Apakah cinta memerlukan alasan?


Love need a reason?

“Apakah kau mencintaiku?”, tanya Diana kepada pacarnya. Sambil memandang mata kekasihnya, Paul dengan lembut berkata, “Tentu saja sayang”, disertai dengan sebuah kecupan hangat dikeningnya Diana. “Lalu apa yang membuatmu jatuh cinta kepadaku?”, tanya Diana sambil bermanja pada Paul. “Aku tidak tahu, yang aku tahu aku sangat mencintaimu. Bahkan akupun tidak tahu kenapa dada ku selalu berdebar-debar jika keluar bersamamu, seperti saat ini”, jawab Paul spontan.

“Masa kamu tidak tahu alasan mencintaiku sih?”, tanya Diana agak sedikit ngambek. “Teman-temanku selalu bercerita padaku bahwa pacarnya mencintainya karena mereka cantik, karena mereka menarik dan alasan-alasan lainnya”, sambung Diana. “Hmmm…aku benar-benar tidak tahu sayang, alasan yang aku tahu adalah aku sangat mencintaimu, dan bagiku itu lebih dari cukup bukan?”, jawab Paul sedikit bingung. “Tidak cukup bagiku”, jawab Diana pendek. Dari raut wajahnya yang cantik terlihat Diana ngambek.

Paul yang menyadari hal itu berpikir keras. Dia tidak ingin kebersamaan mereka menjadi jenuh hanya karena sebuah pertanyaan sederhana begitu. Akhirnya Paul berkata pada Diana, “Aku tahu alasan kenapa aku mencintaimu”, kata Paul kepada Diana. “Apa itu?”, tanya Diana penasaran. Dari matanya terpancar binar-binar gairah. Diana ingin tahu kenapa pangeran berkudanya datang dari jauh untuk menjemputnya.

“Karena wajahmu yang cantik yang membuat mataku tak bisa berkedip”

“Karena suaramu yang merdu yang membuat kedua telingaku tergiang terus”

“Karena kelincahanmu yang membuat aku ingin selalu mengejarmu”

Mendengar sang pangeran mengatakan alasan mencintainya, Diana pun senang sekali. Dalam kebersamaan sore itu, kedua pasangan ini seperti kupu-kupu cantik yang tidak henti-hentinya menari-nari diatas bunga membuat ciptaan Tuhan lainnya iri. Tapi sayang, selang beberapa bulan kemudian, kekasih Paul, Diana mendapat kecelakaan.

Dari keadaan mobilnya, bisa dipastikan Diana mengalami kecelakaan yang cukup parah. Dia dibawa kerumah sakit oleh orang-orang yang menolongnya. Dan dari diagnosis dokter, Diana harus diopname beberapa bulan dirumah sakit. Dalam kesedihannya yang mendalam Diana menanggis tersedu-sedu. Wajahnya yang dulu cantik sekarang harus menerima kenyataan bahwa ada beberapa jahitan abadi di wajahnya.

Suaranya yang dulu selalu Paul puja-puja bisa meluluhkan hati para malaikat sekarang menjadi parau karena saat terjadi kecelakaan tenggorokannya tertekan oleh benda keras. Kelincahannya yang membuat Paul selalu ingin mengejarnya, sekarang untuk berjalan saja dunia terasa berat sebelah. Kenyataan itu membuat Diana hampir menjadi gila.

Selang beberapa minggu. Diana memberanikan diri mengirim surat kepada Paul tentang keadaannya. Sebelumnya Paul tidak tahu bahwa kekasihnya Diana mengalami kecelakaan. Diana juga meminta teman-temanya Paul agar merahasiakan hal ini karena tidak ingin Paul kuatir karena hal itu akan mengganggu konsentrasinya. Dalam surat tersebut, Diana menjelaskan semuanya. Dari kenapa dia tidak memberitahu Paul tentang kecelakaan yang ia alami sampai juga kenyataan yang harus ia terima.

Disurat itu Diana juga meminta Paul untuk meninggalkannya dan mencari wanita yang lain karena sudah tidak ada alasan Paul harus mencintainya. Dengan sangat berat hati dan penuh air mata Diana meminta temannya mengirimkan surat itu. Beberapa minggu kemudian, surat yang dikirim Diana mendapat balasan dari Paul.

Diana tidak berani membuka surat itu selama beberapa hari. Diana sudah tahu isinya pasti akan sangat menyakitkan. Tapi pada pagi itu, Diana memberanikan diri untuk membaca surat dari pangerannya. Toh nasi sudah jadi bubur. Penyesalan yang disesali pun tidak akan mengubah kenyataan yang terjadi. Maka dibukalah surat itu dan dibacanya pelan-pelan….

Dear Diana, malaikat kecilku…

“Dulu kamu bertanya padaku, apa alasan aku mencintaimu. Dan alasan-alasan itu telah kuutarakan padamu. Sekarang aku juga ingin memperjelas hubungan kita. Ya, sepertinya aku harus meninggalkanmu….”

Membaca surat tersebut  hati Diana begitu hancur, air matanya mulai membasahi wajahnya. Dalam hatinya Diana sudah menebak balasan surat kekasihnya akan menyakitkan, tapi tidak disangka setelah dibaca lebih menyakitkan lagi. Diana mengusap air matanya yang semakin deras membasahi wajahnya. Surat itu masih ada lanjutannya, maka Diana memaksakan diri untuk membaca habis surat itu.

“Tentunya kamu masih ingat, aku pernah berkata bahwa aku mencintaimu karena kamu cantik, tapi itu sebelum kecelakaan yang menimpamu. Dulu wajahmu yang cantik sekarang tidak seperti itu lagi sekarang, dan ini adalah alasan pertama aku tidak bisa mencintaimu lagi”.

“Aku pernah mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu bahwa suaramu yang merdu, suara yang membuatku damai, suara yang membuat pohon-pohon dan bunga bermekaran…, tapi itu dulu. Sekarang suaramu tidak seperti itu lagi, dan ini alasan keduaku tidak bisa mencintaimu lagi”.

“Aku juga pernah mengatakan padamu, kelincahanmu selalu membuatku gemas untuk mengejarmu. Langkah-langkah kakimu bagaikan menari diatas lantai dansa. Setiap gerakanmu membuatku ingin menangkapmu dan memelukmu…, tapi itu pun dulu. Inilah alasan ketigaku tidak bisa mencintaimu lagi”.

“Tapi…, Masih ingatkah kamu bahwa aku juga pernah mengatakan padamu aku tidak tahu alasan kenapa aku sangat mencintaimu? Dan sampai hari ini aku pun tidak tahu kenapa aku masih sangat mencintaimu. Jika cinta memerlukan alasan-alasan untuk mencintai, maka saat kamu membaca surat ini aku mungkin sudah pergi jauh”.

“Sekali lagi aku katakan padamu, aku benar-benar tidak tahu alasan mengapa aku mencintaimu, yang aku tahu aku sangat mencintaimu. Beberapa hari lagi aku akan pulang menjengukmu, hari Selasa aku akan pulang dari tugas kantorku. Tunggulah kedatangan pangeranmu datang menjemputmu”.

“Oya sayang, kamu mungkin berpikir aku hanya menghiburmu disurat ini. Tapi ketahuilah bahwa foto-foto dan videomu telah kuterima dari teman-temanku. Mereka mengirimkannya kepadaku supaya aku bisa mengambil keputusan dalam hidupku, sebuah keputusan yang besar, apakah aku harus tetap bersamamu atau memilih berpisah”.

“Dan tahukah kamu, menurutku wajahmu tidaklah seburuk dalam suratmu, malah menurutmu kamu makin cantik dan aku tidak tahu alasanya, bagiku kamu tetap cantik dimataku. Suaramu saat berbicara juga tetap merdu ditelingaku, bahkan dalam video yang direkam tanpa sepengetahuanmu. Aku sudah tidak sabar ingin menemuimu malaikat kecilku”.

Pelukan hangat dan kecupan sayang dari pangeranmu nan jauh…

Paul

Air mata yang mengalir sebelumnya adalah air mata kesedihan, tapi sekarang air mata itu berganti air mata kebahagiaan. Diana mencoba mencari kalender tanggal kedatangan pangerannya. Hari ini tanggal 14 bulan Februari. Hari selasa. “Hari ini pangeranku datang”, kata Diana dalam hati. Dia mencoba merapikan rambutnya serapi mungkin menanti pangerannya datang, belum selesai merapikan terdengar pintu kamar terbuka.

Seorang pria datang, pria yang sangat tampan. Terlihat dari wajahnya pria ini telah lama mengenal Diana. Wajahnya tersenyum sangat lembut. Mata birunya begitu indah memancarkan cahaya kerinduan yang mendalam. Ditangannya terdapat sebuket mawar putih. Putih yang melambangkan kesetiaan. Putih yang melambangkan ketulusan. Pria tampan ini lalu berkata pada Diana dengan lembut.

“Aku datang malaikat kecilku…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s