Cantik dan “cantik”


The real beauty not seen by your eyes but by your heart

“Hai Gantiya…”, tegur teman sekantorku kepada seorang pemuda ganteng, tinggi atletis dan seorang seorang manajer muda yang sukses. Ya, Gantiya adalah singkatan dari ganteng, tinggi dan kaya yang kami berikan padanya. Dan dia adalah temanku juga. Oya namaku Budi. Hanya budi saja tanpa embel-embel lainya. Hanya seorang karyawan kantor biasa dan hidup yang biasa-biasa. Tapi jangan salah, gini-gini aku tidak pernah mengeluhkan hidupku, malah sangat bersyukur dengan keadaanku sekarang. Memang kuakui dulu aku sangat pesimitis, selalu iri melihat orang lain sukses, bahkan aku sampai pernah ingin memakai jalan sesat untuk supaya bisa kaya. Tapi hal itu bisa kuurungkan berkat Gantiya.

Gantiya nama sebenarnya adalah Andy. Gantiya, aku dan teman-temanku lainnya berbaur jadi satu dari segala warna kulit, bahasa, agama dan lainnya. Tapi justru perbedaan itu membuat kami akrab sekali. Ini bukan cerita tentang aku, tapi cerita tentang Andy yang membuat kami semua terkesima dan tersentuh. Semoga cerita ini bisa menjadi lilin bagi pembaca yang banyak dibebani hidup yang mengagungkan materialistis ini. 

Aku dan teman lainya berteman dengan Andy lebih dari 10 tahun. Kami satu geng kemana-mana selalu bersama. Geng kami terdiri dari 5 orang. Kami semua berperawakan tinggi hampir sama kecuali Joni yang agak pendek menurutku, tapi sifatnya selalu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal dan sangat setia kawan. Sedangkan Andy adalah yang paling tinggi, tingginya hampir 180cm, orangnya ganteng sekali dan anak dari seorang pengusaha sukses.

Sering Joni teman kami berkelakar bahwa jika dia itu wanita, apapun akan dilakukannya untuk menaklukkan hati Andy, kalau perlu diculik. Semua tertawa mendengar lelucon Joni, tapi harus kuakui aku sebagai pria saja kagum sama ketampanannya, seorang pengusaha muda, badan bagus, wanita mana yang menolak ciptaan Allah maha sempurna ini?

Dihari biasa kami sibuk dengan keseharian kami, maklum semuanya punya kerjaan masing-masing. Joni yang humoris bekerja sebagai kasir toko, dia senior disana dan sangat disegani oleh para pembeli terutama ibu-ibu muda karena leluconya yang segar dan tidak berlebihan. Hendry membuka dan mengurus bisnis makanannya sendiri. Julian sebagai seorang marketing disebuah perusahaan terkemuka. Yanto membantu bisnis keluarganya. Sedangkan aku hanya seorang karyawan senior disebuah perusahaan kecil.

Kami selalu meluangkan waktu berkumpul bersama diakhir minggu. Biasa kami kerumah Joni karena dialah yang paling suka melucu sehingga penat keringat keluh kesah kerja selama seminggu langsung hilang jika bersama dengannya. Dan cerita ini bermula saat kami berkumpul kerumah Joni.

“Hendry…aku dengar kamu udah dapat pacar ya?”, tanya Joni asal-asalan menebak. Hendry hanya tertawa dan menjawab, “Belum dapat Jon…, hanya pedekate aja, sapa tau dapat gitu lho”. “Kalau kamu sih pasti bisa Hen, kamu kan udah punya toko sendiri jadi setidaknya pasti lebih mudah dapatin cewek”, sambung Julian. Setelah itu pembicaraan menjadi seperti arus air yang mengalir.

Saat seru-serunya kami bercanda, Yanto tiba-tiba berkata kepada Andy, “Andy.., kalau kamu pasti pacarnya cantik banget dech…, apalagi kamu kan ganteng pasti cewek-cewek cantik berbaris memperebutkan kamu seperti piala dunia”. Suasana jadi lebih seru mendengar perkataan Yanto. Andy hanya tertawa kecil dan menjawab, “Sudah pasti donk aku pilih yang cantik, masa aku pilih yang jelek, ga akan pernah dech…iiihhhhh”. Semuanya tertawa.

Saat mendengar Andy berkata begitu, dalam hati kecilku merasa terusik…, memang tidak salah dia memilih yang cantik apalagi dia ganteng juga. Tapi apakah yang jelek boleh dijelekin begitu? Ternyata penilaianku pada Andy benar. Benar-benar salah.

Saat malam tiba, kami semua pamitan pulang. Semua pulang dengan kendaraannya masing-masing. Malam itu kebetulan aku datang dengan menumpang mobil Andy, jadi pulangnya dia menawarkan diri mengantarku juga. Dalam perjalanan pulang aku memberanikan diri bertanya apa maksud kata-katanya tadi. Karena setahuku Andy bukan tipe orang yang mudah mengeluarkan kata-kata yang berkonotasi negatif gitu.

“Aku memang suka yang cantik Bud…, siapa sih yang mau cewek jelek?, coba kamu tanya ama geng kita pasti semua sependapat”, jawab Andy padaku saat kutanya. “Tapi…”, lanjut Andy tidak memberikanku kesempatan untuk berdebat, “Sebelum kamu menilaiku seperti dalam pikiranmu itu, besok aku ingin membawa kamu menemui teman-temanku, yang kamu lakukan hanyalah melihat dan menilai saja”. Aku bingung mendengar permintaanya. “Apakah kamu setuju bro?”, tanya Andy padaku. “Ok bro”. Jawabku penasaranku.

Besoknya, pas hari minggu Andy datang menjemputku. Entah kenapa hari ini aku semangat sekali, mungkin karena penasaran apa yang dikatakan Andy kemarin malam atau karena hendak bertemu dengan teman-temannya yang pastinya wanita? Wanita yang pasti cantik tentunya. “Kau siap Bud?, kita berangkat mencari jawabanmu”, tanya Andy padaku. Aku hanya mengangguk tanda siap.

Mobil pun meluncur, dalam perjalanan kami hanya diam. Beberapa menit kemudian kami tiba disebuah rumah yang luar biasa. Parkirannya aja sebesar rumahku. Aku pikir ini sih bukan rumah mewah lagi, tapi istana. “Ini adalah teman pertamaku dan juga mantanku”, kata Andy singkat kepadaku. Aku hanya mengangguk saja, karena aku sudah tahu tugasku hanya mengikutinya aja.

Sampai didepan pintu nan megah tersebut, Andy memencet bel. Bunyi bel itu begitu membuai seperti lonceng dari surga. Dentinganya sungguh indah ditelinga. Aku pikir harganya kira-kira berapa ya bel seperti itu? Belum habis aku berpikir keluar seorang wanita yang cantik sekali, mungkin lebih tepat disebut bidadari kali. Rambutnya panjang, tubuhnya singset, tinggi dan parfum yang dikenakannya bahkan bisa menarik roh yang ada dalam raga ini.

“Hai, namaku Winda”, kata wanita ini memperkenalkan diri kepadaku saat dikenalkan oleh Andy. “Hai juga, aku Budi”, jawabku kikuk. Kemudian Winda mempersilakan kami masuk. Dalam hati aku berpikir apa kepala temanku pernah terbentur? Kok wanita secantik ini cuma jadi teman? Dan udah mantan? Tapi nanti aku akan temukan jawabannya juga pikirku.

Seperti layaknya anak-anak muda, kami pun terlibat dalam pembicaraan. Nampak dari mata Winda kalau dia masih memendam perasaan kepada Andy, tapi Andy terlihat begitu santai, bahkan terlalu santai untuk seorang pria yang menemui mantan pacarnya. Matanya juga tidak tersirat rasa kagum ataupun lainnya sebagaimana seorang pria melihat wanita cantik apalagi mantanya. Tidak ada binar-binar kerinduan. Hampir sejam kami bertamu disana hingga Andy mengajakku pulang.

“Win.., kami pulang dulu ya, aku mau ngantar Budi temanku ini ketempat kost dulu”, kata Andy kepada Winda. Aku terkejut sekali kok hubungan ke aku pula? “Oooo gitu ya…ok dech hati-hati dijalan ya?”, jawab Winda. Terlihat sedikit kesal matanya kearahku. Aku hanya bingung tidak bisa berkata apa-apa. Aku mau tanya Andy apa maksudnya pun tidak bisa.

Dalam mobil aku mau protes sama Andy kok bawa nama aku apalagi mempermalukan aku begitu. Belum sempat aku ngomong Andy memberi tanda agar aku diam. “Apakah kamu uda dapat jawabannya?”. tanya Andy padaku. “Jawaban apa…, cewek cantik begitu lu malah jadiin mantan, lagian cuma sejam disana dapat jawaban apa. Jangan-jangan kamu mau pamerin bahwa kamu hebat bisa dapatin cewek cantik ya”, jawabku ketus.

“Bud.., Bud…, kamu ini terlalu terfokus pada kecantikkanya ya”, sambung Andy sambil tersenyum penuh makna. “Sekarang aku akan membawamu ke temanku yang kedua. Tapi kali ini aku harap kamu bisa lebih tenang dan bersihkan pikiranmu. Sehingga jawaban yang kamu cari atas pertanyaanmu kemarin tidak sia-sia. Begitu juga namaku tidak buruk dipikiranmu juga”.

Perjalanan kedua memakan waktu sejam lebih. Sesampainya disana, rumah yang kami datangi  tidak sebesar yang pertama. Tapi tetap mewah. Rancangannya bergaya Eropa. Banyak patung disana-sini  dengan pahatana hampir sempurna disertai pohon-pohon nan hijau menjulang tinggi menambah keeksotisannya. Begitu asri dan rindang. Dari kejauhan kulihat seorang wanita berlari kecil kearah kami. Lagi-lagi wanita yang sangat cantik.

Vian, begitulah namanya. Dari wajahnya dan kulitnya terlihat jelas bahwa wanita ini adalah seorang wanita yang pandai menjaga fisiknya. Kulitnya begitu putih mulus. Rambutnya tertata rapi dan lurus dengan sedikit bergelombang manis diujungnya. Tutur katanya sopan dan penuh senyuman. Dalam hati aku bertanya, kok ini jadi teman juga? Tapi kali ini aku kesampingkan dulu pikiranku itu.

Dalam berjalannya waktu cuap-ciap kami mengakrabkan kami semua. Tidak terasa hampir 2 jam kami disana. Sepertinya skenario pertama, kamipun pamit pulang. Dalam perjalanan dimobil, aku masih bingung, jawaban apa yang dimaksud Andy yang hendak disampaikannya melalui kedua wanita tadi. Tiba-tiba Andy membuka suara membuyarkan lamunanku, “Gimana Bud? Uda dapat jawabannya belum?”.

“Sejujurnya, aku bingung ni Andy…, ga kutemukan apapun. Sebenarnya apa maksudmu sih?”, tanyaku bingung. “Hahahaha…, Bud…, bud…, jika kamu bisa lebih sensitif ama perasaanmu dan kata hati kecilmu, maka dari yang pertama sudah kamu temukan jawabannya”, balas Andy membalasku. “Lalu…, menurutmu apakah mereka wanita yang cantik?”, tanya Andy kepadaku.

“Ya iyalah…emang aku buta, pria manapun akan memperebutkan wanita itu”, jawabku ketus. “Justru bagiku mereka adalah wanita jelek”, Sambung Andy. Sungguh pembaca…, aku terkejut sekali. Tapi keterkejutanku lebih lagi setelah itu. “Sekarang aku akan membawamu ketempat wanita yang cantik, tapi wanita ini jangan kamu dekati ya…, yang tadi silakan, malah aku akan membantumu dari belakang”, kata Andy kepadaku sambil berlalu ketempat tujuan. Dalam hati aku pikir, pasti wanita ini wanita yang sangat sangat cantik dan lagian aku mau pun aku pasti kalah bersaing.

Pembaca, jika aku buta maka Andy teman baikku ini benar-benar buta sekali. Itu kata-kata yang hendak kusampaikan pada kalian. Tapi sekali lagi justru akulah yang benar-benar buta. Sesampainya ditempat tujuan ketiga. Rumah yang kami singgahi jauh dari kata mewah. Bahkan sederhana sekali. Sekelilingnya juga berderet rumah-rumah lainnya yang sederhana. Tapi tidak kotor, malah bersih. Anak-anak bermain penuh kegembiraan, para tua terlihat begitu sehat dan ramah. Sepintas kukira ini dimana karena setahuku tidak ada tempat begini dikota yang sekarang kutinggali.

Akhirnya mobil kami berhenti di sebuah rumah yang sederhana. Andy turun dari mobilnya penuh semangat, dalam hati aku berkata pasti wanita ini cantiknya luar biasa melebihi kedua wanita tadi. Karena kulihat binar-binar cahaya dimatanya. Senyumannya terus menghias bibirnya. Waktu Andy memanggil wanita itu hatiku deg-degan. Bidadari seperti apa lagi kali ini.

“Yuli…, aku datang”, kata Andy. Terdengar langkah kecil dari rumah tersebut. “Ya…, tunggu sebentar”, jawab seorang wanita dari arah dalam rumah. Waktu kami bersua aku terkejut sekali. Suaraku sampai tertahan. Bukan karena wanita ini cantik luar biasa. Tapi…, malah terlalu biasa. Sederhana sekali jika dibandingkan yang sebelumnya. Memang juga tidak bisa dikatakan jelek. “Selamat sore mas…, namaku  Yuli, ayo silakan masuk mas”, sapa Yuli membuyarkan keterkejutanku.

“Maaf ya…, rumahnya berantakan, tadi baru selesai rapiin”, kata Yuli ramah dengan seutas senyuman manis menghias diwajahnya. “Mau minum teh aja apa es teh nih?” tanya Yuli menawarkan minuman kepada kami. “Es teh aja Yuli, habis tadi keliling jadi udah haus pengen yang dingin-dingin, kalau bisa gelas besar ya..”, jawab Andy mesra. Aku saat itu benar-benar jadi linglung, kenapa wanita seperti ini malah minta lebih? Sedangkan ditempat sebelumnya gelas kecil ada tidak dijamah. Emangnya mau duduk sampai kapan pikirku. Sejujurnya aku lebih memilih kedua wanita tadi.

Tidak terasa jam menunjukkan jam 8 malam. Aku juga lupa tujuanku buat apa. Kami masih terus berbincang-bincang dan bercanda sampai Andy mengajakku pulang. Awalnya aku enggan pulang karena masih ingin ngobrol dengan Yuli, tapi Andy bilang udah malam dan tidak baik seorang pria bertamu terlalu malam. Dengan perasaan enggan akhirnya aku ikut Andy pulang. Kami diantar Yuli kedepan dan dikasih cemilan buatan tangannya, katanya supaya dalam perjalanan pulang tidak terlalu lapar.

“Gimana pendapatmu tentang Yuli Bud…”, tanya Andy mengganggu lamunanku sambil mencicipi cemilan Yuli. “Gimana ya…, kalau dibandingkan kedua temanmu, Yuli termasuk biasa-biasa saja, tapi entah kenapa kalau berbicara dengan kedua temanmu itu, aku kikuk dan tidak menikmati. Sedangkan saat aku berbicara dengan Yuli, sepertinya aku dihipnotis dan sangat menikmati, bahkan aku tidak malu-malu dan tidak perlu menjaga imageku seperti kedua temanmu sebelumnya”, jawab aku menganalisis. “Jadi sudah kamu temukan jawabanmu kenapa aku suka yang CANTIK?”, tanya Andy sambil tersenyum.

Pembaca, dalam perjalanan tadi aku terdiam seribu bahasa. Sesampainya dirumah aku merenungkan kembali perjalananku dengan Andy. Ternyata arti cantik bagi Andy bukanlah cantik fisik semata. Sebelum aku turun dari mobil Andy, dia mengatakan kata-kata yang menjadi prinsip baru dalam menjalani hidupku.

“Kecantikkan seorang wanita ataupun pria bukan terletak pada FISIKNYA, bukan pula terletak pada apa yang MELEKAT pada fisiknya, juga bukan terletak apa yang DIDAPAT dari fisiknya. Tapi dari HATI bagaimana dia memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain”.

Pembaca, dizaman serba canggih ini dan serba materialistis ini, semua orang berlomba-lomba mencari hal-hal bersifat duniawi. Bahkan tidak sedikit pula yang rela membuang ataupun menjual kehormatannya untuk mendapatkan materi itu. Aku juga tidak munafik, aku juga mengejar hal itu. Tapi sejak kejadian itu, aku memandang dari sudut yang berbeda.

Mungkin sebagian pembaca bingung, apa jawaban yang kudapat dari perjalanan bersama Andy teman baikku itu. Awalnya aku juga bingung, tapi sekarang aku mengerti sekali. Saat kami ke tempat Winda dia memperlakukan kami baik, tapi sekarang aku menyadari apa perbedaannya.

Saat berbicara dengan kami, Winda tidak sepatah katapun berbicara padaku. Kecuali saat memperkenalkan diri saja, bahkan mungkin aku dianggapnya tidak ada. Kenapa aku berkata begitu, ternyata saat dia menawari minuman, gelas Andy adalah gelas mewah sedangkan aku gelas biasa….

Sedangkan saat kami kerumah Vian, tutur katanya begitu sopan, ramah dan halus perasaan. Tapi sekali lagi aku terbuai oleh yang tampak secara fisik semata. Kecantikkan yang mebutakan sukma. Saat dia memanggil Andy dengan panggilan mas Andy, sedangkan aku dipanggilnya Budi. Hanya Budi. Apakah itu salah? Tentu tidak.

Para pembaca mungkin berpikir aku terlalu kritis, negatif thinking dan segala bentuk protes kepadaku. Aku terima itu semua. Tapi sebelum anda melanjutkan protes itu, aku sempat bertanya kepada diriku dan ijinkan aku bertanya kepada anda juga, kenapa ditempat Yuli aku malah merasa tidak mau pulang? Bukankah dia hanya seorang wanita sederhana yang dari kelas yang berbeda jauh dari Winda dan Vian? Ternyata jawabannya sangatlah mudah. Karena Yuli MEMPERLAKUKAN AKU SEBAGAIMANA DIRINYA. Maksudnya apa?

Saat bersama Winda, dia memperlakukan Andy dengan baik karena Andy ganteng dan kaya. Maka menurutnya sudah sepantasnya dia diperlakukan begitu. Begitu juga Vian yang memperlakukan Andy sebagaimana dia terlihat difisiknya dan statusnya. Sedangkan aku dibanding Andy itu terlihat bagaikan langit dan bumi. Jika anda menjadi Andy apakah anda akan menerima wanita yang memperlakukan teman baiknya seperti itu?

Saat bersama Yuli, dia memperlakukan aku sebagaimana dia memperlakukan Andy, begitu juga sebaliknya. Dia memperlakukan kami sama, padahal secara fisik, status dan materi aku sangat jauh berbeda dengan Andy bukan? Maka tidaklah heran aku merasa begitu damai.

Sekarang coba lihatnya posisi temanku Andy, dia ganteng. Fisik oke. Kaya. Tutur katanya santun. Kurang apa lagi dia. Tapi sedikitpun dia tidak merasa berbeda dengan lainnya. Dia tidak memperlakukan kami sebagaimana status kami dibawahnya, dia makan dengan kami diwarung-warung jalanan. Dia ikut kami main air disungai. Dia ikut kami  berbaring dilantai rumah yang penuh debu. Dia bahkan ikut kami menanggis saat salah satu orang tercinta kami berpulang kepada Tuhan.

Memang tidak semua wanita begitu dan bahkan tidak semua pria seperti Andy, tapi tidakah kita melihat bahwa buah yang terlihat baik-baik diluarnya bahkan kelihatan sempurna ternyata didalamnya adalah busuk?! Kita tidak perlu menjadi seperti Andy, kita adalah kita sendiri. Tapi kita harus tahu sebuah pembelajaran terbaik adalah saat kita belajar kehidupan dari orang lain.

Jika anda adalah seorang pria ataupun wanita, tanyakanlah pada diri anda sendiri. Apakah aku seperti Winda ataupun Vian? Dan aku yakin anda pasti berkata aku tidak akan seperti Winda ataupun Vian. Ya, anda memang bukan Winda ataupun Vian, tapi bisa saja sikap anda sudah ada bibit-bibit seperti itu.

Jika saat anda makan dengan teman-teman anda disebuah warung makan, lalu datang sekeluarga orang miskin membeli makanan dan makan disana, bau lagi, bagaimanakah sikap anda? Aku yakin kemungkinan besar akan mencibir dan langsung pergi. Bukankah mereka juga seperti kita, SEORANG MANUSIA? dan pernahkah kita berpikir bagaimana perasaan anda kalau itu anda dan orang-orang disekitar anda langsung pergi setelah melihat anda?

Mungkin itu terlalu ekstrim, tapi bagaimana perasaan anda jika saat ulang tahun anda teman baik anda memberikan sebuah hadiah boneka biasa atau hadiah murahan lainnya, sedangkan yang lain memberi anda BB dan hadiah mahal lainya? Tentu BB dan mahal lainya bukan? Ingatlah itulah bibit Winda dan Vian. Setiap orang pasti suka dengan hal-hal yang bagus – termasuk aku. Tapi coba renungkan ini, bagaimana jika hadiah dari teman baikmu itu justru tabungan yang dia kumpulkan dengan susah payah dan dengan doa ikhlas dia berikan padamu.

Perlakukanlah teman dan orang lain seperti anda memperlakukan diri sendiri, begitu juga jika anda mempunyai pasangan, hargailah dia dari apa yang dilakukannya untukmu, hargailah dia dari apa yang dia belikan untukmu, hargailah dia dari waktu yang dia berikan untukmu.

Renungkanlah…, mungkin dia tidak pandai dalam hal-hal yang kamu kuasai bahkan bodoh tapi dia masih rela melakukannya untukmu, mungkin dia sangat perlu uang untuk kebutuhannya sendiri tapi dia masih menyisakannya untuk memberikanmu hadiah, mungkin dia sangat sibuk dan capek sekali tapi dia masih datang menemanimu barang sebentar saja.

Janganlah menilai seseorang ataupun mencintai seseorang dengan SYARAT, karena itu bukanlah cinta!! Tapi perlakukanlah sebagaimana anda memperlakukan diri anda sendiri. Jangan karena merasa lebih cantik atau tampan atau kaya sehingga yang lainya dijadikan mainan. Anda mungkin bisa merangkai kata-kata indah seperti Vian, anda mungkin bisa menyamarkan mata fisik dengan kecantikkan Winda, tapi MATA HATI tidaklah pernah buta.

Kisah diatas adalah penggalan kisah nyataku yang sudah lama terjadi, aku menulisnya sekarang karena aku diingatkan kembali. Kisahnya sendiri tidaklah sehebat dan seindah kisah diatas. Aku hanya menambah bumbu dan penyedap dalam menulisnya sehingga lebih enak dibaca, tapi inti dan perlakuan yang terjadi benar adanya.

Ya, ini hanyalah kisahku semata yang kutulis dalam bentuk cerita. Lagian tidak semua wanita sama seperti wanita didalam ceritaku, malah aku yakin masih banyak Winda dan Vian yang baik seperti Yuli, dan juga banyak Yuli yang mempunyai sifat seperti Winda dan Vian.  Semoga kisah sederhana yang ditulis kalang kabut ini bisa memberi renungan bagi kita semua. Penyesalan memang selalu datang terlambat, tapi perubahan selalu menanti kita disana. Dan tentunya perubahan itu juga terjadi padaku juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s