Dimanakah sayapmu?


I'm not just give you my wings, but i give you my everything

“Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?”, tanya seorang malaikat besar sedang duduk disinggasananya. Parasnya sangatlah elok dengan rambut berwarna keemasan. Diatas kepalanya bertahta mahkota emas dengan ribuan permata menghias. Ya, malaikat ini adalah malaikat besar pemimpin para malaikat disurga.

Dibawah singgasana malaikat besar ini bertahta, terlihat seorang malaikat kecil sedang bersujud. Bola matanya biru sebiru langit cerah. Wajahnya tampan dengan senyuman yang sangat menawan. Malaikat kecil ini menganggukkan kepalanya memberi jawaban kepada malaikat besar yang berdiri diatas singgasana disana.

Kemudian malaikat besar ini berdiri. Enam sayap besarnya membentang seluas singgasana dia bertahta. Warna-warni sayapnya menghiasi semua area disana seperti pelangi nan indah mewarnai angkasa. Malaikat besar ini ternyata sangatlah besar. Semua area tempat dia bertahta menjadi gelap oleh tubuhnya dan sayapnya yang sangat indah.

“Ketahuilah bagimu malaikat kecilku, sebelum aku mengabulkan permintaanmu itu, ingatlah ini dahulu. Kau diberi kebebasan memilih, kau diberi kehidupan abadi, kau dikaruniai tawa dan bahagia, dan kau diberi sayap-sayap indah yang bisa membawamu kemana saja. Semua ini kau dapatkan karena kau diberi kuasa oleh-Nya sebagai malaikat pelindung bagi mereka yang didunia”.

“Mereka yang disana mempunyai aturannya sendiri, dan kau yang disini mempunyai aturannya juga. Kau diberi kebebasan mencari dan menjadi pelindung bagi mereka yang didunia sekehendak kau menyukainya. Tapi, kau tidak diberi kebebasan untuk berbicara dengannya apalagi menunjukkan keberadaanmu pada mereka. Yang bisa kau lakukan adalah berbicara melalui bisikan hati padanya. Tugasmu adalah melindunginya dan membawa mereka pada DIA yang bertahta sempurna”.

“Jadi, wahai malaikat kecilku, sekali lagi aku bertanya padamu, benarkah kau menginginkan hal itu walaupun sebagai akibatnya kau akan dibuang dari taman keabadian dan penuh suka cita ini kedunia yang penuh dengan rasa dengki dan air mata karena terluka?”, tanya malaikat besar sambil mengepakkan keenam sayapnya seakan hendak terbang. Malaikat kecil hanya tersenyum dan dia menjawab…

“Sayang, mommy kan sudah bilang jangan ganggu guk-guk gitu ah, nanti guk-guk marah lho”, kataku pada seorang malaikat kecil sambil mengecup pipinya. “Tapi guk-guk ambil bonekaku, tuh liyat mommy, dia mayah mengeyekku”, kata malaikat kecil itu padaku. Kuperhatikan kedua anjing jepangku sedang berguling-guling memainkan boneka kesayangan Angel sambil mengibas-gibaskan ekornya yang pendek. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah gemesin anjingku itu.

“Poppy, Pippy, kembayikan bonekaku…”, teriak Angel dengan kata-kata yang masih belum bisa diucapkan sempurna sambil mengejar Poppy. Ya, Angel adalah putriku dan Poppy serta Pippy adalah nama anjing jepangku. Aku tinggal berdua disebuah rumah sederhana dan kecil ini. Hari-hari kami lalui dengan penuh tawa dan canda ceria. Memang kuakui tidaklah mudah menjadi seorang ibu diusia muda dan seorang single parents lagi.

“Ayo Angel, kita harus berangkat sekolah, nanti terlambat lho”, kataku sambil merapikan topi dan baju malaikat kecilku itu. “Sana, pamit dulu sama Poppy dan Pippy, mereka lagi menunggumu didepan pintu”, pintaku pada Angel sambil mengecup keningnya dengan mesra. Awalnya Angel terlihat senewen karena bonekanya diambil sama Poppy dan Pippy, tapi melihat mereka sedang menundukkan kepalanya sambil duduk didepan pintu, Angel langsung tertawa dan berlari kearah mereka”.

“Akyu cayang Poppy, akyu juga cayang Pippy”, kata malaikat kecilku sambil mengelus-gelus kepala mereka. Kemudian malaikat kecilku memeluknya sebentar sebelum kuantar berangkat kesekolah. Ya, Poppy dan Pippy adalah teman main sejak Angel masih bayi. Sejak ayahnya Angel meninggal, akulah yang terus merawat Angel dan kedua anjing jepangku.

Mungkin ini terdengar konyol, tapi Poppy dan Pippy sudah seperti adik bagi Angel. Kemanapun Angel pergi, mereka selalu mengikuti dengan ekor yang dikibaskan tanpa henti. Dan mungkin ini terdengar lebih konyol lagi, Poppy dan Pippy adalah malaikat pelindung bagi Angel yang selalu menjaga baik siang maupun malam.

Mengapa aku mengatakan demikian? Pernah suatu hari aku terlalu sibuk dengan masakkan didapurku sehingga aku lupa mematikan air yang kusiapkan untuk Angel main dikolam renang plastik kesukaannya. Lalu kudengar Poppy datang padaku dan terus menyalak. Awalnya aku tidak hiraukan karena aku begitu sibuk dengan masakkanku. Mungkin karena melihatku yang tidak menyadari apa yang disampaikan olehnya, Poppy langsung bergegas keluar sambil mengigit sandalku.

Melihat Poppy mengambil sandalku, aku merasa terganggu dan mengejar Poppy keluar sampai kedepan rumah. Alangkah terkejutnya aku melihat Angel didalam kolam renang plastik itu dengan air merembes kemana-mana kepenuhan. Kulihat Pippy sedang mengigit bajunya Angel sambil menahan agar Angel tidak tenggelam. Sedangkan Poppy masuk kedapur memperingati aku.

Aku begitu menyesal jika mengingat kejadian waktu itu. Tapi untunglah Tuhan mengirimkan dua malaikat yang siap setia menjaga Angel malaikat kecilku. Sejak hari itu aku bersumpah tidak akan mengulangi kesalahanku dan akan lebih mewaspadai “peringatan-peringatan” yang disampaikan Tuhan padaku melalui kedua malaikat penjaga putriku. Poppy dan Piipy.

“Mana ciuman manismu buat mommy”,  kataku sambil memeluk malaikat kecilku saat tiba disekolahnya. Aku enggan sekali melepaskannya. Aku terlalu menyayangi sehingga ingin selalu bersamanya. “Muach…”, kecupnya pada pipiku. “Dada mommy, aku cayang mommy… dada Poppy dan Pippy, jangan nacal y”, kecup Angel pada kedua anjing Jepang kami. “Guk..guk..,” balas Poppy dan Pippy sambil melompat-lompat dibelakang kursi jok mobilku. Setelah itu aku berlalu ketokoku yang tidak jauh dari sekolah Angel.

Toko makanan anjing, Angel & PP. Itulah nama toko yang dulu aku bangun bersama suamiku, Mike. Kami sama-sama penyuka binatang terutama anjing. Mike dan aku berkenalan disebuah toko anjing. Saat itu aku sedang membawa anjing kesayanganku untuk diperiksa kesehatannya, secara tidak sengaja aku berpapasan dengan Mike dipintu masuk dokter hewan yang kami kunjungi.

Dari berpapaasan itulah kami mengenal lebih dalam. Kuketahui Mike juga menyukai anjing jenis keturunan Jepang. Sama sepertiku. Dan secara kebetulan lagi, anjing kesayanganku adalah betina dan kepunyaan Mike adalah jantan. Perkenalan aku dan Mike membawa kami kejenjang selanjutnya. Lucunya, anjing kesayangan kamilah yang “menikah” duluan. Selanjutnya, cincin berlian indah sederhana melingkar dijari manisku.

Karena mempunyai hobi yang sama, aku dan Mike mempunyai ide yang sama untuk mendirikan toko makanan, terutama makanan dan mainan buat anjing. Tapi semua itu belum bisa terlaksana karena aku sedang mengandung buah hati kami. Kami berempat hidup dalam kesederhanaan dalam sebuah rumah yang sederhana. Dan pada hari H yang telah diperkirakan, malaikat kecil kami lahir kedunia membawa ceria pada rumah kami yang sederhana.

Kebahagiaan yang kami alami begitu menyenangkan dan akan selalu dikenang. Malaikat kecil kami lahir sehat dan selalu membawa tawa bagi kami keluarga kecil yang serba sederhana. Dan kebahagian itu terus berlanjut setahun kemudian dimana Cassey dan Ken (nama anjingku dan Mike) melahirkan 4 ekor anak-anak anjing yang lucu. Saat itulah untuk pertama kali malaikat kecil kami mengenal “adik-adiknya”, dan kami memberi nama “adik-adik” baru malaikat kecil kami Poppy, Pippy, Peppy dan Puppy.

Tidak terasa setahun berlalu. Rumah yang sebelumnya sunyi senyap menjadi hiruk pikuk tawa bahagia. Tentu saja yang paling meramaikan suasana rumah tersebut adalah malaikat kecil kami, Angel dan keempat “adiknya”. Mereka sangat akrab. Saat bermain mereka selalu bersama-sama, saat makan mereka selalu semeja, bahkan saat tidurpun mereka tidak ingin berpisah. Aku dan Mike begitu mensyukuri semua karunia Tuhan hingga suatu malam datang berita yang begitu memukul hatiku.

“Sayang aku pergi dulu ya”, kata suamiku sambil mengecup keningku sebelum berangkat bekerja. Setelah Angel berusia 2 tahun lebih, aku dan suamiku berencana melanjutkan ide kami membuka toko makanan anjing. Suamiku bekerja menambah pundi-pundi tabungan kami sehingga bisa membuka toko yang lebih baik. “Poppy, Pippy, Peppy , Puppy, ayo ikut daddy jalan-jalan sebentar ya”, kata suamiku pada keempat anjing kecil nan lucu kami. “Guk..guk..”, sahut mereka bersahutan sambil melompat kemobil suamiku.

“Aku ikut berduka sayang, tabah ya demi putrimu yang masih kecil”, kata seorang wanita setengah baya menghiburku. Kupandangi nisan yang didepanku. RIP – Mike Jonathan. Aku tidak mampu menahan air mataku setiap kubaca nama yang tertera dibatu nisan itu. Ya, Mike kecelakaan saat pagi berangkat bekerja. Dari para saksi mata yang melihatnya, Mike sedang membawa keranjang anjing kecil. Saat hendak menyeberang seekor anjing melompat dari keranjang tersebut karena melihat seekor kucing. Lalu Mike mengejar anjing kecil yang lari itu.

Pas ditengah jalan ada sebuah mini bus melaju cukup cepat.  Melihat Mike yang tiba-tiba menyebrang, sopir mini bus itu tidak bisa menghentikan laju kendaraannya dan terjadilah tabrakan maut tersebut. Keranjangnya terlempar beberapa puluh meter. Kejadian yang begitu cepat itu mengundang kerumunan mendekat melihat apa yang terjadi.

Dalam perjalanan kerumah sakit, kudengar dari perawat yang menjaganya Mike sempat bertanya tentang anjing kecil kami. Tapi karena kondisinya yang sudah sangat lemah, Mike hanya bisa berharap mendapat jawaban yang diharapkannya. Perawat itu memastikan bahwa anjing kecil yang dimaksud Mike selamat, hanya satu yang terluka pada kakinya. Mendengar hal itu Mike menghembuskan napas terakhirnya dengan sebuah senyuman puas diwajahnya.

Air mataku tidak bisa berhenti saat mendengar kabar bahwa Mike telah tiada hanya karena menolong anjing kesayangan kami. Aku begitu histeris dan ingin rasanya kubuang semua anjing penyebab kematian orang yang paling kucintai itu. Tapi untunglah saat itu kulihat Angel sedang menyelimuti keempat “adiknya” dengan mata yang sayu. Aku tahu dia sedang bersedih karena “adik-adiknya” terluka, tapi apakah dia tahu bahwa ayahnya telah tiada?.

Ternyata kesedihan dan air mataku tidak cukup sampai disitu. Setelah beberapa hari sejak kepergian Mike suamiku tercinta, Puppy dan Peppy menyusul kepergian suamiku. Aku tidak tahu apa penyebabnya karena kata dokter hewan yang memastikannya mereka sangatlah sehat. Yang kutahu Puppy dan Peppy setiap malam melolong – lebih tepatnya menanggis –didepan sofa televisi. Kedua anjing kecilku ini memang paling akrab sama suamiku.

Awalnya aku ingin memukuli mereka karena menambah gundah hatiku, dan gara-gara mereka semualah aku harus berpisah dengan orang yang paling kucintai didunia ini. Tapi melihat mata mereka yang berkaca-kaca dan terlihat sangat sayu, aku hanya bisa memeluk mereka dan menanggis bersama. Besoknya mereka meninggal sambil terbaring pada piyama suamiku yang mereka ambil dari aman.

Aku tidak bisa menghentikan air mataku saat kuliaht Puppy dan Peppy tergeletak tidak bergerak disana, tapi yang membuat hatiku bagai dirajam beribu-ribu jarum adalah Angel berteriak dan menanggis seperti kesurupan mengetahui mereka telah tiada. Poppy dan Pippy hanya bisa melolong sambil menjilati saudara-saudara mereka yang sudah tidak bernapas lagi. Dari sana aku sadar dan belajar, walaupun mereka hanyalah anjing, tapi mereka mengerti artinya keluarga.

“Selamat pagi nyonya Katty”, sapa seorang karyawatiku saat aku sedang asyik bermain dengan Poppy dan Pippy. “Pagi juga Jess…”, balasku sambil tersenyum. “Lihat siapa yang datang itu?’, lanjutku memberi tanda pada kedua anjing kecilku. “Guk..guk..”, mereka menyalak bersamaan seakan hendak mengucapkan selamat pagi juga. “Hai Poppy, hai Pippy, apa kabarnya? Hhmmphhh…”, balas Jessica sambil memeluk mereka dengan gemas. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat mereka.

Jessica adalah karyawatiku sejak toko makanan anjing ini dibuka. Sejak suamiku meninggal, aku terus mengembangkan toko impian kami berdua ini. Dan hasilnya sangat diluar dugaan, toko kami berkembang pesat, untunglah ada Jessica yang senantiasa membantuku. Jessica adalah adik kelas dari suamiku saat dulu mengambil mata kuliah yang sama tentang perawatan binatang disebuah universitas. Setelah mendapat kabar bahwa Mike suamiku telah meninggal, Jessica menawarkan diri untuk membantuku.

Dari ceritanya Jessica, Mike selama masih hidup telah banyak membantunya dan keluarganya. Sehingga kini setelah tiada, dia ingin membalas semua budi yang diberikan Mike. Aku telah berkali-kali mengatakan padanya bahwa budinya telah habis untuk dibalas, tapi berkali-kali pula dia tetap ngotot ingin membantuku walaupun dengan hasil yang tidak seberapa. Alasannya karena dia sangat menyukai binatang terutama anjing sepertiku, dan Mike.

“Jess.. aku tinggal dulu ya. Aku ingin menjemput Angel dulu. Maaf ya merepotkanmu”, kataku sambil bersiap-siap keluar. “Iya nyonya Katty, serahkan saja semua hal toko padaku dan Poppy juga Pippy”, jawab Jessica sambil bermain dengan kedua anjing kecilku. “Guk..guk..”, jawab mereka mengiyakan.

“Mommy..mommy, tadi ada olang dengan cayap besal dipunggunya lho. Dia temenin Angel main”, kata Angel padaku sambil melompat memelukku. Hampir jatuh aku dibuatnya. Kukecup malaikat kecilku itu. “Wah, berarti Angel ketemu malaikat dong, hebat benar malaikat kecilku ini bisa bermain dengan malaikat”, kataku sambil mengikuti permainannya. Tentu saja mana ada malaikat disiang bolong begini. Yang dilihat Angel pastilah kostum yang dipakai untuk menghibur anak-anak.

“Malaikat ya namanya, waktu Angel mau pulang dia telbang lho mommy, namanya capa ya? Aku lupa”, kata Angel dengan tangan dilipat didadanya, sedangkan tangan kirinya memegang kepala. Angel sedang berpikir dan benar-benar gemesin tingkahnya itu. “Namanya Angel…seperti nama kamu sayang”, kukecup lagi putriku yang sangat mengemaskan itu. “Aahh… mommy, Angel kan sedang pikil nih”, katanya sedikit ngamek. Kupeluk erat malaikat kecilku itu.

Tidak terasa seminggu lebih telah berlalu sejak Angel menceritakan tentang “malaikatmya”. Semakin hari Angel terlihat semakin ceria. Sejujurnya aku senang sekali Angel menjadi ceria, tapi sebagai ibu aku merasa punya firasat yang tidak enak. Siapakah seseorang yang tidak kukenal itu yang selalu menemani Angel bermain? Apakah itu hanya triknya untuk menculik Angel? Ataukah itu guru sekolahnya yang berkostum malaikat? Banyak sekali pikiran yang menganggku.

Karena merasa tidak enak,  aku pada pagi ini mencoba mengikuti Angel sewaktu kesekolah. Semua hal yang berhubungan toko kuserahkan pada Jessica dengan alasan ada pertemuan guru dan orang tua murid disekolah Angel. Insting keibuanku telah membuatku mengambil keputusan ini. Aku tahu mungkin saja aku yang terlalu berlebihan melindungi putriku, tapi aku telah berjanji akan selalu melindunginya dan tidak akan membiarkannya terjadi apa-apa.

Saat terdengar suara bel berbunyi tiga kali tanda pulang sekolah, aku langsung masuk kesekolahan dan mencari Angel. Biasanya aku tidak seawal ini menjemputnya. Tapi penasaranku telah membuatku ingin mengetahui siapa “malaikat” yang dimaksud Angel itu. Kulihat Angel berlarian kecil dari kelasnya. Kuikuti dia diam-diam dari belakang  dan ternyata dia menuju taman bermain dibelakang sekolah.

Dari kejauhan kulihat dia menyapa seorang pria yang cukup tinggi. Mereka terlihat begitu akrab. Aku tidak langsung mendekati mereka karena aku ingin mencari tahu lebih jauh apa yang sedang kulihat. Apakah aku tidak cemas melihat putriku berbicara dengan orang asing? Jika aku tidak melihat kepala sekolah tempat Angel belajar mungkin aku akan langsung berlari kesana dan menegur pria itu. Dari yang kulihat pria yang menemani Angel bermain adalah kenalan kepala sekolah tersebut. Jadi aku sedikit bisa tenang.

Setelah sejam lebih, aku masuk dan berpura-pura tidak melihat apa-apa. “Angel… mommy datang menjemputmu..”, panggilku dengan mesra sambil terus memandangi pria itu. “Mommy…”, teriak Angel sambil berlari kearahku sambil melompat. Dan, Ups, aku hampir jatuh lagi. “Mommy, mommy, ketemu sama om Kha’el yok”, kata putriku sambil menarik tanganku.

Mataku rasanya hendak melompat keluar saat melihat pria ini. Bola mata biru dan hidungnya mancung. Rambutnya keemasan tersiram sinar matahari. Pria yang sungguh tampan sekali. Sedetik–mungkin beberapa detik–aku terpesona oleh pria ini. “Hai, namaku Kha’el, aku temannya Angel”, sapanya ramah sambil memperkenalkan diri dengan senyumannya yang wah.

“Namaku Catherine, tapi panggil saja aku Katty”, jawabku mencoba ramah. Perasaan cemas, penasaran, dan segala pikiran negatif dikepalaku sirna saat bertemu langsung dengan pria tampan ini. Aku bukannya terpesona sehingga lupa apa yang kurasakan sebelumnya, tapi ada aura atau apa aku tidak tahu yang membuatku yakin pria ini bukanlah orang jahat. Malah aku merasakan damai didekatnya.

Kata pepatah, “Tak kenal tak sayang”, maka pepatah itu sangat cocok menggambarkan hatiku. Sejak pertemuan dengan Kha’el –nama yang cukup jarang dipakai orang umumnya dan aku tidak heran kenapa Angel susah mengingatnya –aku merasakan kekosongan hatiku mulai terisi kembali. Bukan karena aku jatuh cinta padanya, tapi karena ada seseorang yang bisa berbagi cerita tentang malaikat-malaikat kecil kami.

Kha’el bercerita padaku bahwa dia adalah pelindung bagi anak-anak, dan kebetulan Angel mengingatkannya pada seorang gadis cilik yang dulu pernah dilindunginya. Sejujurnya aku bingung mendengar kata “pelindung”, tapi dalam benakku aku mengetahui kata “pelindung” itu adalah sejenis baby sister. Mungkin didaerahnya baby sister disebut pelindung.

Semakin aku mengenal Kha’el semakin aku terpesona oleh caranya memperlakukan malaikat kecilku Angel. Dia benar-benar seperti malaikat bagi anak-anak seusia Angel. Seringkali kulihat dia menemani Angel dan anak-anak lainnya bermain dengan ceria. Dan, seringkali aku mencuri pandang pada Kha’el seperti guru-guru muda yang berdiri disana mengaguminya. Aku tersenyum melihat mereka, karena aku tahu apa yang mereka rasakan.

“Kha’el, maukah nanti malam kamu datang kerumahku? Aku ingin mengundangmu makan malam karena telah menemani Angel bermain selama ini”, tanyaku pada Kha’el ketika kujemput putriku pulang. Dia hanya tersenyum dan menjawab, “Aku sangat senang dengan tawaran dan undanganmu nyonya Katty, tapi maafkan aku harus menolaknya. Untuk berbicara dan menemui kalian selama ini aku telah melanggar aturan yang ada”, kata Kha’el sambil bermain dengan Angel digendongannya.

Ya, aku bisa memaklumi posisinya. Seorang baby sister yang seharusnya menjaga anak-anak, malah keluar dan bermain dengan anak-anak lain yang seharusnya dia jaga. Mungkin ada alasan tersendiri mengapa pria ini meninggalkan pekerjaannya dan menemani putriku bermain. Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Lalu kamipun berpisah didepan sekolah.

Sejak kejadian itu, aku tidak pernah melihat Kha’el lagi. Putriku juga sering menanyakan padaku dan aku hanya bisa menjawab tidak tahu. Beberapa kali putriku sampai menanggis karena mencari-cari Kha’el. Keakraban mereka ternyata melebihi perkiraanku. Saat kutanya pada kepada sekolah dan guru-guru muda disana, mereka semua juga mengaku tidak tahu. Bahkan kulihat mereka sepertinya lupa dengan wajah pria yang kumaksud.

Berminggu-minggu aku mencari tahu informasi yang berhubungan dengan Kha’el, tapi nihil. Benar-benar seperti hilang ditelan bumi. Putriku juga sering ngambek dan meminta aku mempertemukan dan membawanya pada Kha’el, tapi kemana? Untunglah ada Poppy dan Pippy yang selalu menemaninya sehingga rasa kangennya pada Kha’el bisa terobati. Lalu bagaimana denganku? Aku justru semakin ingin mencarinya.

Tidak terasa bulanan telah lewat sejak aku bertemu dengan Kha’el. Putriku sendiripun sepertinya sudah bisa menerima dan mulai melupakannya. Aku senang melihatnya kembali akrab dengan Poppy dan Pippy. Sejujurnya aku masih ingin mencari tahu tentang Kha’el, tapi pikiran itu kutepiskan karena tidak ingin sampai putriku mengingatnya lagi. Yang harus fokuskan sekarang adalah keluarga kecilku.

“Mommy..mommy…”, teriak putriku sambil berlari kekamarku diikuti Poppy dan Pippy. “Mommy sini dong.. ikut aku, cepat mommy..”, manja putriku sambil menarik tanganku. Aku hanya terheran-heran melihat tingkah putriku ini. Setelah merapikan baju tidurku aku mengikut putriku.

“Ada apa sayang? Kamu lagi bermain dengan Poppy dan Pippy?’, tanyaku seadanya. “Bukan mommy, om Kha’el tadi main dikamalku. Om Kha’el juga bawa Puppy dan Peppy. Cepat mommy..om Kha’el nanti pulang…”, jawab putriku penuh semangat. Rasanya aku tidak percaya dengan apa yang barusan kudengar. Kha’el  dikamar putriku? Puppy? Peppy? Aku percepat jalanku kekamar putriku.

“Yaa…, mommy sih. Om Kha’el sudah pulang tu”, kata putriku sambil melompat keatas kasurnya dan langsung membuka jendela. “Puppy dan Peppy juga sudah pulang”, lanjutnya sambil melihat kelangit malam. Bulan malam itu bersinar sangat terang ditemani ribuan bintang. Aku masih dalam kebingungan. Kulihat sekeliling kamar putriku, tidak ada tanda-tanda ada pendatang.

“Angel sayang, apa benar tadi kamu bilang bahwa om Kha’el datang. Dan kamu bilang om Kha’el membawa Puppy dan Peppy?”, tanyaku memastikan bahwa putriku tidak berbohong. Aku sebenarnya menebak putriku pasti sedang bermimpi. Bagaimana mungkin Kha’el bisa ada dikamarnya? Karena kamar putriku ada dilantai dua. Jika memang dia bisa datang pasti Poppy dan Pippy sudah menyalak dari tadi.

Lalu Puppy dan Peppy? Rasanya lebih tidak mungkin lagi. Mereka kan telah meninggal beberapa tahun lalu. Apakah putriku yang terlalu merindukannya sehingga berhalusinasi? Ataukah karena dia terbawa perasaannya dari mimpinya. Yang pasti aku tahu apa yang dikatakannya sangat mustahil dan tidaklah nyata.

“Aku tidak bohong mommy..tadi memang ada om Kha’el sama Puppy dan Peppy. Mommy sih lambat datangnya..”, kata putriku sambil bermain dengan Poppy dan Pippy diatas kasur. Aku hanya bisa tersenyum dan mengecup kening putriku sebagai ucapan selamat malam. Saat kuberjalan kembali kekamarku, kepalaku dipenuhi ribuan pertanyaan tanpa jawaban.

Berhari-hari kulewati hariku dengan pertanyaan yang kunjung mendapat jawaban dikepalaku. Sebenarnya aku bukanlah tipe wanita memikirkan sebuah pertanyaan lama-lama, tapi apa yang dikatakan putriku beberapa malam lalu benar-benar sangat mengelitik kepalaku. Disatu sisi aku ingin percaya bahwa yang dikatakan putriku benar, tapi disatu sisi jika aku percaya bahwa itu benar bagaimana dengan Puppy dan Peppy? Apakah yang meninggal bisa hidup kembali? Aku benar-benar bingung hingga suatu malam aku bertemua Kha’el di depan taman.

“Kha’el?”, kataku seakan tidak percaya dengan apa yang kulihat. Pria yang selalu dirindukan putriku, pria yang selalu kucari keberadaannya tidak ketemu, malah saat aku hampir melupakannya dia muncul dihadapanku. Kudekati pria ini untuk memastikan bahwa aku tidak salah mengenalinya.

“Bagaimana kamu bisa ada disini? Dan mengapa selama ini kamu menghilang seperti ditelan bumi sampai-sampai putriku menanggis mencarimu. Apakah kamu tidak bisa mengucapkan sepatah selamat tinggal sebelum menghilang begitu”, kataku padanya meluap-luap. Ya, aku kesal karena dia membuat putriku menanggis karenanya. Aku cemas karena tidak mendapatkan kabar apa-apa darinya. Dan, aku takut kehilangan dirinya.

Yup, sepertinya harus kuakui bahwa aku mulai menaruh perasaan padanya. Sejak kapan? Mungkin sejak pertama kali bertemu dan aku menyukainya bagaimana dia memperlakukan putriku. Pria yang kumarahi ini didepanku ini hanya tersenyum tampan tanpa berkata apa-apa.

“Nyonya Katty, percaya kamu tentang sesosok mahkluk yang bersayap yang dikenal sebagai malaikat yang menjadi pelidung bagi manusia yang disukainya?”, tanya Kha’el padaku dengan senyumannya yang sangat ramah dan juga manis sekali. Aku hanya terdiam mendengar pertanyaannya. Dalam kepalaku aku bertanya kenapa pria ini sering menggunakan kata malaikat dan pelindung kalau berbicara. “Ya, aku percaya”, jawabku sambil mencoba tersenyum.

Aku menjawab iya bukan karena sembarangan menjawabnya. Aku menjawab iya karena bagiku dia adalah malaikat pelindung bagi putriku. Dialah yang selalu membuat malaikat kecilku tertawa. Dialah yang selalu membuat malaikat kecilku bahagia. Dan dialah yang membuat malaikat kecilku dan juga aku selalu merindukannya.

“Maafkan aku nyonya Katty, karena selama ini aku…”, belum selesai Kha’el menyelesaikan kalimatnya, aku memotongnya sambil berkata, “panggil aku Katty saja”, kataku sambil mengandeng tanganya. Ceritakan itu padaku saat kamu bertemu putriku. Dia hanya tersenyum padaku dan menganggukan kepalanya. Lalu kamipun berlalu menuju rumah dimana malaikat kecilku sedang menunggu.

“Angel sayang, lihat siapa yang datang ?”, kataku memanggil putriku setelah aku mengantar nanny yang kusewa kepintu depan. “Om Kha’el…”, teriak putriku dari atas tangga dan huppp, putriku langsung melompat. Terlihat tawa bahagia diwajah putriku. Belum pernah kulihat putriku sebahagia itu seumur hidupku.

Malam itu Kha’el menemani putriku sampai dia tertidur dalam pelukannya. Sebelum tertidur putriku bertanya pada Kha’el dengan senyumannya yang sangat manis, “om Kha’el, Angel cayang banget om Kha’el, jangan tinggalkan Angel lagi ya”, pinta putriku setengah sadar.  Lalu sebelum terlelap dalam pelukan Kha’el yang disayanginya, putriku bertanya, “om Kha’el dimanakah sayapmu?”.

“I Do…”, kataku dengan mantap.

Setelah setahun lebih mengenalnya, aku menerima Kha’el sebagai pendamping hidupku disebuah gereja kecil dikota kami. Hanya Jessica dan sahabat-sabahat terbaikku yang menjadi undangan kami. Saat aku mengatakan Jessica dan sahabat-sahabatku, aku mengatakannya dengan serius bahwa undangan yang hadir hanyalah dari pihakku saja. Sedangkan dari pihak Kha’el tidak ada. Karena Kha’el yatim piatu dan tidak mempunyai saudara satupun.

Sejujurnya aku tidak tahu apakah Kha’el benar-benar yatim piatu atau apa, tapi aku begitu mudah mempercayainya karena selama ini dia sangat jujur kepadaku dan Angel. Dan yang paling penting, Kha’el selalu  memberiku perasaan damai.

Jessica pernah berkata padaku bahwa Kha’el sangat mirip kepribadiaanya dengan mendiang suamiku terutama caranya memperlakukan sesamanya, dan harus kuakui kurasakan hal yang sama. Aku sering menangkap basah dia diam-diam memayungi seseorang terutama ibu-ibu yang kehujanan menunggu bus didepan cafe toko kami. Padahal dia sendiri kehujanan. Aku juga sering melihatnya menemani anak-anak yang menanggis menunggu karena orang tuanya terlambat datang menjemput. Pokoknya begitu banyak hal-hal kecil yang dilakukannya yang menambah nol-nol pada bank rekening cintaku.

Lalu bagaimana dengan kejadian dulu dimana Kha’el menghilang? Dari ceritanya dia mengatakan padaku bahwa dia bukanlah menghilang, tapi mempersiapkan semuanya untuk terus menemani putriku dan menjaga kami selamanya. Dia mengatakan sebelum mengambil keputusan itu dia harus menerima hukuman karena telah melanggar sumpahnya pada atasanya. Mendengar penjelasannya yang kalang kabut dan terkesan aneh itu aku hanya terdiam, tapi hatiku terasa damai.

Lalu bagaimana dengan malam sebelumnya waktu dia main kekamar putriku? Dengan senyumannya yang menawan dia mengakui bahwa dia memang ada disana, tapi dia tidak bisa berlama-lama. Kehadirannya malam itu karena rasa rindunya ingin menemui putriku. Aku begitu terharu mendengar jawabannya. Walaupun yang dikatakannya sekedar kebohongan akupun tidak mengapa. Kenapa? Karena dia begitu menyayangi putriku.

Puppy? Peppy? Ternyata itu adalah anak anjing peliharaanya. Putriku mengira bahwa mereka itu anjing kesayangannya yang telah meninggal. Memang secara sekilas dan kasat mata mereka sangatlah mirip dan bahkan warna dan juga tingkah lakunya sangatlah mirip. Sekarang mereka dimana? Tidaklah perlu jauh-jauh mencarinya. Dimana putriku berada, keempat malaikat kecil itu selalu bersamanya, dan mereka sekarang menari didepan dilatar pernikahan kami.

Malaikat? Ya, Kha’el adalah malaikat bagiku dan bagi putriku. Dialah yang memberi kami sayap-sayap keceriaan. Dialah yang memberi kami sayap-sayap kebahagiaan. Dan dialah yang melindungi kami dengan sayap-sayapnya yang terbentang indah. Lalu bagaimana dengan putriku yang mengatakan bahwa Kha’el adalah “malaikat sungguhan”. Tentu saja hanya putriku yang tahu semuanya. Dan, Kha’el ternyata memang malaikat sungguhan. Hanya saja aku tidak tahu sampai aku bertemu kembalinya dengannya disurga.

“Ya, aku bersedia”, jawab malaikat kecil dengan mantap.

Malaikat besar yang bertahta diatas sana hanya tersenyum mendengar jawaban dari malaikat kecil. Lalu malaikat besar ini meminta para malaikat pengawal agar membawa malaikat kecil ini kepenjara hukuman hampa ruang dan waktu. Ya, aturan didunia malaikat adalah mereka yang melanggar akan dihukum  disana.

Malaikat kecil ini dihukum karena telah menampakkan dirinya pada seorang gadis kecil yang seharusnya dilindunginya tanpa memperlihatkan wujudnya. Malaikat kecil ini dihukum karena telah berbicara langsung dengan gadis kecil ini. Dan malaikat ini dihukum karena telah jatuh cinta pada seorang wanita, dan wanita itu adalah ibu dari gadis kecil ini.

Malaikat kecil ini dihukum juga karena telah mencampuri urusan duniawi yang seharusnya pantang bagi seorang malaikat sepertinya. Malaikat kecil ini menjelma menjadi manusia dan berbaur pada sesama manusia bahkan berbicara dengan mereka. Dan, itu merupakan pantangan pertama yang tidak boleh dilanggar oleh semua para malaikat surga.

Kini, sayapnya dicabut dari punggungnya. Rasa sakit yang tak terkira terlihat dari wajahnya dan teriakkan lirihnya yang sangat memekakkan telinga. Setelah sayapnya dicabut, malaikat kecil ini dimasukkan kedalam penjara hampa ruang dan waktu. Hanya kegelapan hitam pekat tanpa setitik cahaya menemaninya dalam penjara itu. Dan malaikat kecil ini harus menjalani hukuman ini selama 300 tahun lamanya.

Dalam dunia malaikat, satu hari disana sama dengan satu tahun didunia. Tapi dalam penjara hampa ruang dan waktu, satu hari didunia sama dengan satu tahun disana. Itulah mengapa selama 30 hari lamanya malaikat kecil ini tidak bisa menemui gadis kecil yang selalu dirindukannya. Itulah mengapa selama 30 hari ini malaikat kecil ini menghilang bagai ditelam bumi. Dia telah melanggar aturan surga, dia juga telah mempersiapkan semuanya, dan dia sedang menerima hukumannya.

Setelah 30 hari lamanya atau 300 tahun didunia malaikat, malaikat kecil ini dibebaskan. Tampak  wajahnya sangat sayu dan tubuhnya terlihat sangat lemah. Walaupun begitu senyumnya tetap terpancar indah menghias wajahnya. Tidak terlihat sedikitpun kebenciaan ataupun kemarahan, yang ada justru kebahagiaan. Bukan bahagia karena telah dibebaskan, tapi bahagia karena dia bisa menemui gadis kecilnya dan menemaninya bermain didunia.

Tiba-tiba langit menjadi terang sekali, dari atas cahaya yang sangat terang itu turunlah malaikat besar dengan keenam sayap besarnya yang sangat indah. Malaikat besar ini memerintahkan pada malaikat pengawal yang membawanya agar segera meninggalkan mereka berdua. Lalu malaikat besar itu membawa malaikat kecil ini ditelapak tanganya sambil terbang keatas cahaya yang bersinar terang itu.

“Malaikat kecilku, kau telah menjalani hukumannya, dan sekarang saatnya kau dibebaskan dari segala aturan yang ada. Sebelum aku mengirimmu ketempat dimana kau selalu rindukan, apakah ada permintaan yang ingin kau haturkan?”, tanya malaikat besar ini tersenyum ramah pada malaikat kecil yang ditelapak tanganya.

“Ya, ijinkanlah aku membawa dua ekor anjing yang selama hidupnya didunia bernama Puppy dan Peppy bersamaku. Aku ingin memberikan pada gadis kecilku sebagai hadiah”, pinta malaikat kecil ini sambil bersujud ditelapak tangan malaikat besar ini. Hanya sebuah senyuman yang sangat indah terlihat diwajah malaikat besar sebagai jawaban atas permintaan malaikat kecil ini.

“Malaikat kecilku, Itu adalah pintu keluar dari dunia ini. Saat kau melangkahkan kakimu keluar dari pintu itu, semua ingatanmu akan terhapus tentang dunia ini. Kau akan terjatuh didunia yang kau cintai, tapi ketahuilah bahwa kau akan tersadar tanpa sanak saudara, bahkan tak akan ada seorangpun yang mengenalmu.  Hanya ingatan tentang gadis kecil dan ibunya serta keluarga kecilnya yang tersisa dikepalamu”.

“Sekarang pergilah, mereka pun sedang menantimu disana”, kata malaikat besar itu meletakkan malaikat kecil disebuah pintu gerbang yang sangat besar. Lalu pintu itu terbuka. Malaikat kecil tersenyum dan berterimakasih pada malaikat besar dengan setulus hatinya.  Dan, hup, malaikat kecil itu melompat kebawah, ketempat dimana gadis kecil yang selalu dirindukannya menunggunya, ketempat dimana keluarga kecilnya berada, dan tempat itu bernama dunia manusia.

“Malaikat kecilku, ingatlah ini, nama malaikatmu telah kuhapus dari catatan dunia malaikat. Nama Kha’el yang sebelumnya kau sandang sebagai nama malaikat, kini kuganti menjadi Mikhael didunia manusia. Dan panggilanmu didunia manusia adalah Mike”, lanjut malaikat besar ini dengan pintu dunia malaikat pelan-pelan menutup kembali.

“Semoga kau berbahagia didunia sana, dan kita pasti akan bertemu kembali didunia ini bersama keluarga kecilmu yang kau cintai”, kata malaikat besar ini sambil tersenyum penuh makna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s