Sijangkung


Sijangkung, itulah gelar yang kami berikan pada Jessica anak gadis kelas kami. Sebenarnya Jessica tidaklah sejangkung sebagaimana yang kami gelarkan. Tingginya sekitar 166cm dan masih banyak anak laki-laki yang lebih tinggi dari dia, tetapi jika anak gadis dialah yang paling tinggi.

Aku mengenal Jessica alias sijangkung sejak masih kecil. Ia adalah tetanggaku sekaligus sahabatku dan kami sering bermain bersama . Semenjak memasuki kelas 9 (SMP), aku lebih sering berkumpul dengan anak laki-laki seumuranku dan melakukan hal-hal nakal yang menurut kami keren. Aku juga sering mengajak Jessica  walaupun ia lebih sering jadi bulan-bulanan kenakalan kami. Anehnya, ia sangat menikmati.

“Hai jangkung, nanti mau ikut kami ketoko tuan Vampir tidak?”, tanyaku pada Jessica sekedar basa-basi saja sambil kuangkat kepalaku melihat matanya yang biru langit itu. Jessica mengelengkan kepalanya menolak. Lalu dia berkata padaku, “Tidak Mike, aku merasa lelah sekali. Aku ingin pulang dulu, sampaikan maafku pada yang lainnya”, sambil berlalu melambaikan tangannya. Entah mengapa saat itu aku merasa tidak akan berjumpa dengannya lagi.

Sebulan telah berlalu  dan Jessica tidak pernah datang kesekolah lagi. Beberapa hari yang lalu aku sempat bermain kerumahnya dan, rumahnya kosong. Saat kutanya pada nyonya Bill seorang ibu muda yang gemuk dan ramah ia mengatakan padaku bahwa Jessica dan keluarganya telah pindah sejak hampir sebulan yang lalu.

“Kok dia tidak mengabarkan apa-apa padaku ya?” , tanyaku pada ibuku saat makan malam bersama. Ibuku hanya tersenyum dan mengecup keningku. Lalu dia membuka lemari kecil didepanku yang tidak jauh dari meja kami. “Nih, dari Jessica…”, jawab ibuku pendek dengan tatapan penuh arti.

“Surat Jessica? kapan ibu mendapatkannya?”, tanyaku bingung. Ibu tersenyum lagi. “Sebulan yang lalu sebelum ia pindah bersama keluarganya”, jawab ibuku. Aku rasanya tidak percaya, jika Jessica sebulan lalu ada mengirim surat padaku, mengapa ibuku tidak langsung memberikannya?. Seperti bisa membaca pikiranku ibuku melanjutkan.

“Jessica atau yang kalian panggil jangkung meminta ibu memberikan suratnya jika kamu bertanya pertanyaan yang barusan tadi kamu tanyakan pada ibu”. Aku memainkan bola mataku tanda bingung?. “Pertanyaan yang mana?”, tanyaku mencoba menebak. “Yang pertama kamu tanyakan mengapa Jessica tidak mengabarkan apa-apa padamu saat pindah”, jawab ibuku.

Mataku basah membaca surat yang ditulis Jessica. Ternyata selama ini dia menderita, tetapi demi bermain denganku dan   tidak ingin membuat kami kuatir ia menyembunyikan sakitnya. Jessica sakit ginjal.

Itulah mengapa saat kami mengajak dia kemana-mana dia selalu terlambat dan terakhir datang atau tiba, ternyata dia tidak boleh terlalu kecapekan. Parahnya, kami selalu menyalahkan ataupun mengodanya karena tubuhnya yang jangkung sehingga dia selalu ditinggal. Aku sungguh menyesal mengetahui kebenaran, dan yang membuat aku lebih menyesal lagi adalah aku tidak sempat meminta maaf sampai ia dan keluarganya pindah.

Bertahun-tahun telah berlalu sejak penyesalanku malam itu. Kini aku telah memasuki dunia dewasa. Anak yang dulu kumal dan nakal sekarang harus berpakaian rapi dan menjaga sikapnya. Kurapikan dasiku sambil memandangi cermin, “Hmm, besok aku harus memotong rambutku nih”, gumamku.

Setelah sarapan sekenanya, aku bergegas meninggalkan rumahku dan berangkat kerja. Seperti biasanya, aku sengaja memilih rute lebih jauh melewati sebuah cafe kecil. Ya aku harus akui, aku jatuh cinta pada seorang pelayan disana dan ia bernama Erica. Seorang wanita muda, cantik, tinggi dan agak pendiam. Tetapi senyumannya yang manis itu tidak pernah “diam”.

Ketika pulang kerja, aku selalu  menyempatkan diriku kecafe itu sekedar menengguk secangkir kopi dan menikmati senyuman Erica yang murah meriah. Karena seringnya kesana, aku dan Erica menjadi cukup akrab dan sering ngobrol-ngobrol seadanya saja karena dia harus melayani tamu yang lain.

Lalu, sejarah seakan berulang. Sudah seminggu Erica tidak bekerja dicafe itu lagi. Saat kutanya pada manajer cafe itu, tuan Kevin, awalnya dia enggan membicarakannya. Tetapi setelah sedikit kupaksa (aku telah belajar untuk tidak berpura-pura tidak tahu sejak kejadian Jessica)  ternyata Erica telah berhenti karena sakit. “Sakit apa”, tanyaku. “Ginjal…”, jawab tuan Kevin pendek.

Keesokan paginya aku sengaja berangkat lebih awal. Tetapi tujuanku bukanlah ketempat dimana aku bekerja, aku menuju rumah sakit dimana Erica dirawat.

Setelah bertanya ini itu pada dokter yang menanganinya, ternyata Erica membutuhkan donor ginjal. Mendengar hal itu aku entah mengapa dan bagaimana menawarkan diri untuk mendonorkan ginjalku. Tetapi sebelum melakukannya dokter ingin memastikan bahwa ginjalku sehat dan persyaratan-persyaratan yang cukup berat lainnya.

Dokter juga mengatakan padaku bahwa kemungkinan berhasilnya 30% saja dan apakah aku siap dengan tingkat persentase itu karena jika gagal maka aku akan kehilangan ginjalku dan niat baiku akan menjadi sia-sia. Dan sekali lagi, entah mengapa dan juga bagaimana aku mengiyakan saja.

Jika dipikirkan kembali, aku sepertinya melakukan hal yang cukup ekstrim kalau tidak mau dikatakan bodoh. Aku dan Erica cuma berteman. Memang aku menyukainya tetapi apakah tidak akan sia-sia setelah dia menerima  ginjalku dan sembuh dia akan menerima cintaku?

Dan jika dia  menerima cintaku apakah itu atas dasar utang budi ataukah perasaan kasihan dan lainnya? Ataukah aku yang sok hebat supaya dipuji karena telah berbuat baik mendonorkan ginjalku pada seseorang yang bahkan bukan keluargaku? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan rumit yang berputar didalam kepalaku.

Pada hari yang ditentukan akupun naik keatas meja operasi. Setelah semalaman berpikir dan mencari jawaban, jawaban yang kudapatkan adalah tidak ada. Aku hanya ingin melakukannya saja. Dan jika boleh jujur, mungkin alam bawah sadarku yang terangkat kembali memorinya tentang kisah “ginjal” teman main kecilku Jessica dan secara tidak sadar juga aku ingin “menebus” kesalahanku dulunya.

Kulihat sekelilingku mulai kabur, ternyata obat bius yang diberikan oleh perawat mulai bekerja, dan dalam beberapa detik  kegelapan total menyelimutiku.

Enam bulan telah berlalu sejak kudonorkan ginjalku pada wanita yang kusukai, dan lima bulan aku membuka cafe kecil ini  sendiri. Sejak mendonorkan ginjalku dan ternyata berhasil baik, aku langsung menghilang. Aku meminta dokter yang menanganinya supaya merahasiakannya. Aku tidak mau wanita yang kusukai berutang budi padaku dan mencariku  sehingga aku pindah kekota lain dan membuka usaha cafe ini.

Manusia memang bisa berencana tetapi Tuhan yang menentukan semuanya plus kado kejutan yang sangat berharga. Suatu hari datang seorang wanita cantik, tinggi, murah senyum dan agak pendiam yang melamar kerja sebagai pelayan dicafe kecilku. Sekalipun seumur hidupku, aku tidak akan pernah bisa melupakan wajah wanita ini. Hari dimana wanita ini melamar pekerjaan menjadi hari dimana aku justru melamarnya kembali.

Kini, dia berdiri dihadapanku. Dia memakai gaun putih sederhana yang sangat cantik sekali. Bola mata birunya memandangiku berkaca-kaca. Karena dia yang lebih tinggi dariku, aku harus berjinjit sedikit untuk membuka kain penutup tipis diwajahnya.

“Apakah kamu menerima Erica angeline Jessica sebagai istrimu baik dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan kalian berdua?”, tanya pemimpin upacara pernikahan kami. Kupandangi dalam-dalam mata wanita ini. Semua kenanganku dengannya bergulir dengan lancar dari sejak masih kecil hingga sekarang. Lalu dengan mantap kukatakan

“I Do”.

“Dan sebelum kamu mencium pengantin wanitamu, ada satu pertanyaan untuk pengantin pria yang sengaja disiapkan oleh pengantin wanita. Apakah julukannya ketika dia masih kelas 9 dulu?”, tanya pemimpin upacara pernikahan kami sambil tersenyum penuh arti.

Aku tertawa kecil mendengar pertanyaan itu. Kuarahkan pandanganku pada hadirin yang hadir yang notabene adalah langganan tetapku dan sahabat baikku. Mereka terlihat penasaran dan lebih bersemangant dariku. Lalu aku melihat kembali wanita cantik yang dihadapanku ini. Sekali lagi kujinjitkan kakiku dan kuarahkan wajahku mengecup keningnya.

“Sijangkung, belahan ginjalku”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s