Kupu-kupu dan ulat


I prefer losing this pretty wings than losing your pretty heart

Setelah sekian lama bersama, akhirnya Jenny sang kupu-kupu dengan sayapnya yang indah memutuskan untuk meninggalkan Mike yang masih ulat. Jenny mengatakan padanya bahwa dia sudah cukup sabar menunggu dan sudah lelah menanti Mike menjadi kupu-kupu seindah dirinya. Jenny juga mengatakan bahwa dia harus meninggalkan Mike demi kebahagiaannya juga.

Dengan air mata membasahi wajahnya, Mike bertanya kepada Jenny yang begitu dicintainya, “Apakah kamu telah menemukan kupu-kupu lain yang sesuai keinginanmu?”. Jenny hanya mengangguk pelan. Setelah itu Jenny pun terbang keangkasa meninggalkan Mike yang masih melihatnya dengan harapan bahwa Jenny hanya bercanda dan mengodanya. Tapi, harapan itu sia-sia. Sebelum menghilang dari pandangan, Mike melihat seekor kupu-kupu dengan sayap yang cantik mengikuti Jenny dari belakang.

Hari demi hari Mike masih terlarut dalam kesedihannya. Dengan langkah pelan Mike menaiki sebuah batu didepannya. Disana dia berkaca pada air sungai yang jernih mengalir. “Mengapa aku tidak bisa menjadi kupu-kupu? Apakah aku harus terus menanggung semua kesedihan pada tubuh gemuk ini?”, keluhnya pada dirinya sendiri yang tercemin diair sungai itu.

Tidak terasa sebulan telah berlalu. Mike siulat gemuk mulai bisa menerima keadaannya. Dengan langkah kaki kecilnya dia berlari menelusuri taman bunga didepannya. Mike sedang berusaha menguruskan tubuhnya yang gempal itu. “Mungkin jika aku sedikit kurus sayap-sayapku akan mudah menerobos keluar”, pikirnya membulatkan tekad untuk menurunkan berat badan.

Saat sedang semangat-semangatnya berlari, dari kejauhan dia melihat seekor kupu-kupu mungil sedang berusaha  melepaskan diri dari benang jaring laba-laba. “Astaga, mengapa dia bisa disana?”, pikirnya dalam hati. “Aku harus menolongnya sebelum tuan laba-laba kembali kerumahnya dan mendapati makanan empuk telah menunggunya”, lanjut Mike sambil bergegas menolong sikupu-kupu mungil.

“Terimakasih banyak tuan, aku tidak tahu harus berkata apa. Dan aku juga tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan tuan. Oya namaku Millie tuan”, kata kupu-kupu mungil ini memperkenalkan diri. “Panggil aku Mike saja, tidak perlu pakai kata tuan. Kata itu tidak cocok untukku”, jawab Mike tersipu malu.

“Bagaimana ceritanya kamu bisa sampai terperangkap disitu?”, tanya Mike sambil mengalihkan pandangannya kejaring laba-laba itu. Millie hanya tersenyum sipu. Manis sekali. Lalu Millie pun bercerita hingga mereka lupa bahwa mata mereka saling berlabuh satu sama lain hingga matahari memanggil bulan dan bintang keluar menghias malam.

Hari demi hari berlalu, mereka saling mencari dan saling memberi. Minggu demi minggu berlalu, mereka saling menyayangi dengan tulus dan penuh. Hingga bulan berganti bulan mereka saling mengikat tali perasaan didepan taman dengan saksi bintang dan bulan. Para bunga hanya bisa tersenyum menyaksikan kesekian juta kali dua insan ciptaan Tuhan saling bersumpah setia. Tidaklah heran mengapa bunga selalu menjadi simbol cinta, karena mereka selalu menyaksikan kisah cinta yang memberi mereka pupuk sempurna.

“Apakah kamu tidak menyesal menerima aku yang jelek gemuk lamban ini?”, tanya Mike suatu hari saat mereka berjalan bersama-sama menikmati matahari pagi. Sang kupu-kupu mungil ini tersenyum padanya. “Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, maka jawab dahulu pertanyaanku, apakah kamu tidak menyesal menerima aku yang mungil tidak bisa diam terbang sana-sini?”, tanya Millie dengan pandangan penuh arti.

“Tentu tidak, justru sayap-sayap mungilmulah yang merias senyum wajahku dan segala tingkah laku tak bisa diammu adalah tarian indah yang selalu menghiburku”, jawab Mike penuh semangat. Millie mendekati ulat gemuk ini. Dikecupnya penuh sayang, lalu dia berkata, “Maka jawabanku pun sama atas pertanyaanmu sayang. Tubuh gemukmu bagiku adalah ranjang terempuk dikala aku lelah bermain disiang hari dan selimut terhangat dikala malam dingin menanti”.

Millie adalah seekor kupu-kupu cantik dengan sayap-sayap kecilnya yang menarik. Diantara semua kupu-kupu yang dikenal Mike, mungkin Millielah kupu-kupu paling enerjik dan penuh semangat. Millie juga kupu-kupu yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Disaat siang matahari terik menggelitik, Millie dengan sayap-sayap kecilnya mengipas Mike yang bertubuh gemuk yang mudah keringatan. Dan disaat malam udara dingin menusuk kulit, Mike dengan kulit empuk gempalnya memeluk Millie dengan hangat dan penuh sayang.

Keduanya adalah insan yang sangat dibanggakan para bunga tentang apa yang disebut saling menyayangi dengan tulus sepenuh hati. Mereka tidak peduli apa yang dikatakan kupu-kupu lain tentang mereka, apakah selalu dijadikan lelucon karena Mike yang bertubuh gemuk ataukah Millie yang bersayap kecil. Yang penting bagi mereka adalah mereka bahagia bisa saling memiliki dan saling menjaga.

Musim berganti musim dan tidak terasa musim dingin mencapai puncaknya. Millie yang ceria terbaring lemah disamping tubuh gemuk Mike. Karena sayapnya yang kecil, Millie tidak mampu mengimbangi udara dingin pada malam itu. Tubuhnya menggigil kedinginan. Tubuh Mike yang gempal tebal pun hanya sedikit membantu.

Melihat kekasihnya yabg sangat disayanginya itu jatuh sakit, Mike begitu cemas hingga hampir kehilangan akal sehatnya. Dengan kaki kecil menompang tubuh gemuknya itu Mike berlari tanpa tujuan mencari bantuan. Tapi saat itu malam kelam mencekam. Para kupu-kupu telah kembali kebunganya masing-masing. Siapakah yang bisa menolongnya? Dan jika masih ada kupu-kupu lain yang bisa ditemukannya, maukah mereka akan menolongnya?

Setelah berjam-jam mencari, akhirnya Mike kembali pada Millie dengan kaki penuh luka dan tubuh memar tergores duri-duri semak belukar. Wajahnya basah oleh air mata yang terus menerus mengalir deras dari matanya. Dengan langkah lunglai, Mike mendekati kekasihnya yang masih terbaring lemah. Dirapikannya helaian daun-daun yang sebelumnya dikumpulkan untuk menghangatkan tubuh mungil kekasihnya itu.

“Sreettt…”, terdengar suara koyakan. “Sreettt…, sreettttt….”, suara koyakan itu semakin banyak. Entah apa yang merasuki pikiran Mike, ternyata suara koyakan itu adalah suara dia mengoyak tubuhnya sendiri. Ya, Mike sedang mengoyak kulit gempal tebalnya untuk dijadikan selimut pada kekasihnya. Terlihat dari wajahnya betapa Mike menahan rasa sakit yang amat sangat dengan mengigit bibirnya sendiri supaya erangan sakitnya tidak membangunkan kekasihnya yang terbaring disana.

Entah sudah berapa lapisan kulit tebalnya telah dikoyak Mike dan dijadikan selimut bagi Millie. Dan, ternyata usaha Mike tidak sia-sia. Wajah Millie terlihat merona merah tertidur nyenyak dan tidak kedinginan lagi dengan balutan kulit tebal dan hangat milik Mike.  Melihat kekasihnya sudah baikan, Mike semakin semangat dan mengoyak kulit tubuhnya lebih banyak lagi dan tentunya  rasa sakit yang lebih menyakitkan lagi.

Akhirnya, karena kelelahan dan menahan sakit yang luar biasa, Mike jatuh pingsan. Samar-samar sebelum kehilangan kesadarannya, Mike mencoba melihat kekasihnya yang sedang tertidur nyenyak. “Untunglah…”, desahnya pelan dan matanya pun mulai menutup dengan butiran kecil permata dari sudut mata berjatuhan. “Hi..duplah de..ngan ceria… se..seper..ti bia..sanya.. ya sa..sa..sssaya…n…gg…..”.

Angin malam menjadi saksi hidup betapa murninya cinta seekor ulat gemuk kepada kekasihnya yang sedang terbaring lemah. Nyanyian para serangga malam terdengar bagaikan tanggisan pilu haru mengiringi kisah mereka.  Angin malam nan dingin semakin berhembus kencang dan terlihat membawa selembar kecil potongan kulit tubuh siulat gemuk keangkasa seakan ingin menceritakan pada dunia kisah mereka berdua. Apakah mereka masih bisa bersama? apakah mereka harus berpisah? Tidak ada yang tahu.

Malampun berlalu dengan sendirinya berganti mentari pagi hangat menyapa bagi yang menantinya. Pagi ini adalah pagi yang sangat dinanti para kupu-kupu dan bunga, karena pagi ini adalah pagi pertama memasuki musim yang indah. Terlihat pesona warna-warni para bunga membuka matanya menyamput pagi yang cerah. Kupu-kupu menari kesana kemari bermain-main diangkasa. Semua terlihat bahagia menyambut pagi yang sempurna.

Dibawah tanah, dekat sebuah goa, jauh dari kerumunan para bunga dan kupu-kupu indah, terlihat seekor kupu-kupu mungil sedang berurai air mata. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Didepannya terbaring seekor kupu-kupu dengan sayap lebar dan besar dengan warna yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Seekor kupu-kupu yang sangat indah.

“Mi…Mill…Millieee….?”, terdengar suara pelan keluar dari mulut kupu-kupu indah ini. Lalu dia mencoba bangun dan, dia terjatuh.  Dia bangun lagi, dan terjatuh lagi. “Ap..Apakah kamu sudah sembuh?”, tanyanya lagi sambil memaksakan merangkak kehadapan kupu-kupu mungil ini. Millie sikupu-kupu mungil hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan-tangan kecilnya menahan tanggis.

“Mengapa kamu menanggis?”, tanya kupu-kupu ini bingung. “Apakah kamu masih sakit?”, lanjutnya sambil mulai bisa bangun dan berdiri. Millie hanya mendekatinya dan membelai wajah kupu-kupu indah ini. Dikecupnya kening kupu-kupu tersebut. “Aku sudah sembuh sayang, terimakasih karena telah menjagaku semalaman”, kata Millie sambil mengecup penuh sayang sekali lagi pada kupu-kupu indah ini.

“Diluar kelihatannya cuaca sangat menyenangkan, bagaimana kalau kita keluar menikmatinya sebentar supaya tubuhmu lebih enakan”, tanya kupu-kupu indah ini mengajak Millie. “Iya, aku mau, tapi apakah kamu sudah terbiasa mengunakan sayapmu?”, tanya Millie tersenyum manis sekali pada kupu-kupu indah ini. “Sayap? Tentu saja tidak sayang, kamu duduk diatas tubuhku seperti biasanya. Aku yang akan mengendongmu, kamu kan baru sembuh?”, jawab kupu-kupu indah ini bingung dengan pertanyaan Millie.

“Kalau begitu katakan padaku bagaimana kamu mengendongku?”, tanya Millie sambil mundur beberapa langkah dengan senyumannya yang manis sekali. Matanya berbinar-binar mengagumi apa yang sedang dilihatnya dihadapannya. “Ya, seperti biasanya sayang, aku mengendongmu dibelakang pungg…”, jawab kupu-kupu indah ini terdiam berhenti menyelesaikan kata-katanya.

“Apa ini yang dipunggungku?”, tanyanya bingung sambil melihat kearah Millie. Millie hanya tersenyum dan mengangguk dengan air matanya yang mulai berjatuhan. “Jangan-jangan ini adalah…”, teriak kecil kupu-kupu indah ini penuh semangat dengan mata membesar. “Iya”, jawab Millie singkat sambil menutup mulutnya.

Dengan langkah kaki yang masih berat kupu-kupu ini berlari keluar gua yang mereka tinggali. Perasaannya begitu ringan. Perasaannya begitu senang. Apakah yang selama ini diimpikannya benar-benar menjadi kenyataan? Saat kupu-kupu ini berdiri dibawah mentari pagi yang hangat, terlihat bayangan seekor kupu-kupu dengan sayap yang sangat besar. Lalu dicobanya mengepakan sayap itu. Kepakan pertama. Kepakan kedua. Dan, kupu-kupu indah ini sudah bermain bersama angin diangkasa.

“Cihuiii…..”, teriaknya nyaring diangkasa. “Aku terbang…, aku terbang Millie…, lihat aku Millie…”, teriak kupu-kupu indah ini dari atas. Setelah puas terbang kupu-kupu indah ini menghampiri Millie yang sedang duduk diatas sekuntum bunga mawar merah sedang menantinya. “Millie…, aku telah jadi kupu-kupu…, coba lihat sayapku, tapi bagaimana bisa?”, tanyanya bingung sekaligus senang. Millie hanya tersenyum, lalu dia mengeluarkan selembar kulit halus yang empuk dan diberikan pada kupu-kupu indah ini.

“Ya, itu adalah kulit dari tubuh gempalmu. Aku tidak tahu bagaimana kamu melepaskannya, tapi kulitmu yang gempal itu telah menghangatkan tubuhku sehingga aku bisa duduk mengagumimu disini. Kamu telah menjadi kupu-kupu yang sangat indah Mike, mungkin kupu-kupu paling indah yang pernah kulihat selama hidupku”, kata Millie sambil menarik tangan kupu-kupu indah ini yang ternyata  Mike agar duduk disampingnya.

Saat melihat kulit tebal itu, mata Mike mulai berkaca-kaca. Bukan karena dia teringat sesuatu yang menyakitkan semalam, tapi dia menyadari sesuatu yang telah lama dia pendam. Millie membelai lembut wajah Mike, katanya, “Mike sayang, sekarang kamu telah menjadi kupu-kupu yang indah. Sudah saatnya kita berpisah. Terbanglah dan arungilah angkasa bersama mereka yang indah-indah disana. Tugasku telah selesai melindungimu selama ini, dan aku sangat bahagia bisa menemanimu selama ini juga”.

Mendengar perkataan kekasihnya tersebut, Mike langsung berdiri. Dibentangkan sayapnya yang besar itu dan memang sangatlah indah. Lalu Mike tersenyum ramah. “Millie sayang, benarkah menurutmu sayap ini sangat indah? Karena menurutku memang demikian”, tanya Mike kepada kekasihnya yang masih memandanginya dengan mata berkaca-kaca. “Iya, sangat indah sekali sayang.”.

“Sreettt….”, terdengar suara robekan disertai teriakan menyakitkan dari mulut Mike. “Mikeee…., apa yang kamu lakukan!!”, teriak Millie langsung melompat menahan tangan Mike merobek sayapnya yang besar nan indah itu. “Apa kamu sudah gila!!”, teriak Millie dengan wajah yang sangat cemas. “Kamu tidak apa-apa kan?”, tanya Millie lanjut sambil memperbaiki sayap Mike yang telah dikoyaknya.

“Ya, aku memang menjadi gila saat kamu memintaku meninggalkanmu. Dan ya, aku tidak akan apa-apa jika hanya merobek sayap ini asal kamu selalu bersamaku”, jawab Mike tegas dengan pandangan mata yang sayu. Millie hanya bisa menanggis melihat tingkah Mike yang membingungkannya. Dan tentu saja Millie bingung, karena bagi Mike sobekan kecil itu tidak ada apa-apa baginya dibandingkan apa yang dilakukannya semalam.

“Millie sayang, sebelum aku bertemu denganmu, aku mempunyai  kupu-kupu yang sangat kusayang. Tapi aku dan dia sangatlah berbeda. Dia adalah seekor kupu-kupu yang indah sekali dan aku hanyalah seekor ulat gemuk mengejarnya tertatih-tatih. Aku begitu mengaguminya. Aku begitu mencintainya. Tapi, dia meninggalkanku karena menurutnya aku tidak sepadan dengannya yang indah, dan aku terima itu semua”.

“Dulu, aku begitu ingin menjadi kupu-kupu karena TAKUT KEHILANGANNYA. Maka segala cara upaya aku lakukan supaya aku bisa menjadi kupu-kupu, terutama kupu-kupu yang indah sehingga bisa membanggakannya dan pantas bersanding dengannya. Tapi semakin aku ingin menjadi kupu-kupu, semakin aku jauh darinya”.

“Saat aku ditertawakan karena tubuh gemukku, saat aku dicibir karena tidak bisa menjadi kupu-kupu, aku malah bertemu denganmu. Mengenalmu saja sudah cukup bagiku, tapi kamu malah memberikan bonus lainya dengan menerima aku sebagai kekasihmu. Aku tidak peduli kamu mencintaiku karena kamu berhutang budi atau apa, yang aku peduli adalah aku mencintaimu dengan setulus hatiku”.

“Millie sayang, jika aku memiliki sesuatu yang INDAH DIMATA, tapi harus kehilangan sesuatu yang INDAH DIJIWA, maka aku memilih membuang yang indah dimata walaupun aku harus dicap gila. Aku tidak menyalahkan mereka memilih yang indah dimata, karena aku juga dulu memilih sama dan aku menyesalinya. Sekarang aku diberi kesempatan kedua, apakah aku sebodoh itu mengulang sejarah yang sama?”.

“Memang benar aku bisa memilih yang indah-indah yang sepadan dengan keindahanku berdasarkan mataku, tapi justru karena mata itulah aku kehilangan jati diriku. Tapi saat kamu hadir disampingku, mata yang selalu mencari yang indah ini lama-kelamaan “menutup”, tapi anehnya “MATA” lain yang tidak kusadari perlahan-lahan terbuka. Dan “MATA” itu selalu melihat kearahmu tanpa berkedip sekalipun”.

“Millie sayang, aku menyukaimu bukan karena sayap kecilmu, tapi SAYAP HATI yang membentang luas itu. Aku mencintaimu bukan karena ceriamu, tapi kamu yang selalu menceriakan hidupku. Jika sayapku ini terbentang indah dihadapanmu, maka ini adalah sayapmu. Jika kamu merasa tidak pantas bersamaku, maka sayap inipun tidak pantas terpasang dipunggungku”.

“Ketahuilah, sebenarnya sayap-sayap indah ini sudah ada pada tubuhku sejak semula. Tidak peduli siapa dan bagaimana sayap-sayap ini akan terbentang dengan sendirinya. Pertanyaannya adalah kapan waktunya, dan ternyata waktu itu memilih kamu”.

“Millie sayang…, sekarang aku dengan kerinduan hatiku yang terdalam ingin menanyakan pertanyaan yang sama seperti aku tanyakan padamu dulu. Apakah kamu tidak menyesal menerima aku siulat gemuk jelek lamban ini yang sekarang sedikit lebih langsing  dan ditumbuhi sayap-sayap indah kasihmu?”, tanya Mike sambil berlutut dihadapan Millie dengan mata yang berbinar-binar disertai senyuman yang ramah.

Kupu-kupu mungil hanya bisa menanggis tersedu-sedu sambil membelai lembut wajah kupu-kupu indah dihadapannya ini. Dikecupnya penuh sayang ulat gemuk yang telah menjadi kupu-kupu indah yang selama ini sangat dicintainya. Lalu kupu-kupu mungil ini berdiri dan terbang mengitarinya seakan menari-nari. Dan, “Cup…”, sebuah kecupan mesra mendarat dipipinya. Kemudian kupu-kupu mungil ini terbang tinggi sambil tersenyum manis sekali, katanya.

“Kejar aku sayang, jika kamu berhasil menangkapku maka aku akan memberikan jawabanya. Ayo kejar aku ulat gemuk lambanku…”.

7 thoughts on “Kupu-kupu dan ulat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s