Tuan pangeran bunga


Tuan pelit!

itulah julukan yang diberikan padaku bagi mereka yang pernah mengunjungi toko kecilku. Aku mewarisi toko kecil ini dari kakekku yang sebelumnya dijaga oleh ayahku sebelum meninggal karena serangan jantung dalam tidurnya.

Sejujurnya, aku tidak menyukai toko ini, apalagi aku bukan tipe orang yang mempunyai jiwa bisnis dan pandai bicara. Aku orangnya pendiam dan pemalu dan itulah asal datangnya julukanku karena saat ada pembeli yang datang ketoko hendak membeli dan menawar aku hanya bilang “Harga pas” atau “Tidak bisa” karena sifatku yang pemalu dan tidak mau repot banyak bicara. 

Alasan keduaku mengapa aku tidak menyukai toko ini adalah yang menurutku apa yang dijual ditoko ini lebih cocok ditangani oleh seorang wanita yang lebih lembut. Mengapa? Karena toko ini adalah toko bunga dan biasanya wanita lebih pandai merawatnya.

Hari-hari kulewati dengan rasa jenuh. Pembeli yang datang juga tidak sebanyak ketika kakekku masih menjaganya. Ya aku tahu hampir separuhnya adalah pengaruh dari sikapku dan aku tidak akan menyangkalnya. Tapi mau bagaimana lagi, sudah menjadi sifatku sejak dulu. Dan itulah yang kupikirkan sampai aku bertemu seorang pria yang mengubah segalanya.

“Selamat pagi tuan, ada yang bisa kubantu?”, tanyaku mencoba ramah ketika seorang pria dengan postur tinggi besar yang kutebak merupakan seorang tentara.

“Aku ingin membelikan sebuket bunga untuk istriku. Aku biasanya membelikannya ketika aku pulang bertugas. Pagi ini aku akan berangkat keluar kota mendapat tugas baru dan aku ingin anda mengantarkan bunga-bunga ini setiap minggu seperti pagi ini dan jam ini sampai aku kembali bertugas nanti”, jelasnya padaku dengan wajah merona merah.

Sejujurnya, aku yang terkenal pendiam dan pemalu, seorang yang “pelit” dan seorang tidak suka repot, malah memberikan diskon 50% dan aku sendiri yang bahkan mengantar bunga ini pada istrinya setelah kupilihkan bunga yang tercantik, yang paling segar dan kuhias dengan bahan-bahan terbaik.

Pertemuanku dengan pria tentara ini membuka mataku bahwa toko yang kuanggap jenuh ini, toko yang kukira hanya pantas buat wanita ini, ternyata bisa menciptakan sebuah kisah manis bagi yang lainnya. Dan tahukah apa yang lebih manis? Selama hampir setahun aku mengantarkan bunga pada istri tentara ini, aku dikenalkan pada adik perempuannya yang manis dan secantik bunga.

Ketika kutanya, “Mengapa aku?”,  istri tentara ini menjawaba dengan senyuman yang sangat manis dan penuh arti, “Karena aku tahu”.

Sekarang, toko bunga kecil ini memiliki 10 karyawan. Aku bertugas mengantar bunga-bunga pesanan pelanggan. Bunga-bunga yang dulu terlihat biasa, kini kurawat sepenuh hati dan tumbuh indah.

Kupandangi toko bunga kecil ini sebelum berangkat mengantar selusin bunga mawar merah. Kulihat “setangkai” bunga indah berdiri didepan pintu. Usia “bunga” ini memasuki tahun ke 57.

Bunga ini telah menjadi bunga kesayanganku selama 30 tahun lamanya dan dia adalah bunga yang paling indah yang pernah kupunya. Bukan hanya terindah ditoko ini, tapi terindah diseluruh pelosok bumi terutama dihati.

Sebuket bunga setiap minggu yang kuantar pada sebuah rumah, kubawa pulang “setaman” bunga titipan surga. Tuan pelit julukan yang kupunya kini berganti menjadi tuan pangeran bunga. Dan tahukah mengapa aku dijuluki pangeran bunga? ini tak lain ketika aku melamar “Bunga” terindahku, aku menghiasi hampir seluruh jalan dengan bunga dan menyewa kereta kuda yang dihiasi bunga juga untuk menjemputnya.

One thought on “Tuan pangeran bunga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s