Bunga nenek


"Tidak akan ada hari yang istimewa sampai kamu sendiri yang mewujudkannya"

Suatu hari, kakekku menjemputku pulang dari gereja menggantikan ibuku yang sedang diluar kota. Dan seperti biasanya kami pulang melewati jalur yang biasa digunakan ibuku mengantarku kegereja. Tetapi hari ini jalur pulang yang kami lewati berbeda setelah belokan kedua. Karena penasaran aku bertanya pada kakekku.

“Kakek, sebenarnya kita ingin kemana? Sepertinya ini bukan jalur yang biasa kita lalui”, tanyaku sambil melihat keluar jendela. “Hohoho…”, kakekku tertawa kecil dan aku sangat suka jika dia tertawa seperti itu, suaranya mirip Sinterklas seperti difilm-film klasik yang biasa kulihat.

“Maaf ya, hari ini kakek harus memutar sebentar sebelum kita pulang. Kakek ingin membelikan bunga pada nenekmu”, lanjut kakekku tersenyum. “Memangnya nenek ulang tahun hari ini ya? Seingatku ulang tahun nenek masih lama”, tanyaku bingung menerka.

Kakekku tertawa lagi dengan ciri khas ya. Katanya.

“Hari ini memang bukan hari ulang tahun nenekmu, dan hari ini bahkan hari minggu biasa seperti minggu-minggu sebelumnya”. “Tetapi bagi kakek hari ini adalah hari yang sangat spesial apalagi bagi nenekmu. Kakek sudah melakukan ini sejak pertama kali cinta kakek diterima nenekmu”, jelas kakekku sambil tersenyum. Aku tahu dia sedang mengenang masa lalunya yang indah.

“Wow, jadi apa yang kakek selalu lakukan selama ini teurtama hari ini?”, tanyaku penasaran dan bersemangat.

“Hohoho…, tidak ada yang spesial, kakek hanya ingin membeli setangkai bunga untuk nenekmu. Kakek telah berjanji padanya, jika kakek keluar meninggalkannya saat kembali akan kakek belikan setangkai bunga, dan ini telah kakek lakukan sejak masih muda”.

“Dan ingatlah ini Mike, tidak akan ada hari yang istimewa sampai kamu sendiri yang MEWUJUDKANNYA. Bukan karena hari itu istimewa kita berlaku istimewa, tetapi karena kita BERLAKU istimewa maka hari itu menjadi istimewa dan segala yang istimewa tidak harus selalu ditunggu tanggal mainnya, tetapi semuanya tergantung kamu kapan ingin memulainya“,  jawab kakekku sambil menghentikan mobilnya didepan sebuah toko bunga.

Aku mengikuti kakekku masuk ketoko bunga. Pemilik toko ini usianya seumuran kakekku. Kulihat mereka berbincang-bincang sebentar lalu kakekku mengeluarkan dompetnya membayar harga bunga itu.

Saat sampai dirumah, kulihat nenekku telah menunggu kami didepan teras dengan senyumannya yang paling manis pernah kulihat. Sejujurnya aku heran, mengapa selama ini aku tidak pernah menyadarinya betapa manisnya senyum nenekku bahkan diusianya yang sudah tidak muda.

Nenekku menerima bunga itu dari kakekku, lalu dikecupnya penuh mesra pipi kakekku. Kemudian Nenekku membawa bunga itu dan ditanamnya diperkarangan rumah.

Tahukah apa yang membuatku terharu melihat semua itu? Sekilas info saja, perkarangan rumah kami ditumbuhi banyak sekali bunga-bunga indah. Banyak yang mengira itu hobi nenekku – termasuk aku. Tetapi hari ini aku tahu apa maksud bunga-bunga yang tumbuh indah dan dijaga penuh cinta itu.

Itulah bunga cinta nenekku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s