Pemuda Miskin dan Pengusaha


Kekayaan yang sesungguhnya adalah kamu masih berbagi disaat kamu perlu lebih

‎”Apa permintaanmu?”, tanya malaikat pada seorang pemuda miskin dan istrinya ketika dipintu surga. Pemuda ini melihat sekelilingnya. Disana dia melihat banyak barisan orang-orang baik yg hendak masuk Surga. Tapi anehnya dia menemukan dirinya sendiri bersama istrinya dibarisan yang  tidak ada siapapun dibelakangnya.

“Apa permintaanmu?”, tanya malaikat sekali lagi pada pemuda miskin ini. Karena takut membuat

malaikat dihadapannya murka, pemuda ini menjawab sekedarnya saja. “Hamba tidak berani meminta apa-apa, jika berkenan hamba meminta sebuah rumah yang besar saja”, jawab pemuda miskin ini. Lalu malaikatpun memberikan dia rumah yang sangat besar beserta taman yang sangat luas tak berujung nan indah.

“Apa permintaanmu?”, tanya malaikat pada seorang pengusaha dibarisan lainnya yang kaya raya sewaktu hidupnya. Pengusaha ini berkata, “Hamba ingin rumah yang besar seperti pemuda tadi  itu”, jawab pengusaha ini tersenyum. Lalu malaikatpun memberikan dia rumah yang cukup besar saja.

Pengusaha yang melihat rumahnya tersebut lalu bertanya kepada malaikat. “Maafkan hamba, mengapa hamba mendapatkan rumah yang sedemikian saja? sedangkan pemuda tadi dan istrinya mendapatkan rumahnya begitu besar disertai taman bunga yang indahnya tiada tara? Padahal saat aku masih hidup didunia aku telah menyumbangkan sebagian hartaku dan berbuat amal yang cukup. Aku juga sering menolong sesamaku tanpa pamrih”.

Malaikat ini tersenyum, “Apa tujuanmu meminta rumah yang besar?”, tanya malaikat pada pengusaha kaya tersebut.

“Hamba meminta rumah yang besar supaya kelak istri anak dan cucu-cucuku bisa tinggal bersama-sama juga beserta saudara-saudariku semua, jadi rumah yang kuminta bukan untukku saja, hamba ingin berbagi dengan mereka semua “, jawab pengusaha ini mantap.

Malaikat yang mendengar jawaban pengusaha tersebut bangga, katanya pada pengusaha itu, “Kamu memang baik begitu memperhatikan keluargamu juga saudaramu, dan ketahuilah inilah hadiahmu dan menurutku rumah sebesar inilah yang kamu BUTUHKAN. Tetapi aku tahu kamu pasti tidak akan puas dengan jawabanku, maka ikutlah aku menemui pemuda miskin itu dan istrinya. Dia yang akan memberimu jawaban yang kamu inginkan”. Lalu merekapun terbang menemui  pemuda yang dimkasud.

Saat malaikat datang pada pemuda miskin itu dan istrinya, mereka begitu terkejut dan hendak langsung bersujud. Malaikat yang  melihatnya langsung menahannya agar tidak bersujud. “Hanya kepada Tuhan Allahmulah kamu boleh bersujud. Kedatanganku adalah ingin bertanya mengapakah kamu meminta rumah yang besar bagimu?”, tanya sang malaikat  ditemani pengusaha yang penasaran.

“Ampuni hamba, hamba hanya meminta rumah besar biasa saja dan tidak berharap akan sebesar ini, seluas ini  dan seindah ini. Hamba hanya ingin berbagi dengan saudara-saudariku yang tadi berbaris diluar sana. Hamba takut tidak semua akan bisa meminta rumah dan hamba takut mereka akan kehujanan juga kepanasan dan tidak mempunyai tempat berteduh”.

“Hamba juga melihat banyak anak-anak yang bermain dengan ceria diluar sana, jadi hamba ingin memberikan semua taman yang indah ini pada mereka supaya mereka bisa bermain sepuasnya. Dan apabila mereka telah lelah bermain mereka bisa beristirahat dirumah ini. Jika hamba tidak pantas memilikinya, maka hamba rela mengembalikan ini semua dan diberikan pada mereka yang berhak mendapatkannya”, jawab pemuda miskin ini ikhlas.

Mendengar jawaban pemuda miskin ini, sang pengusaha mengerti mengapa Tuhan melalui malaikatnya dia diberikan begitu banyak HARTA SURGAWI yang berlimpah ruah. Pemuda ini memang miskin, tetapi HATINYA begitu KATA RAYA.

Ketika hidup didunia, pemuda miskin dan pengusaha kaya ini adalah dua sosok manusia yang baik perilakunya. Sang pengusaha dengan segala kelimpahannya tidak menjadi sombong dan selalu beramal. Dia begitu rendah hati dan suka menolong bagi mereka yang  membutuhkan. Dia juga sangat menyayangi keluarganya dan menjadi suami yang setia bagi istri dan anak-anaknya. Tetapi, karena kesibukannya sebagai pengusaha yang begitu menyita waktunya sehingga jarang sekali pengusaha ini meluangkan waktunya untuk beribadah.

Pemuda miskin juga baik perilakunya. Dia dan istrinya hidup digubuk yang sangat sederhana. Dalam kesederhanaan itu mereka tidak pernah mengeluh sepatah katapun walaupun ketika hujan menerpa mereka harus merapat kesudut-sudut gubuk karena atapnya yang bocor, dan seringkali ketika panas siang menyengat melalui  lubang-lubang atap gubuk mereka, mereka menutupinya dengan baju mereka sambil menjemur pakaian mereka yang basah.

Seringkali pemuda ini dan istrinya membagi sebagian makan siangnya kepada mereka yang kelaparan. Padahal makanan yang digenggamnya saja tidak akan mencukupi lapar perutnya. Tetapi melihat mereka yang berucap bahagia berlinang air mata mendapat sesuap berkah mengisi perutnya, lapar dan lelah seakan sirna.

Saat malam tiba, ketika udara dingin memainkan gubuk mereka, kita akan mendengar mereka bernyanyi memuliakan nama-Nya sambil merapatkan tubuh mereka dan dibaluti sehelai selimut biru tua untuk menghangatkan tubuh mereka sekedarnya hingga cahaya bulan menidurkan mereka dalam senyuman bahagia.

Apa yang dipunyai pemuda miskin dan istrinya ini yang kita kenal sebagai MISKIN, sangat tidak diinginkan oleh hampir semua manusia, tetapi apa yang dipunyai HATI pemuda miskin dan istrinya ini menjadi panutan dan satu-satunya tiket VIP bagi mereka yang mendambakan surga.

Memang membanggakan kita bisa memberi dan beramal pada saat BERKELIMPAHAN, tetapi mereka yang memberi pada saat BERKEKURANGAN, dialah yg TERISTIMEWA.

Ketika yang kaya raya berlomba-lomba memberi supaya dipuji, mereka yang rendah hati dan serba kekurangan materi beramal dari hati dan secara sembunyi-sembunyi. Ketika yang kaya raya membusungkan dada dipuja-puja, mereka yang rendah hati menundukkan kepala berdoa.

Ya, mungkin saat didunia pemuda miskin ini hanyalah pemeran pembantu saja, tetapi dipanggung surga dialah tokoh UTAMANYA.

Ingatlah, bukan karena seseorang kaya maka dia akan dimiskinkan juga bukan karena seseorang itu miskin dia akan dikayakan, tapi mereka yang KAYA HATINYA akan selalu DIKAYAKAN dan mereka yang MISKIN HATINYA akan selalu DIMISKINKAN.

Mengetahui kebenaran yang sebenarnya dari pemuda miskin dan istrinya, pengusaha ini memeluknya dengan sangat bangga. Belum pernah dia melihat seorang pemuda yang begitu memperhatikan sesamanya melebihi dirinya sendiri sekalipun dia telah diKAYAKAN disurga.

“Saudaraku, sesungguhnya aku yang harus malu kepadamu. Aku mengira aku telah melakukan yang terbaik didunia, tetapi aku bahkan tidak secuil kuku kakimu jika dibandingkan KEKAYAAN HATIMU. Aku bangga padamu saudaraku. Sangat bangga”, kata pengusaha ini.

“Sudahkah kamu puas dan mengerti mengapa dia diberi begitu berlimpah ruah kekayaan surga?”, Tanya malaikat pada pengusaha tersebut. Dengan mata berkaca-kaca pengusaha ini menganggukkan kepalanya. Lalu malaikat ini melihat pemuda miskin ini. Malaikat ini tersenyum manis sekali, katanya pada pemuda ini, “Anakku, disurga tidak akan pernah ada yang KEHUJANAN dan KEPANASAN lagi, nikmatilah apa yang telah menjadi milikmu karena kamu memang pantas memilikinya”.

One thought on “Pemuda Miskin dan Pengusaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s