Hati yang buta


I'm blind, so blind even the angel in front my eyes i can't see

Namanya siapa?”, tanyaku sedikit berbisik pada seorang wanita yang sederhana disampingku sambil menunjuk seorang wanita ditengah ruangan. “Angela, namanya Angela Tjang”, jawab wanita sederhana ini tersenyum manis sekali.

Dengan bola mata besar sedikit kecoklatan, bibir merah muda tipis nan seksi, rambut panjang dengan ikal-ikal kecil lembut diujungnya serta dipadukan dengan bando warna Pink menambah pesona malaikat cantik itu. Seorang putri pengusaha dengan ayah berdarah Italia dan ibu keturunan China.

Wanita ini adalah sosok bidadari yang turun dari khayangan dan mencuri sesuatu yang berharga dari kami para pria. Ya, wanita ini adalah pencuri, bahkan kami, para pria, dengan sengaja membukakan pintu padanya agar dia bisa masuk dan mencuri harta paling berharga yang kami miliki, karena dia adalah malaikat pencuri hati.

Aku tahu aku terdengar berlebihan dalam memuji wanita didepanku ini, tapi kalian pasti akan berpikir sama jika kalian bisa langsung melihat wanita yang bak bidadari ini yang mengepakkan sayap-sayap pesonanya. Tidak perlu kata-kata khusus atau rangkaian kata-kata indah para pujangga untuk menggambarkan kecantikkannya, karena iri para wanita telah menjadi bukti nyata.

“Apakah kamu tahu alamatnya? Setidaknya nomor yang bisa aku hubungi jika ingin berbicara dengannya”, tanyaku pada wanita sederhana yang masih disampingku. Perawakannya agak kecil. Rambutnya panjang sebahu lurus. Matanya agak kecoklatan seperti wanita yang barusan kukagumi, bibirnya juga merah muda tipis dan menarik. “Ya, aku tahu semua tentangnya. Dimana dia tinggal, berapa bersaudara, hobinya apa bahkan ukurannya bajunya”, jawab wanita sederhana ini dengan mantap dan tersenyum manis.

“Wow, anda pasti teman baikknya karena begitu mengenalnya”, kataku memuji dan merasa senang sekali karena secara kebetulan bisa mengenal wanita yang bisa kumintai informasi tentang Angela. Wanita ini tersenyum padaku, dan untuk kali ini entah kenapa aku merasa sedikit berdebar-debar melihat senyumannya. “Aku bukan sahabat baiknya saja, tapi aku ini kakak satu-satunya. Dan jika kamu ingin lebih mengenalnya, kamu memilih bertanya pada orang yang tepat”.

Sejak malam itu hubunganku dengan Angela cukup akrab dan perkembangan kami juga cepat. Walaupun begitu aku belum menyatakan perasaanku padanya. Hubunganku yang berjalan baik karena berkat bantuan kakaknya yang memberikan semua informasi tentang Angela padaku. Aku dan kakaknya bersahabat baik dan kudapati juga ternyata kakaknya tipe wanita yang perhatian pada keluarga.

“Jangan warna merah Mike, adikku tidak begitu menyukai warna merah, apalagi warna merah menyala seperti itu”, nasehat Felice saat kami berdua memilih gaun malam untuk adiknya. Yup, Felice adalah nama kakaknya Angela sekaligus penasehat pribadiku dalam mendekati adiknya. Sejujurnya aku heran mengapa dengan wanita ini aku bisa bersahabat baik, padahal kami baru kenal seminggu yang lalu saat aku diundang menghadiri pesta perusahaan kemarin.

Aku adalah seorang karyawan senior disebuah perusahaan cukup besar yang merupakan anak perusahaan ayah Felice dan Angela. Aku telah berbakti pada perusahaan aku bekerja ini hampir 7 tahun lamanya. Perusahaan tempat aku bekerja bergerak dibidang kontruksi bangunan dan aku memegang posisi sebagai designernya.

Aku bisa bertahan lama diperusahaan ini bukan karena gaji atau fasilitasnya yang terbilang bagus, tapi pimpinan anak perusahaan tempat aku bekerja tuan Liu sangat memperhatikan kesejahteraan karyawan-karyawatinya. Orangnya humoris dan penuh semangat, cara-caranya memperlakukan bawahan sangatlah luar biasa sehingga tidaklah heran kami tidak terpikir hendak berpindah tempat kerja.

“Menurutmu Angela suka dengan anting ini tidak?”, tanyaku pada Felice sambil menarik tangannya agar mengikutiku. Anting-anting berlian dengan model lumba-lumba yang lucu. “Hmm, seingatku adikku sangat menyukai sesuatu yang berbentuk imut  dan lucu, aku yakin dia akan senang menerimanya”, jawab Felice dengan senyuman khasnya, dan kali hatiku dibuat berdebar-debar sekali lagi.

“Oke, thank banyak karena selama ini selalu membantuku, kapan-kapan kutraktir makan malam ya sebagai tanda terimakasih”, kataku sambil memeluk Felice. Wanita ini hanya terdiam saat kupeluk, “Tidak perlu repot-repot seperti itu Mike, aku dengan senang hati membantumu juga demi kebahagiaan adikku”, jawabnya dengan senyuman yang sangat manis sekali.

“Setidaknya ijinkan aku memberimu sesuatu, kalau tidak aku akan merasa bersalah. Apa saja akan kuberikan asalkan aku mampu, katakan saja Felice yang kamu inginkan”, pintaku dengan bola mata membesar memelas. “Haha.., kalau kamu memaksa, belikan saja aku setangkai bunga hidup ditoko bunga yang didepan”, kata Felice. “Oke, dengan senang hati”, jawabku langsung meluncur ketoko bunga yang dimaksud itu.

Sudah sebulan berlalu sejak percakapan kami diatas aku dan Angela masih berhubungan baik. Karena aku mempunyai kesibukkan lebih ditempat aku bekerja, aku hanya bisa bertemu dengan Angela seminggu sekali, itupun kadang cuma beberapa jam saja. Sedangkan aku dan Felice tetap berteman baik dengan berhubungan melalui telepon. Dan sejujurnya aku mencari Felice kebanyakkan bertanya tentang adiknya Angela.

Kadang aku sering merasa tidak enak yang selalu merepotkan Felice, tapi seperti bisa membaca pikiranku Felice selalu mengatakan begini padaku, “Mike, jangan pernah merasa bersalah dan perasaan-perasaan tidak enak lainnya, karena aku dengan senang hati membantumu kok. Kebahagiaan kalian kelak adalah kebahagiaanku juga”. Aku hanya bisa tersenyum dengan mata sedikit berkaca-kaca mendengarnya.

“Apakah kamu yakin dengan keputusanmu?”, tanya Angela saat kami sedang bersantap disebuah restoran sederhana didekat kantorku bekerja. “Ya, aku berpikir tidak ada salahnya aku menerima tawaran itu untuk bekerja diluar kota sana. Setidaknya bisa menambah pengalamanku dan membuktikan kualitasku pada bos dan ayahmu”, kataku mantap sambil meminum kopi hangatku.

“Hmm, jika itu keputusanmu maka aku tidak akan melarangmu. Harapanku adalah semoga kamu sukses disana dan selalu jaga kesehatan”, lanjut Angela dengan senyumannya yang cantik. “Yup, sudah pasti dong. Terimakasih banyak atas perhatiannya”, jawabku berusaha tersenyum menutupi perasaanku yang sesungguhnya.

Ya, aku dipercayakan oleh bosku keluar kota yang menurutku sangat jauh. Jika aku belum jatuh cinta pada wanita cantik bernama Angela dihadapanku saat ini, kemanapun aku dipindahkan aku tidak keberatan. Tapi sekarang ceritanya lain karena hatiku telah dicuri oleh malaikat cantik ini.

Setiap malam aku gelisah memikirkan keputusan yang akan kuambil ini. Aku merasa dilema. Kenapa? Jika kutolak mungkin saja ayahnya Angela yang pimpinan utama tempat aku bekerja akan menilai aku kurang profesional, tapi bagusnya aku bisa ketemu Angela. Tapi jika kuterima seperti saat ini, aku akan membuat pimpinanku senang, sekali lagi tapi, aku harus jauh dari pujaan hatiku, dan ini sangat menyakitkanku.

Karena untuk membanggakan ayahnya Angela dan demi mengejar karir, aku mengambil keputusan ini walaupun dengan sangat dan sangat berat. Kukatakan pada diriku sendiri aku pasti berhasil disana dan hitung-hitung sebagai menambah nilai plus dimata Angela dan ayahnya. Yup, aku bulat dengan keputusanku dan aku berangkat minggu depan.

Aku terdiam membisu dengan apa yang kulihat dihadapanku ini. Sebuah kota kecil dengan penduduk tak sampai seribu orang. Aku tidak berharap yang namanya luar kota itu akan ramai, tapi aku juga tidak menyangka bahwa akan sesepi ini. Aku sekarang bertanya apakah aku tidak salah menapaki kakiku dikota kecil ini. Apa yang akan kudapatkan dengan kondisi kota yang cukup sepi ini? Dan mengapa aku yang dipilih justru kesini?

St. ANGEVILLE. Aku rasanya tidak salah baca, ini memang nama kota yang kutuju. Kupaksakan kakiku melangkah tuk sekedar melihat-lihat kota kecil ini. Papan-papan nama setiap toko sudah mulai kehilangan warnanya dan terlihat kuno. Bentuk-bentuk bangunan yang tidak pernah berubah dari sejak pertama kali didirikan. Jalan-jalan terlihat luas dengan banyaknya yang berjalan kaki dan bersepeda.

Sederhana. Hanya kata itu yang terpikir oleh kepalaku. Walaupun bentuk bangunan dan segala yang barusan kusebutkan jauh dari bayanganku, tapi entah kenapa kota ini begitu terasa nyaman. Jalan-jalannya bersih sekali. Bangunan-bangunannya tersusun rapi dengan bentuk yang serasi. Warna-warni bunga menghias setiap sudut bangunan ditambah pohon-pohon nan rindang menambah keasriannya.

Semakin kumelangkah makin jauh, semakin aku menyukai kota kecil ini. Adem dan damai. Padahal aku adalah tipe orang yang selalu menomor-satukan teknologi dan hiruk pikuk suasana ramai, tapi ditempat yang berlainan dengan sifatku ini malah lebih memberikan rasa nyaman dan betah. Yang bisa kupikirkan jawabannya adalah aku pasti mulai jenuh dengan tempat tinggalku yang sebelumnya.

Setelah sejam lebih aku mengitari kota kecil ini, kusadari bahwa kota kecil ini tidaklah sekecil yang aku bayangkan. Memang tidak juga sebesar kota-kota kecil lainnya juga. Yang paling memukau mataku ternyata dibelakang kota kecil ini ada hamparan taman yang luas. Taman yang masih benar-benar asri jauh dari jamahan dan sentuhan tangan manusia. Benar-benar sangat memanjakan mata.

Karena cukup lelah dalam perjalanan kekota ini, aku menunda keinginanku berpetualang mengitari taman ini. Kuambil buku saku dari kemejaku dan kucari alamat tempat aku akan mulai bekerja. Setelah beberapa menit bertanya sana-sini, aku akhirnya menemukan bangunan tempat aku akan tinggal dan bekerja dengan diantar oleh seorang remaja yang ramah. Yup, orang-orang disini begitu ramah dan murah senyum.

“Hhmmmppphhh..”, kubaringkan tubuhku pada sebuah kasur empuk warna coklat muda didepanku. Setelah berjam-jam duduk kaku dikereta api sebelumnya, akhirnya badanku mendapatkan upahnya kasur yang empuk. Yup, kota ini hanya bisa dicapai dengan kereta api. Selang beberapa menit aku bangun dan membersihkan diriku mandi dari peluh dan debu yang menempel dibadan. Sungguh menyegarkan, dan, hari pertama kesanku pada kota kecil ini adalah luar biasa.

“Kriiiinnggg…”, bunyi alarm pagi membangunkanku. Kusetel alarmku pada pagi ini lebih awal satu jam. Kulihat jam dinding disebelah kasurku. Jam 5.00 pagi. Kuambil celana jogingku dan kupakai sepatu kets biruku, setelah itu aku meluncur turun kejalan hendak memanjakan jantungku berolahraga. Sudah menjadi rutinitas dan hobiku sejak masih remaja.

“Selamat pagi Mike”, sapa tuan Richard sambil membawa anjingnya melewati aku. “Pagi juga tuan Ricard”, balasku berusaha tersenyum karena belum sepenuhnya sadar tidurku. Yup, sudah hampir sebulan aku tinggal dikota kecil ini, dan sejujurnya, aku merasa sangat betah. Orang-orangnya ramah dan sangat menyenangkan. Kubawa tubuhku menelusuri jalan kebelakang kota menuju taman, tempat joging favoritku.

“Pagi nyonya Elisabeth, nyonya Ruby dan nyonya Giselle, anda semua kelihatan cantik seperti pagi-pagi sebelumnya”, sapaku pada trio Angels yang sedang menikmati hangatnya cahaya matahari. “Pagi Mike…”, jawab mereka bersamaan. Aku melambaikan tanganku pada mereka dan tersenyum manis pada mereka. Lalu aku berlalu dengan langkah kecil berlari menuju tengah taman.

Seandainya kalian bisa melihat dan menikmati taman ini dengan mata dan tubuh kalian, aku pastikan kalian akan selalu terbayang-bayang dengan keindahan alam yang DIA lukiskan pada kota kecil ini. Bunga-bunga didandani dengan indahnya. Pohon-pohon diwarnai begitu mempesona. Cahaya mentari bagikan kilau emas menghias para rumput ditanah. Sungguh pemandangan yang jaramg sekali ditemukan tandingannya.

Pagi ini aku lebih bersemangat dibanding pagi-pagi sebelumnya. Kenapa? Karena pujaan hatiku akan berkunjung kesini. Ya, Angela akan datang mengunjungiku dan akan membantuku disini. Aku merasakan dunia ini menjadi sangat indah. Aku bernyanyi. Aku berpuisi. Aku bahkan menari saking senangnya ungkapkan perasaan ini. Besok Angela akan datang. Yes!

Dug. Dug. Dug. Suara detak jantung terdengar jelas ditelingaku. Itu adalah suara jantungku. Kurapikan rambutku dengan tangan kananku. Kubetulkan dasi kupu-kupuku. Kucium kembali napasku. “Yup, rasanya aku sudah mempersiapkannya dengan sempuna”, kataku kecil menyakinkan diri. Kupandangi sebuket bunga mawar ditangan kiriku. Mawar putih susu yang indah dan merupakan warna favorit Angela. Lalu kudengar suara kereta api berhenti. Angela tiba.

Kuhampiri salah satu gerbong kereta api itu. Kutunggu dengan perasaan sedikit gelisah. Sudah lama aku dan Angela tidak bersua, apakah dia menjadi semakin cantik? Apakah dia masih mengenalku? Apakah aku tidak terlihat konyol dengan jas hitam ini? Dan pertanyaan apakah-apakah lainnya juga. Selang beberapa menit kulihat seorang wanita berjalan menghampiriku. Seorang wanita yang sangat kukenal. Dan, ya, dia adalah Felice. Kakaknya Angela.

“Hai Mike, apa kabar”, sapa wanita ini.  Aku terdiam membisu. “Mike?”, sapa wanita ini membuyarkan lamunanku. “Oh, maafkan aku Felice, aku tadi mengira Angela datang…”, jawabku terbata-bata tak mampu menyelesaikan kata-kataku karena kecewa, dan aku yakin Felice tahu apa yang kurasakan. Semuanya tergambar jelas diwajahku.

“Tidak apa-apa Mike, aku tahu apa maksudmu. Kamu mengira aku akan datang dengan Angela bukan? Dan aku tahu kamu pasti kecewa melihatku disini”, kata Felice menebak tepat apa yang kupikirkan. “Oh, bukan itu maksudku Felice. Aku senang melihatmu datang mengunjungiku, hanya saja aku tidak tahu kamu akan datang sendiri”, jawabku cepat-cepat menyangkalnya merasa tidak enak dengan tebakan Felice yang jitu.

“Haha.., tidak perlu merasa sungkan sama aku Mike, walaupun kamu menyembunyikannya, aku tahu semua itu. Memangnya kamu kira sudah berapa lama aku mengenalmu? Dan sebagai informasi saja, aku justru menyukai sikap jujurmu itu”, lanjut Felice dengan senyumannya yang manis. Aku merasa malu sekali. Bukan karena aku berpikir seperti yang ditebaknya tapi karena aku yang berusaha menyangkalnya.

“Oya, Angela tidak bisa hadir karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya. Aku tidak tahu pasti apa pekerjaannya, yang pasti aku diminta oleh ayahku kesini untuk mengantikan Angela membantumu. Dan aku disini hanya beberapa bulan saja, setelah itu Angela sendiri yang akan mengantikanku. Jadi, mohon bantuannya ya Mike”, kata Felice sambil menyodorkan tangannya mengajak bersalaman. Aku mencoba tersenyum, kali ini senyum yang tulus. Yup, Felice hanya membantu sementara, setelah itu aku bisa bertemu dan berkumpul dengan Angela.

Hari demi hari aku lalui dengan Felice penuh dengan canda dan tawa. Semakin aku mengenal Felice semakin aku menyukainya. Kami selalu bercerita apa saja dan selalu bisa nyambung. Dari masalah perkerjaan, hobi dan gosip kami bisa cocok. Felice dengan senang hati dan sabar meladeniku saat aku bertanya tentang Angela, padahal aku tahu kadang aku bisa menjadi egois karena hanya tertarik berbicara tentang Angela.

Sebulan tidak terasa telah berlalu, pekerjaanku maju pesat dan lancar berkat bantuan Felice. Aku baru sadar kalau Felice mempunyai otak yang sangat pintar dan begitu pandai bersosialisasi. Aku yang telah bulanan disini saja belum bisa mengenal semua orang, tapi hanya dalam sebulan Felice sudah mengenal hampir sebagian masyarakat disana. Bahkan mereka sangat akrab.

Lucunya, banyak yang mengira bahwa aku dan Felice adalah pengantin baru  yang sedang mesra-mesranya. Memang kuakui aku dan Felice cukup akrab dan sering terlihat bersama, tapi semua itu kami lakukan hanya sebatas pekerjaan dan tentunya bertanya tentang Angela juga. Felice sendiri telah mengatakan padaku bahwa dia juga telah menyukai seseorang. Saat kutanya siapakah pria beruntung itu, dia hanya mengatakan bahwa pria pujaannya itu tinggal diluar kota dan mereka jarang bertemu.

Felice adalah sosok wanita kuat, bukan kuat karena dari ukuran fisiknya, tapi secara mental dan kepribadiaannya. Saat memasuki bulan kelima, kota kecil nan indah tempat kami tinggali dilanda badai yang cukup dashyat. Pohon-pohon bertumbangan. Listrik hampir padam semua. Kegelapan menjadi menu utama selama beberapa hari disana. Yang lebih menyakitkan kami adalah tempat yang kami jadikan tempat bekerja roboh ditimpa pohon tua.

Semua dokumen, surat-surat berharga, bahkan beberapa barang-barang berharga lainnya hancur berantakan. Semua yang berbahan kertas dan mudah rusak oleh air tak satupun yang bisa dipakai lagi. Semua barang elektronik rusak termasuk dua unit komputer dan satu laptop berserta data-data penting didalamnya hilang. Rasanya kerja keras selama bulanan menjadi sia-sia. Aku bahkan masih berharap semua ini hanya mimpi belaka.

Aku terduduk lesu disebuah potongan kayu didepan kantorku. Aku tidak mampu berkata apa-apa lagi saat menyaksikan hasil cucuran keringatku dan Felice hancur dalam satu malam saja. Rasanya aku ingin berteriak. Rasanya aku ingin menyalahkan DIA. Apakah aku egois jika berpikir begitu? Memang badai juga merusak beberapa rumah disana, tapi hanya kantor kami yang hancur rata dengan tanah.

Kurasakan air mataku meleleh mengalir deras dari mataku. Aku begitu sedih karena mengapa semua ini harus menimpaku. Belum lagi bulan depan adalah hari dimana dewan direksi akan datang berkunjung melihat hasil pekerjaan kami. Bagi kami yang mengalami musiba disini adalah bencana alam yang tidak bisa dihindari dan bisa dimaklumi, tapi bagi perusahaan berskala besar seperti aku berbakti ini justru bencana finansial yang luar biasa efeknya.

Aku sudah parah jika semua harus berakhir dengan menenteng koper dengan sebuah amplop pesangon pemecatan diri. Saat aku lagi terjatuh sekali dalam perasaanku, kulihat Felice sedang mengais-ngais rongsokan puing-puing kantor didepanku. Dia tidak terlihat kecewa, malah bersemangat mengorek puing-puing disana seperti mencari sesuatu. Aku penasaran dengannya dan kuhampiri Felice dengan tubuh tak bertenaga.

“Apa yang kamu cari Felice? Tidakah kamu lihat semuanya telah hancur? Kerja keras kita selama 5 bulan tinggal kenangan”, kataku dengan suara yang terdengar lirih. “Aku mencari apa yang masih bisa diselamatkan, walaupun hanya sebuah pena saja. Bagiku HARAPAN selalu ada saat kita MASIH MAU BERUSAHA“, jawabnya sambil melihat kearahku dengan senyumnya yang manis. Rambutnya acak-acakan, gaunnya kotor dengan lumpur berlepotan, tapi, sekali lagi, senyumnya mempesonakanku.

“Apakah kamu masih ingin Angela datang mengunjungimu? Dan apakah kamu masih mencintainya? Jika jawabanmu salah satunya iya, maka mulailah bergerak karena aku yakin Angela akan sedih melihat pria kebanggaanya hancur seperti puing-puing ini. Barang memang bisa rusak dan hancur, tapi HATI TIDAK AKAN PERNAH HANCUR sampai orang itu sendiri yang MENERIMANYA“.

Kubuka mataku saat kurasakan ada belaian angin beku mengusap wajahku. Pelan-pelan kuangkat tubuhku sambil mengosok mataku. Ternyata aku tertidur tadi malam setelah sebentar membantu Angela. Saat aku mencoba duduk, kulihat ada yang terjatuh dari tubuhku. Sebuah jaket tebal. Aku baru sadar ternyata pagi ini sangatlah dingin dan udaranya menusuk kulit hingga ketulang.

“Plang…”, terdengar suara besi saling bersentuhan. Aku sedikit terkejut dengan suara yang cukup keras itu. Kupaksakan tubuhku bangun dan berjalan kearah datangnya suara itu. Saat kulihat penyebab suara itu aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat. Seorang wanita sedang merapikan tumpukkan puing-puing itu. Bajunya koyak disana-sini. Rambutnya berantakan sekali. Dan yang paling menyayat hati adalah bercak-bercak merah yang menempel diwajah, tangan dan kakinya. Berkas darah yang telah mengering.

“Fe..Felice…?”, panggilku dengan suara terbata-bata tidak percaya. “Mike…, selamat pagi. Bagaimana tidurnya? Oya, aku berhasil menemukan satu flashdisk yang sepertinya masih bisa dipakai. Untung bukan?!”, katanya sambil tersenyum. “Dari sejak kapan kamu disini? Apakah…”, kataku sambil meraih tangan Felice untuk melihat lukanya. “Apakah kamu dari semalam..”, lanjutku dengan suara yang lirih melihat tangannya membeku dan penuh irisan kayu.

“Itu tidak penting Mike, yang penting sekarang kita bisa melanjutkan kerja kita dan…”, belum selesai Felice menjelaskan aku sudah memotong pembicaraannya sambil memegang pundaknya. “FELICE… apakah kamu disini sejak tadi malam?”, kataku dengan suara meninggi. Aku entah kenapa begitu kalut dan kuatir dengan dirinya. Felice hanya tersenyum melihatku. Mata kecoklatannya terlihat indah disinari matahari pagi. Tanpa berkata apa-apa kupeluk wanita ini. Aku begitu terharu sampai kehilangan kata-kata. “Mike…?”, kata Felice pelan dan bingung dengan reaksiku.

Seminggu lebih telah berlalu sejak badai dahsyat itu. Aku dan Fellice terlihat sangat aibuk sekali. Aku sungguh bersyukur ternyata flashdisk yang ditemukan Felice adalah backup dari data-data penting kami yang justru paling kami perlukan. Dalam seminggu ini kami menyewa sebuah kamar kecil yang kami jadikan kantor sementara. Dan aku lebih bersyukur lagi laptop kecil milik pribadi Felice tidak apa-apa sehingga kami bisa melanjutkan pekerjaan kami dengan sumber daya seadanya.

Tanggal tujuh bulan depan adalah hari dimana kami harus menyelesaikan proyek kerjaan kami. Tinggal seminggu tepatnya sampai hari yang ditentukan itu tiba. Aku ngebut lembur semalaman dengan mengurangi jam tidur supaya pekerjaan kami bisa terselesaikan semua. Secara pribadi aku sangat yakin semua bisa selesai. Dan, semua berkat Felice. Aku sangat bersyukur dialah yang membantuku dikota kecil ini.

Sering Felice ingin ikut lembur membantuku, tapi aku melarangnya supaya jangan pernah lagi menukar kesehatannya dengan perkerjaan kami. Tapi, sekali lagi dan berkali-kali, Felice selalu bangun pada subuh buta menyelesaikan pekerjaan kami saat aku terlelap kepulau mimpi. Awalnya aku tidak mengetahui semua itu sampai hari H nya.

“YES!!”, teriakku sambil berlari pulang kekantor sewaan kami setelah aku selesai mengirim laporan hasil proyek kami melalui pos. Aku berlari dengan semangat menaiki tangga kantor kami. “Felice…, Felice, kita berhasil”, kataku sambil memanggil Felice. Saat kubuka pintu kantor, kulihat sesosok wanita cantik sedang berdiri dihadapanku. Wanita yang sangat anggun. Dan wanita inilah yang selama ini kurindukan selama berbulan-bulan lamanya. “Angela…?”.

Kugosok mataku, kucubit kecil pipi kiriku. Aku tidak bermimpi. Wanita ini memang Angela. “Bagaimana…, kapan…, bagaimana bisa…?”, tanyaku bingung. “Iya Mike, ini aku”, kata Angela sambil menghampiriku. Dibelainya wajahku dengan tangannya yang lembut. Sudah begitu lama kurindukan belaiannya. Belaian yang dulu menyemangatiku. Tapi, kali ini belaiannya terasa berbeda.

“Dimana Felice?”, tanyaku. Aku sendiri terkejut dengan apa yang kutanyakan. “Apakah kamu melihat Felice?”, tanyaku sekali lagi. Angela hanya tersenyum. “Kakakku sekarang dalam perjalanan pulang dengan kereta api. Seperti janjinya, dia hanya menggantikan aku sementara membantumu disini. Sekarang aku datang padamu. Bukankah aku yang kamu inginkan?”, tanya Angela dengan senyumannya yang sangat cantik.

“Memangnya dia kemana?”, tanyaku dengan buru-buru. “Kakakku kembali kekota dan dia berencana mengunjungi kekasihnya diluar kota. Tugasnya sudah selesai disini dan…”, belum juga Angela menyelesaikan kata-katanya aku sudah memotongnya. “Dimana? Dimana tempatnya? Apa namanya?”. Angela hanya melihatku dengan mata berkaca-kaca.

Dengan secepat kilat kuambil helm coklatku dan membawa motor tua sewaan didepan kantor mengejar kereta Felice. Aku tidak peduli lagi bagaimana perasaanku pada Angela, yang aku peduli adalah aku tidak boleh kehilangan Felice. Aku akhirnya sadar apa yang dimaksud KATA HATI. Aku akhirnya mengerti arti kata SEJATI. kepada Angela aku MEMUJANYA, tapi kepada Felice aku ingin MEMILIKINYA.

Dalam perjalananku diatas motor, aku terbayang kembali semua kenangan bersama Felice. Aku juga akhirnya memahami mengapa hatiku berdebar-debar saat pertama Kali dia tersenyum padaku dengan manis sekali. Tapi karena mata kepalaku lebih menyukai hal-hal indah yang bersifat sementara dimata, mata hatiku menjadi BUTA. Badai yang menghancurkan. Berbulan-bulan kebersamaan. Semuanya ternyata ada maksudnya. Dan semua itu adalah rencana DIA.

Tidak jauh dari pandanganku, kulihat seekor naga sedang meliuk-liuk melaju. Dari kepalanya naga ini mengeluarkan api dan asap yang tebal. Seekor naga besi yang bernama kereta api. Kupacu kuda besi tungganganku agar berlari lebih cepat. Aku bagaikan seorang pangeran dalam kisah-kisah dongeng dunia yang hendak menyelamatkan sang putri dari sekapan naga.

Tokoh penjahat adalah sang pria yang akan dikunjungi sang putri. Sebenarnya aku lebih cocok disebut tokoh penjahatnya. Kenapa? Karena aku hendak menghalangi dan merebut sang putri menemui pangerannya. Aku tahu aku akan merusak sebuah hubungan antara Felice dan pujaan hatinya, tapi walaupun begitu aku harus menemuinya, setidaknya Felice harus tahu bagaimana perasaanku padanya, pada saat ini, perasaanku yang sesungguhnya.

Semakin aku mendekati kereta yang ditumpangi Felice, semakin aku bergembira. Senyuman diwajahku semakin menjadi dan lebar. Semakin aku memikirkan namanya, semakin aku merindukannya, bukan perasaan rindu seperti awal perasaanku pada Angela, tapi perasaan rindu yang sangat dalam akan dirinya. Bukan pada parasnya, bukan pada fisiknya, bukan pula pada tutur katanya, tapi pada dia APA ADANYA.

“FELICE…”, teriakku mencoba memanggilnya dari luar jendela dimana dia duduk. Tapi suara kereta mengalahkan teriakanku. “FELICE…, FELICE…, JANGAN PERGI”, aku mencoba berteriak lebih keras lagi. Dan usahaku kali ini juga gagal. Aku ingin mencoba lagi, tapi jurang curam didepan memaksaku menghentikan kendaraanku. Satu-satynya harapan adalah keajaiban semoga kereta itu berhenti. Sayang, kereta itu terus melaju melewati rel diatas jurang itu. Semakin jauh. Semakin jauh. Dan menghilang dibalik terowongan.

Tidak ada satu katapun yang terucap saat aku kembali kekantorku. Angela duduk dihadapanku. Kami berdua diam membisu. Jika sebelumnya kami akan bercanda dan tertawa sambil membahas semua yang kami alami, kini hanya bunyi derit kipas angin diatas kepala kami yang nyaring berbunyi. Angela menyibukkan dirinya memainkan hp yang ditangannya seakan-akan menungguku memulai pembicaraan.

“Angela…maafkan aku…”, hanya beberapa kata itu yang mampu aku ucapkan setelah sekian puluh menit duduk membisu. Angela tidak menjawabku. Aku tahu dia pasti sangatlah kecewa dengan sikapku tadi yang tiba-tiba meninggalkannya. Padahal sebelumnya aku begitu mengelu-elukan dirinya. Padahal sebelumnya aku begitu memujanya. Tapi nyatanya, kehadirannya saat ini bahkan tidak membangkitkan rasa kangenku.

Malam itu diakhiri dengan sebuah kata dari Angela. “Aku ingin tidur dulu, perjalanan panjang telah membuatku sedikit pusing dan kecapekan”.  Aku hanya bisa memandanginya memasuki kamar Felice tanpa bisa membalas, bahkan sepatah kata selamat tidurpun tidak ada. Kulipat kudua tanganku. Kutundukan kepalaku. Lalu kurasakan ada tetesan hangat air dari mataku jatuh dikedua tanganku. Malam itu aku sangat menyesal. Malam itu aku berurai air mata. Dan malam itu untuk pertama kalinya aku berdoa.

“Ya Tuhan, jika ini memang hukuman yang pantas kuterima karena telah DIBUTAKAN oleh mata fisikku, maka aku akan menerimanya dengan lapang dada walau aku harus menyesalinya seumur hidup. Tapi kumohon ya Tuhan, ijinkanlah setidaknya satu kali saja aku bertemu dengannya supaya aku bisa mengucapkan salam perpisahan. Dan, maafkanlah aku yang telah menyakiti Angela juga”.

Setelah berdoa dengan cucuran air mata, aku akhirnya terlelap lelah karena menanggis. Dinginnya udara malam tidak bisa memaksaku masuk kekamarku. Aku hanya berbaring dikursi tempat aku dan Felice biasa bercanda dan mendiskusikan masalah pekerjaan. Aku berharap dia akan pulang dan membuka pintu dan mendapatiku sedang tertidur. Aku tahu semua itu tak akan terjadi karena aku tadi baru menyaksikannya pergi.

“Felice maafkan aku, maafkan aku yang buta…maafkan hatiku yang buta..”, lirihku dengan suara pelan sampai suaraku menghilang dalam lelap malam. Malam yang dingin seakan merasakan curhatku. Entah karena memang gejala alam ataukah memang langit tergugah oleh hatiku, hujan turun seirama isak dan tanggisku. Penyesalan selalu datang terlambat, tapi penyesalan yang kuterima memang pantas.

“Cuiit…, cuiittt…”, suara nyanyian merdu para burung diluar jendela membangunkanku. Pagi yang masih dingin setelah hujan kemarin tidak kurasakan pada tubuhku. Malah sebaliknya yang kurasakan hangat. Kurasakan juga dibelakang kepalaku ada sesuatu yang empuk. Sangat nyaman seperti bantal kasurku. Aku mencoba bangun dari kursi dimana aku berbaring, dan “Brukk..”, terdengar suara kecil benda jatuh.

Kulihat benda yang jatuh itu. Sebuah jaket warna hitam. Kulihat kursi tempat aku berbaring tertidur. Ada bantal empuk dari kamarku. Aku bertanya-tanya siapakah yang membawa dan menyelimuti aku? Tak perlu aku mencari jawabannya aku juga sudah tahu. Tentu saja Angela bukan. Dengan rasa enggan dan tidak bersemangat aku memaksakan diriku bangun. Perasaanku masih terasa berat untuk menikmati pagi yang cerah ini.

Kuambil kursi didepan meja. Lalu seperti biasanya dengan mata setengah terbuka aku menenggak kopi susu hangat diatas meja. “Hmm… harum sekali”, kataku bergumam sendiri. Kuteguk sekali lagi kopi susu itu dan, aku mematung sadar dari tidurku. Inikan kopi yang selalu dihidangkan Felice setiap pagi aku bangun, dan bagaimana kopi susu kesukaan ini bisa ada dimeja ini?

Kuletakkan kembali cangkir bermotif bunga itu kemeja. Lalu dengan secepat kilat aku mencari kedapur siapa yang menghidangkan kopi itu. Tidak kutemukan siapapun didalam dapur itu, yang ada hanyalah secarik kertas tulisan tangan yang ditempel pada pintu lemari es. “Mike, aku akan kembali kekota, semoga kopi susu kesukaanmu itu masih hangat. Jagalah kesehatanmu ya…”, bunyi secarik kertas itu.

Kuambil jaket hitam yang tadi jatuh kelantai, lalu aku berlari turun mengambil motor tua didepan kantor. Hanya dalam beberapa detik aku sudah meluncur dijalanan yang masih sepi. Aku telah kehilangan Felice, dan kali ini aku tidak mau kehilangan Angela. Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan padanya jika aku bertemu dengannya nanti. Tapi aku harus menghentikannya dan menjelaskan semuanya. Mungkin aku tidak akan bisa bersamanya lagi, setidaknya dia tahu perasaanku yang sesungguhnya.

Ternyata pagi yang sepi itu tidaklah sepi distasiun kereta api tempat aku singgahi. Banyak orang berlalu lalang. Sebagian berangkat pergi, sebagian datang mengunjungi. Kakiku bergerak kesana kemari mencari setiap gerbong kereta api. Mataku melirik kesegala penjuru mencari wanita yang meninggalkan secarik kertas padaku. Dengan keramaian dipagi hari itu rasanya akan cukup sulit menemukannya.

Saat aku hampir putus asa. Kulihat seorang wanita dengan gaun putih susu berdiri didepan kerumunan orang berlalu lalang. Wanita ini memakai topi bundar jerami dengan pita merah muda disampingnya. Wajahnya tidak terlihat jelas karena bayangan yang timbulkan oleh topinya menutupi wajahnya. Dari perawakkannya aku bisa menebak bahwa itu wanita yang aku cari. Aku berlari kesana, “Ange…”.

Kata-kataku terhenti saat berada didepannya. Jarak kami sekitar 10 meter, tapi aku sangat yakin dan sangat jelas dengan apa yang kulihat. Ya, itu adalah Angela, dan Felice disampingnya. Kakiku terus melangkah pelan-pelan sampai kedepan mereka. Mulutku mengangga tak bisa berkata apa-apa. Diantara dua wanita ini, justru hanya satu nama wanita yang paling kurindukan dan kupanggil, “Fe..Felice…?”. Kupeluk wanita ini spontan dengan mata berkaca-kaca.

“Cup…”, terdengar suara kecupan hangat didahiku. “Sayang… ayo bangun, kopi susu hangatmu sudah kusiapkan, nanti jadi dingin lho”, kata seorang wanita cantik dengan kacamata bulatnya membangunkanku dari tidurku. Aku memgucek mataku sebentar, lalu aku tersenyum serta membalas kecupanku pada wanita cantik ini.

Ya, aku dan Felice akhirnya menikah. Kami menikah digereja dikota kecil ini, dan kami mengambil keputusan untuk tetap tinggal dikota kecil ini. Kota kecil yang penuh kenangan indah kami berdua. Kota kecil yang mengajarkan kami apa yang sebenarnya disebut cinta. Dan kota kecil yang membuka kembali mata hatiku yang lama buta.

Puluhan tahun lalu saat aku mengejar Angela kestasiun kereta api, disana aku menemukan Felice juga. Ternyata Felice kembali padaku. Bagaimana dia tahu? Ternyata saat aku mengejarnya dengan motor tuaku, seorang pasangan tua melihatku. Dan mereka tersentuh oleh tindakannku. Lalu mereka memberitahukan kepada Felice.

Felice yang mengetahui hal itu menanggis dan dia langsung membeli tiket kembali kekota kecil ini. Sekali perjalanan saja memakan waktu 6 jam, dan Felice melakukan perjalanan 12 jam hanya untuk menemuiku. Jika aku boleh bertanya, apakah aku masih perlu jawaban bagaimana perasaannya padaku?

Lalu siapakah yang menghidangkan kopi susu hangat waktu itu? Tentu saja Felice, karena hanya dia yang tahu bagaimana campuran susu dan kopi yang tepat untuk memanjakan lidahku. Dialah yang juga menyelimuti aku dengan jaket saat aku tertidur dikursi seperti saat dulu aku tertidur dimalam badai.

Sebenarnya Felice tiba kembali dikantor pada saat subuh buta. Dan seperti biasanya, dia tidak membangunkanku. Dia hanya duduk disampingku sambil membelai wajahku yang basah oleh air mataku. Dan paginya, dia mengantar Angela kestasiun kereta api yang hendak pulang kekota.

Bagaimana dengan  pesan pada secarik kertas yang dipintu lemari es itu? Ternyata itu adalah trik Angela agar aku mengejarnya. Dan sejujurnya trik itu berhasil. Bagaimana perasaan Angela? Aku ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Jika dulu sebelum aku berangkat kesini – kekota kecil ini – aku nyatakan perasaanku, maka aku dan Angela pasti telah menjadi pasangan yang “berbahagia”, setidaknya menurut aku begitu.

Tapi, DIA yang disurga memang mempunyai rencana-Nya sendiri. Selalu ada pelangi setelah badai, dan aku menemukan pelangiku sendiri. Angela berbahagia kepada kami berdua dan kamipun berbahagia karena dia juga menemukan pria yang benar-benar menyayanginya.

Akhirnya aku sadari. Kadang, DIA memberikan kita setangkai bunga yang sangat kita PUJA. Lalu kita merawat bunga itu didalam pot hingga tumbuh seindah mungkin. Setelah itu, DIA akan memetik bunga yang indah itu dan diberikan kepada yang lainnya. Lalu kitapun kecewa. Kita marah dan menyalahkan semuanya termasuk DIA. Tapi, saat kita sedang terluka itulah kita menundukan kepala kebawah, ternyata disana telah tumbuh sebuket mawar yang lebih indah.

Ya, aku tahu kalian pasti akan bertanya bagaimana dengan kekasih pujaan hati Felice bukan?! Saat pertama kali kutanyakan hal yang sama pada Felice, dia hanya tersenyum manis sekali dan mengajakku menemuinya. Awalnya aku begitu gelisah apa yang harus kukatakan jika bertemu pujaan hatinya. Aku tahu aku bersalah karena telah merebut seseorang yang berharga dari hidupnya, tapi bagiku, Felice sangatlah berharga juga.

Tapi, saat aku dan pujaan hati Felice bertemu. Aku begitu terkesima dan kehilangan kata-kata. Pujaan hatinya ini benar-benar luar biasa. Dia sangat mempesona. Dia sangat indah. Dan dia benar-benar terawat sempurna. Ya, dia adalah bunga hidup yang kubelikan padanya sebagai hadiah waktu dulu membantuku mendekati Angela. Dan pria pujaan Felice adalah bunga yang dihadapanku, pria yang membelikannya bunga itu, dan itu adalah aku.

Kini, bunga hidup itu telah menjadi logo resmi toko bunga kami dikota kecil ini. Semua bunga yang ada ditoko kami adalah anak cucu dan cicit dari bunga hidup itu. Kami meninggalkan semua “kebanggaan” kami semasa muda saat masih dikota besar dan memilih tinggal dikota kecil ini. Kota kecil yang bernama Angeville yang ternyata singkatan dari Angels Village (Desa Malaikat).

Kami juga dikaruniai tiga malaikat cantik. Dua putra yang tampan dan seorang putri yang cantik jelita. Kami juga diberikan 8 cucu yang bersemangat dan lucu-lucu. Dan pada hari ini ketiga anak kami beserta cucu-cucu kami akan berkunjung kemari menikmati liburan sekolahnya.

Setelah menghabiskan kopi susu kesukaanku, kuajak Felice istriku yang manis ini ketaman belakang kota. Saat menutup pintu toko bunga kami, kulihat plang toko kami. Sudah tua dan hampir kehilangan warnanya. Disana tertulis nama toko kami besar-besar dengan model tulisan indah. FELICE FLORIST.

Istriku mengandeng tanganku. Lalu dikecupnya pipi kananku dengan mesra. Akupun tidak mau kalah mengecup keningnya. Dia mengecup pipiku sekali lagi. Lalu aku membalas mengecup keningnya lagi. Lalu, kami sama-sama tertawa kecil. Setelah itu kami bergandengan dengan mesra menuju taman belakang kota.

Oya, tahukah apa arti nama istriku yang paling manis itu? Kalau kalian hendak tahu Felice itu adalah nama dalam bahasa Italia pemberian ibunya, dan artinya adalah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s