Cincin batu dan cincin berlian


The ring

Hanya sebulan sekali aku bisa bertemu dengannya, tapi itu sudah cukup bagiku. Namaku adalah Cindy Wang seorang keturunan Asia. Wajahku cantik dan postur tubuh yang sangat kubanggakan. Keluargaku juga dari kalangan menengah keatas dengan seorang Kakak laki-laki dan perempuan. Ya, aku anak bungsu dan aku juga yang paling dimanja. Tidak hanya oleh orang tuaku, tapi juga oleh kakak-kakakku.

Tapi, aku yang seperti definisi diatas tidaklah seperti wanita pada umumnya. Aku paling benci dengan wanita yang selalu memuja-muja dompet pria. Aku paling benci pria yang mengelu-elukan kecantikan tubuh dan wajah wanita. Ya, mungkin aku terkesan aneh dimata kalian, tapi inilah aku yang sebenarnya, dan bukan tanpa alasan aku berbicara seperti itu. 

Dulu sewaktu aku masih kecil, aku punya seorang sahabat laki-laki yang sangat dekat denganku. Namanya Andy. Ayahnya merupakan tukang sapu diperusahaan ayahku. Tapi hal itu tidak membuat perbedaan dalam berteman. Kami satu geng dengan teman-teman lainnya. Ada Jhonny yang penakut, Yoyo yang plin-plan, Stefanie yang ceria. Sedangkan aku dan Andy tipe yang suka bercanda. Hari-hari kami lalui sebagamana anak-anak pada umumnya. Hanya main dan main.

Tidak terasa persahabatan kami berlangsung hingga lulus SMA. Andy yang memang ayahnya seorang tukang sapu tidak berencana melanjutkan sekolahnya. Dia ingin bekerja membantu orang tuanya. Melalui sedikit koneksi ke ayahku, Andy diterima menjadi karyawan tetap disana. Tapi memang sifat Andy yang jujur dan polos, dia menolak tawaranku menjadi karyawan tetap tapi memilih menjadi OB (Office Boy). Katanya dia ingin berhasil atas usahanya sendiri.

Sejak Andy bekerja, kami satu geng jadi jarang berkumpul lagi. Ayahku menyekolahkanku ke Australia. Tapi kami selalu kontak dengan Yahoo Messenger. Tidak terasa tahun berganti tahun. Kami pun telah tumbuh dewasa dan mempunyai pekerjaan masing-masing. Tahun ini aku juga selesai menyelesaikan sekolahku dan pulang ke kampung halamanku.

Waktu tiba di diairport, pertama kali yang kupikirkan adalah langsung ke kantor ayahku. Aku ingin bertemu dengan Andy teman paling dekatku. Aku dijemput oleh sopir ayahku dengan sebuah kendaraan merah warna merah kesukaanku. Kulihat didepannya ada sebuah logo kuda berjingkrat memamerkan keperkasaannya.

Sesampainya disana, aku tidak sulit mencari Andy, dia telah menungguku didepan pintu. Senyumnya yang hangat tidak pernah hilang semenjak dari kecil aku mengenalnya. Tubuhnya tambah tinggi, atletis. Rambutnya dipotong pendek dan terlihat uban-uban mulai menyelimuti kepalanya. Pasti selama ini dia berusaha keras membantu orang tuanya. Dalam hati aku sangat bangga pria ini. Sudah 5 tahun lebih, tapi pesonanya tetap sama.

Oya, Andy  bukanlah pria yang tampan sehingga aku menyukainya, tapi hanya seorang pria dengan nilai pas-pasan saja. Dia juga bukan pria yang mudah dekat sama wanita, bukan karena dia sombong tapi justru sebaliknya Andy itu seorang pria yang pemalu. Lalu apa yang membuatku akrab dengannya? Mungkin karena Andy murah senyum pada siapa saja, terutama aku.

“Kamu makin terlihat cantik Cin”, kata Andy membuka pembicaraan. “Terima kasih”, jawabku penuh sipu malu. “Bagaimana perjalanannya? pasti capek bukan? mari aku antar kekantor ayahmu, beliau pasti tidak tahan lagi ingin bertemu gadis kecilnya yang dulu bandel sekarang menjadi bunga bagi mata-mata yang memandang”, goda Andy padaku sambil melirik mataku untuk melihat dalam kantor.

Memang, aku akui aku mempunyai kecantikkan yang Tuhan berikan diatas rata-rata. Dan aku sangat mensyukuri semua anugerah yang Dia berikan padaku. Kulirik kedalam kantor dan banyak pria yang terpesona denganku. Aku merasa malu sekaligus bangga. “Sini kuangkat kopernya Cin”, kata Andy membuyarkan lamunanku.

Singkat cerita, Andy dan aku janji ketemuan dicafe kesukaan kami. Aku menghubungi semua geng ku untuk berkumpul. Dan semuanya setuju. Kami janji bertemu jam 7 malam. Aku benar-benar kangen sama semua temanku, bagaimana dengan Jhonny yang penakut ya? Bagaimana dengan Stefanie yang tidak bisa diam ya? Bagaimana dengan Yoyo yang suka lelet mikirnya ya? Banyak sekali yang ingin kutanyakan.

Akhirnya jam dinding menunjukkan jam 6.30 malam. Aku berangkat membawa mobilku sendiri. Aku tidak lupa mempercantik diriku secantik-cantiknya, karena jujur aja, aku ingin sedikit dipuji. Mungkin bukan sedikit tapi ingin selangit. Sampai disana kulihat semua sudah berkumpul. Semua terlihat berbeda disaat kami kecil.

Jhonny tumbuh tinggi dan tampan sekali. Tubuhnya berotot. Stefanie juga sangat manis dengan pita pink dikepalanya. Perawakan agak kecil, tapi sangat menarik sekali. Yoyo yang paling membuatku terkejut, dia menjadi analis perusahaan besar, padahal dia yg paling lelet mikirnya waktu kecil. Semua berbeda, tapi suasannya masih sama seperti saat masih belia.

“Maaf aku telat”, terdengar suara yang tidak asing didekatku. Ya, itu suara Andy. Dia datang memakai setelan kaos simple. Malah sangat sederhana, beda dengan kami yang sedikit wah, malah wow. “Jangan terkejut Cin, itu memang gaya Andy dari dulu”, kata Stefanie sambil mengandengku untuk duduk. Andy memang berpakaian sederhana. Tapi entah kenapa malah saat itu, aku, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tiga jam lebih kami disana. Keakraban yang terjadi malah lebih lekat dibandingkan waktu kami masih kecil. Jhonny bercerita tentang bagaimana dia menghilangkan rasa takutnya sampai menjadi instruktur fitnes, dan bagaimana dia bertemu istrinya disana. Stefanie juga menceritakan bagaimana dia memulai bisnis butiknya dari kecil hingga mempunyai beberapa cabang di kota kami, Yoyo yang penuh kerja keras menjadi seorang analis perusahaan dan mengambil S3 di Amerika. Pokoknya seru habis malam itu. Hanya saja, cerita yang paling ingin kudengar adalah cerita tentang Andy.

Malam itu Andy hanya mengikuti cerita kami, aku bercerita tentang bagaimana susahnya belajar bahasa asing diluar negeri. Bertemu teman-teman beda budaya dan lain-lain. Sambil bercerita kulirik kearah Andy, kucoba melirik dan kuperhatikan jari manisnya apakah ada cincin melingkar disana. Ternyata ada. Sebuah cincin batu biasa.

Setelah reuni malam itu, kami jarang bertemu lagi. Semua kembali ke kesibukkanya masing-masing. Aku dan Andy masih bertemu dan itupun hanya sebulan sekali pas akhir bulan. Aku membantu ayahku dalam menjalankan bisnisnya. Walaupun hanya sebulan bertemu dengan Andy, itu sudah cukup membuatku bahagia. Walaupun jari manisnya telah ada melingkar cincin yang mungkin milik seorang wanita tapi aku tetap menginginkannya.

Aku tidak tahu apakah aku sudah gila atau apa. Andy mungkin sudah beristri dan lagipula banyak pria tampan dan kaya yang mengejar-ngejarku, tapi hanya pria sederhana inilah yang selalu terbayang dibenakku. Pesonanya selalu membuatku tergila-gila. Awalnya aku kira diguna-guna atau apalah, ternyata aku sadari aku mencintainya karena kepribadiaannya.

Setelah berbulan-bulan lamanya, aku memberanikan diri bertanya padanya tentang siapa wanita beruntung itu yang mendapatkan pasangan cincin yang dikenakannya saat kami berdua makan siang dicafe kesukaan kami, dan jawaban yang kudapatkan sangatlah mengagetkanku sehingga hampir-hampir aku melompat dan memeluknya serta kuberikan rententan ciuman saking senangnnya.

“Oohh, Jadi itu bukan cincin pernikahan ya?”, tanyaku pura-pura tenang dan bersimpati. Lalu kenapa diusiamu yang sudah cukup matang masih belum berkeluarga? Mungkin kamu terlalu memilih kali…”, tanyaku mencari lebih tahu. Sambil menghela napas Andy tersenyum. Sungguh, itu senyuman yang sangat lembut dan hangat.

“Aku sebenarnya dari tiga tahun yang lalu sudah berpacaran dengan seorang wanita. Dia adalah karyawati ayahmu juga. Kamu pasti ingat. Kita sering chatting ramai-ramai dan ada wanita yang dekat denganku”, kata Andy membuka pembicaraan. “Namanya Margaret, kamu masih ingat kan?”, tanya Andy.

“Ya, aku ingat, tapi kukira kalian hanya sekedar teman biasa”, jawabku sedikit ketus merasa cemburu. “Awalnya memang begitu Cin, tapi entah kenapa aku malah jatuh cinta padanya. Dia adalah wanita yang sederhana sepertiku, tutur katanya begitu ramah dan dia adalah wanita yang selalu mengisi hatiku”, kata Andy sambil melihat ke cincin batunya.

“Lalu kenapa kalian bisa berpisah?”, tanyaku penasaran. Aku ingin tahu seperti apa kriteria Andy sehingga aku bisa menjadi yang seperti diingikannya. Minimal itulah yang terpikir olehku. “Kami berpisah karena aku tidak mampu membahagiakannya. Dia adalah wanita yang baik, hanya saja aku yang tidak cukup baginya”, jawab Andy sambil tersenyum.

Malam itu aku tidak bisa tertidur. Aku hanya berguling-guling resah dikasurku. Jika memang wanita itu baik, kenapa mereka berpisah? pertemuan dengan Andy sore itu membuat pikiranku kacau. Insting wanitaku seakan memaksa aku jadi detektif. Dan memang benar, aku menjadi detektif untuk mencari tahu apa penyebab mereka berpisah. Dan, sangatlah mudah bagiku untuk mendapatkan alamat wanita bernama Margaret itu. Kalian tentu tahu apa maksudku.

Besoknya aku berdandan sedemikian rupa. Aku berdandan bukan untuk menjadi cantik, tapi justru sebaliknya. Semua perhiasan yang melekat ditubuhku kupretelli. Rambutku ditata sedemikian rupa dan aku memakai rambut palsu. Riasan wajahku sengaja kubuat sedikit menor. Dengan dandanan seperti aku bahkan hampir tidak mengenali diriku sendiri apalagi mereka yang belum pernah melihatku. Yup, aku menyamar menjadi karyawati dibagian Margaret bekerja

Ternyata tidaklah sulit menemukan Margaret. Dia wanita yang cantik dan menarik. Saat aku menghampirinya, Margaret dikelilingi oleh pria. Tapi yang membuatku bingung Andy mengatakan dia wanita yang sederhana, kenapa sekarang yang kulihat justru wanita yang Glamour dan berpakaian seronok? aku bertanya dalam hati, apa benar ini Margaret yang kucari.

Setelah saling sapa basa-basi dan kenalan, aku dan Margaret menjadi teman. Memang tidak sulit bagiku untuk berteman karena pada dasarnya sifatku yang terbuka dan mudah bergaul. Selama sejam lebih kami berbagi cerita. Dan tahu tidak, ternyata kami cocok dalam beberapa hal. Seperti masakan dan fashion. Bedanya, aku menyukai fashion hanya sebagai bacaan saja sedangkan Margaret adalah “korbannya”.

Tidak terasa seminggu lebih aku dan Margaret berteman. Walaupun merasa tidak enak, akhirnya kuberanikan diri untuk mengorek informasi tentang dia dan Andy dulu. “Mar, kulihat kamu sangat cantik, bahkan seksi, pasti banyak cowok yang mengejarmu”, kataku mencolek Margaret. “Iya nih, aku juga kadang pusing diuber cowok gitu, cuma belum ada yang cocok. Dulu aku pernah mempunyai seorang cowok baik, tapi…, kamu tahulah”, balas Margaret mencubitku sambil matanya melirik kearah seorang pria tampan yang baru keluar dari mobil Ferrarinya.

“Maksud kamu apa Mar?”, tanyaku bingung dan penasaran. “Kamu tahulah, jaman sekarang cowok baik aja tidak cukup. Sekarang apa-apa perlu uang. Memang dengan bermodalkan baik aja bisa makan?”, jawab Margaret mantap. Jujur saja aku setuju dengan pendapatnya, tanpa uang bagaimana bisa hidup? tapi aku juga tidak sependapat dengannya juga, bukankah seorang cowok yang baik justru tanggung jawabnya lebih baik? malah aku merasa jika seseorang itu dasarnya sudah baik, dia akan akan berjuang lebih keras untuk keluarganya kelak.

“Tapi uang kan bisa dicari sama-sama Mar, bukankah modal utama seorang cowok itu kepribadiaannya dulu? kita sebagai wanita juga punya andil berusaha memwujudkan impian bersama pasangan bukan?”, balasku mencoba menjelaskan. “Cin…, Cin…, kita memang punya andil begitu, tapi bukankah pria yang bertugas mencari uang dan kita yang mengaturnya? Jika aku memilih hanya karena cowok itu baik, bagaimana seandainya aku ingin keluar jalan-jalan tapi hujan? pakai motor? tidak dech…, mending mobil bukan?”, jawab Margaret.

Terus terang, aku sedikit terbawa emosi mendengar jawaban Margaret. Bukan karena jawabannya, tapi bagaimana dia menjawabnya seakan-akan menjatuhkan seseorang, dan kutahu itu siapa. “Emang dulu kamu punya pengalaman buruk dengan kata-katamu tadi?”, tanyaku memastikan. Margaret memandangku penuh arti, dia menghela napas dan berkata, “Ya…”.

“Aku mengenal cowok ini melalui chatting, dan ternyata dia satu perusahaan dengan kita. Dia baik sekali dan perhatian. Aku begitu menyayanginya dan bertekad ingin menjadikannya sebagai suami. Tapi dia adalah pria yang sederhana. Awalnya aku bahagia sekali bersamanya, tapi banyak teman-temanku yang menyadarkanku bahwa hanya bermodalkan baik tidaklah bisa hidup. Mereka memberi contoh dalam kehidupan mereka sendiri. Mau beli ini tidak bisa, mau beli itu harus hemat, mau apa-apa harus ditunda, dan harus kuakui ada benarnya yang dikatakan teman-temanku”.

Mendengar jawaban Margaret aku seakan-akan hendak membentaknya, tapi belum sempat kuucapkan Margaret melanjutkan, “Tahu ngak kamu Cin, biasa orang melamar kan memakai cincin berlian, dia malah melamarku pakai cincin batu buatannya sendiri. Saat kuperlihatkan pada teman- temanku aku ditertawakan dan aku malu sekali. Setelahnya aku langsung memutuskannya. Sekarang coba lihat cincinku yang sekarang, aku mendapatkannya dari tunanganku yang baru, harganya saja $1000. Cantik bukan?! ini baru namanya cincin”.

Emosiku telah sampai diubun-ubun. “Margaret!! Kamu memang dikarunia anugerah tubuh dan wajah yang indah oleh-Nya, kamu juga dikarunia pikiran oleh-Nya, tapi kata-kata yang kamu ucapkan sama sekali tidak mencerminkan bahwa kamu adalah ciptaan-Nya yang melebihi mahluk lainnya. Saat wanita yang lain berdoa memohon agar dipertemukan seorang pria yang sederhana pilihan-Nya, kau malah membuang pria berhati malaikat yang Dia kirimkan padamu. Dan kau sekarang justru memilih pria yang bertopeng malaikat?!”, kataku sambil meninggalkan Margaret dalam kebingungan.

Itulah sepenggal kisah kenapa aku sangat membenci wanita yang memberi kadar cintanya berdasarkan dompet pria. Itulah kenapa aku sangat membenci pria yang membuktikan kadar cintanya dengan harta dan tahta. Aku tidak mengatakan mereka salah, tapi aku tahu sikap mana yang disayang Tuhan dan sikap mana yang dipuji setan.

Aku marah bukan karena dia merendahkan Andy, tapi bagaimana dia merendahkan pria-pria baik sederhana lainnya disegala penjuru didunia. Aku marah bukan karena dia cantik dan seksi sehingga boleh sesuka hati, aku marah karena dia cantik dan menarik yang BERBUAT SESUKA HATI.

Dan apakah dia tahu bahwa CINCIN BATU itu berapa harganya? Ya, dia tahu. Sama sekali tidak berharga. Tapi, apakah dia tahu CINCIN BATU itu berapa NILAINYA? hanya Tuhan sendiri yang mampu membelinya.

Sekarang, dialtar ini, dipernikahan sederhana ini, aku menemukan seorang pria yang sangat mempesona. Dia ubanan, dia anak tukang sapu diperusahaan ayahku, dia sahabat dekatku, dia yang menghiburku dikala sepiku, dia yang rela meminjamkan jaket satu-satunya demi menghangatkanku, dia yang ikhlas meneteskan air mata saat Lucky anjing kesayanganku meninggal. Ya, dia bernama Andy.

Sambil memandangku dan dengan senyum sejuta pesonanya, dia mengambil kotak merah dari sakunya. Dikeluarkan sebuah cincin yang sangat indah. Belum pernah kulihat cincin seindah itu ditoko mana pun di dunia. Saat dia melingkarkan cincin itu pada jari manisku, air mataku menetes membasahi pipiku. Aku bahagia, sangat bahagia. Dengan senyuman khasnya dia bertanya padaku, “Maukah kau menemaniku seumur hidupuku? menjadi ibu bagi anak-anaku dalam tawa dan air mata sampai maut memisahkan kita?”. Kudekap tubuhnya dan dengan mantap penuh kebahagiaan kujawab,

“Ya, aku mau…”

Terdengar langkah kecil berlari dari loteng. Aku hanya duduk menemani seorang pria yang sudah renta. pendengarannya yang sudah tidak sempurna dan penglihatannya pun mulai kabur. Tapi tidak dengan senyumannya. Kulihat malaikat-malaikat kecil yang tadi berlarian datang kearahku dan berkata, “Grandma…, Grandma…, aku menemukan cincin ini di kamar Grandma, boleh aku memilikinya?”, tanya Gillian cucuku yang sudah SMA dan adik yang masih TK.

“Kenapa kamu ingin memilikinya?”, tanyaku penuh senyum sambil melihat cincin yang dipegang Gillian. “Ini adalah cincin terindah yang pernah aku lihat. Daddy dan Mommy memang punya banyak cincin berlian cantik-cantik ditokonya, tapi ini sangat cantik sekali. Cincin apakah ini grandma?”, tanya Gillian penasaran.

“Itu hanyalah cincin cinta dari kakekmu, dan itu  hanyalah cincin batu biasa”, jawabku tersenyum penuh makna. Kulirik pria disampingku juga tersenyum indah. Matanya berbinar-binar. Bahkan diusia senja kami senyumannya tetap membuat wajahku merona merah. Dan dasar gadis SMA yang sudah tahu arti cinta, wajahku yang meroan merah tidak lepas dari mata Gillian.

“Waahhh…, pasti ada kisah yang sangat indah dengan cincin ini ya. Grandma…, please cerita ya…, please….”, bujuk Gillian dan adiknya memohon. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka yang lucu dan gemesin. Ya, aku memang belum pernah cerita tentang kisah cintaku dengan Andy. “Kamu yakin mau dengar cerita kuno ini?”, tanyaku penuh arti. “Mau grandma, mau sekali…”, jawab Gillian tak sabaran sambil duduk disebelahku dengan adiknya. Kugenggam tangan pria yang disampingku ini. Dia melihatku dan tersenyum manis sekali. Lalu akupun bercerita.

2 thoughts on “Cincin batu dan cincin berlian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s