Kamu indah pada waktunya


I'm just caterpillar, nobody want me

“Aku jelek. Aku juga pendek. Aku gemuk. Mungkin aku dikutuk”, curhat seekor ulat pada seekor kupu-kupu. Kupu-kupu ini sangat cantik sekali dengan sayapnya yang berwarna-warni seperti pelangi. Jika dibandingkan dengan ulat yang memang gemuk dan juga pendek, perbedaannya bagaikan batu jalanan dan permata kerajaan.

Melihat ulat yang begitu sedih dengan kekurangannya sendiri yang dia sendiri tidak mengerti, kupu-kupu cantik ini mengeluarkan sebuah foto. Lalu foto itu diberikan pada ulat gemuk ini.

“Coba lihat foto ini. Menurutmu dia cantik tidak?”, tanya kupu-kupu dengan tersenyum manis sekali.
“Ya Tuhan, mahkluk apa ini? kok jelek sekali?”, teriak ulat spontan sambil membuang foto itu. Sang kupu-kupu hanya tersenyum melihat tingkah siulat gemuk yang menurutnya begitu gemesin.

“Jika mahkluk difoto ini yg kamu sebut jelek ini menyukaimu, akankah kamu menerimanya?”, tanya kupu-kupu sambil memunggut foto itu disertai senyuman yang tetap manis sekali. Mendengar pertanyaan sikupu-kupu, ulat gemuk ini dengan kaki kecilnya berjalan pelan-pelan menghampiri kupu-kupu dan meminjam foto yang tadi barusan dibuangnnya.

“Sejujurnya, aku mungkin akan menolaknya. Tapi aku juga sadar bahwa akupun tidak lebih cantik daripadanya. Aku memang menginginkan seekor kupu-kupu untukku, tapi aku juga menyadari bahwa aku terlalu jauh dan tidak pantas untuk meminta itu. Dan jika dia yang difoto ini memang untukmu, apapun fisiknya aku akan menerimanya. Aku tidak pantas menilai seseorang dari fisiknya apalagi hanya dari foto saja”, kata ulat sambil memandangi foto itu sambil tersenyum.

Ya, ulat memang tidaklah secantik kupu-kupu. Bahkan jika dinilai dia jauh dari angka tujuh. Tapi saat hatinya yang TULUS menerima KEKURANGAN seseorang untuk dirinya, maka dia juga telah MENERIMA pemberian Tuhan dalam bentuk lainnya.

“Terimakasih karena kamu mau menerimaku, dan sejujurnya aku juga menyukaimu”, kata kupu-kupu cantik ini.

Mendengar jawaban kupu-kupu yang cantik ini, ulat menjadi bingung. Apakah kupu-kupu cantik ini sedang mengetes dirinya? ataukah dia hanya ingin menghibur hatinya yang sedang bersendu air mata. Melihat siulat yang sedang kebingungan membuat kupu-kupu cantik ini tertawa kecil. Dikecupnya mesra dahi siulat. Lalu kupu-kupu melanjutkan perkataannya.

“Itu adalah fotoku dulu sebelum aku menjadi kupu-kupu”.

Kadang kita menilai KECANTIKAN diri kita dengan membandingkan “kecantikan” orang lain yang belum tentu cantik bagi pemiliknya apalagi Tuhan. Tidak ada salahnya kita ingin menjadi cantik dalam bentuk fisik. Tapi bukankah sangat disayangkan kita menjadi CANTIK demi dipuji dunia dengan mengorbankanĀ CANTIK YANG DIPUJI SURGA?

Hidup kita hanyalah sementara. Lebih baik mempermak HATI kita daripada mempermak wajah kita. Lebih baik sexy pribadi kita daripada sexy fisik semata. Apalagi bisa keduanya, maka sungguh menjadi sebuah anugerah yg luar biasa. Tapi begitulah manusia, yang indah dilihat mata lebih penting daripada yang dilihat jiwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s