Kasih seorang ibu


Nothing in this world can buy mother's love

Sejak dari aku masih belia, aku selalu dekat dengan mama. “Aku akan membahagiakan mama”, itulah janjiku padanya sewaktu aku masih duduk dikelas lima. Mamaku hanya tersenyum, sebuah senyuman yang manis dan selalu melekat dalam dinding ingatanku. Mungkin mamaku tidak tahu bahwa senyumannya itu selalu mencerahkan hariku yang mendung dan menghangatkan hatiku yang beku.

Kisah kecilku dapat kuceritakan dengan untaian kata-kata indah. Dari sikapku yang manja, tawa kecilku yang ceria, tingkahku yang mengundang tawa, nakalku yang membuat meriah sampai tanggisku yang mendamaikan keluarga. Dan tahukah bagian terbaiknya? Aku dijuluki malaikat kecil sempurna.

Kini setelah belasan tahun berlalu, malaikat kecil itu telah bertumbuh dewasa dan menjadi malaikat yang cantik. Dengan rambut panjang pirang keemasan, bola mata biru kehijauan, tubuh sexy mengundang pujian ditambah pesona sejuta dolar senyuman, malaikat cantik ini keluar dari tempat berlindungnya mengepakan sayap-sayap putih dipunggungnya siap menghadapi dunia.

Angel Emerald, Itulah nama lengkapku. Angel yang berarti malaikat dan Emerald yang berasal dari salah satu nama permata indah dunia. Ya, namaku ini diberikan kedua orang tuaku supaya aku menjadi malaikat yang mempunyai hati seindah permata. Apakah aku memang demikian? jawabannya ada dikisah singkatku.

Semenjak mengenal dunia kerja, aku benar-benar terbuai yang namanya puji-puja dunia. Dulu aku yang hanya tahu duduk manis menunggu papaku pulang kerja demi sesuai nasi, kini aku yang harus keluar mencari jika ingin perut ini perlu diisi.

Awalnya aku melakukannya dengan senang hati dan aku selalu teringat nasehat ibuku, “Apapun yang kamu lakukan, jika itu pantas dilakukan dan memang baik maka lakukanlah dengan sepenuh hati. Jangan pedulikan bagaimana hasilnya, karena hasilnya akan datang sendiri sebagai hadiah “.

“Aduhhh Gel…, kamu masih mempercayai omongan bijak mamamu? gak level lagi jaman sekarang Gel”, kata temanku Christine memotong pembicaraanku, “Kalau aku berpikir begitu, hari ini aku tidak akan memperoleh yang bisa kubanggakan”, lanjutnya.

“Coba lihat cincin ini, coba lihat tas ini, kamu kira dengan penghasilan kita yang sebagai karyawan begini bisa mendapatkannya? mungkin mau seumur hidup baru kita mampu membelinya dan itupun harus cicil”, lanjut Christine memberikan penjelasan.

Aku dan Christine adalah teman kerja sekaligus teman satu kos. Aku berkenalan dengannya ketika pertama kali menyewa kos yang sama. Dan sebagai informasi, Christine adalah wanita yang sangat cantik.

Rambutnya dipotong pendek sebahu. Warna bola matanya biru. Tingginya 170. Bentuk tubuhnya bahkan mampu membekukan langkah para pria yang melihatnya, dan aku tidak mengada-ada. Christine boleh dikatakan model idaman semua wanita ­– termasuk olehku.

“Gel, kamu itu cantik. Jangan menyia-yiakan pemberian Tuhan dengan menjadi yang biasa-biasa saja. Banyak pria kaya dan tampan yang tertarik padamu, kamu tinggal pilih salah satunya dan sisanya cincin, mobil, rumah yang sudah kumiliki tinggal menyusul dan menjadi milikmu”, kata Christine membuyarkan lamunanku.

“Aku tahu kamu mencintai mamamu dan tidak ingin menyakiti perasaannya, aku juga sama, tetapi kita juga tidak salah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang serba susah. Aku juga tidak pernah meminta semua yang kupunya dari pria yang mendekatiku, mereka yang dengan senang hati memberikannya dan aku dengan senang hati menerimanya juga”, lanjut Christine sedikit mempengaruhiku.

Sejujurnya, perkataan Christine sangat mempengaruhiku. Buktinya saat malam aku tidak bisa tidur karena gelisah. Disatu sisi aku ingin memiliki seperti yang dimiliki Christine, tetapi disatu sisi hati kecilku berontak menasehatiku bahwa itu bukanlah aku. Kenyataan yang didapat Christine dan kata hatiku saling berebut tempat untuk menjadi pilihanku. Dan akhirnya, aku memilih “Christine”.

Tidak perlu waktu lama bagiku untuk mendapatkan apa yang didapatkan Christine. Bahkan aku mendapatkan lebih dari yang kuharapkan. Saat kuceritakan pada Christine, dia terlihat gembira dan berbahagia untukku.

“Benarkan apa kataku”, begitulah katanya padaku sambil memelukku dengan erat. Dan akupun berterimakasih atas nasehatnya. Aku beruntung dia yang menjadi teman kosku. Aku beruntung dia yang membuka pikiranku. Dan aku SANGAT BERUNTUNG dia yang menyadarkanku akan betapa DALAMNYA KASIH SEORANG IBU, karena tanpanya – disadari atau tidak, Christine menyadarkanku arti seorang ibu.

Sejak aku tahu nikmatnya materi, aku kemana-mana mengikuti Christine pergi. Aku menjadikan dia sebagai “mentor” dalam menikmati apa yang pantas kami nikmati sebagai wanita yang terlahir “sempurna”. Tetapi walaupun begitu, kami tidak pernah menjerumuskan diri dalam pergaulan bebas dan merendahkan martabat wanita. Kami berdua pantang akan hal itu.

Kami begitu menikmati anugerah dalam bentuk fisik kami sampai suatu hari kami pulang agak larut malam menghadiri pernikahan teman kantor kami. Kami saling berlomba-lomba memuji diri tadi berapa pria yang mendekati kami dan siapa saja yang menawan hati kami.

Dalam suasana bercand tersebut, Christine yang membawa mobil tidak melihat mobil dari arah depan yang melaju memotong mobil didepannya. Yang kuingat adalah suara benturan yang keras dan teriakan serta seberkas cahaya yang terang menyilaukan mata. Setelah itu menjadi gelap gulita dan aku tidak bisa mendengar apa-apa.

Ketika terbangun kudapati diriku terbaring lemah diatas tempat tidur. Tanganku diinfus dan kepalaku diperban. Dalam keadaan sadar yang belum sepenuhnya, kucoba membangunkan tubuhku. Kulihat sekelilingku. Sunyi sekali.

Kulirik kesamping kananku dan kulihat seorang wanita yang sangat kukenal. Itu Christine. “Ya Tuhan, kami kecelakaan”, kataku dalam hati. Saat aku hendak mencoba turun dari tempat tidurku, kulihat beberapa suster datang berlari kecil dan menahanku. Sejujurnya aku tidak tahu kapan mereka datang bahkan aku tidak mendengar suara mereka. Lalu mereka mensuntikan sesuatu ditanganku sehingga pelan-pelan aku mulai mengantuk.

Entah berapa lama aku tertidur. Saat aku sadar, kudapati Christine disampingku sambil menanggis kecil. Aku tersenyum padanya. Dia membalas senyumanku dengan tanggisan yang makin jadi. Tapi anehnya aku tidak mendengar suara tanggisannya.

Saat aku mencoba mendengar suara tanggisannya, Christine mengambil sebuah kertas dan menulis sesuatu. Lalu dengan tatapan mata yang sangat sayu, sambil menutup mulutnya dengan tangan kirinya, Christine memperlihatkan kertas itu padaku dengan tulisan tangannya.

Maafkan aku… 

Itulah tulisan yang kubaca. Aku bertanya mengapa? Christine menanggis lagi. Kali ini aku sadar sepenuhnya. Suaraku hilang. Aku mulai berkata-kata tidak karuan. Aku mencoba bersuara, tapi suaraku tidak terdengar. Aku berteriak kecil tapi yang terdengar tetap kesunyiaan saja. Aku semakin panik bahkan aku berteriak sekeras-kerasnya, hasilnya tetap saja. Christine yang melihatku semakin panik langsung memelukku dan menanggis.

Seminggu telah berlalu dan aku masih belum bisa menerima kenyataan yang menimpaku. Kabar baiknya aku dan Christine secara ajaib tidak mengalami luka fisik yang serius. Bahkan Christine Cuma lecet-lecet ditangannya saja.

Aku juga tidak kehilangan suaraku. Aku bisa berkata dengan lancar.  Aku bahkan tidak lecet dimana-mana kecuali memar didahiku. Tetapi, aku kehilangan pendengaranku. Aku kehilangan kedua telingaku secara fisik dan itulah mengapa aku tidak bisa mendengar suaraku.

Hari-hariku kuisi dengan air mata. Christine yang selalu menghiburku pun tidak mampu menghapuskan air mataku. Dalam kepedihan itu, aku teringat mamaku. Aku ingin menghubunginya, tapi aku takut dan tidak ingin membuatnya cemas disana.

Aku sangat menginginkan mamaku disampingku. Aku ingin bermanja dengannya. Aku ingin mendengar suaranya. Aku ingin dia memberiku nasihat yang memulihkan jiwa. Tapi apa daya, mendengar saja aku tidak bisa. Dan setelah sekian lama aku tidak menghubunginya apakah tega aku menghubunginya hanya sekedar mengatakan aku tidak bisa mendengar suaranya lagi?.

Aku hanya bisa menanggis mengingat kembali betapa merdunya nyanyian mamaku saat aku masih belia. Aku begitu merindukan omelannya saat kenakalanku yang berbahaya. Aku begitu rindu mendengar nasehatnya sebelum aku terbang dari tempatku dulu berada. “Maafkan aku mama…, maafkan aku…”, kataku lirih, bahkan mendengar suaraku sendiri aku tidak bisa.

Setelah hampir sebulan aku kehilangan pendengaranku, aku mulai sedikit terbiasa. Aku juga mulai memisahkan diri dari kehidupanku dan Christine banggakan. Kulihat Christine juga mulai sedikit berubah dan menjauh dariku. Aku tidak tahu apa alasannya kenapa dia menjauhiku, yang kutahu – lebih tepatnya instingku – mengatakan Christine terpaksa menjauhiku.

Jika mau jujur, bukan hanya Christine yang menjauhiku, tetapi pria-pria yang awalnya memujaku bagaikan ratu pun mulai menjauh. Ya wajar saja, aku telah kehilangan telingaku dan itu membuatku terlihat aneh. Dan untuk mengakali kenyataan itu, aku sengaja menutupi telingaku dengan rambut panjangku.

“Yang benar?”, tanyaku dengan bahasa isyarat tangan pada seorang dokter yang menanganiku dulu. “Iya, kamu akan bisa mendengar lagi, dan ternyata ada yang mendonorkan telingannya”, jawab catatan yang dituliskan dokter itu padaku. Ternyata aku bisa mendengar kembali asal ada telinga yang cocok. Dan untuk kasusku ini sangat jarang terjadi. Mungkin ini ujian dari Tuhan yang diberikan padaku.

“Kapan operasinya? siapa orang baik itu?”, tanyaku senang sekali. Tetapi dokter ini tidak bisa memberitahku karena memang harus dirahasiakan. Sejujurnya aku juga tidak begitu mempedulikan siapa yang mendonorkannya asalkan aku bisa mendengar lagi, dan aku hanya bisa berterima kasih dalam doaku.

Hari yang ditunggupun tiba. Perbanku mulai dibuka dan aku deg-degan. Kuambil kaca yang disediakan suster untukku. Aku pelan-pelan menyisingkan rambutku dan, telingaku terlihat manis dan “sempurna” disitu. Ya, aku punya telinga lagi.

“Halo…?”, kataku pelan. Aku mendengar ada yang berkata halo. “Haloooo…?!”, kataku sedikit berteriak dan aku mendengar suara orang berkata halo lagi. “Aku bisa mendengar lagi..”, kataku langsung melompat-lompat diatas tempat tidur. Suster dan dokter yang melihatku tertawa kecil.

Kupeluk mereka semua sambil berlinang air mata. “Terimakasih suster, terimakasih dokter, terimakasih semua…”.

Dengan telinga “baruku” aku bangkit kembali dari keterpurukan sedihku. Aku sekarang bisa membusungkan dadaku kembali. Kepercayaan diriku penuh lagi. Aku tidak pernah merasa sebahagia hari ini. Dan yang lebih membuatku bangga lagi adalah, mereka yang dulu menjauhiku kini kembali mendekatiku tentunya dengan alas an yang sangat dibuat-buat kenapa dulu mereka menjauhiku.

Apakah aku akan mengulang sejarah yang sama? tentu saja aku hampir mengulangnya dan itulah kelemahan paling fatal manusia. Saat aku hampir lupa diri kembali dengan telinga yang baru beberapa hari lalu kumiliki, aku menyempatkan diriku untuk menelpon mamaku setelah bertahun-tahun tidak bertemu.

“Halo, ini siapa?”, terdengar suara wanita sedikit parau dari seberang sana. Aku tidak menjawab wanita itu, aku hanya bisa menanggis mendengarnya. seandainya wanita ini tahu betapa aku sangat sangat sangat merindukan suaranya. “Halo…? apakah ada yang mendengarku?”, tanya suara wanita ini lagi. Aku menghela napas panjang, kutenangkan isakku, kujawab wanita ini.

“Ini aku ma, besok aku pulang. Aku sangat kangen mama…”, kataku singkat dan kami menghabiskan berjam-jam berbagi cerita.

Yup, itulah kisah singkatku. Aku yakin kalian pasti banyak pertanyaan. Katanya aku hampir lupa diri dan mengulang sejarah yang sama bukan? dan jawabanku iya.

Ketahuilah, saat aku pulang ketempat dimana aku keluar dulu, mamaku menerimaku dengan pelukan terhangat dan termesra yang pernah ada seperti aku masih belia. Papaku hanya mematung melihatku, dia hampir tidak percaya malaikat kecil cantiknya akan kembali padanya setelah bertahun-tahun tidak bertemu.

Malam itu kami menghabiskan waktu penuh tawa dan canda. Aku malam itu merebahkan diriku dipangkuan mamaku selayaknya aku masih belia. Mereka memasakan makanan kesukaanku, dan diusianya yang susah tidak muda, papa dan mamaku terlihat masih energik dan cekatan. Mungkin karena aku telah pulang ataukah mungkin mereka memaksakan diri supaya aku tidak cemas.

Setelah larut malam, mamaku memintaku agar segera mengistirahatkan diri. Dengan ciri khasnya sejak aku masih belia, mamaku mencium keningku dan mengucapkan selamat malam. Lalu mamaku keluar membereskan sisa-sisa pekerjaannya.

Kulihat sekeliling kamarku, semua masih seperti semula sejak aku meninggalkan rumah. Poster-poster Cinderella yang menempel didinding kamarku  masih terlihat rapi terjaga. Boneka-boneka kesayanganku  dibungkus plastik bersih. Bahkan buku-buku coretan tangan kecilku masih disimpan rapi.

Jam dinding berdenting 12 kali, aku terbangun karena haus dan turun kedapur untuk mengambil air. Saat melewati ruang tamu, kulihat mamaku dan papaku berpelukan berangkulan mesra. Aku begitu bangga melihat kisah cinta mereka yang tidak padam dimakan usia.

Aku iseng coba intip mereka, kulihat mamaku dan papaku membuka album foto lama berisi foto-foto kecilku.  Mamaku beberapa kali menanggis tertahan melihat foto kami. Dan tahukah kalian, jantungku hampir melompat keluar saat kulihat ibuku melepaskan bando kupu-kupunya yang bertahta dikepalanya.

Aku langsung menanggis dan tertunduk lesu menghadapi kenyataan yang baru kulihat, ibuku TIDAK MEMPUNYAI TELINGA. Dan dalam pikiranku yang masih baik, sejak masih kecil ibuku mempunyainya. Aku pelan-pelan berjalan kearah mereka.

“Ma…Maaa….?”, panggilku pelan-pelan. Betapa terkejutnya papa dan mamaku saat melihatku menghampiri mereka. Mamaku langsung secepat kilat menurunkan rambutnya dan mengambil bando itu.

Sebelum sempat bando itu dipakaikan, aku menahan tangannya.”Ma…, ma..ma..mana.. te..linga..mu…?”, tanyaku terpatah-tapah bisa menerka. Kusisingkan rambutnya. Kulihat telinga mamaku rata dengan wajahnya. Kedua-duanya.

Mamaku tidak menjawab, dia hanya menanggis, tapi bukan tanggis kesedihan. “Pa..paa.., mana telinga mama?” ,tanyaku pada papaku tidak bisa kusembunyikan lagi air mataku. Otakku tidak mau menerima jawaban yang ada, tapi hatiku telah menjelaskannya.

Papaku hanya diam, dia juga tersenyum. Tangannya mengenggam erat tangan mamaku. Setelah cukup lama kesunyian itu terjadi, mamaku membuka suaranya.

“Sayang, maafkan mama yang tidak jujur ya. Jangan salahkan dirimu, mama dan papa yang punya niat sendiri untuk mendonorkannya untukmu”, kata mamaku membelai wajahku. Sumpah kepada Tuhan, aku benar-benar terkejut mendengar penjelasan langsung dari mulut mamaku.

“Mungkin kamu bertanya mengapa mama dan papa bisa tahu, sejujurnya saja, temanmu yang bernama Christine itu datang memberitahu kami seminggu kalian kecelakaan. Waktu dia datang dia terlihat sangat sedih sekali dan dan menanggis tersedu-sedu. Lalu dia menceritakan semuanya pada kami dan berkali-kali meminta maaf sambil bersujud”.

“Melihatnya yang begitu menyesal dan menyalahkan diri sendiri, kami tidak bisa menyalahkannya juga. Lagipula kecelakaan yang terjadi juga bukanlah disengaja. Dan dari ceritanya saat mendengar kamu baik-baik saja kecuali telingamu, kami sangat bersyukur kami tidak kehilanganmu”.

“Setelah semua menjadi jelas, mama dan papamu langsung konsultasikan kedokter untuk mendonorkan telinga, dan ternyata telinga mama yang paling cocok dibanding papamu”.

“Sayang, kami melakukannya dengan senang hati. Jangankan telinga ini, nyawapun kami akan tukarkan buatmu. Kamu yang masih muda pasti sangat terbebani dengan kehilangan anggota tubuhmu apalagi dibagian wajah, makanya kami berpikir dengan memberikan telinga kami, kami bisa memberikanmu kebahagiaan lagi”.

“Kami juga meminta Chistine untuk merahasiakan semua ini padamu, karena kami tidak ingin kamu menolaknya. Dan untunglah ternyata telinga mama cocok dan cantik padamu”, jelas mamaku sambil memelukku erat.

Malam itu aku menanggis sejadi-jadinya dipangkuan ibuku. Kupeluk ibuku dengan erat sekali seperti dulu saat aku masih kecil menanggis digodai teman mainku. Aku menanggis dan menanggis sangat menyesal telah melupakannya bertahun-tahun.

“Maafkan aku ma, maafkan aku pa…, maafkan aku…, maafkan aku…, maafkan aku….”.

Entah berapa puluh bahkan ribu kali aku meminta maaf dan menyebut nama mamaku. Aku begitu terharu dengan CINTA dan KETULUSAN mamaku. Dimana lagi aku bisa menemukan mama sekaligus wanita yang mempunyai hati semulia surga? mungkin hanya mamaku seorang dan mereka yang telah menjadi mama.

Sejak malam itulah aku berubah. Sejak malam itulah pandanganku akan dunia berubah. Sejak malam itulah aku berjanji dan bersumpah tidak akan mengulang sejarah yang sama. Aku sudah sangat bahagia mempunyai mama dan papa yang menerimaku apa adanya. Akulah yang tidak tahu tahu berterimakasih dan lupa diri karena hasutan dan goda setan dunia. Tapi untunglah, Tuhan tidak pernah meninggalkanku dan selalu menasehatiku terutama melalui TELINGA mamaku.

Untukmu para pembaca, CINTAILAH dan HARGAILAH semua wanita sekalipun wanita itu kau anggap hina. Mereka yang muda mungkin belum mengerti bagaimana indahnya dan mulianya menjadi mama, tetapi ketika mereka telah dikarunia malaikat kecil dalam keluarga kecilnya, nyawapun mereka tukar untuk memastikan kita lahir sempurna dan tumbuh dewasa.

Ini adalah hari ibu, dan cerita ini sengaja kutulis untuk MEMULIAKAN PARA IBU. Tidak ada kata-kata maupun harta didunia ini yang mampu menggambarkan betapa MULIANYA HATI seorang ibu. Cintailah selagi mereka masih ada, karena setelah kepergiaanya semua telah sia-sia.

 

Love and hug for all mother in the world, especially for my mom :)

 

 

 

3 thoughts on “Kasih seorang ibu

  1. Hiiikksss….Hiiikkkss….
    Terharu dan sampe menitikkan air mata waktu baca endingnya.
    Semakin tertarik baca semua artikel yng mas little mikhael tulis :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s