Pangeran dan kodok


The frog

“Mommy, mommy, kenapa difilm itu putri mencium seekor kodok dan kodok itu menjadi pangeran? apakah putri tidak merasa jijik mencium kodok tersebut?”, tanya seorang anak perempuan kecil pada ibunya. Matanya besar dengan bola mata berwarna biru muda. Rambutnya pirang keemasan dibiarkan terurai dengan sedikit bergelombang diujungnya. Dengan pita merah muda dikepalanya anak perempuan kecil ini terlihat sangat cantik dan manis. Berdiri disamping kirinya adalah seorang wanita yang sangat cantik yang dipanggil anak perempuan kecil ini mommy.

Rambutnya sama pirang keemasan. Bola matanya sama biru mengoda yang memandang. Disekitar rambutnya juga terlihat sebuah ikat rambut kecil model kupu-kupu manis berwarna merah muda. Wanita cantik ini tersenyum pada anak perempuan kecil ini saat mendengar pertanyaannya yang polos. Lalu wanita ini menurunkan badankan sedikit berjongkok. Dikecupnya malaikat kecil ini dengan penuh sayang.

“Angel lebih suka sikodok atau sipangeran?”, tanya wanita cantik ini sambil merapikan baju dan rambut anak perempuan kecil ini yang ternyata bernama Angel. “Hmm…”, Angel berpikir dengan kepalanya ditopang oleh tangan kirinya. Sungguh menggemaskan. “Angel suka dua-duannya, tapi Angel sedih kodoknya hilang”, jawab Angel polos. Wanita cantik yang dipanggilnya mommy ini hanya tertawa kecil sambil memeluk erat gemas dengan jawaban putri kecilnya yang masih belum mengerti sepenuhnya film yang barusan dilihatnya. Wanita ini lalu memegang tangan malaikat kecilnya tersebut. Dipandanginya dengan lembut dan dikecup keningnya dengan penuh sayang.

“Angel sekarang mungkin belum mengerti, tapi kodok dan pangeran itu sama. Bukan karena dicium oleh putri lalu kodok menjadi pangeran, tapi memang sejak awal kodok itu adalah pangeran. Saat kita memilih dan menerima seorang “kodok” dengan apa adanya, maka seorang “pangeran” adalah hadiah dari-Nya dari surga dan ciuman itu adalah buktinya”. “Apakah tuan putri tidak jijik? Jika kita telah mencintai seseorang dengan tulus, fisik, latar belakang maupun segala perbedaan bukanlah halangan, dan “jijik” itu menjadi “cantik”. Tapi sayangnya kebanyakan tuan putri yang sekarang lebih suka memilih mencium “pangeran” daripada “kodok” walaupun mereka tahu bahwa “pangeran” yang mereka cium kelak akan menjadi “kodok”, jelas wanita cantik ini dengan penuh makna.

“Lalu mommy waktu masih jadi tuan putri mommy mencium apa?”, tanya malaikat kecilnya dengan senyuman yang sangat manis sekali. Bola matanya berbinar-binar seakan-akan sedang menguji mommynya. Wanita ini membalas senyuman malaikat kecilnya. Sebelum wanita cantik ini menjawab, dari kejauhan terlihat seorang pria tambun turun dari mobil tuanya dan datang menghampiri mereka dengan senyumannya yang khas dan ramah. Wanita cantik ini memeluk malaikat kecilnya lalu berkata sambil melirik mesra pada pria tambun ramah ini.

“Mommy mencium kodok”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s