Cassy


My name is Cassy

“Plok…, Plok…, Plok…”, terdengar riuh meriah tepuk tangan dan sahut-sahutan pujian tanpa henti disebuah rumah ibadah yang sangat indah dan mempesona. Pintu gerbang utamanya tersusun dari kayu-kayu dari bahan terbaik dengan ukiran yang sangat memanjakan mata. Tiang-tiang penyangga dihias dengan pahatan sempurna para seniman pilihan dari berbagai penjuru dunia. Sedangkan dinding-dinding yang membentuk rumah ibadah tersebut bertahtakan batu-batu pualam mahal yang berkilauan indah. Sungguh sebuah rumah ibadah yang tidak akan ditemukan lagi dibelahan dunia manapun.

Suara tepuk tangan masih terdengar jelas dari luar rumah ibadah tersebut. Saat aku memasuki gerbang besar nan indah itu, kulihat sesosok pria dengan baju dari bahan sutera terbaik sedang berkhotbah. Wajahnya tampan dengan hidung yang mancung. Bola matanya berwarna kehijauan seperti kilau zambrud. Rambutnya keemasan disirami cahaya-cahaya matahari yang menerobos masuk. Tinggi dan berwibawa. Dialah yang sedang disorak-soraki oleh para umat dirumah ibadah ini, dan pria ini bernama tuan Myers.

Tuan Myers adalah seorang pemimpin khotbah yang sangat taat kepada DIA. Seorang dermawan sekaligus jutawan. Setiap ada acara atau hari khusus, tuan Myers tidak pernah absen kerumah ibadah tersebut. Bahkan dia selalu menjadi yang pertama hadir dan yang terakhir pulang. Dan saat ini tuan Myers baru saja selesai memimpin doa dengan diakhiri bercucuran air mata para umat disana karena tersentuh doanya yang indah.

Doa apakah yang bisa menyentuh hampir semua umat yang berada dirumah ibadah tersebut? Tentunya itu pertanyaan yang diajukan kalian padaku bukan? sejujurnya, aku juga tidak tahu. Bukan karena aku tidak mau tahu, tapi aku benar-benar tidak tahu. Lagipula ini bukan cerita tentang tuan Myers. Memang harus diakui bahwa rumah ibadah ini dibangun olehnya dengan dana keluarga besarnya dan umat disana juga.

Setelah beberapa puluh menit aku disana merasakan aura mereka yang sepertinya tidak habis-habisnya, aku pun berlalu keluar dari rumah ibadah nan indah itu. Aku masih terbawa suasana yang menyemangati itu sehingga aku merasa sangat bersemangat. Sebelum aku jauh dari rumah ibadah itu, masih kudengar mereka berdoa sekali lagi untuk mengakhiri ibadah mereka.

Kubiarkan angin sore bermain-main dengan tubuh kecilku. Mataku asyik mengagumi bunga-bunga indah ditaman bersama beberapa temanku. Tidak jauh dari depan rumah ibadah itu, aku melihat dua sosok manusia yang sangat kukenal. Aku mencoba menghampiri mereka, dan ternyata benar, mereka adalah temanku. Yang satu usianya sekitar 30an dan satunya sekitar 6 tahunan. Ya, itu adalah temanku bersama malaikat kecilnya.

Saat aku ingin menyapa mereka aku mengurungkan niatku. Bukan karena aku tidak mau, tapi aku tidak mau menganggu mereka yang sedang berdoa. Sang bunda dengan sabar dan penuh kasih sayang mencoba mengajari malaikat kecilnya melipat tangan. Sedangkan sikecil terlihat sedikit kerepotan dan menganggap ibundanya sedang bermain dengannya. Tawa bahagia nan menyejukkan rasa terpancar dari wajah mereka.

Mengapa mereka tidak bergabung didalam rumah ibadah yang tak jauh dari hadapan mereka itu? Sejujurnya aku tidak tahu. Yang aku tahu mereka berpakaian compang-camping, lusuh dan terlihat kotor. Rambut mereka terlihat agak acak-acakan diterpa hembusan angin sore yang sejuk. Sepatu mereka penuh tambalan dimana-mana. Pita yang menghias rambut sikecil bahkan sudah berubah warna. Apakah karena penampilan mereka seperti itu yang membuat mereka tidak bergabung bersama lainnya dirumah ibadah itu? Sejujurnya lagi, aku tidak tahu.

Wanita yang masih cantik ini bernama nyonya Mike dan putrinya yang manis Angelica. Nyonya Mike adalah seorang janda yang ditinggal pergi oleh suaminya saat Angelica masih belia. Masih segar dalam ingatanku kejadiannya terjadi 5 tahun yang lalu. Rumah ibadah nan indah ini sebelumnya adalah sebuah rumah ibadah yang sangat sederhana dengan umat yang seadanya juga. Waktu itu terjadi kebakaran hebat akibat kelalaian seorang pemuda yang membakar sampah disekitarnya.

Api yang memerah ditambah hembusan angin yang kencang membuat rumah ibadah yang hanya dibangun dari kayu-kayu sederhana itu hangus dalam sekejab mata saja. Sebelum api memakan semua rumah ibadah tersebut, ternyata dalam rumah ibadah itu ada seorang anak perempuan kecil yang terperangkap didalamnya. Sang ibu dari anak perempuan itu berteriak histeris seakan-akan hendak gila. Sedangkan sang anak didalam terlihat hanya bisa menanggis ketakutan. Semua warga disana sudah pasrah bahwa anak perempuan itu tidak akan tertolong lagi. Akupun hanya terpaku diam menyaksikan tragedi itu semua.

Tiba-tiba kulihat seberkas cahaya putih berlari melewatiku. Cepat sekali. Aku terjatuh disenggol oleh sosok cahaya putih ini. Lalu kudengar teriakan histeris orang-orang berkerumunan disana. Aku mencoba bangun dan melihat ternyata sosok cahaya putih itu adalah sosok seorang pemuda yang aku kenal. Dia adalah tuan Mike.

Dengan secepat kilat tuan Mike melompat menerobos masuk kedalam kobaran api yang sepertinya sedang tertawa mengejek kami yang tidak berdaya menghadapinya. Semua yang melihat kejadian itu hanya bisa menahan napas dan berdoa. Kayu-kayu penyangga atap mulai berjatuhan dan patah dimakan api yang semakin membesar. Ibu dari anak yang terperangkap api tersebut semakin histeris sambil berteriak memanggil nama anaknya.

Saat hampir roboh semua rumah ibadah itu, tiba-tiba tuan tuan Mike melompat keluar sambil mengendong anak perempuan yang terperangkap didalam rumah ibadah tersebut. Sang anak sedang menanggis meraung-raung memanggil nama ibunya. Ternyata anak itu selamat dan tidak ada luka bakar sama sekali. Hanya tangisan keras disertai batuk-batuk karena asap yang dihirupnya. Sedangkan tuan Mike, saat menyerahkan anak perempuan tersebut yang baru diselamatkannya, dia menghembuskan napas terakhirnya saat dibawa kerumah sakit terdekat.

Tiada kata-kata, hanya air mata berjatuhan dari wajah seorang wanita saat melihat pria yang telah memberikannya seorang bayi mungil ini telah tiada. Tiada suara, hanya sentuhan lembut penuh kasih membelai wajah sang pria. Akupun tidak mampu berkata apa-apa. Aku hanya memalingkan wajah tidak mampu menyaksikan wanita cantik ini meneteskan air matanya. Tidak ada kata-kata, tidak ada suara, tidak ada teriakan sebagaimana kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Yang ada hanya air mata.

Ya, itulah kisah yang sangat menyakitkan tentang nyonya Mike. Seakan nasib mempermainkannya, semua harta benda, rumah dan semuanya yang berharga disita oleh bank untuk membayar pinjaman suaminya semasa hidup. Dan yang lebih menyedihkan lagi, cincin janji sumpah setia dijari manisnya pun disita hanya untuk melunasi pinjaman suaminya. Padahal pinjaman itu sendiri masih jauh jatuh temponya.

Nyonya Mike yang telah kehilangan suaranya yang menurut dokter karena syok ditinggal suaminya tidak bisa membela diri karena tidak ada yang bisa disuarakannya. Hanya air mata dan gerakan mulut dan tangan tidak jelas yang menjadi pembelaannya, sedangkan sikecil hanya bisa menanggis tidak mengerti apa yang sedang terjadi disekelilingnya.

Untunglah manusia diberi HATI oleh DIA yang Maha pengasih. Saat yang lain sedang menutup mata melihat saudari mereka diperlakukan semena-mena, ada seorang wanita tua yang bersedia menampung nyonya Mike berserta putrinya. Wanita tua ini berharapa nyonya Mike dan putrinya mau menerima ajakannya tinggal bersama karena selama ini dia merasa kesepian semenjak suaminya tuan Howard meninggal karena sakit.

Tapi, kebaikan wanita tua ini hanya dibalas sebuah pelukan hangat dan ciuman lembut dari nyonya Mike. Lalu nyonya Mike berlalu sambil melambaikan tanganya yang kotor dengan mengendong putrinya. Hanya senyuman yang sangat, sangat dan sangat manis menghias wajahnya. Wanita tua ini tidak bisa berkata apa-apa sambil memegang mulutnya menahan tanggisannya. Aku pun sekali lagi memalingkan wajahku tidak mampu menyaksikan semua kisah itu.

Kini, lima tahun telah berlalu. Dari kejauhan aku masih melihat nyonya Mike bermain dengan ceria dengan putri satu-satunya itu. Canda tawa bahagia menghias setiap wajahnya. Putrinya berlarian bermain kejar-kejaran dengan beberapa temanku. Aku pun mencoba mendekat kepada nyonya Mike. Dia melihatku sambil tersenyum manis. Lalu akupun duduk disampingnya sambil memandangi rumah ibadah didepan kami berdua.

Tidak terasa bulan Desember telah tiba. Musim dingin telah datang lebih awal dan salju-salju mulai berjatuhan menghiasi pohon-pohon dan jalanan. Saat itu aku sedang berjalan-jalan bersama seorang temannku. Karena merasa kedinginan oleh hembusan angin malam, aku mengajak temanku untuk berteduh sebentar dirumah ibadah nan indah itu sekedar mencari hangat untuk tubuh. Temanku mengiyakan dan kamipun mendekati rumah ibadah itu. Sesampainya disana, kami terkejut bukan kepalang.

Kulihat seorang wanita dengan pakaian compang-camping, lusuh dan kotor sedang terbaring seperti tertidur didepan pintu gerbang rumah ibadah tersebut. Mereka terbaring disudut pintu tersebut dengan tubuh meringgkuk menahan dingin. Ya, maksud aku mereka karena wanita ini bersama seorang anak kecil dalam pelukannya. Dan wanita ini adalah teman terbaikku, nyonya Mike dan putrinya.

Aku begitu kalang kabut melihat teman terbaikku terbaring lemah disana. Kupanggil namanya dengan sekeras-keras agar dia terbangun. Tapi sekuat apapun aku berteriak memanggil namanya, nyonya Mike tidak mendengarkannya. Kubelai wajahnya dengan tanganku.  Ya Tuhan wajahnya terasa sedingin es, tapi masih kudengar napas dari mulutnya dan juga putrinya.

Setelah meminta temanku menjaga mereka, aku dengan secepat kilat meminta bantuan kepada mereka yang tinggal tidak jauh dari rumah ibadah tersebut. Tapi setiap rumah yang aku kunjungi tak ada yang membukakan pintu. Aku mengetuk pintu sekuat-kuatnya, tidak ada yang pedulikan. Aku mencoba menerobos masuk tapi aku malah diusir dengan cacian. Setiap rumah yang menolakku saat kuintip dari luar jendela, semuanya sibuk mempersiapkan datangnya hari raya Natal.

Aku hampir putus asa, tapi aku tidak ingin memikirkannya. Aku terus mengetuk setiap pintu rumah yang bisa kutemui. Tanganku bahkan telah berdarah-darah karena terus mengetuk tanpa henti. Hasilnya? Nihil. Akhirnya aku tiba pada sebuah rumah mewah yang sangat eksotis. Aku tahu ini rumah siapa dan aku tidak peduli dia siapa lagi. Aku langsung menghampiri pintu rumah tersebut. Saat aku hendak mengetuk pintu itu, tiba-tiba seorang wanita keluar dan memukulku hingga terjatuh dengan sapu.

Dalam setengah sadarku, aku mencoba bangun dan berusaha berdiri. Aku tidak peduli dengan kondisi tubuh dan mengapa wanita ini memukulku. Yang ada dalam kepalaku sekarang adalah nyonya Mike dan putirnya Angelica harus ditolong. Tapi saat aku hendak berdiri lagi, aku dipukul lagi hingga aku tidak sadarkan diri. Samar-samar kudengar cacian wanita ini yang ditujukan padaku tapi aku tidak tahu apakah itu. Setelahnya, aku kehilangan kesadaranku.

“Cassy…, Cassy sayang…, ayo bangun”, terdengar suara yang lembut memanggil namaku. Aku mencoba membuka mataku pelan-pelan. Samar-samar kulihat seorang pria  yang sangat tampan didepanku sambil tersenyum ramah. Tiba-tiba aku tersadar penuh dan melompat. “Tuan, tuan harus menolong saya, temanku sedang terbaring lemah disebuah rumah ibadah tak jauh dari sini”, kataku dengan sangat cemas sekali. Pria ini hanya tersenyum padaku.

“Tenang Cassy, temanmu dan putrinya sudah aman. Saudara-saudariku telah disana membantunya”, jawab pria ini sekali lagi dengan senyumannya yang ramah. Entah kenapa saat mendengar jawabannya itu aku merasa damai dan sedikit lebih tenang. “Mari, aku akan mengantarmu kesana, ketempat temanmu”, lanjutnya sambil mengajakku.

Dalam perjalanan kesana pikiranku antara senang dan juga cemas. Senang karena nyonya Mike beserta putrinya telah ditolong. Cemas karena aku belum melihat dan memastikannya sendiri. Saat aku bergejolak dengan pikiranku, aku baru sadar bahwa aku tidak merasakan dingin, padahal malam ini salju sedang turun dan anginnya berhembus dengan cukup kencang. Tapi belum selesai aku mencari jawaban atas pertanyaanku sendiri, aku mendapati wajahku hangat dialiri oleh air saat aku tiba disana, dan air itu air mataku.

Nyonya Mike masih terbaring “tertidur” disana bersama putrinya dalam pelukannya. Wajahnya memutih semua. Kaki dan tangannya membeku diterpa salju malam. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku terlambat. Dengan tangan dan kaki gemetaran aku mendekati nyonya Mike dan putrinya yang telah “tertidur” tidak akan bangun lagi. Kulihat senyumannya menghias wajahnya dan juga putrinya. Aku tidak mampu menahan tanggis lagi kali ini. Dan aku juga tidak memalingkan wajahku lagi karena aku tahu kali ini mereka “tertidur” dalam bahagia.

Kupandangi pria yang tadi menolongku dan membawaku kesini. Aku sangat marah padanya dan ingin bertanya mengapa dia membohongiku bahwa nyonya Mike dan putrinya telah ditolong oleh saudara-saudarinya. Jangankan ditolong, saudara dan saudarinya bahkan tidak kutemukan disana. Belum sempat aku ingin mengutarakan kemarahanku, kulihat temanku datang membawa setangkai bunga mawar merah.

“Co…”, saat aku akan ingin menyapanya, temanku menembus tubuhku saat melewatiku. Aku terkejut sekali. Mengapa? Bagaimana? Apakah aku telah…? kubalikkan tubuhku dan aku mengejar dia. Saat dihadapannya kulihat matanya terlihat sayu. Lalu kulihat dia meletakkan tiga tangkai bunga mawar yang dibawarnya didekat nyonya Mike dan putrinya “tertidur”. Aku terkejut sekali mendapati bahwa yang diberi mawar itu bukan nyonya Mike dan putrinya saja, tapi aku juga dan aku berada dipelukan putrinya. Ya, aku telah…

“Cassy sayang, terimakasih kamu telah begitu menyayangi nyonya Mike dan putrinya sampai-sampai kamu rela menukar dengan…”, kata pria tampan ini tidak melanjutkan perkataannya. Ya, aku pun tahu apa lanjutannya. Sambil memandangi nyonya Mike dan putrinya dan juga diriku sendiri, aku hanya bisa menghela napas. Ternyata apa yang telah kulakukan sia-sia. Nyonya Mike dan putrinya tidak berhasil kutolong.

“Cassy sayang, kau tidak melakukan hal yang sia-sia. Justru kamulah yang telah menolongnya”, kata pria ini seakan bisa membaca pikiranku. “Tapi sebelum kau bertanya mengapa aku bisa tahu, aku ingin kamu mengetahuinya bahwa nyonya Mike dan putrinya memang sengaja datang kerumah ibadah ini. Mereka bukan kehilangan tempat tinggal atau tidak punya tempat tinggal, tapi ini semua keinginan mereka”, lanjut pria tampan ini. “Maksudnya?” ,tanyaku bingung.

“Cassy, Nyonya Mike dan putrinya telah disini selama 8 hari, dan malam ini adalah malam ke-9 mereka. Mereka kesini karena mereka ingin memanjatkan doa dan bersyukur, tapi karena hari raya Natal hampir tiba dan mereka tahu bahwa pada hari raya tersebut gereja ini akan penuh sesak, jadi mereka merayakannya dahulu seperti malam ini. Saat semua sibuk mencari hadiah, saat semua berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara, saat mereka mensyukuri semuanya dirumah, saat itulah mereka datang kesini beribadah dan berdoa”.

“Aku tahu kau pasti bertanya mengapa Bapaku yang diatas sana membiarkannya? Ketahuilah, Bapaku TIDAK PERNAH menelantarkan umat-Nya, Bapaku mencintai semuanya tanpa membedakan siapapun dia. Dan kepada wanita dan putrinya inilah Bapaku mengirim aku dan saudara-saudariku menjemputnya secara pribadi karena cintanya yang begitu besar kepada mereka”.

“Saat dia kehilangan suaminya pada kejadian kebakaran dulu, wanita ini berdoa kepada Bapaku agar suaranya diberikan pada anak yang ditolong suaminya. Karena saat kebakaran itu tenggorokan sang anak rusak oleh batuk yang disebabkan asap kebakaran sehingga tidak bisa berbicara lagi. Karena rasa cintanya atas pengorbanan suaminya dan sesamanya wanita ini berdoa demikian, dan dia rela menjadi bisu”.

“Saat semua harta benda suaminya disita untuk melunasi pinjaman suaminya semasa masih hidup, wanita ini berdoa kepada Bapaku agar mereka yang mengambil semuanya darinya agar diberi ampunan serta diberi rejeki berlimpah ruah sehingga mereka kelak bisa berkecukupan dan menyisihkan sebagiannya untuk membantu sesama”.

“Saat semua menutup mata dengan kondisinya yang menyedihkan, saat semua menghindarinya karena pakaiannya, saat semua mencibir karena bau tubuhnya, wanita ini berdoa kepada Bapaku agar mereka yang menutup mata, mereka yang menghindarinya dan mereka yang mencibirnya diberi berkat dan dieratkan dalam sebuah keluarga besar yang penuh cinta”.

“Dan, yang pertama dan terutama, saat mereka semua melarangnya memasuki gereja dimana kenangan tentang suaminya tertanam disana dengan alasan dia tidak pantas memasuki rumah ibadah karena apa yang dinilai mata, wanita ini justru berdoa meminta pengampunan atas dosanya karena membuat mereka semua berpikir demikian tanpa sedikitpun membencinya. Apakah pantas menurutmu wanita yang hatinya seindah pelangi ini ditelantarkan?”.

“Dan ketahuilah, doa yang terindah bukanlan doa yang diucapkan dengan mulut dan kepala. Bukan juga dengan kata-kata indah. Bukan pula bagaimana dan seberapa indah kamu menyentuh perasaan manusia hingga meneteskan air mata. Tapi doa yang paling indah adalah doa yang tidak terucap oleh kata-kata tetapi diucapkan dengan kerinduan HATI  yang paling dalam”.

“Rumah ibadah yang terindah juga bukanlah yang dibangun dari batu permata dan batu pualam yang paling sempurna, tetapi yang dibangun dari “BATU HIDUP” dan “BATU DOA”. Kamu memang bisa menyenangkan manusia dengan segala hal yang dibanggakan manusia, tapi DIA hanya bisa dibanggakan dengan apa yang berkenan dihati-NYA, dan itu adalah CINTA dan KASIH SESAMA”.

“Kukatakan padamu Cassy, teman yang paling kamu sayangi itu telah mendapatkan tempatnya dan sudah berbahagia, dan kamupun akan mendapatkan tempatnya juga. Sekarang ikutlah aku kembali pada keluargamu karena mereka sedang menunggumu”, lanjut pria tampan ini tersenyum penuh makna. “Tapi, siapakah keluargaku? Sejak kecil aku sudah yatim piatu”, tanyaku dengan linangan air mata. Pria tampan ini membelaiku. Lalu dia mengedipkan matanya agar aku membalikan tubuhku.

“Cassy…”, terdengar suara nan lembut dari arah belakangku. Suara yang sangat kukenal. Pelan-pelan kubalikkan tubuhku. Kulihat seorang wanita yang sangat cantik sekali. Disampingnya berdiri seorang pria yang wajahnya tidak akan pernah kulupakan. Lalu aku dihampiri seorang gadis kecil yang manis sekali. Dia membelaiku dan, dia memelukku. “Terimakasih ya Cassy, terimakasih selama ini menjaga dan menemani kami disaat suka dan duka”, katanya sambil mengecup keningku.

Aku memeluk kembali gadis kecil ini dengan sayap-sayap kecilku. Aku menanggis tersedu-sedu. Aku yang kira sejak lahir tidak punya keluarga ternyata keluargaku sendiri justru mereka yang selalu kujaga. Aku yang sejak kecil mencari makan dengan paruh kecilku ternyata diberi makan oleh mereka dengan penuh cinta. Ya, aku hanyalah seekor burung kecil yang sangat mencintai mereka. Seekor burung gereja yang selalu menjaga dan menemani mereka.

Tidaklah heran mengapa tidak ada yang membukakan pintu untukku. Tidaklah heran tidak ada yang mengijinkanku masuk. Tidaklah heran tidak ada yang bisa mengerti apa perkataanku, dan tidaklah heran juga mengapa aku dipukul oleh wanita penghuni rumah mewah itu karena putranya alergi burung.

Apa yang kualami, apa yang mereka perbuat padaku, semuanya tidak aku pedulikan lagi. Aku terlalu bahagia untuk mengingat luka itu kembali. Tiba-tiba aku melihat seberkas cahaya yang yang terang turun dari langit. Cahayanya hangat sekali dan menentramkan. Lalu kudengar suara yang lembut dari atas sana yang memanggil kami untuk kembali pada-Nya.

Tubuh kami pelan-pelan terangkat keatas. Sebelum aku dan keluargaku menghilang bersama cahaya nan damai itu, aku bertanya pada pria tampan ini. “Wahai tuan yang baik hati, bolehkah aku mengetahui siapakah kamu? Dan kapan kita bisa bertemu lagi?”.

Pria ini hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.  Lalu kulihat beberapa helai bulu putih bersih berjatuhan dari langit mengelilingi kami. Semuanya ada sepuluh helai. Dari atas kejauhan kulihat pria ini ternyata tidak sendirian, disana ada saudara dan saudarinya. Mereka kira-kira ada sepuluh orang. Sebelum aku bersama keluargaku menghilang, pria ini mengucapkan namanya tanpa suara dan, aku tahu siapa dia.

“Terimakasih banyak tuan … “, kataku berbisik kecil sambil tersenyum puas dengan linangan air mata bahagia bercucuran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s