Namaku Cupid


“Maukah kamu menjadi bidadariku diistana hatiku?”

Namaku Candice, dengan tubuh kecil mungil, wajah pas-pasan banget dan sangat ceroboh itulah yang bisa kugambarkan sebagai perkenalan diri. Ya, ya, aku tahu kalian pasti mengira aku hanya merendah saja, tetapi ketahuilah, aku serius mengatakannya. Jika kalian bersikeras berkata setidaknya pasti ada satu kelebihanku maka aku ini adalah “pujaan” para pria dan wanita disekolahku dan julukanku adalah “Cupid”.

Kalian pasti tahu Cupidkan? Itu tuh malaikat yang berbentuk anak kecil dengan panah asmara ditangannya yang bertugas menjodohkan anak manusia. “Keren” kan julukanku.

Aku bangga dengan julukan itu? Seandainya dijadikan petugas mengantar surat-surat cinta antara mereka yang sedang jatuh cinta ataupun sebagai penghibur bagi yang putus cinta bisa disebut bangga, maka aku akan mengatakan dengan lantang, aku bangga!. Tetap kenyataannya aku tidak pernah merasa bangga.

So, sudah tahukan mengapa aku begitu “dipuja” oleh para pria dan wanita dan juga dijuliki “Cupid”, aku adalah pesuruh dan penghibur cinta atau bahasa kerennya yang aku ciptakan sendiri, aku ini “Budaknya dari Cupid.”.

“Cupid, nanti tolong kasihkan surat ini pada George ya yang kelas Roses (mawar)”, pinta seorang wanita yang cantik sekali. Bola matanya kehijauan seperti permata Emerald. Rambutnya panjang halus seindah sutra dan tubuhnya tinggi langsing mengoda bagi melihatnya.

“Jangan sampai orang lain tahu ya”, lanjut wanita cantik ini memperingatiku. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Lalu kulihat dia berlalu melayang terbang meninggalkanku. Aku terpesona sekali padanya sampai-sampai aku tidak bisa menjelaskan lagi dengan kata-kataku. Imajinasiku mengambil kendali otakku.

Sekedar informasi saja, sekolahku dibagi dengan kelas-kelas yang diberi nama dengan nama bunga, dan George adalah pria paling tampan yang ada disekolah ini. Dia dari keturunan bangsawan berdarah “biru”. Tidak ada wanita yang tidak menginginkannya dan tidak ada yang tidak mengenalnya. Bahkan aku yang paling tidak populer sekalipun mengetahuinya.

Tetapi, tidak ada yang tahu dimana George tinggal dan kapan dia masuk kelas. Orang tuanya adalah orang yang sangat berpengaruh sehingga apa yang diinginkan George akan langsung dipenuhi. Makanya sekalipun George tidak pernah masuk kelas, ia tidak pernah tinggal kelas.

“Apakah ada George?”, tanyaku dengan suara pelan kecil sambil bersembunyi ketika aku berada dikelas Roses. “Wow, ada Cupid datang, siapakah yang hari ini beruntung dikunjungi Cupid?”, teriak seorang pria. “Coba berikan surat itu padaku”, lanjut pria ini sambil merebut surat itu dari tanganku.

“Wow!! Inikan surat dari Patricia De Beauty, bunga paling indah yang paling dipuji. Dan, kepada…, Mike??, suara pria ini tertahan. Aku menahan napas mendengar dia menyebut nama Mike, bukankah tadi wanita cantik itu memintaku menyerahkannya pada George?.

Seketika saja kelas itu menjadi gaduh. Bunga yang paling indah mengirim surat cinta pada seseorang yang tidak kukenal? Dan, siapa Mike itu? Tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba pria yang merebut surat dari tanganku ini menarik tanganku dan berkata, “Lari, selamatkan dirimu”, dengan mimik sangat serius. Ketika kulirik kebelakangnya, kulihat lusinan mata memandangi kami seperti serigala kelaparan yang mengintai mangsanya malam hari. Dan, aku langsung mengetahui siapa Mike itu.

“Haahh…, haahh…,”, suara kami ngos-ngosan mengambil napas. “Apakah mereka masih mengejar kita?”, tanyanya padaku. Kulihat sekelilingku, kugelengkan kepalaku tandanya tidak ada. Lalu kulihat pria ini tersenyum membuat wajahku merona merah. “Untunglah, aku kira kita akan dibunuh, hahaha..”.

Dug, dug, dug, bunyi suara jantungku.

Sejak kejadian itu aku dan Mike menjadi akrab. Walaupun dia sering menjahiliku ketika aku mengantar surat cinta pada pasangan lainnya, aku entah mengapa justru merasa senang dan tidak keberatan. Tetapi bukan berarti hari-hariku berjalan indah. Bunga paling indah membenciku.

Ya, aku yakin kalian pasti mengetahuinya mengapa. Sebenarnya surat cinta yang diminta Patricia sampaikan adalah benar kepada George, tetapi karena kejahilan Mike ia sengaja mengganti nama George dengan namanya. Apalagi ditambah isu salah paham yang menyebar keseluruh sekolah lagi. Hancur sudah hidupku.

“Tega benar ya kamu Cupid, menjelekkan nama Patricia seperti itu. Kamu memang rendah, tidak heran kamu menjadi suruhan semua. Dan aku tidak heran kamu tidak bisa mendapatkan cinta selain jadi pesuruh cinta, karena kamu memang tidak pantas mendapatkannya.”, teriak seorang wanita padaku disaksikan mata-mata lain ditengah halaman.

Menyedihkan? Jangan heran dan tidak perlu kasihan padaku. Aku sudah terbiasa mendengarnya dan bagiku ini masih luka yang tingkat rendah. Aku punya pengalaman yang berkali-kali lebih buruk dari ini, dan ijinkan aku menceritakannya sedikit.

Dulu, sebagaimana wanita umumnya, akupun pernah menyukai seorang pria. Dan yang sangat membahagiakanku, pria yang kusuka juga menyukaiku.

Hari-hari kami lalui selayaknya pasangan muda yang jatuh cinta. Berkencan, bergandengan tangan, bermesraan sampai suatu hari dia memintaku ketaman bunga dibelakang sekolah untuk melamarku. Bayangkan betapa bahagianya aku.

Pada hari yang ditentukan, aku datang ketempat yang dijanjikan. Disaksikan ratusan pasang mata, pria yang sangat kucinta memutuskanku.

“Mengapa?”, tanyaku dengan suara yang hampir tidak bisa keluar. Dia hanya menatapku. Pundakku dipegangnya dengan kedua tangannya, katanya, “Maaf Candice, kami sedang taruhan bahwa wanita sepertimu mudah didapat, dan terimakasih padamu aku menang”, sambil mencium pipiku.

Semua berseru dan tertawa. Beberapa melihatku dengan pandangan sinis yang bisa kutebak bahwa mereka kalah taruhan. Hatiku hancur berkeping-keping. Aku hanya sekedar taruhan?

“A.. Apa..kah selama ini ka..mu pura-pura mencintaiku…?”, tanyaku terbata-bata dengan suara hampir pecah menanggis. Pria yang kusuka ini melihatku. Ia tersenyum. Katanya, “Tentu saja sayang, siapa sih yang mau sama wanita jelek sepertimu, kalau bukan karena taruhan aku tidak akan pernah mendekatimu. Dan oya, ciuman tadi kulakukan karena mereka mengatakan akan membayarku dua kali jika aku berani melakukannya”.

Tanganku kukepalkan erat-erat. Kugigit bibirmu terdiam. Riuh tawa hina dan maki terdengar jelas. Lalu kuangkat kepalaku. Kukatakan pada pria yang sangat kusukai ini, “Untunglah kamu menang, terimakasih ya selama ini menemaniku, aku sangat bahagia lho”.

“Dan kepada teman-teman lainnya, aku akan melakukan apa saja asal kekalahanku malam ini bisa dilupakan ya…”, lanjutku tersenyum. Tidak ada air mata, wajahku ceria, yang kutahu bibirku berdarah-darah entah mengapa. Dan itulah kisah awal alasan aku menjadi “Cupid” dan tidak bisa menolak.

“Cupid, apakah ada seseorang yang kamu suka?”, tanya Mike padaku ketika menemaniku pulang. Wajahku langsung memerah, kugelengkan kepalaku berkali-kali dan cepat.

“Ckckck…, kamu ini mudah ditebak. Siapa pria itu?”, tanya Mike sambil mendekatkan wajahnya padaku dan senyum jahil menghias bibirnya. “Aha, pasti George ya”, tebaknya dan wajahku merona lebih merah lagi. “Aku heran, pria sok ganteng dan sok kaya itu apa hebatnya sih, aku saja bosan jadi temannya”, jawab Mike menggaruk kepalanya.

Aku terdiam mendengar perkataannya. Mike berteman dengan George? Kapan? Dimana? kepalaku dipenuhi pertanyaan yang ada. Seperti bisa membaca isi kepalaku, Mike bertanya hal yang hampir membuat jantungku copot. “Kamu mau bertemu dengannya? Aku bisa atur buat kamu lho”.

Sambil memandangi cermin, aku hampir sejam mencoba baju yang hendak kupakai untuk bertemu George. Atas paksaan Mike dan keinginanku juga, aku mengiyakan usul Mike untuk mempertemukanku dengan George ditengah taman bunga belakang sekolah.

Aku meminta Mike menemaniku, tetapi dia menolak beralasan malas melihat sikap George yang menurutnya sok ganteng dan sok cool itu. Dia bersedia mengantar dan menjemputku, tetapi dia tidak bersedia menemuinya. Akupun tidak bisa memaksanya dan kuiyakan saja.

“Kita sudah sampai Cupid, saatnya kamu jadi Cinderella malam ini. Tapi ingat ya, cuma satu jam”, katanya mengingatkan. Sebelum dia meninggalkanku, kutarik tangannya dan kucium dia. Tetapi, Mike menahannya dengan tangan kirinya.

“Eits, apa-apaan kamu? Aku tidak mau diciun kamu ah, nanti aku bisa dicap apalagi”, teriak Mike dengan muka merah padam. Aku hanya tertawa kecil melihat wajahnya. Aku juga tidak tahu mengapa aku melakukannya dan aku juga tidak tahu sejak kapan aku menjadi akrab dengannya. “Udah ah, aku pergi dulu. Satu jam lagi aku kesini”, lanjutnya.

Dan, malam itu aku memang menjadi Cinderella.

“Bagaimana tadi malam? George orangnya membosankan bukan?!”, tanya Mike besok paginya sambil memandangiku dengan tatapan sinis seakan itu kemenangannya. Aku tersenyum padanya. “Justru sebaliknya. Orangnya baik, ceria dan jahil lagi”, kataku dengan suara pelan penuh arti.

“Apa?, matamu yang salah kali. Pria seperti itu jelas-jelas tidak seperti gambaranku. Pria kaku dan sok itu…”, jawabnya sambil melipat tangannya seakan-akan berpikir keras. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya. Kataku padanya, “Sepertinya aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama”. Mike mematung mendengar jawabanku.

Kisah Cinderella malam satu jam menjadi kisah yang sangat berarti bagiku. Walaupun kisah pagi dan siangku tetaplah sama masih seperti dulu tetapi aku sekarang bisa lebih tersenyum karena ada seseorang dan satu-satunya lagi yang menjadi temanku.

“Hei Cupid, tolong antarkan surat ini pada George ya, jika tidak kamu akan merasakan akibatnya, dan pastikan sekarang jangan sampai salah lagi.”, kata Patricia sibunga terindah padaku. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku dan mengangguk. Lalu sejarah terulang lagi.

“Wow, surat untuk siapa lagi ini? Untukku ya?”, kata Mike sambil merebutnya dari tanganku yang tiba-tiba muncul dari belakangku. Kali ini dia merebutnya dihadapan Patricia.

“Hei Mike, surat itu untuk George”, teriak Patricia sambil merebut kembali suratnya itu. “Untuk George lagi?”, tanya Mike memicingkan mata. “Apa sih hebatnya pria kaku itu”, sambil menghela napas dengan gaya seakan putus asa. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.

“Apa yang kamu tertawakan jelek, menurutmu itu lucu hah?”, tanya Patricia kesal sambil mendorong tubuhku dan, “Brak…”, suara benturan tubuhku pada pintu kelas. “Heiii…”, teriak Mike sambil membantuku berdiri. “Sampai kapanpun kamu tidak akan mendapatkan cinta, dasar kecil jelek”, ejek Patricia disertai tawa teman-temannya.

“Kalau begitu kita taruhan…”, kata Mike tiba-tiba mengejutkanku. “Kalau Cupid bisa membuat George jatuh cinta, maka kamu harus berjanji jangan pernah mengejeknya lagi dan merepotkannya”, lanjut Mike dengan mimik wajah yang serius.

Suasana hening sejenak, lalu meledaklah tawa dari Patricia dan teman-temannya. “George akan jatuh cinta pada sijelek ini?”, ejek Patricia. “Aku akan dengan senang hati menerima taruhan itu, dan biarkan aku sedikit terbaik hati, sijelek ini tidak perlu sampai membuat George jatuh hati karena itu tidak mungkin terjadi sekalipun dalam mimpi, jika George mau memegang tangannya saja aku mengaku kalah”, lanjut Patricia berlalu meninggalkanku dengan wajah tertunduk.

Besoknya, kabar taruhanku – lebih tepat taruhan Mike – menyebar keseluruh sekolah. Dan seperti perkiraanku, semua menertawaiku. Sebenarnya tidak semua sih, ada satu yang tidak menertawaiku dan aku yakin kalian pasti tahu siapa maksudku.

“Hai gadis populer…”, sapa suara yang sudah tidak asing lagi ditelingaku. Rasanya aku ingin menonjok pria ini yang seenaknya menjadikanku sebagai taruhan. Tapi apa daya, dia satu-satunya temanku, dan jika kutonjok dia sudah pasti aku tidak akan mempunyai teman lagi.

“Mike, kamu kok yakin saya bisa membuat George jatuh cinta?”, tanyaku dengan suara pelan dan gugup. “Hmm, sesungguhnya aku tidak yakin, hahaha…”, jawabanya santai. Jika yang memberiku jawaban ini adalah pria lain aku mungkin sudah pingsan mendengarnya.

“Patricia cukup mengenal George, jadi kesempatannya untuk menang cukup besar”, kata Mike saat dia menemaniku mengantar surat cinta pada seseorang. “Hah?! Patricia pernah bertemu George?”, tanyaku sedikit terkejut.

“Iya, Patricia kan teman kecil George walaupun sangat jarang bertemu”, lanjut Mike memandangiku dengan pandangan penuh arti. “Tapi kesempatanmu untuk menang juga masih ada, malam-malam yang lalu kamu kan sudah menemui George”, lanjut Mike lagi berusaha menyakinkanku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk saja. Seandainya saja dia tahu rahasia apa yang telah kuketahui tentang George.

Hari-hari telah berlalu, hari yang telah ditentukanpun datang. Tidak perlu aku mencari tahu kapan dan dimana pangeran yang dipuja para bunga itu akan datang. Teriakan histeris dan dandanan yang wah sudah menceritakan semuanya. George akan datang kesekolah pada hari ini.

Ketika sebuah kereta kuda berhias gaya kerajaan raja berhenti didepan gerbang masuk sekolah, kulihat seorang pemuda tampan, sangat tampan keluar dari keretanya. Seperti diperintah saja, para gadis berteriak keras memanggil namanya. “George…, George…, George… “.

Dikawali oleh puluhan pengawal, George melangkah mantap berjalan ketengah lapangan sekolah. Lalu mengucapkan kata-kata yang tidak akan pernah dilupakan oleh para semua bunga yang memujanya, termasuk aku.

“Malam ini, aku ingin mengadakan pesta tahunan sekolah kita. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya yang mempunyai tema, tema tahun ini adalah sangat special. Temanya adalah bidadari dan aku ingin memilih bidadari pendampingku. Semua mempunyai kesempatan yang sama, semuanya…”, kata George dengan senyuman tampannya disertai teriakan histeris yang luar biasa. Aku hanya tersenyum dari jauh dibalik pohon besar tua, aku tidak ingin orang lain melihatku.

“Teng…, Teng…, Teng…”.

Bunyi suara jam tujuh kali, belum pernah aku begitu deg-degan melihat jam seperti malam ini. Seperti biasanya, aku datang lebih awal – lebi tepat terlalu awal – dan bersembunyi dibalik pohon besar tua kesukaanku. Kulihat sekelilingku semua wanita memakai pakaian bidadari yang sangat cantik sekali. Yang laki-laki juga tidak mau kalah, mereka memakai pakaian ala pangeran menyesuaikan tema.

Saat kulihat kerumunan disebelah kananku, tepatnya gerbang masuk utama, aku hampir tidak percaya dengan mataku. Seorang wanita yang super cantik memasuki sekolah kami. Awalnya aku bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita ini? karena aku belum pernah melihatnya. Aku ingin mendekat tapi takut diusir oleh mereka. Dan ketika wanita ini berbicara dengan aksen khasnya, aku langsung menyadarinya. Patricia.

Diatas kepalanya dihiasi sebuah tiara bertahtakan permata yang menyilaukan mata. Rambut pirangnya bagaikan untaian helaian emas-emas surga. Dipunggungnya terlihat bentangan sayap bidadari tipis transparan yang indah luar biasa. Benar-benar bagaikan seorang bidadari dari nirwana.

Saat sedang mengagumi kecantikan Patricia, aku mendengar suara jam berdentang. Delapan kali banyaknya.

“Teng…, Teng…, Teng…”.

Tidak terasa jam berjalan begitu cepat. Hiruk pikuk suasana ditengah lapangan beransur-ansur senyap. Semua wanita yang tidak berpasangan berkumpul jadi satu. Ada yang merapikan rambutnya. Ada yang mengecek make-upnya. Ada yang membersihkan pakaiannya. Semua memastikan dirinya bahwa mereka telah tampil sempurna.

Kulihat Patricia tetap berdiri tak bergeming didepan tengah lapangan. Dia terlihat begitu percaya diri dengan penampilannya, dan memang harus kuakui, dialah yang paling cantik diantara semuannya. Saat kudengar derap suara kuda dari jauh, dadaku menjadi sesak dan deg-degan. Kulihat para wanita lainnya juga merasakan hal yang sama.

Semakin dekat suara derap kuda itu, aku semakin deg-degan. Aku memberanikan diri berjalan pelan-pelan keluar dari balik pohon tua aku bersembunyi. Semakin dekat lagi derap suara kuda itu, aku melangkah lebih dekat lagi kekerumunan disana. Dan ketika kuda itu berhenti didepan gerbang masuk sekolah, aku merasakan seseorang menarik tanganku dari belakang.

“Hmmphhh….,” aku mencoba berteriak karena terkejut. Tapi suaraku tidak bisa keluar karena ditutupi oleh tangannya. Aku mencoba berontak tetapi tenagaku kalah kuat. Aku terus meronta dan saat kurasakan tangan yang menutupi mulutku sedikit melonggar, kusiku dia dan kubalikan tubuh dan menampar sekuat tenaga pada pria ini.

“Plak!!” dan “,Aduh…”, teriak pria ini kesakitan. Setelah menamparnya aku berlari secepat aku bisa kearah lapangan didepan sana. Aku sudah tidak peduli apakah aku akan dipermalukan disana karena bagiku keselamatan diri lebih penting dari segalanya.

Saat kuterobos kerumunan para gadis itu, aku tersandung dan terjatuh. Lebih parahnya lagi, aku terjatuh tepat didepan Patricia yang sedang berhadapan dengan seorang pria.

“Sijelek?”. “Cupid?!”, kata Patricia dan pria ini bersamaan terkejut melihat aku jatuh disana. Semua yang melihat juga terkejut sekali, anehnya mata mereka bukan tertuju padaku, tapi belakangku. Aku juga spontan langsung melihat kebelakang, bukan karena penasaran apa yang dilihat mereka tapi aku ingin memastikan apakah pria yang “menyerangku” masih mengikutiku.

Dan, betapa terkejutnya aku melihat pria yang dilihat para wanita itu, pria itu adalah pria yang “menyerangku”. Dan dia adalah George. Lalu siapa yang berdiri dihadapan Patricia?, kubalikan tubuhku dan, “Mike??”, tanyaku hampir tidak percaya. “Apa yang kamu lakukan disini?”, tanyaku, tanya Patricia dan tanya Mike bersamaan.

Suasana malam sunyi senyap. Hanya terdengar bisikan kecil mereka yang bingung dengan apa yang barusan terjadi. Mengapa Mike yang datang dengan kereta kuda? Mengapa George sang pangeran datang dari balik pohon tua. Mengapa aku yang berlari ketakutan dan jatuh ditengah lapangan disana. Mengapa George ada bekas tamparan diwajah, dan pertanyaaan-pertanyaan lainnya.

Diantara semua yang hadir disana, akulah yang paling terkejut pembaca. Mengapa?, karena akulah yang paling mengetahui rahasia bahwa Mike adalah George.

Kapan? Tanyamu.

Tentu kalian masih ingat saat aku dibawa Mike menemui George malam-malam lalu dan aku mencoba menciumnya bukan? Dan saat hendak kucium dia menahan dengan tangannya kan?!. Sekedar informasi saja, aku selalu memakai pewarna bibir ramuanku sendiri dan wanginya sangat khas juga unik.

Setelah mengantarku Mike berpamitan pulang dan mengatakan akan menjemputku satu jam lagi lalu akupun menemui George. Saat bertemu George, dia benar-benar seperti digambarkan oleh Mike. Pria yang tampan sekali, berwibawa dan, kaku.

Waktu menemuinya, anehnya, perasaanku tidaklah sedeg-degan sebagaimana yang kupikirkan. Aku dan George berbicara dan berbagi cerita. Yang lebih aneh lagi, aku merasa sangat mengenalnya sekalipun aku dan George baru pertama kali bertemu.

Ternyata insting wanitaku tidaklah salah, saat dia melepaskan syalnya dan memberikannya padaku supaya aku tidak kedinginan, aku mencium wangi yang sangat kukenali dari tangannya. Dan wangi itu wangi pewarna bibirku.

Itulah mengapa besok paginya saat Mike bertanya padaku bagaimana George itu, aku mengatakan bahwa ia humoris dan jahil yang sebenarnya yang kumaksud adalah dia. Itulah rahasia terbesarku yang kujaga. Tetapi malam ini aku justru melihat George dan Mike berdiri bersama.

“Tunggu dulu, wajah George dan Mike kan berbeda…”, tanyamu bukan?! Yup, disekolah ini untuk merubah wajah sangatlah biasa jika kamu tahu rahasianya. Aku justru bingung dengan situasi George dan Mike sekarang.

“Ehem…,”, Mike berdeham meminta perhatian. Tidak perlu dia minta perhatianpun semua sudah pasti memperhatikan. “Aku tahu kalian pasti bingung dengan semua ini. Tapi ijinkan aku mengatakan ini, aku dan George adalah…,  AADUUHHHH….”, belum selesai Mike menyelesaikan perkataannya, kujewer telinganya menjauh. Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa tiba-tiba disitu.

“Cu…Cupid, hentikan…, sakit nih…”, desah Mike kesakitan. “Kalau begitu jelaskan padaku apa maksudmu dan jangan mempermalukan lagi lebih dari ini”, tanyaku melepaskan jeweranku sambil melipat kedua tanganku. Semua mata memandangku dan aku baru menyadari, aku secara tidak sadar menarik Mike ketengah lapangan. Sekarang kami jadi pemeran utama pada malam itu.

“Ehem…”, Mike berdeham lagi. “Aku dan George sebenarnya…,” belum selesai Mike berbicara lagi, George menghampiri kami dan berkata, “Maukah kamu menjadi pasanganku malam ini?”, sambil berlutut selayaknya pangeran menjemput Cinderella pujaannya. Aku menahan napasku dan aku yakin begitu juga wanita lainnya, terutama Patricia.

Detik yang berlalu terasa sangat lambat. Jantungku dag dig dug terdengar jelas ditelinganku. Semua menahan napas menunggu jawabanku. Kulihat Mike yang masih disampingku. Ia cuek bebek seperti tidak terjadi apa-apa. Entah mengapa hatiku merasa sakit melihatnya tidak merespon apa-apa.

“Tunggu dulu, apa-apaan ini? Mengapa George harus memilih sijelek ini?”, teriak Patricia berjalan kearah kami. “Dan kamu, Mike, mengapa tadi kamu yang datang dengan kereta kuda itu?”, lanjut Patricia dengan mimik yang serius, dan matanya menatap tajam padaku. Habislah aku, pikirku dalam hati.

“Oke dech, tugasku sudah selesai”, jawab Mike pendek dan berjalan berlalu meninggalkan aku dan kami semua yang masih bingung dengan semua yang terjadi. “Maukah kamu jadi pasanganku?”, Tanya George lagi yang masih berlutut dengan pandangan matanya yang memohon dan tersenyum. Tampan sekali.

Anehnya, aku tidak deg-degan sebagaimana wanita lainnya. Justru aku lebih takut Mike akan pergi jauh. Dadaku rasanya sakit ketika melihat dia tidak mengucapkan apa-apa padaku. Semakin dia menjauh semakin sakit dadaku. “Maukah kamu…”, sebelum George sempat bertanya ketiga kalinya, kutarik tanganku dari genggamannya dan berkata padanya, “Maafkan aku George, aku tidak bisa…”.

“Kamu lebih pantas mendapatkan Patricia”, lanjutku sambil mengambil tangan George dan tangan Patricia lalu kusatukan. “Kalian adalah pasangan paling sempurna, aku yang jelek lebih pantas untuk lainnya”, kataku sambil mengangkat gaunku dan berlari mengejar Mike.

Aku tidak peduli lagi aku akan dicap seperti apa lagi. Kupu-kupu yang paling dipuja dan paling dicari bunga malah ditolak? Masa bodohlah, yang aku pedulikan sekarang aku tidak ingin Mike pergi saja.

“Miikeee…”, teriakku padanya. Mike menghentikan langkahnya dan berbalik, dan tanpa babibu aku melompat memeluknya juga menciumnya. Kali ini dia tidak sempat menangkis ciumanku karena aku langsung menangkap tangannya.

Lalu terjadilah hal yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Mike yang kucium tiba-tiba bersinar dan bersamaan kudengar teriakan para gadis dibelakangku. Saat kulihat ternyata George juga bersinar. “Apa yang terjadi?”, tanyaku bingung. Lalu pelan-pelan George menghilang menjadi debu-debu berkilauan yang terbang keatas berkumpul menjadi satu. Kemudian debu-debu kilau itu terbang kearahku.

Aku begitu terkejut dan takut sekali. Belum habis terkejutku, debu-debu kilau itu memasuki tubuhku, lebih tepatnya menembus tubuhku. Ternyata debu-debu kilau itu bukanlah menghampiriku, tetapi  Mike yang ada dibelakangku.

Mike yang dikerumuni oleh debu-debu berkilauan itu terlihat semakin bersinar dan semakin menyilaukan. Lalu kemudian sinar itu berpencar menyebar. Aku tidak mampu melihatnya lagi dan kututupi mataku dengan kedua tanganku. Terdengar teriakan-teriakan disekelilingku.

Setelah beberapa menit dibuat takut sekaligus kagum oleh keajaiban tersebut, sinar yang menyilaukan yang menyelimuti Mike beransur-ansur meredup. Betapa terkejutnya aku saat melihat wajah pria yang kucium ini.

Ia melihatku dengan pandangan yang mesra. Bola matanya sebiru angkasa. Senyuman tampannya menghias wajah. “George…??”, teriakku kecil tertahan. “Mana Mike?”, tanyaku tidak percaya apa yang baru saja kulihat dan apa yang baru saja kualami.

“Akulah Mike, dan juga George…”, jawabnya sambil mengecup keningku. Semuanya bingung dan terdiam. Patricia menjadi kaku dan membeku menyaksikan semua itu apalagi aku.

Mike yang juga George yang juga Mike mengenggam tanganku dan mengajaku berjalan ketengah lapangan. Ia melihat kesekeliling kami. Semuanya kebingungan dan sangat terkejut, anehnya semua justru memandangiku. Lalu ia mendekati Patricia, katanya, “Maafkan aku Patricia, aku tidak bisa memilihmu.”.

“Teman-teman, aku tahu kalian pasti terkejut sekali dengan apa yang barusan kalian lihat. Sesungguhnya George dan aku itu orang yang sama, lebih tepatnya satu orang”, kata George yang juga Mike disertai teriakan keras semua telinga yang mendengarnya.

“Kumohon tenang dulu dan ijinkan aku menjelaskannya. Aku tidak bermaksud membohongi kalian. Seperti kalian tahu, George, yang kalian kenal sebenarnya adalah aku dari keluarga yang berdarah “biru”, dan menurut aturan keluarga kami, aku harus mencari seorang pasangan yang juga harus berdarah biru”.

“Sejak kecil aku selalu dilarang untuk berteman yang bukan dari kalangan kami atau yang pantas menurut keluarga besarku dengan alas an warisan darah “biru” tidak putus ataupun tercampur dan tentu saja ini sangat menyiksaku.”.

“Aku selalu iri melihat teman-teman lain bermain bersama-sama. Berlarian tanpa mempedulikan baju dan kaki dipenuhi noda, memanjat pohon dan memetik buah-buah, memancing dan bermain air disungai dengan ceria dan sebagainya”.

“Sedangkan aku harus belajar etika berpakaian dan harus selalu terlihat bersih, makan buah pilihan yang ditanam sendiri, dan tidak boleh mendekati sungai dengan alas an terbawa arus nanti. Karena rasa iri dan terpenjara itulah aku sering mencuri keluar dan bermain seperti yang anak-anak lain mainkan, dan saat itulah aku pertama kali mengenal yang namanya teman yaitu siCupid ini”.

Aku melihat George atau Mike dengan mata terbelalak. Aku hampir tidak percaya sitampan ini adalah teman main kecilku. Tapi seingatku aku tidak mempunyai kenangan masa kecil seperti yang barusan dikatakannya. Seperti bisa membaca pikiranku, George atau Mike ini melanjutkan penjelasannya.

“Aku yakin kamu pasti bertanya-tanya Cupid, tetapi aku tidak menyalahkanmu karena tidak bisa mengingatnya. Kedekatan kita ternyata secara tidak sengaja tercium oleh keluargaku. Ayahku begitu marah mengetahui aku bermain dengan yang bukan dari kalangan yang sama, dan waktu itu kamu juga dimarahinya”.

“Kamu begitu ketakutan sekali sampai kamu menanggispun tidak bisa bersuara lagi. Aku begitu menyesal telah melibatkanmu, tapi aku tidak pernah menyesal telah berteman denganmu. Lalu ayahku mengambil keputusan yang sangat membuatku terluka. Ayahku menghapus ingatanmu, dan kamu…”, Mike menghentikan ceritanya sambil melihat kearahku dengan mata yang sayu.

“Dan apa…?”, tanyaku menerka-nerka. Apapun jawabannya aku sudah siap.

“Dan, ayahku mengutukmu mempunyai wajah yang bukan wajah aslimu…,”, jawab Mike pelan. Aku semakin bingung dengan penjelasannya.

“Kalian pasti bertanya lalu mengapa aku ada dua bukan?“, lanjut George atau Mike ini. “Sebenarnya George adalah fisikku dan Mike adalah bagian pribadiku. Sejak Cupid dikutuk, aku menjadi begitu syok. Dia adalah sahabat pertamaku dan dia juga sahabat terdekatku. Sejak malam itu aku dipaksa berpisah dengannya dan ia pun melupakanku karena diambil ingatannya”.

“Setelah bertahun-tahun lamanya mencari, akhirnya aku menemukan sahabatku ini disekolah ini. Aku pun menggunakan kekuasaan ayahku untuk masuk sekolah ini sebagai George. Supaya tidak diketahui orang lain dan bisa berbaur dengan lainnya, aku memisahkan diriku menjadi Mike yang kalian kenal selama ini. Mike yang mempunyai tampang biasa saja”.

“Lalu bagaimana aku bisa menjadi dua orang yang berbeda? Ibu kepala sekolah kitalah yang membantuku melakukannya setelah mendengar ceritaku dan memohon”.

“Cupid…”, lanjut George atau Mike ini melihat kearahku, “Sejak mengetahuimu disini, aku berusaha untuk mengenalmu. Tetapi kamu menjadi begitu pendiam dan tertutup sejak kejadian taruhan yang menimpamu dulu. Sejak saat itu aku berjanji aku akan mengembalikan dirimu yang sebenarnya sehingga semua yang merendahkanmu akan menyesalinya”.

“Anehnya, semakin aku mengenalmu aku malah jatuh cinta padamu. Aku ingin membebaskanmu dari kutukan ayahku dan syaratnya kamu harus jatuh cinta pada George. Dan mengapa harus pada George? Karena ayahku berpendapat bahwa ketika kamu jatuh cinta pada George, alam bawah sadarmu akan menolaknya karena kenangan pahit yang diberikan oleh ayahku. Itulah mengapa saat kamu memuji George aku merasa iri dan sakit dihati walaupun sebenarnya George itu juga aku”.

“Dan kamu pasti ingat ketika kamu menciumku malam waktu itu, aku menahannya bukan karena aku tidak menginginkannya tetapi karena jika kamu menciumku sebagai Mike, maka ingatanmu tidak akan kembali dan kutukanmu tidak akan hilang. Dan siapapun yang kamu cium, apakah George ataukah Mike, kami tetap akan menjadi satu. Bedanya, jika kamu mencium George, aku yang akan hilang. Jika kamu mencium aku, George yang akan hilang”.

“Jadi, inilah aku yang menjadi Mike. Maafkan aku tidak berhasil menghilangkan kutukanmu, seandainya mereka melihat wajah aslimu aku pastikan mereka semua akan bertekuk lut…”, belum selesai Mike berbicara aku langsung mengarahkan kepalanya padaku dan kucium mesra pangeranku ini. Apa aku perlu lagi kutukanku dibebaskan dan kehilangan pangeran ini?.

Setelah puas aku menciumnya, aku bertanya padanya sekedar ingin menghapus penasaranku, “Jadi, wajah asliku seperti apa sebelum diberi wajah baru oleh ayahmu? Apakah aku secantik para wanita disini? Ataukah secantik Patricia?”.

Mike memandangiku dalam-dalam. Dikecupnya keningku. Lalu bisiknya padaku, “Ra…, ha…, si…, a…”. Aku merasa dijahili dan aku ingin menjewernya, tapi sebelum sempat kulakukan itu ia tiba-tiba berlutut dihadapanku.

“Maukah kamu menjadi bidadariku diistana hatiku?”, pintanya dengan senyuman yang tampan sekali. Kubungkukkan tubuhku, kukecup keningnya dan kubisiki telingannya, Ra…, ha…, si…, a…”. Lalu kugenggam tangannya.  Kukepakkan sayap kecilku dan terbang menuju kereta kuda digerbang sekolah.

Kuintip dari jendela kereta kuda, hampir semua wanita tertunduk lesu. Beberapa menanggis, beberapanya tersenyum dan beberapanya melambaikan tangan mengantar kepergiaanku ikut berbahagia dengan kisahku. Patricia? Aku yakin dialah yang paling terpukul menyaksikan apa yang barusan terjadi.

Ketika kereta kuda ini berlari semakin jauh, aku melihat kembali papan gerbang utama sekolah itu. Aku tahu aku tidak akan kembali kesekolah ini lagi karena aku telah dijemput pangeranku. Kubaca sekali lagi papan gerbang sekolahku. FAIRY SCHOOL. Sekarang tahukan maksudku mengapa aku bilang untuk merubah wajah disekolah ini adalah biasa jika tahu rahasianya. Sekolah kita adalah sekolah para peri dan hanya mereka yang berdarah “biru” yang tahu rahasianya. Sambil melambaikan tanganku kuucapkan kata perpisahan.

“Selamat tinggal semuanya, terimakasih telah menjadikanku bidadari paling bahagia pada malam ini…”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s