Batu jalanan


Stones

“Guru, apa yg harus kulakukan supaya aku bisa menemukan cinta sejatiku”, tanya seorang pemuda.
“Pulanglah lewat jalan dimana kamu datang dan punggutlah satu batu yg menurutmu paling indah. Besok bawalah padaku batu itu”, jawab sang guru.

Walaupun bingung dengan jawaban sang guru pemuda ini tetap melaksanakan titah sang guru. Pemuda ini percaya bahwa sang guru akan memberikan nasehat yang bijak. Maka tanpa bertanya apapun pemuda ini melaksanakannya. Setiap batu yang bisa ditemukannya dijalan diambilnya. Lalu dia menilai apakah batu itu indah atau tidak dengan membandingkan dengan batu lainnya.

Keesokan paginya pemuda ini datang dengan bercucuran keringat sambil mengendong sekarung sesuatu dipundaknya. Setelah dibuka dan dikeluarkan isinya, ternyata isinya adalah batu. Dan batu-batu itu memang terlihat indah dibawah terik matahari pagi itu.

“Guru, guru memintaku membawa satu batu yang menurutku paling indah, tapi aku juga melihat banyak batu-batu lain yang indah, jadi aku berpikir alangkah baiknya jika aku bisa memilih lebih dari satu batu. Sekarang aku telah melaksanakan perintah guru, jadi apa hubungannya dengan pertanyaanku kemarin dengan batu-batu ini?”, tanya pemuda ini masih bingung.

Sang guru hanya tersenyum, lalu dilihatnya batu-batu itu. Katanya pada pemuda ini, “Sekarang pulanglah, bawa batu-batu ini bersamamu dan letakkan kembali dimana kamu menemukan batu-batu ini. Besok pagi datanglah padaku”.

Pemuda ini makin bingung dengan permintaan sang guru. Dia sudah bersusah payah menemukan batu indah yang diminta sang guru, lebih dari satu lagi sekarang malah disuruh untuk mengembalikan kembali kejalanan? pada tempatnya lagi dimana ia temukan?. Walaupun dengan perasaan kecewa dan berat, pemuda ini tetap melaksanakan perintah sang guru. Diambilnya semua batu-batu itu dan dimasukan kembali dalam karung yang dibawanya. Lalu pemuda ini pun pulang dengan beban dipundaknya. Sekali lagi.

Keesokan paginya pemuda itu datang dengan tangan kosong. Wajahnya terlihat agak cemberut. Mungkin pemuda ini  kecapekan karena seharian mengendong karung berat berisi batu-batu kemarin. Ketika pemuda ini bertemu gurunya tanpa basa-basi ia langsung bertanya, “Sekarang apa yg harus kulakukan? Mohon guru memberikan jawaban pada murid dan murid mohon jawaban itu harus memuaskan”, tanya sipemuda dengan nada yang sedikit tinggi.

Sang guru tersenyum melihat muridnya yang tidak sabaran, atau lebih tepat sudah kehilangan kesabarannya. Katanya pada pemuda ini, “Punggut kembali satu batu yang kamu buang itu”. Kali ini sang pemuda murka. Mukanya memerah padam. Tetapi sebelum kemarahan itu dimuntahkannya, sang guru lalu berkata.

“Muridku, beberapa hari yang lalu kamu bertanya padaku bagaimana menemukan cinta sejatimu bukan?”, tanya sang guru. “Iya guru, dan ternyata guru mempermainkanku. Jika guru tidak tahu mengapa murid yang harus jadi korban”, jawab sang murid masih marah. “Hohoho…, tahukah pelajaran apa yang kuberikan padamu selama tiga hari ini?, tanya sang guru tersenyum penuh arti. “Bagaimana murid bisa tahu? yang guru minta hanya memunggut batu dan meletakannya kembali. Apa yang bisa kupelajari dari memunggut batu?”, tanya murid kebingungan dengan kemarahan semakin memuncak.

Sang guru menghela napas panjang. Dilihat mata muridnya dalam-dalam. Katanya.

“Muridku, seandainya batu itu adalah seorang manusia, seorang wanita, sebuah batu yang kamu sebut cinta setia, kamu sebenarnya telah menemukannya, tapi karena MATAMU YANG SILAU akan hal-hal yang indah, kamu MENUTUP MATAMU yang KEDUA sehingga ada satu yang benar-benar batu setiamu kamu tutupi dengan batu-batu lainnya dan itulah kesalahan PERTAMAMU”.

“Kesalahan KEDUAmu adalah, kamu terlalu MEMPERCAYAI APA YANG DIDENGAR TELINGAMU. Saat aku memintamu mengembalikan semua batu-batu itu, kamu malah melakukannya dengan sempurna. Tapi saat aku kembali memintamu mencari kembali satu batu lagi kamu malah menjadi marah-marah”.

“Itulah mengapa sampai hari ini kamu TIDAK MENEMUKAN CINTA SEJATIMU, kamu dibutakan oleh MATAMU dan kamu DITULIKAN oleh telingamu. Kamu terlalu PERCAYA pada mereka yang kamu anggap “BIJAK”, lalu kamu mendengarkan perkataan mereka. Saat kamu telah melakukan semua nasehat yang kamu anggap “Bijak” tadi dan tidak berhasil, kamu menyalahkan mereka. Padahal, kamu sendirilah yang memilih mendengar daripada mereka”.

“Ingatlah, cinta sejatimu itu bagaikan batu indah yang kuminta padamu untuk memunggutnya. Jika kamu telah menemukannya, genggamlah erat-erat. Jangan lagi MEMBANDINGKAN dengan batu-batu indah lain dijalan. Jangan lagi MENCARI disepanjang perjalanan pulang. Karena semakin kamu mencari, semakin kamu berjalan terlalu jauh dari batu yang telah kamu pilih”.

“Tidak ada yang salah jika kamu ingin mendapatkan batu yang lebih indah, tapi yang indah saja tidak cukup. Dia harus enak digenggam. Dia harus memberi kita kenangan. Percuma kamu menemukan batu yang paling indah tapi ketika digenggam semakin lama semakin membuat tanganmu terluka sehingga mau tidak mau kamu harus membuangnya”.

“Nah muridku. Guru ingin bertanya satu kali lagi padamu. Maukah kamu membawakan satu batu yang paling indah menurutmu kepadaku?”, tanya sang guru dengan senyumannya yang bijaksana. Sang pemuda tersenyum lebar. Wajahnya ceria. Murkanya sirna. Dengan senyuman tetap merias diwajahnya pemuda ini berkata pada gurunya.

“Tentu saja guru, dan kali aku pastikan HANYA SATU BATU dan tentunya yang PALING INDAH BAGIKU“.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s