Beda mereka dan kita (puisi renungan)


They are and we are

Ehem, sebelumnya aku meminta maaf jika apa yang aku tuliskan kali ini menyinggung kalian yang membaca. Dan sejujurnya, aku menulis puisi ini – kalau bisa disebut puisi – tidak ada sedikitpun niat hendak menyinggung siapa-siapa. Aku menulis puisi ini karena aku mendapatkan ilham saat pulang dari beribadah dan mungkin lebih tepat sebuah sentilan pada pikiranku dan terutama aku.

Ya, saat aku hendak pulang beribadah, aku melihat dua pasang insan manusia. Mereka sama-sama tampan, mereka sama cantik. Bedanya adalah usia mereka. Awalnya aku tidak mempedulikan mereka. Lagian waktu itu aku hendak bergegas pulang dan menikmati liburanku sambil menulis cerpen baru. Tapi entah kenapa mataku berontak sama otakku.

Kulihat sang pria memegang pundak sang wanita menuntunnya keluar dari rumah ibadah, mereka berjalan lambat karena faktor usia dan fisik mereka yang sudah mulai renta. Sang pria dengan kacamata tebalnya sekali-sekali melirik samping kanan-kiri hendak memastikan bahwa sang wanita aman saat hendak berjalan keluar, karena waktu itu para umat yang berjalan keluar sangat ramai dan berdesakan.

Waktu itu aku hanya duduk dikursi menunggu agak sepi baru keluar dan pas didepan mereka melewatiku saat menuju pintu. Sang wanita dengan bola matanya yang hitam penuh kedamaian melihatku dan tersenyum sangat sangat dan sangat lembut dan manis. Yang bisa kurasakan dari senyuman itu adalah seorang sosok wanita dan seorang ibu yang lembut dan penuh cinta. Aku secara tidak sadar mengangguk dan membalas senyumanku.

Kupandangi kedua malaikat itu berjalan menjauh dan pergi meninggalkanku dengan sepeda motor yang usianya hampir sama dengan mereka jika dihitung berdasarkan usia manusia. Aku mematung sebentar dan dalam hati aku berdoa semoga aku bisa berjumpa dengan mereka lagi dan belajar apa yang disampaikan dari senyum sang wanita. Sebuah perasaan yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

Saat aku masih mengagumi dua malaikat tersebut yang telah berlalu, aku melihat dua anak muda yang kulihat sebelumnya masih berada diparkiran. Mereka saling sibuk dengan Hp mereka sendiri. Sekali-kali kulihat sang wanita merengek-rengek diajak kesuatu tempat, lalu kulihat sang pria sedikit kesal dan entah membicarakan apa sambil menunjuk-nunjuk. Dari raut wajah mereka sepertinya mereka sedang bertengkar kecil. Setelah itu, kami semua bubar dan pulang.

Dalam perjalanan pulang aku berpikir dengan apa yang barusan kulihat. Aku mencoba membanding-bandingkan mereka generasi sebelum kita jaman opa dan oma kita,, jaman papa dan mama kita dengan  generasi kita yang sekarang. Semakin kubandingkan semakin aku merasa malu dengan diri sendiri. Sungguh sangat berbeda jauh.

Karena merekalah – generasi sebelum kita – aku mendapat ilham menulis puisi kalang kabut ini untuk diriku sendiri dan berbagi kepada kalian yang membaca juga. Ini kutulis untuk mengingatkanku betapa kita – khususnya aku – telah berubah menjadi begitu materialistis. Aku menulis supaya aku bisa terus mengingatnya, karena jika hanya sekedar dibaca aku akan lupa. Jadi kutulis setidaknya akan mengingatnya, dan saat lupa aku bisa membacanya kembali.

Sekali lagi aku meminta maaf jika ada dalam tulisanku yang kalang kabut dan puisi kacau balau ini menyinggung perasaan kalian yang membaca. Tujuanku hanyalah berbagi dan untuk mengingatkan diriku sendiri saja. Terimakasih banyak karena telah menyisihkan waktu berharga kalian hanya untuk membaca tulisan ini dan mengunjungi blog sederhana ini.

Dulu mereka mencari seberapa KILAU yang didalam hati
Kini kita mencari seberapa KILAU yang punya materi.
Dulu mereka mencari yang namanya PRIBADI
Kini kita mencari yang namanya GENGSI

Dulu mereka mencari yang CANTIK merias kata-kata dan tingkah lakunya
Kini kita mencari yang CANTIK merias wajah dan tubuhnya
Dulu mereka mengungkapkan CINTA dengan setangkai bunga
kini kita meminta ungkapan CINTA dengan sebuah bunga yang diisi pulsa

Dulu mereka bahagia dijemput SEPEDA bertenaga manusia
Kini kita mensyaratkan dijemput SEPEDA bertenaga mesin ternama
Dulu mereka membangun RUMAH dengan tiang suka dan paku duka
Kini kita meminta RUMAH dengan luas puluhan meter dan tinggi harga

Dulu mereka melindungi dengan TANGAN dan PELUKAN
Kini kita meminta lindungan dengan nominal REKENING TABUNGAN
Dulu mereka saling menghibur saat jauh dari HARAPAN
Kini kita saling memaki dan pergi atas dengan ribuan ALASAN

Dulu mereka merayakan hari bahagia dengan SEDERHANA
Kini kita merayakan hari bahagia dengan serba MEWAH
Dulu mereka menyimpan kenangan didalam JIWA
Kini kita memamerkannya diMANA SAJA

Dulu mereka tidak mengucapkan kata-kata JANJI yang indah
Tapi mereka BERSATU hingga DIA yang memisahkan
Kita yang sekarang berkata-kata dengan JANJI yang super mewah
Tapi SENGAJA berpisah dengan alasan DIA tidak mempersatukan

Dulu mereka menomorsatukan NAMA-NYA
Kini kita menomorsatukan MERK dunia
Dulu mereka mendengar dengan HATInya
Kini kita mendengar dengan MATA dan TELINGA

Kini mereka telah menjadi tua
Tapi kisahnya setara kisah Cinderella
Kini kita mulai beranjak tua
Tapi kisah kita hilang ditelan masa

Kita menuduh saat dilukai
Mereka tersenyum saat tersakiti
Kita memaki saat ditinggal pergi
Mereka mendoakan setiap hari

Kita bertanya apakah ada yang salah
Mereka menjawab aku bahagia bersamanya
Kita beralasan materi penyebabnya
Mereka berpelukan dalam sederhana

Kau memuja dia belahan jiwa
Mereka tersenyum malu saat ditanya sama
Kau berseru dia satu-satunya
Mereka tersenyum dengan cincin dijari manisnya

Kau membanggakan apa yang dimilikinya
Mereka merona merah melihat kekasihnya
Kamu memamerkan apa yang jadi pesonanya
Mereka menyimpannya hanya untuk berdua saja

Kini mereka beruban dan keriput diwajahnya
Tapi anak dan cucunya dekat membanggakannya
Kini kita mulai berkeluarga dan semakin luntur kisahnya
Masih saja kita mengulang sejarah yang sama

Apakah mereka itu bernilai sempurna?
Tentu saja tidak, malah mereka kalah jauh dari kita
Lalu mengapa mereka lebih bahagia?
Karena mereka tahu apa arti CINTA YANG SEBENARNYA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s