Kancil hidung besar merah


My Big Red Nose

“Hei, kamu pasti yang bernama Katty bukan?”, tanya seorang pria jangkung dengan hidungnya yang mancung. “Iya, aku adalah Katt…”, belum habis aku menjawab pria yang yang didepanku ini langsung menyahut, “Hei bro, namanya memang Katty, Katty sikancil hidung besar merah”, teriak pria didepanku ini sambil berlari kearah teman-temannya yang tidak kusadari sedang mengikutinya. Selanjutnya suara jepretan kamera menghujam wajahku.

Rambut panjang pirang, mata biru muda, wajah dihiasi bintik-bintik hitam kecil, postur tubuh kecil dan, hidungku adalah tokoh utamanya. Agak sedikit besar. Mungkin termasuk kebesaran dengan postur tubuhku yang kecil, dan agak kemerahan lagi. Begitulah pembaca, dengan tubuh kecil seperti kancil plus hidung besar kemerahan aku dikenal dengan sikancil hidung besar merah.

Julukan itu kudapatkan semenjak aku memasuki tahun pertama disekolah menengah. Julukan ini diberikan oleh seorang pria yang awalnya sangat kukagumi. Sejak memasuki sekolah tersebut dan secara tidak sengaja berpapasan pangeran tampan ini, aku telah dibuatnya terpesona. Hatiku telah dicurinya hanya dengan senyuman saja, dan ternyata kuketahui senyuman itu bukan diberikan untukku. Walaupun begitu, aku tetap senang.

Awalnya, perkembangan hubungan kami sangat mengesankan, tentunya bukan perkembangan antara dua lawan jenis yang sedang jatuh cinta, tapi lebih kearah persahabatan – kalau boleh aku menyebutnya begitu. Aku dan pria tampan pujaanku ini secara tidak sengaja dipertemukan dalam satu kelas, bahkan kami duduk bersebelahan. Dan seperti yang bisa kalian tebak, hatiku berbunga-bunga saking senangnya.

Mike. Mile Angelo. Begitulah namanya kuketahui saat wali kelas kami meminta kami memperkenalkan diri satu persatu didepan kelas. Saat dia berjalan kedepan, saat dia memperkenalkan dirinya, saat dia mengucapkan kata-kata dari mulutnya, bahkan saat dia bernapaspun sangat mempesonakan aku. Kedengaran berlebihan? Ya mau bagaimana lagi, aku sedang jatuh cinta.

“Katty Kennedy”, panggil wali kelas kami. “Katty Kennedy”, panggil sekali lagi wali kelas kami dengan suara agak sedikit dinaikkan. “KATTY KENNEDY. Apakah ada yang bernama Katty Kennedy dikelas ini?”, tanya wali kelas kami sambil memainkan kacamatanya disertai anak-anak lain dengan kepala mutar sana-sini mencari anak bernama Katty itu.

“Hei, itu namamu bukan?”, tegur Mike yang disisiku membangunkanku dalam lamunan indahku. Ya, itu namaku. Seketika saja aku langsung bangkit berdiri dan berteriak, “Iya mrs. Glen…”. Karena buru-buru aku berdiri kakiku terantuk kaki meja. “AAAAKKHHHH..”, teriakku kesakitan disertai suara tawa seisi kelas. Mukaku memerah karena malu yang luar biasa. Kulirik kearah Mike dan dia tertawa kecil melihat padaku. Rasanya aku ingin menghilang saja.

Untung saja aku tidak menghilang waktu itu, kenapa? Karena ternyata kejadian itu mendekatkan aku dengan Mike. Kok bisa? Ternyata Mike orangnya tipe yang periang, melihatku yang konyol dan ceroboh membuatnya tertarik padaku. Ya aku tahu maksud kalian, Mike tertarik padaku karena bisa dijadikan bulan-bulanan keisengannya. Tapi, sejujurnya, aku malah tidak merasa keberatan. Alasannya? Kalian tahulah.

Tidak terasa enam bulan telah lewat, aku dan Mike menjadi pasangan yang “sangat serasi”. Yang satu pembuat onar, yang satu korban onar. Yang satu dikeliling wanita, yang satu dijadikan bulan-bulanan. Yang satu seorang pangeran dengan kuda putihnya, yang satunya pembantu sang cinderella. Ya, begitu “keakraban” aku dan Mike. Bos dan anak buah.

Walaupun aku dan Mike sering dicap sebagai raja dan budaknya, tapi kami selalu kompak dalam hal kerjasama. Contohnya saat pertandingan antar kelas memperebutkan telur “emas” pada ulang tahun sekolah kami. Mike menjadi situkang rebutnya dengan tubuh dan tenaga besarnya, sedangkan aku pembawa dan penjaga keranjang terbaik dengan tubuhku yang mungil dan kelincahanku berlari. Tak perlu waktu lama kami dinobatkan sebagai kelas terbaik. Dan tahukah kalian, itu pertama kalinya aku dipeluk dan diberi julukan olehnya.

Aku dipeluk Mike karena dia tidak sadar melakukannya. Karena kami menjadi kelas terbaik dalam pertandingan itu, aku dipeluk dan diangkat Mike seperti anak kecil yang meluapkan kebahagiaannya. Coba bayangkan bagaimana perasaanku waktu itu. Jantungku hampir melompat keluar dari dadaku saking senang dan terkejutnya. Lalu Mike mencubit hidungku sambil berkata, “kamu seperti kancil yang berlari sana sini dikejar serigala”.

Saat mendengar Mike berkata seperti itu, aku begitu senangnya. Aku mendapatkan julukan dari pangeran pujaanku. “Ya, kancil berhidung besar dan berwarna merah”, teriak salah satu anak dari kelas lain mengodaku. Semua tertawa mendengar julukan baruku itu. Mike juga tertawa. “Yup, mulai sekarang kamu memakai julukan itu, sangat cocok denganmu”, kata Mike sambil tertawa terbahak-bahak. Aku kira itu hanya sebatas gurauan, tapi, ternyata julukan itu malah melekat dan menjadi diriku.

Itulah sepenggal kisahku bagaimana julukan memalukan itu melekat pada diriku. Aku berusaha menghindari pria jangkung dan teman-temannya ini menfotoku. Aku bukanlah selebriti sehingga mereka menfotoku, tapi mereka berlomba-lomba memfotoku untuk mendapatkan foto wajahku yang terbaik. Maksudku hidungku yang besar dan merah itu sehingga bisa diolok-olok. Dan ini sudah berlangsung selama dua tahun lebih.

Ya, aku sekarang duduk dikelas tiga. Bagaimana aku bisa bertahan selama ini jadi olok-olokan anak-anak lain? Sejujurnya aku bukanlah bertahan, lebih tepatnya aku tidak bisa pergi dari sekolah ini semauku. Aku dimasukan kesekolah ini karena kepala sekolahnya bersimpati padaku dan ibuku. Aku memang tidak menceritakannya pada siapapun, ibuku adalah tukang bersih-bersih sekolah.

Karena ibuku telah bekerja selama puluhan tahun disana sejak masih muda, kepala sekolah bersimpati pada ibuku dan menerimaku sebagai siswi disana tanpa syarat dan tanpa biaya sepeserpun. Betapa bahagianya ibuku bisa menyekolahkanku walaupun harga dirinya harus dibuang. Bahkan ibuku berlutut sambil bercucuran air mata karena begitu bahagia. Menurut kalian apakah pantas aku meninggalkan sekolah hanya dijadikan olok-olokan teman?

Tahukah kenapa ada peribahasa yang mengatakan “Surga dibawah telapak kaki ibu“?, tak lain dan tak bukan karena ibu adalah sosok malaikat yang membuang sayapnya demi anak-anaknya. “jika ada yang tanya siapakah ibumu, katakan saja bahwa bahwa ibumu diluar kota. Dan jika ada yang bertanya apa hubunganku denganmu, katakan saja aku ini bibimu”, kata ibuku sambil memelukku sebelum aku dimasukan kesekolah ini.

Apakah aku mengiyakan permintaan ibuku? Hanya anak durhaka yang akan menyangkal keberadaan ibunya, dan aku sudah pasti menolak mentah-mentah permintaaan ibuku itu. Aku mengatakan padanya bahwa aku tidak pernah merasa malu mempunyai ibu secantik dan semulia dirinya, aku bahkan mengatakannya sambil berurai air mata.Tapi, ibuku malah berkata begini padaku.

“Sayang, ibu tahu kamu tidak malu dengan status ibu, makanya ibu begitu menyayangimu dan rela melakukan apapun demi dirimu. Semenjak ayahmu meninggal, kamulah permata ibu satu-satunya yang mengingatkan ibu pada ayahmu. Ibu meminta permohonan itu bukan tanpa alasan sayang. Sekarang kamu masih muda, kamu belum mengerti semuanya. Tapi untuk kali sayang, dengarkan ibu ya”, kecupnya sayang dikeningku.

Setiap kali aku berjalan menelusuri lorong sekolah dan bersua dengan seorang wanita pembersih sekolah, mataku selalu berkaca-kaca. Semua orang mengetahui bahwa dia adalah bibiku, tapi kenyataanya dia adalah ibuku. Entah sampai kapan aku harus berpura-pura menyangkal semua itu. Semua olok-olokan yang menyakitkanku, bahkan tidak sedikitpun menyamai sakit menyangkal keberadaan ibuku walaupun itu permintaannya.

“Hei, pergi kalian. Kenapa kalian setega dan sejahat ini sih. Semua pria memang brengsek”, teriak seorang wanita dengan seragam beladirinya yang kotor oleh debu dan tanah datang mengusir para paparazzi dadakan itu. “Kamu baik-baik sajakan kak Katty?”, tanya wanita berseragam beladiri ini dengan wajah yang terlihat cemas. Aku membalasnya dengan senyuman. “Aku baik-baik saja Annie, lagian ini sudah biasa”, jawabku sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.

Dengan postur 175cm dan rambut panjang pirang, Annie adalah bunga disekolah kami. Sikapnya yang tegas dan ban hitam beladiri Karate, membuatnya menjadi wanita yang paling diincar pria disekolah kami. Kecantiikannya mengoda semua kumbang, tapi durinya – ban hitam – mengancam mereka yang berani macam-macam dengannya. Aku? Aku hanyalah secuil rumput liar disampingnya.

Aku dan Annie telah berteman baik sejak aku memasuki sekolah ini. Annie orangnya periang dan tegas dalam berbicara. Annie paling benci orang-orang yang menindas yang lemah. Mungkin karena itulah dia bersahabat baik denganku. Dan tahukah kalian Annie adalah adik kelasku juga sekaligus adik Mike sang pangeran pujaanku.

“Kak Katty, kalau ada yang macam-macam denganmu dan berani membuatmu menanggis, kasih tahu aku, akan kubalas berkali-kali lipat sehingga untuk berjalanpun mereka susah”, kata Annie hendak mengejar para pria tadi. Kalau tidak kutahan tangannya aku berani taruhan para pria itu besoknya akan cuti sekolah karena liburan dirumah sakit.

“Sudah ah, lupakan saja mereka, lebih baik temanin aku membeli buku didepan stasiun yuk, tapi sebelum itu kamu mandi dan ganti baju dulu, kamu bau”, kataku sambil menutup hidungku sambil mengibas-gibas tanganku mengodanya. “Ihh… kak Katty jahat, masa bilang aku bau”, katanya manja.

Begitulah sifat asli Annie jika bersamaku, selalu manja dan bersifat sedikit kekanak-kanakkan. Dan hanya didepanku saja dia bisa menjadi dirinya yang sebenarnya. “Iya, Annie cantik dan manis kok. Sekarang sana mandi dulu ay”, kataku mengelus kepalanya. “Hehe, oke kak Katty, tunggu aku ya”, jawabnya sambil berlari ke ruang ganti didepanku.

“Terimakasih”, kata seorang wanita cantik pada seorang pelayan cafe  ketika mempersilakannya duduk. Rambutnya dibiarkan terurai. Wajahnya mulus dan hidungnya mancung. Tubuhnya termasuk kecil, tapi jusrtru itu membuatnya semakin menarik dan terlihat imut. Terlihat juga mata pria disekitar cafe itu tak henti-hentinya melirik wanita cantik ini.

Yup, itu adalah aku lho. Bisa kudengar suara dikepala kalian hendak menerobos keluar menyangkalnya dengan beribu pertanyaan. Tapi ya, itu memang aku, aku yang berhidung besar dan berwarna merah. Akulah yang dijuluki dikancil itu. Lalu bagaimana aku bisa menjadi secantik itu?

Kisahnya sendiri sederhana saja, sejak lulus dari sekolah, dengan nilai hampir sempurna, aku direkomendasikan oleh kepala sekolahku pada sebuah perusahaan besar yang ternama. Karena otakku yang encer, aku mencapai posisi manajer dalam waktu yang sangat singkat. Pemimpin perusahaan begitu kagum dengan kemampuanku dan memberikan posisi yang diincar para pria maupun wanita diperusahaan tempat aku bekerja.

Dengan posisi tersebut, gajiku beranjak naik menjadi berlipat-lipat banyaknya. Ditambah komisi serta bonus dan fasilitas yang wah, aku bisa menikmati kehidupan para jutawan apa yang dulu menjadi impian kalangan bawah seperti kami. Dengan materi yang berlimpah, aku operasi memperbaiki hidungku dan sedikit memoles wajahku. Dengan uang segalanya bisa dibeli, bahkan “identitaspun” bisa diperbaiki.

Bagaimana dengan ibuku? Sejujurnya ibuku masih setia disekolah itu, sebagai pembersih sekolah. Aku telah memintanya berhenti dan tinggal bersamaku dirumah yang lebih layak untuk ditinggali yang kubeli dengan hasil cucuran keringatku sendiri. Tapi lagi-lagi ibuku menolak dan menasehati dengan senyumannya yang sangat indah.

Lalu bagaimana dengan operasi wajah yang aku lakukan? Apakah ibuku tidak terkejut? Sejujurnya, ibuku tidak berkata apa-apa saat kuberitahu padanya. Dia hanya tersenyum dan memandangiku dengan mata yang sayu dan berkaca-kaca. “Ya, kamu menjadi sangat cantik sekarang, syukurlah… semoga kamu berbahagia dengan wajah barumu sayang…”, kata ibuku memelukku. Aku senang ibuku berbahagia untukku. Tapi aku sedikit ragu dengan perkataannya.

“Hai Annie, sebelah sini”, kataku pada seorang wanita tinggi nan cantik sambil melambaikan tanganku memanggilnya. “Katty? Kak Katty?”, tanya wanita didepanku ini dengan wajah bingung dan terkejut. “Iya ini aku Annie sayang, kak Katty, sihidung besar merah”, jawabku menyakinkan sambil menunjuk hidungku.

“Kok.. Kak Katty…bagaimana…kenapa…”, tanyanya terbata-bata dengan suara tertahan-tahan. Aku hanya tertawa kecil melihatnya terkejut seperti itu. “Duduk dulu sayang, nanti aku ceritakan semua”, pintaku sambil memintanya duduk. Coba bayangkan dua wanita cantik sedang duduk berdua dalam satu cafe. Yang satu seorang supermodel dan yang satunya seorang super imut. Mereka yang para kumbang pasti terbuai dengan dua bunga segar nan cantik didepannya. Lalu akupun bercerita semuanya pada teman baikku ini.

“Oohhh, jadi begitu ceritanya…”, kata Annie sambil menikmati kopi coklat hangatnya. “Cuma ooohh saja?”, tanyaku sedikit penasaran. Ya, aku penasaran apakah dia tidak melihat perubahan yang banyak pada diriku? Apakah dia tidak bisa memujiku karena aku telah menjadi cantik tidak seperti dulu dengan hidung besar berwarna merah yang menjijikan itu. “Kamu sangat cantik kok kak Katty, tidak perlu aku memujinya kak Katty sudah tahu, tuh coba lihat para pria disamping kita dari bayangan kaca cafe ini”, jawab Annie sambil memainkan matanya padaku.

Yup, aku bisa melihat dan mengerti apa maksud Annie. Kulihat pantulan bayangan kami dikaca dan terlihat beberapa pria sedang melirik kearah kami. Bahkan ada satu yang mengambil foto kami secara diam-diam. Aku dan Annie saling berpandangan dan tertawa kecil. Setelah membayar semua makanan dan minuman kami, aku meminta Annie menemaniku jalan-jalan kemall. Dan hari itu kami menikmati hari yang indah dan penuh canda. Hari baruku bersama Annie, tentunya dengan wajah yang baru juga.

“Hai Mike, apa kabar”, sapaku pada pria tampan yang semakin tampan ini dimataku. “Hai Katty apa kabar”, jawabnya tersenyum ramah. Yup, semenjak lulus sekolah, aku dan Mike masih berhubungan walaupun sangat jarang sekali. Hanya dengan Annie adiknya aku bisa mencari tahu kesehariannya. Apakah dia tidak terkejut dengan perubahanku yang telah menjadi cantik? Sejujurnya aku berharap dia terkejut dan memujiku, setidaknya dia bisa jatuh cinta padaku. Tapi, dia sikapnya malah semakin dingin denganku dibanding dulu.

Entah sudah berapa banyak cara yang telah kulakukan untuk menaklukkan hati pangeran pujaanku ini. Tapi tak satupun cara yang berhasil. Sebagai informasi saja, aku bukanlah wanita murahan yang mengemis-ngemis cinta. Begitu banyak pria yang mengejarku, dan semua pria yang mengejarku bukanlah pria biasa tapi memang mereka yang berstatus wah dan tampan juga, tapi kepada pria yang bernama Mike inilah dan hanya dialah satu-satunya pria yang ingin kumiliki.

Aku sendiri tidak tahu mengapa sikap Mike semakin dingin denganku, padahal dulu sebelum aku “membentuk ulang” wajahku, dia selalu ceria dan mengodaku. Dia selalu memanggilku sihidung besar merah. Sejujurnya aku tidak keberatan dia memanggilku begitu, tapi kadang dia sering menceritakan pada teman-temannya dan itu membuatku risih dan malu.

Karena sering dikatakan itu, aku mengambil keputusan untuk mengoperasi hidungku dengan segala tabungan yang telah kusimpan. Dan sepertinya DIA yang diSurgapun mendukungku dengan memberikan pekerjaan dan penghasilan yang sangat mendukung. Semua ini kulakukan karena Mike, dan ini kulakukan demi Mike juga. Aku menjadi cantik untuknya, tapi hasilnya dia malah semakin menghindariku dan terkesan dingin tanpa kutemukan jawabannya mengapa.

Pernah kubertanya pada  Annie mengapa kakaknya Mike sikapnya menjadi dingin padaku, tapi yang kudapatkan justru sebuah senyuman penuh makna. “Akan lebih baik kamu bertanya langsung pada kakakku”, jawab Annie pendek.

Kepalaku diisi dengan ribuan pertanyaan yang terjawabkan. Karena penasaran aku mencoba menghubungi Mike dan mengajaknya ketemuan pada hari Minggu sore. Awalnya Mike menolak dengan alasan bahwa dia sibuk. Tapi karena aku yang telah penasaran sekali dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah, aku memaksanya dan mengatakan, “Aku hanya ingin tahu mengapa kamu selalu menghindariku. Aku tidak meminta kamu untuk menjelaskan semuanya, aku hanya ingin tahu alasannya saja. Apapun itu”.

Mike terdiam sebentar mendengar keinginanku. Lalu dia membuang napas lega seperti sedang baru terbebas dari belenggu beban dihatinya. “Baiklah, jika kamu ingin tahu mengapa aku menghindarimu, maka aku akan menemuimu ditaman Minggu sore seperti yang tadi kamu katakan. Dan kuingatkan, apa yang kukatakan mungkin bagimu hanyalah karangan semata, tapi aku akan katakan semuanya dan sejujurnya padamu”.

Belaian angin sore yang menyegarkan masih memainkan rambutku. Mataku tidak berkedip memandangi pria tampan yang duduk dihadapanku ini. Mulutku mengangga seakan aku baru saja melihat atau mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan. Ya, aku memang baru saja mengetahui kebenaran yang mengejutkan. Saking terkejutnya aku terdiam seribu bahasa mendengar apa yang barusan dikatakan Mike. Dia menyukaiku?

“Aku sudah tahu reaksimu pasti akan seperti itu Katty, tapi percayalah, aku mengatakan yang sejujurnya”, lanjut Mike sambil tersenyum ramah. “Se..se..sejak kapan?”, tanyaku semakin bingung. “Sejak pertama kali aku berbicara denganmu. Tentu kamu masih ingat apa yang kukatakan padamu pada waktu sekolah dulu dimana mrs. Glenn meminta kita memperkenalkan diri bukan?!”, katanya sambil mengambil sehelai daun kecil yang menempel dirambutku yang terbawa oleh angin.

“Y..ya..yaaa, seingatku kamu memanggilku untuk memperkenalkan diri karena giliranku, dan aku..aku..”, kuhentikan kata-kataku karena kejadian dulu itulah yang paling ingin kulupakan. Kulihat Mike tersenyum dan kemudian tertawa kecil. “Tahukah kamu Katty, waktu itu kamu begitu konyol dan lucu. Apalagi dengan wajahmu yang kesakitan saat kakimu terbentur kaki meja, hahaha…”, kata Mike sambil tertawa terbahak-bahak. Aku rasanya ingin menghilang mendengar dia bercerita dan begitu baik mengingat kejadian memalukan itu. Dan, Jika dia dan aku bertemu hanya untuk membahas ini, aku sudah pasti akan melupakan dirinya mulai saat ini.

“Tahukah kamu Katty, itulah kenangan yang paling selalu kukenang dalam kepalaku selama ini”, lanjut Mike sambil memandangi aku dengan senyumannya yang tampan dan manis. “Maksud kamu…”, tanyaku semakin penasaran. “Katty, Katty…, aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Memangnya kamu mengira aku sedang berlelucon sekarang ini?”, kata Mike dengan mimik wajah yang cukup serius.

“Tapi, ta..tapi kenapa kamu malah sering mengodaku dan mengolok-olokku? Tentunya kamu masih ingat dengan julukan yang kamu berikan padaku juga bukan?!”, balasku meminta penjelasan sedetail-detailnya. Kali ini aku cukup terbawa perasaan dan sedikit emosi. Senang karena ternyata Mike menyukaiku, kesel karena dia selalu menjadikanku bahan guyonan, marah karena kenapa sekarang ini dia malah menghindariku. “Aku ingin kamu menjelaskan semua itu padaku”.

“Katty..Katty…coba kamu bayangkan jika kamu menjadi aku waktu sekolah dulu. Seekor kupu-kupu dengan sayap terindah yang diidamkan para bunga-bunga cantik nan elok ditaman, lalu kupu-kupu itu memilih bunga liar dihutan? Itu akan menjadi berita paling bersejarah disekolah kita. Tapi, mau bagaimana lagi, ternyata kupu-kupu itu memang tertarik pada bunga liar yang dihutan itu”.

“Dan, menurutmu apa yang akan dilakukan seekor kupu-kupu untuk selalu bisa mendekati bunga liar yang dihutan itu supaya tidak dijauhi bunga-bunga taman juga?”, tanya Mike padaku dengan senyumannya yang penuh makna. Aku bingung. Aku menggeleng kepalaku tanda tidak mengerti. Mike tertawa terbahak-bahak. Kali ini aku mulai tersenyum dan sedikit tertawa kecil melihatnya yang ceria seperti Mike disekolah dulu.

“Mudahnya begini, jika kamu seorang putri raja dan kamu menyukai seorang pria jalanan, apa yang akan kamu lakukan supaya kamu bisa selalu berdekatan dengannya selain dengan cara diam-diam menemuinya”, tanya Mike lagi padaku dengan perumpamaan yang mudah dimengerti. Itulah kenapa aku menyukainya selain wajah dan fisiknya yang menurutku sempurna. “Aku akan mengambilnya jadi pelayanku”, jawabku langsung.

“Hahaha…, apa yang akan kamu lakukan jika dia sudah menjadi pelayanmu?  dan apa yang akan kamu lakukan supaya kamu bisa terus mengingatnya tanpa perlu menyebut namanya supaya orang lain tidak tahu bahwa kita menyayanginya?”, tanya Mike lagi kali ini dengan senyuman yang sangat manis. “Aku akan memberinya julukan yang akan selalu kuingat dan saat kusebut julukan itu aku…”, aku menghentikan jawabanku mengerti maksudnya.

Aku menutupi mulutku dengan kedua tanganku. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Ternyata Mike menyukaiku. Pangeranku menginginkan aku. Aku merasakan semua beban rantai besi yang selama ini mengikat tubuhku mulai berjatuhan karena “gemboknya” telah terlepas. Saking senangnya aku merasakan mataku mulai berkaca-kaca.

“La..lalu kenapa akhir-akhir ini kamu malah menjauhiku?”, tanyaku mengatur napasku supaya tidak terlalu terbawa perasaan. Mike menarik napas panjang. Lalu dia melihat kearahku dengan wajah tampannya. Matanya sayu. Kulihat kedalam matanya tersirat seakan ada kekecewaan besar yang menyelimuti hatinya.

“Katty…, sejak kita lulus sekolah, aku langsung bekerja. Itu adalah alasan pertama mengapa aku jarang menemuimu lagi. Aku bekerja siang dan malam menabung untuk biaya hidup bersamamu kelak. Walaupun aku tahu dengan hanya mengandalkan ijazah tamatan sekolah menengah tersebut penghasilan yang kudapatkan tidaklah akan pernah cukup, tapi aku yakinkan diriku bahwa kamu pasti tidak akan mempermasalahkannya”.

“Maksud kamu, kamu bekerja hanya untuk men..”, tanyaku lebih tidak percaya lagi. Mike menggenggam tanganku. “Iya Katty, aku ingin melamarmu dan menjadikanmu pendamping hidupku. Tapi sebelum itu aku ingin membuktikan bahwa aku mampu menghidupimu walaupun dengan penghasilan yang sangat pas-pasan. Dan ketahuilah, aku tidaklah sebuta yang kamu kira. Aku juga tahu kamu menyukai sejak masih sekolah”.

“Lalu kenapa sekarang aku menghindarimu? Karena kamu telah berubah Katty. Apa yang selalu kubanggakan pada dirimu, yang BENAR-BENAR dirimu telah hilang. Jika aku boleh bertanya padamu, apa yang akan kamu lakukan jika putri raja yang mencintai pangeran jalanannya telah kehilangan apa YANG DIBANGGAKAN oleh sang putri kerajaan?”. Seketika itu air mataku menetes membasahi wajahku yang cantik. Cantik yang awalnya kukira bisa membuat Mike jatuh cinta ternyata justru tidak membuahkan apa-apa.

Matahari telah kembali ke“kasur”nya hendak beristirahat. Samar-samar terlihat diangkasa para bintang mulai bermunculan bersiap-siap menyambut sang ratu bulan. Pada petak-petak jalan ditaman yang ramai dilalui orang, terlihat hanya dua insan manusia yang sedang berjalan saling bergandengan tangan.

Mereka lalu berpelukan. Mesra sekali. Sekali-sekali  sang wanita mengecup pria yang disampingnya. Malam itu udara terasa dingin, tapi hangatnya cinta mereka menghangatkan mereka berdua. Para bunga bergoyang-goyang diterpa angin malam tidak bisa diam seakan iri dan berebutan ingin melihat langsung tokoh utama dalam sebuah kisah yang telah melegenda . Para serangga “bernyanyi” seakan mengadakan orkestra malam mengiringi mereka.

Dengan gaun putih sederhana nan indah yang dikenakannya, sang wanita merangkul mesra tangan pria tampan disampingnya. Sang pria membalasnya dengan sebuah kecupan mesra dikening sang wanita dengan topi bulat bercorak kotak putih hitam mencoba menutupi helaian rambut peraknya.

Tidaklah perlu kata-kata ataupun cerita untuk menjelaskan pada dunia apa yang sedang mereka rasakan, karena bulan dan bintang saja terkesima menyaksikan indahnya kisah cinta mereka berdua. Selama 50 tahun mereka bersama, selama 50 tahun juga perasaan yang mereka sampaikan tetap sama, bahkan berkali dua.

Tunggu dulu, siapakah mereka? Tidaklah perlu menebak-nebak pembaca. Kalian sudah tahu siapa mereka. Mereka adalah pasangan yang sejak sekolah menengah sudah saling jatuh cinta. Mereka adalah pria dan wanita yang awalnya dikira raja dan pelayannya. Mereka yang saling memendam rasa hingga bertahun-tahun lamanya. Mereka adalah Katty dan Mike yang jadi tokoh utama, dan mereka itu adalah aku dan suamiku yang tersayang disana.

Ya, sejak aku dan Mike bertemu ditaman yang dijanjikan itu, dan sejak Mike menjelaskan semua padaku, sayapku seakan menerobos keluar dari punggungku. Aku yang kira Mike hanyalah menganggapku sebagai boneka dan pembantunya, ternyata memendam rasa yang sama denganku. Aku yang kira dengan menjadi cantik akan mendapatkan hatinya, malah justru aku menyakitinya.

Sejak sore ditaman itu, aku mengerti ternyata bagi sebagian pria – dan umumnya – mereka menyatakan perasaan sukanya dengan cara MENGODA sang pujaan hatinya. Aku juga baru mengerti mengapa mereka melakukan hal itu, padahal setahuku itu akan menyakiti perasaan pujaan hatinya, tapi ternyata ada ALASAN dibaliknya. Awalnya aku mengira sangatlah susah memahami para pria, ternyata kitalah para wanita yang selalu berpikir dengan PERASAAN sehingga LOGIKA tidak berjalan.

Aku baru mengerti bahwa pria itu sangatlah SEDERHANA, mereka akan bilang suka jika suka, dan mereka akan bilang tidak suka jika tidak suka. Hanya saja CARANYA SELALU TERBALIK DENGAN PERKATAANNYA. Lalu kenapa kadang kita susah mengerti mereka? Karena kita jugalah – para wanita – yang membuatnya susah. Kok bisa? Karena kita ingin selalu DIPUJI oleh idaman kita sehingga secara tidak langsung apa yang sebenarnya menurut mereka TIDAK, kita paksakan jadi IYA. Alasannya? Kita ingin mendengar pujiannya karena kita telah berusaha menjadi yang TERcantik, TERseksi dan TERlainnya bagi mereka.

Lalu bagaimana dengan mereka yang mengoda dan mengolok-olok kita? Sebenarnya justru mereka menyukai kita – walaupun tidak semua pria sama. Kok bisa? Karena pria itu – dan umumnya tapi tidak semua – HARGA DIRINYA TINGGI. Tapi, pada saat dia menyukai seseorang dan BENAR-BENAR MENYUKAINYA, mereka tidak akan segan-segan MEMPERTAHANKANNYA, walaupun harus KEHILANGAN HARGA DIRINYA.

Terdengar semakin ribet? Tentu saja tidak. Mereka seperti kupu-kupu yang menemukan bunganya. Dan saat mereka telah menyukai bunga itu, mereka akan tetap mendekati dan mengitari bunga itu. Tidak peduli bunga itu telah kehilangan warnanya ataupun ada berjuta bunga lain yang sejenis lebih cantik berbaris disekelilingnya, mereka akan tetap akan tahu yang mana bunganya dan kembali pada bunga pujaannya.

Sejak sore ditaman itu, aku belajar hal yang lebih penting lagi. Hal yang tidak pernah diajarkan disekolah. Hal yang tidak pernah bisa dibeli didunia, tapi harus DIPELAJARI dan DIDAPATKAN dengan luka yang sangat menyakitkan. Tapi, justru itulah letak keindahannya. Dan catatlah ini dikepala kalian para wanita.

Kadang, apa yang kamu pikirkan itu adalah KELEMAHAN TERBESARMU, justru bagi yang lain kadang menjadi KELEBIHAN TERINDAHMU.

Apakah itu hal yang mutlak? Percayalah, itu BENAR-BENAR KENYATAANNYA dan MUTLAK ADANYA. Jika kalian masih ragu, cobalah dan cobalah sekali saja. Perhatikan mereka yang “menurutmu” nilainya tidak sempurna. Apakah dari wajah, tangan dan kakinya, ataupun dalam perkataan dan tindakannya. Selalu ada cincin nan indah dijari manis mereka bukan? itulah kenapa ada satu peribahasa terkenal yang menjelaskan itu semua. Katanya.

“Kita semuanya sebenarnya malaikat bersayap satu, dengan berpelukanlah kita bisa terbang”.

Aku membantu suamiku duduk disebuah bangku taman. Setiap kali kami bermain ditaman ini, aku dan Mike selalu duduk dibangku ini, kami selalu tertawa kecil mengingat kenangan kecil yang telah kami lalui. Ya, inilah bangku dimana aku dan Mike bertemu disore hari puluhan tahu itu. Dan dibangku inilah aku disadarkan oleh Mike dan oleh DIA yang bertahta disurga. Dan juga, kami setiap akhir minggu selalu datang berdua menikmati kenangan ini bersama-sama. Selama 50 tahun lamanya.

“Sayang, apakah kamu kedinginan?”, tanyaku mesra sambil memperbaiki syal berwarna merah tua polos yang melingkar dilehernya. “Jika bersamamu hanya hangat yang ada dalam kamusku”, jawab Mike sambil mengecup keningku. “Apakah kamu merasa kedinginan? Kalau iya aku pinjamkan jaketku padamu”, tanyanya dengan pandangan mata yang ramah dan senyuman termanisnya. Tampan sekali.

“Tak sedikitpun aku merasa dingin, justru pelukanmu itu membuat semakin hangat dan damai”, jawabku mesra sambil menenggelamkan kepalaku didadanya. “Oya sayang, temanin aku ketoko buku didepan stasiun sebentar ya sebelum  pulang, Kevin cucu kita memintaku membelikannya buku cerita kesayangannya”, kataku sambil mengecup pipinya. Mike melihat kearahku. Kulihat mata birunya yang sangat indah dibawah terpaan sinar bulan. Kemudian dia berbisik mesra padaku.

“Dengan senang hati kancil hidung besar merah pujaanku…”

“Cup…”

2 thoughts on “Kancil hidung besar merah

    1. Sebelumnnya thank banget atas kunjungannya Mabuk Laut plus commentnya. Ya, memang beberapa tulisan cerita pendek nan sederhana ini berantakan, bahkan mungkin semuanya. Aku memang tidak pandai merangkai kata-kata dan bercerita, semua ini hanya karangan semata yang aku tulis seadanya saja sekedar menuangkan hobi menulis.

      Dan, jika memang cerita diblogs ini berantakan, apakah itu kata-katanya, apakah itu ceritanya, apakah itu kejadiannya atau apakah lainnya, secara pribadi itu murni kesalahanku dalam menulisnya.

      Sekali lagi thank banget sudah membaca kisah pendek yang berantakan ini dan memberi masukan singkat yang membuatku akan menulis lebih baik kedepannya (doain ya). Semoga anda tidak jera membaca blogs berantakan ini dan semoga dari kisah sederhana diblogs ini bisa memberi inspirasi (jika ada). (^_^)/ thank you…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s