanya mengejar materi pria dari dulu aku sudah memilih yang lain daripada George. Tapi aku memilih George karena dia apa adanya, bukan apa yang dimilikinya”, kata Hesky saat aku bertamu dirumahnya.

Sejujurnya aku bangga mendengar apa yang dikatakan Hesky. aku kagum akan pemikirannya yang dewasa. Tidak menilai pria dari embel-embel yang melekat pada tubuhnya. Malam itu aku dan Hesky ngobrol cukup lama dan aku pulang dengan nilai plus untukknya. Dalam hati aku berkata pada diri sendiri, “jarang sekali ada wanita yang berpikiran seperti Hesky”.

“Apa?! Hesky sudah mau menikah?”, kataku seakan tidak percaya dengan apa yang kudengar. Jika Hesky menikah dengan George aku akan dengan sangat gembira memberikan ucapan selamat, tapi Hesky yang kukenal ini malah menikah dengan Andy yang seorang pengusaha. Dan, Andy adalah temanku.

Tidak ada kata-kata yang dapat kuucapkan lagi setelah mendengar berita itu. Aku pulang dengan seribu pertanyaan dikepalaku. Apa yang terjadi dengan mereka? Benarkah apa yang kudengar tadi? Jika benar apa alasannya?

“Dari yang kutahu mereka sudah jadian setahun lalu koq”, jelas seorang temanku saat kami makan bersama disebuah cafe. “Kamu yakin?”, tanyaku berharap bahwa itu hanyalah gosip saja. “Bro, kalau aku mendengar dari orang lain mungkin aku bisa salah, tapi Hesky sendiri yang mengatakan begitu padaku”, jawab temanku. ”

Tapi bukankah setahun lalu Hesky masih bersama George?”, tanyaku masih tidak percaya. Temanku berhenti sebentar dari makannya, dia melihatku dengan senyuman sinis dan berkata, “menurutmu alasan apalagi jika seorang wanita cantik berpindah hati? Dan, ya, jawabannya ada dikepalamu sekarang ini”.

Sejujurnya aku masih tidak percaya dengan temanku ini. Baru beberapa bulan lalu Hesky mengatakan padaku bahwa dia bukan tipe wanita yang mengejar materi semata, tapi kenapa justru sekarang dia malah mengingkari kata-katanya.

Ya, aku tahu apa yang ada dipikiran kalian yang membaca. Mungkin saja sang pangeran yang telah melukainya beribu kali sehingga sang putri pergi. Jika memang itu yang terjadi, aku justru mendukung Hesky. Tapi saat kupastikan kebenarannya sama George, ini yang dikatakannya, “Aku sendiri tidak tahu bahwa aku telah diputusinnya, saat kutanya kenapa kami jarang keluar bersama lagi, dia mengatakan kami lebih cocok berteman saja”.

“Apakah kamu tidak menanyakan alasannya? Setidaknya kan harus ada penjelasan juga”, tanyaku dengan sedikit terbawa perasaan. Kupandangi George dengan tatapan tajam. George hanya menghela napas dan bekata padaku, “Katanya aku yang sekarang tidak akan bisa membahagiakannya. Waktu kutanya arti dari tidak bisa membahagiakan itu…”, George terdiam menghentikan kata-katanya. Tidak perlu dia melanjutkan, karena aku sudah tahu jawabannya.

Malam itu aku menemani George tuk sekedar melupakan beban hatinya. Aku tahu beban hati itu tidak akan bisa hilang dalam sehari saja karena aku sangat tahu bagaimana perasaannya. Aku sengaja mengalihkan pembicaraan yang berhubungan cinta dan wanita agar George tidak teringat hal itu lagi. Walaupun kami ngobrol dengan tawa dan canda, aku yakin saat dia kembali ke rumahnya air mata itu akan berurai lagi. Mata bengkaknya itu jadi saksinya.

Lalu bagaimana dengan Hesky. Maaf beribu maaf, aku tidak tertarik ingin menemuinya. Kudengar dari Andy bahwa mereka akan segera bertunangan. Aku hanya mengucapkan selamat dan pura-pura tidak tahu kejadian yang sebenarnya.

Apakah Andy tidak merasa bersalah atau lainnya? Saat kutanya Andy sudah berapa lama dia jadian sama Hesky, dia mengatakan telah jadiaan  selama setahun. Dan tahukah kalian, Hesky setahun lalu masih berstatus pacar George, dan mereka baru putus beberapa bulan yang lalu.

Siapakah yang salah atau pantas disalahkan? Aku tidak tahu, kalianlah juri dan hakimnya. Mau alasan, mau pembenaran, ataupun makian aku tidak berhak menentukannya. Yang pasti secara pribadi dan setelah aku mencari tahu, aku sangat bersimpat pada George. Bukan karena dia temanku saja, karena Hesky juga temanku, tapi karena George yang berjiwa besar (walaupun dengan sangat terluka) rela melepaskan Hesky. “Asal dia bahagia aku rela dicap pria terbodoh didunia”, katanya sambil tersenyum dengan mata bengkaknya.

Yup, aku tidak tahu harus berkata apa dan menulis apa lagi. Kisah diatas memang kubumbui sedikit – mungkin cukup banyak juga – tapi intinya adalah nyata. Setangkai bunga yang mekar indah diantara semua bunga, justru bunga itu sendirilah yang melayukan dirinya.  Seorang wanita cantik dan menarik yang merangkai kata-kata indah membuatku terpana, justru dia yang membuang “cantik” itu dan membuat para mahkluk bertanduk dikepala tertawa.

Tidak ada yang salah dalam menjadi cantik, semua wanita menginginkannya dan semua pria mengaguminya. Tapi janganlah karena demi cantik itu kalian yang telah CANTIK membuang “CANTIK” demi menjadi CANTIK. Aku tidak pantas menghakimi siapa saja, karena aku sendiri jauh dari kata baik apalagi sempurna.

Hanya sebuah pesan kepada para pembaca baik pria dan khususnya wanita, jika kalian para bunga telah menemukan kumbang atau kupu-kupu lain dengan sayap yang “lebih indah, lebih berwarna, lebih tinggi terbangnya”, mohon lepaskanlah kumbang yang telah menjagamu selama mekarmu. Kau mungkin telah bosan padanya, kau mungkin telah menemukan yang “lebih berharga”, maka biarkanlah kumbang itu pergi walaupun harus dengan sayap penuh luka. Karena masih banyak bunga yang menginginkannya.

Ya, aku tahu kesannya aku terlalu memojokan wanita, pada kenyataannya pria juga sama dan mungkin lebih parah. Tapi bukan wanita atau pria yang kujadikan sasaran, melainkan SIKAP dalam memperlakukan pasangan. Janganlah pernah mengucapkan janji sumpah setia apalagi belahan jiwa jika dalam kepalamu – walaupun sekali saja – masih melihat KEKURANGANNYA.

Ada satu kata bijak yang pernah aku baca dan aku sangat menyukainya. Katanya, “Kita semua adalah malaikat bersayap satu, dengan berpelukanlah kita bisa terbang”. Sebuah kata yang indah dan penuh makna bukan? Dan aku terinsiprasi membuat kata-kata bijakku sendiri dan hanya kutujukan untuk diriku sendiri, dan kata-kata itu aku ingin membaginya disini.

“Kita semua adalah malaikat bersayap satu. Dan untuk bisa terbang kita harus menemukan  seseorang yang rela memberikan sayapnya dan mengajari kita bagaimana terbang”.

Itulah kata-kata yang kubuat untuku sendiri. Menurutku, kita semua, aku, kamu, pria maupun wanita adalah malaikat yang “sempurna”. Bedanya dengan malaikat disurga adalah kita hanya mempunyai satu sayap dan belum bisa terbang. Dan untuk bisa terbang kita harus menemukan seseorang yang  rela memberikan sayapnya dan mengajari kita terbang. Bukan dengan sayap-sayap “lebih besar”, bukan dengan sayap-sayap “lebih indah”, karena semua itu sayap-sayap buatan manusia yang hanya bisa terbang sementara.

Yang diperlukan adalah sayap-sayap “SETIA”, sayap-sayap “PERCAYA” dan sayap-sayap “MENERIMA”. Karena saat belajar terbang, kita akan jatuh berkali-kali dan terluka. Tapi karena kita telah mempunyai sayap-sayap SETIA, kita akan tetap mencobanya tanpa MENCARI YANG LAIN yang menurut kita lebih pandai mengajari kita terbang.

Karena kita telah mempunyai sayap-sayap PERCAYA, maka walaupun berkali-kali kita gagal untuk terbang dan jatuh terluka, kita tetap PERCAYA bahwa yang mengajari kita adalah pilihan-Nya.

Karena kita telah mempunyai sayap-sayap MENERIMA, maka seberapa banyak terlukanya kita, kita tetap MENERIMA orang yang mengajari kita dengan senyuman paling indah.

Hasilnya? Kau akan terbang dengan penuh pesona diangkasa. Bahkan kau mungkin mengambar pelangi dengan senyumanmu yang terindah diatas sana dan mungkin kau tuliskan nama orang yang mengajarimu dipelangi itu sehingga seluruh dunia bisa melihatnya.

Lalu kau melihat kebawah, malaikat yang mengajarimu ternyata tidak bisa terbang! Lalu kenapa dia memberimu sayapnya mengajarimu terbang? Tidakah dia ingin terbang sepertimu diangkasa? Percayalah dia mau. Hanya saja dia lebih menomorsatukan dirimu dibanding dirinya.

Setelah itu apa? Bukankah dengan bisa terbang habis cerita? Tentu saja belum. Harusnya kita yang sudah bisa terbang membawanya terbang bersama kita, karena sayapnyalah kita menjadi sempurna. Karena sayapnyalah kita bisa terbang. Karena sayapnyalah kita mengenal angkasa.

Tapi, Kebanyakkan dari kita yang sudah bisa terbang justru melihat keatas dan mendapatkan ternyata banyak yang bisa terbang juga. Malah banyak yang bisa terbang lebih tinggi dan mempunyai sayap yang lebih besar nan indah. Kita terpesona, kita terpana, dan ingin seperti mereka. Lalu kita meminta mereka mengajari kita. Lama kelamaan kita terbang tinggi sekali sehingga malaikat yang mengajari kita yang setia menunggu dibawah terlupakan.

Karena mereka semua yang terbang diatas terlalu membanggakan “tingginya” dan “sayapnya”, lama kelamaan mereka merasa bosan dan menyadari kehilangan sesuatu. Mereka lupa apa itu sampai suatu saat mereka melihat pelangi yang telah mereka gambar sebelumnya dengan nama seseorang disana, kemudian mereka baru menyadarinya.

Dengan secepat kilat mereka turun kebawah ingin kembali pada malaikat yang menunggu dengan setia. Tapi yang mereka temukan adalah malaikat itu telah tiada. Mereka bertanya-tanya kenapa malaikatnya meninggalkannya? Mereka menyalahkan malaikatnya tidak setia. Tapi, mereka lupa, saat mereka terbang tinggi disana, waktu diatas lebih lambat dibanding waktu yang dibawah.

Lalu kemanakah malaikat yang setia mengajari dan menunggu dibawah itu? Ternyata Tuhan mempertemukan dia pada malaikat lain yang setia menunggu dibawah juga. KESETIAAN mereka membuat Tuhan tersenyum bangga disurga.

Bagaimana dengan mereka yang sudah bisa terbang? Mereka harus menemukan pasangannya sendiri diatas sana. Apakah mereka akan menemukannya? Pasti. Apakah mereka akan bahagia? Aku tidak tahu, yang pasti aku lebih tertarik dengan para malaikat yang belum bisa terbang yang setia menunggu dibawah sana, dan aku yakin mereka pasti bahagia.

Hmmpphhh … inilah tulisanku kali ini tentang kisah renungan. Sekali lagi aku meminta maaf jika ada kata-kata  aku yang membuat para malaikat yang membaca tersinggung. Tidak ada maksud lain aku menulis kisah ini. Aku menulis karena ingin menasehati diri sendiri saat membaca kembali tulisan ini. Hesky telah terbang tinggi dan ingin mencari sayap yang lebih besar dan bisa terbang lebih tinggi. Aku doakan semoga dia bahagia dan menemukannya.

George adalah malaikat yang rela kehilangan sayapnya sehingga tidak bisa terbang dan setia menunggu dibawah, dan padanya aku yakin Tuhan telah mempersiapkan malaikat yang benar-benar cantik untuknya. Kapan dan dimana aku tidak tahu. Yang pasti aku tahu Tuhan telah merencanakannya. Dan saat waktu itu tiba, aku ingin jadi orang yang paling berbahagia untuk George. Kepada para malaikat yang membaca, doa yang sama aku panjatkan pada-Nya agar kalian menemukan malaikatmu sendiri. Percayalah, kau selalu dalam rencana-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s