Bunga dan bunga


Don't judge your self by you self

Ditengah-tengah taman kota yang megah yang bertatakan batu-batu pualam kelas dunia, tumbuhlah bunga-bunga yang sangat indah saling memamerkan pesona warnanya. Warna merah yang menyatakan dirinya cinta dan gairah, warna putih yang menyebut dirinya suci dan terjaga, warna kuning yang menggambarkan semangat dan kuasa serta warna biru yang melambangkan kebebasan dan ketentraman. Bagi mata-mata yang melihatnya tidak rela untuk berpaling darinya, bagi para mahkluk bersayap lainnya taman itu adalah surga dunia.

Para belia bermain dengan ceria sambil bertanya pada ibunya, “Mommy apa nama bunga itu?”, dan sang ibu akan dengan senang hati menyebut namanya dan dibumbui kisah-kisah indah didalamnya. Para remaja akan berpose ria dengan mengabadikan kisahnya lalu kemudian memamerkannya didunia maya sambil menulis, “Aq y4n9 c4nt1q d4n bunga2 c4nt1q”, plus puluhan komentar dan tanda jempol yang membanggakannya.

Para pria dan wanita muda yang sedang jatuh cinta dan dipenuhi bahagia berikrar janji setia dengan rangkaian tangan mahkota bunga dikepala mereka. Sang pria akan menjadi pujangga sehari dengan  kata-kata indah yang diambil dari berbagai buku yang telah dibacanya.  “Cintaku seperti mawar putih ini, selalu setia dan selalu menjaga, saat dia layu nanti janganlah kau bersedih, karena bibit cintaku selalu tumbuh ditaman hatimu dan tak akan pernah layu”, rayu sang pujangga disertai sebuah kecupan mesra pada kekasih yang didepannya dengan pipi merona merah.

Ya, begitulah gambaran indah dari mata yang melihatnya. Semua terlihat indah, semua terlihat bahagia dan aku ikut berbahagia dengan mereka walaupun aku tidak pernah dipuja.

Aku juga berbunga, aku juga berwarna hanya saja tidak seindah mereka. Aku juga bernama, aku juga bertumbuh indah tapi hanya bagi mereka yang memahaminya. Sejujurnya kadang aku iri dengan mereka yang selalu dipuja-puja manusia. Kadang aku dengki dengan mereka yang selalu dijadikan ungkapan dan simbol cinta. Kadang aku marah mengapa mereka selalu mendapatkan posisi sebagai bunga-bunga yang  tumbuh indah dan dikagumi pangeran seperti kisah Cinderella sedangkan aku justru tumbuh sempurna dipot kusam yang dipuja oleh seorang nenek jahat dengan gigi berantakan berhidung panjang yang hobi terbang dengan sapunya.

Sering aku hendak menanggis saat melihat mereka disisipkan dirambut wanita dan sang wanita terlihat begitu bahagia sedangkan aku dimandikan dengan air mendidih dan diberikan pada mereka yang terbaring lemah. Sering aku hendak meraung melihat mereka begitu dijaga dan dipelihara sedangkan aku begitu mudah dilupa dan dibuang ketempat sampah. Sering aku ingin berteriak melihat mereka bisa dijamah dan dipetik siapa saja dan diberikan sebagai hadiah sedangkan aku dikurung dalam sebuah kotak transparan mudah pecah dan dilarang bagi yang ingin mendekatinya.

“Ya Tuhan mengapa Kau membuatku menderita?”, lirihku setiap malam tiba. Saat mereka sedang tertawa aku hanya bisa berurai air mata.  Mereka selalu diingat dan dipuja oleh beribu-ribu mata yang aku dapatkan hanyalah pandangan mata penuh kebingungan dan pertanyaan, “Ini apa?”. Jika aku bisa memilih aku ingin menjadi mereka, tapi, aku bersyukur aku bukanlah mereka.

Ya, semua itu adalah keluh kesahku. Semua itu adalah ketidaktahuanku. Dan semua itu dulu. Aku bersyukur aku menjadi apanya diriku. Aku bersyukur aku tidak boleh dipetik dan disentuh. Aku bersyukur aku dimandikan dalam air mendidih dan diberikan pada mereka yang lesu. Dan aku bersyukur temanku bukanlah kupu-kupu dengan sayapnya indah mempesonakan mata tapi seekor kutu yang bijaksana.

“Mengapa engkau menanggis?”, itulah perkenalan awalku dengan Jimmy sikutu saat dia bermain didaunku. Kuceritakan semua keluh kesahku pada Jimmy seperti awal kisahku. Aku keluarkan semua unek-unekku, dan Jimmy hanya mendengarkan penuh sabar dan tersenyum mendengar semua luapan hatiku. Setelah selesai bercerita, Jimmy melompat keatas kelopakku, lalu dia bertanya, “Apakah kamu yakin bahwa kamu tidak berharga seperti mereka?”.

Sejujurnya pertanyaan itu justru yang paling kutunggu-tunggu. Kenapa? Karena aku telah menyiapkan selusin bibit-bibit alasan yang akan tumbuh sendirinya dengan subur jika kukatakan. Tapi sebelum aku sempat menjawab, Jimmy memintaku melihat seorang anak perempuan kecil yang terjatuh didepanku berkejaran dengan teman mainnya.

Kulihat saja kejadian itu walaupun aku sendiri tidak mengerti apa maksud Jimmy memintaku melihatnya. Sianak perempuan kecil yang terjatuh itu menanggis karena lututnya luka dan berdarah. Teman-teman sebayanya hanya bisa kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Lalu kulihat seorang anak perempuan lain datang berlari kecil menghampirinya. Posturnya lebih besar dan aku menebak mungkin itu kakaknya.

Dihiburnya anak perempuan kecil itu dengan penuh sayang, tapi tanggisannya belum juga mereda. Lalu anak perempuan yang kutebak kakaknya itu meninggalkannya sambil berlari kecil. Anak perempuan kecil itu makin jadi menanggisnya. Berselang semenit kemudian anak perempuan yang tadi pergi kembali dengan membawa rangkaian bunga warna-warni seperti mahkota. Sungguh sangat indah. Lalu diberikannya pada anak perempuan kecil yang menanggis tadi.

Sungguh mengesankan, tanggisannya langsung saja berhenti dan terpaku pada mahkota yang dibuat dari kumpulan bunga-bunga indah itu. Aku dalam hati hanya bisa bergumam bahwa bunga-bunga itu memang luar biasa. Lalu anak perempuan yang lebih besar itu mencoba membantunya berdiri, saat hendak berdiri seketika saja anak perempuan kecil ini menanggis lagi. Dia memegang lututnya dan terduduk kembali. Ternyata rasa sakitnya kembali, dan mahkota bunga yang indah tadi hanya menghiburnya sesaat.

Ketika sianak perempuan yang kuanggap kakaknya kebingungan bagaimana menghentikan tanggis sianak perempuan kecil itu, tiba-tiba datang seorang wanita muda yang cantik. Matanya berwarna biru langit dan rambutnya diikat kebelakang model kucir kuda. Lalu wanita muda ini berlutut didepan anak perempuan kecil ini. Diambilnya mahkota bunga itu lalu dipakaikannya dikepalanya sambil mengecup kening anak perempuan kecil ini. Tanggisan anak perempuan kecil ini langsung jadi terisak-isak.

Wanita muda ini tersenyum manis sekali. Dilihatnya luka pada lutut perempuan kecil ini, kemudian wanita muda ini mengambil sesuatu dari kantong bajunya. Warna putih dengan corak gambar binatang yang lucu dan berbentuk persegi panjang. Pelan-pelan wanita muda ini meniup lutut anak perempuan kecil yang terluka itu, lalu ditempelkannya pada lututnya dengan sedikit erangan menahan perih. Wanita muda ini hanya tersenyum dan berdiri. Diulurkan tangannya pada sianak perempuan kecil ini memintanya berdiri.

Awalnya anak perempuan kecil ini terlihat enggan karena takut rasa sakitnya akan kembali. Tapi dengan sabar dan penuh sayang wanita muda ini menyakinkan bahwa rasa sakitnya tidak akan terasa lagi. Anak perempuan ini antara ragu dan percaya mencoba berdiri. Dengan memicingkan mata sambil melihat lututnya, dia mencoba berdiri pelan-pelan, dan, ternyata benar, lututnya tidak terasa sakit seperti sebelumnya. Bisa kulihat dengan jelas wajah perempuan kecil ini langsung ceria dan tersenyum lepas.

Sekarang, kulihat mereka bermain kejar-kejaran kembali mengitariku beberapa kali. Aku senang ternyata anak perempuan kecil itu sudah tidak apa-apa dan bisa kembali ceria. Lalu kupandangi Jimmy yang masih berada dikelopakku. Jimmy tersenyum penuh makna. “Apakah kamu telah mengerti apa yang sebenarnya ingin kusampaikan padamu?”, tanya Jimmy ramah.

“Ya”, jawabku singkat sambil tersenyum manis padanya. Aku telah belajar sesuatu yang baru hari ini, dan semua ini berkat temanku Jimmy sikutu. Kami berdua tidak melanjutkan perbincangan kami. Yang kami lakukan hanyalah menikmati apa yang bisa kami nikmati hari ini hingga matahari hendak terbenam dan para pengunjung taman pulang. Dan masih sempat kulihat anak perempuan kecil yang menanggis tadi menghampiri tong sampah dan membuang benda yang tadi melekat dilututnya.

Kini malam telah tiba dan bulan baru menampakkan hidungnya. Bintang-bintang berkelap-kelip saling mengoda. Aku dan temanku Jimmy masih asyik menikmati lukisan tangan Tuhan yang begitu indah dilangit. Lalu Jimmy bangkit dan melompat kedaunku. Jimmy tersenyum padaku penuh makna. “Jadi, maukah sekarang kamu berbagi denganku apa yang kamu pelajari tentang mereka dan dirimu?”, tanya Jimmy lembut. Aku tersenyum.

“Sebelumnya aku berterimakasih padamu teman, tidak kusangka sebuah kejadian kecil hari ini bisa membuatku begitu mensyukuri  apa adanya diriku. Sebelumnya aku begitu iri dengan mereka para bunga disana yang indah-indah dan dipuji oleh dunia. Sebelumnya aku begitu membenci diriku saat mereka dipetik dan dipajang dipot-pot cantik aku malah dipetik dan dimandikan pada air mendidih. Tapi itu sebelum aku melihat kejadian anak perempuan tadi”, kataku sambil tersenyum pada Jimmy.

“Mereka yang indah memang diciptakan oleh-Nya dengan tujuan untuk menghibur mata dan bagi mereka yang mencari sesuatu dari mata juga. Mereka yang indah sudah sepantasnya harus bangga dengan keindahan mereka. Lalu bagaimana aku yang tidak indah dibandingkan mereka? Ternyata aku justru membawa makna “indah” yang lainnya”.

“Ketika kita bahagia dan penuh canda tawa, indah seperti mereka sangatlah memanjakan mata. Mereka dijadikan simbol cinta. Mereka disukai karena warnanya, dan mereka diingat karena semerbak wanginya. Tapi, ketika tawa itu berganti air mata, semua indah mereka menjadi tidak bermakna. Bukan karena mereka sudah tidak indah, bukan karena warnanya telah pudar, bukan karena wanginya telah hilang, karena semua itu bisa dicari penggantinya, tapi karena mereka perlu “indah” yang lainnya”.

“Itulah saatnya aku dicari. Itulah saatnya aku dipetik. Itulah saatnya aku dimandikan dalam air mendidih. Mereka yang memperlakukan aku begitu bukan karena mereka kejam, tapi aku memang diciptakan oleh-Nya untuk diperlakukan demikian. Jika ada sebagian saja dari tubuhku yang sudah tidak “indah” lagi, maka tong sampah selalu menjadi tujuan akhirku”.

“Aku yang telah disiapkan dengan sedemikian rupa akan diberikan pada mereka yang terbaring lemah. Dan setelah aku diberikan pada mereka, sisa dari tubuhku akan dibuang juga. Jika aku tidak melihat kejadian anak perempuan kecil itu, aku mungkin akan mengutuk mereka yang memperlakukanku yang semena-mena “.

“Tapi aku terimakasih pada DIA, karena kita diciptakan berbeda-beda dengan maksud yang berbeda-beda juga. Dan tahukah bagian terindahnya? Mereka yang telah meminumku biasanya dalam beberapa hari akan kembali ceria dan tertawa. Walaupun aku dibuang ketong sampah dan dilupakan, aku begitu bangga bisa menjadi demikian, karena aku memberikan “indah” yang disebut “kesembuhan”.

“Yup, aku adalah bunga seperti mereka bunga-bunga yang indah ditaman. Bedanya aku tidaklah seindah dan sewangi mereka. Aku juga mempunyai nama. Bedanya namaku diingat saat kalian sakit terbaring lemah dan mereka diingat saat penuh canda tawa dan cinta. Aku adalah bunga, dan aku bunga yang dijadikan obat oleh manusia”.

“Itulah mengapa aku tidak boleh disentuh sembarang manusia karena aku mempunyai “indah” yang berbeda maknanya. Dan itulah mengapa aku dikurung dalam kaca karena aku ini lemah dan mudah kehilangan “khasiatnya” sehingga harus selalu dijaga walaupun dengan cara yang tidak biasa. Apakah aku marah? Apakah aku kecewa? Apakah aku menanggis berkeluh kesah? Iya, jika kamu pada awal kisah. Tapi sekarang, aku justru sangat bangga”.

Jimmy tersenyum puas mendengar jawabanku yang panjang lebar. Lalu Jimmy berdiri sambil merapikan tangan dan kakinya. Aku tahu aku akan berpisah dengan temanku malam ini, teman yang memberiku arti MENSYUKURI DIRI SENDIRI. Sebelum berpisah Jimmy berkata padaku.

“Teman, tidak peduli seberapa kamu menginginkan apa YANG KAMU TIDAK MILIKI, tidak peduli seberapa INDAH dan seberapa BERHARGA sesuatu yang dilihat mata, kamu selalu memiliki sesuatu YANG PALING BERNILAI”.

“Apa yang kamu inginkan dari mata, maka kamu juga tidak akan menginginkannya kelak oleh mata. Apa yang kamu bangga dari telinga, maka kamu akan benci kelak dari telinga. Apa yang kau puja dari kata-kata, maka kamu akan maki kelak dari kata-kata juga”.

“Tidak ada yang salah kita ingin menjadi indah seperti mereka yang indah, tapi selalu salah kita ingin menjadi indah dengan MEMBUANG YANG TELAH INDAH DARI KITA. Apa yang kamu banggakan dari orang lain, belum tentu akan membuatmu bangga saat kamu memilikinya.  Begitu juga sebaliknya, apa yang kamu tanggisi sebagai kekuranganmu, justru sering ditanggisi oleh mereka yang ingin memiliki kekuranganmu itu”.

“Teman, tidak peduli apakah kamu bunga yang dibuang ditempat sampah , aku yang kecil hina, mereka yang indah tapi sementara atau manusia yang bangga mempunyai semuanya, kita semua mempunyai INDAH yang diberikan oleh-Nya. Pertanyaannya bukanlah mengapa aku tidak bisa indah seperti mereka, tapi katakanlah AKU AKAN BERSINAR JIKA TELAH TIBA WAKTUNYA. Tidak penting seberapa lamakah, tidak penting kamu dimana, karena yang terpenting adalah KAMU YANG SEKARANG ADA KARENA DIA YANG MENGINGINKANNYA dan ingatlah, KAMU DICIPTAKAN KARENA MEMANG ADA MAKSUDNYA”.

Setelah berkata begitu Jimmy mengecup kelopakku dan berpamitan pergi. Aku hanya bisa mengantarnya dengan senyuman dan ucapan terimakasih. Lalu tidak jauh kulihat seorang pria datang dengan membawa gunting kecil. Ya, aku akan dipetiknya. Tapi aku tidak takut, justru aku sangat bangga. Sebelum pria ini memetik aku, kulihat matanya yang ramah dan bangga melihatku tumbuh sempurna. Lalu dia memetik daunku, lalu dia memotong tangkaiku dengan gunting kecil itu. sebelum aku kehilangan kesadaranku, aku mengingat kembali kata Jimmy temanku.

AKU YANG SEKARANG ADA KARENA DIA MENGINGINKANNYA, dan AKU DICIPTAKAN KARENA MEMANG ADA MAKSUDNYA..”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s