Kupanggil namamu 6 kali


Six times i call you name

“Mikey…Mikey…Mikey…Mikey…Mikey…Mikeeyyyy..”,  Panggil seorang gadis kecil didepan pintu sebuah rumah mewah. “Iyaa….tunggu sebentar”. Terdengar suara anak laki-laki dalam rumah tersebut. “Kenapa sih kamu tidak sabaran banget. Aku kan harus mengambil sepedaku dulu”, kata anak laki-laki tersebut ketus. “Aku kan pengen jalan-jalan sama kamu, kamu kan sudah janji kalau hari ini mau menemaniku membeli boneka didepan toko tuan Richard”, balas gadis kecil cantik ini. “Iya, sekarang kita berangkat”, jawab Mikey.

Gadis kecil itu adalah aku, dan namaku adalah Angel. Tidak seperti kebanyakan gadis umumya yang berambut pirang, aku justru berambut hitam. Lebih tepatnya hitam kecoklatan. Mataku berwarna hijau gelap. Kata ibuku, sewaktu aku masih kecil aku seperti malaikat yang membawa cahaya bagi pasangan muda dan mereka yang jatuh cinta. Senyumku yang manis selalu memberi mereka harapan dan masa depan. Aku tidak tahu apa-apa waktu itu, tapi itu sebuah kenangan akan sebuah kata-kata yang indah.

Mikey adalah teman kecilku. Yang kutahu aku selalu mencari dia jika ingin beli sesuatu. Terutama boneka. Dia bagiku seperti perpustakaan berjalan. Apapun dia tahu, tentunya semua hal yang seumuran denganku. Mikey dari kalangan keluarga yang terhormat. Ayahnya seorang pemilik restoran terkemuka dikota kami. Mikey adalah anak tunggal. Rambutnya seditkit hitam sepertiku, tinggi kurus, humoris dan bermata biru langit.

“Mikey…Mikey…Mikey..”, coba lihat boneka ini. Cantik kan”, tanyaku sambil menarik tangan Mikey. “Hmm…bukannya kamu sudah punya yang seperti ini dirumahmu?”, Tanya Mikey kembali padaku. “Bedalah Mikey…, yang dirumah rambutnya berwarna merah hitam, sedangkan yang ini berwarna merah jingga”, balasku sedikit ketus. Aku kesal kenapa dia tidak bisa membedakan merah hitam dan merah jingga. Tapi tidak heran sih, pria selalu melihat hal secara umum, tapi kita wanita selalu melihat secara detail. Oya, Mikey adalah nama panggilan akrab Mike yang kuberikan sejak kecil.

“Ya ampun…”, desahku spontan. “Kenapa Gel?”, Tanya Mikey penasaran. “Boneka ini mahal sekali, aku tidak punya cukup uang untuk membelinya”, kataku lesu. Aku saat itu sangat menginginkan boneka itu. Mikey yang melihatku mencoba menghibur. “Gel, kamu ulang tahunnya minggu depan kan? Bagaimana kalau aku memberikannya sebagai hadiah ulang tahunmu nanti”, kata Mikey padaku sambil tersenyum. “Benarkah? Waaaahhh…, aku mau sekali. Jangan lupa ya. Thank you Mikey”, sambil kucium pipinya. Mikey hanya tersipu malu.

Ulang tahunku tanggal 25 Desember. Bertepatan pada hari Natal. Dan itu tinggal 6 hari dari sekarang. Hari-hari kulalui penuh berdebar-debar. Aku sangat menginginkan boneka itu, sehingga tiap harinya aku berjalan ketoko itu hanya sekedar untuk melihatnya. Aku berharap boneka itu tidak dibeli oleh orang lain. Karena Mikey janji akan memberikan padaku dihari ulang tahunku.

Dua hari sebelum ulang tahunku. Aku dan Mikey bersepeda ke taman. Saat melewati toko itu kulihat boneka yang kuinginkan telah hilang. Aku terkejut dan berhenti sebentar. “Mikey…Mikey..Mikey…..”, panggilku pada Mike. “Bonekanya telah hilang, apakah sudah dibeli oleh orang lain?”, tanyaku hampir menanggis. Mikey mencoba melihatnya. “Aku tidak tahu Gel, kita cari boneka lain saja”, kata Mike mencoba menghiburku.

“Tidak..aku mau boneka itu. Mikey kan sudah janji mau kasih aku, sekarang kenapa bisa dibeli orang lain?”, balasku sambil menanggis pulang meninggalkan Mikey yang terdiam membisu. Aku tahu aku telah melakukan kesalahan. Tapi mau gimana lagi, aku begitu menginginkan sekali boneka itu. Padahal aku tidak sadar, yang kuinginkan sebenarnya bukanlah boneka itu.

Sekarang tanggal 25 Desember. Ya, ini adalah hari ulang tahunku. Teman-temanku datang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Aku merayakan ulang tahunku yang ke 7 tahun itu. Semua teman-temanku datang. Kecuali Mikey. Aku merasa sangat bersalah karena telah meninggalkannya waktu ditoko boneka itu. Mungkin dia sekarang masih marah padaku dalam hati.

Jam menunjukan jam 8 malam. Pesta ulang tahunku berakhir sudah. Teman-temanku dijemput oleh ayah dan ibunya. Pesta ulang tahunku sangat meriah. Itu terlihat dari banyak kado dan teman-temanku yang sangat senang dengan pestaku. Sebelum pulang beberapa dari teman baikku berpelukan denganku dan berpamitan. Aku juga menikmatinya. Dan aku pasti akan lebih senang jika Mikey datang kepesta ulang tahunku.

Malamnya kucari kado dari Mikey. Banyak kado yang sangat kusenangi, tapi hanya kado dari Mikey yang paling kunanti. Aku berharap dia masih ingat janjinya walaupun dia tidak datang kepesta ulang tahunku. Setelah beberapa menit kudapati kado dari Mikey. Aku langsung membukanya dan ternyata sebuah boneka, boneka yang cantik sekali. Tapi aku sedikit kecewa, itu bukan boneka yang kuinginkan. Dalam saku boneka itu terselip secarik kertas. Dan itu surat kecil dari Mikey.

“Angel, maafkan aku tidak bisa menepati janjiku memberimu boneka yang kamu inginkan. Sebagai gantinya aku memberikanmu boneka lain untukmu. Aku tahu kamu mungkin kecewa. Tapi tolonglah terimalah hadiahku yang terakhir ini. Maaf aku tidak bisa juga hadir dipesta ulang tahunmu, karena kami sekeluarga harus pindah kekota lain. Maaf aku tidak memberitahumu. Papaku sudah lama sakit karena restorannya bangkrut. Jangan mencariku dirumahku lagi. Karena aku telah pergi. Selamat ulang tahun ya Angel malaikatku”.

Sambil mengambil sweater aku berlari keluar membanting pintu. Cuaca diluar dingin sekali, tapi hatiku terasa lebih dingin lagi. Aku berlari sekencang mungkin. Aku berharap Mikey hanya bercanda. Aku berharap itu surat karena dia marah padaku dan menghukumku. Dalam hati aku berdoa, “Ya Tuhan aku memang pantas dihukum karena keegoisanku, tapi ini hukuman yang terlalu berat. Mengapa Kau pisahkan aku dari teman terbaikku?”.

Sampai didepan rumah Mikey. Kulihat semua lampu tidak menyala. Kulihat gembok telah terkunci dipagarnya. Saat itu aku merasakan cairan hangat dari kedua mata menetes dipipiku. Itu air mata pertamaku. Dan itulah air mata penyesalanku. Dan saat itu kupanggil nama Mikey yang pertama kalinya dengan perasaan penuh sayang. “Mike, selamat jalan dan maafkan aku…”.

20 tahun berlalu sejak kejadian itu. Tapi kadang-kadang kenangan buruk itu masih terbawa dimimpiku. Aku menganggapnya mimpi buruk karena setiap kali aku teringat kembali, hatiku terasa sakit sekali. Tapi semua telah berlalu. Kini umurku pun bukan muda lagi. Aku sekarang berumur 27 tahun. Diusiaku seperti ini harusnya aku sudah berkeluarga. Ibuku bahkan mendesakku agar segera mencari pendamping hidup dan ingin punya malaikat kecil lagi untuk menepis sepinya.

Aku bukannya tidak mau, aku cuma merasa belum menemukan yang cocok. Ada beberapa pria yang cocok denganku, tapi aku merasa mereka menyukaiku hanya karena kecantikkanku saja. Ya, mungkin kalian bertanya-tanya, diusia begini aku masih terlihat cantik. Dan bukannya sombong wajahku terlihat lebih muda dibanding usiaku. Diwaktu luangku aku suka pergi ke gym untuk berolahraga. Seminggu biasanya 3-4 kali.

Karena hobiku yang suka ke gym. Tubuhku terawat baik sekali. Aku juga menjaga pola makanku. Tapi aku tidak diet seperti wanita pada umumnya yang mengejar tubuh sexy semata. Aku menjaga pola makanku karena dari kecil ayahku sudah menanamkan padaku. Rambutku kini panjang sebahu lurus terawat. Tinggiku sekitar 168cm dengan lekuk tubuh yang membuat kaum adam menelan ludah. Dan itulah kenapa aku tidak segera menikah. Mereka hanya memburuku karena nafsu semata daripada cinta.

Keseharianku ku isi dengan bekerja. Mau gimana lagi, aku telah keluar dari rumah dan hidup  terpisah dari orang tuaku. Tapi jangan salah, aku keluar bukan karena diusir atau apapun itu. Aku hanya pindah kekota karena lebih mudah mencapai tempatku bekerja. Awalnya orang tuaku sangat keberatan, tapi dengan sabar kujelaskan akhirnya mereka pun mengijinkannya.

Aku bekerja di sebuat toko permata. Dan toko ini khusus orang-orang yang kaya. Setiap hari bisa kulihat banyak wanita yang awalnya datang sendirian kemudian beberapa hari atau minggu ataupun bulan pasti membawa seorang pria kaya untuk meminta dibelikan permata. Bagiku wanita yang seperti itu adalah wanita buta, dan pria yang menemaninya juga buta.

Maafkan aku, aku memang paling benci orang yang memanfaatkan seseorang hanya untuk kesenangannya semata. Setelah itu dibuang. Terdengar klise? Terdengar aneh diucapkan olehku? Ya, aku juga melakukan hal yang sama. Bedanya, dulu aku meminta boneka, kini semua wanita, umumnya, meminta permata.

Aku mau berkata apa pun bukan urusanku. Seandainya mereka pernah merasakan kepedihanku dulu. Mungkin mereka akan berpikir lain. Berbulan-bulan aku kerja disana. Aku dan teman kerjaku dilatih dan dipaksa untuk selalu tersenyum. Tapi aku tahu itu senyum yang dibuat-buat untuk menarik pelanggan. Hingga akhirnya senyum yang selalu kubuat-buat itu menjadi senyum tulus kepada seorang pria.

“Namaku Terry”, sapa seorang pria dihadapanku. “Bolehkah aku melihat cincin permata yang di rak kedua itu, aku ingin membelikannya pada orang yang special bagiku. Matanya berwarna biru langit. Rambutnya hitam. Tinggi dan atletis. Aku terpana sebentar oleh senyum. “Nona..bolehkah aku…”, kata-kata pria ini menyadarkanku. “Oh..maafkan aku tuan, aku tadi melamun. Ada yang bisa aku bantu?”, tanyaku agak gugup.

“Tidak apa-apa, bolehkah kulihat cincin permata itu?”, Tanya pria ini sambil menunjuk permata yang dimaksud. “Namaku Angel dan maafkan aku tuan Terry. Tadi aku melamun. Kamu mengingatkanku pada seorang teman. “Oh…pasti teman lama yang sudah lama tidak bertemu ya? ataukah seorang yang sangat berarti dihatimu”, katanya sambil tersenyum padaku. Senyumnya ramah sekali.

Setelah berbincang-bincang singkat. Aku dan dia menjadi cukup dekat. Dan aku tahu dia mencari cincin untuk dibelikan kepada seseorang yang special dihatinya. Dan aku tahu itu pasti pacarnya. Biasanya aku akan tersenyum sinis dalam hati terhadap seorang pria yang begitu rela membelikan seorang wanita permata hanya demi mendapatkan hatinya. Tapi untuk pria ini terkecuali. Dan sebelum berpisah aku secara tidak sadar memanggil nama Mike yang kedua kalinya.

Sejak bertemu dengan Terry, kerjaku yang terasa membosankan, sedikit demi sedikit beransur-ansur mulai terasa menyenangkan. Memang tidak tiap kali dia selalu datang. Tapi setiap kali dia pergi bekerja selalu lewat didepan. Aku mencoba tersenyum padanya, dan dia selalu membalasnya. Walaupun sering bertegur sapa, kami belum pernah sekalipun keluar bersama. Dan ini berlanjut sampai 3 bulan lamannya.

Suatu sore, Terry mampir ketoko aku bekerja. Dia langsung mencariku dan menyapaku. “Selamat sore Angel. Apa kabar?”, tanyanya dengan senyum ramahnya. “Baik sekali tuan Terry, apa kabar tuan?”, balasku tersenyum semanis mungkin. “Panggil aku Terry saja. Kedatanganku adalah ingin bertanya, bisakah cincin yang kemarin aku beli ini permatanya diganti warna yang biru?”, tanyanya.

“Bisa saja tuan Terry…tapi kita perlu melihat apakah masih ada yang cocok tidak, kalau tidak ada nanti kami akan pesankan khusus buat tuan”, jawabku sambil agak tertunduk. “Oh..tidak apa-apa, aku tidak buru-buru kok. Dan kumohon panggil aku Terry saja”, pintanya sambil melihat kearahku. “Baiklah tuan…, maaf, baiklah Terry”, jawabku tersipu malu.

Sebelum berpisah, dia memberikan nomor teleponnya. Aku senang sekali. Memang aku dari kemarin ingin mengenalnya lebih jauh. Kini dia sendiri yang menawarkannya. Dan sebelum dia berpamitan pulang. Dia mengajakku kapan-kapan pergi makan malam. Hatiku terasa berbunga-bunga. Dan tentu saja ku iyakan.

Malamnya aku langsung meneleponnya. Kami berbincang-bincang segalanya. Tentang pekerjaannya, tentang hobinya dan keluarganya. Dan kutahu bahwa dia sudah tidak mempunyai ayah. Ayahnya meninggal saat dia masih muda dan sekarang dia tinggal bersama ibunya. Sebenarnya aku ingin Tanya apakah cincin yang dibelinya itu untuk pacarnya atau siapa saja. Tapi aku urungkan. Aku tidak ingin kisah indah yang baru mekar ini harus berakhir sebelum waktunya.

“Angel…, Angel…”, terdengar suara yang sangat kukenal. “Siapa? Siapa yang memanggilku?”, tanyaku sambil mencari arah datangnya suara yang tidak asing lagi ditelingaku ini. “Angel…, Angel…”, suara itu makin jelas. Samar-samar kulihat didepanku ada seberkas cahaya, dan dari sana kulihat seorang bayangan anak kecil sedang melambaikan tangannya padaku seakan-akan memanggilku.

Aku berlari mengejar anak kecil yang memanggilku ini. Perawakannya sangat kukenal. Apakah dia…? aku tidak tahu. Aku hanya berlari secepat mungkin mengejar anak kecil ini. Tapi semakin aku mendekat, aku semakin jauh dengannya. Semakin aku ingin meraihnya, semakin anak kecil ini menghilang bersama cahayanya. “Tun…tunggu aku, kumohon tunggu sebentar…”, teriakku dengan suara yang parau. “Tunggu aku Mi…”.

“Mike….”, aku terbangun sambil memanggil namanya. Ternyata aku bermimpi. Itulah ketiga kalinya aku memanggil nama Mike. Setelah berkenalan dengan Terry. Mike yang didalam kenanganku semakin lama semakin menghilang. Bahkan didalam mimpipun aku hampir kehilangan Mike. Aku sebenarnya ingin melupakan Mike, tapi aku juga ingin meminta maaf padanya dulu. Kadang aku merasa sangat bersalah. Tapi sepertinya memang harus kulupakan demi masa depanku juga.

Sabtu malam, aku berdandan secantik mungkin. Aku memakai gaun malam warna hitam yang mempesona. Aku mendandani wajahku seminim mungkin. Aku memang tipe wanita yang minimlis kalau berdandan. Aku tidak ingin wajahku yang telah diberikan Tuhan dan rangkai oleh tangan-Nya yang mulia disamarkan produk-produk karya tangan manusia. Kudengar bunyi klakson mobil diluar. Aku tahu Terry datang menjemputku.

“Wahhh..kamu cantik sekali Angel. Apakah aku salah rumah? Aku hanya ingin menjemput Angel yang dari dunia bukan Angel yang dari surga”, kata Terry mengodaku. Aku tersipu malu. “Kamu bisa saja Terry.”, balasku untuk tidak terlihat gugup. Terry mengenggam tanganku menuntun masuk kemobilnya dan dibawanya aku kerestoran kecil dipinggiran kota. Restoran itu memang terlihat kuno designnya. Tapi interiornya sangat mengagumkan. Tidaklah heran mengapa banyak pasangan muda dan tua mengerumuni restoran ini.

Tidak terasa jam menunjukkan jam 9 malam. Selama sejam lebih kami disana. Malam itu menjadi malam yang sangat indah. Terry begitu mengerti keinginanku. Saat pulang aku diantarnya sampai kerumah. Aku melambaikan tangan tanda berpamitan. Terry hanya tersenyum padaku dan menjalankan mobilnya pulang.

Saat hendak memasuki rumahku, kulihat sebuah boneka tergantung diganggang pintu. Aku penasaran, siapakah yang meletakkan boneka ini?  Tiba-tiba aku teringat masa kecilku. Aku berlari keluar jalan. Kucari-cari orang yang mungkin telah lama aku kenang. Tapi tidak ada siapapun disitu. Dan aku memanggil namanya yang ke empat kalinya, “Mike…”.

Beberapa bulan telah berlalu. Aku dan Terry telah menjadi akrab. Sebenarnya boleh dikatakan kami seperti pasangan. Hanya saja Terry belum mengutarakan perasaannya dan aku juga belum bisa menerima perasaannya untuk sementara. Aku tidak ingin menyakiti hatinya. Aku masih terkenang kenangan kecilku.  Cinta pertamaku. Dulu aku telah bodoh menyakitinya. Dulu aku tidak sadar akan perasaanku. Aku telah berjanji jika aku bisa melupakan kenangan masa kecilku. Maka aku kan menerima perasaan Terry. Tapi sampai kapan.

Tidak terasa sebulan lagi Natal akan tiba. Toko tempat aku bekerja juga mulai dipadati para pembeli. Bagi mereka yang kaya, tidaklah sulit untuk membelikan permata bagi pujaan hatinya. Bahkan banyak sekali meminta pesanan khusus untuk menorehkan nama kekasihnya pada cincin yang akan dilingkarkan pada jari pujaan hatinya. Aku pun sibuk mempersiapkan hadiahku pada Terry.

Tinggal seminggu lagi Natal, dan bertepatan dengan ulang tahunku. Untuk merayakannya aku mengundang beberapa teman baikku datang ke apartemenku. Aku mulai membereskan semua pernak-pernik Natal. Aku ingin suasana Natal dan ulang tahun memberi kesan. Aku pun menyiapkan kado-kadoku untuk bertukar dengan teman-temanku. Saat kubongkar sana-sini kado-kadoku. Kulihat sebuah kado lusuh yang sudah lama. Kado inilah yang paling kujaga sejak kecil. Kubuka kado itu dan kulihat sebuah boneka cantik.

Bajunya sudah lusuh. Matanya telah kehilangan warnanya. Tapi senyum boneka itu masih terpampang indah. Boneka inilah yang menyadarkanku kisah cinta pertamaku. Dan untuk kali, aku harus mengubur kenanganku bersama bonekanya. Aku tahu aku masih merindukannya. Tapi aku yakin diapun telah berbahagia entah dimana bersama pasangan pilihannya. Hanya doa yang bisa kupanjatkan kepada DIA agar memberinya kebahagian selamanya. Kututup kado itu dan kusimpan digudang.

Akhirnya Natal pun tiba. Seperti jam yang sudah ditentunkan dalam undanganku. Teman-teman baikku berkumpul diapartemenku. Semuanya ada belasan orang. Suasannya sangat meriah sekali. Orang-orang yang aku sayangi datang semua. Orang tuaku sebelumnya telah datang dan mengucapkan selamat padaku. Tapi aku sedikit sedih mereka tidak bisa menetap barang sehari saja. Mereka bilang kasihan Lucky anjing mereka ditinggal sendirian. Aku pun mengantar orang tua sampai didepan dan berpamitan.

Jam dinding menunjukkan jam 10 malam. Pesta kami masih berlanjut, tapi hatiku terpaut kepintu. Terry belum datang. Padahal aku telah menyiapkan hadiah untuknya. Aku mencoba menelponnya tapi tidak diangkat. Hanya voice mail saja. Aku telah mengirimkan pesan tapi tidak dibalas. Aku berpikir mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Tapi siapa yang masih bekerja dimalam Natal ini.

Jam menunjukkan jam 11.30. Teman-temanku berpamitan pulang semua. Terry juga tidak datang. Ini mengingatkanku akan kenangan masa kecilku. Apakah aku harus kehilangan seseorang yang aku sayang lagi? Tiba-tiba kudengar HP ku berbunyi. Aku cepat-cepat mengambilnya dan berharap dering itu dari dia. Dan Iya, Terry meneleponku.

“Apakah kamu sudah membuka kadoku?”, Tanya Terry santai. Aku yang sedang terburu-buru rasanya ingin memarahinya. Karena dia membuatku menunggu lama, karena dia membuatku begitu kuatirnya. “Kamu dari mana saja? Aku sangat kuatir padamu”, jawabku kalut. “Aku tidak dimana-mana kok. Jadi, apakah kamu sudah membuka kadoku?”, Tanya Terry padaku lagi. “Kado yang mana? Kamu sendiri tidak hadir, bagaimana aku bisa tahu”, kataku kesal. “Coba kamu cari dikamar tidurmu”, kata Terry.

Aku langsung berlari kekamar tidurku. Berantakan pesta tidak kuhiraukan, aku langsung menuju ketempat kado Terry. Sampai dikamar aku melihat sebuah kado yang terbungkus dengan indah. Sederhana tapi mempesona. Hatiku yang kacau mulai tenang. “Boleh kubuka?”, tanyaku kepada Terry sedikit manja. “Tentu saja Gel, itu memang untukmu. Tapi kumohon jangan marah ya jika hadiahnya sudah kuno”, balas Terry ramah.

Saat ku buka kado itu, aku terkejut bukan main. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku kira Terry mengatakan hadiah kuno artinya modelnya yang kuno. Tapi ini bukan kuno lagi. Tapi ini bersejarah sekali. Kuambil dan kupeluk hadiah dari Terry. Aku tidak mampu menahan air mataku lagi. “Kamu ada dimana?”, tanyaku dengan suara tertahan supaya tidak menanggis.  “Aku sekarang ditaman depan rumah. Aku menunggumu disini ya?”.

Setelah kuambil sweaterku. Aku berlari secepat yang aku bisa ketaman didepan rumah. Aku tidak peduli angin malam yang dingin menusuk kulitku. Aku bahkan tidak sadar bahwa aku juga tidak memakai sepatu, yang aku inginkan saat ini aku harus bertemu Terry. Dinginya salju tidak mampu membekukan hangat air dari mataku. Saat kusampai ditaman, kulihat Terry berdiri dihadapanku. Dia tersenyum ramah. Dia berwibawa. Dialah yang kucari selama ini. Sambil berlari kearahnya. Aku menyebut namanya kelima kali. “MIKE…..”.

Sekarang tanggal 21 bulan November tahun 2011. Aku berjalan dikarpet merah menuju altar pernikahanku. Lonceng gereja menjadi musik pengantarku. Seorang pria berdiri dialtar sedang menungguku. Dia adalah pria yang telah aku kenang selama 20 tahun lamanya. Dia adalah pria yang tetap mencariku dan menunggu selama 20 tahun juga. Kini aku memilikinya. Dan aku sangat bahagia.

Sampai dialtar, dia membuka penutup wajahku. Wajahnya tampan sekali. Warna biru langitnya bahkan mengalahkan warna biru langit diangkasa. Aku tidak bisa berkata apa-apa, karena aku benar-benar kehilangan kata-kata. Hanya air mata yang menjadi bukti semua kisah. Lalu dia bertanya padaku, “Maukah kau menemaniku dikala tuaku dan menjadi mata dan telinga disaat rentaku?”. Aku melihat matanya, aku melihatnya selama aku bisa. Dan dengan sangat bahagia aku memanggil namanya yang ke enam kalinya.

“I do Mike…”

Sebanyak 6 kali aku memanggil namanya. Selama 60 tahun aku bahagia bersamanya. Dia adalah pria yang paling kubangga, dan dia adalah pria yang paling kucinta. Bahkan melebihi semua permata. Dia bernama Mike. Sejak kami bertemu dia memakai nama Terry karena untuk menyesuaikan nama kakeknya. Sejak kami berpisah sejak kecil, ayahnya telah sakit-sakitan dan bangkrut. Dan untuk menghindari kejaran orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Namanya diganti menjadi Terry. Sedangkan nama belakangnya memakai nama ibunya.

Aku juga tahu. Cincin yang dia beli dulu itu diberikan kepada seseorang yang special. Dan cincin itu dia lingkarkan di jari manisku. Aku bertanya padanya sejak kapan dia mengetahui kalau aku Angel teman masa kecilnya, dia berkata sejak pertama kali bertemu. Aku bertanya bagaimana dia mengenaliku, dia hanya mengecup keningku. Aku tidak perlu jawaban apa-apa lagi. Yang penting kini dia telah menjadi miliku.

Tentu kalian bertanya, apa isi kado Natalku bukan?! Kalian yang wanita pasti sudah bisa menebaknya kan?. Ya, itu adalah boneka yang sangat kuinginkan sejak kecil. Lalu bagaimana Mike bisa memilikinya? Bukankah waktu kecil sudah dibeli orang? Harus kukatakan itu kisah terpisah dari kisahku. Ternyata Mike membelinya lebih dulu. Mike tidak memberikan padaku disaat ulang tahunku karena dia tahu dia akan berpisah denganku. Dan supaya kenangan indah bersamanya tidak hilang, Mike rela dibenci olehku dan memiliki boneka itu.

Kata Mike padaku, saat dia berjanji akan membelikan boneka itu padaku. Dia melihat aku begitu senangnya dan tahukah apa yang membuatnya menyembunyikan boneka itu dariku. Ya, kalian yang wanita pasti telah menebaknya lagi. Kecupanku selama 6 detik dipipinya, menjadi kecupan dikeningku selama 60 tahun lamanya. Dan saksinya adalah boneka indah berumur 60 tahun lebih usianya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s