Sebukit bunga


“Dan…, ini bunga kita yang dulunya hanya sepetak tanah itu?”

“Sayang, ini adalah bunga kita berdua ya, kamu harus terus menjaganya jika hatimu masih mencintaiku”, kata wanita cantik ini sambil mencium pipi kekasihnya. Dengan tangan berlumuran tanah, keringat membasahi wajah, dua anak manusia ini saling mengikat janji dengan saksi setangkai bunga.

Sudah sebulan sejak mereka bersumpah setia. Bunga yang mereka tanam pun tumbuh indah. Keduanya merasa bangga dan bahagia, keduanya berjanji lagi akan selalu bersama.

Suatu hari, datanglah seorang teman wanita cantik ini. Dan dari temannya juga wanita cantik ini mendapatkan nasehat “bijak”. Katanya, “Kamu itu cantik, dan menurutku kita sebagai wanita harus pandai menjaga kecantikkan kita selagi masih muda dan bisa. Coba lihat kulitmu yang kusam dan kemerahan disengat terik siang, coba perhatikan rambutmu yang terawat kurang sempurna. Sudah saatnya kamu meminta kendaraan lain untuk membawamu keluar jalan”.

Malamnya wanita cantik ini tidak bisa tidur karena memikirkan kata temannya. Semakin dipikir semakin “benar” apa yang dikatakan temannya. Lalu wanita cantik ini mengambil keputusan akan memberitahukan kepada kekasihnya “kebenaran” yang didapat dan dipelajari dari temannya.

“Sayang, aku berpikir sudah saatnya kita memiliki kendaraan lain selain sepeda tua itu. Coba lihat kulitku, terlihat kusam dan kemerahan bukan? Dan coba lihat rambutku, acak-acakan dan kurang terawat kan? ”.

“Aku tidak meminta supaya kita memiliki kendaraan mewah, setidaknya kendaraan yang bisa menjagaku dari panas terik siang dan hujan. Aku juga ingin selalu tampil cantik untuk kamu dan jika menggunakan sepeda tua itu aku tidak bisa melakukannya”, jelas wanita cantik ini pada kekasihnya suatu pagi.

Mendengar permintaan wanita cantik yang sangat disayanginya itu, pria ini hanya tersenyum. Katanya, “Baiklah, aku akan berusaha. Dan seperti dulu aku mengatakannya padamu, kamu selalu yang tercantik bagiku sekalipun kamu tidak perlu apa-apa lagi untuk mempercantik dirimu”.

“Iya sayang, aku masih ingat kata-katamu itu, tapi aku kan ingin menjadi lebih cantik lagi supaya kamu selalu mencintaiku. Terimakasih ya sudah mau mewujudkan permintaanku”, jawab wanita cantik ini manja sambil mengecup pipi kekasihnya.

Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan menyatu. Akhirnya permintaan yang diinginkan wanita cantik ini terkabul. Kekasihnya membawakannya sebuah mobil sederhana hasil jerih payahnya. Sang wanita begitu bahagia. Dipeluknya kekasihnya itu dengan mesra. “Terimakasih sayang, aku sayang kamu…”, bisiknya.

Semenjak ada kendaraan beroda empat yang disebut mobil itu, wanita cantik ini kemana-mana tidak pernah menggunakan sepeda tua mereka lagi. Kekasihnya juga memberikan kebebasan pada wanita cantik ini untuk membawa mobilnya kemana saja.

Apa yang didapat, selalu ada yang dikorbankan. Kekasih wanita cantik ini tidak bisa menemaninya lagi jika hendak kemana-mana. Ketika ditanya kenapa, kekasihnya hanya mengatakan bahwa dia harus bekerja lembur untuk memastikan biaya mempunyai mobil itu bisa terbayarkan. Awalnya wanita cantik ini merasa bersalah, tetapi kekasihnya menyakinkannya bahwa semua itu untuk mereka berdua, asal wanita cantik ini bahagia, iapun sudah sangat bahagia. Mendengar jawaban kekasihnya, wanita cantik ini memeluknya dengan mesra, “Aku sayang banget sama kamu…”, bisiknya.

Tidak terasa enam bulan telah berlalu, wanita cantik ini dan kekasihnya sudah jarang bertemu. Suatu hari, datang berkunjung temannya yang dulu memberinya nasehat “bijaksana”. Dan kali ini temannya memberi nasehat “bijaknya” sekali lagi.

“Sayang, menurutku cintanya padamu sudah berkurang. Buktinya ketika kamu mengajaknya keluar dia selalu beralasan tidak bisa. Aku tahu dia bekerja untuk kalian berdua, tetapi masa setiap kali diajak selalu tidak bisa dengan alas an yang sama pula?”.

“Jika kamu tidak percaya, mari kita tes kekasihmu”, kata temannya. “Tapi bagaimana caranya?”, tanya wanita cantik ini penasaran dan ragu. “Begini, dia kan selalu beralasan bahwa malamnya lembur, bagaimana kalau besok malam kamu memintanya menemanimu kesuatu tempat dengan alas an ada hal yang sangat penting. Jika dia tidak bisa, kamu katakan akan dijemput pria lain yang sebenarnya adikku”, jelas temannya dan diiyakan oleh wanita cantik ini.

Pada hari yang telah direncanakan, wanita cantik ini mulai melakukan sandiwaranya. Ketika malam itu ternyata hujan cukup lebat. Lalu wanita cantik ini meminta kekasihnya datang menjemputnya dirumah dengan alas an hendak keluar dan sangat penting seperti yang telah diminta temannya.

Seperti tebakan teman wanita cantik ini mendengar jawaban kekasihnya yang mengatakan tidak bisa. Rasa kecewa dan marah pun mengisi hatinya. Lalu seperti yang telah direncanakan semula, wanita cantik inipun mengatakan kalau ia tidak bisa menjemputnya, ia akan dijemput laki-laki lain.

Tetapi alangkah kecewanya wanita cantik ini ternyata kekasihnya tetap menolak dan mengatakan ada yang lebih penting yang harus ia lakukan.  Bahkan kekasihnya mengijinkan ia dijemput laki-laki lain. Sebuah sandiwara yang ia harapkan berjalan tidak lancar ternyata justru berjalan sukses sesuai perkiraan temannya.

Betapa hancur hati wanita cantik ini, ternyata selama ini kekasihnya sudah tidak peduli lagi. Wanita cantik ini menanggis dan menanggis selebat hujan yang membasahi bumi. Dan dalam kelelahan menanggis wanita cantik ini terlelap sedih.

Malam yang dingin telah berlalu, pagi yang hangat membawa harapan baru. Wanita cantik  ini terbangun lesu. Matanya memerah akibat luapan air mata. Dengan hati yang berat ia memaksakan diri bangun dari ranjangnya.

Hati yang terluka akan membekas selamanya, dan hati wanita ini telah terluka. Hari-hari dilaluinya penuh ceria, tetapi ketika malam tiba ia bermain air mata. Tidak terasa telah seminggu lamanya dan kekasihnya pun tidak pernah menghubunginya.

Atas nasehat “bijak” dari temannya, wanita cantik ini mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya yang telah sekian tahun telah bersamannya. Dan dia memilih hari minggu untuk mengatakannya.

Hari yang telah ditentukan tiba, dengan langkah mantap dan sedikit harapan, wanita cantik ini ditemani temannya untuk menemui kekasihnya. Ketika tiba dirumah kekasihnya, mobil yang biasa dipakainya telah tidak ada.

Beribu pertanyaan berterbangan dikepalanya. Lalu dengan sedikit harapan lagi wanita cantik ini berlari kecil kebelakang rumah kekasihnya. Dilihatnya sepetak tanah disana. Kosong. Tidak ada bunga yang dulu mereka tanam bersama. Tidak ada bunga yang dulu jadi saksi cinta mereka.

Harapan kecil yang telah diharapkannya langsung sirna. Wanita cantik ini menjatuhkan dirinya ketanah sambil menanggis. Dalam kesedihannya, datanglah seorang bapak tua yang kebetulan lewat dibelakang rumah itu.

“Wahai gadis muda, apa yang kamu tanggisi?”, Tanya bapak tua ini. Wanita cantik ini hanya melihatnya dan menunjuk petakan tanah yang kosong itu lalu kembali menanggis. “Oh, kamu pasti wanita yang sangat beruntung itu”, lanjut bapak tua ini sambil tertawa kecil penuh arti.

Bingung, marah dan perasaan lainnya bercampur satu. Bagaimana mungkin seorang wanita yang sedang menanggis sedih bisa disebut beruntung? Belum sempat wanita cantik dan temannya ini meluapkan murka mereka, bapak tua ini melanjutkan perkataannya.

“Kamu gadis kecil yang beruntung, cobalah naik kebelakang bukit kecil disebelah sana. Kamu akan mengerti mengapa aku menyebutmu beruntung, hohoho…”, jawab bapak tua ini sambil tertawa dan berlalu .

Tanpa babibu wanita cantik ini dan temannya berlari mengikuti arah yang ditunjuk bapak tua tersebut. Terik matahari tidak dipedulikannya lagi, alas kaki tidak dipakainya lagi, yang dikepalanya hanyalah jawaban atas bapak tua itu.

Ketika hendak sampai kebukit kecil yang dimaksud, wanita cantik ini menabrak seorang pemuda kumal yang sedang membawa sepeda tua. “Ma.. maafkan aku tuan, aku tidak melihat tuan, aku sedang terburu-buru…”, jawab wanita cantik ini dan membantu pemuda kumal ini bangun.

Alangkah terkejutnya ketika wanita cantik ini melihat wajah pemuda kumal tersebut. “Mike???”, Tanya wanita cantik ini yang ternyata adalah kekasihnya. “Apa yang kamu lakukan disini? Dan mengapa kamu tidak penah menghubungiku?”, Tanya wanita cantik terlihat lega juga marah.

Mike yang ternyata nama kekasihnya wanita cantik ini hanya tersenyum. Diambilnya topi jerami yang tadi jatuh, lalu dipakaikannya pada wanita cantik ini. “Kamu selalu yang tercantik bagiku”, kata Mike tersenyum lagi. Belum sempat wanita cantik ini membuka mulutnya, Mike memberi tanda agar ia diam dan memintanya mengikutinya sambil mengenggam tangannya dengan erat.

Selangkah demi selangkah, keheningan sedetik bagaikan sejam lamanya. Dengan perasaan deg-degan wanita ini berharap-harap cemas didada.  Dan ketika mereka melewati sebuah pohon tua besar nan rindang, disitulah semua jawaban dan harapan kecil yang diharapkannya.

“Mi… Mi… Mike…, i… ini apa…?”, Tanya wanita cantik ini hampir tidak percaya. Dari atas bukit kecil itu terlihat sekumpulan bunga warna-warni yang sangat indah yang  tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Sejauh mata memandang, semuanya adalah bunga yang sangat dikenalnya, dan yang membuat wanita cantik ini tidak mampu menahan harunya adalah, bunga-bunga itu adalah bunga saksi cinta mereka.

Wanita cantik ini menoleh memandangi Mike, dengan penuh kasih sayang Mike menyibak rambut wanita cantik ini. Dipandanginya dalam-dalam mata wanita cantik ini. Katanya.

“Maafkan aku sayang selama ini aku tidak bisa menemanimu. Aku terpaksa berkata padamu bahwa aku lembur kerja karena ingin mempersiapkan ini padamu. Dan aku memang bekerja lembur untuk membayar tagihan mobil itu juga”.

“Aku yakin aku pasti telah sangat melukai perasaanmu dengan menolak mengantarmu  bahkan menginjinkan laki-laki lain membawamu. Tetapi, aku melakukan semua itu juga dengan sangat terpaksa. Aku akui aku sangat cemburu ketika kamu dibawa laki-laki lain,tapi demi melihat senyummu yang lebih besar aku merelakannya walaupun harus dengan sangat terluka”.

“Seperti yang kita tahu, kemarin malam hujan lebat dan aku takut bunga kita yang telah kujaga selama ini akan hancur berantakan diterpa angin jadi aku datang dan meminta beberapa tetangga untuk membantuku menjaganya. Bagiku, janjiku padamu untuk menjaga bunga kita  lebih penting dari nyawaku sendiri”, jelas Mike.

“Dan…, ini bunga kita yang dulunya hanya sepetak tanah itu?”, Tanya wanita cantik ini hampir tidak percaya. “Iya sayang, dan semuanya kupersembahkan padamu. Dulu kamu berkata padaku, jika hatiku masih mencintaimu, maka aku harus menjaga bunga ini. Dan seluruh bunga dibukit kecil ini adalah bukti cintaku”, jawab Mike tersenyum indah sekali.

Tanpa perlu perintah, wanita cantik ini langsung melompat memeluk kekasihnya.

“Maafkan aku Mike, maafkan aku, aku telah salah menilaimu, aku benar-benar salah sudah berani tidak percaya padamu…, aku malah meragukan cintamu…, maafkan aku sayang, maafkan aku…”, ucap wanita cantik ini berkali-kali sangat menyesal.

Temannya, teman yang dikenal “bijak” oleh wanita cantik ini diam seribu bahasa menyaksikan kisah suci cinta antara dua manusia. Ia menutup mulutnya dengan mata sangat berkaca-kaca. Ia merasa menyesal telah memberikan nasehat “bijak” menurut isi kepalanya tanpa mencari tahu kebenaran dari semuanya.

Ia meminta maaf pada wanita cantik ini juga kekasihnya dan sangat menyesalinya. Ia merasa sangat bersalah telah mengotori cinta suci wanita cantik ini dan kekasihnya hanya karena dia merasa bahwa dia benar.

“Sayang, maafkan aku ya, mobilnya aku terpaksa jual lagi untuk membayar para pekerja ditaman bunga ini, aku berjanji akan membeli kem…”, belum habis Mike menyelesaikan kalimatnya, wanita cantik ini menciumnya dengan sangat mesra.

“Sayang, aku tidak perlu mobil itu lagi. Aku tidak peduli kulitku akan kusam dan kemerahan lagi. Aku tidak peduli rambutku tidak terawat sempurna lagi. Yang aku perlu adalah sepeda tua kita, topi jerami ini dan ini…”, jawab wanita cantik ini sambil menunjuk hati Mike.

“Tetapi, jika kamu bekerja sepertiku kamu akan jadi kumal dan kotor sepertiku lho…”, kata Mike sedikit minder. “Kalau begitu perlihatkan padaku bagaimana kumal itu terjadi dan dimana tempatya”, jawab wanita cantik ini tersenyum manis sekali. Dalam kebingungannya Mike membawa wanita cantik ini dan temannya ketempat dimana ia biasa bekerja.

“Hup…”, teriak wanita cantik ini melompat kesebuah sungai kecil yang jernih sekali dimana Mike biasa mengambil air menyiram bunga-bunga. “Sayang…, sini dong, temanin aku main air, sudah lama aku tidak seperti ini.”, panggil wanita cantik ini tanpa mempedulikan gaun putihnya basah dan kotor terkena cipratan tanah.

Mike dan teman wanita cantik ini saling berpandangan, lalu mereka saling tersenyum penuh arti. Ketika seekor kupu-kupu terbang meninggalkan bunga hinggapannya, seakan diberi aba-aba, mereka berdua berlari kecil berlomba siapa yang paling cepat menyusul wanita cantik ini bermain air dengan ceria.

Oya, siapkah nama wanita cantik ini? Namanya tertata indah dan disusun rapi oleh bunga-bunga yang warna-warni disana. Hanya para penghuni surga dan mereka yang melihatnya dari angkasa yang tahu siapa nama wanita cantik beruntung ini yang begitu dicintai kekasihnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s