Pintu biru dan pintu merah


Which door would you pick to find a happiness?

“Apakah kamu yakin dengan pilihanmu?”, tanya seorang malaikat. Kupandangi pintu besar yang berada dihadapanku. Tingginya sekitar tiga meter atau bahkan lebih. Lebarnya kira-kira dua meter. Disetiap sudut pintu itu dihiasi ukiran-ukiran yang sangat indah. Warna pintu besar yang didepanku ini adalah biru muda. Biru langit yang cerah.

Kupandangi juga satu pintu lagi yang disebelah pintu biru itu. Tinggi dan lebarnya sama. Ukiran-ukirannya sama. Yang membedakan hanyalah warna pada pintu itu dan tulisan besar diatas masing-masing pintu tersebut. KEKAYAAN pada pintu biru dan KETENARAN pada pintu merah.

“Apakah kamu yakin dengan pilihanmu?”, tanya malaikat yang disampingku sekali lagi. Aku hanya mengangguk sambil memberikan senyuman termanisku. Aku telah melewati dan belajar banyak pada pintu berwarna merah sebelumnya. Dan pada pintu ini aku yakin aku tidak akan salah memilihnya. Aku yakin sekali dengan yang akan aku temukan. “Ya, aku yakin dengan pilihanku”, kataku mantap sambil kubuka pintu besar berwarna biru.

Kenalkan namaku Mike. Aku seorang karyawan swasta dengan penghasilan dan tampang yang pas-pasan. Bentuk tubuh pas-pasan dan tinggi badan yang pas-pasan. Motor tua pas-pasan buat duduk berdua dengan aktivitas yang pas-pasan juga. Pokoknya nilai total yang kudapat adalah pas. Tanpa koma dibelakangnya.

Dan itu dulu. Aku yang sekarang memiliki wajah yang sangat tampan. Dengan hidung mancung dan sepasang bola mata biru yang sangat indah. Tinggiku 180cm dan merupakan seorang supermodel yang sedang naik daun. Aku selalu dikelilingi wanita-wanita cantik yang tiada henti-hentinya mengelu-elukan namaku. Bahkan mereka tidak segan-segan memperebutkanku sambil menjambak rambuk dan cakar-cakaran.

Kok aku bisa menjadi seperti itu? Sebelum aku menjawabnya, ijinkan aku bertanya ini pada kalian. Percayakah kalian akan keajaiban dan kesempatan kedua? Ya, awalnya aku tidak percaya pada keajaiban sampai beberapa bulan yang lalu aku terbangun disuatu tempat yang sangat terang dan hangat.

“Selamat datang Mike”, kata seorang pria dengan senyuman yang sangat mengagumkan menyapaku.  Kulihat wajahnya begitu tampan. Dibelakang punggungnya kulihat sepasang sayap yang sangat indah. “Aku ada dimana?”, tanyaku pada pria tampan dihadapanku ini yang ternyata seorang malaikat.

“Kamu ditempat yang disebut KESEMPATAN. Apakah kamu ingat bagaimana kamu bisa sampai disini?”, tanya malaikat ini padaku. Ya, bagaimana aku bisa sampai disini? Dan jika aku melihat malaikat berarti aku telah meninggal bukan? Seperti bisa membaca pikiranku malaikat dihadapanku ini berkata, “Jangan takut Mike, kamu belum meninggal”.

“Kamu yang sekarang ini adalah rohmu, dan mengapa kamu ada disini? Karena kamu tertabrak mobil saat hendak menolong seorang gadis kecil yang mengejar balonnya ditengah jalan. Sebenarnya kamu belum sampai waktunya dipanggil kesini, tapi perbuatanmu itu membuat kami terkejut dan melangkahi catatan dibuku kehidupan ini”, kata malaikat ini menjelaskan sambil memperlihatkan buku itu padaku.

“Karena perbuatanmu yang tidak kami bayangkan itu, anak yang seharusnya baik-baik itu menjadi lecet kakinya. Padahal dalam buku kehidupannya dia aman-aman saja dan sopir mobil itu hanya luka ringan saja. Tapi karena perbuatanmu itu sopir itu justru tidak apa-apa dan kamu malah tertabrak olehnya”.

“Seharusnya kamu mendapat hukuman karena perbuatanmu itu. Tapi, gadis kecil yang ditolong olehmu mendoakan agar kamu diberi kesempatan hidup lagi. Sebuah doa sederhana tapi begitu menyentuh hati Tuanku yang bertahta disana”, tunjuk malaikat itu pada sebuah cahaya yang sangat terang dan mendamaikan itu.

Ya, aku ingat dengan apa yang barusan dijelaskan malaikat itu. Saat aku pulang kerja. Aku melihat seorang gadis kecil sedang berlari mengejar balonnya yang terlepas. Secara tidak sadar gadis kecil itu mengejar balonnya sampai ketengah jalan. Pada saat yang sama aku melihat sebuah mobil melaju cukup cepat. Dan entah apa yang memerintahkan tubuhku, aku langsung berlari mengejar anak itu dan melompat mendorongnya, saat aku sadar aku sudah berada disini bersama malaikat ini.

“Karena ketulusanmu menolong anak itu dan juga doa anak yang sangat menyentuh itu, Tuanku memberimu kesempatan untuk hidup kembali kedunia. Disini ada dua pintu. Satu berwarna biru dan satu berwarna merah. Setiap pintu merupakan wujud keinginanmu didunia. Lihatlah keatas pintu itu, ada tulisannya dan kamu diberi kesempatan memilih salah satunya”.

KEKAYAAN. KETENARAN. Ya, itu adalah keinginanku semasa aku masih hidup. Aku meminta kekayaan karena kulihat mereka yang kaya selalu tertawa bahagia. Mereka bisa kemana saja. Mereka bisa membeli apa saja. Sedangkan aku meminta ketenaran karena dengan itu aku akan dikenal dunia. Aku akan dielu-elukan bagaikan raja. Aku bisa mendapatkan wanita mana saja. Aku tersenyum mengingat itu semua.

“Jadi, pintu manakah yang akan kamu pilih Mike?”, tanya malaikat itu. Aku melihat kearah malaikat itu. “Apa benar pintu yang aku pilih akan menjadi seperti keinginanku nanti didunia?”, tanyaku menyakinkan. “Iya Mike, semua akan menjadi seperti keinginanmu. Jadi kamu memilih pintu yang mana?”, tanya malaikat ini sekali lagi dengan senyumannya yang sangat mempesona. “Merah”, jawabku sambil membuka pintu itu.

Setelah memasuki pintu merah itu, aku mendapati diriku berada disebuah rumah sakit terbaring lemah. Tapi ajaibnya, dalam sehari tubuhku bisa sembuh sempurna. Para dokter dan perawat yang menanganiku sampai kehilangan kata-kata dengan keadaan yang kualami. Mereka hanya bisa mengatakan, “Ini sangat mustahil, dari diagnosa kami kamu mengalami gegar otak dan tidak akan sadarkan diri lagi. Tapi, sekarang kamu bukan hanya sadar dari komamu, tapi juga sangat sehat”, kata dokter yang merawatku dengan pandangan tidak percaya.

Ya, aku sendiri hampir tidak percaya dengan apa yang kualami ini. Yang kuingat terakhir kali adalah aku berusaha menolong seorang gadis kecil yang menyeberang jalan mengejar balonnya. Setelah itu yang aku ingat aku sudah berada bersama seorang malaikat dan diberi kesempatan memilih kehidupanku selanjutnya. Dan aku sangat ingat aku memilih pintu merah. Pintu KETENARAN.

Kurengangkan tangan dan tubuhku. “Ngnggg…”, aku merasa sedikit kaku dengan kondisi koma tanpa bergerak yang kualami sebelumnya. Aku mencoba berdiri sambil dibantu seorang perawat yang masih muda dan cukup cantik, sayang ada bekas guratan dipipinya. “Terimakasih nona…”, kataku sambil mencari name-tagnya. “Cassy, panggil aku Cassy saja tuan Mike”, kata perawat ini yang mengaku bernama Cassy. Kulihat matanya. Dia menunduk dengan pipi merona merah. Apakah dia malu melihatku? Mungkin saja, karena tampangku memang sangat “membosankan” dan “umum” kataku dalam hati.

Kuminta perawat ini membantuku kekamar mandi untuk mencuci muka,  saat memasuki kamar mandi disebelah kamarku, secara tidak sengaja dan samar-samar aku melihat cermin yang didepanku. “Astaga, siapakah pria yang sangat tampan yang didepan itu?”, tanyaku dalam hati. Aku merasa penasaran dengan pria itu dan sengaja kuikuti pria yang ada dibayangan cermin itu. Ya, aku memang pria dan aku sangat terkagum-kagum melihat pria tampan yang dibayangan cermin itu. ketika aku mendekati cermin yang kumaksud, aku lebih terkejut lagi.

Pria yang sangat tampan ini memakai baju dan kaos warna biru muda. Rambutnya sedikit pendek dengan model yang sedikit zigzag. Matanya biru seperti permata. Hidungnya mancung dan dengan deretan gigi yang putih berkilau sempurna. Tubuh tinggi berotot dan sexy. Mulutku mengangga melihat pria tampan ini, dan pria tampan ini mulutnya juga mengangga melihatku. Aku tertawa kecil melihat mimik wajahnya yang konyol, dan dia juga tertawa. Kukucek mataku sebentar. Kulihat pria tampan ini. Itu aku.

“Astaga, ini aku?”, tanyaku sambil meraba wajahku. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang sekarang kulihat. Aku yang mempunyai wajah yang “membosankan” dan “pasaran” menjadi setampan ini? Aku yang tingginya hanya 162cm dan sedikit gemuk menjadi tinggi sekitar 180cm berotot lagi? Aku yang mempunyai mata besar dan gigi palsu menghias mulut mempunyai bola mata seindah permata dan gigi sebersih ini? Aku yang hidungnya sama rata dengan bibirku bisa mempunyai hidung semancung ini? Mimpipun aku tidak pernah mengharapkannya.

“Ini benar-benar aku”, teriakku sambil melompat-lompat kegirangan. Perawat yang menungguku didepan kamar mandi langsung menerobos masuk mengira terjadi apa-apa denganku. Saat melihat perawat itu aku langsung memeluknya saking senangnya. Perawat ini hanya bingung dengan tingkah lakuku dengan pipi merona kembali saat kupeluk. Saking senangnya aku memberinya  sebuah kecupan pada pipi kanannya. Wajahnya langsung memerah. Aku tertawa kecil melihatnya. Wajar saja dia merasa malu, karena dia dicium seorang pria yang sangat tampan.

Keterkejutanku tidak hanya sampai disana. Ternyata sejak aku bangun dari komaku, hidupku seakan berubah 180 derajat. Rumah sakti tempat aku dirawat menjadi ramai. Aku ternyata seorang supermodel paling tampan yang sedang naik daun. Semua majalah dan koran memberitakan tentang diriku. Bahkan semua stasiun televisi saling berlomba-lomba ingin meliput langsung tentang diriku. Aku begitu bangga dengan semua yang kudapatkan sekarang. Ya, ini adalah impian terbesarku. Dan aku sangat bersyukur memilih pintu merah itu.

Sejak menjadi “sosok” baru, aku menikmati hari-hariku dengan sangat bahagia. Apa yang kuinginkan bisa kudapatkan mudah. Ingin mobil sport terbaru? Aku tinggal datang ketokonya dan kukatakan hendak membeli mobil. Hanya dalam beberapa jam saja aku sudah bisa membawa pulang mobil yang diinginkan dengan segala surat-menyurat yang lengkap. Dan kudapatkan semua itu dengan gratis. Ya, gratis! Saat kutanya alasannya apakah dia tidak rugi memberikanku mobil super mewah itu, pemiliknya justru bilang itu sebuah investasi. Kok bisa begitu? Kalian pasti bisa menerkanya. Ya, aku dijadikan sebagai icon mobil sport mewah itu. hasilnya? Toko itu rekening banknya bertambah terus.

Rumah? Jangan tanyakan itu dech. Semuanya hampir kudapatkan dengan kasus mobil sport mewah itu. Bedanya jika aku harus menambah jumlah uang dalam pembeliannya, aku tidak pernah merogoh kocekku sampai 40 persen dan pada hari tu aku langsung bisa mendiami rumah yang baru kubeli. Tidak percaya? Percaya sajalah, aku bahkan bisa bertemu malaikat yang konon katanya hanya dalam cerita dan dongeng manusia.

Wanita? Hahaha.., apa perlu aku menceritakannya? Dengan wajah bernilai sempurna, dengan tubuh bernilai sempurna, dengan materi bernilai sempurna,wanita mana yang tidak ingin mendapatkan pria bernilai sempurna seperti aku? Bukannya sombong, bahkan supermodel yang diakui paling cantik didunia menurut beberapa majalah bergengsi saja mengagumiku. Apalagi mereka yang hanya bisa melihatku saja difoto-foto majalah dan televisi.

Berbulan-bulan telah berlalu dan aku benar-benar sangat menikmati kehidupan baruku. Ternyata apa yang kuketahui itu benar adanya. Bagaimana kita bisa merasa bahagia jika kita tidak mempunyai apa-apa? Saat aku berpikir kata bahagia aku teringat kembali kata ibuku yang dikampung ketika aku hendak pindah kekota mencari pekerjaan. Ibuku berkata menasehati ini padaku.

”Jangan MEMBANDINGKAN dirimu dengan apa yang menurutmu melebihi dirimu, tapi BERSYUKURLAH dengan apa yang menurutmu KURANG dibandingkan mereka itu, karena mereka yang menganggap dirinya bernilai “sempurna”, justru selalu ada satu NILAI MINUS yang tidak disadarinya hingga nilai minus itu menyadarkannya”.

Aku tertawa kecil saat mengingat kembali kata-kata bijak ibuku. Ya, aku merasa kata-kata ibuku kurang tepat dijaman sekarang ini. Jika pada jaman-jaman mereka mungkin iya. Tapi jaman serba materi ini pria tampan dan bermodalkan “suci” tidak akan pernah dilirik wanita. Mau bukti? Pernah lihat pria dengan tubuh yang dikategorikan cebol tapi mendapatkan wanita super cantik? Atau pria dengan latar belakang pendidikan rendahan dan wajah kurang dari pas-pasan beristrikan wanita kelas dunia? Aku rasa aku tidak perlu menjawabnya bukan?!

Aku menjadi sombong? Hahaha…, itulah yang dikatakan orang-orang yang iri denganku dan aku tidak peduli akan hal itu, yang penting aku bahagia. Dengan ketenaran yang kudapatkan aku bisa mencari kekayaan kapan saja dan aku bahkan menyumbang kepada mereka yang tidak mampu. Aku juga mendirikan beberapa sekolah dibeberapa daerah yang belum mempunyai sekolah ataupun sudah bobrok.

Dan indahnya, dengan segala ketenaran yang kumiliki aku bisa mengirim uang hasil profesi supermodelku kepada ibuku dan adik perempuanku satu-satunya dikampung. Walaupun aku tidak bisa menemuinya langsung aku yakin ibuku pasti bahagia melihatku yang sekarang berhasil dan bisa mengirim banyak uang untuk keperluannya dikampung nun jauh disana.

Sebenarnya aku beberapa kali meminta ibuku agar mereka tinggal bersamaku dikota tempat aku meraih semuanya ini, tapi dengan lembut ibuku berkata padaku, “Aku lebih menyukai tinggal disini, adikmu Mary juga masih betah disini. Apalagi ini adalah rumah kenangan satu-satunya mendiang ayahmu. Kapan-kapan kamu main kesini saja ya, tentunya kalau kamu sudah tidak sibuk lagi”. Aku hanya bisa tersenyum mendengar perkataan ibuku.

Setahun telah berlalu sejak aku memilih pintu merah itu dan menikmati ketenaran yang sangat kuidamkan ini. Dan pada tahun ini juga aku mengenal seorang wanita yang sangat cantik. Namanya Sandra dan dia seorang supermodel top dunia. Tingginya 175cm. Rambut panjang sebahu dengan bola mata hijau emerald. Tubuhnya seindah gitar Spanyol dan bibirnya, WOW!

Aku dan Sandra saling berkenalan saat kami dinobatkan sebagai supermodel pria dan supermodel wanita tertampan dan tercantik sejagat oleh sebuah majalah bergengsi didunia. Bahkan kami dinobatkan menjadi pasangan supermodel terbaik didunia, padahal kami saling kenal saja belum. Tapi, karena telah dinobatkan seperti itu, aku dan Sandra mencoba mencoba mengenali pribadi masing-masing. Dan ternyata, kami cocok.

Singkat cerita, aku dan Sandra akhirnya menikah disebuah hotel ternama dengan dihadiri puluhan direktur utama Agency modeling dunia, ratusan supermodel dan aktor serta ribuan mata yang mengagumi dari seluruh dunia. Pernikahanku dan Sandra memang tidaklah seheboh dan semewah dengan pernikahan pangeran Inggris kemarin, tapi ketenaran kami tidak kalah dengan ketenaran mereka.

Pernikahanku dan Sandra menjadi cover depan semua majalah bergengsi yang membahas mode dan gaya hidup. Semua majalah tersebut membahas penuh pernikahan kami, supermodel paling tampan dan paling cantik. Semua mendoakan kami dan menyakini kami merupakan pasangan terbaik dan terserasi sejagat. Apakah benar demikian? Ya, jika kamu bertanya padaku dan Sandra. Kami sangat berbahagia.

“Mike, nanti sebelum pulang tolong belikan aku susu kotak disupermarket ya?”, pinta istriku dari sebuah pesan singkat yang masuk keHPku. Aku membacanya sambil tersenyum. Bukan senyum manis, tapi senyum sinis. Kutekan pedal gas mobil sportku dalam-dalam dan kubawa laju menuju sebuah bukit yang jauh dari keramaian kota. Saat aku merasakan tekanan pekerjaan yang semakin memberatkan pundakku, saat beban pikiranku semakin penuh, bukit inilah yang jadi saksi curhatku.

Aku tahu kalian pasti bertanya-tanya, bukankah aku telah bahagia mendapatkan semua yang telah kuimpikan dari dulu? Rumah mewah, mobil mewah, supermodel dunia, apalagi yang kurang? Aku sendiri tidak tahu. Yang kutahu aku lebih banyak cemberut daripada tersenyum.  Pernikahakanku dengan Sandra juga terasa ada yang kurang, padahal pernikahan kami baru memasuki tahun ketiga.

Setelah beberapa saat menikmati pemandangan nan indah dibukit itu, aku memaksakan tubuhku berdiri dan memacu mobilku kembali kerumah. Dalam perjalanan, aku singgah sebentar kesebuah supermarket  terdekat untuk membeli susu pesanan istriku Sandra. Karena terlalu capek dengan rutinitas yang sama selama beberapa tahun, aku mengambil susu dengan merk terbaik saja, dan kubeli beberapa kotak sekaligus sekedar untuk menyenangkan istriku. Setelah membayar semuanya akupun berlalu pulang.

Belum sempat kubaringkan tubuhku pada sofa mahal didepan TV kesayanganku, kudengar teriakan panggilan memanggilku dari dapur, “Mikeee….”, panggil Sandra dengan suara yang tinggi. Aku berlari kecil kedapur untuk memastikan apa yang terjadi. “Apa-apaan ini?”, tanyanya sambil memperlihatkan susu kotak yang tadi kubeli.

“Maksudnya?”, tanyaku bingung sambil melihat susu yang diatas meja tersebut. “Aku kan memintamu membeli susu, tapi yang kamu belikan malah lemak cair?”, teriaknya sambil membuang sekotak susu ditangannya pada keranjang sampah. Aku terkejut dengan apa yang dikatakanya. Kuraih susu yang kubeli itu dari meja, kubaca kembali. SUSU SEGAR TERBAIK-LOW FAT.

“Memang benar kok ini susu pesananmu, dan ini susu dengan merk terbaik lho”, kataku masih dalam kebingungan. “Kamu buta ya, coba baca kandungan lemaknya dibelakang itu. Kamu ingin menghancurkan karierku sebagai supermodel dengan kandungan lemak sebanyak itu dan kamu membeli sebanyak ini lagi?”, teriaknya sambil membuang semua susu yang barusan kubeli. Setelah itu Sandra meninggalkanku terpaku membisu didapur. Kupandangi kotak susu itu. LOW FAT. Kurasakan emosiku meninggi.

Ya, sebenarnya aku malu menceritakan apalagi mengakui semua ini. Pernikahanku justru terbalik dengan prediksi semua majalah bergensi itu. Sejak awal menikah dengan Sandra, pernikahan kami sebenarnya baik-baik saja. Semua kami selesaikan sama-sama. Tapi semua berubah ketika usia pernikahan kami memasuki 8 bulan. Ketika itu aku meminta kepada Sandra agar memiliki momongan dikeluarga kecil kami, tapi semua itu ditolaknya mentah-mentah dengan alasan dia masih ingin berkarier.

Awalnya aku mencoba mengerti posisinya. Tapi aku begitu merindukan seorang malaikat kecil yang meramaikan rumah besar yang kami tinggali ini. Aku begitu merindukan seorang putri kecil yang berlari kesana-kemari dengan tawanya yang manis dan tanggisan yang membuat pelayan-pelayan disini kalang kabut. Saat kutanyakan kembali setahun kemudian, aku ditolak mentah-mentah lagi dengan alasan yang sama dan Sandra takut tubuhnya tidak indah lagi. Dan, aku mengalah.

Kini setelah memasuki tahun ketiga, kulihat Sandra mulai berubah. Dia menjadi lebih sensitif terhadap semua yang berhubungan dengan tubuhnya. Saat bajunya kekecilan satu centimeter saja, dia menjadi uring-uringan dan menyalahkan semua pelayan bahwa makanan yang dihidangkan mengandung banyak lemak dan membuatnya semakin gemuk. Aku yang mencoba menengah pun tidak lepas dari kekesalannya.

Kehidupan yang sebelumnya diisi tawa dan canda, kini berubah semua. Semua itu mencapai puncaknya ketika seorang pelayan rumah kami secara tidak sengaja membeli susu yang tercampur dengan susu pesanannya. Sandra mengira pelayan kami sengaja membeli susu dengan kandungan lemak yang menurutku tidak berpengaruh pada tubuhnya itu padanya. Jika hanya kata-kata yang terucap mungkin pelayan itu sudah biasa, tapi kali ini sebuah tamparan yang keras mendarat dipipi pelayan yang tidak bersalah itu.

Saat melihatnya aku begitu terkejut dan mencoba menegur  Sandra. Tapi apa yang kudapatkan, Sandra malah menuduh aku melindungi pelayan kami dan terjadi sesuatu diantara kami. Dengan air mata bercucuran Sandra meninggalkanku yang sedang bingung. Keesokan harinya, pelayan kami bersama beberapa pelayan lainnya mengundurkan diri karena tidak tahan dengan sikap Sandra yang semakin jadi. Dan dalam seminggu, pelayan kami yang berjumlah 20 orang berserta koki mengundurkan diri tanpa mau menerima gaji. Hanya permintaan maaf padaku yang mereka sampaikan.

Kupandangi kembali kotak sampah itu. Susu kotak yang sengaja kubeli untuk istriku tumpah semua karena rusak oleh lemparannya.  Aku begitu emosi melihatnya. Aku begitu marah mengingatnya. Bukan karena berapa harga susu kotak itu, tapi harga diriku sebagai pria dan juga suami. Harga diriku yang ingin menyenangkannya malah dibalas cacian. Kuletakankan kembali susu kotak yang ditanganku dimeja lalu ku temui istriku dikamarnya.

Malam itu aku dan Sandra bertengkar hebat. Segala unek-uneknya dikeluarkan. Ternyata selama ini dia menyukaiku dan menikahiku karena bisa meningkatkan popularitasnya sebagai supermodel. Dan dari dia kuketahui dia menyukaiku karena wajahku dan punya segala kemewahan yang bisa memanjakannya. Jika bukan karena kedua alasan itu, jangankan menikah, untuk mendekatiku dia merasa jijik. Mendengar “kejujurannya” malam itu, aku tidak bisa menjawab apa-apa. Yang kutahu aku tidak merasa emosi dan marah lagi. Yang kurasakan hanyalah ada lelehan air dari mata mengalir membasahi wajah.

Sejak pertengkaran malam itu, aku tidak pernah mau pulang kerumah lagi, dan Sandra juga telah mengepak semua bajunya dan pulang kerumah orang tuanya. Yang lebih menyakitkan lagi, Sandra mengatakan bahwa aku mengusirnya dan aku berselingkuh dengan pelayan kami. Betapa marahnya keluarga Sandra mengetahui hal itu dan meminta aku menceraikan Sandra. Dengan berat aku terpaksa mengabulkan permintaan itu, dan, yang lebih menyakitkan lagi, mereka mengincar semua kekayaanku.

Mengetahui hal itu aku begitu marah. Kudatangi kedua orang tua Sandra dan disana kulampiaskan semua ”bom” kesabaranku. Kuceritakan semua yang terjadi pada orang tua Sandra. Tapi semua itu tidak mempan dan menganggap aku cuma mengarang cerita saja. Aku yang telah kehilangan kepercayaanku pada istriku merelakan semua kekayaanku buat mereka. Aku tidak perlu sepersenpun kekayaanku, karena semua itu tidak memberikan kebahagiaan. Dan, akhirnya aku mengerti apa arti kata-kata bijak ibuku dulu.

Sebulan telah berlalu sejak perceraianku dengan Sandra. Aku memberikan semua kekayaanku pada Sandra dan kedua orang tuanya. Apa yang menjadi hakku diatas hukum, kusumbangkan pada mereka yang membutuhkannya. Yang kuambil hanyalah beberapa helai baju sederhana dan sedikit biaya perjalanan untuk pulang mengunjungi ibuku setelah hampir 5 tahun meninggalkannya.

Sambil menunggu kereta datang menjemputku, kubaca majalah bekas yang tinggalkan orang diatas kotak sampah. SUPERMODEL MIKE BANGKRUT!  KARENA ADA AFFAIR?! Ya, itulah judul utama pada semua majalah dimuka bumi ini. Aku hanya tersenyum membaca judul dimajalah tersebut. Bukan senyum sinis, tapi senyum damai yang telah lama hilang dari wajahku.

“Aduh”, tiba-tiba aku ditabrak seorang anak kecil. Anak itu terjatuh sambil menanggis. “Hu..hu…, bolaku…”, kata anak kecil yang terjatuh itu sambil menunjuk kedepan jalan bolanya mengelinding menjauh. Kuhibur anak itu sebentar dan kuberlari kecil mengejar bola anak itu. Saat aku mengambil bola itu dan hendak kembali pada anak kecil itu, “Tiiitttiiitttt……”, terdengar suara klakson yang nyaring disebelah kiriku. Kulihat datangnya suara itu, dan, “BRAAKKK….”, aku terpental puluhan meter dengan mengenggam bola biru ditanganku. “Panggil ambulan….cepat…”, terdengar suara keramaian disertai suara teriakan histeris.

“Selamat datang kembali Mike”, kata seorang malaikat padaku saat kubuka mataku. “Apakah aku telah…”, kataku bertanya tidak berani menyelesaikan perkataanku. Kali ini aku tidak begitu terkejut lagi dengan apa yang kualami karena sebelumnya aku telah mengalaminya.

“Apakah aku telah melakukan kesalahan yang fatal lagi?”, tanyaku mencoba tenang. Aku berpikir kali ini aku mungkin akan dihukum karena melakukan tindakan yang diluar buku kehidupan lagi, apalagi yang kulakukan bisa dikategorikan sebagai bunuh diri. Sudah tahu lampu hijau aku masih mengejar bola seorang anak. “Aku memang pantas mendapatkan hukuman”, desahku sambil tersenyum pasrah.

“Mike, aku tahu apa yang kamu pikirkan dan memang apa yang kamu pikirkan itu benar. Tapi, Tuanku yang bertahta disana tersentuh oleh doa anak-anak yang telah kamu tolong”, kata malaikat itu dengan senyuman yang sangat mempesona dan memang selalu mempesona.

“Anak-anak?”, tanyaku bingung. “Seingatku aku tidak pernah menolong anak-anak semasa hidupku, yang kutahu aku baru mau menolong seorang anak dan, sekarang aku sudah berada disini. Lagian, yang aku ingat aku hanya menyumbang dan mendirikan sekolah, itupun demi mencari popularitas saja”, kataku dengan sejujurnya sambil mengingat kembali apa yang kulakukan semasa aku hidup didunia. Aku jujur? Ya, lagian bagaimana mungkin kita bisa membohongi seorang malaikat bukan?

“Kamu justru membantu banyak anak-anak  Mike, bahkan ratusan”, kata malaikat ini tersenyum padaku dengan senyuman yang lebar dan indah. “Kapan?”, tanyaku semakin penasaran dan bingung. Lalu malaikat ini mengeluarkan sebuah bola kristal yang sangat indah. “Lihatlah kedalam bola kristal itu”, kata malaikat ini memintaku.

Aku hampir menanggis saat kulihat bola kristal itu. Ternyata aku memang membantu banyak anak-anak yang menderita secara tidak langsung. Kapan? Saat aku menyerahkan sisa kekayaanku pada pengadilan agar diberikan pada orang yang membutuhkannya. Dan sisa kekayaanku itu diberikan pada sebuah panti asuhan yang gedungnya sudah hampir roboh. Dimana-mananya bocor saat hujan menerpa.

Dari bola kristal itu kulihat sebelum mereka mendapatkan gedung baru, semua anak saat tidur dimalam hari harus saling berpelukan supaya tidak kedinginan. Mereka yang kecil diberikan selimut yang seadanya. Sedang mereka yang masih belia dan baru beranjak remaja harus menjaga mereka. Saat hujan datang sebagian dari mereka harus bergantian menampung air yang bocor dan sebagian lainnya harus mengepel. Tapi, tahukah apa yang hampir membuatku menanggis itu? bukan kondisi mereka yang menyedihkan, tapi mereka saling membantu dan tertawa. Ya, mereka tertawa, dan mereka tertawa sambil bermain bahagia.

Saat melihat mereka, aku merasakan ada sesuatu yang bergemuruh didadaku. Sebuah perasaan yang telah lama aku lupakan, dan perasaan itu yang disebut bahagia, bukan bahagia karena memiliki segalanya, bukan pula bahagia karena dikenal dunia, tapi bahagia yang sesungguhnya. Dan yang membuatku lebih bahagia lagi adalah, sisa kekayaanku yang kusumbangkan ternyata lebih dari cukup untuk mendirikan sebuah gedung sederhana yang lengkap dengan kamar-kamar untuk mereka. Mereka tidak akan kedinginan lagi. Mereka tidak perlu berjaga semalaman menampung air lagi. Yang lebih penting, mereka bisa melanjutkan sekolah mereka lagi.

Belum pernah aku merasakan bahagia yang kurasakansekarang ini. Belum pernah pula aku merasa begitu rindu dengan tawa seperti mereka yang disana. Dengan kondisi yang serba sederhana, mereka justru tertawa lebih banyak dan bahagia dibanding diriku semasa didunia. Setiap malam mereka berdoa untukku yang telah membantu mereka sedemikian rupa. Padahal aku tidak mengenal mereka dan mereka juga tidak mengenal aku. Tapi doa mereka selalu panjatkan kepada-NYA.

“Itulah mengapa Tuanku sangat tersentuh oleh doa mereka yang tulus dan memintaku memberimu kesempatan sekali lagi”, kata malaikat menjelaskan. “Mungkin bagimu ketenaran dan kekayaan itu tidak berarti apa-apa, tapi bagi mereka walaupun hanya seadanya saja bisa membuat seluruh malaikat disurga tersenyum bahagia . Sedangkan sekolah yang kamu dirikan demi mencari popularitas itu memang berguna bagi mereka yang membutuhkannya, tapi keindahan itu tidaklah seindah yang kamu berikan pada anak-anak dipanti asuhan itu dengan ketulusan hatimu”.

“Jadi, pintu manakah yang akan kamu pilih kali ini?”, tanya malaikat ini berkata padaku dengan pandangan yang sangat ramah penuh makna. Aku tersenyum pada malaikat yang penuh pesona ini. “Ya, aku tahu pintu mana yang kupilih”, jawabku mantap sambil membuka pintu biru dengan tulisan besar diatasnya KEKAYAAN.

“Blamm..”, terdengar suara pintu tertutup. Aku masih bersama malaikat yang disampingku. Aku tidak memilih pintu biru itu dan kututup kembali pintu tersebut. “Mengapa kamu tidak memilih pintu biru itu?”, tanya malaikat ini padaku. “Bukankah KEKAYAAN adalah salah satu impianmu yang paling kamu inginkan didunia?”, lanjut malaikat ini sambil tersenyum penuh makna. Aku tersenyum  membalas pertanyaannya.

“Aku memang menginginkan kekayaan, tapi bukan kekayaan yang kudapatkan seperti di pintu merah sebelumnya. Aku ingin kekayaan seperti KEKAYAAN anak-anak dipanti asuhan itu. aku ingin KAYA TAWA, aku ingin KAYA CANDA, dan aku ingin KAYA BAHAGIA seperti mereka. Aku rasa aku telah mendapatkannya setelah melihat mereka. Sekarang, aku siap menerima hukumanku atas semua yang telah kuperbuat semasa hidup didunia”, jawabku mantap dengan senyuman paling bahagia.

Malaikat yang dihadapanku tersenyum. Lalu dia menuju ketengah diantara pintu biru dan pintu merah. Dengan senyumannya yang tetap mempesona, dibukanya sebuah pintu putih yang sejak awal tidak pernah kusadari. Pintu itu putih seputih ruangan dimana aku berdiri. Aku begitu terkejut saat mengetahui ternyata ada pintu ketiga diantara dua pintu itu.

Kuperhatikan pintu yang berwarna putih itu. Tingginya hanya setinggi aku. Lebarnya juga selebar badanku. Lalu mataku tertuju pada papan tulisan diatas pintu putih itu. Tidak ada tulisan apapun disana selayaknya pintu biru dan pintu merah. Yang ada hanyalah sebuah papan kayu sederhana dengan ukiran yang biasa-biasa mengantung diatas sana.

“Coba kamu lihat didalam pintu itu”, pinta malaikat itu padaku. Aku berjalan mendekat dan melihat kedalam pintu putih itu. Hitam. Gelap. Tak ada apa-apa disana. Belum sempat aku membalikkan tubuhku hendak bertanya, malaikat ini mendorongku masuk kepintu itu dan berkata, “Belum waktumu untuk datang kesini Mike, Tuanku masih ingin melihatmu didunia sana. Semoga kamu telah belajar sesuatu dari pengalamanmu dulu. Kita akan berjumpa kembali lagi Mike”.

“Sayang, nanti pulang kerja beliin aku susu kotak ya”, pesan istriku melalui sebuah pesan singkat yang masuk kedalam Hpku. Kubaca pesan singkat itu dengan tersenyum manis. Aku membalas pesan singkat itu pada istriku dengan diakhiri sebuah kecupan. Lalu kulihat kereta yang aku tunggu tiba.

Ya, aku telah menikah dengan seorang perempuan yang sangat sederhana. Aku mengenal wanita ini saat aku terbangun dirumah sakit. Wanita yang berprofesi sebagai perawat ini begitu perhatian menjagaku sebagai pasien saat aku koma. Yup, aku diberi kesempatan kedua kembali kedunia. Terbangun ditempat yang sama. Perawat yang sama.

“Boleh kuminta air minum dan sebuah cermin?”, pintaku ramah pada perawat ini. “Iya tuan, tunggu sebentar ya”, jawabnya sambil menundukkan kepala. Tidak lama kemudian perawat ini membawakan apa yang kuminta. “Maafkan aku tuan, jika aku boleh tahu mengapa tuan memintaku membawakan cermin?”, tanya perawat ini dengan wajah agak tertunduk. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin berkaca sebentar, apa aku telah menjadi tua atau semakin tampan dengan wajahku”, jawabku mencoba bergurau. Padahal apa yang kukatakan sangat serius.

Mata besar. Hidung datar. Gigi palsu dan badan agak gemuk. Yup, aku telah kembali pada fisikku yang dulu. Tidak ada yang namanya supermodel lagi. Tidak ada wanita cantik lagi. Tidak ada rumah dan mobil mewah lagi. Tidak ada Sandra yang super cantik – ada sih, tapi aku yakin dia kan sangat jijik melihatku. Yang ada hanya Mike yang dengan wajah “membosankan” dan “pasaran”. Aku lega dan bersyukur dengan keadaanku yang sekarang.

Enam bulan lebih aku berteman dengan wanita yang berprofesi sebagai perawat ini sampai akhirnya dia menerimaku sebagai kekasihnya dengan satu syarat.  Sejak aku terbangun dirumah sakit itu, aku dan perawat ini sering ngobrol dan menjadi akrab. Keakraban kami itu justru membuat aku jatuh cinta padanya yang sederhana. Akhirnya aku melamarnya disebuah taman disertai sebuah syarat.

Apakah syarat yang diberikan perawat itu? Bukan rumah, bukan mobil, bukan rekening bank, bukan profesi, bukan A, bukan B apalagi supermodel. Syaratnya aku harus bisa menerima kekurangannya. Apakah kekurangannya? Tentu kalian ingat kenapa wanita yang berprofesi perawat ini menundukkan kepala bukan? Ternyata bukan karena dia pemalu, tapi dia mempunyai bekas luka disekitar pipinya yang cukup lebar.

Bagi seorang wanita wajah adalah salah satu aset mereka yang sangat berharga, dan bagi sebagian pria wajah wanita merupakan salah satu syarat mutlak untuk mendapatkan mereka yang bergelimpahan harta. Apakah aku menerima syarat itu? sungguh konyol jika aku mengatakan tidak. Dengan wajahku yang “membosankan” dan “pasaran” ini aku masih berani menolak? Ditambah lagi kesempatan yang DIA berikan padaku sebelumnya dipintu merah? Dengan senang hati aku menerima dan mencintainya dengan setulus jiwaku. Setahun kemudian kami menikah disebuah gereja yang sangat sederhana dan jauh dari keramaian kota.

“Beli dua kotak susu kotak yang diatas sana”, kataku tersenyum ramah pada seorang penjaga disebuah minimarket. Aku membayar semua susu kotak itu lalu akupun berjalan pulang menuju rumahku yang tidak jauh dari sana. Saat memasuki rumahku, istriku yang seorang mantan perawat sedang menunggu dengan senyuman yang paling indah. Rambutnya diikat kucir kuda. Wajahnya berseri dan mempesona. Yang paling kubangga adalah dia tidak menundukkan kepalanya lagi karena malu.

“Sayang, ini telah kusiapkan teh kesukaanmu. Masih panas ya, jangan buru-buru minumnya. Sini kulepaskan sepatumu dulu”, kata istriku melayaniku. Aku sebenarnya telah berulang kali melarangnya melakukan hal itu, karena aku sendiri bisa melakukannya apalagi dengan segala kesibukkanya dirumah pasti sangat lelah. Tapi dia mengatakan begini padaku.

“Sayang, aku ini istrimu. Sudah sepantasnya aku melayani suamiku yang telah bekerja demi keluarga kecil ini. Kamu telah bekerja keras untuk menghidupi keluarga ini. Walaupn pas-pasan tapi kamu tidak pernah sekalipun mengeluh dan tidak pulang. Tahukah kamu betapa bangganya aku mendapatkan suami sepertimu, yang begitu perhatian dan KAYA akan kasih sayang. Dan ketahuilah juga suamiku, aku melakukannya bukan karena kewajibanku sebagai istri, tapi karena aku MENGINGINKANNYA”.

Puluhan kecupan kuberikan pada kening wanita ini yang telah menjadi istriku selama tiga tahun. Selalu menemaniku dikala suka dan terutama duka, dan selama tiga tahun ini dia juga tidak pernah mengeluh akan kekurangan kami sebagai keluarga kecil yang serba pas-pasan dan sederhana. Bahkan saat aku menikah dengannya, aku harus meminjam uang dari teman-temanku untuk membelikannya cincin biasa bertahtakan permata nan murah untuk dilingkarkan dijari manisnya. Dan tahukah apa reaksinya, dia memelukku dan mengatakan itu cincin paling indah yang pernah dia miliki.

“Sayang, aku letakan susu kotak pesananmu dimeja dapur ya”, kataku pada istriku kemudian menuju meja depan untuk mencicipi teh hangat kesukaanku. Saat baru seteguk kucicipi teh hangat itu, terdengar suara panggilan dari dalam dapur, “Sayang…, kesini sebentar”, pintanya dengan suara agak tinggi. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Tiba-tiba aku tersadar dengan kejadian yang sudah tidak asing ini. Apakah kisah pintu merah harus terulang lagi? Aku berlari kecil dengan perasaan yang sangat gelisah. “Ada apa sayang?”, tanyaku dengan wajah yang pucat pasi.

Kulihat muka istriku cemberut, lalu dia menunjuk keatas meja dimana aku menaruh susu kotak pesanannya. Aku pasrah dan menerima semua yang akan terjadi. Lalu kupandangi meja itu. kulihat seekor mahkluk kecil dengan antena panjang sedang menatapku seakan mengejeku diatas meja. “Maksudmu kecoa itu?”, tanyaku dengan wajah mulai berseri-seri.

“Iihhh sayang…, tangkap dan buang dong, aku kan takut sama kecoa”, pinta istriku sambil melompat dan bersembunyi dibelakangku. “Hahahaha….”, aku tertawa sangat lega sekali. Benar-benar lega sampai aku berurai air mata. “Iihh, kok malah tertawa sih, cepat dong sayang…”, cubitnya gemes pada perutku. Aku dengan senang hati menangkap kecoa itu dan kumasukan pada perangkap kecoa. Dengan berlari kecil aku membawa kecoa itu keluar rumah dan melepaskan. Saat kecoa itu hendak terbang pergi, aku berkata padanya sambil tersenyum, “Terimakasih tuan kecoa”.

Saat aku kembali memasuki rumahku, kulihat istriku keluar dengan mengenggam susu kotak itu dengan wajah kesal. Memori lamaku mengingatkanku kembali kisah pintu merah itu. hatiku berdebar-debar gelisah kembali. Aku kehilangan kata-kata hendak berkata. “Karena kamu tadi menertawai aku, maka susu ini tidak akan kuberikan padamu”, kata istriku sambil meminum satu kotak susu yang ditangan kirinya.

“Apakah kamu tidak apa-apa dengan susu itu?”, tanyaku masih dengan perasaan yang gelisah. Dilihatnya susu kotak itu. Dibacanya semua tulisan disusu kotak itu, dan dia memandangiku dengan tajam. “Iya, aku keberatan dengan susu kotak ini. Lain kali kamu jangan beli susu ini lagi ya. Ini susu mahal. Belikan aku yang biasa saja dan belikan aku dua supaya aku bisa meminumnya denganmu”, kata istriku sambil memberikan susu kotak ditangan kanannya padaku ditambah sebuah bonus dipipi pipi kananku.

Aku, aku menanggis mendengar jawaban itu. “Sayang, kamu kenapa? Kok kamu menanggis? Aku berlebihan ya?”, kata istriku sambil meletakkan susu kotaknya  dan menyeka air mataku. “Maafkan aku ya jika aku keterlaluan, aku hanya bercanda sayang, maafkan aku ya…”, kata istriku dengan mata sedikit berkaca-kaca merasa bersalah. Kukecup kening wanita paling cantik hatinya ini dengan semesra dan selama mungkin.

“Bego, aku menanggis bukan karena kamu salah kok. Aku menanggis justru karena aku sangat bahagia mengapa bisa mendapatkan istri sebaik dan secantik dirimu”, jawabku sambil mengecup keningnya sekali lagi. “Aku mananya yang cantik? Ini lihat bekas luka dipipiku”, katanya sambil menunjuk kebekas lukanya sambil tersenyum. “Bagiku kamu adalah wanita yang paling cantik, aku memilih tidak menikah jika bukan kamu yang jadi istriku”, kataku sungguh-sungguh. Lalu kami saling berpelukkan dan menghabiskan malam sambil menikmati susu kotak LOW-FAT yang nikmat itu.

Kini, setelah lebih 50 tahun berlalu, aku dan istriku tetap hidup bahagia. Dia yang menemaniku selama itu memberikanku dua putri yang cantik-cantik. Dan dari kedua putri kami kami diberikan lima cucu yang manis-manis. Sekarang, aku sedang memandangi cucuku yang kini telah beranjak dewasa dari bola kristal bersama istriku yang sangat kucintai ini. Mereka terlihat sehat dan bahagia.

Semenjak aku diberi kesempatan kedua oleh DIA, aku dan istriku selalu mengunjungi ibuku yang tinggal dikampung setiap akhir bulan. Bahkan istrikulah yang memaksaku untuk rutin mengunjungi ibuku. Ibuku begitu bangga dengan apa yang telah kuraih. Bukan sebagai supermodel kelas dunia, bukan karena memiliki rumah dan mobil mewah, bukan karena harta yang berlimpah, tapi karena aku tidak KEHILANGAN SAYAPKU demi menukarnya dengan KETENARAN ataupun KEKAYAAN dunia.

Saat sedang asyik melihat bola kristal itu, seorang wanita yang sangat cantik menghampiri aku. Dari matanya yang lembut aku langsung mengetahui siapa wanita ini. “Mike sayang, aku mengajak ayahmu datang mengunjungi kalian”, kata ibuku sambil tersenyum penuh makna. Aku berdiri dan terpana dengan kehadiran seorang pria yang tampan. Wajahnya sudah tidak asing dimataku apalagi dengan senyumannya yang sangat mempesona itu.

“Hai Mike, aku sudah bilang kita akan bertemu kembali bukan?”, kata pria ini dengan senyuman khasnya. Aku tidak percaya dengan mataku sendiri. Aku yang sejak kecil ditinggal pergi ayahku, aku yang sejak kecil tidak mengenal bagaimana wajah ayahku, ternyata selama ini dia membimbingku. Aku berdiri dengan tangan dan kaki gemetaran. Lalu aku berjalan perlahan mendekati pria tampan ini. Air mataku bercucuran. “Ayah?”, kataku pelan.

“Iya anakku, aku adalah ayahmu”, kata pria ini sambil menempuk pundakku. Seketika aku memeluk pria tampan ini sambil menanggis. Tidak perlu kata-kata untuk menggambarkan suasana hatiku saat itu. Aku betul-betul bahagia. Ternyata ayahku adalah malaikat yang menawarkan pintu biru dan pintu merah padaku. Ayah yang begitu kurindukan sejak kecilku.

Akhirnya kami sekeluarga berkumpul semua. Akhirnya aku menemukan makna bahagia yang sesungguhnya. Dan bahagia itu telah dikatakan ibuku sejak bertahun-tahun lamanya. Hanya saja aku yang telah dibutakan oleh mata yang hanya melihat pintu biru dan pintu merah. Ternyata diantara kedua pintu itu ada satu pintu yang tidak terlihat dengan mata biasa. Hanya dengan BERSYUKURLAH kita bisa melihat dan membuka pintu itu. Dan pintu itu berwarna putih.

Lalu mengapa pintu itu isinya hanyalah hitam dan gelap saja? Dan mengapa tidak ada kata apa-apa diatas pintu putih itu? karena kebahagiaan itu kitalah yang MENENTUKANNYA. Kebahagian itu tidak dapat DITEMUKAN, tapi DIDAPATKAN. Dan untuk mendapatkannya tidak melalui PINTU BIRU ataupun PINTU MERAH, tapi melalui PINTU PUTIH yang ditengah.

Mengapa papan diatas pintu putih itu tidak ada kata-katanya? Ternyata bukan karena tidak ada kata-katanya, tapi karena terlalu panjang sehingga kata-kata itu menjadi kecil sehingga tidak dapat dibaca dengan mata telanjang. Kata-kata apakah itu? kata-kata itu adalah.

”Jangan MEMBANDINGKAN dirimu dengan apa yang menurutmu melebihi dirimu, tapi BERSYUKURLAH dengan apa yang menurutmu KURANG dibandingkan mereka itu, karena mereka yang menganggap dirinya bernilai “sempurna”, justru selalu ada satu NILAI MINUS yang tidak disadarinya hingga nilai minus itu menyadarkannya”.

Oya, tahukah kenapa ibuku menjadi sangat cantik dan ayahku menjadi sangat tampan dengan kedua sayap dipunggungnya dan dipunggung kami juga? Kurasa kalian telah tahu jawabannya. Dan aku juga lupa memberitahukan siapa nama istriku yang punya hati malaikat itu, tapi lupakanlah, kalian pasti juga sudah mengetahui bukan?! Hehehe, Dia bernama…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s