27 Tangkai mawar merah


27 red roses

Terdengar tepuk tangan yang meriah saat aku selesai menyanyikan lagu Jason Mraz – Im yours dengan gitar kesayanganku disebuah taman yang indah. Aku membungkuk memberi hormat ala kerajaan jaman dahulu.

Yup, aku adalah seorang penyanyi keliling yang sekedar menghabiskan waktu ditaman. Dan pada kesempatan kali ini aku mengunjungi sebuah kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Aku bukanlah seorang penyanyi terkenal. Aku hanyalah seorang pria yang mempunyai hobby menyanyi dan secara alami suaraku terbentuk indah sendiri.

“Terimakasih…Terimakasih banyak…”, kataku sambil mencoba tersenyum dengan senyuman paling ramah dan manis. Kulihat tas gitarku penuh uang receh. “Cukup untuk membeli makan dan menginap satu hari lagi”, kataku sambil mengambil uang tersebut dan memasukkan kedalam tasku.

“Lagunya bagus banget, aku suka sekali dengan lagunya terutama suaramu yang merdu”, kata seorang gadis muda padaku. Rambutnya pirang keemasan. Bola matanya coklat dengan bibir tipis manis. Hidungnya mancung. Seorang gadis yang sangat cantik. Harus kuakui walaupun aku terdengar mengada-ada, tapi dengan gaun putih yang dikenakannya, dia terlihat seperti malaikat dari surga.

“Na..na..namaku Mike”, kataku dengan suara terbata-bata saat gadis cantik ini menanyai namaku. “Namaku Angelica, senang berkenalan denganmu. Besok pada jam yang sama kamu masih ada disini lagi kan?”, tanya dengan senyuman yang sangat manis. Lesung pipitnya menambah pesonanya.

“Sepertinya ada. Memangnya kenapa?”, tanyaku sedikit bisa menebak. Gadis cantik ini hanya menjawabku dengan senyumannya yang paling manis. Kemudian dia berlalu sambil berdendang kecil membawa keranjang kecil ditangannya. Aku hanya bisa terpana menyaksikan malaikat sore itu menghilang dikerumunan orang.

“Huuaaaahh..”, aku mencoba mencium bau mulutku sendiri. “Hmm, sudah wangi”, kataku sambil merapikan baju dan celanaku. Kuambil gitar kesayanganku yang dari tadi sedang memandangiku asyik bersolek didepan cermin. Pasti gitarku bertanya-tanya, kepada siapa pujangga ini hendak bersapa.

Seperti biasanya, sore matahari masih bersinar cerah. Dibawah teduhan pohon nan rindang dan ditemani bunga-bunga nan indah, aku memainkan sebentar gitarku sebagai pemanasan. Dentingan-dentingan nada indah gitar membuat para penggemar dadakanku berkumpul. Bukannya sombong, kebanyakkan dari mereka yang jadi penggemar adalah justru wanita. Dan, akupun mulai mendendangkan pertama yang berjudul Love of the lifetime.

Dibelai angin sore yang menentramkan, diwarnai warna-warna bunga ditaman, ditemani oleh para wanita cantik nan mengagumkan, sungguh menjadi hari yang sangat menyenangkan. Setiap dentingan nada-nada gitarku membuai para pendengar yang berlalu lalang ditaman.

Saat sedang asyik memainkan gitarku, mataku menangkap sesosok wanita yang sudah tidak asing lagi dikepalaku. Gaun putih dengan keranjang kecil ditangan. Ya, Angelica datang mendengarkan nyanyianku. Melihatnya disana entah kenapa hatiku berdebar-debar. Lagu yang kunyanyikan pun semakin membuai. Aku merasakan hangat didalam hatiku. Damai dan penuh nada-nada.

Apakah aku jatuh cinta pada Angelica? Ataukah aku yang terlalu senang karena mendapatkan seorang penggemar yang cantik nan jelita seperti dia? Aku tidak tahu jawabannya para pembaca, yang aku tahu aku bahagia karena kehadirannya disana. Sore itu aku menyanyikan laguku diakhiri dengan tepuk tangan yang sangat meriah. Belum pernah kudengar suara tepukan tangan yang semeriah itu.

“Wow..”, kataku sedikit berteriak. Uang yang terkumpul banyak sekali. Dengan perkiraan kasarku, uang yang terkumpul bisa membuat aku makan dan menginap selama seminggu. Sejujurnya aku tidak pernah mendapatkan uang sebanyak itu, terlebih-lebih dikota kecil seperti ini. Sambil merapikan uang yang ada ditas gitarku, aku tiba-tiba tersadar.

“Angelica..”, kataku sambil berdiri mencari-cari wanita nan cantik jelita itu. Kemanapun mataku menuju tidak kutemukan Angelica. Padahal dengan gaun putih polos seperti itu tidaklah susah menemukannya. “Jangan-jangan dia sudah pulang”, desahku dengan suara kecil sedikit kecewa.

“Hai Mike”, terdengar suara wanita dari arah belakang. Aku membalikkan badanku dan kulihat Angelica sedang tersenyum padaku. Senyuman yang benar-benar sangat manis. Kulihat ditangannya ada setangkai mawar merah. “Mike, maukah kamu menerima bunga ini? Aku sengaja membawanya untukmu”, kata Angelica tersenyum manis. Apakah aku menerimanya? Ah, tidak perlu aku mengatakannya lagi bukan.

Kehadiran Angelica menambah warna dalam permainan gitarku dan tentu saja kehidupanku. Sebelumnya, saat aku singgah pada sebuah kota aku biasa paling lama bertahan disana adalah sekitar seminggu dan tidak lebih. Bukan karena kota yang kusinggahi sebelumnya tidak menarik, tapi karena aku suka berkelana dan berpindah-pindah. Tapi dikota ini aku telah bertahan selama 2 minggu.

Diatas meja tempat aku menginap, terdapat beberapa tangkai bunga mawar berwarna merah. Mungkin bukan beberapa tangkai, tapi banyak. Saat kuhitung ada 14 tangkai. Ya, aku mendapatkannya dari Angelica setiap sore saat aku selesai mendendangkan lagu dengan gitarku. Tapi sampai hari ini aku dan Angelica tidak pernah bersapa lebih dari 3 kata. Aku selalu terbuai oleh kecantikkannya sehingga aku lupa untuk menanyakan alamat rumahnya.

Pepatah bijak mengatakan, “saat kamu jatuh cinta, jarum jam pun menjadi jarum detik”, dan inilah yang kurasakan. Tidak terasa tiga minggu lebih telah lewat sejak aku singgah dikota ini. Para penggemar dadakanku sekarang malah menjadi penggemar setiaku. Setiap sore mereka selalu sabar menungguku disana. Bahkan beberapa mereka tidak segan meminta lagu padaku dan tentu saja dengan senang hati kukabulkan asal aku bisa menyanyikannya.

Yang lebih menyenangkan adalah, aku diterima masyarakat disana dengan tangan terbuka. Bahkan pemilik tempat aku menginap meringankan biaya penginapankan menjadi sangat murah. Awalnya aku menolak karena takut merugikannya, tapi aku malah dipaksa agar menerima tawarannya. Aku benar-benar terharu oleh keramahan dan kebaikkan masyarakat disana terutama pemilik penginapan ini.

“Hmmpphhh….”, kurebahkan tubuhku pada kasur empuk dikamarku. Kuregangkan sebentar badanku dan bangkit kembali hendak menaruh bunga mawar merah yang baru kudapat. Kumasukan mawar merah tersebut pada sebuah vas dengan corak yang bunga-bunga. “Satu, dua, tiga, empat, lima… 26 tangkai”, gumamku. Aku tersenyum melihat banyaknya mawar merah yang telah terkumpul disana. Bukan karena mawarnya, tapi karena wanita yang memberikannya.

“Permisi nona cantik, boleh aku bertanya satu hal padamu”, tanyaku mencoba bersikap seramah mungkin pada sekelompok gadis muda. Mereka menoleh padaku dan tertawa kecil. “Ya Mike, tentu saja, apapun pertanyaanmu akan kami jawab. Bahkan hati kami pun akan kami berikan jika dirimu yang meminta”, jawab seorang gadis cantik dengan rambut kecoklatan lurus kebawah.

Aku dibuatnya tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa tertawa kecil dengan sikap salah tingkah. Kurasakan mukaku hangat dan aku bisa memastikan wajahku sekarang merona merah. Ya, aku orangnya sebenarnya tipe pemalu, hanya dengan menyanyilah aku mengungkapkan perasaanku. Jika aku disuruh berbicara dengan lawan jenis apalagi yang cantik-cantik, aku selalu salah tingkah. Dan inilah yang membuat para gadis cantik ini mengodaku.

“Ma..maafkan aku nona, maafkan atas sikapku yang memalukan ini. Ak..aku hanya ingin bertanya, apakah kalian mengenal Angelica?”, tanyaku terbata-bata dengan wajah yang masih bersipu malu merona merah.

“Angelica? Maksudmu Angelica yang sipenjual bunga?”, tanya seorang gadis yang cantik diantara mereka. “Ya, dia biasa memakai gaun putih dan selalu memberiku setangkai mawar merah”, jawabku dengan sedikit bersemangat. “Dimanakah aku bisa menemuinya? “, sambungku sedikit tidak sabaran.

Gadis-gadis cantik ini saling memandang, mereka terdiam sebentar. Kulihat beberapa dari mereka berbisik-bisik kecil. Aku tidak tahu apa yang mereka bisikkan. “Mike…”, gadis berambut pirang membuka suara. “Ya..?”, jawabku dengan perasaan sedikit tidak enak. “Angelica selama ini berada dirumah sakit. Dan sampai hari ini dia tidak sadarkan diri juga. Jika kamu ingin menemuinya, kami akan antarkan kamu kesana”, kata gadis cantik ini yang kuketahui bernama Elisabeth.

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat. Dengan warna rambut keemasan, hidung mancung dan gaun putih sedang terbaring diatas kasur itu, Angelica bagaikan putri tidur seperti dalam dongeng-dongeng dunia. Disampingnya ada sebuah meja kecil dan diatasnya ada sebuah keranjang kecil dimana setiap kali aku selesai menyanyikan lagu dia memberiku mawar. Tapi yang sekarang kulihat dia justru terbaring lemas tak sadarkan diri?

Otakku bekerja keras mencari jawaban apa yang baru saja kualami hari ini. Saat mengunjungi Angelica dirumah sakit, kutanyakan pada suster yang merawatnya sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri, jawabannya sangat mengejutkannku. Selama dan sebanyak bunga mawar merah yang dia berikan, dan itu sudah 26 hari.

Jika itu memang benar, berarti sejak hari pertama dan sampai pada hari ke-26 Angelica sudah tidak sadarkan diri. Lalu siapa yang selalu memberiku mawar pada setiap sore saat aku selesai menyanyi? lalu siapakah wanita yang selalu tersenyum padaku dan membuatku hatiku berdebar-debar melihatnya? Akhirnya aku tahu kenapa hatiku berdebar-debar. Aku telah jatuh cinta padanya. Sejak hari pertama dan pada pandangan pertama.

Malam ini aku tidak bisa memejamkan mataku. Aku masih bingung dengan semua yang kulalui hari ini. Angelica tidak sadarkan diri, tapi kenapa dia bisa datang dan mendengar nyanyianku? Ataukah dia ada saudara kembar yang seperti dirinya? Atau justru yang terbaring lemah dirumah sakit itu justru saudara kembarnya. Aku benar-benar bingung sampai-sampai bulan telah tertidur dan cahaya mentari menyadarkanku.

“Aku akan mencoba menunggunya nanti sore. Aku akan sengaja menanti dan langsung bertanya padanya”, kataku pada diriku sendiri. Ya, aku telah mengambil keputusan untuk mencari jawabannya langsung pada Angelica nanti sore ditaman. Untuk hari ini aku tidak akan menyanyi dan hanya akan menunggunya. Gitar kesayanganku ku masukan dalam tas dan kugantungkan disamping tempat tidurku.

Udara sore terasa agak sejuk dibanding hari-hari sebelumnya. Sudah dua jam aku menunggunya ditaman tempat biasa aku menyanyi tapi Angelica tidak muncul-muncul juga. Taman itu juga terlihat lebih sepi dibanding hari-hari sebelumnya dan kemarin. Kulihat beberapa penggemarku masih ikut duduk ditaman, padahal telah kukatakan bahwa hari ini aku tidak datang untuk menyanyi. Saat aku ditanya mengapa, aku hanya beralasan mencari inspirasi dan menunggu seseorang.

Gelap malam tidak terasa mulai membayangi taman. Tiga jam aku menunggu Angelica, tapi Angelica tetap tidak datang. Dalam kekecewaan aku mengangkat tubuhku yang mulai kedinginan oleh angin malam dan beranjak pulang. Dalam perjalanan aku bertanya-tanya kenapa Angelica tidak datang? Lalu kenapa sebelumnya setiap hari dia justru hadir mendengarkankan dentingan gitarku dan laguku? Mungkin aku harus menyanyi kali baru dia datang.

Selama beberapa hari aku menunggu Angelica, dan selama hari yang kutunggu itu Angelica tidak menampakkan batang hidungnya. Penggemar yang selalu menungguku datang  medendangkan lagu, kini tidak tampak sama sekali. Mungkin mereka mengira aku telah berhenti menyanyi. Dan seperti malam-malam sebelumnya, angin malam yang sejuk memaksaku pulang ketempat darimana aku datang.

Sreetttt… Suara resleting tas gitarku saat kubuka. Kukeluarkan gitar tua kesayanganku itu. Dalam lamunanku aku mencoba memainkan senar-senar gitarku. Aku mencoba menyanyi, tapi anehnya suaraku yang keluar terasa berat. Dentingan suara gitar juga terdengar tidak mengenakan ditelinga.

“Ehem..”, aku mencoba berdehem untuk mengambil suara. Kutarik napasku dalam-dalam dan kuhembuskan. Kutarik lagi, dan kuhembuskan lagi. Pada hitungan ketiga aku mencoba memainkan lagu kesukaanku My Heart Will Go On – Celine Dion. Anehnya suaraku tetap berat, malah terdengar parau. Padahal aku telah menyanyikan dengan sepenuh hati. Nada-nada gitarku memang sudah bagus, tapi suaraku….

Semakin kupaksakan menyanyi, semakin lirih hatiku. Semakin kupaksakan lagi, air mataku berjatuhan dipipi. Kuseka air mata itu dengan tanganku. “Aneh, kok aku menanggis?”, tanyaku sendiri bingung. Kugosokkan kedua tanganku pada wajahku dan… kuambil napas panjang. Lalu aku mencoba lagi…, dan, aku menanggis. Kali ini aku tidak bisa menahannya lagi.

Malam itu aku hanya mendentingkan senar gitar kesayanganku. Tidak ada kata-kata atau lagu merdu dari mulutku. Hanya keheningan malam yang menemani suara gitarku. Dalam lamunan sadarku, aku teringat kembali wajah Angelica. Senyum manisnya hadir dalam bayanganku. Aku tersenyum mengingatnya, tapi mataku menanggis merindukannya.

“Cuit..cuit..cuit…”, terdengar nyanyian burung-burung memadu kasih diluar jendela. Aku terbangun dari lelapku ketika hangatnya mentari pagi menyapaku. Kucoba memaksakan diri mengangkat tubuh untuk segera membersihkan diri. Saat aku bercermin terlihat pantulan wajah seorang pria dengan rambut pendek acak-acakan. Wajahnya sayu dengan kantong mata hitam dibawah matanya. Tidak terlihat sedikitpun cahaya pada wajah dicermin itu, padahal biasanya kamar mandi tersebut selalu menjadi panggung orkestra pria yang wajahnya terpantul dicermin itu.

Setelah menyelesaikan sarapanku, aku berjalan ketaman dengan gitar kesayanganku dibahu kananku. Aku sengaja mengitari taman tersebut beberapa kali. Kulihat pepohonan begitu hijau. Kulihat bunga-bunga saling memamerkan pesonanya. Kulihat anak-anak bermain dengan gembiranya. Melihat keindahan yang Tuhan berikan padaku melalui mata ini, secara tidak sadar aku tersenyum. Lalu kucari sebuah bangku yang jauh dari keramaian orang-orang berlalu lalang. Kuambil gitarku dan kudentingkan laguku. Kali ini lagu ciptaanku.

Dengan penuh perasaan cinta, dengan membayangkan Angelica, aku menyanyikan lagu karanganku sendiri sambil memejamkan mata. Aku merasa begitu damai, aku merasa tenang saat menyanyikan lagu yang kukarang dan kupersembahkan pada Angelica. Ya, walaupun Angelica tidak hadir lagi melihatku dan mendengarkan laguku, aku akan tetap menyanyikannya untukku. Karena aku telah jatuh cinta padanya.

Saat kubuka mataku kembali, kulihat begitu ramai orang yang mengelilingiku. Ternyata mereka mendengarku menyanyi dan berkumpul jadi satu. Tapi semua diam membisu. Aku bingung dengan ekspresi mereka, apakah aku telah menyanyikan sebuah lagu yang aneh? Tidak sampai sedetik aku memikirkannya, tepuk tangan terdengar begitu meriah sekali. Kulihat para gadis muda bahkan para wanita-wanita menitikkan air mata. Sejujurnya, itu adalah tepuk tangan paling indah yang pernah kudengar.

Aku hanya bisa tersenyum melihat  mereka mengelu-elukan aku. Padahal yang kunyanyikan adalah lagu yang bahkan mereka tidak pernah dengar. Lagu yang kukarang sendiri buat seorang wanita, lagu yang kutulis dengan perasaan cinta, dan lagu yang kupersembahkan pada Angelica. Sayang, dia tidak lagi hadir mendengarkannya.

Saat gemuruh tepuk tangan semakin reda, dari kejauhan kulihat seorang wanita memakai gaun putih dengan keranjang ditangan. Kupicingkan mataku mencoba memastikan bahwa aku tidak salah lihat. “Angelica..?”, tanyaku sambil berdiri. Semua yang hadir melihatku bingung. Siapa yang aku panggil?

“Angelica, Angelica…”, kataku memanggilnya sambil berlari kecil mencoba mengejarnya. Saat melewati kerumunan orang-orang, kulihat wajah mereka kebingungan. Beberapa wanita berbisik sambil memandang kearahku. Saat kulihat kembali Angelica, ternyata dia telah pergi. Aku mencoba mencari-cari sambil memanggil namanya. Tapi tidak kutemukan siapa-siapa.

“Siapakah yang kamu cari Mike?”, tanya seorang gadis muda yang kuketahui bernama Mindy. Aku ceritakan semuanya pada Mindy dan beberapa temannya. Dan, yang kudapatkan adalah sebuah jawaban yang mengagetkanku. “Mike, kamu yakin itu Angelica? Dan kamu bilang dia memberimu setangkai mawar merah setiap kamu selesai bernyanyi?”, tanya Mindy mencoba menyakinkanku.

“Iya Mindy, sejak hari pertama. Aku bahkan masih menyimpan setiap tangkai mawar yang diberikannya ditempat penginapanku. Bukankah kalian sendiri melihatnya juga?”, tanyaku dengan kebingungan. Mindy memandangi teman-temannya, kemudian dia melihatku dengan mimik wajah yang cukup serius.

“Mike, maafkan kami. Tapi sejak hari pertama kami datang mendengarkan nyanyianmu dan menjadi penggemar setiamu, kami tidak melihat wanita dengan gaun putih yang seperti kamu jelaskan. Memang saat kamu hendak pulang kami masih melihat kamu seperti berbicara sendiri, tapi kami kira kamu sedang latihan menyanyi. Dan kamu juga sudah tahukan bahwa Angelica koma dan tak sadarkan diri dirumah sakit”.

Seketika aku merasa bulu romaku bergidik. Kulihat Mindy dan teman-temanya sama-sama bingung. Kami semua terdiam sesaat. Jadi siapakah wanita yang kulihat sebelumnya dan memberiku mawar merah? Jika itu bukan Angelica lalu siapa? Lalu kenapa Mindy dan teman-temannya tidak melihatnya?

Dalam kebingungan itu, kulihat seorang wanita setengah baya datang menghampiriku. “Pasti kamu yang namanya Mike”, kata wanita setengah baya ini padaku. “Iya, namaku Mike. Apakah ada yang bisa saya bantu nyonya…”, tanyaku mencoba mengingat siapa wanita ini. “Panggil aku Michelle saja. Nyonya Michelle”, jawab wanita ini dengan senyumannya yang ramah.

“Mike, ambillah mawar ini”, kata nyonya Michelle sambil memberikan sekuntum mawar putih padaku saat kami duduk berdua dibangku taman. Mindy dan teman-temannya telah pulang karena tidak ingin menganggu pembicaraan kami. Kuambil mawar itu dan kuperhatikan. Inikan mawar yang selalu diberikan Angelica padaku, bedanya Angelica memberikanku mawar merah.

“Kamu pasti bingung dengan apa yang terjadi padamu bukan? Mengapa Angelica tidak menemuimu lagi dan mengapa yang disini tidak bisa melihat Angelica”, tanya nyonya Michelle padaku. Aku begitu terkejut mendengar pertanyaannya. Bagaimana dia tahu semua yang kupikirkan? Dan lebih lagi, siapa sebenarnya nyonya Michelle ini? Belum sempat aku bertanya nyonya Michelle melanjutkan perkataanya.

“Besok siang, datanglah ketempat dimana kamu selalu  menyanyikan lagumu. Besok aku janji kamu akan mengetahui semua misteri yang selama ini terjadi. Nyanyikanlah lagu kesukaanmu dan nyanyikanlah dengan sepenuh hatimu. Karena besok akan menjadi hari terindah bagi Angelica, termasuk seluruh warga kota ini”.

Aku berdiri dengan wajah yang sangat konyol. Mulutku mengangga dengan bola mata yang hampir melompat keluar. Taman dimana aku biasa mendendangkan lagu, terlihat sangat luar biasa indahnya. Bangku-bangku berjejer rapi. Setiap sudutnya dihiasi bunga-bunga. Pepohonan terlihat lebih rindang dan lebih hijau warnanya. Kupandangi sekelilingku. Ada ratusan orang yang hadir disana.

Anak-anak kecil yang duduk didepan begitu manis dan dengan hiasan mahkota bunga dikepala mereka. Para wanita duduk disebelah kanan dengan pasangannya. Sedangkan para gadis merangkai bunga dan berkumpul disebelah kiri. Yang mengejutkanku adalah mereka semua berpakaian putih. Ya, semuanya tanpa terkecuali.

Aku mencoba duduk dikursi yang telah disediakan untukku. Begitu empuk dan nyaman. Kupandangi kembali sekelilingku. “Apa benar taman ini yang dulu aku selalu singgahi dan menyanyi? Kenapa bisa berubah seperti ini? Taman yang awalnya indah dan terkesan seadanya bisa menjadi seperti taman disurga? Dan ini terjadinya hanya satu malam saja?”, tanyaku dalam hati.

“Simpan semua pertanyaanmu itu untuk nanti Mike”, terdengar suara seorang wanita yang tidak asing lagi ditelingaku. “Selamat siang nyonya Michelle, kamu terlihat… wow”, kataku dengan nada sedikit terkejut. Ya, nyonya Michelle tampil dengan gaun serba putih dengan corak bunga yang menawan. “Hahaha, kamu bisa saja Mike. Apakah kamu sudah siap? Angelica sudah menunggumu dari tadi lho”, kata nyonya Michelle sambil mengedipkan matanya.

Yup, siang ini aku merasa bersemangat. Kenapa? Karena aku akan betemu Angelica. Tentu saja kepalaku masih dipenuhi beribu pertanyaan. Tapi aku yakin semua akan terjawab semuanya seperti yang dijanjikan nyonya Michelle. Dan, ternyata kenyataan kadang tidak adil pada kita semua.

Dentingan-dentingan suara gitarku dimainkan. Pepohonan saling berayunan mengikuti irama gitarku dibelai angin siang yang menyegarkan. Kunyanyikan lagu-lagu kesukaanku dengan penuh perasaan. Setiap kata, setiap nada, kurangkai dan kunyanyikan dengan penuh perasaan cinta. Dan semuanya kupersembahkan pada Angelica.

Tidak terasa 26 lagu telah kunyanyikan. Dan aku tidak merasakan sedikitpun kecapekan. Yang lebih mengejutkan lagi adalah mereka yang mendengarnya malah sangat menyukainya dan memintaku menyanyikan lebih banyak lagi. Aku begitu terharu dengan sambutan mereka. Tapi, siang telah menjelang sore. Dan aku ingin mengakhiri laguku dengan lagu ciptaanku sendiri. Dan lagu itu spesial buat Angelica.

“Ting…ting, ting…, ting…”, terdengar nada pembuka dari dentingan gitarku.

Saat kuberjalan ditaman bunga

Kuterpersona akan mekar indahnya

Warna-warni bagaikan pelangi angkasa

Menghias hati yang sedang bahagia

Kusangka semua ini bunga terindah

Sampai kulihat dirimu disana

Kau tersenyum padaku penuh pesona

Dan baru kusadari kaulah bunga paling indah

Itulah beberapa bait lirik lagu yang kutulis dengan penuh perasaan cinta dan kupersembahkan pada Angelica. Kunyanyikan dengan sepenuh hatiku. Kuungkapkan semua perasaanku. Aku menyanyikanya dengan penuh perasaan bahagia. Jika awalnya dia tidak ada disana mendengarkanku, maka hari ini kupersembahkannya dengan setulus jiwaku.

Akhirnya, lagu yang kutulis khusus dan kupersembahkan khusus pada Angelica mencapai bait terakhirnya. Saat menyanyikannya kupejam mataku membayangkan Angelica. Kini, saat kubuka mataku kulihat kembali ekspresi wajah mereka ketika pertama kali kunyanyikan ditaman sebelumnya. Mereka terdiam dengan deraian air mata diwajah. Ya, setelah itu gemuruh tepuk tangan menyambutku.

Aku hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Dalam kesempatan itu mataku melihat-lihat dan mencari Angelica. Dan untuk kali ini ternyata tidak mudah menemukannya. Karena mereka semua berpakaian sama. Putih.

Kulihat sekelompok anak-anak menghampiriku sambil membawa keranjang kecil ditangannya. Didalamnya kulihat beberapa kuntum mawar merah. Lalu kulihat juga dibelakang mereka ada seorang gadis dengan rambut keemasan mengikutinya. Ya, itu Angelica. Angelica sedang menghampiriku.

Saking senangnya aku hendak melompat dan memeluknya. Tapi karena aku berada didepan keramaian orang, aku menangguhkannya. Setelah gadis-gadis cilik manis ini memberiku bunga dan “memandikanku” dengan bunga-bunga tersebut, mereka berlari kembali kebangku mereka. Aku tersenyum melihat tingkah mereka yang gemesin.

Kupandangi wanita yang sekarang berdiri didepanku. Dia tersenyum manis. Manis sekali. Lalu Angelica mengecup pipiku sebentar disertai teriakan godaan dari mereka disana. Aku dibuatnya merona merah karena malu. Dari keranjangnya Angelica memberiku sekuntum mawar merah. Dan ini adalah mawar ke-27 yang dia berikan padaku.

“Mike…, terimakasih karena telah menyanyikan lagu untukku. Terimakasih karena kamu bahkan menciptakan lagu untukku. Maafkan aku karena hari ini baru bisa menemui. Aku tahu kamu pasti sangat merindukanku, karena aku juga sangat merindukan dirimu, bahkan sejak hari pertama aku memberimu mawar merah”.

“Aku sengaja memberimu mawar merah supaya kamu akan terus mengingatku dimanapun kamu berkelana, dan saat kamu melihat bunga mawar berwarna merah, maka aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu ada untukmu. Mawar yang kuberikan padamu sekarang ini adalah mawar terakhirku, dan untuk seterusnya, kamu harus menemukan mawarmu sendiri”.

Bingung. Itulah yang ada dikepalaku. Apa yang dimaksud Angelica? Mawar terakhir? Apakah dia tidak akan datang menemuiku dan mendengarkan laguku lagi? Aku harus menemukan mawarku sendiri? Bukankah telah kutemukan? Dan dia sekarang sedang berdiri dihadapanku. Saat aku hendak bertanya, Angelica menahanku dengan jari telunjuknya ditempelkan pada bibirku.

“Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan”, kata nyonya Michelle padaku tiba-tiba disampingku. “Coba kamu lihat sekelilingmu Mike”, pinta nyonya Michelle padaku. Dengan sangat bingung kulihat sekelilingku. Hah? Kemana gadis-gadis cilik itu pergi? Yang terlihat hanyalah mereka yang sudah dewasa disana.

Kucoba pastikan kembali sekelilingku. Pohon-pohon mulai berguguran daunnya. Bunga-bunga terlihat layu sebelum waktunya. Apa yang sedang terjadi? Waktu seakan berlomba lari dengan hari. Semua yang tadinya sangat indah beransur-ansur berubah menjadi tidak berwarna.

“Mike, sudah saatnya kamu memahami apa yang sedang terjadi. Kamu bukanlah milik didunia ini”, kata nyonya Michelle dengan senyumannya yang ramah. “Biarlah Angelica sendiri yang menjelaskannya”, lanjut nyonya Michelle sambil menempuk lenganku dan bergabung dikerumunan disana. Kupandangi Angelica. Dia menatapku dalam-dalam dengan senyumannya yang manis. Lalu dia menuntunku duduk disampingnya dibangku tempat aku duduk tadi.

“Mike, maafkan kami karena telah membuatmu bingung. Tapi janganlah salahkan mereka, karena mereka hanya menemaniku. Ketahuilah bahwa kami sebenarnya hanya roh didunia lain saja”, kata Angelica sambil mengenggam tanganku. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca, dan aku semakin bingung.

“Aku dan semua yang ada disini hanyalah roh dari masa lalu yang terikat pada dunia ini. Mereka sebenarnya kapan saja bisa meninggalkan dunia ini, tapi mereka memilih menemaniku selama berabad-abad lamanya. Ketahuilah juga aku juga bukanlah gadis semuda yang kamu lihat dengan matamu karena usiaku telah lebih dari 3 abad”.

“Saat waktuku, aku meninggal pada usia 27 tahun karena kecelakaan terjatuh dari tebing saat aku membawa bunga dikeranjangku. Aku waktu itu memetik bunga untuk kekasihku, dan kebetulan mawar yang kuberikan padamu ini pada waktuku sangatlah jarang ada. Tapi demi kekasihku yang sangat kucintai itu, aku  rela melakukannya”.

“Karena kecerobohannku, aku terpeleset dan tersandung sehingga terjatuh. Tubuhku memang tidak apa-apa karena waktu jatuh aku tersangkut pada sebuah pohon tua. Dan aku ditemukan oleh seorang wanita setengah baya dan membawaku berobat. Ya, wanita itu adalah nyonya Michelle. Sayangnya, kata dokter yang merawatku aku tidak mempunyai harapan hidup lagi. Aku hanya bisa terbaring tanpa sadarkan diri.  Dan, seperti yang bisa kamu tebak, aku pun meninggal pada waktu itu”.

“Tapi anehnya, aku tidak bisa lepas dari ikatan dunia ini. Rohku terus bergentayangan. Dan anehnya lagi hanya nyonya Michelle yang bisa melihatku. Dari pengetahuannya kuketahui aku terikat pada dunia ini karena aku belum menyelesaikan keinginanku, dan itu adalah memberikan bungaku pada kekasihku. Tapi, saat tubuh rohku baru saja bisa menyentuh fisik duniawi, kekasihku telah berpaling hati pada wanita lain”.

“Aku begitu sedih, hancur dan tersakiti. Aku tidak percaya mengapa semudah itu dia melupakanku. Padahal bertahun-tahun aku menantikannya dan mencintainya. Tapi aku hanyalah wanita lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa selain menanggis. Aku telah tiada didunia ini, tapi rohku masih mencintai. Dan sudah sewajarnya dia mencari pendamping lain setelah aku tiada bukan?’.

“Dalam kesedihan itu ternyata bertahun-tahun telah lewat. Dan beberapa ratus tahun yang lalu terjadi gempa yang meluluh-lantakkan kota kami tinggal. Hampir semua warga kota meninggal, dan yang masih hidup mengambil keputusan pindah kekota lainnya. Sedangkan mereka yang telah meninggal adalah mereka semua yang disini tetap menemaniku karena keterikatanku pada dunia ini”.

Aku terdiam mendengar penjelasan Angelica. Aku didunia lain? Dunia roh? Kulihat mereka semua yang masih berdiri didepanku. Mereka tersenyum padaku. Senyum yang ramah dan damai. “Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak mengenalmu? Dan bagaimana dengan dirimu yang dirumah sakit itu?”, tanyaku penasaran. Angelica hanya tersenyum. Lalu dia mengecup pipiku sekali lagi.

“Mike sayang, semua yang kamu lihat, semua yang kamu dengar dan semua yang kamu rasa adalah khayalanku semata. Dunia ini adalah dunia ciptaanku sendiri. Mereka hanya melakukannya karena skenarioku. Mengapa aku melakukannya? Karena aku ingin kamu mengetes dirimu dan karena aku ingin kamu menemaniku lebih lama lagi. Dan, terimakasih Mike, kamu benar-benar menemaniku, bahkan lebih, kamu memberikanku cintamu”.

“Hari ini, pada mawar ke-27 yang kuberikan padaku, itulah mawar terakhir yang kupetik diatas tebing itu. Mawar ini, mawar ke-27 adalah batas usiaku. Dan padamu kekasihku, walaupun dalam 27 hari, kamu telah menemaniku dan memberikanku hadiah terbaik yang pernah ada, yaitu lagu cinta tulus dari hatimu”.

“Kini, kami harus pergi meninggalkanmu. Maafkan aku kekasihku, mungkin ini terdengar kejam bagimu, tapi saat ada seorang pria yang benar-benar mencintaiku, maka keterikatanku pada dunia ini pun hilang. Aku benar-benar ingin bersamamu lebih lama lagi. Aku benar-benar ingin mendengarkan lagumu lagi. Tapi maafkan aku Mike sayang, aku harus pergi”, kata Angelica dengan linangan air mata membasahi wajahnya.

“Jangan pergi Angelica, kumohon jangan tinggalkan aku. Jika kamu memang harus pergi, bawalah aku bersamamu. Hatiku telah kamu curi, maka fisik ini juga tidak berarti lagi, aku mohon Angelica, aku…”, kupeluk Angelica dengan erat. Aku benar-benar tidak ingin dia meninggalkanku. Aku tidak peduli apakah ini mimpi, ini nyata ataupun dunia roh. Yang aku peduli adalah aku ingin bersamanya.

“Mike sayang, kamu juga sudah waktunya bangun. Kamu bukan milik dunia ini, dan kamu masih mempunyai banyak kota yang perlu disinggahi untuk menyanyikan lagu-lagu indahmu. Aku sangat bahagia kamu singgah dikota ini, dan aku sangat bahagia bisa mendengarkan nyanyianmu. Ingatlah aku selalu yang Mike sayang, mungkin tidak didunia ini. Tapi setiap kali kamu melihat mawar merah, ingatlah aku selalu. Dan, saat kamu bangun, temukanlah mawar merahmu juga”.

Setelah berkata seperti itu, kulihat sekelilingku semakin lama semakin pudar warnanya. Lalu dari langit terlihat cahaya yang sangat terang menyinari kami semua. Kulihat para wanita yang berdiri didepanku tersenyum padaku dan kemudian pelan-pelang menghilang. Hanya Angelica yang masih dalam pelukanku. Lalu dia memintaku melepaskan pelukanku. Aku tidak mau, tapi hanya dengan sebuah kecupan hangat dikeningku pelan-pelan aku melepaskan pelukannku.

“Mike sayang, perpisahan bukanlah akhir dari perjumpaan, tapi perpisahan justru awal perjumpaan yang baru. Aku memang mungkin meninggalkanmu, tapi selagi mawar masih mekar, dimanapun dia berada, itulah aku yang senantiasa menjagamu dan bersamamu. Saat kamu bangun nanti, ingatlah ini, selalu ada mawar merah yang menantimu. Terimakasih sayang atas semua cintamu. Terimakasih atas semua lagumu, dan terimakasih karena benar-benar mencintaiku”.

“Angelica…, angel…, kumohon jangan pergi, kumohon…, kumohon…”, teriakku sambil berlari mengejarnya. Dalam pandanganku Angelica perlahan-lahan naik keatas cahaya yang terang itu. Samar-samar kulihat ada bayangan sayap dipunggungnya. Wajahnya terlihat begitu bahagia. Butiran air matanya bagaikan kristal-kristal surga yang berjatuhan. Aku tertunduk sambil menanggis. Aku menanggis karena bahagia sekaligus sedih karena perjumpaan yang singkat. Tapi, aku benar-benar mencintainya dengan seluruh jiwaku.

“Angelica…”, terdengar suara memanggil dari seorang pria yang terbaring lemah disebuah kamar berwarna serba putih. Kepalanya diperban dan mendapatkan beberapa alat bantu pernapasan dihidungnya. “Dokter, dokter…”, terdengar juga suara seorang wanita dari kejauhan. Dalam kondisiku yang setengah sadar, aku merasa sangat mengenal suara itu dan suara itu sangat akrab ditelingaku. Kucoba menyesuaikan mataku dengan kondisi kamar itu.

“Syukurlah…, akhirnya pasien kita bisa melewati kondisi kritisnya”, kata seorang pria setengah baya dengan kumis tipis dan kacamata berbentuk persegi empat tua diwajahnya. Kulihat mereka berbisik-bisik kecil. Lalu kulihat dua orang wanita berpakaian serba putih mulai melepaskan semua alat-alat yang menempel ditubuhku.

“Tuan.. tuan…, Apakah kamu mendengarkanku?”, tanya wanita yang tadi pergi keluar memanggil dokter. Suaranya begitu damai dan menentramkan. Siapakah dia? “Tuan sebaiknya tiduran dulu ya, aku pergi mengurus administrasi dulu. Istirahat saja dan tidak perlu memikirkan apa-apa.”, pinta wanita ini sambil meninggalkanku dengan senyuman yang sangat manis.

Tidak terasa seminggu telah berlalu. Akupun mulai beransur-ansur pulih. Menurut keterangan dokter, aku sudah bisa meninggalkan rumah sakit beberapa hari lagi. Dan kata mereka aku ini termasuk pria yang beruntung, karena jatuh dari tebing setinggi itu yang luka hanya kepalaku. Sedangkan tubuhku baik-baik saja tersangkut pohon tua yang dibawah.

Tersangkut pohon? Jatuh dari tebing? Sepertinya bukan cerita asing lagi ditelingaku. Kutanya pada dokter bagaimana detailnya. Tapi dokter memintaku langsung bertanya pada wanita yang menemukanku. Belum sempat kutanya siapa, kudengar ada yang mengetuk pintu. Ternyata wanita yang suaranya akbrab ditelingaku.

Dari wanita ini aku mendengar semua detailnya, dan dari ceritanya aku juga akhirnya ingat kembali. Aku adalah seorang penyanyi sekaligus pencipta lagu, dan aku dikenal dengan sebutan Angel Voice – surara malaikat – karena suaraku yang khas dan merdu. Karena ingin mencari inspirasi berhubungan lagu baruku, aku membawa mobil pribadiku kesebuah reruntuhan kota kuno didaerah yang terkenal dengan keindanhan akan bunga mawarnya. Dan memang hobiku selalu singgah kekota-kota baru.

Disaat lagi menikmati kota kuno itu, aku mendapati sekuntum bunga mawar merah nan indah tumbuh didekat sudut tebing. Karena rasa penasaran dan ingin memetiknya, aku tidak hati-hati saat melewati jalanan kecil tebing itu dan tersandung hingga terjatuh. Setelah itu aku tidak sadarkan diri dan saat kubangun aku sudah diatas kasur rumah sakit ini dan terbaring lemah.

“Oya tuan, aku menaruh bunga mawarmu diatas vas itu ya. Saat aku menemukan tuan, kudapati banyak bunga mawar disekitar tubuh tuan. Aku menduga-duga bunga mawar itu pasti  berharga karena tuan seberani itu mengambilnya didekat tebing, lalu aku mengumpulkannya dan maafkan aku tuan sepertinya yang bisa kutemukan cuma 27 tangkai saja”, jelas wanita ini terlihat sedikit sedih.

27 tangkai? Aku merasa angka yang disebutkan wanita ini mengingatkanku akan sesuatu. Tapi apakah itu? Kenapa aku merasa hatiku deg-degan saat mendengar angka 27? Lalu wanita ini melanjutkan, “Tuan, maafkan aku tidak bisa menemukan sisanya. Aku sudah berhari-hari mencari disana apakah masih ada mawar yang tertinggal, tapi tidak kutemukan apapun”.

“Jumlahnya memang pas 27 kok, terimakasih karena telah mengumpulkan semuanya, dan ya, mawar itu sangat berharga bagiku. Semuanya”, jawabku berusaha memberikan senyuman yang paling ramah. Bagaimana aku bisa tahu bahwa jumlah mawar itu 27 tangkai? Ah, biarlah. Aku tidak ingat dan tidak mau memikirkannya. Yang pasti aku merasa damai mendengar suaranya.

Akhirnya hari yang dinantikan telah tiba. Aku dinyatakan telah pulih total oleh dokter yang merawatku. Karena secara fisik aku telah pulih, belum tentu dengan kondisi psikologisku. Dokter menyarankan aku agar mengambil cuti selama setahun dan melakukan aktivitas yang tidak membebankan pikiranku. Aku mengiyakan saran dokter tersebut dan kuambil cuti dari managerku.

Ditemani wanita yang telah merawatku saat di rumah sakit dulu, aku mengambil cuti dan melakukan pemulihanku diluar daerah jauh dari keramaian kota. Dan tahukah tempat apa yang kupilih? Sebuah kota kecil tempat dimana aku jatuh dari tebing.

Aku sendiri tidak tahu kenapa aku memilih kesana, seingatku saat aku bangun aku sangat menyukai bunga mawar terutama yang berwarna merah. Seperti ada kenangan indah aku dengan mawar merah itu. Tempat dimana aku menginap, aku meminta setiap sudut kamarku dihiasi mawar merah.

Beberapa bulan kemudian aku sudah bisa melakukan aktivitas yang cukup berat. Dan dalam beberapa bulan ini wanita ini selalu menemaniku. Sebelumnya dia hanyalah pelayan disebuah toko bunga, karena ketulusannya merawatku dirumah sakit dulu, aku sangat tertarik padanya dan menjadikannya sekretaris pribadiku. Sejujurnya, alasan sebenarnya sih karena suaranya begitu akrab ditelingaku dan itu mengingatkanku pada seseorang. Tapi aku tidak tahu siapa.

“Lyca…, boleh tolong ambilkan aku penyemprot bunga dibalkon? Aku ingin memberi air pada mawar baru kita ini”, pintaku pada Lyca saat sedang memindahkan mawar yang baru kubeli pada pot yang dikamarku. “Iya tuan, sebentar ya, aku lagi mengisi airnya”.

Yup, nama sekretaris pribadiku adalah Lyca. Wajahnya cukup cantik dengan dandanan minimalis. Rambutnya hitam panjang lurus kebawah. Tinggi? Hmm, paling sekitar 163cm. Tapi suaranya dan kepribadiaanya sangat menyenangkan.

“Besok kan hari minggu, apakah kamu ada acara? Misalnya bersama pacarmu atau keluarga?”, tanyaku saat kami makan bersama direstoran kecil tempat kami menginap. “Hmm, kalau acara keluarga sih ada, tapi jauh. Lagian aku malas berpergian jauh-jauh. Sedangkan aku belum punya pacar”, jawab Lyca tersenyum manis sekali. Semakin kulihat, semakin kudekat, wanita bernama Lyca ini semakin cantik. Bukan karena ke-glamourannya, tapi justru kesederhanaannya.

“Kamu belum mempunyai pacar? Memangnya belum ada pria yang bisa menggaet hatimu?”, kataku sekedar bertanya seadanya. “Ada sih, tapi aku takut aku ditolaknya. Status aku sama dia berbeda jauh. Lebih baik kupendam saja asal bisa melihatnya dari jauh aku sudah bahagia”, jawabnya dengan senyuman yang manis lagi.

“Kalau memang menyayanginya lebih baik kamu terus terang saja, tidak ada salahnya menyatakan perasaan kita padanya, daripada kita menyesal nantinya, siapa yang tahu dia juga memendam perasaan padamu lho”, kataku sedikit menghibunya. “Iya juga ya”, katanya sambil melahap buah-buah manis dimejanya, semanis senyumannya.

“Jika ada waktu, maukah kamu menemaniku keatas tebing kota sambil mencari mawar baru?”, tanyaku berharap. “Iya, aku mau, lagian aku bagaimana bisa meninggalkan tuan begitu saja. Aku takut tuan nanti memetik bunga ditebing lagi”, katanya dengan pandangan tajam dan mimik serius. Aku hanya bisa tertawa kecil mendengar jawabannya. Makan malam pada malam itu menjadi kenangan tersendiri bagi kami.

Minggu pagi yang cerah aku dibangunkan oleh kicauan burung-burung saling mengoda dan bercanda. Kubersihkan diriku dengan air hangat dan mencicipi beberapa buahan segar sebentar. Lalu akupun turun dan kulihat Lyca telah bersiap-siap menungguku dibawah tempat kami biasa sarapan bersama.

Diatas tebing itu aku duduk disebuah bangku tua. Diusianya yang sudah berabad-abad, bangku ini masih terlihat kokoh dan kuat. Disekelilingnya, ditumbuhi ilalang-ilalang dan mawar-mawar liar nan indah. Memang tidak salah kota ini mendapatkan julukan Kota Sejuta Mawar. Benar-benar memanjakan mata.

Tidak terasa pagi berganti siang, dan siang hendak menjemput malam. Sebelum memutuskan untuk pulang, aku duduk dibangku yang sama menanti matahari terbenam. “Tuan, tuan Mike, lihat aku. Keren kan aku berdiri membelakangi matahari?”, teriak Lyca memanggilku. Kulihat dia berdiri tepat didepanku, dan matahari terbenam dibelakangnya.

Secara tidak sadar aku tiba-tiba berdiri, mulutku mengangga tidak percaya dengan apa yang kulihat. Rambut hitam Lyca menjadi keemasan terpantul sinar matahari. Kulihat bayangannya yang terbentuk ditanah seperti ada bayangan sayap karena pantulan bayangan mawar-mawar sekitarnya. Lalu Lyca mengarahkan tangannya padaku sambil berkata, “27 mawar untuk Mike”, teriak Lyca sambil tersenyum manis.

“Ups.., ma..maafkan aku tuan, aku tidak bermaksud memanggil dengan nama tuan. Kok aku jadi kurang ajar ya”, kata Lyca pada dirinya sendiri sambil mencubit pipinya. Aku masih terdiam takjub dengan apa yang dilihat mataku. Lalu aku berjalan pelan kearah Lyca. “Tuan marah ya?”, tanya Lyca dengan mata sedikit ketakutan.

“Angelica..?”, ucapku tanpa sadar sambil memegang pundak Lyca. “Lho, kok tuan tahu nama asliku? Aku kan tidak pernah memberitahu tuan?”, tanya Lyca sedikit bingung. “Angelica, ternyata kamu…”, langsung kupeluk Lyca dengan mata berkaca-kaca. Lyca hanya bingung dengan apa yang kuperbuat.

“Ohh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud…”, kataku sambil melepaskan pelukanku pada Lyca. Aku merasa malu sekali dan bersalah. “Tidak apa-apa tuan, aku malah merasa senang”, kata Lyca dengan muka merona merah, semerah mawar yang menghias setiap sudut kota. “Benarkah nama sebenarmu Angelica?”, tanyaku dengan senyuman yang mungkin senyuman paling indah yang pernah dilihat Lyca.

“I..iya tuan, hanya saja tidak semua orang tahu namaku. Aku lebih suka memakai nama Lyca, karena kalau Angelica aku sering digoda temanku bahwa aku tidak secantik Angel”, katanya menjelaskan dengan senyumannya yang manis. Benarkah? Bagiku justru dia sangat cantik, terutama sore ini. “Mulai hari ini panggil aku Mike saja”, kataku dengan pandangan penuh makna padanya. Angelica hanya menunduk malu. “Tu..tu.., maksudku Mike”, jawabnya terbata-bata.

Kami berdua menikmati matahari terbenam bersama-sama. Kuminta dia duduk disamping menemaniku diatas bangku tua itu. Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut kami berdua. Yang ada hanyalah setangkai bunga digenggam oleh Lyca yang bernama asli Angelica. Aku merasakan hangatnya mentari sore itu tidaklah sehangat hatiku. Aku merasa indahnya mawar sore itu tidak seindah perasaanku. Kenapa? Karena aku menemukan Angelica. Angelicaku.

Dan tahukah siapa pria yang disukai Lyca saat kutanya padanya waktu kami makan bersama? Aku rasa aku tidak perlu menjawabnya, kalianpun telah mengetahui jawabannya. Akhirnya aku mengingat kembali apa yang kualami saat aku tidak sadarkan diri dirumah sakit dulu. Aku ingat setiap detailnya. Dalam “mimpiku” Angelica meminta aku menemukan mawarku sendiri, dan kini, aku telah menemukan mawar terindah.

Ditemani indahnya mentari sore terbenam ditebing, aku secara tidak sadar mendendangkan sebuah lagu. Lagu yang secara tidak sadar aku karang, tapi aku telah pernah menyanyikannya pada seseorang. Lagu yang kunyanyikan dengan penuh perasaan, perasaan cinta dan penuh sayang. Dan lagu ini pernah kupersembahkan, kini kupersembahkan pada dia yang menemaniku ditaman.

“Lagunya bagus Mike, lagu siapakah itu? Sepertinya aku pernah dengar. Tapi aku tidak tahu kapan dan dimana mendengarnya”, kata Lyca sambil melihat kearahku. Aku hanya tersenyum sambil memandangi wajahnya. “Ini lagu terbaru karanganku, dan aku sengaja membuatnya untukmu karena telah menemaniku selama ini. Maukah kamu mendengarnya lagi dengan lirik-lirik yang telah kutulis dikepalaku?”, tanyaku sambil memberanikan diri mencium keningnya. Lyca merona merah seperti warna mawar saat kukecup. Lalu dia mengandeng tanganku. “Iya, aku mau. Nyanyikan untukku Mike sayang”, balasnya mengecup pipiku.

“Dengarkan ya…”.

Saat kuberjalan ditaman bunga

Kuterpersona akan mekar indahnya

Warna-warni bagaikan pelangi angkasa

Menghias hati yang sedang bahagia

Kusangka semua ini bunga terindah

Sampai kulihat dirimu disana

Kau tersenyum padaku penuh pesona

Dan baru kusadari kaulah bunga paling indah

“Mmmmuuachh…”, kukecup mesra wanita disampingku ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s