Wanita yang pantas


"Tidak ada yang tidak pantas jika kita sendiri sudah mempantaskannya".

“Guru, wanita seperti apakah yang pantas untukku?”, tanya seorang pemuda.
“Hmm…”, sambil memainkan janggut putihnya sang guru berkata, “Anakku, coba kamu petik bunga yg kamu sukai didepan sana”. Lalu pemuda inipun pergi memetik bunga yang dimaksudkan gurunya.

“Aduh..”, teriak pemuda itu kesakitan, ternyata bunga itu berduri dan melukai jarinya.
“Sekarang bawa pulang bunga itu dan rawatlah baik-baik. Jika ada masalah baru datang padaku”, pinta sang guru.

Sebulan kemudian, pemuda ini kembali pada gurunya sambil membawa bunga yang dipetiknya dulu. Bunga itu terlihat semakin layu. Warna putihnya mulai memudar, daun-daunnya telah hampir berguguran semua.

“Guru, bunga ini ternyata bunga yang durinya beracun. Untung aku segera menyadarinya setelah diberitahu seorang temanku saat pulang dulu”, kata pemuda ini terlihat kesal. “Dan kamu mempercayai begitu saja?”, tanya gurunya sambil tersenyum penuh makna.

“Tentu saja guru, temanku kan pemilik toko bunga, jadi hampir semua bunga dia tahu. Memang awalnya aku tidak percaya apa yang dikatakannya, tetapi dengan segala bukti yang dia perlihatkan akhirnya aku percaya”, jawab pemuda ini ketus.

“Hohoho…., anakku, temanmu memang benar, duri bunga ini memang beracun dan jika kamu MEMPERCAYAINYA“, jawab sang guru membuat pemuda ini terkejut dan bingung.

“Obat dan racun itu tergantung bagaimana kamu MELIHATNYA dan MERACIKNYA. Seperti yang kamu tanyakan padaku, wanita seperti apakah yang pantas untukmu, dan jawabanku adalah SEMUANYA PANTAS“.

“Sayangnya arti KEPANTASAN itu kadang berubah setelah kamu menggunakan telingamu untuk MENDENGARKAN yang tidak pantas. Selayaknya bunga ini, kamu mempercayai temanmu yang mengatakan durinya beracun dan aku tidak menyalahkanmu karena temanmu punya “BUKTI” apalagi ditambah dia mempunyai toko bunga yang “HAMPIR” tahu semua jenis bunga”.

“Ketahuilah anakku, bunga yang dimaksud temanmu itu memang ada dan benar, tetapi bukan bunga yang kuberikan padamu. Bunga yang dimaksud temanmu itu tumbuh ditepi jurang diujung taman sana tempat dimana aku dulu memintamu memetik bunga”.

“Ingatlah ini, ketika bertanya maupun mendengarkan, bertanyalah dan dengarlah pada mereka yang BENAR-BENAR TAHU, bukan pada mereka yang TAHU TAPI TIDAK SADAR MEREKA TIDAK TAHU. Kamu sudah jauh-jauh datang meminta nasehatku, tapi kamu malah mendengarkan nasehat yang tidak kamu tahu dari temanmu?”.

“Bunga ini sama seperti wanita yang kamu cari. Awalnya kamu memilihnya karena kamu menyukainya. Kamu merawat sebaik-baiknya dan bunga ini tumbuh indah. Tetapi hanya karena durinya melukai tanganmu dan berdarah kamu mulai meragukan keberadaannya. Dan yang lebih menyedihkan lagi, kamu mendengarkan hal yang sama pada mereka yang mengalami luka yang sama dan kamu MEMPERCAYAI ucapannya bahwa bunga itu sudah tidak pantas untukmu dan tidak akan membahagiakanmu”.

“Anakku, tidak ada wanita yang tidak pantas untuk seorang pria, apapun alasannya. Kitalah yang seringkali MENTIDAK-PANTASKAN diri kita ataupun mereka. Lihatlah bunga yang kamu pegang dengan bunga yang bertumbuh liar didepan sana. Tanpa tangan yang merawatnya mereka tetap tumbuh indah. Mereka tumbuh indah bukan karena memang sekedar indah, tapi mereka MENPANTASKAN diri mereka tumbuh disana dan alam MENPANTASKAN dirinya merawat mereka”.

“Jadi, masih pantaskah bunga ini untuk kamu rawat?”, tanya sang guru tersenyum penuh makna. Pemuda ini yang awalnya datang dengan wajah kesal, terlihat berseri-seri dengan deretan giginya yang putih. Rasanya beban berat yang selama ini dipikul dipundaknya berjatuhan dan membuat tubuhnya menjadi ringan. Sambil tersenyum pemuda ini menjawab.

“Tidak ada yang tidak pantas jika kita sendiri sudah mempantaskannya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s