Diary jiwa


Diary of soul

“Ya Tuhan, aku tidak meminta suamiku selalu ada untukku, tapi buatlah aku selalu ada untuknya”, doa Nancy suatu malam.

Nancy adalah seorang wanita karier yang sukses. Dia adalah seorang manajer di sebuah perusahaan terkemuka di kotanya. Nancy berpenampilan menarik, cantik, tapi tidak berlebihan. Rambutnya panjang sebahu. Lurus dan indah terawat. Setiap pria yang melihatnya dijamin pasti terpesona.

Dalam kesibukkanya sebagai manajer yang sukses, Nancy tidak mempunyai banyak waktu untuk mencari pendamping hidup. Banyak pria tampan yang berkelimpahan harta dan tahta yang mencoba menaklukan hatinya, tapi semua harus pulang dengan perasaan kecewa. Nancy bukan orang yang sombong, tapi sangat cerdas.Tutur katanya penuh makna.

Tapi, selayaknya seorang wanita, Nancy juga perlu seseorang yang bisa dia dia ajak bicara. Banyak sekali yang ingin dibagikan wanita muda ini, tapi sayang, bukan karena dia tidak mau, tapi karena waktunya yang serba sibuk dan terbatas. Dia takut jika mendapatkan seorang pria, dia akan mengecewakannya.

Sekarang, dia telah menikah. Dia menikah dengan seorang pria yang sederhana. Seorang pria yang penuh cinta. Dalam awal pernikahannya selayaknya pengantin  baru, mereka sangat bahagia. Nancy mengundurkan diri demi merawat suaminya dan mendirikan sebuah bisnis kecil bersama-sama.

Dengan kecerdasan Nancy dan keuletan suaminya Bob, bisnis yang semula kecil itu berkembang dengan pesat. Hanya dalam hitungan beberapa tahun, bisnis mereka sudah bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan cukup besar dikota mereka. Bob, suami Nancy pun tenggelam dalam kesibukkanya.

Awal kesibukkan Bob bisa diterima Nancy, karena semua ini demi keluarga juga. Tapi, dengan berjalannya waktu, kebersamaan yang selalu mereka rasakan semakin berkurang. Dengan semakin berkembangnya bisnis mereka, Nancy dan Bob harus berpisah jarak dan waktu untuk bertemu. Bahkan kadang harus lembur  dan menginap.

“Bobby, sepertinya kita harus menghabiskan akhir minggu nanti bersama, sudah lama kita tidak keluar menghabiskan malam seperti saat pertama kali menikah”, kata Nancy suatu pagi sebelum berangkat kerja kepada suaminya. “Aku juga ingin sayang, tapi kau tahu pekerjaan kita sangat banyak.”, jawab Bob sambil membaca Koran. Nancy hanya tersenyum dan diam. Tampak kekecewaan terpancar dimatanya.

Setelah sekian tahun memendam perasaannya ingin menghabiskan waktu bersama suaminya, Nancy suatu malam tidak tahan lagi. Dia merasa sangat kesepian. Masa suami istri tinggal serumah untuk bertemu saja harus dikamar tidur dan itu pun sama-sama sudah lelah. Hanya kata selamat tidur yang terucap. Malam itu Nancy mengambil keputusan untuk berbicara dengan Bob. Apapun alasannya suaminya harus mau mengalah demi dia, walaupun itu cuma sehari.

“Sayang, bagaimana kalau akhir pekan ini kita keluar kota menghabiskan waktu bersama, seperti saat pertama kita menikah dulu”, Nancy membuka pembicaraan saat santap malam. “Hmm, itu ide yang bagus sayang, tapi aku harus cek jadwal dulu. Sepertinya aku ada pertemuan dengan kolega bisnis”, jawab Bob sambil meminum teh kesukaannya. “Tapi bisa dibatalkan kan? Aku hanya ingin bersamamu, berdua saja”, balas Nancy sedikit memohon.

“Aku akan usahakan sayang, tapi aku tidak janji ya”, kilah Bob pendek. “Lain kali kita bicarakan lagi ya, sekarang aku mau istirahat dulu. Besok pagi-pagi aku harus keluar kota”, sambung Bob tanpa memberi kesempatan kepada Nancy untuk menjelaskan. Sebelum berlalu kekamar, Bob mencium kening Nancy. Sejak mereka pacaran ciuman dikeninglah yang paling disukai Nancy. Tapi malam ini dan malam sebelumnya ciuman itu terasa hambar. Tidak ada perasaan yang tersampaikan, hanya rutinitas saja.

Dalam kesedihannya itu, Nancy menanggis tidak dapat menbendung perasaannya lagi. Saat Bob terlelap dalam tidurnya, Nancy terbangun. Dilihat pria disampingya yang dinikahinya 5 tahun yang lalu. Wajahnya semakin terlihat tua. Dibelainya wajah suaminya penuh sayang. Dalam kesedihannya Nancy teringat kenangan saat pacaran dulu. Bob adalah seorang karyawan biasa, dan dia mengenalnya saat secara tidak sengaja berpapasan dicafe kecil. Saat itu bob orangnya humoris dan penuh semangat. Bob menawarkan bantuannya untuk membawa belajaannya. Sejak saat itu tumbuh benih-benih cinta diantara mereka.

Nancy menyukai bob yang spontan dan penuh kejutan. Bob menyukai Nancy yang cerdas dan penuh ide-ide menarik dikepalanya. Kini, pria humoris itu mulai menua. Canda tawanya mulai berkurang, tapi semangatnya tetap ada, walaupun bukan untuk dirinya. Dalam kesedihan yang dalam, Nancy berlutut diranjangnya. Dilipat jemarinya dan berdoa, “Ya Tuhan, terimakasih Kau telah mengirimkan malaikat padaku, dan terimakasih padaMu sampai saat ini dia masih tidur diranjangku. Aku tidak meminta apa-apa ya Tuhan, tapi ijinkanlah aku memohon agar setiap malam dia bisa tidur disampingku dan saat pagi dia tetap disampingku”.

Setiap malam Nancy berdoa terus memohon kasih-Nya. Tapi tidak ada perubahan yang terjadi. Malah Bob lebih sering diluar kota. Dalam lamunan disuatu pagi, Nancy pergi berbelanja membawa mobilnya. Tapi pagi ini dia terasa agak pusing dan tetap ia paksakan pergi. Manusia memang bisa berencana, tapi Dia yang menentukan segalanya. Dalam perjalanan Nancy mengalami kecelakaan. Mobilnya menabrak pagar pembatas jalan.

Terdengar derap langkah kaki berlari dilorong rumah sakit. Pria ini terlihat berlari kecil dengan wajah pucat cemas. Ya, dia adalah Bob. Dia mengetahui istrinya kecelakaan saat ditelepon oleh pihak rumah sakit. Sekarang keadaan Nancy dalam kritis. Tubuhnya tidak terluka parah. Tapi saat kecelakaan, kepalanya terbentur cukup keras. Dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawanya.

6 jam telah berlalu. Akhirnya lampu ruang ICU padam. Bob yang dari tadi sangat cemas dan berdoa terus berlari kearah dokter. “Bagaimana keadaan istriku dok? Apakah dia baik-baik saja?”, Tanya Bob penuh harap. Matanya merah. Pipinya basah oleh air mata. “Tuan Bob, tenanglah. Istri anda keadaannya baik-baik saja. Kami telah berusaha semampunya, sekarang istri anda tertidur. Mungkin mau beberapa hari baru bisa siuman”, jawab dokter ramah.  Mendengar hal itu Bob langsung terduduk lega sambil berkata, “Terimakasih Tuhan, terimakasih banyak…,  terimakasih…”.

Setiap malam Bob menjaga istrinya dirumah sakit. Tapi istrinya memasuki hari ke-5 masih belum siuman. Saat hendak berangkat menjaga istrinya, Bob melihat sekeliling rumahnya. Dulu rumah mereka tidaklah sebesar sekarang, tapi hari-hari dipenuh cinta. Kini mereka tinggal diistana, tapi tanpa yang dulu mereka bangga.  Dalam lamunannya Bob melihat sebuah diari diatas meja rias istrinya. Bob heran sejak kapan istrinya punya diari. Karena penasaran bob membuka diari tersebut dan membacanya.

“Tahun pertama, aku sungguh bahagia, akhirnya aku menikah dengan pria idamanku. Namaku yang semula Nancy Dale berganti jadi Nancy Wright. Dan itu nama belakang suamiku. Aku sayang sekali padamu suamiku”.

“Tahun pertama, bulan Desember. Bob memberiku anting-anting dari hasil tabungannya. Aku senang sekali. Aku tahu Bob pasti malu memberikanku anting-anting murah ini. Tapi dia tidak tahu betapa aku bahagia sekali mendapatkannya. Bukan anting-antingya yang membuatku bahagia, tapi anting-anting ini dari orang yang sangat kusayangi”.

“Tahun kedua, bulan Januari. Bob memintaku keluar dari perusahaan. Dia mengajakku membuka bisnis sendiri. Aku sangat bahagia. Bukan karena dia mengajakku buka bisnis, tapi dia begitu mempercayaiku. Aku tanpa berpikir dua kali ku iyakan. Aku tahu hidup kami akan lebih sulit karena aku berhenti, tapi demi suamiku aku bahkan rela membuang semuanya asal dia bersamaku”

“Tahun kedua, bulan September. Bisnis kami berkembang luar biasa. Bob begitu bersemangat. Dia selalu memujiku didepan karyawan kami, padahal dialah yang punya andil paling besar. Aku bahagia sekali. Bukan karena bisnis kami membesar, tapi melihatnya semangat dan berbicara padaku, aku sangat senang melihat senyum dan tawa lepasnya”.

“Tahun ketiga, bulan Maret. Bisnis berkembang lebih pesat lagi. Aku dan Bob menjadi sangat sibuk. Waktu kami tersita kedalam pencarian materi yang tidak berkesudahan. Aku sebenarnya mulai kesepian. Bahkan saat kuminta seorang bayi Bob memintaku menundanya. Sejujurnya aku agak sedih, tapi demi dirinya aku rela”.

“Tahun ketiga, bulan Juli. Aku merasa kesepian. Kami selalu bertemu, tapi dalam status pemilik bisnis, bukan sebagai suami istri. Malam yang selalu kurindukan, duduk bersama sambil bercanda tawa telah memudar. Buku-buku kesukaan kami sekarang berganti dengan nota-nota pesanan dan penjualan. Aku ingin meminta suamiku berlibur sebentar, tapi melihatnya selalu kecapekan saat sampai dirumah aku tidak tega”.

“Tahun keempat. Aku merasa sangat kesepian. Aku ini wanita dan yang aku perlukan adalah waktu suamiku bersamaku. Aku beberapa kali memintanya, tapi jawabannya selalu sama. Aku tidak tahu bagaimana harus kuungkapkan perasaan ini, hanya diari ini yang menjadi curhatku. Tapi, seberapa aku sangat membutuhkan tidak mengapa dia tidak bisa, asal dia masih bersamaku”

“Tahun kelima, bulan Februari. Aku sangat kesepian. Sangat sangat kesepian. Aku hanya perlu sebuah pelukan dari suamiku. Pelukan hangatnya dan senyum pesonanya. Aku perlu ciuman dikeningku yang penuh cinta. Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku lebih memilih tidak menukar semua bisnis ini hanya demi pelukannya. Aku rela tinggal digubuk sederhana asal tiap hari bisa bersamanya”.

“Suamiku, aku sangat mencintaimu, dan aku tahu kau juga sangat mencintaiku. Tapi cinta yang kubutuhkan bukan sesuatu yang berwujud dan terlihat. Yang kuinginkan cintamu sepenuhnya. Yang kuinginkan cinta saat pertama kali kita menikah. Tawa dan canda menghias setiap malamku. Masalah yang kita bahas bersama penuh jenaka. Dan kecupan dikeningku yang menenangkanku. Tapi, aku ragu apakah masih bisa seperti dulu. Yang aku tidak pernah ragu adalah aku selalu mencintaimu. Sangat”.

Mata Bob berkaca-kaca. Ternyata istrinya begitu mencintainya sampai memendam perasaan ini begitu lama. Malam itu Bob sadar akan semua yang terjadi. Dia mengira dengan makin kaya istrinya akan semakin mencintainya. Dia mengira dengan memberi rumah dan mobil mewah istrinya akan bahagia. Bob juga tidak salah, sejak muda dia selalu dihina karena kurangnya harta sehingga dia bersumpah akan membahagiakan wanita yang dinikahinya kelak dengan segalanya.

Tapi Bob juga menyadarinya, ternyata tidak semua wanita itu seperti dalam gambarannya. Bob mengira dengan segala kemewahan yang didapatnya, istrinya akan bahagia, dan memang istrinya bahagia degan segala kemewahan itu. Hnya saja itu untuk beberapa tahun pertama dan hanya bisa bertahan sementara. Bob menyesal. Sangat menyesal telah mengecewakan istrinya yang begitu setia dan mencintainya tanpa sekalipun berkeluh kesah didepannya.

Jam dinding menunjukan jam 7 pagi. Terlihat Bob tertidur disamping Nancy. Pagi itu cahaya matahari begitu lembut. Dengan perlahan mata Nancy terbuka. Akhirnya, pada hari ke-7 Nancy siuman. Dilihat disamping seorang pria tertidur samping memegang tangannya. Nancy tahu itu adalah suaminya. Terlihat guratan usia diwajah suaminya. Dia tampak begitu damai dalam tidurnya. Nancy tidak pernah melihat suaminya tertidur begitu damai.

Nancy mencoba pelan-pelan bangun. Saat hendak menutupi suaminya dengan selimut, Nancy melihat buku diarinya. Nancy terkejut. Akhirnya dia tahu kenapa suaminya bisa tertidur begitu damai. Tak lama kemudian suaminya terbangun.“Sayang…?, kamukah itu…?”, tanya Bob begitu bahagia hampir tidak percaya melihat istrinya siuman.

“Iya suamiku tersayang, terimakasih selama ini menjagaku ya. Terimakasih atas semua ceritamu yang kamu kisahkan saat aku tertidur tidak sadarkan diri. Aku bisa mendengar semuanya…”, jawab Nancy lembut sambil membelai wajah suaminya yang basah oleh air mata. “Aku begitu cemas dan merindukanmu sayang, aku.., .aku…”, kata Bob terisak-isak tak mampu menyelesaikan kalimatnya saking bahagianya. Digenggam jemari halus istrinya yang mulai kurus sambil menanggis dalam pangkuan wanita yang sangat dicintainya itu.

Nancy yang mengerti benar sifat suaminya itu, hanya memberikan sebuah kecupan lembut dikening Bob. Bob sambil menanggis meminta maaf atas segala kelalaiannya selama ini. Bob sangat menyesal telah menyiakan seorang malaikat yang telah Tuhan beri. Apalah arti harta, tahta dan rupa yang wah jika hanya untuk menjaga seorang wanita saja tidak bisa.

Setelah berselang beberapa waktu, kedua insan ini mulai bisa bercanda. Dokter juga memastikan bahwa istrinya beberapa hari lagi bisa keluar dari rumah sakit dan pulang kerumah. Pesan dokter kepada mereka adalah Nancy belum boleh bekerja terlalu keras, dan dokter juga pastikan bahwa Nancy dalam keadaan sehat.

Bob juga telah belajar sesuatu yang sangat berharga dari pengalamannya dan dia berjanji akan menjaga malaikatnya itu tidak dengan segala sesuatu yang serba mewah seperti yang diberikan sebelumnya, tapi dengan tindakan kecil dan sederhana seperti kecupan selamat pagi yang penuh cinta, waktu canda dan tawa bersama, dan ciuman mesra dikala malam sambil bermain dengan malaikat-malaikat kecilnya kelak.

“Sayang…, ayo bangun. Daddy sudah menunggu dibawah tuh. Kemarin kan Daddy sudah janji mau ajak kalian kolam renang. Atau kalian tidak jadi ya…”, terdengar suara Nancy yang lembut membangunkan kedua putrinya. “Tunggu mommy, kami segera bangun. Bilang sama Daddy kami akan segera turun”, jawab Cindy putri sulungnya. “Bagaimana dengan kamu malaikat kecilku”, Tanya Nancy pada putri bungsunya. “Tentu saja mau dong Mommy, tapi Angel mau dicium mommy dulu”, balas Angel penuh manja. “Nih mommy kasih yang special”, cium Nancy penuh sayang.

“Anak-anak…, ayo berangkat”, terdengar suara Bob memanggil dari bawah. “Oke Daddy, kami siap”, jawab Cindy dan Angel serentak. “Tunggu dimobil ya”, kata Bob. “Nah, sekarang bagaimana dengan permaisuri hatiku? Apakah dia sudah siap menemani aku bersama malaikat-malaikat kecilku?” Tanya Bob kepada istrinya. “Dengan senang hati baginda”, goda Nancy sambil mengecup suaminya. “Istriku, apa lagi yang harus kulakukan untuk membuatmu lebih bahagia?”, Tanya Bob dengan mimik agak serius sebelum berangkat.

Dikecup pipi suaminya dengan lembut Nancy berkata. “Kau telah melakukan semuanya sayangku. Kau telah mengetahuinya dari diary ku, dan aku tidak perlu diary itu lagi, karena aku telah mempunyai diary jiwa dan diary itu berdiri dihadapanku….”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s