Malaikat tak bersayap


You are my angel, my wingless angel

“Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua kemiskinan  ini. Sudah cukup aku bersabar dan menemanimu selama ini. Saat teman-temanku membeli baju baru, yang bisa kubanggakan hanyalah setelan kaos kumuh dan celana butut ini. Tahukah betapa malunya aku saat keluar bersama mereka? Padahal aku bisa mendapatkan pria kaya yang berkali-kali lipat lebih baik darimu, tapi entah bagaimana aku bisa begitu buta malah menikahimu. Dan aku sangat menyesal”.

Itulah teriakanku dan makianku pada suamiku saat aku berlalu meninggalkannya didepan rumah tua dan reyot kami. Kutenteng koperku dan langsung kutinggalkan pria yang telah menemaniku selama 5 tahun itu. Mungkin lebih tepat akulah yang menemaninya selama itu. Dengan tinggi 170an dan model tubuh montok padat berisi, aku bisa dengan mudah menggaet pria mana saja yang kumau. Masih ingat dalam kepalaku bagaimana para pria dengan kendaraan roda empat memperebutkanku hendak mengantarku pulang saat aku masih kuliah dulu.

Aku bukannya sombong, aku lahir dari keluarga yang cukup mapan. Apa yang kuinginkan mudah saja kudapatkan. Tidak perlu aku merenggek pada ayah atau ibuku untuk mewujudkannya, hanya kusebut saja apa yang kuinginkan didepan para pria tampan kaya yang mengejarku, besoknya apa yang kuinginkan telah ada dan diantarkan langsung kepadaku.

Aku terlalu materi? Aku memanfaatkan mereka? Silakan saja kalian menyebutku apa saja, toh aku tidak merasa meminta apalagi memaksa mereka membelinya. Yang kukatakan hanyalah, “Seandainya aku memikiki BB terbaru itu, pasti menyenangkan sekali”. Besoknya aku telah memakai BB terbaru itu.

“Kamu adalah wanita paling cantik dan paling sexy yang pernah kukenal”, rayu seorang pria tampan ketika kami berkenalan disebuah cafe terkenal. “Bolehkah aku mengetahui namamu yang kuyakin pasti seindah wajahmu itu?”, lanjut pria ini sambil mencium tanganku. Aku. Hanya tersenyum bangga.

“Namaku Cindy”, jawabku pendek sedikit ketus. “Sungguh nama yang sangat indah, benar-benar seinndah dirimu”, kata pria ini melanjutkan dengan mata yang masih mengagumiku tanpa berkedip. “Kalau aku namanya Johan, seorang anak pemilik restoran didepan”, katanya sambil menjelaskan statusnya supaya aku terpesona. Yup, pria ini tampan, mapan dan tahu cara memperlakukan wanita dengan menawan.

Apakah Johan ini yang menjadi suamiku? Awalnya aku mengira begitu, tapi kenyataannya aku malah katuh cinta pada temannya yang bernama Mike, OB-nya Johan dan seorang pelukis jalanan disela-sela kesibukkannya. Bagaimana ceritanya aku bisa menjadi istrinya aku sendiri tidak pasti,  yang pasti ketika aku menyadarinya aku sudah menenteng koperku meninggalknlannya didepan rumah peyot itu.

“Jess, kamu dimana? Cepat jemput aku donh. Bete nih aku menunggu disini”, kataku sambil menelpon ditelpon umum diseberang jalan rumah peyot itu. “Sabar Cin, aku dalam perjalanan kesana. Macet lagi. Tapi aku tidak lama lagi akan segera sampai”, balas Jessica menjelaskan dengan samar-samar terdengar klakson mobil dari teleponnya. “Oke, aku tunggu dicafe kecil didepan ya, nanti langsung cari aku kesana”, kataku ketus sambil kututup telpon itu.

“Ahh, segarnya.., sudah lama aku tidak merasakan air hangat begini”, kataku sambil mengeringkan rambutku setelah shower diapartemen Jessica. Kujatuhkan tubuhku diatas kasur empuk itu. “Hmm, memang beda kalau kasur mahal dan kasur murah. Aku tinggal beberapa hari disini ya Jess”, kataku pada Jessica. “Sesukamu saja Cin, anggap saja rumah sendiri”, jawab Jessica sambil membawa piyama dan baju tidur buatku. “Terimakasih ya sayang”, sambil ku peluk temanku itu.

Aku dan Jessica adalah teman satu kuliah. Kami sama-sama cantik dan sama-sama tinggi. Yang membedakan kami hanyalah gaya rambut kami. Jessica dengan potongan rambut panjang dan keibuan. Sedangkan aku mempunyai gaya yang terbalik dari Jessica. Rambutku agak pendek sebahu dan sedikit tomboi.

“Kamu yakin kamu akan seterusnya tinggal disini dan meninggalakan suamimu yang..”, belum selesai Jessica bertanya sudah kupotong pembicaraanya. “Jangan sebut nama pria itu lagi. Pria miskin dan tidak bisa apa-apa itu, mengingatnya saja aku sudah malas. Bahkan untuk mengejarku saja dia tidak ada. Huh, padahal kalau dia mngejarku aku pasti masih mempertimbangkan kembali”, kataku berapi-api mengingat kejadian tadi.

Memang kuakui aku telah mengatakan hal yang sangat menyakitkan pada suamiku sebelum meninggalkannya terdiam membisu dengan mata berkaca-kaca. Harus kuakui kehidupan  dengan suamiku tidaklah seburuk perkiraanku. Aku hanya terlalu emosi dengan kehidupan serba tanggung dan pas-pasan. Apalagi suamiku hanya berpenghasilan pas-pasan. Yang mungkin bisa kubanggakan hanya kasih sayangnya dan cintanya itu, tapi kita tidak bisa hidup hanya dengan mengandalkan itu bukan? Apalagi dijaman serba materi ini. Dan aku memang benar, benar-benar salah dengan pikiran seperti itu.

Sebelum aku menikah aku selalu selalu dimanja oleh materi yang serba berkecukupan, dan tentu saja semua  secara tidak sadar telah menjadi bagian diriku. Kebiasaan menggunakan uang dan membeli apa saja yang kumau sangatlah tidak cocok dengan pepatah bijak yang mengatakan bahwa “Hemat pangkal kaya”. Pepatah yang cocok bagiku mungkin “Bersenang-senang didunia, mati masuk surga”.

“Hai Johan, apa kabar?”, tanyaku pada mantan pacarku diseberang telpon sana. Johan telah menikah dan dikaruniai seorang putri. Tapi pernikahan mereka tidak berjalan lancar dan Johan memilih bercerai setelah satu tahun menikah. Aku masih sempat menghadiri sidang perceraianya dulu. Kini Johan berstatus seorang duda dengan satu anak.

Sejujurnya aku mencari Johan bukan karena aku ingin berselingkuh. Walaupun aku wanita yang dicap apalah dimata kaum pria – apakah aku matre, apakah aku genit, dan apakah lainnya, aku paling mengutuk wanita ataupun pria yang menghancurkan keharmonisan sebuah keluarga yang tercipta dengan baik. Dan aku bukan wanita seperti itu. Membayangkan saja aku sudah marah.

Aku mencari Johan karena kalau ada masalah dia sering mencariku dan curhat padaku. Sekarang aku mengalami masalah dan aku ingin curhat padanya. Lalu kenapa aku tidak curhat pada Jessica? Karena Jessica selalu menasehatiku supaya mempertahankan suamiku apapun alasannya.

Jessica selalu memintaku agar mengingat kembali hubungan kami yang membahagiakan, kenangan-kenangan yang mengikat perasaan, dan segala yang telah dilakukan suamiku padaku. Sejujurnya aku merasa Jessica lebih mengenal suamiku daripada aku, tapi, kenyataanya aku adalah istrinya dan aku tahu betul bagaimana suamiku dan keluargaku.

“Oke, nanti kita ketemu dimana?”, tanya Johan mengiyakan. Kukatakan padanya agar bertemu dicafe dulu waktu kami sering berkumpul. Aku mengajaknya ketemu malam ini dan aku ingin segera mengeluarkan segala unek-unekku. Aku ingin dia mengetahui bahwa betapa tidak beruntungnya aku mendapatkan suami yang tidak dapat kuandalkan. Pokonya semua kekurangannya akan kuceritakan pada Johan.

Ting tong. Kudengar suara pintu bel berbunyi. Sambil merapikan tatanan rambutku, aku bergegas turun dan membukakan pintu. Ternyata aku lupa, aku sekarang menginap diapartemen temanku Jessica. Saat aku tiba dibawah Johan telah duduk santai diatas sofa. Kulihat Jessica baru saja menghidangkan secangkir teh hangat diatas meja.

“Wow, bidadari dari langit keberapa yang turun kebumi ini”, puji Johan sambil mengagumi gaun merahku dengan model punggung terbuka. “Bukan bidadari dari langit kok, hanya seorang wanita dari lantai dua saja”, goda Jessica sambil diikuti gelak tawa Johan. Setelah menghabiskan teh yang diatas meja, aku dan Johan pun ketempat tujuan. Jessica tidak bisa ikut karena harus mengurus pekerjaannya malam itu.

“Jujur saja Cin, diusiamu yang memasuki kepala tiga, kecantikkanmu tidak layu setangkaipun, malah semakin mekar indahnya. Bahkan kumbang-kumbang muda yang sudah bertuankan bunga masih mengagumimu”, puji Johan sambil memainkan mata agar aku melihat sekelilingku.

Ya, dengan gaun merah dan hiasan minimalis cantik menghias wajah, bisa kulihat para pria muda sedang mengagumiku. Aku tidak perlu repot-repot memastikan bahwa mereka mengagumiku, karena didepanku saja aku melihat seorang wanita menjewer telinga sang pria karena matanya terus tertuju padaku. Padahal kulihat bunga yang duduk didepannya sudah sangat cantik.

“Bagaimana kabarmu selama ini Johan? Apakah sudah menemukan pendamping yang baru?”, tanyaku membuka pembicaraan. “Sejujurnya aku sedang menyukai seorang wanita Cindy, cuma aku takut aku tidak bisa membahagiakannnya sebagiamana dengan mantan istriku dulu”, desah Johan sambil mencicipi anggur merahnya.

“Ah, siapa bilang kamu tidak bisa membahagiakannya. Menurutku justru wanita yang menolakmu adalah wanita yang buta. Kamu tampan, kamu mapan, mobil dan rumah mewah telah kamu miliki. Kamu perhatian dan penyayang. Aku rasa jika kamu benar-benar mencari dan membuka lowongan, wanita yang daftar mungkin sampai malam pun tidak bakalan selesai wawancaranya”, kataku memuji Johan.

“Lalu kenapa kamu dulu menolakku?”, tanyanya dengan senyuman penuh makna. Aku hanya terdiam sambil pura-pura tidak mendengarnya. Aku pura-pura melihat kearah lain seperti mencari sesuatu. Melihat tingkah konyolku yang dibuat-buat itu, Johan tertawa kecil. “Aku hanya bercanda saja Cin, tidak perlu ditanggapi serius begitu”.

Sebenarnya Johan bukan bercanda. Memang aku dulu menolaknya. Kami sempat dekat selama beberapa bulan dan kudapati bahwa Johan orangnya sangat menyenangkan. Tapi anehnya aku malah tertarik pada karyawannya Mike yang serba sederhana dan apa adanya. Jika kalian bertanya padaku mengapa aku bisa menikahinya, aku sendiri bingung.

Pernah aku bertanya pada Mike mengapa aku bisa jatuh cinta padanya, dan tahukah apa jawabannya? “bukan kamu yang jatuh cinta padaku sayang, tapi aku yang sangat menyukaimu sehingga malaikat memaksamu mencintaiku”. Aku hanya merona merah saat mendengar jawaban dari Mike waktu pacaran dulu.

Sesungguhnya aku dan Mike pada awal pernikahan sangatlah bahagia. Kami juga tidaklah semiskin yang semua orang kira. Aku mencintainya apa adanya. Tapi dengan berlalunya waktu semua kebahagiaan itu mulai memudar. Tepatnya pada tahun kedua saat kami bersama-sama mengetes kesuburan kami.

Dari hasil diagnosa dokter aku mengetahui suamiku ternyata tidak akan bisa memberiku keturunan alias mandul. Aku begitu terkejut dan terpukul mendengar kabar itu. Padahal aku sangat menginginkan seorang malaikat kecil hadir dalam keluarga kecil kami. Tapi karena aku mencintainya, aku menerima dengan kebesaran jiwa.

Ternyata kejadiaan itu bukanlah kado buruk terakhir dalam pernikahan kami. Selang setahun kemudian aku didiagnosa menginap kelainan ginjal. Aku begitu stress mendengar kabar buruk itu. Aku bahkan menjadi sangat marah dan kulampiaskan pada suamiku. Kukatakan padanya semua ini dialah penyebabnya karena tidak mampu membiayai keluarga kami sehingga aku harus bekerja mencari tambahan dan jatuh sakit begini. Suamiku hanya mendengarkan makianku dengan mata berkaca-kaca.

Tahukah apa yang paling membuatku terpukul? Saat aku berada dirumah sakit dan mengharapkan bantuan donor ginjal, suamiku malah meninggalkanku selama sebulan lebih dengan alasan ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkannya. Hatiku begitu hancur berkeping-keping. Aku tidak menyalahkannya jika dia harus bekerja keras untuk mencari tambahan biaya rumah sakit yang semakin membengkak, tapi caranya dan waktunya dia meninggalkanku sangatlah membuatku terluka.

Setelah beberapa minggu kepergiannya, aku mendapatkan sebuah ginjal hasil donor seseorang yang baik hati. Dan luar biasanya ginjal itu sangat cocok dengan kondisi tubuhku. Aku bersyukur sekali karena masih ada malaikat sebaik itu didunia ini. Aku meminta kepada dokter agar dipertemukan pada sipedonor itu tapi dokter mengatakan bahwa pendonor itu tidak ingin orang lain mengetahuinya. Hanya doa dan jutaan terimakasih bisa kuucapkan padanya.

Setahun setelah mendapatkan donor itu, tubuhku tidak mengalami perubahan apa-apa. Tubuhku malah sangat sehat seperti tidak pernah sakit. Aku sangat mensyukuri semua itu. Suamiku yang melihatku sehat kembali sangat bergembira sampai menitikkan air mata. Aku sebenarnya masih kecewa dengan perlakuannya saat aku terbaring lemah dirumah sakit. Saat aku perlu kehadirannya, justru Johan dan Jessica yang menemaniku.

Apa yang kuceritakan pada kalian, kuceritakan semua pada Johan malam itu. Aku benar-benar kesal jika mengingat semua itu. Johan hanya diam dan mendengarkan ceritaku dengan sangat serius. Setelah menyelesaikan ceritaku, aku merasa sangat lega. Kuteguk secangkir anggur merahku untuk melepaskan dahagaku.

“Lalu apa rencanamu selanjutnya Cin?”, tanya Johan dengan mimik sangat serius memandangiku. Aku diam sebentar. “Mungkin aku harus meminta cerai padanya. Aku sudah tidak sanggup lagi dengan ketidakpedulian suamiku Johan. Tidak bisa diandalkan aku masih bisa menerima, tapi sampai tidak peduli seperti itu rasanya aku…”, kuhentikan kara-kataku tidak mampu menyelesailannya. Kurasakan mataku berkaca-kaca. Ya, aku masih menyayangi Mike.

Johan memperbaiki posisi duduknya. Lalu dia mengenggam tanganku sambil tersenyum ramah. Bola mata kehijauannya terlihat sangat indah. “Cindy, jika aku menjadi wanita dan wanita itu kamu, aku justru tidak akan melepaskan pria seperti itu. Aku tahu kamu pasti bingung mendengar apa yang kukatakan. Tapi sebelum aku menjelaskannya, ijinkan aku bertanya ini padaku. Apakah kamu tahu merk berlian ini?”, tanya Johan sambil menunjuk ke cincin pernikahanku. “Ya, tentu saja aku tahu. Aku malah tahu dimana aku membelinya dan kapan aku membelinya”, jawabku dengan mimik bingung.

Johqn lalu tersenyum lagi. “Lalu tahukah siapa yang mengasah berlian ini sehingga menjadi secantik ini?”, tanyanya lagi kali ini dengan senyuman penuh makna. Sejujurnya aku masih bingung dan aku tidak tahu siapa yang mengasah berlian ini. Lagian apa pentingnya siapa yang mengasah berlian itu bukan? Melihatku yang masih bingung Johan tidak menjelaskan apa-apa.

Dan untuk mendapatkan jawabannya Johan memintaku bertemu kembali ditaman besok pada sore hari dan memintaku mengajak Jessica. Apabila Jessica ada halangan, Johan mengatakan padaku agar mengatakan ini padanya. “Jika Jessicca ada halangan, katakan ini saja padanya, bahwa kamu tidak tahu siapa pengasah berlian pernikahanmu, aku jamin Jessica sesibuk apapun pasti bisa datang. Kutunggu kalian ditaman”.

Aku duduk sendirian ditaman. Belaian angin pada sore hari itu sangat mendamaikan perasaan. Sudah tiga hari aku pergi meninggalkan suamiku. Beberapa kali suamiku menghubungiku, tapi aku enggan mengangkatnya. Aku masih kesal dan kecewa dengan sikapnya selama ini sebagai pria, suami dan juga kepala keluarga. Karena kasihan kepada suamiku yang menghubungiku tapi tidak kugubris, Jessica sahabatku selalu menggantikan aku mengangkatnya.

Sejujurnya, kadang aku merasa Jessica lebih pantas menjadi pendamping suamiku. Dia sabar dan keibuan, sedangkan aku berkobar-kobar dan agak tomboi. Beberapa kali aku melihat Jessica ngobrol sambil tertawa. Mereka kelihatan sangat menikmati obrolan dalam telpon itu.

Aku semakin kesal dengan suamiku yang jarang ngobrol denganku seperti itu. Apakah aku cemburu? Ya tentu saja, hanya saja aku belum menyadarinya dan terlalu gengsi untuk mengakuinya. Yang kulakukan justru kupendam dengan kemarahan yang semakin parah.

“Hai cantik, sudah lama menunggu ya”, terdengar suara menyapaku. Kulihat Johan dan Jessica datang bersama-sama. Ditangan Jessica kulihat ada sebuah tas warna pink untuk menyimpan dokumen. Untuk apa dia membawa barang seperti itu? tanyaku penasaran. “Aku juga baru sampai kok. Ayo duduk dulu, aku penasaran nih apa yang ingin kalian bicarakan”, kataku sedikit tidak sabaran. Johan dan Jessica hanya tersenyum melihatku. Lalu kulihat Jessica mengeluarkan sebuah surat. Ternyata surat cerai.

“Apa maksudnya ini?”, tanyaku bingung. Jessica tersenyum padaku. “Kudengar dari Johan bahwa kamu ingin menceraikan suamimu. Dan aku telah menyiapkan semuanya untukmu. Tapi sebelum kamu yakin dengan keputusanamu dan menandatangi surat ini, aku ingin kamu berjanji satu hal padaku”, kata Jessica melihatku denagan tatapan mata yang serius.

Aku menelan ludah mendengar apa yang barusan dikatakannya. Kulihat Johan juga melihatku dengan minik wajah yang serius. Belum pernah kulihat mereka menjadi serius seperti itu. Aku hanya menganggukan kepala mengiyakan. Kemudian Jessica merapikan rambutnya seraya berkata, “Jika kamu memang tetap ingin menceraikan suamimu setelah mendengar apa yang kami ceritakan, maka kami tidak akan menghalangimu. Dan, ketahuilah Cindy, saat kamu menceraikan suamimu, saat kamu tanda tangani surat ini, maka saat ini juga aku akan mengejar Mike”.

“Hah?!”. Hanya itu yang bisa kukatakan dengan mimik wajah yang terkejut bukan main. Jessica akan mengejar suamiku? Aku memang tahu dari dulu kalau Jessica memang menyimpan perasaan pada Mike suamiku. Tapi akhirnya suamiku memilihku menjadi istrinya setelah 8 bulan pacaran. Dan dia sekarang mengatakan akan mengejar suamiku? Apakah dia tidak tahu seberapa tidak bisa diandalkannya suamiku? Aku hanya tersenyum sinis mendengar perkataan Jessica, dalam hati aku berkata pada diriku sendiri, “Cinta memang buta tapi tidak kusangka bahwa Jessica akan sebuta itu”.

“Cindy…”, kata Johan membuka pembicaraan. “Sebenarnya yang akan kami ceritakan ini seharusnya tidak boleh diceritakan sampai kapanpun. Kami sudah berjanji pada Mike, tapi melihatmu yang mulai berubah dan melihat dari sudut pandangmu saja, aku tidak tega melihatmu begitu menderita apalagi Mike yang begitu menyayangimu dan mencintaimu”, lanjut Johan dengan mata menerawang keatas awan. Kulihat matanya sepertinya berkaca-kaca.

Aku bingung dengan apa yang dikatakan Johan. Aku tahu suamiku masih mencintaiku, tapi yang kukeluhkan bukanlah itu. Aku mengeluh dan meninggalkan suamiku karena dia tidak bisa diandalkan seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku sebenarnya ingin protes dengan kata-kata yang diucapkan Johan, tapi sebuah sentuhan lembut ditanganku oleh Jessica membuatku terdiam, dan apa yang diceritakan mereka justru membuat air mataku kering kerontang.

Dengan air mata yang bercucuran dengan derasnya, aku berlari pulang kerumah. Aku tidak tahu dan tidak peduli seberapa jauh rumahku dari taman kesitu, yang aku tahu aku harus pulang dan memeluknya bahkan mungkin aku harus bersujud didepannya. Aku tidak peduli seberapa kotornya gaun putih yang kukenakan, karena hatiku dan sikapku ini justru lebih kotor dibanding gaun putihku. Aku juga tidak peduli seberapa panasnya dan seberapa lepuhnya kakiku karena berlari, yang aku peduli aku ingin kembali padanya yang telah tega meninggalkannya dengan kaki ini.

Ternyata dari cerita Johan dan Jessica, Mike bukanlah tidak bisa diandalkan. Mike bukan tidak peduli padaku, tapi justru karena terlalu mencintaiku dia melakukannya. Sambil berlari aku teringat kembali bagaimana begitu terpukulnya aku saat divonis oleh dokter bahwa suamiku tidak akan bisa memberikanku keturunan. Aku begitu sedih mendengar berita itu. Tapi suamiku justru dengan lembut menghiburku bahwa kami bisa mengadopsi anak dan akan merawatnya seperti anak sendiri.

Awalnya aku mencoba memahami kondisi suamiku, aku begitu mencintainya sehingga aku ikut merasakan kesedihannya juga menerima semua kekurangannya. Aku hanya mencoba tersenyum agar suamiku tidaklah kecewa, padahal dalam hati aku begitu ingin memiliki bayi mungil dari rahimku sendiri. Tapi, ternyata aku salah, justru akulah yang tidak bisa memberikan keturunan pada suamiku.

Lalu bagaimana ceritanya sampai suamiku divonis mandul? Ternyata suamiku sangatlah sehat dan tidak ada masalah. Akulah yang sebenarnya mandul dan tidak akan bisa memberikan keturunan pada suamiku. Tapi karena begitu sayangnya dia padaku dan tidak ingin aku kecewa dan sedih, suamiku memohon sambil bersujud agar dokter yang memeriksaku merahasiakannya dan bersandiwara. Awalnya dokter menolak semua itu, tapi karena melihat kesungguhan suamiku yang rela membuang harga dirinya demi istri yang sangat dicintainya, segala peraturan dan norma dunia kedokteran luluh dihadapannya.

Mengingat kembali bagaimana aku memperlakukan suamiku dan menyalahkannya, air mataku kembali berurai diwajah. Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku dan terduduk sebentar disebuah pinggiran taman. Aku begitu menyesal mengapa aku begitu buta hanya karena apa yang kulihat dengan mata dan kudengar dengan telinga. Aku begitu malu dengan semua yang kubanggakan pada tubuh fisik yang katanya serba sempurna ini. Tapi, hanya seorang bayi mungil tidak dapat kuberikan pada suamiku. Dan aku malah menyalahkannya? Aku memang wanita durhaka.

Dengan perasaan sangat menyesal dan berat aku kembali melanjutkan lariku. Saat melewati sebuah sungai kecil dipinggiran taman, kulihat sepasang pria dan wanita yang sudah tua. Mereka duduk dikursi kayu buatan tangan manusia sambil bergandengan tangan. Kepala mereka telah putih semua, tapi senyuman yang diberikan oleh sang pria kepada sang wanita begitu muda dan mempesona.

Aku berhenti sebentar berlari menyaksikan moment yang sangat menyentuh itu. Kulihat sang wanita mencoba memapah sang pria dengan sebuah tongkat ditangan kirinya. Sang wanita terlihat begitu tulus dan penuh kasih sayang menemani sang pria diusia mereka yang sudah senja. Aku kembali menutup mulutku dengan tanganku. Aku tidak mampu menahan suara tanggis isakku. “Maafkan aku Mike…maafkan aku..”, kataku pelan melanjutkan berlari.

Melihat pasangan tua tadia, aku teringat kembali ceritaJohan. Saat aku terbaring lemah dirumah sakit, Mike datang menemuinya untuk meminta pinjaman untuk biaya operasiku. Seperti yang telah kalian ketahui, aku terjatuh sakit karena berlebihan bekerja. Alasan sebenarnya aku lebih memprioritaskan kerja karena aku masih kecewa dengan suamiku yang tidak bisa memberikanku keturunan. Aku masih belum bisa menerima kenyataan itu. Dan hasilnya – mungkin juga hukuman Tuhan – aku jatuh sakit dan divonis ada kelainan ginjal.

Awalnya aku tidak mengetahui bahwa aku mempunyai kelainan ginjal, Mike hanya mengatakan padaku bahwa aku terlalu capek saja. Dan kata Mike aku harus dirawat beberapa minggu atau bulanan supaya aku bisa kembali sehat. Melihat Mike yang begitu perhatian, aku mencoba menerima sarannya dan mengambil cuti penuh dua bulan. Tapi belum seminggu Mike sudah terbang entah kemana dengan alasan kerja. Saat itu hatiku benar-benar hancur dan kekecewaanku semakin menjadi-jadi.

“Sebenarnya Mike telah mengetahui bahwa kamu ada kelainan ginjal waktu pertama kali kalian memeriksakan diri tentang kesuburan pasangan waktu dulu. Tapi karena takut dirimu jatuh sakit karena tidak mampu menerima kenyataan,  Mike merahasiakannya. Sejak saat itu Mike bekerja menabung demi hari dimana ginjalmu sudah tidak bisa bekerja sempurna lagi. Dan tahukah kamu Cindy, Mike malah memberikan…”, kata Johan terhenti bercerita saat kami masih bersama ditaman. Matanya berkaca-kaca dan Jessica berurai air mata.

Ya, Mike memberikan ginjalnya padaku. Itulah kenapa saat aku dirumah sakit terbaring lemah, dia menghilang dengan alasan kerja. Ternyata yang dilakukannya adalah mempersiapkan ginjalnya padaku. Apakah ginjalnya cocok? Ternyata Tuhan memang yang punya kuasa. Ginjal Mike justru paling cocok dengan tubuhku. Buktinya? Aku masih berlari pulang hendak menemui malaikat itu. Malaikatku. Suamiku. Mikeku.

Aku berhenti sebentar melihat dari jauh Mike sedang mencuci dan menjemur baju. Kulihat mimik lelahnya terpancar diwajahnya yang sangat tampan itu. Akhirnya aku mengerti mengapa selama ini Mike tidak bisa”diandalkan”, ternyata ginjalnya telah tinggal satu dan dia tidak bisa selincah dulu lagi. Aku semakin menjadi-jadi dengan tanggisku, aku teringat kembali beberapa hari yang lalu bagaimana aku memakinya dan meninggalkannya. Aku berharap dia mengejarku, tapi ternyata dia tidak. Aku kira dia tidak peduli padaku, tapi ternyata dia kecapekan sehingga tidak mampu mengejarku.

Saat kulangkahkan kakiku didepan teras rumah kami yang sederhana, kulihat dia masih menjemur pakaian kami dengan peluh dan lelah. Aku tidak berani menyapanya karena aku begitu malu dan merasa sangat bersalah. Aku hanya mengintipnya dari balik pintu. Kulihat sekali-sekali dia menyeka keringatnya dengan tangan yang sudah lelah mencuci dan merawatku selama ini. Lalu dia tiba-tiba berbalik dan melihatku sedang menanggis.

“Sa..say..sayang..?”, katanya terbata-bata melihatku berdiri dibalik pintu dengan tubuh penuh noda dan kotor. Kakiku berdarah-darah karena tergores ilalang taman. Rambutku acak-acakan dan mataku merah bengkak dengan riasan yang luntur oleh air mataku. “Ya Tuhan, ada apa denganmu?”, lanjut suamiku sambil berlari kecil kearahku. Lalu dia memelukku dengan penuh cemas dan penuh sayang.

“Ma..ma..maafkan aku sayang, karena aku kamu menjadi seperti begini. Maafkan aku selama ini tidak bisa memberikanmu apa-apa. Kumohon jangan tinggalkan aku lagi ya. Aku akan melakukan apa saja demi dirimu. Sekarang kumohon masuklah walaupun sebentar. Kamu begitu kotor dan kakimu berdarah. Aku siapkan air hangat dan obat dulu ya”, kata suamiku menuntunku duduk dan berlari kebelakang.

Aku, aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. Aku yang seharusnya ditampar, dipukuli ataupun dimaki, justru mendapatkan perlakuan yang sebaliknya? Aku yang seharusnya meminta maaf sambil bersujud justru suamiku yang meminta maaf karena mengecewakanku? Aku yang seharusnya melakukan tugas sebagai istri malah meninggalkannya? Apakah aku masih pantas disebut manusia? Apakah aku masih pantas bersanding dengannya? Aku benar-benar wanita paling brengsek didunia.

“Sayang, sekarang kamu bersihkan dirimu dulu ya, aku sudah siapkan air hangatnya. Basuhlah dirimu dan bersihkan lukamu. Aku juga siapkan makanan buatmu ya”, kata suamiku lagi saat kembali keluar mencariku. Kali ini aku langsung memeluknya. Aku langsung berlutut dan memegang kakinya. Aku menanggis sekeras-kerasnya. Air mataku langsung membasahi kakinya yang telah lelah berlari dan bekerja.

“Maafkan aku Mike…maafkan aku, aku telah berdosa telah meninggalkanmu. Aku wanita murahan yang seharusnya tidak pantas bersanding denganmu lagi, aku begitu hina sehingga menilaimu dengan cara yang salah… maafkan aku…maafkan aku…maa..”, kata-kataku terhenti oleh sebuah ciuman dikeningku.

“Sayang…, kamu salah apa? Kok kamu menyalahkan dirimu seperti itu? Jangan nanggis lagi ya. Malu nanti dilihat tetangga. Sekarang masuk dan mandi dulu ya, setelah itu kita bersihkan luka-lukamu. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu juga”, kata Mike dengan mata berkaca-kaca dan puluhan ciuman dikeningku. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Air mataku tumpah ruah. Air mata yang seharusnya sudah kering sekarang mengalir lagi. Tapi bukan air mata penyesalan yang kutanggisi, melainkan air mata bahagia yang sangat kusyukuri aku bisa mendapatkan  pria ini. Seorang malaikat yang dikirimnya padaku selama ini. Seorang malaikat tanpa sayap yang sangat kucintai.

“Michael…, Michell.., jangan ganggu grandpa ya. Grandpa kan sudah capek tadi temanin kalian bermain dan bercerita. Sekarang main sana sama teman-temanya”, kataku pada cucu kembar kami yang sangat lucu dan manis. “Aahh…, tapi aku masih pengen dengar cerita grandpa ah grandma…”, jawab Michell dengan gemesin. “Hahaha… iya, nanti grandpa cerita lagi. Sekarang grandpa istirahat sebentar ya sama grandma. Kalian masih mau dengarkan lanjutanya?”, tanya pria tampan dengan kepala memutih semua disampingku ini.

“Iya…,”, teriak Michael dan Michell bersamaan. “Janji ya grandpa nanti cerita lagi”, kata mereka sambil mengeluarkan jari kelingking mengajak grandpa mereka berjanji. “Iya, grandpa janji”, jawab pria tampan ini sambil tersenyum ramah. Kedua malaikat kecilku itu lalu mencium pipi grandpanya. Michael dipipi kanan, Michell dipipi kiri. Lalu mereka bermain didepan bersama anak-anak lainnya.

“Cup…”. Aku tidak mau kalah dengan cucuku. Aku memberikan kecupan termanisku pada pria tampan yang telah menemaniku selama 50 tahun lamanya ini. Pria tampan ini melihatku dengan pipi merona merah. Aku tertawa kecil melihat wajah yang memerah seperti matahari sore itu. Selama 50 tahu aku mengecupnya, selama 50 tahun pula dia memerah. Aku mengandeng tangannya seperti saat kami masih berumur 20an. Aku mengecupnya kembali saat kami masih berumur 20an. Semua kuberikan padanya seperti saat kami baru 20an. Saat aku pertama kali jatuh cinta padanya. Saat aku pertama kali menyebut namanya dengan penuh cinta.

Kini aku menyadari mengapa aku jatuh cinta padanya dulu. Dia hanyalah karyawan biasa. Dia hanyalah pria dengan kualitas nilai jauh dari kata sempurna. Dia hanyalah pria yang menjadi dirinya apa adanya. Tapi, dia memperlakukan semua orang dengan nilai sempurna terutama aku yang dimahkotai dengan mahkota cintanya dan dianugerahi tahta tertinggi dikerajaan hatinya. Seandainya saja aku menyadarinya lebih awal. Tapi aku justru sangat berbahagia karena aku menyadarinya setelah sekian lama. Kenapa? Kalian tentu sudah tahu jawabannya.

Kini, dibawah indahnya senja sore matahari. Ditemani putra dan putri tercinta kami. Dianugerahi malaikat-malaikat kecil yang menentramkan hati. Aku menyandarkan kepalaku pada bahu pria tampan ini. Dia mengecup keningku sambil tersenyum. Dia membelai rambutku dengan lembut. Dia membisikan kata-katanya yang penuh cinta selama 50 tahun. Dan aku tidak pernah bosan mendengarkannya.

Aku membalas kecupannya. Aku membelai wajahnya yang penuh garis-garis bijaksana. Aku tersenyum manis padanya. Aku mengecup kembali pipinya. Kali ini dikeduanya. Kupandangi matanya yang biru sempurna. Lalu kubisikan kata-kataku yang selama ini tak pernah bosan kuutarakan padanya. “Kamu adalah malaikatku Mike, malaikat yang dikirim-Nya untukku, malaikat tak bersayap yang hanya untukku. Aku sangat sangat sangat sayang padamu…”.

“Cuppp…”.

(Terinspirasi dari true story)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s